
Rini kembali pulang kerumahnya.Ia sudah tidak mempedulikan lagi, mau Boni pulang atau tidak toh akhir-akhir ini anak-anak mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Ayahnya.Saat sedang menemani anaknya belajar terdengar suara mobil dari luar.
"Ma, itu sepertinya mobil Papa.Hore Papa pulang" teriak anak itu yang sudah merindukan sosok Papanya.Anak itu langsung berlari keluar untuk menyongsong Ayahnya
"Inilah yang membuat aku berat untuk berpisah, Arka dan adek-adeknya sangat dekat dengan mas Boni, Namun sanggupkah aku hidup dengan makan hati setiap hari" batin Rini nelangsa.
"Assalamualaikum, Sapa Boni"
"Waalaikum salam" ucap Rini sekilas lalu membawa si kembar kekamar ia memang sengaja menghindari Boni.Merasa Rini mengabaikanya Boni menyusul ke kamar.
"Pergilah!, anak-anak mau tidur" ucap Rini mengusir halus.Kalau bukan karena anak-anaknya dirinya pasti sudah mintai cerai dari laki-laki tak bertanggung jawab ini.
"Ok, tapi kita perlu bicara setelah anak-anak tidur" ucap Boni.
Laki-laki itu keluar dari kamar anak-anaknya, ia sungguh merasa tak nyaman diabaikan Rini.Selama ini Rini selalu bersikab manis bahkan setelah perselingkuhanya tersingkap, tapi mengapa hari ini Rini tampak berbeda hal ini membuat Boni sangat tidak nyaman.Satu jam kemudian semua anak-anak Boni dan Rini sudah tertidur,Boni memasuki kamar anak-anak dilihatnya Rini masih berbaring disitu.
"Bangunlah!, aku tau kau belum tidur" ucap Boni
Rini enggan sekali beranjak dari tidurnya.Rasanya malas untuk bertegur sapa dengan laki-laki yang sudah menorehkan luka pada dirinya dan anak-anaknya.Ia beranjak bangun
"Jangan bicara dikamar anak-anakku" ucap Rini kemudian keluar kamar kemudian diekori oleh suaminya.
"Kamu mau bicara apa?"
__ADS_1
"Rin, kamu ini kenapa sih?, dari tadi kamu nyuekin aku dan kesanya kamu menghindariku"
"Terus maumu aku bagaimana?, apakah kamu sekarang sedang tidak sibuk? Aku tidak mau menganggu waktu berhargamu dengan mainan barumu" sarkas Rini.
"Rini, bisakah kau bersikab biasa saja.Diluar sana banyak kok suami yang mempunyai istri lebih dari satu,dan mereka fine-fine aja, tolong berdamailah dengan keadaan"
"Setelah semua yang kau lakukan pada kami, aku harus bersikab seolah semua baik-baik saja Mas?"
"Apa maksud kamu, aku masih pulang kerumah ini,aku tidak meninggalkan kalian,aku juga masih rutin menafkahi kalian,hanya saja kamu harus terima waktuku sekarang bukan hanya milikmu"
"Nyatanya bukan hanya waktumu yang terbagi, setelah kau punya mainan baru bahkan kau mengabaikan kami.Jadi stop untuk menasehatiku.Selan****gan perempuan itu membutakanmu.Lihatlah bukan hanya aku yang menderita anak-anak juga terdampak"
"Rini!" Bentak Boni seraya melotot tajam kearah istrinya ia tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan istrinya.Amarahnya tersulut oleh kata-kata Rini.
Lelaki yang selama ini membersamainya nyatanya tidak bisa mengambil tindakan tegas, memilih dirinya atau madunya ia lebih menikmati peranya sebagai suami beristri dua.
Dada Rini semakin sesak apalagi mengingat kejadian kemarin Arka, menonjok temanya gara-gara diolok-olok oleh temanya.Sakit, sangat sakit itulah yang Rini rasakan saat ini. Andai Arka tidak memintanya bertahan mungkin, lebih baik dia pisah dengan suami yang hanya menyakitinya.
Melihat Rini yang terpuruk seperti ini, Boni sedikit merasa bersalah ia mendekat hendak memeluk perempuan yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka,Rini segera menepis ia mendorong tubuh Boni tak ingin disentuh oleh laki-laki yang membuat hatinya berdarah-darah.Ada rasa bersalah dalam diri Boni melihat Rini seterluka ini.
"Maafkan aku, kamu pasti marah karena kemarin aku mengabaikan panggilan darimu, saat itu suasana sedang genting.Wina sakit aku harus membawanya kerumah sakit tekanan darahnya tinggi ia tak kuat dengan stigma istri kedua dari masyarakat, tolong pahami posisi dia.Wina dapat tekanan dari masyarakat karena dianggap merusak rumah tangga kita."
"Cih..." Rini mendecih, bukanya pencerahan yan ia dapatkan dari Boni.Dengan telinganya sendiri ia mendengar bahwa Boni lebih mementingkan istri keduanya ketimbang anaknya.
__ADS_1
"Rasanya aku tak percaya, laki-laki yang kami anggap pelindung justru melukai kami sedalam ini.Aku tak dapat membayangkan selama ini kalian pasti menertawakan kebodohanku, karena aku begitu percaya padamu, kerja lembur jarang pulang untuk memenuhi kebutuhan kami, nyatanya apa?"
"Rini....jangan begini, maafkan kekhilafanku"
"Nyatanya kekhilafanmu menjatuhkan mental anakmu, apa kamu peduli? Tentu saja jawabanya tidak karena kau terlalu asik dengan mainan barumu"
Boni mendekat dan ingin memeluk istrinya kembali,namun lagi-lagi Rini menolaknya kembali ia mendorong Boni, ia seolah jijik dengan Boni.Ia membayangkan tangan dan tubuh yang sama juga sering memeluk perempuan lain bahkan lebih, sakit, nyeri itulah yang Rini rasakan saat ini.
"Rini aku mohon jangan seperti ini.Aku terpaksa membawanya berobat dahulu, kalau darah tinggi dibiarkan ia bisa terkena stroke, situasinya benar-benar darurat aku mohon mengertilah Rin.Dia sedang membutuhkanku dia juga istriku sama sepertimu"
"Cukup Boni!" Kini Rini tak lagi mengunakan kata Mas lagi memanggil Boni, terlalu sakit rasanya mendengar dari mulut suaminya lebih memilih istri mudanya dari pada anak-anaknya.Masih kebayang bagaimana kalang kabutnya ia saat mendengar Sila jatuh kemudian mendapat telephone dari guru Arka kalau Arka tetlibat perkelahian, sementara suaminya di hubungi tidak bisa.Tengah perjalanan anak-anak rewel beruntung, ia bertemu Sita dan Sita membantu menjaga anak-anaknya ia tak tau apajadinya bila tidak bertemu Sita.
Tak ingin mendengar ocehan Boni, Rini berlalu meninggalkan Boni.Ia masuk kamar dan merebahkan dirinya kepalanya rasanya ingin pecah,bukan menuju kamar mereka Rini menuju kamar Anak-anaknya, melihat anak-anaknya menjadi sedikit lebih tenang dari pada harus bersama Boni yang membuat dadanya sesak, dipandangi ketiga anaknya yang tertidur lelap, perlahan-lahan air matanya kembali membanjiri pipinya.
Boni menyusul ke kamar anak-anak mereka.
"Rini kita belum selesai bicara"
"Tak ada yang perlu kita bicarakan Mas,apa kamu tidak takut istri mudamu darah tingginya kumat.Kurasa dia lebih membutuhkanmu dari pada kami" sarkas Rini
Tbc
Jangan lupa,like comment dan favorite ya men temen
__ADS_1