
********
Luna masuk ke dalam lift dengan wajah sayu, ingatannya terproyeksi pada saat makan siang tadi Biru menceritakan bahwa dia sudah menemukan bagian yang hilang dari ingatannya. Dan yang mengejutkan Luna adalah bagian yang hilang itu gadis yang dijodohkan oleh orang tua Biru, Jingga.
Biru memang menceritakan semuanya tanpa ekspresi apapun. Tapi Luna bisa membaca bahwa mata Biru tidak bohong jika dia senang dengan hal ini.
Luna merasa dirinya terancam, kesempatan untuk mendapatkan hati Biru menjadi sempit kembali. Sebelumnya dia merasa lega karena Biru telah mengalihkan perhatiannya dari gadis yang selalu dipujanya dulu.
Katakan saja dia jahat karena malah senang dengan hilangnya ingatan Biru tentang gadis itu. Tapi sekarang apa? Kenapa gadis itu harus kembali? Seperti apa sebenarnya gadis itu? Gadis itu tidak boleh megusik hati Biru, dia tak akan membiarkannya kali ini.
Saat pintu lift hampir tertutup, tiba-tiba seorang wanita paruh baya menahannya dan ikut masuk. Luna terkejut melihat orang yang dia kenal masuk ke dalam lift yang sama dengannya.
“Ibu . . . .” Sapanya dengan nada sedikit terkejut. Dai heran kenapa wanita itu ada di sini dan sesore ini. Karena yang dia tahu, wanita itu selalu sibuk dengan butik miliknya atau melakukan kegiatan amal bersama teman sosialitanya.
“Luna? Hey, apa kabar, Nak?” Tanya wanita paruh baya itu senang seraya memeluk Luna.
“Baik, Bu. Ibu sendiri apa kabar?” Tanya Luna kembali setelah pelukannya terlepas.
“Sangat baik, Lun. Ohh iya, Ibu kamu apa kabar?” Wanita paruh baya itu bertanya lagi.
“Ibu sehat. Tapi Ibu selalu mengeluh bosan karena di rumah terus.” Jawab Luna seraya terkekeh pelan.
Memang setelah Luna berkerja sebagai perawat di rumah sakit ini, dia meminta ibunya untuk berhenti bekerja dari rumah Biru.
“Haha, itu karena Ibu kamu nggak biasa berdiam diri, Lun. Saya jadi kangen sama bu Ratmi. Kapan-kapan saya ke rumah kamu buat ajak Ibu kamu ngobrol, yaa.” Pinta wanita paruh baya itu bersemangat.
Namun belum sempat Luna menjawab, pintu lift tiba-tiba terbuka. Jingga yang masih mengenakan Scrub Suitsnya masuk dengan wajah lesu, dia bahkan terlihat memijat tengkuknya. Lingkaran hitam di bawah mata juga tampak menghiasi wajah cantiknya, sepertinya dokter muda benar-benar kelelahan.
“Sayang. . . .” Wanita paruh baya itu memanggil seraya menyentuh pundak Jingga, membuat gadis itu otomatis mengangkat wajah dan melihat siapa yang telah menyentuh pundak dan memanggilnya seramah itu.
“Lho, Tante . . . .” Jingga terkesiap saat mendapati Tante Lisa kini ada di hadapannya.
“Sayang, apa kabar? Kamu baik-baik aja, kan?” Tanya Tante Lisa antusias seraya memeluk dan mencium kedua pipi Jingga dengan sayang. Jingga sedikit aneh dan risih dibuatnya.
Sementara Luna, dia melihat adegan di hadapannya ini dengan heran. Kenapa ibunya Biru bisa mengenal dokter ini?
“Aku baik, Tante.” Jawab Jingga setelah Tante Lisa melepaskan pelukannya.
“Kamu bisa manggil Tante ‘Mama’, bisa nggak sih, mulai sekarang?” Pinta Tante Lisa dengan tatapan penuh harap. Dia sangat senang bisa bertemu dengan Jingga dan sudah menganggap dia putrinya sendiri.
“Lain kali aku coba, deh, Tan.” Jingga terkekeh. Tapi dalam hati merasa kurang nyaman karena wanita itu terlalu antusias padanya.
Tante Lisa mengerucutkan bibirnya lucu. “Ihh, kok, gitu?”
“Ya udah, deh. Gimana kalau . . .” Jingga terdiam berpikir dengan mata mengerling. “Tante Mama?” Lalu tergelak pelan.
“Kamu, nih, ada-ada aja.” Dengus Tante Lisa sambil mencubit gemas sikut Jingga, lalu menggamitnya akrab. Jingga sedikit terkejut dibuatnya.
Luna membelalakkan kedua bola matanya, menyadari siapa gadis cantik yang sedang ada bersamanya saat ini. Dia lantas menatap Jingga dengan was-was dan penuh selidik. Seketika hatinya memanas.
“Uhm, Tante ada keperluan apa ke sini? Mau ketemu Om, ya?” Tanya Jingga basa-basi.
“Bukan. Tante ke sini, tuh, sengaja mau ketemu kamu. Soalnya Tante denger dari Biru kamu susah dihubungin.” Jelas Tante Lisa.
Jingga hanya terdiam tak menanggapi, wajah lesunya berubah sendu.
“Tante tahu kamu pasti terkejut. Tapi nggak baik juga terus menghindar.” Lanjut Tante Lisa seraya memperhatikan raut wajah Jingga yang kini berubah sedih.
“Maaf, Tan. Aku cuma lagi butuh waktu untuk sendiri dulu.” Cicit Jingga sambil memasang senyum dipaksakan.
“Tante ngerti, Sayang.” Ucap Tante Lisa dengan suara lembut. “Makannya ayo kita bicarakan ini sama-sama.” Lanjutnya kemudian. Jingga kembali tak menanggapi.
“Kamu masih ada jadwal?” Tanya Tante Lisa memastikan.
Jingga menggelengkan kepalanya lemah. “Enggak, Tan. Aku udah selesai.”
“Ya udah, kalau gitu ayo kita ke ruangan Om. Biru juga udah nunggu kayaknya.” Ujar Tante Lisa antusias tanpa melepaskan gandengan tangannya dari lengan Jingga.
Rasa iri menyelinap di hati Luna saat melihat apa yang terjadi di hadapannya ini. Kedatangan Jingga membuat dia merasa diabaikan oleh Lisa yang selama ini dia kenal dekat sejak kecil. Luna merasa Jingga telah merebut perhatian Lisa darinya.
********
“Jadi, sejauh apa hubungan kalian, Ji?” Tanya Tante Lisa to the point sesaat setelah mereka sampai dan duduk di sofa ruang kerja Om Rendi.
Meski dia sudah tahu detail kecil ceritanya dari Biru, tapi wanita itu ingin tahu lebih jauh. Tante Lisa dirundung penasaran akan hal ini sejak satu minggu lalu. Begitu pun Om Rendi, matanya terlihat berbinar. Mereka senang mendapati kenyataan ini.
“Eung. Cuma pacaran kayak anak SMA kebanyakan, kok, Tan.” Jawab Jingga canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia merasa aneh membahas ini dengan orang tua Biru.
“Berapa lama?” Kali ini Biru ikut bertanya.
Jingga kembali merasa sedih melihat tatapan Biru, tidak ada lagi tatapan dan senyuman hangat yang biasa Biru berikan saat bertemu dengannya. Biru melihat Jingga dengan ekspresi wajah datar dan tatapan yang sulit diartikan.
“Tahun?” Mama Lisa mengernyitkan alis saat Jingga mengangkat satu jari telunjuknya.
Gadis itu mengangguk canggung sebagai jawaban, lalu menggeser ponselnya pada Biru untuk menunjukkan kumpulan foto mereka dulu. Jingga selalu menyimpannya baik yang berbentuk fisik maupun soft file.
Biru meraih ponsel milik Jingga dan bersama orang tuanya mulai melihat satu per satu foto kebersamaannya dan Jingga sembilan tahun lalu.
Banyak foto dengan pose manis di sana, Biru terkejut sendiri, tidak menyangka dirinya bisa seperti itu di masa lalu, karena yang dia tahu selama ini dia selalu kaku saat berfoto. Tapi di dalam foto-foto yang sedang dia saksikan, ekspresinya sangat bebas. Biru juga merasa tidak pernah senyum selebar itu pada seseorang.
Dan sekarang jelas sudah tentang siapa bagian yang hilang dari ingatan Biru. sebelumnya Biru sempat goyah karena Luna mengatakan bisa saja Jingga mengarang cerita dan memanfaatkan keadaan.
“Nggak nyangka Mama ternyata Biru bisa sebucin ini.” Cibir Tante Lisa sama tidak menyangka.
“Kalau tahu gini Papa udah jodohin kalian dari dulu.” Sesal Om Rendi menimpali, mengingat dia dan sahabatnya Rendra sudah merencanakan hal ini sejak anak-anak mereka masih kecil.
“Tapi, kok, teman-teman aku nggak ada yang tahu?” Tanya Biru mengangkat wajahnya untuk menatap Jingga yang terdiam dengan pandangan kosong.
“Karena beberapa alasan, kita harus nyembunyiin ini.” Jingga lantas menjelaskan bagaimana hubungan mereka bisa disembunyikan dari semua orang mulai dari sang ayah yang melarangnya berpacaran sampai pada tidak ingin membuat keributan karena Biru diidolakan banyak gadis waktu itu.
Biru mengangguk-angguk mengerti. Dia tidak meragukan Jingga lagi.
“Rendra, tuh, ya. Gara-gara temen kamu, tuh, Pa. Coba kalo dia nggak ngelarang-larang Jingga pacaran, mungkin kita udah kenal Jingga dari dulu, Pa.” Komentar Mama.
“Ya Papa juga kalo punya anak secantik Jingga bakalan kayak gitu juga, Ma. Takut dirusak sama disakitin hatinya.” Sahut Papa sambil tergelak pelan. Jingga hanya tersenyum tipis tak menanggapi.
“Tapi malah anak Papa sendiri, tuh, yang udah bikin Jingga sedih.” Sindir Mama dengan ekor mata mengerling ke arah Biru. Biru sendiri hanya mendelik tak terima.
“Selama ini kamu pasti sudah melewati waktu yang sangat berat, Ji.” Tante Lisa beralih menatap Jingga iba.
__ADS_1
Wanita itu meraih tangan Jingga dan menggenggamnya lembut. “Maafin Biru udah membuat kamu harus menunggu sembilan tahun tanpa kepastian. Itu di luar kendalinya, Sayang.”
Jingga mengangguk, lalu berucap lirih seraya tersenyum tipis yang dipaksakan. “Nggak apa-apa, kok. Aku, kan, udah tahu alasannya.”
“Kenapa kamu nggak nyerah waktu itu?” Tanya Biru yang sejak tadi terdiam.
Gadis itu terdiam sebentar untuk membasahi bibirnya yang kering. “I know it sound crazy. But you mean than much to me.” Jawabnya kemudian menatap Biru dengan pandangan yang sulit diartikan.
Baik Tante Lisa maupun Om Rendi senang mendengarnya. Pun dengan Biru yang merasa apa yang diucapkan Jingga barusan terdengar menyenangkan di telinga. Ada rasa bungah tersendiri menyelinap di hatinya.
“Tapi itu dulu. Aku nggak tahu sekarang atau ke depannya masih bisa merasa kayak gini.” Sambung Jingga. Terdengar mengecewakan untuk Biru, bisa terlihat dari raut wajahnya.
“Aku udah bilang. Kamu jadi orang yang berbeda sekarang.” Tutur Jingga seolah bisa membaca ekspresi Biru.
“Tapi aku udah mutusin buat bantu untuk ngembaliin ingatan kamu, dan aku juga berharap kamu bisa kembali ke aku kayak dulu.”
“Itu keputusan yang bagus. Om dan Tante akan menjadi pendukung nomor satu kamu.” Ucap Tante Lisa senang yang diiringi anggukkan setuju Om Rendi.
Jingga menghela napas berat. “Tapi untuk ngembaliin hati kamu ke aku kayaknya nggak akan mudah, karena mungkin aku cuma berjuang sendirian. Jadi aku akan bertahan semampu aku. Aku akan menyerah dan pergi dari kamu kalo udah nggak sanggup.”
“Aku nggak akan ngebiarin itu terjadi terlepas hati aku kembali atau enggak.” Sahut Biru dingin.
“Bi, kamu, kok, ngomongnya gitu sama Jingga?” Protes Tante Lisa tak suka, lantas beliau kembali beralih pada Jingga. “Kamu tenang aja, Sayang. Biru pasti akan menyadari perasaannya kembali, kok.” Ucapnya menenangkan, Jingga hanya mengangguk dan tersenyum samar.
“Ohh, iya, Tante jadi penasaran, deh, gimana kalian pacaran dulu, Biru pasti kaku banget, ya? Kamu lihat aja barusan. Biru, tuh, suka ketus sama cewek. Malah Tante pernah ngira dia itu gay.” Oceh Tante Lisa berusaha mengalihkan topik, membuat wajah muram Jingga berubah untuk menahan tawa.
Lain halnya dengan Biru. Raut wajah cowok itu seketika merengut masam saat mendengar penuturan sang Ibu.
“Enggak, kok, Tan. Kak Biru dulu orangnya malah menyenangkan. Yaaa, walaupun lebih banyak nyebelinnya, sih. Soalnya dia nggak sabaran dan suka maksa gitu.” Jawab Jingga, ekor matanya melirik Biru sekilas. Cowok itu membalasnya dengan delikan sebal.
Tante Lisa dan Om Rendi tergelak mendengarnya. Senang sekali bisa kumpul bersama sambil bercerita, sudah lama keluarga mereka tidak seperti ini karena kesibukan. Kehadiran Jingga cukup menghangatkan suasana, mereka seolah menemukan putrinya yang telah lama hilang.
“Haha, itu emang sifat buruk yang sudah mendarah daging, Ji. Sekarang aja masih kayak gitu. Semua bawahan dia sampai tertekan karena itu.” Cibir Mama terus tergelak. “Terus-terus, dia suka ngancam kamu gimana?” Tanyanya kemudian.
Wanita itu sangat antusias, bahkan semakin merapatkan duduknya dengan Jingga. Keduanya seperti sedang bergosip sekarang. Sementara Om Rendi dan Biru hanya diam memperhatikan dua perempuan itu yang sepertinya sudah melupakan keberadaan mereka.
“Eung . . . .” Jingga terdiam, ragu untuk menjawabnya. Matanya melirik sekilas ke arah Biru yang tengah menatapnya dengan penasaran. Sepertinya Biru juga sedang menunggu jawaban Jingga.
Sejurus kemudian yang Jingga lakukan adalah mendekatkan mulutnya ke telinga Tante Lisa dan mulai berbisik.
“Kak Biru selalu ngancam bakal cium aku sepuluh kali kalau nggak nurutin permintaannya.” Pupil mata Tante Lisa melebar, dia tak percaya anaknya yang tampak kalem itu memiliki sisi nakal. Ckck, semua cowok memang sama saja.
“Ck, dasar anak nakal.” Tante Lisa berdecak geli. Sementara Om Rendi dan Biru serentak menoleh ke arah Tante Lisa dan menatapnya penuh tanya.
Sambil menahan tawa, Jingga meletakkan satu telunjuk di bibir cantiknya, mengisyaratkan Tante Lisa agar tak menceritakannya. Tante Lisa mengerti seraya membentuk tanda oke dengan ibu jari dan telunjuknya. Hal ini membuat Om Rendi sedikit iri melihatnya. Merasa Jingga tidak adil karena hanya memberitahu sang istri.
“Dulu aja Mama nggak setuju Biru dijodohin. Udah ketemu calon menantunya, kok jadi lebih seneng Mama, ya?” Cibir Om Rendi menyindir.
“Itu, kan, sebelum Mama tahu kalau itu Jingga.” Sahut Tante Lisa tak mau kalah. Suaminya hanya mendengus geli.
“Ngomongin calon menantu. . . ., Mama jadi keingetan sama cincin tunangan kalian.” Tante Lisa menatap Biru dan Jingga bergantian. “Tadi pagi pihak toko hubungin Mama, kata mereka cincinnya udah jadi. Lusa kalian ambil, ya?” Ucapnya kemudian, mengingat cincin tunangan yang telah dia pesan dari toko perhiasan milik salah satu teman dekatnya.
“Tunangannya jadi, Tan?” Tanya Jingga polos.
Waktu itu Jingga berpikir kalau Tante Lisa dan Om Rendi hanya bergurau. Lagipula, dia juga tidak mendapatkan kabar dari orang tuanya kalau mereka telah menyiapkan acara pertunangannya. Yang Jingga tahu, dia hanya diminta pulang ke rumah hari Sabtu ini.
“Kamu nggak mau? Tante pikir kamu udah setuju setelah mengetahui semua ini.” Tanya Tante Lisa, sorot matanya sedikit kecewa.
“Lebih cepat lebih baik, Ji. Om malah maunya langsung mau menikahkan kalian saja. Tapi orang tua kamu kurang setuju, mereka mau melakukannya secara bertahap.” Kali ini Om Rendi menimpali.
Jingga menghembuskan napas pasrah. Sepertinya para orang tua ini memang sulit sekali dibantah. Terlebih dia juga takut untuk mendebat Om Rendi setelah apa yang terjadi saat mereka makan siang bersama satu minggu yang lalu.
*********
“Terbebani?” Tanya Biru yang melihat Jingga terus diam di sebelahnya seraya meghembuskan napas berat berulang kali.
Saat ini Biru dalam perjalanan untuk mengantar Jingga pulang ke apartemen karena permintaan orang tuanya. Padahal tadi pagi Jingga membawa mobil, dia sudah menolak tapi perintah orang tua Biru tak bisa dia bantah. Mereka ingin Biru dan Jingga mulai mendekatkan diri kembali.
“Sedikit.” Jawab Jingga pelan seraya mengalihkan pandangannya yang sejak tadi menatap ke luar jendela kaca mobil.
“Harusnya kamu seneng.” Sahut Biru dengan nada datar.
“Kok gitu?” Jingga mengernyit tak mengerti.
“Karena kamu tunangan sama pacar kamu sendiri. Aku.” Sahut Biru tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Jingga mendengus. “Aku udah bilang kamu jadi orang yang berbeda sekarang. Aku mungkin seneng kalau kamu itu Biru yang dulu.”
Biru mendengus sambil tersenyum miring. Ada perasaan kesal bercokol di hatinya. Sama persis saat dia melihat Jingga bersama Langit. Padahal Jingga hanya membicarakan dirinya di masa lalu, tapi kenapa Biru merasa kesal? Mungkinkah dia cemburu pada dirinya sendiri?
Gadis itu sudah membuat hatinya yang semula tenang menjadi tak karuan. Perasaan aneh yang belum pernah Biru rasakan sebelumnya bermunculan. Padahal, belum lama Jingga datang ke dalam hidupnya.
“Yang penting orangnya sama. Kenapa harus mempermasalahkan itu?” Sahut Biru acuh.
Jingga mendelik, lalu memalingkan pandangannya ke luar. “Kamu nggak akan ngerti.” Ucapnya lirih, matanya tampak menyimpan kesedihan yang mendalam. Dia sangat sedih karena kehilangan Birunya yang dulu.
“Gimana kalau kita coba batalin tunangannya?” Jingga memberi saran.
Biru mendengus kasar. “Aku udah bilang sebelumnya kalo aku akan tetap menerima perjodohan ini dan nikah sama kamu, karena aku butuh.”
“Untuk jadi piala kebanggaan di depan teman-teman dan kolega kamu?” Sambar Jingga sinis.
“Ya salah satunya. Aku udah jelasin semuanya malam itu.”
Jingga tersenyum miris, hatinya seperti diremas kuat.
“Jahat.” Umpat Jingga lirih. Biru sendiri tak menanggapinya, memilih untuk diam sehingga terjadi keheningan di sepanjang sisa perjalanan ke apartemen.
********
Mobil Biru berhenti tepat di depan bangunan gedung apartemen yang cukup elite. Biru baru sadar jika gedung apartemen milik Jingga ternyata tak jauh dari gedung apartemen miliknya, mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit dari sana.
“Mau mampir?” Tawar Jingga.
Sejenak Biru terdiam berpikir untuk kemudian berkata. “Ini udah malem. Lain kali aja.”
Jingga mengangguk setelah melirik jam tangan pintarnya yang mmenunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
“Kenapa?” Tanya Biru melihat mata jernih milik Jingga seolah ingin menyampaikan sesuatu.
__ADS_1
“A-aku penasaran tentang satu hal.” Ucap Jingga setelah beberapa saat berikir. Biru hanya menautkan alisnya.
“Apa perawat itu pacar kamu?” Tanya Jingga kemudian. Sudah lama dia ingin menanyakan hal ini. Kedekan Biru dengan perawat itu benar-benar mengganggu di hati dan pikirannya.
“Bukan.” Jawab Biru singkat, namun penuh ketegasan. Tapi ucpan Biru tersebut tak membuat Jingga percaya begitu saja.
“Namanya Luna. Dia teman aku, dan kami sudah dekat sejak kecil. Kamu nggak perlu terganggu.” Terang Biru kemudian.
Jingga sedikit lega mendengarnya, tapi tetap saja hatinya merasa khawatir. Mana bisa tidak terganggu? Biru sendiri yang pernah mengatakan jika perempuan dan laki-laki tidak bisa berteman dengan baik, bukan?
“Aku emang nggak keberatan sama perjodohan ini, dan sebentar lagi kita akan menikah. Tapi aku harap kamu nggak mencampuri atau membatasi hubungan aku dengan teman-teman aku. Ayo jangan saling menuntut apapun, karena pernikahan kita hanya sebatas mutualisme.” Tutur Biru dengan nada dingin.
“Tapi ini nggak menguntungkan sama sekali buat aku.” Protes Jingga, hatinya mulai memanas mendengar penuturan Biru barusan.
“Yaa kamu dapat suami yang kamu cintai. Itu keuntungan kamu.” Sahut Biru santai dan tanpa ekspresi apapun.
Jingga menghela dengan rahang sedikit menganga, tak percaya Biru bisa berkata seperti itu. Kenapa cowok ini bisa berubah menjadi orang yang tak berperasaan?
“Dan satu lagi. Untuk sementara jangan pernah menunjukkan kedekatan kita saat di rumah sakit, tetap bersikap profesional.” Tambah Biru dengan sorot mata penuh peringatan.
Jingga terdiam, dia merasa hatinya sedikit terluka mendengar itu. Mungkinkah dia malu? Jingga benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Biru yang semaunya.
“Ada lagi?” Tanya Jingga lirih. Dia tidak bisa menanggapi apapun lagi. Dia malas berdebat dengan Biru lebih lama.
“Itu aja.” Sahunya singkat, tapi detik berikutnya dia berucap. “Ohh, iya. Besok aku jemput kamu, jangan sampai terlambat dan membuat aku nunggu lama.”
Tak membalas ucapan Biru, Jingga hanya mengangguk dan turun dari mobil dengan perasaan campur aduk.
Lantas tanpa melihat ke arah Biru lagi, dia melangkah gontai memasuki gedung apartemennya dengan tatapan kosong. Baru saja dia memutuskan untuk memberi Biru kesempatan terakhir, tapi mendapati sikap cowok itu seperti ini, rasanya Jingga ingin menyerah saja.
********
Keesokan harinya, Jingga dan Hana berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit setelah mengunjungi pasien VIP. Mereka nampak berbincang-bincang ringan sambil tertawa renyah. Tapi tawa Jingga menyurut saat dari kejauhan melihat Biru dan Luna memasuki lift bersama sambil tertawa lepas.
“Apa mereka deket banget?” Tanya Jingga penasaran. Mata Hana bergerak mengikuti arah pandang Jingga, lalu kembali berpaling dan tersenyum penuh arti.
“Aku cuma nanya, nggak ada maksud apa-apa.” Seru Jingga kemudian seolah bisa membaca ekspresi Hana.
“Semua orang tahu kalau Prof. Biru itu deket banget sama Luna. Orang-orang malah ngiranya mereka pacaran karena Prof. Biru nggak pernah deket sama cewek mana pun kecuali Luna.” Jelas Hana, membuat Jingga menyesal sudah bertanya. Mendadak dadanya terasa sesak, seolah oksigen direnggut paksa dari rongga paru-parunya.
Biru memintanya untuk menyembunyikan hubungan mereka, sementara dia membiarkan rumor kedekatannya dengan gadis lain begitu saja. Atau mungkin Biru memang sedang menjaga perasaan cewek itu?
“Tapi itu nggak bener . . . .” Lanjut Hana, membuat Jingga sedikit lega mendengarnya. “Kamu ingat Dokter Bisma, kan?”
Jingga hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dan sabar menunggu Hana melanjutkan ucapannya.
“Nah, dia itu temannya Prof. Biru. Dokter Bisma bilang kalau mereka itu pure temenan, katanya mereka berteman sejak kecil. Mungkin kayak kamu sama Dokter Langit.” Jelas Hana kemudian. “Tapi aku rasa itu berbeda, kentara sekali Luna suka sama Prof. Biru. Semua orang bisa melihatnya.”
“Aku rasa mereka saling suka.” Sahut Jingga, ada nada ketidakrelaan dari ucapannya.
“Tapi aku pikir itu cumaa cinta bertepuk sebelah tangan.” Sanggah Hana tak setuju. Hana hanya merasa jika Luna tidak cocok untuk Prof. Biru. Katakanlah dia memang nyinyir.
“Dari yang aku lihat, mereka itu Kayak Peter Pan sama Tinker Bell.” Jingga mengernyitkan alisnya, bukankah itu kisah cinta yang menyedihkan?
“Dari mana kamu tahu?” Cibir Jingga, padahal merasa sedikit lega dalam hatinya.
“Ada rumor dari Dokter Bisma kalau Prof. Biru itu cuma tertarik sama satu cewek di SMAnya dulu. Dan sekarang, hati Prof. Biru sudah lama beku kayak musim dingin. Nggak ada cewek lain yang bisa jadi musim panas yang bisa melelehkan hatinya.”
“Aku geli dengernya. Hana, kamu bukan penyair.” Cibir Jingga sambil bergidik karena mendengar Hana menceritakannya dengan cara seperti itu.
“Tapi pada akhirnya, Peter Pan akan kembali pada Wendy, gadis yang dicintainya.” Hana tak peduli dan malah sengaja melanjutkan ceitanya dengan cara seperti itu, seperti seorang narator di sebuah pementasan drama.
“Itu kalau Peter Pan nggak berlari ke arah lain dan memilih untuk meninggalkan cintanya di belakang sana.” Seru Jingga menanggapi.
“No. karena sekuat apapun Tinker Bell mengikat Peter, hatinya akan selalu memilih Wendy.” Sahut Hana yakin. Mereka akhirnya malah berdebat.
“Kayaknya kamu tertarik banget sama kisah ini, Hana.” Ucap Jingga yang tidak terlalu menyukai cerita cinta segitiga para peri itu.
“Peter Pan, Wendy, dan Tinker Bell. Cerita itu sangat menyedihkan. Aku nggak suka, mereka nggak berakhir bahagia. Tinker Bell akan bersedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan Peter Pan yang katanya sangat mencintai Wendy, ujung-ujungnya dia kembali ke Neverland dan membiarkan Wendy pergi.” Imbuh Jingga seolah mempresentasikan hasil penelitiannya.
“Kayaknya kamu belum membaca semua ceritanya, Ji.”
Jingga dan Hana terkejut saat mendengar orang lain ikut bergabung dengan pembicaraan mereka. Mereka kemudian menoleh ke belakang dan mendapati Bian yang sama-sama sedang menunggu lift terbuka.
“Pada akhirnya Peter Pan lebih memilih tinggal di tempat yang jauh lebih indah dari sekedar Neverland, yaitu hati Wendy.” Sambung Bian kemudian.
“Lho? Sejak kapan kamu ada di sini?” Tanya Jingga dengan raut wajah cemas. Dia takut Bian mendengar mereka sedang membicarakan Biru sebelumnya.
“Sejak kamu bilang takut kalau Peter Pan akan berlari ke arah lain dan memilih untuk meninggalkan cintanya” Jawab Bian seraya menatap dan tersenyum penuh arti.
“Aku nggak pernah bilang takut.” Sangkal Jingga.
Jingga memang merasa takut jika kisah cintanya berakhir seperti Wendy. Tapi dia tidak mengataknnya.
“Tapi wajah kamu nggak bisa nyangkal kalo kamu emang takut, Dokter Jingga.” Bian tersenyum mencibir.
“Bukannya kisah cinta kalian mirip kayak Peter Pan dan Wendy, ya? Ck, bisa-bisanya kalian pacaran nggak ngasih tahu kami waktu itu.” Lanjut Bian setelah mereka memasuki lift untuk turun ke lantai dasar. Jingga mendelik ke arahnya dengan mata terbelalak. Sementara Hana hanya mengernyitkan alisnya bingung.
“Aku tahu semuanya. Kan aku teman dekat Biru.” Ucap Bian berbisik dengan senyum menyeringai, seolah bisa menjawab tatapan Jingga yang bingung.
“Bawa Peter kamu kembali.” Bian menepuk pundak Jingga.
Jingga mendengus sebal. Bian sungguh banyak bicara. Ingin rasanya Jingga berteriak untuk memintanya diam jika tidak ingat ada Hana bersama mereka.
“I’m not Wendy, and I’ll never be her.” Balas Jingga berubah serius penuh penekanan.
Hana masih memperhatikan percakapan mereka dengan tatapan bingung. Dia seperti sedang menjadi obat nyamuk saat ini.
“And then?” Bian mengangkat sebelah alisnya seraya mendekatkan wajah untuk menatap Jingga lebih dekat.
“Aku cuma Jingga yang akan membuat kisah cinta versi aku sendiri berakhir bahagia. Dan dia juga bukan Peter Pan-nya aku.” Jawab Jingga gugup, namun tegas. Dia tak terima kisah cintanya disamakan dengan cerita dongeng.
“And then?” Goda Bian sengaja memancing.
“Dia selamanya akan jadi Bi – ” Ucapan Jingga tertahan saat menyadari bahwa Bian mencoba menggodanya. Dia mendelik ke arah cowok itu dengan tatapan sebal.
“Birumu. Your Bii....” Bisik Bian di telinga Jingga disertai dengan senyum penuh ledekan.
********
__ADS_1
To be continued. . . .