Sita Istri Seorang PNS

Sita Istri Seorang PNS
Situasi yang tidak kondusif


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Sita.Rini benar-benar berniat mengubah dirinya.Ia juga ikut senam kegel seperti Sita.Kini Rini menjadikan Sita sebagai role modelnya.Boni juga tidak tau kegiatan Rini sama sekali, waktunya habis untuk bekerja menafkahi dua istrinya dan tiga anaknya.Rini menghembuskan nafas panjang saat melihat foto pernikahanya dengan Boni yang terpampang begitu besar diruang tamu.Senyum keduanya mengembang sempurna melambangkan suasana bahagia hati mereka.


Rini memejamkan mata mengingat semua kenangan manis bersama Boni.Dulu meskipun hidup mereka serba kekurangan,namun mereka saling menguatkan, Rini tidak diijinkan bekerja karena harus mengurus ketiga anak mereka yang masih kecil.Sementara Boni banting tulang untuk menghidupi keluarganya, Rini selalu mendukung apapun yang dilakukan Boni.kini setelah ekonominya sedikit membaik Boni malah nyeleweng.


"Aku harus semangat demi anak-anak, aku nggak boleh lemah.Perempuan itu pasti merasa menang bila aku terus-terusan meratapi nasib" guman Rini


Hari ini ia mulai memasarkan kosmetik ia juga memakainya.Dia memasang status jualanya di sosmed namun ia memprivasi Boni.Ia tak ingin suaminya tau.


Sementara Hendra yang tadinya ingin pulang kerumah Ibunya tidak jadi ia menyuruh orang yang baru saja menolongnya kerumah Rini.Ia rasa kalau pulang hanya akan menerima serentetan omelan dari Ibunya maka lebih baik dia kerumah Rini setidaknya saat pulang nanti ia sudah tidak sekacau sekarang ia bisa meminjam baju Boni toh ukuran tubuh mereka hampir sama.


"Tok...tok...Assalamaualiakum"


"Waalaikum salam" ucap Rini


Ia segera keluar untuk membukakan pintu,betapa terkejutnya Rino saat yang datang adalah kakaknya siapa lagi kalau bukan Hendra yang datang dalam keadan kacau diantar oleh seseorang ntah siapa,namun orang itu langsung pamit pulang.


"Astagfirullah Mas Hendra,kamu kenapa begini. Mandi sana dulu aku buatin teh anget sama bubur.Kamu pakai baju Mas Boni untuk gantiin baju kamu" ujar Rini yang shock melihat kedatangan Hendra dalam keadaan kacau seperti itu.


Dengan langkah gontai Hendra menuju kamar mandi di rumah Rini dan menyelesaikan mandinya kemudian di meja makan Rini sudah menyiapkan bubur hangat untuknya.Setelah merasa lebih baik Hendra menceritakan apa yang dialaminya hari ini.Rini jadi geregetan sendiri mendengar cerita Hendra.


"Mas Hendra, kalau kamu bukan kakakmu udah aku racun tikus kamu mas"


"Sembarangan aja, gini-gini aku ini kakakmu loh"


"Aku nggak kebayang posisi mbak Sita saat ini.Pasti mbak Sita sebel banget pingin bejek-bejek kamu mas"


"Rin, saat aku lihat perut Sita aku ingin mengelus perut itu.Rasanya pasti bahagia banget"


"Bugh..." Rini melempar bantal pada Kakaknya.

__ADS_1


"Kayanya kamu tadi pas mau bunuh diri.Otak kamu geser akibat kejedot deh Mas" Sinis Rini.


"Rin, Kamu nggak tau gimana rasanya tinggal pas lagi sayang-sayangnya" ucap Hendra melow.


"Hellow....jangan sok paling teraniaya disini korbanya Mbak Sita.Gedek lama-lama ngomong sama kamu Mas"


"Rin, kamu nggak paham gimana perasaanku saat ini"


"Perasaan apa?, perasaan yang mana? Jangan tanya soal sakit hati.gimana rasanya sakit hati aku sudah nggak tau lagi apa yang aku rasakan saat ini.Aku rasa aku sudah mati rasa"


Hendra seketika melihat raut muka Rini, ia terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri hingga lupa bahwa saat ini adeknya sedang tidak baik-baik saja.Seketika ia jadi ingat Boni.


"Maafkan aku Rin, aku terlalu sibuk dengan masalahku hingga aku mengabaikanmu" ucap Hendra penuh penyesalan.


"Sudahlah Mas, sekarang yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki dirimu jangan ganggu rumah tangga mbak Sita.Soal diriku kamu nggak usah terlalu pusing, aku baik-baik saja dan masih bisa mengatasi masalahku sendiri"


Hening, tak ada lagi percakapan keduanya.Hendra tak ingin berdebat dengan Rini.Sudah terlalu banyak adeknya ini ditimpa masalah.Hendra memutuskan untuk tidur dikamar anak-anak Rini.Pagi mulai menyapa Bumi meninggalkan pekatnya malam berganti dengan cerahnya matahari.


"Apa nggak merepotkanmu Mas?, kadang Sila itu rewel"


"Nggak apa-apa Rin, kamu dirumah atau mungkin mau nyalon atau apa terserah kamu"


"Nyalon?, duit dari Hongkong?"


"Suami keparatmu itu, memangnya sudah tak menafkahimu?"


"Masih sih, cuma sekarang dibagi dua sama istri mudanya, jadi aku harus irit demi anak-anak"


Mendengar perkataan Rini barusan rahang Hendra mengeras, ada amarah yang tersimpan dalam dadanya melihat adek semata wayangnya diperlakukan sedemikiam rupa.Setelah kedua ponakanya bersiap Hendra segera mengantar anak-anak Rini ke sekolah.

__ADS_1


"Om, nanti malam bobok lagi dirumah kita kan?" tanya Arka si sulung


"Hmmm...gimana ya?" ucap Hendra sembari pura-pura berpikir.


"Ayolah Om, bobok lagi.Kami senang kalau ada Om sekolah ada yang nganter ada yang bisa diajak kuda-kudaan.Dulu kami sering main sama Papa tapi sekarang Papa jarang pulang"


Hati Hendra serasa di cubit mendengar curhatan keponakanya.Mereka pasti sangat merindukan sosok Papanya begitulah yang ada dalam pikiran Hendra saat ini.


"Emangnya Papa kalian kemana?" pancing Hendra.


"Papa bilang keluar kota, nanti bawa oleh-oleh banyak" ucap Sila


Sementara Arka yang sudah faham kondisi kedua orang tuanya saat ini mendadak jadi sedih mendengar pertanyaan Hendra.Laki-laki dewasa itu lalu menoleh pada Arka nampak sekali bocah kecil itu murung.


"Kalian tenang aja, Om bakalan bobo dirumah kalian lagi.Tapi kalian harus janji, kalian nggak boleh sedih-sedih lagi.Kasian Mama kalau kalian sedih.Nanti Mama ikut sedih,kalian sayang Mama nggak?"


"Sayang Om" jawab mereka kompak


"Kalau sayang Mama, kalian harus nurut sama Mama, nggak boleh rewel,nggak boleh ngambekan kalau minta apa-apa jangan maksa.Ok sampai sini kalian faham?"


"Faham Om"


"Janji nggak akan bikin Mama sedih lagi?"


"Janji Om" ucap Mereka kompak


Sesaat kemudian mereka sudah sampai disekolah masing-masing.Kemudian Hendra melajukan mobil Rini,namun saat dilampu merah ia tak sengaja melihat Boni sedang bersama Istri mudanya bak ranting kering yang disiram bensin terkena cipratan api.Amarah Hendra seketika membara.Dengan muka merah padam ia mengikuti mobil yang ditumpangi Boni dan Istri mudanya.Rupanya mereka menuju pusat perbelajaan dikota itu.Seketika darah Hendra mendidih.Ia melihat sendiri bagaimana Rini harus hidup irit demi anak-anak mereka,tapi dengan mata kepala sendiri Hendra melihat memanjakan istri mudanya.


"Bener-bener sudah kelewat batas ini bocah" Rahang Hendra mengeras, tanganya mengepal hingga buku-buku tangannya memutih.Ia langsung mendekati pasangan yang sedang mabuk asamara tersebut.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like,comment dan favorite ya men temen


__ADS_2