
Malam ini Sita benar-benar tidak bisa tidur, bayangan suaminya berbagi peluh dengan perempua lain menari-nari dipelupuk matanya.
"Sit, dari tadi kamu ngelamun aja? Ada masalah apa?"
"Nggak ada apa-apa kok Mas, Mas Hendra sudah makan?" tanya Sita setenang mungkin.
"Sudah tadi bikin mie, instan"
"Kan tadi pagi aku udah masak banyak, kenapa malah makan mie?"
"Lagi pingin aja" ucap Hendra padahal ia tidak makan Mie instan dia habis keluar makan bersama Desy.
"Mas, kemarin itu si Amel mau pinjam dres hijau sage ke aku, dia pikir aku punya"Sita menjeda ucapanya, lalu melihat ekspresi suaminya. Sama seperyi sebelumnya datar tidak ada reaksi apapun. Sita kembali melanjutkan ucapanya
"Terus Doni kesini, mau pinjam dres itu ke aku"
"Kan kamu nggak punya dres yang dimaksud.Ngapain Doni kesini?"
"Soalnya Doni katanya pernah lihat kamu beli dres warna hijau sage, Doni pikir itu buat aku, sekarang dimana dres itu?"
"Uhuk..." Hendra yang lagi minum langsung tersedak.
"Kenapa mas, kok sampe kesedak gitu?"
"Enggak apa-apa" ucap Hendra sedikit gugup.
"Dimana dres itu Mas?"
"Emm...itu anu"
"Itu, anu apa?"
"Dres itu bukan untuk kamu, tapi itu untuk teman mas yang mau nikah"
"Siapa yang mau nikah? Perasaan temanmu sudah nikah semua"
"Teman SMA,"
"Kapan? Kok aku nggak tau" Sita semakin gencar bertanya.
"Dia jauh rumahnya, aku nggak datang kok kepestanya, aku cuma kirim kado aja lewar kurir" Dusta Hendra.
"Hmmm....ngomong-ngomong soal pesta, tadi aku melihat undangan Khitanan dari bu Dian, acaranya besuk. Kok kamu nggak ngajak aku, besuk kan hari libur dan aku juga kenal Bu Dian"
Hendra terdiam beberapa saat ia, memikirkan jawaban yang sekiranya pas, karena awalnya ia tak mau mengajak Sita kesana. Karena rencananya sehabis dari tempat Ibu Dian dia mau menghabiskan waktu bersama Desy.
"Soal itu aku lupa kasih tau kamu" ucap Hendra sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Lupa atau mungkin sudah punya teman yang mau diajak?"
"Sita!, kamu ini ngomong apa sih, tentu saja aku mau mengajak kamu.Memangnya siapa lagi yang mau aku ajak, nggak mungkinkan aku ngajak Ibu atau Rini" ucap Hendr
__ADS_1
"Kok ngegas Mas, aku kan cuma nanya" ucap Sita.
"Habis, kamu kaya curiga gitu sama aku"
"Aku nggak bilang apa-apa loh mas, aku cuma nanya loh"
"Sudahlah nggak usah debat besuk kita le tempat Bu Dian sama-sama" ucap Hendra.
Setelah pembicaraan itu Hendra langsung mengirim pesan pada Desy, dia bilang kalau Sita ikut acara itu.
"Tarno-tarno kamu lucu sekali" ucap Sita sengaja mengeraskan suaranya.
"Tarno?, siapa Tarno sayang?" tanya Hendra
"Itu pengemudi Ojol langanan Mira" Dusta Sita
"Oh...kirain?"
"Kirain apa mas?, kamu kenal juga sama Tarno ojol?" pancing Sita.
"Ya, enggaklah" Hendra kembali mengirim pesan pada Desy.
Hendra : Kamu jangan ngambek dong
Tarno : Habisnya kamu malah ngajak istrimu
Hendra : Ya gimana lagi, kalau aku tolak dia pasti akan curiga.
Hendra : Mana bisa begitu, undanganya jam 9 loh
Tarno : kita masih ada waktu 1 jam untuk melepas rindu. Sebelum hatiku panas melihat siangnya kamu bersama istrimu.
Sita geram sendiri membaca Chat suaminya dengan Desy.
"Aku sumpahin tukang selingkuh, terkena penyakit" teriak Sita tiba-tiba, membuat Hendra kaget dan gugup keringat dingin langsung mengalir.
"Sa...sayang kamu bicara apa?" tanya Hendra gugup lalu menghentikan chatnya.
"Aku lagi nyumpahin tukang selingkuh!"
"Emangnya siapa yang selingkuh, aku nggak selingkuh sayang"
"Mas, aku nggak bilang kamu selingkuh loh ya. Kok kamu tiba-tiba bicara begitu" pancing Sita
"Sialan gue,keceplosan lagi gara-gara parno dengan ucapan Sita" batin Hendra.
Hendra serba kikuk, namun bukan Hendra namanya kalau tidak bisa mengalihkan pembicaraan.Malam terus berlalu berganti dengan pagi yang cerah. Pagi ini Sita disibukkan dengan kegiatan memasak didapur, ia sudah bertekad untuk mengikuti Hendra.
"Mas, ini sarapanya sudah siap" ucap Sita
"Mas buru-buru mau kerumah IBu dulu" Ucap Hendra untuk mengelabuhi Sita, pasalnya ia sudah berjanji pagi ini akan le rumah Desy.
__ADS_1
"Aku ikut!, sudah lama tidak ke rumah Ibu"
"Jangan dong sayang, nanti kamu malah ribut sama Ibu" ujar Hendra.
"Padahal aku bawa uangloh kemarin habis dapat bonus, pasti Ibu senang" Dusta Sita.
"Besuk aja, kerumah Ibu kamu kasih bonusnya"
"Wah, sayang banget. Ya udah kalau gitu aku telephone Rizal aja, biar dia kemari.Itung-itung nyicil utang, secara kemarin aku utang sama dia buat beli bajunya Amel" ucap Sita memanas-manasi Hendra
"Kenapa nggak kamu transfer aja, kan lebih mudah"
"Aku males ke ATM"
"Kan bisa pakai Mobile Banking"
"M Bankingku lagi error"
"Aku antar ke ATM aja, sekalian aku kerumah Ibu"
"Dianya aja mau-mau aja kesini, ngapain aku harus repot-repot ke ATM'
"Kamu ini gimanasih? Suami nggak ada dirumah mau nerima tamu laki-laki" sewot Hendra yang terbakar api cemburu
"Kan, Rizal di teras. Aku juga tidak semurah itu memasukkan laki-laki kerumah, bila suamiku nggak ada dirumah, kenapasih takut banget? Apa jangan-jangan kamu sering bermain kerumah orang yang suaminya tidak ada?" pancing Sita.
"Tutup mulutmu Sit!"
"Kok marah?, aku kan cuma nanya, udah sana pergi kerumah Ibu udah ditungguin kamu" ucap Sita.
Hendra memutuskan untuk tidak kerumah Desy, ia langsung mengirim pesan pada Desy. Perempuan itu ngamuk-ngamuk karena Hendra tidak jadi datang.
"Sit, ini sudah hampir jam delapan kenapa temanmu belum datang?,"
"Ya, sebentar lagi mungkin" jawab Sita santai
"Tunggu aja sampai jengotan, Rizal nggak bakal kemari.Rasain kamu mas!, emang enak dikerjain" batin Sita
Sampai waktu mereka hampir berangkat ke rumah Bu Dian Rizal tidak menampakkan batang hidungnya, Sita beralasan kalau Rizal tiba-tiba ada acara jadi tidak bisa kerumah Sita. Hendra sangat marah dan uring-uraingan, Sita tersenyum puas.Pagi itu dengan wajah ditekuk Hendra datang kekediaman Bu Dian dengan wajah ditekuk. Sampai disana Desy telah tiba duluan.Sebisa mungkin Desy bersikab biasa saja, walaupun hatinya Panas.Sita sengaja menempel terus pada Hendra sehingga tidak ada kesempatan bagi Desy untuk mendekat.Sita memang belum tau siapa selingkuhan Hendra namun, dari Chat semalam ia tau salah satu dari teman Hendra itu selingkuhannya.
"Wah Bu Sita, Nempel terus sama suaminya" goda Bu Dian
"Iya bu, jaman sekarang punya suami itu harus hati-hati kalau tidak diambil pelakor ya diambil Tuhan" ucap Sita penuh penekanan.
"Apaan sih kamu Yang," ujar Hendra.
"Kamu malu mas?,"
"Enggak, bukan gitu" ucap Hendra kikuk
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen