
"Apa maksud kamu ngomong kaya gitu mas?" tanya Desy padaku.Tampak mukanya memerah menahan kesal.
"Kan udah jelas, kamu hamil kamu ada suami. Terus apa masalahnya" tanyaku
"Bisa ya?, kamu ngomong kaya gitu.Asal kamu tau aja, yang ada di perutku ini anakmu!"
"Juederrrr," bagai disambar gledek rasanya aku ingin pingsan.Hubunganku dengan Sita baru aja membaik tapi.Ini apa lagi
"Da...dari mana kamu yakin kalau itu anakmu, sedangkan kau juga berhubungan dengan suamimu" kataku tergagap.
"Mas, aku sudah lama tidak berhubungan dengan suamiku, dan terakir kali itu aku berhubungan hanya dengan kamu" ucap Sita agak meninggi.
"Pelankan suaramu!" ucapku.
"Sekarang apa maumu?" tanyaku lagi.
"Aku juga tidak tau?" ucapnya.
"Terus ngapain kamu nemuin aku?, lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing, dengan pasangan kita masing-masing" ucapku yang ingin mengakiri pembicaraan kami.
"Ya, nggak bisa gitu dong! Kamu mau lari dari tanggung jawab" cecarnya.
"Kamu maunya apa?, kita sudah punya pasangan masing-masing, lagian aku juga nggak maksa kamu waktu ngelakuin itu, kita sama-sama sadar. Sekarang konsekuensinya kamu yang tanggunglah, lagian suami kamu juga nggak bakal tau itu anak siapa? Amankan.Aku aman, kamu aman. Selesai" ucapku
"Enak banget kamu, seengaknya kamu peduli sama anak ini. Penuhi ngidamku antar aku periksa itu aja tuntutanku" ucapku.
Aku langsung memijit pelipisku, kepalaku rasanya mau pecah, bagaimana aku membagi waktu dengan Sita.Dia pasti akan curiga apalagi si Doni bisa digorok leherku jika aku ketahuan jalan lagi dengan Desy.
"Ya Tuhan, andai waktu bisa diputar aku tak ingin selingkuh dengan Desy" batinku
"Kalau kau menolak, mari kita hancur bersama-sama aku tidak akan segan-segan memberitau istrimu tentang kehamilanku.Lagian kamu jadi laki-laki nggak tau diuntung banget, sudah dapat kehangatan dariku, uangku pun kau bawa, kamu hamilin aku lalu kau mau enak-enakan pergi begitu saja.Padahal aku tidak meminta kau nikahi.Keterlaluan, hiks..hikss..hik" ucapnya sambil menangis.
"Des, jangan menangis disini, malu dilihat orang lihatlah semua orang melihat kita" ucapku memperingatkan Desy.
"Biar saja, mereka tidak tau bagaimana rasanya jadi aku.Hiks...hikss..hiks" Perempuan ini malah semakin menjadi.Akhirnya aku putuskan untuk menuruti apa maunya.Semoga saja tidak ada yang lihat.
__ADS_1
Pertama aku mengantarnya cek kandungan, setelah itu aku menemaninya membeli daster, kemudian dia minta diantar pulang. Sampai dirumahnya ia masih merengek lagi.Dan lebih gilanya lagi dia mengodaku, mana ada laki-laki yang tahan digoda begini.Naluri laki-lakiku bangkit kami kembali melakukan dosa. Aku pulang hingga malam karena terlalu terlena dengan nikmat dunia yang hanya sesaat.Sebelum sampai rumahku aku menuntun motorku,karena aku yakin Sita sudah tidur karena ini juga sudah larut.Aku berjalan mengendap-endap kearah kamar.
"Ah...aman Sita sudah pulas" batinku, Kupandangi wajah cantik istriku.Sungguh aku tak berniat menghianatinya.Tapi mana ada kucing yang tahan kalau selalu disuguhi ikan asin didepanya.
"Maafkan aku sit" batinku.Kukecup keningnya lalu aku berbaring disisinya.
Pov Hendra End.
Sita sebenarnya tidak tidur, sejak tadi ia menunggu Hendra pulang, hatinya cemas karena tidak biasanya Hendra pulang selarut ini.Begitu denger suara motor dekat gang rumahnya ia masuk kembali.Karena dari kejauhan ia melihat Hendra sengaja menuntun motornya.
"Ini, mas Hendra sudah mulai tidak beres lagi.Jangan harap setelah ini kamu terbukti nyeleweng lagi aku akan memaafkanmu" guman Sita pelan.
Setelah itu ia masuk dan pura-pura tidur lelap.Ia bisa merasakan pergerakan Hendra masuk kamarnya mengendap-endap, lalu mengecup keningnya dan mengucapkan kata Maaf lalu tertidur disebelahnya.
"Ya Tuhan, apa lagi yang ia lakukan diluar sana,Hamba benar-benar lelah Ya Tuhan" batin Sita.
Malam terus merambat naik keperaduan dan berganti tugas dengan pagi yang sudah menyapa kediaman Hendra dan Sita.Pagi itu Hendra sangat lelap, Sita bangun terlebih dahulu menyiapkan sarapan dan beberes rumah dan mandi.Nampak Hendra bangun ia kebingungan mencari istrinya.
"Hai sayang!, sudah bangun?" tanya Sita ia berusaha bersikab biasa saja agar Hendra tidak curiga padanya.
"Maafkan aku, aku kesiangan jadi nggak bisa bantu-bantu kamu" ucap Hendra nampak merasa bersalah semenjak keduanya berkomitmen untuk memperbaiki rumah tangga mereka setiap pagi Hendra membatu pekerjaan Sita dari menyapu dan membersihkan kamar.
"Emm...jam 10 mungkin, tapi kamu sudah pulas banget jadi aku nggak tega bangunin kamu" ucap Hendra.
"Bohong banget mas, nyatanya semalam jam 1 kamu baru pulang, bisa-bisanya kamu bilang pulang jam sepuluh" batin Sita
"Emangnya kemana aja mas semalam?" tanya Sita
"Biasa mampir rumah Ibu, biasalah ngobrol malah kebablasan" dusta Hendra.
"Ya sudah Mas, Mandi dulu lalu siap-siap terus sarapan dan berangkat kerja ucap Sita."
Sembari menunggu Hendra mandi Sita membuka laptopnya dan melihat Chat suaminya. Ternyata nihil suaminya tidak melakukan Chat apapun yang mencurigakan.
"Sit, aku berangkat dulu ya" ucap Hendra sembari mendekat dan mencium kening Sita.
__ADS_1
"Iya Hati-hati Mas" ucap Sita.
Tak lama setelah Hendra berangkat, ponsel Sita berdering dilihatnya ID pemanggilnya adalah Ibu mertuanya.
"Mau apalagi dia, semoga nggak bikin keributan" batin Sita.
"Ya, Hallo Bu"
"Hei, perempuan mandul! Kamu apain anakku?, sampai nggak menengokku sudah seminggu dia tidak kemari?" teriak mertuanya.
"Bukanya semalam dia mampir kerumah Ibu?" tanya Sita keheranan
"Kamu ini bego apa bagaimana?, kalau dia sudah kemari ngapain aku nanya kamu?" bentak mertuanya.
"Ya sudah bu, nanti saya sampaikan. Ini saya mau kerja sudah kesiangan" ucap Sita
"Hei perempuan Mandul!" teriak mertuanya.
"Klik" sambungan telephone langsung dimatikan Sita demi menjaga kewarasanya.
"Kamu bohong lagi ternyata mas, pantas saja semalam kamu pulang mengendap-endap" batin Sita
Sesampainya di kantor, Sita terus kepikiran dengan sikab Hendra yang sudah berani membohonginya lagi.
"Nanti kalau pulang kerja aku tanya pasti ngelak dia, tapi kalau nggak nanya juga gimana rasanya. Jengkel juga rasanya " batin Sita.
"Dor...., ngelamun aja. Ayam tetangga mati loh karena banyakan ngelamun" ucap Erwin mengagetkan Sita
"Bapak bikin kaget aja!,"ucap Sita
"Kamu lagi ada masalah?, dari tadi aku perhatiin kamu ngelamun terus ada apa?" tanya Erwin mulai kepo.Sejujurnya Erwin memang tertarik dengan sosok Sita yang cantik, pintar, mandiri dan ia juga cekatan.
"Enggak Pak, mungkin saya hanya cape aja" ucap Sita.
"Kalau cape jangan dipaksa kerja, kamu istirahat dulu. Hari ini kamu nggak usah lembur" ujar Hendra
__ADS_1
"Makasih Pak"
Tbc, Ayo dukung author kasih comment,like,dan favorite agar author semangat nulisnya