
********
Sore hari usai sekolah berakhir, terlihat Biru dan teman-temannya tengah berkumpul di Café berkonsep perpustakaan. Café tersebut cukup cozy untuk anak muda yang menyukai buku seperti mereka, karena selain menghabiskan waktunya untuk nongkrong bersama, mereka sekalian bisa membaca buku sembari menikmati secangkir cokelat panas atau ice blended dengan beberapa kudapan.
Biru terdiam menatap ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja, megabaikan buku bacaan dan hanya dibiarkan terbuka. Raut wajah tampannya terlihat mengharapkan panggilan dari seseorang berdering di ponselnya, Jingga.
Terhitung sudah tiga hari sejak dia memberikan nomornya kepada gadis itu saat di UKS, tapi Jingga tak kunjung menghubunginya. Tidak hanya itu, Biru juga merasa Jingga terkesan menghindarinya. Terbukti saat tadi dia bertemu di perpustakaan sekolah, Jingga langsung buru-buru pergi begitu melihat kedatangannya. Begitu pula hari kemarin saat berpapasan di kantin, Jingga buru-buru memalingkan wajahnya saat pandangan mereka bertemu.
“Hiish, bego. Harusnya gue yang minta nomornya kemarin.” Biru menggerutu dalam hati seraya mengacak-acak rambutnya frustrasi.
“Lo pelototin tuh hape sampai lebaran monyet juga nggak bakalan dia chat duluan.” Ledek Bisma yang melihat sahabatnya bergeming memandangi ponselnya tanpa kedip.
“Sok-sokan, sih. Lo yang suka, lo juga yang ngarep dideketin duluan. Halu aja terus sampai Firaun jadi tukang ojol.” Bian menimpali sambil menoyor kepala Biru pelan.
Albi mengangguk, lalu menambahi. “Udah, deh, nggak usah main tarik ulur segala, kalo lo emang niat deketin, langsung gaspoool. Ribet lo dari dulu, greget gue.”
Biru mendengus. “Berisik lo pada.” Kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada buku yang sejak tadi hanya dibiarkan terbuka dan dianggurkan begitu saja. Sementara teman-temannya hanya mengedikkan bahu dan menatap Biru dengan tatapan meledek.
“Lagian sampai kapan lo mau jadi secret admirer? Gue perhatiin lo masih diam di tempat sampai sekarang.” Komentar Bisma gemas dengan sikap Biru yang tidak memiliki keberanian untuk bergerak mendekati Jingga, gadis yang sudah sangat lama disukainya.
“Kalo lo terus-terusan ngikutin dia dan foto sama gambar diem-diem, terus kalo ketahuan sama dia bisa dikatain penguntit lo. Emang udah bisa dibilang penguntit, sih, menurut gue. Yang ada si Jingga malah takut. Mampus, deh, lo, ujung-ujungnya.” Bian ikut berkomentar, Biru hanya mendelik sewot. Sok tahu sekali teman-teman kampretnya ini.
“Bi, lo kalau nggak mau gerak, biar gue yang gerak. Gue juga suka, kok, sama Jingga.” Celetuk Albi yang langsung mendapat tatapan galak dari Biru.
“Yaelah, nih kambing.” Bian spontan menoyor kepala Albi keras. “Si Biru aja nggak dia lirik, apalagi elo.”
“Yeeh, sialan, lo.” Albi melempar potongan muffin dengan kesal pada Bian, tidak terima diledek seperti itu.
“Makannya jangan kebanyakan mabok kecubung, Nyet.” Kali ini Bian memukul pelan kepala Albi menggunakan buku di tangannya. Sementara cowok berwajah manis itu hanya mendengus sebal.
“Jangan coba-coba, lo.” Ucap Biru memberi peringatan, nada bicaranya terdengar serius, pun dengan tatapannya. Padahal, semuanya jelas tahu kalau Albi hanya becanda.
“Emang kenapa? She doesn’t belong to anyone.” Sahut Albi menantang dan menyeruput cokelat panasnya dengan santai. Senyum tipis tersungging di balik bibir cangkir.
Biru langsung menghunuskan tatapan tajam, ekspresinya tampak terancam, membuat Albi gemas ingin menjahilinya.
“She belongs with me.” Ujar Biru penuh ketegasan, tapi teman-temannya malah menahan senyum meledek, pun dengan tatapan mereka. “And one day it will be so.” Lanjutnya dengan nada suara satu oktaf lebih rendah, dia terdengar ragu-ragu.
Albi berdecak tak percaya dan memandang Biru dengan tatapan meremehkan. “Lo yakin? Dan itu kapan waktunya? Nunggu dia keburu nikah sama orang lain dan jadi janda?”
“Sialan!” Biru memukul kepala Albi keras-keras, wajahnya merengut masam. Sembarangan sekali cowok ini berkata seperti itu pada orang yang Biru sukai. Sementar Bian dan Bisma yang menyaksikan pertengkaran kecil mereka hanya tergelak renyah, membuat beberapa pengunjung Café di sana melirik ke arah meja mereka sejenak karena begitu menarik perhatian.
“Makannya, Bi, lo beraksi, doong, jangan nguntit mulu bisanya. Bintitan baru tahu rasa, lo.” Ucap Bisma dengan sisa-sisa tawanya.
“Yep.” Bian menyahuti. “Leonardo da Vichi aja bilang kalau kehendak aja nggak cukup, itu harus diwujudkan dalam aksi. Dan lo cemen.”
Biru yang mendengar itu langsung merengut sebal. Tapi dia tidak mendapat kesempatan untuk menyahuti karena Bisma dengan cepat menyambar. “Dan Merry Riana juga bilang, dari hati jadi aksi, dari hati turun ke hati. Sementara lo? Dari hati malah jadi halu, lebih parah jadi objek fantasi sampai tiap bangun tidur lo ngompol di kasur.”
Ucapan nyeleneh Bisma kembali disambut gelak tawa Albi dan Bisma, kali ini sedikit lebih keras sehingga terdengar menggelegar.
“Sembarangan, lo.” Dan satu jitakan keras dari tangan Biru mendarat tepat di kepala Bisma hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan, tapi tidak menyurutkan tawa menyebalkannya.
“Gue tahu. Soalnya Tante Lisa yang bilang sendiri kalau dia bosan tiap hari nyuci seprai lo. Udah, deh, ngaku aja. Lo tiap malem mimpi aneh-aneh sama Jingga, kan?” Ledek Bisma lagi, membuat Biru menggeram kesal, wajahnya tampak merona menahan malu.
“Si anjrit, mesum juga lo ternyata.” Timpal Bian. Sementara Biru kembali menggeram kesal guna menahan kesabarannya.
“Wait-wait. . . .” Albi mengangkat sebelah tangannya. “Sorry, nih, gue masih polos. Ngompol itu maksudnya si Biru mimpi bas– eemmmbb.”
Sebelum Albi menyelesaikan kalimatnya, buru-buru Biru menyumpal mulut cowok manis itu dengan muffin sebanyak-banyaknya hingga Albi kesulitan untuk menutup mulut karena terlalu penuh.
“Polos-polos mulut, lo! Makan, niiiih. . . .” Biru dengan gemas terus menjejali muffin pada mulut Albi tanpa ampun. Sementara Bian dan Bisma kembali tergelak melihat Albi tersiksa.
“Kalian juga, ngapain ketawa kayak kuda mau dijual?” Ucap Biru sewot pada Bian dan Bisma, membuat mereka menghentikan tawanya seketika. “Masih mending gue ngompol, daripada kalian nonton porno.” Imbuhnya nyeleneh.
__ADS_1
“Ya sama aja, kambing.” Sahut Bisma dan melempar tissue bekas, namun tak sampai mengenai wajah Biru.
“Dahlah gue cabut. Sial banget gue punya teman bentukannya kayak kalian.” Biru yang kesal lalu menyambar tas ranselnya sebelum kemudian beranjak dari sana, meninggalkan teman-temannya yang memandangi punggungnya sambil geleng-geleng kepala. Ini untuk pertama kalinya mereka melihat Biru segila itu pada seorang gadis.
“Si kambing sensi amat, perkara diledek ngompol doang langsung cabut.” Gerutu Bian yang melihat punggung Biru semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kaca.
“Gara-gara kalian, sih.” Ucap Albi mengedikkand agu kea rah Bian dan Bisma.
“Lah, elo yang mulai bilang mau nikung-nikung si Jingga.” Sahut Bian tak terima.
“Tapi gue nggak mau ngelak kalo gue juga suka sama Jingga. Emang kalian enggak?” Balas Albi.
“Ya suka, sih. Dia, kan, cantik, pinter, baik hati.” Bian melipat tiga jarinya satu per satu.
“Sama kayak gue. Kata Mami, gue juga ganteng, pinter, dan baik hati.” Sambar Albi percaya diri.
Bian memutar bola matanya malas. “Ya, tapi ada yang kurang dari elo….”
Albi mengernyitkan kening, menunggu Bian melanjutkan kalimatnya.
“Lo kurang sadar diri. HAHA…” Imbuh Bian kemudian, membuat Albi memanyunkan bibirnya lucu.
Lantas tawa menggelegar penuh cibiran dari Bian dan Bisma langsung memenuhi ruangan hingga membuat pengunjung lain sontak menoleh ke arah mereka.
“Monyetnya Aladdin kayak elo nggak cukup pantes buat dia yang Putri Mahkota.” Ledek Bian dan langsung tertawa puas melihat wajah tertindas Albi.
“Seneng banget kalian bully gue.” Sungut Albi seraya melempar sendok kecil dan tepat mengenai kening Bian.
********
Jingga duduk di kursi taman sambil mengayun-ayunkan kakinya yang masih dibalut kaos kaki sebatas lutut. Kali ini tanpa ditemani Langit. Dan ini adalah kali pertamanya dia datang ke taman kota sendirian.
Biasanya dia datang ke taman kota setiap sore bersama Langit. Tapi cowok itu tidak bisa menemaninya hari ini dan memilih pergi ke mall untuk mengincar jacket Adidas keluaran terbaru dan limited edition.
Taman itu semakin ramai ketika memasuki waktu sore. Banyak anak muda seperti dirinya yang lebih memilih untuk menikmati waktu di luar ketimbanng di rumah. Entah hanya untuk menikmati suasana sore sambil menikmati beberapa minuman dan beberapa camilan yang tersedia di stand sekitar taman, atau untuk menikmati romantisme pacaran agar tidak ketahuan orang tua.
Jingga menghembuskan napasnya dan mendesah pelan, rasanya cukup bosan tanpa ada Langit di sisinya.
Sejurus kemudian, Jingga dibuat sedikit terkesiap saat merasakan benda dingin menyentuh pipinya, lalu dia menoleh dan ternyata sebotol yogurt rasa strawberry. Gadis itu langsung mengambilnya dengan senang hati, mengira jika yang datang dan membawakannya minuman tersebut adalah Langit.
“Aku tahu, kamu nggak akan bisa ngebiarin aku sendi–” Kalimat Jingga tergantung begitu saja saat mengetahui ternyata bukan Langit yang datang, melainkan Biru yang kini bergerak untuk duduk di sebelahnya.
“Kamu? Ngapain ke sini?” Tanya Jingga setengah terkejut dan tak percaya. Sementara Biru hanya menatapnya dengan seulas senyum hangat.
“Emang nggak boleh?” Biru balik bertanya setelah berhasil mendudukkan dirinya tepat di samping Jingga, membuat gadis itu otomatis menggeser sedikit posisi duduknya untuk memberi jarak.
“Bukan gitu. Tapi agak aneh aja ketemu kamu di sini.” Jawab Jingga, lalu nyengir kaku.
“Kebetulan lewat dan lihat kamu.” Ujar Biru. Jingga hanya mengangguk-angguk.
“Aku udah beberapa kali lihat kamu di sini tiap lewat. Kamu biasa ke sini emang?” Tanya Biru kemudian.
Jingga mengangguk pelan. “Hampir tiap hari, kalo pulang sekolahnya nggak sore banget.”
“Sendiri?” Biru terus bertanya.
“Biasanya sama. . . .”
“Langit. Oke aku tahu.” Biru menyela ucapan Jingga dengan cepat. Dia lalu melemparkan punggungya pada sandaran kursi yang terbuat dari besi itu. Sementara Jingga hanya tersenyum geli.
Sejenak tidak ada percakapan di antara mereka, hanya suara riuh pengunjung taman yang terdengar, serta suara deru mesin dan klakson dari kendaraan di seberang jalan sana. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing..
“Ngomong-ngomong. . . .” Biru mencoba membuka percakapan kembali. Jingga lantas menoleh sehingga kini pandangannya bertemu dengan tatapan hangat Biru. “Kenapa kamu nggak hubungin aku?”
__ADS_1
Jingga bergeming, matanya seolah terhipnotis oleh makhluk tampan yang sedang menatapnya intens itu. Jantungnya kini sudah kebat-kebit dibuatnya. Jingga harap Biru tidak mendengarnya.
Biru mendengus geli, lalu menjentikkan jari di depan wajah Jingga hingga membuat gadis itu tersadar. “Hei. Jingga Janitra William! Kenapa nggak telepon aku?”
“Ehh, iya, Kak?”
Biru tersenyum gemas. “Aku tanya, kenapa kamu nggak telepon aku, heh?” Kemudian tangannya terulur dan menarik pipi kiri Jingga, hingga membuat gadis itu meringis ngilu.
“Aww, sakit, Kak.” Jingga berusaha melepaskan tangan Biru dari pipinya.
“Kenapa?” Tapi rupanya Biru tak berniat untuk melepaskannya, bahkan kini dia malah semakin keras mencubit pipi Jingga.
“Aku nggak punya hape.” Jawab Jingga assal. “Udah lepasin. Sssh.” Mohonnya kemudian.
Jingga mengusap-usap pipinya yang terasa panas akibat cubitan keras dari Biru sesaat setelah cowok itu melepaskan tangannya.
Sementara Biru yang mendengar jawaban cukup konyol dari Jingga langsung mendengus dan menatapnya tak percaya. “Aku tahu, kamu bohong.”
“Dihh, sok tahu.” Sahut Jingga, masih mengusap-usap pipinya.
“Emang kenyataannya.” Biru tak mau kalah, pandangannya tertuju pada ponsel di saku seragam sekolah Jingga.
“Lagian kita nggak sedekat itu untuk saling menghubungi.” Balas Jingga enteng, membuat Biru kembali mendengus.
“Kamu sendiri yang bilang kalau kita teman baik.” Biru mengingatkan.
“Kapan?” Tanya Jingga pura-pura lupa.
“Supermarket, lima hari yang lalu, kalau kamu lupa.” Balas Biru.
“Ohh, itu.” Jingga mengangguk-angguk, lalu kembali terdiam dan berpikir untuk mencari jawaban pengalihan. “Kalo nggak salah, waktu itu aku cuma asal ngomong aja biar Bunda nggak godain kita.”
Biru merengut sebal. “Terserah! Aku nggak peduli.” Dia lalu dengan cepat meraih ponsel dari saku kemeja seragam sekolah Jingga.
Jingga yang kecolongan cukup terkejut. Dia berusaha mengambil ponselnya kembali, namun Biru secepat kilat mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, sehingga Jingga kesulitan untuk meraihnya.
“Coba aja kalau bisa.” Biru menjulurkan lidahnya meledek. Jingga mengerucutkan bibirnya lucu dan menatap sebal Biru. Sementara cowok yang ditatap tidak peduli sama sekali. Biru malah sibuk membuka layar ponsel Jingga.
Setelah layar ponsel terbuka, Biru dengan cepat mendial up nomornya sendiri. Kemudian dia mengambil ponselnya dari saku seragam, dan tersenyum puas karena kini sudah mendapatkan nomor Jingga.
“Nih. Padahal nomor aku udah kamu save, tinggal telepon atau chat susah amat.” Biru mendumel seraya menyerahkan kembali ponsel milik Jingga. Gadis itu kemudian menerimanya dengan kesal. “Awas habis ini kalau sampai nggak jawab telepon atau chat dari aku.” Imbuhnya kemudian
Jingga memutar bola matanya jengah. Kenapa cowok di sebelahnya ini tibia-tiba memaksanya, coba?
“Jingga. . . .” Desak Biru karena Jingga tak kunjung menyahutinya.
“Aku nggak janji. Nggak punya pulsa, dan di rumah aku nggak ada WiFi.” Jawab Jingga asal.
“Aku nggak mau dengar alasan kamu.” Sahut Biru sekenanya. “Kalau kamu unrespond, aku bakal datang ke rumah kamu.”
“Ck, kayak tahu aja.” Jingga berdecak tak pecaya.
“Bukan hal yang sulit buat aku tahu rumah kamu di mana.” Tutur Biru menantang, membuat Jingga mendesis sebal dibuatnya.
“Kan aku udah bilang kita nggak sedekat itu . Lagian aku nggak niat jadiin kamu teman. Aku nggak mau kamu jadi teman aku.” Balas Jingga bersungut-sungut. Dia lalu menancapkan sedotan pada botol yogurt dan meminumnya dengan rakus. Jingga merasa geram sendiri karena kalah berdebat dengan Biru.
“Oke. Kalau nggak mau kamu jadiin teman, terus mau kamu jadiin apa? Pacar?” Tanya Biru santai diiringi senyum penuh ledekan. Seketika Jingga menyesal sudah mengatakan hal tersebut.
“Jadi apa?” Kali ini Biru mendekatkan wajahnya dan berbisik hingga Jingga merasakan bibir lembab Biru menyentuh daun telinganya. “Kamu mau aku jadi pacar kamu?” Ulang Biru, terpaan napas hangat di telinganya membuat tengkuk Jingga meremang.
Jingga bergeming. Dia belum siap dengan situasi yang tiba-tiba seperti ini. Jingga juga merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dan pipinya tiba-tiba memanas seiring dengan rona merah yang terukir cantik di sana.
********
__ADS_1
To be continued. . . .