
Desy tak bisa berkutik lagi setelah semua kebusukanya dibongkar habis oleh Sita. Suasana menjadi hening seketika.Melihat kondisi tidak kondusif lagi Bu Dian memutuskan untuk berpamitan diikuti yang lainya termasuk Desy. Suasana hening seketika.Sita rasanya muak sudah dengan apa yang dilakukan suami dan keluarganya, hilang semua respek terhadap keluarga suami.Sita menunggu Doni yang sedang mengantar Mama mertua Desy, saat ia hendak keluar ruangan tiba-tiba Rini masuk untuk menjenguk Hendra.
"Mas Hendra...kenapa bisa jadi begini?, hiks...hiks..hik" Rini langsung menangis melihat kondisi Kakaknya
"Ini semua pasti ulah perempuan ini," ucap Rini seraya menunjuk Sita.
"Cukup Rini!" bentak Hendra diantara menahan sakit sekujur tubuhnya.
"Kamu bela, perempuan yang sudah bikin kamu babak belur begini, luar biasa" ucap Rini sambil bertepuk tangan.
"Ini bukan salah Sita, ini semua salah kamu Rin, andai kamu tidak serakah mengunakan uang Mama untuk memenuhi gaya hedon hidup kamu, rumah tanggaku baik-baik saja. Aku tidak akan pernah terjerat oleh Desy" umpat Hendra.
"Oh, jadi sekarang mas Hendra nyalahin aku? Bukanya rumah tangga Mas Hendra sudah rusak sebelum aku pinjam uang?,apa Mas lupa aku punya ini" ucap Rini sambil menunjukkan ponselnya.Hendra sudah tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan Rini adeknya.
Dengan begitu percaya diri Rini memutar Vidio dimana Hendra berkencan dengan Desy dipasar malam, ada video lain lagi dimana Hendra membelikan dres Hijau sage untuk Desy.Sita menutup mulutnya sendiri meskipun ia tau Hendra berselingkuh dengan Desy, tapi tetap saja melihat semua ini hati Sita semakin remuk.Tanpa basa-basi Sita langsung meninggalkan tempat itu, tak ada gunanya lagi dia disitu, ia langsung memesan ojol untuk pulang kerumahnya tanpa menunggu Doni.
Sementara itu diruang Rawat Hendra suasana semakin memanas.
"Rini tega sekali kau hancurkan rumah tanggaku, aku selama ini menyayangimu melebihi apapun, tapi rupanya itu tak membuat hatimu tergugah. Mulai sekarang juga kamu bukan adekku!, aku minta kembalikan uang tiga ratus juta milik Mama yang kau pinjam atau aku sendiri yang akan melaporkanmu ke kantor polisi" ucap Hendra.
"Mas Hendra tega sama aku!"
"Kenapa enggak?, kamu saja tega sama kakak kamu sendiri"
"Aku lakukan itu semua demi kebaikan Mas Hendra, agar mas Hendra bisa lepas dari perempuan jahat itu"
"Tutup mulutmu!, perempuan jahat itu kamu, mana ada seoarang adek yang tega menghancurkan rumah tangga kakaknya sendiri"
__ADS_1
"Mas Hendra tidak usah munafik, sebelum aku berhutang mas Hendra sudah duluan selingkuh!"
"Diam kamu!, kamu tau kenapa ini semua karena ulah kamu dan Ibu yang selalu menuntutku ini dan itu, tanpa melihat apa aku mampu atau tidak. Selama ini Sita tertekan aku tidak bisa membelanya karena kalian, Pokoknya aku beri waktu tempo satu bulan, bila kau tidak melunasinya maka aku sendiri yang akan menyeretmu kepenjara" ucap Hendra tak terbantahkan.
Beberapa saat kemudian Ibunya Hendra masuk kedalam ruangan melihat kedua anaknya bertikai ia sangat sedih, ia terus membujuk Hendra untuk memaafkan Rini dan tidak lagi menagih utang itu, namun Hendra yang sudah diujung batas kesabaranya kekeh mau tetap menagih atau menempuh jalur hukum meskipun Rini itu adek kandungya sendiri.
Dua hari setelahnya Hendra diijinkan pulang, Sikab Sita masih dingin kepada Hendra ia tidak mau berbagi kamar dengan Hendra.Beberapa hari Hendra tidur disofa ruang tamu.Ia tak berani protes mungkin ini lebih baik dari pada ditinggal Sita sungguh ia tak dapat membayangkan hal itu.
Sementara itu Desy yang sudah kembali bekerja selalu menjadi gunjingan sesama rekan kerjanya.
"Nggak nyangka ya, keliatanya anteng, kalem, ternyata pelakor"
"Padahal istrinya Pak Hendra jauh lebih cantik, kok bisa-bisanya tergoda sama bu Desy"
"Mungkin goyanganya aduhai membuat Pak Hendra mabuk kepayang, hahahah" ucap Yang lain tawa terdengar berderai. Desy yang mendengar cibiran itu hanya bisa diam, menjawab rasanya juga percuma ia bakal menjadi bulan-bulanan teman sekantornya.
"Eh bu, Kaya di TV itu yang lagi marak, jadi selingkuhan itu nggak perlu cantik asal tidak tau diri aja" ucap salah satu guru menirukan gaya bicara selebgram tanah air.
Menjelang pulang sekolah rekan-rekan Desy masih aktive menyidirnya.
"Duluan ya bu, sekarang mah kalau selesai mengajar harus langsung pulang, takut suami digondol pelakor kan serem!" ucap salah seorang teman Desy.
"Laki meskipun di rumah ada bandeng, diluar ada ikan asin dicaplok juga bu"
"Iya betul itu, makanya begitu kita lihat ikan asin singkirkan Ibu-Ibu" ucap yang lainya disertai gelak tawa.
Berada dalam satu kantor namun ia merasa sendirian. Semua orang mengunjingnya, lelah itulah yang dirasakan oleh Desy tapi ia tak punya pilihan lain.Berhenti mengajar bukanlah pilihan yang tepat saat ini.Bulan depan suaminya pulang ia bahkan tidak tau bagaimana nasibnya, sudah bisa dipastikan Ibunya akan menceritakan semua kejadian yang diketahuinya kemarin.
__ADS_1
"Hufftttt..." Desy menghela nafas, menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya lalu perlahan ia menghembuskannya lagi.
"Bu Desy, belum pulang?" tanya Dian teman sesama guru Desy.
"Ini mau pulang Bu," ucap Desy.
Perlahan Ibu Dian mendekati Desy. Ia duduk disamping Desy dan menyodorkan air mineral.
"Ibu Desy pasti tau hal ini cepat atau lambat pasti terjadikan?" tanya Ibu Dian perlahan.
Desy hanya diam ia tak berniat menanggapi ucapan Ibu Dian.
"Bukannya saya, mau ikut campur urusan Ibu Desy. Tetapi sebagai sesama teman saya tau bagaimana rasanya di posisi ini"
"Ibu pernah di posisi saya?" tanya Desy.
"Bukan, tapi saya pernah di posisi Bu Sita"
"Glek" Desy susah payah menelan ludahnya.
"Ada baiknya Ibu meminta maaf pada Ibu Sita, jika Ibu benar-benar menyesal mungkin Bu Sita akan memaafkan Ibu" Nasehat Ibu Dian.
"Tapi saya juga nggak sepenuhnya salah, Pak Hendra yang datang pada saya bukan saya yang mengodanya, Apa salah saya kalau ternyata Pak Hendra lebih nyaman bersama saya. Toh Bu Sita juga masih tetap jadi istrinya Pak Hendra, nggak ada yang berubah dan berkurang, semua masih pada porsinya" ucap Desy kekeh pada pendirianya bahwa ia tak bersalah dalam hal ini.
Bu Dian hanya bisa mengelangkan kepala melihat sikab keras kepalanya Ibu Desy.
"Berarti secara tidak langsung, Ibu Desy mengatakan bahwa ini adalah kesalahan Ibu Sita begitu?" cecar Ibu Dian
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen