
********
Pagi harinya. Biru yang masih berada di rumah orang tuanya keluar dari kamar, untuk kemudian turun menemui mereka di ruang makan.
Sesampainya di sana, Biru langsung mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan sang ibu. Terlihat orang tuanya sudah sarapan lebih dulu.
Atmosfer ruangan terasa mencekam, dingin, seolah mampu membekukan siapa saja yang ada di sana. Tidak ada sapaan selamat pagi, apalagi perbincangan hangat seperti biasanya.
“Papa selesai.” Ucap Papa seraya meletakkan sendok dan garpunya di piring, menandakan dia menyudahi acara sarapan paginya.
“Papa udah mau berangkat? Ya udah tunggu sebentar, Mama ambil tasnya dulu.” Sahut Mama dan siap beranjak untuk mengambil tas kerja suaminya yang masih ada di kamar.
“Ma, Pa . . . .” Biru yang sejak tadi seolah tak dianggap keberadaannya kini angkat bicara, menghentikan orang tuanya yang hendak beranjak dari duduk. Lantas dia memberanikan diri untuk menatap mereka dengan tegas, karena dia sama sekali tidak merasa bersalah dan memang tidak melakukan kesalahan.
“Aku bener-bener nggak ngelakuin apapun sama Luna. Kenapa kalian nggak percaya?” Biru membela diri. Nada sudaranya terdengar putus asa.
“Percaya? Tck, lucu. Dua orang dewasa dalam satu ruangan, terus Luna pake baju kayak gitu, dan Mama sama Papa harus tutup mata?” Seru Mama sambil tersenyum kecut.
“Ma . . .” Protes Biru meninggikan suaranya, dia keberatan dengan tuduhan yang dilayangkan Mama padanya.
“Biru jangan pernah meninggikan suara kamu sama Mama!” Bentak Papa.
“Maaf, Pa, Ma. Tapi aku bener-bener nggak ngelakuin apapun. Tadi malam Luna nggak sengaja numpahin kopi ke bajunya, habis itu aku keluar beli baju buat dia.” Biru berusaha menjelaskan seadanya, berharap orang tuanya percaya.
“Luna ngapain ke apartemen kamu? Atau kalian emang sering berduaan di sana? Jadi karena ini kamu lebih memilih tinggal di apartemen daripada di rumah, iya, Bi?” Cecar Papa kemudian.
“Enggak, Pa. Papa jangan nuduh aku macam-macam gitu, dong. Aku bukan orang seperti itu.” Sahut Biru frustrasi. Ternyata, seperti ini rasanya dituding dan disudutkan. Benar-benar tidak enak dan menyebalkan.
“Aku anak kalian, kan? Mama sama Papa tahu aku gimana.” Biru terdegar putus asa.
Sejenak Mama dan Papa terdiam, suasana hening kembali mengambil alih, hanya suara ******* napas berhembus yang terdengar. Keluarga kecil itu seolah tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
“Sekalipun Mama dan Papa mempercayai apa yang kamu katakan. Tapi gimana sama Jingga? Orang biasanya akan lebih mempercayai apa yang mereka lihat, Bi. Mama nggak tahu bagaimana harus menghadapi Jingga setelah ini.” Ujar Mama.
“Aku akan berusaha memperbaikinya, Ma, sampai Jingga percaya lagi sama aku.” Ucap Biru yakin.
“Oke. Tapi sebelumya Mama minta kamu buat jauhin Luna. Dia nggak baik.” Titah Mama tegas. Meski Mama sudah mengenal Luna dari kecil, namun pandangannya terhadap gadis itu sudah berbeda sekarang.
“Ma, kok Mama ngomongnya kayak gitu? Mama, kan, tahu Luna teman aku.” Biru protes.
“Kalau gitu terserah kamu. Mama udah ngingetin.” Seru Mama terdengar kecewa.
“Mama kamu benar, Bi. Orang tua itu lebih berpengalaman menilai kepribadian seseorang.” Timpal Papa kemudian. Tak ingin berdebat, Biru mengiyakannya dengan ragu.
********
Sesampainya di rumah sakit, Biru mengambil langkah besar menuju bagian penyakit dalam, tempat di mana Luna bekerja. Dia harus meminta penjelasan kenapa Luna bisa memakai pakaiannya tadi malam.
“Luna.” Panggilnya saat melihat Luna hendak masuk ke dalam ruangan khusus perawat.
“Bi . . .” Luna berbalik ke arahnya dengan senyum mengembang. Tidak biasanya Biru mencari dan menghampirinya lebih dulu.
“Bisa kita bicara sebentar?” Tanya Biru terdengar dingin, pun dengan raut wajahnya. “Ikut aku.” Lanjutnya seraya melangkahkan kaki menuju tangga darurat. Luna tanpa banyak bertanya hanya mengekori langkah panjang cowok itu.
“Ada apa, Bi?” Tanya Luna setelah mereka sampai di tangga darurat.
“Kenapa tadi malam kamu bisa pake baju aku? Kamu tahu, yang kamu lakukan itu udah bikin orang tua aku sama Jingga salah paham.” Jawab Biru dengan nada kesal.
“Maaf, Bi. Aku nggak enak pake baju kotor, makannya aku terpaksa ngambil baju dari lemari kamu.” Jelas Luna dengan kepala yang sedikit tertunduk.
“Maaf, Luna. Seharusnya kamu nggak lancang masuk ke kamar orang lain kayak gitu.” Ujar Biru dengan penuh penekanan.
“Maaf, Bi.” Cicit Luna.
“Mulai sekarang, kamu jangan pernah datang lagi ke apartemen aku.” Ucap Biru penuh peringatan.
“Bi–” Luna menatap Biru penuh protes.
“Aku nggak mau membuat Jingga salah paham lagi.” Sela Biru dingin dan berbalik meninggalkan Luna yang menatap punggungnya dengan geram.
Mungkin ini adalah langkah pertama yang akan dilakukan Biru untuk memperbaiki hubungannya dengan Jingga. Menjaga jarak dengan dengan Luna.
Biru mengusap wajahnya dengan gusar, dia heran kenapa Luna bisa selancang itu masuk ke kamarnya.
“Apa Luna sengaja ngelakuin itu? Tapi buat apa?” Biru menerka-nerka, membuat langkahnya melambat.
Sejak kemarin, dia memang merasa ada yang tidak beres dengan Luna. Gadis itu tiba-tiba datang ke apartemen dengan dalih mengantarkan makanan dari Bu Ratmi. Biru sudah menyuruh Luna pergi dengan cara halus agar tak menyinggungnya, dengan mengatakan dia akan bertemu ibunya sebentar lagi.
Biru mengira Luna akan mengerti, tapi gadis itu malah mengajaknya minum kopi sebentar, alasannya adalah karena Luna sudah lama tidak minum kopi bersama Biru. Karena tidak enak, Biru membiarkan Luna untuk sejenak minum kopi, tapi tanpa sengaja Luna malah menumpahkan minuman itu ke bajunya sendiri.
Dan pada akhirnya, sepulang Biru membeli baju untuk Luna. Dia sudah mendapati Jingga dan Mama berdiri di apartemennya dengan suasana tegang karena melihat Luna memakai kemeja miliknya.
“. . . . Luna suka sama kamu.”
Tiba-tiba Biru teringat ucapan Jingga saat makan malam bersama waktu itu.
“Aku nggak bohong. Luna sendiri yang bilang sama aku kalau dia suka sama kamu.”
Sebenarnya Biru tidak ingin berpikiran buruk, tapi ucapan Jingga, dan ditambah keanehan Luna benar-benar mengganggu pikirannya kali ini.
Biru menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran buruknya pada Luna. Dia tidak mau mengambil kesimpulan begitu saja dan berakhir menuduh Luna, sebelum dia memastikannya sendiri.
********
Saat dirinya tidak disibukkan dengan pekerjaan, Jingga kembali merasakan kekosongan di hatinya. Seperti halnya siang ini, Jingga menghabiskan waktu makan siangnya bersama Hana di kedai kopi rumah sakit. Tapi bukannya menikmati makanan, Jingga malah melamun. Bahkan tanpa sadar dia meremas pastry yang hendak di makannya. Hana yang melihatnya hanya mengernyit bingung.
Ingatannya kembali pada kejadian yang dia lihat tadi malam di apartemen Biru. Itu sungguh mengganggu perasaannya. Seharusnya Jingga tidak perlu peduli, karena mereka sudah tidak ada hubungan apapun. Tapi meski demikian, tetap saja hatinya sedih mengingat itu.
“Dokter . . . .” Panggil Hana yang melihat Jingga bengong sambi meremas pastry di tangannya dengan mulut yang sedikit terbuka. Tapi tak ada sahutan, bahkan lambaian tangannya di depan wajah Jingga juga tak membuat gadis itu menyahut.
“Dokter Jingga.” Panggilnya sekali lagi. Namun gadis itu tetap tak menyahut, tangannya bahkan kini sudah kotor karena pastry yang diremasnya sudah hancur.
“What's wrong?” Bisma yang tiba-tiba datang, lansgung bertanya pada Hana setengah berbisik saat melihat Jingga melamun seperti itu. Hana hanya mengedikan bahunya tanda tak tahu.
“Hole in one.” Bisma dengan tingkah jahilnya menjejalkan beberapa tissue yang sudah dia buat bulat seperti bola golf ke dalam mulut Jingga yang sedikit terbuka. Tentu saja aksinya tersebut membuat Jingga terhenyak kaget.
“Kak Bisma.” Teriak Jingga kesal setelah berhasil mengambil gulungan tissue dari mulutnya.
__ADS_1
“Habis bengong mulu kayak kuda mau dijual.” Ledek Bisma.
“Ish, ngeselin tahu, nggak?” Jingga mendelik sebal seraya melemparkan gulungan tissue dari mulutnya ke wajah Bisma. Cowok itu hanya tertawa geli.
“Ehh, mau ke mana?” Cegat Bisma menahan Jingga yang akan beranjak.
“Males, di sini ada kamu. Ayo, Han.” Sahut Jingga ketus dan berlalu pergi dari sana.
Sebenarnya bukan karena kedatangan Bisma, tapi dari kejauhan dia melihat Biru berjalan masuk ke kedai kopi. Dan sekarang cowok itu sudah berdiri di dekatnya saja.
“Ji–”
Tangan Biru melayang kosong begitu Jingga menepisnya, di saat dia berusaha untuk meraih pergelangan tangan gadis itu. Biru menatap punggung Jingga yang perlahan menghilang di balik pintu. Jingga benar-benar mengabaikannya.
“Jingga kenapa?” Tanya Bian heran, karena melihat wajah Jingga tertekuk masam dan tidak menyapanya seperti biasa.
“Biasa, cewek kalau lagi PMS kayak gitu.” Sahut Bisma berdalih. Beruntung kedua temannya itu tak membahasnya lagi.
“Ohh, banyakin sabar deh lo, Bi. Untung gue jomblo, jadi nggak perlu susah payah ngadepin cewek PMS.” Cibir Bian seraya mengambil duduk di tempat yang tadi Jingga dan Hana tempati.
Biru hanya mendengus, tak berniat menyahuti ucapan Bian. Dia memilih untuk ikut duduk. Sebenarnya dia berniat untuk mengejar Jingga, tapi melihat sikap gadis itu yang enggan melihatnya, sepertinya dia harus memberi Jingga sedikit waktu untuk menenangkan diri.
“Ohh, iya. Nanti malam kita jadi, kan, datang bareng ke resepsi pernikahannya Dokter Ryan?” Tanya Albi memastikan, sekaligus mengingatkan teman-temannya.
“Gimana kalau kita berangkat satu mobil aja? Lagian gue nggak mungkin ajak Clara sama anak gue malam-malam, mana Lembang lagi tempatnya.” Bisma memberi saran. Albi dan Bian mengangguk setuju.
“Lo gimana, Bi? Lo kayaknya bawa mobil sendiri. Bareng Jingga, kan?” Albi beralih pada Biru yang hanua bergeming sejak tadi.
“Gue nggak datang.” Jawab Biru malas.
“Lho, kok, gitu? Ini Dokter Ryan, Bi. Lo nggak ngehargain undangan teman banget.” Bian sedikit kesal Biru mengatakan tidak akan datang.
Bitu terdiam sambil menghembuskan napas kasar. Sama sekali tidak tertarik dengan undangan pernikahan atau apapun, karena yang ada di pikirannya saat ini hanya Jingga.
“Kalian mau pergi ke resepsi Dokter Ryan bareng-bareng?” Luna tiba-tiba datang dan menyambung obrolan, lalu tanpa meminta persetujuan dia duduk di sebelah Bisma.
“Rencananya, sih, gitu. Soalnya jarak dari sini ke Lembang lumayan jauh. Jadi kalau kita pergi satu mobil bisa gantian nyetirnya.” Jawab Albi menjelaskan.
“Aku boleh ikut bareng sama kalian, nggak? Aku juga nggak mungkin pergi sendiri.” Tanya Luna penuh harap.
“Ya kamu gabung aja sama kita. Biru bawa mobil sendiri soalnya.” Ucap Albi santai, dia sudah terbiasa dengan kehadiran luna di tengah-tengah mereka.
“Ohh. Ya udah kalau gitu aku bareng Biru aja. Boleh, kan, Bi?” Luna beralih menatap Biru penuh harap.
Bisma yang melihatnya mendadak tak suka. Luna sedang berpura-pura bodoh atau memang bodoh?
“Biru, kan, sama Jingga. Emang kamu mau jadi obat nyamuk? Mereka, tuh, suka ehem-ehem, lho, Lun.” Sambar Bian meledek, lalu gelak tawa kecil terdengar setelahnya. Sementara Biru yang mendengar itu hanya mendengus malas.
“Jingga? Lho, Biru, kan, udah–”
“Kamu ikut mereka aja, Lun.” Biru menyela ucapan Luna sebelum gadis itu mengatakan keadaan yang sebenarnya
Sejauh ini memang hanya Luna dan Bisma yang mengetahui keadaannya dengan Jingga. Meski tak bercerita pada gadis itu, tapi Luna mengetahuinya saat tak sengaja mendengar percakapan Biru dan ibunya. Setelah itu dia bertanya untuk memastikannya, dan Biru hanya mengiyakan. Hanya itu yang Luna tahu, tidak sejauh Bisma.
Biru sebenarnya sudah mewanti-wanti Bisma dan Luna untuk menyembunyikan hal ini dari Albi dan Bian. Biru tidak ingin banyak orang mengetahui keadaannya.
“Bi, ini makanannya udah datang. Lo mau ke mana?” Tanya Bian setengah berteriak saat makanan mereka datang bertepatan dengan kepergian Biru.
“Kenapa sih? PMS juga?” Tanya Albi menatap Bisma untuk meminta jawaban. Tapi cowok itu hanya mengedikkan bahunya tak peduli.
********
Sore hari menjelang malam, Langit sudah siap dengan setelan jas warna biru langit sesuai dengan dress code yang tertera di undangan Tia.
Hari ini dia dan Jingga akan menghadiri acara resepsi pernikahan temannya di Lembang. Acaranya dimulai jam tujuh malam, sepertinya mereka akan sedikit terlambat, mengingat dia masih menunggu Jingga di depan mobilnya hingga saat ini.
Sudah dari setengah jam yang lalu Langit bergerak-gerak gelisah. Bukan tak sabar ingin segera pergi, tapi dia mulai kesal dan bosan karena Jingga sangat lama, sementara gadis itu tadi mengatakan unuk menunggunya 15 menit lagi.
Tak lama kemudian, Jingga keluar dari lobby apartemen dengan balutan lace dress warna biru langit selutut dengan potongan bagian belakang dibiarkan panjang. Style baju pesta modern dengan embroidery lace dress itu membuat Jingga terlihat menawan.
Jingga sengaja memilih dress dengan panjang lengan seperempat dan bahu tertutup, hingga membuat dress itu tidak terlalu memperlihatkan lekuk tubuhnya. Selain itu, Lembang berudara dingin, itu menjadi pertimbangannya untuk tidak memakai dress tanpa lengan dan bahu terbuka.
“Cantik . . . .” Gumam Langit tak melepaskan pandangannya dari Jingga.
“Awas ngiler.” Usapan tangan Jingga di wajah Langit menyadarkan kekagumannya. Entah sejak kapan gadis itu tiba di hadapannya.
“Apaan, sih. Kamu lama banget tahu, nggak?” Protes Langit berusaha menutupi kegugupannya. “Padahal kamu bilangnya 15 menit.” Lanjutnya setelah mereka duduk di dalam mobil.
“Maksud aku 15 menit dikali dua, gitu.” Sahut Jingga enteng, membuat Langit mendengus sebal, lalu dia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Padahal dandan atau enggak, kamu nggak ada bedanya.” Ledek Langit yang tentu saja tidak sungguh-sungguh. Jingga sangat cantik malam ini, mungkin akan mengalahkan pengantinnya.
Sial. Bagaimana Langit bisa tidak terpesona dengan jelmaan bidadari yang duduk di sampingnya ini?
“Ihh, ngeselin.” Jingga mengerucutkan bibirnya lucu. Langit hanya mengedik dan fokus ke jalanan di depan.
“Kita pasti bakalan telat, nih. Kamu lama, sih, ahh.” Langit menggerutu melihat jalanan yang begitu padat. Terang saja karena hari ini adalah Minggu.
Jingga memutar bola matanya malas. Dia tebak, Langit pasti akan menggerutu sepanjang perjalanan.
“Udah deh, Lang. Mending kamu fokus nyetir aja.” Ucap Jingga seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
Langit mendengus, lalu tak ada percakapan lagi setelah itu. Lagit fokus pada jalan, mencoba mencari celah agar mobilnya bisa cepat keluar dari kemacetan.
“Lang, aku belum mau ketemu sama Tuhan, yaa.” Jingga protes saat Langit mengendarai mobilnya terlalu cepat setelah berhasil menembus kepadatan jalan.
“Ihh, apaan sih? Aku juga belum mau mati, kali. Udah kamu tenang aja, yang penting kita cepat sampai.” Ujar Langit yang tidak menenangkan sama sekali. Jantung Jingga berdetak kencang, dia seperti dibawa sopir ugal-ugalan.
“Yang bener itu, yang penting selamat.” Jingga mendengus sebal. Sesekali dia memejamkan mata saat Langit menyalip mobil besar di depannya. Jingga sampai sangsi jika mereka akan tiba di pesta dengan selamat.
********
Sementara itu Biru dan teman-temannya sudah sampai di tempat acara resepsi pernikahan Dokter Ryan. Bisma menyarankan membawa dua mobil, dan dia pergi berdua dengan Biru. Sementara Albi bersama Bian dan Luna.
Biru tadi sebenarnya tidak mau ikut, tapi Bisma menjemputnya paksa, hingga akhirnya mau tidak mau Biru sekarang harus berada di sana, berdiri menyalami pengantin.
Resepsi pernikahan dengan konsep outdoor itu jauh dari kata sumpek. Alami dan segar yang dibantu pemandangan alam sekitar, membuat acara tersebut tidak membosankan, selain itu acaranyapun dibuat santai, tidak seperti resepsi pernikahan pada umumnya. Sebenarnya ini cukup menghibur hati Biru yang gundah.
__ADS_1
“Congrats. Wishing you a long and happy marriage.” Ucap Biru memberi selamat dan memberi pelukan pada Dokter Ryan setelah sebelumnya dia menyalami pengantin perempuan.
“Aamiin. Thanks, Prof. Biru.” Balas Dokter Ryan dengan senyum mengembang. “Terima kasih sudah datang.” Sambungnya yang dibalas anggukkan dan senyuman santai dari Biru.
Setelah itu, Biru beranjak untuk menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu duduk di tempat yang disediakan. Mereka tampak sedang menikmati makanan.
“Gue kayak nggak asing sama istrinya Ryan.” Ucap Bian tiba-tiba setelah Biru berhasil mendudukkan dirinya di sebelah Bisma.
“Kayak pernah ketemu, tapi di mana gitu . . . .” Lanjutnya seraya mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu wajah yang mirip istri Dokter Ryan.
“Dalam mimpi lo mungkin.” Celetuk Bisma asal.
“Bangke lo.” Bian melempar salah satu kue yang tadi diambilnya ke wajah Bisma.
“Tapi gue beneran kayak pernah lihat dia, tapi lupa di mana.” Bian masih kekeuh.
“Mungkin waktu di SMA, kali. Kayaknya dia satu sekolah sama kita.” Sahut Albi.
“Kata siapa lo?” Tanya Bian menatap Albi penuh cibiran, mengira temannya itu sok tahu.
“Yaaa soalnya dia temennya Jingga sama Langit. Lihat aja, tuh . . . .” Jawab Albi santai seraya menunjuk ke arah Jingga yang sedang memberi ucapan selamat pada Tia. Keduanya nampak akrab, pun dengan Langit.
Ucapan Albi otomatis membuat semua orang mengikuti arah telunjuknya. Biru terkejut mendapati Jingga dan Langit ada di acara yang sama.
“Kok Jingga malah pergi sama Langit, Bi?” Tanya Bian heran.
Biru tak menjawab, saat ini dia sedang menahan emosinya begitu melihat Langit merangkul bahu Jingga.
“Mereka kelihatan kayak pasangan.” Ucap Luna, suaranya sengaja dibuat keras agar terdengar di telinga Biru, dia senang melihat pemandangan di depannya.
“Luna.” Bisma menegur Luna melalui sorot matanya, membuat gadis itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat, meski dalam hati menggeram kesal.
“Langit, sini.” Bian melambaikan tangannya saat melihat Jingga dan Langit mencari tempat duduk. Mereka tampak terkejut melihat Biru dan teman-temannya ada di sana. Dunia benar-benar sempit.
“Kalian ada di sini juga?” Tanya Langit setelah menghampiri meja yang ditempati Biru dan teman-temannya.
Bian mengangguk. “Ryan teman kami. Kalian kok bisa ada di sini juga?”
“Tia teman sekelas kami.” Jawab Langit, membuat Albi, Bian, dan Bisma langsung ber-ohh ria.
“Pantesan gue kayak nggak asing lihat wajah ceweknya.” Sahut Bian seolah yang mengganggu pikirannya hilang sekarang.
“Kalian Duduk di sini aja.” Ucap Albi mengajak mereka untuk bergabung.
Langit mengalihkan pandangannya untuk meminta persetujuan Jingga. Gadis itu mengangguk pelan, rasanya tidak enak juga untuk menolak, meski sebenarnya tidak ingin karena ada Biru di sana.
“Duduk di sini, Ji.” Bisma siap menggeser duduknya agar Jingga duduk di sebelah Biru.
“Aku duduk di sini saja.” Tolak Jingga memilih untuk duduk di antara Albi dan Langit.
Albi dan Bian saling melempar pandangan, heran melihat sikap Jingga yang tidak seperti biasanya. Si kelinci energizer Jingga nampak dingin hari ini.
“Kalian berangkat bareng?” Pertanyaan Luna membuat Jingga merasa mual.
“Emang kenapa kalau kita berangkat bareng?” Sahut Jingga ketus, tak bisa menahan rasa tidak sukanya lagi terhadap Luna.
“Nggak apa-apa. Cuma orang lain mungkin akan mengira kalau kalian ini pasangan. Kalian kelihatan serasi.” Jawab Luna santai.
Jingga bersiap membalas ucapan Luna, namun dengan cepat Langit memperingatkan dengan menggenggam tangan Jingga yang bebas di bawah meja.
“Bi*tch.” Umpat Jingga pelan, namun Luna bisa membaca gerak bibirnya. Gadis itu tersenyum menyeringai ke arah Jingga.
“Aku permisi ke kamar mandi dulu.” Jingga mengambil tasnya, lalu beranjak untuk pergi ke kamar mandi tanpa menunggu persetujuan semua orang.
“Jingga kenapa?” Tanya Bian melempar pandangannya pada Langit.
Langit pura-pura meringis, lalu berdalih. “Biasa lagi PMS, mood swingnya kumat.”
“Lo lagi berantem, ya, sama Jingga?” Bian beralih pada Biru, tidak puas dengan jawaban Langit. Selain itu, melihat Jingga yang datang bersama Langit membuat jiwa keponya meronta-ronta.
********
“Ikut aku.” Tangan Jingga ditarik begitu saja oleh Biru saat dia baru saja keluar dari kamar mandi. Cowok itu dengan tergesa menyeret Jingga menuju parkiran lewat jalan belakang. Biru tidak peduli dengan Jingga yang terus meronta minta dilepaskan.
“Kamu apa-apaan, sih? Tangan aku sakit.” Bentak Jingga seraya berusaha melepaskan tangan Biru yang mencengkram pergelangan tangannya yang kini terasa panas.
Sesampainya di parkiran, Biru langsung mendorong paksa tubuh Jingga untuk masuk ke dalam mobilnya, lalu memasangkan sabuk pengaman untuk gadis itu. Dia kemudian menyusul Jingga untuk masuk dan duduk di sebelahnya.
“Apa semenyenangkan itu pergi sama Langit? Beberapa hari ini kamu menghindar dari aku, tapi kamu bisa pergi sama dia.” Bentak Biru, membuat Jingga terkejut. Cowok itu seolah lupa dengan ucapannya sendiri yang mengatakan akan memperbaiki semuanya.
“Iya, tentu saja. Satu hari bersama Langit, itu lebih menyenangkan daripada satu bulan bersama kamu.” Sahut Jingga penuh dengan nada sindiran.
Ucapan Jingga membuat darah Biru semakin mendidih, lantas tanpa berbicara apapun lagi Biru melajukan mobilnya dengan penuh emosi. Jingga seketika ketakutan mendapati Biru membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Ki-kita mau ke mana?” Tanya Jingga ketakutan, dia benar-benar tidak tahu ke mana Biru akan membawanya pergi. Ini bukan arah jalan pulang.
“Turunin aku, Kak.” Pinta Jingga. Namun Biru tak mengindahkannya, dia hanya fokus menyetir.
Tak lama kemudian, mobil Biru berhenti di sebuah villa yang cukup besar. Jingga terlihat bingung dengan tempat yang tidak dia kenali itu.
“Turun.” Titah Biru dingin setelah dia membuka pintu mobil untuk Jingga. Tapi Jingga mematung, dia hanya diam sembari meremas tali tasnya karena merasa ketakutan.
Biru yang melihat Jingga masih terdiam langsung membuka sabuk pengamannya, lalu dia kembali menarik lengan Jingga, memaksanya untuk keluar dari mobilnya.
“Sakit, Kak. Lepasin aku.” Pinta Jingga seraya berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Biru. Namun usahanya sia-sia, cowok itu terus menyeretnya paksa untuk masuk ke dalam villa, menghiraukan Jingga yang terus berteriak sambil memukul lengannya.
Biru membawa Jingga ke dalam salah satu kamar yang ada di sana dan langsung menguncinya.
“Kak, kok kamu ngunci pintunya?” Tanya Jingga panik. Namun Biru masih memilih bungkam.
Biru malah semakin menarik tangan Jingga mendekati tempat tidur, lalu menghempaskan tubuh gadis itu ke sana. Cukup keras, hingga rasa sakit seketika menjalar akibat benturan antara punggungnya dengan tempat tidur, membuat Jingga meringis.
“Kak . . . .” Suara Jingga tercekat. Dia semakin ketakutan ketika melihat Biru terus berjalan mendekati tempat tidur dengan tatapan yang begitu menyeramkan.
********
To be continued . . . .
__ADS_1