
Saat Desy hendak melayangkan tamparan untuk membalas Sita, sebuah tangan langsung mencekal tangan Desy.
"Jauhkan tangan kotormu dari calon istriku!" ucap Rizal yang sejak tadi mencari Sita.
Ucapan Rizal sontak membuat Hendra shock, bagaimana mungkin laki-laki ini akan secepat ini menjadi calon suami Sita.
"Apa maksudmu?" bukanya peludi keadaan Desy, Hendra malah sibuk sediri dengan perasaan cemburunya.
"Oh ya Hendra, didik istrimu dengan benar agar jangan melukai orang lain dengan fisik ataupun lisanya" ucap Rizal seraya menatap tajam kearah Hendra.
"Ayo pulang!" bentak Hendra pada Desy.
"Rizal urusan kita belum selesai, nggak nyangka kamu adalah benalu dalam rumah tanggaku bersama Sita, sejak dulu kau mengejar-ngejar Sita, cuih....dengan tak tau malunya hingga kini kau masih menempel bak lintah" ucap Hendra sambil meludah
"Itu urusanku, urusanmu dia!" ucap Rizal sambil menunjuk Desy.
"Kita pulang Sit, jangan lama-lama disini bikin kewarasan kita terganggu" sarkas Rizal.
Tanpa disuruh ia membuka mobil Sita dan merangkul Sita masuk kedalam mobilnya.Pemandangan itu membuat Hendra murka.
"Bugh...B******n, beraninya kamu sentuh Sita" Hendra memukul Rizal karena cemburu.
"Rizal....kamu nggak apa-apa?" tanya Sita cemas.
"Mas Hendra, berhenti merecoki hidupku!,cukup sudah penderiataan yang selama ini kamu berikan padaku, menyingkirlah jaub dari hidupku sejauh mungkin" ucap sita.Ia sudah lelah berhubungan lagi dengan Hendra, terlalu banyak drama yang menguras air matanya.
"Sita, kenapa kamu tega ngomong begitu" ucap Hendra memelas.
"Ingat mas, aku bukan siapa-siapamu lagi jadi stop mengurusi hidupku"
"Sita kenapa kamu tega, ngomong kaya gini sama aku"
"Sudah jangan dengarkan dia, Ayo aku antar pulang"
"Tapi mobilmu bagaimana?,"
"Kamu tenang aja, lihat itu mobilku sudah dikendarai oleh Amel" ucap Rizal
"Heeehh" Sita menghela nafas, sejak tadi ia mencari Amel ternyata Amel sudah ada dimobil Rizal entah sejak kapan.
Sita segera masuk mobil, ia tak mempedulikan terikaan Hendra yang terus memanggil-mangilnya, Rizal melajukan mobil Sita dengan kecepatan sedang, dalam mobil Sita masih sibuk sendiri dengan pikiranya. Kajadian hari ini cukup membuat dia shock.Sesaat kemudian mobil sampai dikediaman Sita, namun Rizal langsung berpamitan karena Mamanya memintanya pulang untuk mengatarkan arisan.Setelah mandi dan makan malam keduanya langsung masuk kamar masing-masing.
"Tok...tok...tok"
__ADS_1
"Ya masuk"
"Ceklek, kret...., mbak boleh Sita tidur disini?"
"Ngapain?, kamu kan punya kamar sendiri, kamu kalau tidur kaya kuda. Badan mbak sakit semua ketimpa tubuh kamu" ucap Sita.
"Ih...gitu amat Mbak" ucap Amel langsung rebahan dikamar Sita.
"Tuh kan, nggak sopan banget nggak diijinan juga asal ***** (Nempel molor)"
"Mbak."
"Hmmm.."
"Mbak aku akan bantu bicara sama Mama, soal Mbak Sita dan Kak Rizal. Setelah aku lihat kejadian tadi aku berpikir kalau Mas Rizal itu laki-laki yang tepat buat Mbak Sita"
"Hallah, nggak usah!, aku nggak mau Mama kepaksa nerima Rizal. Lagian dengan begini mbak bisa nemeni kamu setiap saat" ujar Sita.
"Iya juga sih, kalau mbak nyerah berarti, kemungkinan Mama juga nggak bakal restuin aku sama guru baru itu" ujar Amel
"Memangnya kamu udah jadian?" tanya Sita penuh selidik.
Amel langsung nyengir kuda." Belum mbak, Amel sebatas suka sama.Dia aja dan Amel juga nggak tau dia suka Amel apa enggak"
"Ih...kamu ini, Mama dulu nyidam apa sampai punya anak kek gini, malu-maluin" ucap Sita sambil melempar bantal kearah Amel.Keduanya lalu tertawa bersama.
"Tok...tok...tok" terdengar Pintu diketok dari luar.
"Sita, Mama boleh masuk?"
"Iya Ma, masuk aja nggak dikunci kok" ucap Sita.
Tak lama kemudian Mamanya Sita masuk kamar putri sulungnya.
"Kamu tumben-tumbenan tidur disini Mel?"
"Lagi pingin aja Ma" ujar Amel
"Sit, ada hal yang ingin Mama bicarakan. Begini nak, Kemarin Nak Yoga dan Nak Erwin menanyakan lamaranya pada Mama.Ada juga seorang Dosen yang melamar kamu dia ahli ibadah, tolong kamu pilih salah satu dari mereka" ucap Mamanya Sita
Sita terdiam begitupun Amel, Sita sangat resah. Ia bilang pada Rizal kalau ingin menikmati kesendirianya dulu, tapi ini Mamanya malah langsung menyuruhnya memilih dari ketiga laki-laki yang tidak ia cintai, dulu ia hidup dengan laki-laki yang cintai saja disakiti bagaimana ia bisa hidup dengan laki-laki yang tak pernah ia cintai.
"Ma, Sita masih ingin sendiri" ucap Sita pada Akhirnya.
__ADS_1
"Tapi kamu jangan lama-lama sendiri, itu bisa menimbulkan fitnah" ucap Mamanya Sita.
Sita hanya mengangguk mendengar ucapan Mamanya.
"Itu saja, yang ingin Mama sampaikan kalian lekas tidur jangan begadang, terutama kamu Amel, besuk kamu harus sekolah"
"Siap komandan" ucap Amel sambil mengangkat tanganya dibawawah telinganya seperti sedang upacara.
Hari terus berlalu, hari ini Amel akan menerima rapor, kebetulan Sita sedang cuti haid maka ia yang akan mengambilkan Rapor adeknya.Malam harinya Amel mengabari Rizal agar mengambilkan rapor anak saudaranya yang kebetulan satu kelas dengan Amel.
"Mbak lihat siapa di sana, ini namanya jodoh mbak nggak dimall, di sekolah bahkan kalian punya kafe usaha bersama, itu namanya jodoh mbak" bisik Amel
"Anak kecil, diem!, berisik" ucap Sita
"Cie..cie ...cie ada yang salting padahal tiap hari ketemu" goda Amel
"Amel, bisa diem nggak kalau enggak mbak pulang nih, biar rapor kamu nggak ada yang ngabilin, sukurin" ancam Sita
"Idih....serem banget ancemanya" ucap Amel
Tak lama kemudian Rizal mendekat dan menyapa Amel beserta Sita.
"Kak bentar ya, aku mau ketoilet...kelasku yang itu daahh" ucap Amel berlalu begitu aja
"Anak manis pengertian banget sama kakaknya" ucap Rizal
"Apaan sih kamu, ini disekolah Zal"
"Sita, aku tau apa yang menjadi alasanmu selalu menolakku untuk bertemu Mamamu, Amel sudah cerita semuanya. Tapi tenang aku akan berjuang untuk dapetin restu Mama kamu"
"Tapi Zal"
"Tidak ada tapi-tapian, kamu percaya sama aku kan?" ucap Rizal
Sita hanya menganguk meskipun ia tak yakin Rizal akan mampu meluluhkan hati Mamanya yang terlanjur kecewa dan menstempeli PNS adalah contoh ya g buruk perilakunya.
"Ya sudah, ayo kekelas Amel" Ajak Rizal
Sita berjalan didepan Rizal, Rizal mengekorinya dari belakang. Setelah selesai Rizal bermaksud mengantar Sita pulang.
"Zal, kali ini kamu nggak usah nganterin kita masalahnya Doni lagi nggak ada dirumah, kamu tau sendirikan bagaimana lingkungan tempat tinggalku disana banyak banget wartawan infotaimen dadakan" ujar Sita.
"Ok, Apapun akan aku lakukan untuk membuat kamu nyaman Sit, percayalah aku akan berjuang untukmu" ujar Rizal
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen