Still In Love

Still In Love
EP. 69. Kissing You


__ADS_3

********


Biru kembali menghampiri Langit dengan masing-masing tangannya memegang satu kotak popcorn dan cola berukuran jumbo.


Namun setibanya di sana, dia dikejutkan dengan Luna yang tiba-tiba datang menghampiri. Luna menyapa Biru dan Langit dengan senyum semringah, tapi mereka hanya membalas seperlunya.


Luna terlihat senang bertemu dengan mereka seperti ini, niatnya hanya untuk menonton seorang diri serpertinya tidak jadi, dia akan memiliki teman nonton sekarang.


Raut wajahnya berubah keruh saat dia melihat kedatangan Jingga dengan tiket di tangannya yang kini berjalan semakin dekat menghampiri Biru dan Langit.


Biru benar-benar enggan menanggapi Luna yang kini bahkan mengajak mereka untuk nonton bersama. Ditambah, dia melihat raut wajah Jingga dengan sorot mata yang seolah siap membekukan seluruh isi gedung. Dia tidak mau gadis itu salah paham dengan kedatangan Luna yang memang tak sengaja bertemu.


Tidak. Biru tidak akan membiarkan Jingga salah paham terhadapnya, baru saja dia berjanji pada gadis itu untuk menunjukkan kesungguhan dalam memperbaiki kesalahannya.


Sulit sekali bagi dia membujuk Jingga untuk memberinya kesempatan dan membuatnya bicara lagi padanya, dia harus menghindari segala kemungkinan yang bisa menghalangi jalannya untuk mendapatkan hati Jingga kembali.


Baginya, Jingga adalah batu permata paling berharga yang harus dijaga, Biru tidak mau kehilangannya lagi.


“Aku nggak nonton ini. Aku sama Jingga nonton film yang lain.”


“Ini, Lang. Tiket pesenan lo.” Biru meraih tiket dari tangan Jingga dan menyerahkannya pada Langit. Cowok itu hanya melongo tak mengerti.


“Ayo, sayang.” Biru dengan segera meraih tangan Jingga sesaat setelah menyerahkan cola pada Jingga. Menautkan jemari tangan mereka, dia menggandeng mesra gadis yang sangat dicintainya itu, menuntunnya berjalan menuju loket pembelian tiket.


“Lepasin aku.” Jingga yang kesadarannya sudah kembali, langsung menghempaskan tangan Biru hingga terlepas dari pegangannya. Biru sejanak mematung, memperhatikan Jingga yang memasang wajah cemberut.


“Kenapa kamu ngelakuin ini? Aku mau nonton film komedi.” Protes Jingga.


“Kamu nggak akan nikmatin itu karena Luna ada di sana.” Sahut Biru.


“Kenapa? Itu nggak masalah. Biasanya juga selalu kayak gitu, kok.” Penuturan Jingga terdengar santai, namun sangat menusuk. Masih terselip kekecewaan yang mendalam di sorot matanya yang tampak sendu itu.


Jingga tersenyum miris, masih sangat jelas dalam ingatannya di mana saat itu Luna selalu berada di antara mereka, di saat Jingga hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Biru.


Namun pada akhirnya, Jingga hanya akan mendapati pemandangan menyakitkan karena Biru akan lebih banyak berbicara dan memperhatikan Luna. Jingga seolah menjadi orang ketiga saat itu.


“Tck, lupain.” Jingga mengerjap-erjapkan mata untuk menahan air matanya yang sudah menggenang agar tidak jatuh. Hatinya benar-benar lemah saat mengingat itu.


“Maafin aku.” Ucap Biru lirih, pandangannya terpaku menatap wajah Jingga yang berubah sedih.


“Aku bener-bener bodoh dan nggak peka waktu itu. Maaf karena aku nggak mikirin perasaan kamu.” Biru benar-benar menyesali kebodohannya yang hanya bisa memikirkan dirinya sendiri waktu itu, maka tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain mengucap kata maaf.


Biru lalu merengkuh pinggang Jingga untuk membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Namun Jingga perlahan menyingkirkan tangan Biru saat menyadari mereka sedang di tempat umum, beberapa orang bahkan ada yang memperhatikan mereka saat ini.


“Di sini banyak orang.” Tegur Jingga. “Udah, ahh, aku mau beli tiketnya.” Ucapnya ketus seraya menyerahkan cola yang dia pegang ke tangan Biru.


Jingga tetap ingin menonton meski perasaaan ia masih kesal. Terserah dengan film genre apapun yang akan ia tonton, yang penting bisa menghibur dirinya.


“Sa . . . .”


“Dua, Mbak.” Seolah tahu Jingga hanya akan membeli satu tiket saja, Biru buru-buru menghampiri dan menyambar ucapannya. Jingga mendengus sebal melihatnya, sementara Biru hanya tersenyum penuh kemenangan. Jingga tidak akan mengajaknya berdebat di depan petugas yang menjual tiket, kan?


********


Beberapa saat kemudian, Biru dan Jingga kini sudah duduk berdampingan di dalam gedung teater dengan film yang sudah diputar.


Awalnya mereka menikmati setiap adegan yang disuguhkan para pemain film. Sangat romantis, Jingga sampai terhanyut dalam film tersebut. Namun tidak seperti itu lagi saat di pertengahan film, film yang tadinya menyuguhkan adegan romantis, sekarang berubah menjadi erotis.


Wajah Biru dan Jingga tampak menegang menyaksikannya.


Dalam hati, Jingga merutuki dirinya sendiri karena asal memilih film tanpa melihat kategorinya. Film yang Jingga pilih adalah film semi yang tidak layak ditonton untuk anak di bawah usia 20 tahun. Walau dia cukup usia, tapi dia bukan orang yang menyukai film seperti itu.


“Ish, sialan.” Jingga mengumpat pelan, film tersebut sudah mengotori matanya yang suci.


“Ji–Jingga.” Panggil Biru dengan suara berat yang tertahan. Bagaimana tidak? Jingga tanpa sadar sedang meremas pahanya saat ini, dan itu sudah terjadi selama beberapa menit.


“Eung . . . .” Jingga yang merasa namanya dipanggil, dengan canggung menoleh tanpa melepaskan tangannya dari paha Biru.


Tak menjawab, Biru menurunkan pandangannya ke arah tangan Jingga yang masih bertengger di pahanya. Jingga mengikuti arah pandangan Biru, sontak matanya membulat sempurna dan langsung menarik tangannya dari paha cowok itu. Sejak kapan tangannya ada di sana? Apa yang tangannya lakukan?


“Ish, malu-maluin.” Jingga langsung memalingkan wajah sembari menggigit bibir bawahnya dengan keras. Dia benar-benar malu, wajahnya bahkan sudah bersemu merah sekarang.


“Dia nggak akan mikir kalau aku mesum, kan?” Gumam Jingga dalam hati, lalu kembali fokus melihat layar lebar di depannya. Tidak fokus sebenarnya, dia hanya menghindari kontak dengan Biru.


“Kenapa kamu milih film kayak gini?” Tanya Biru berbisik agar tak mengganggu penonton lain.


“A–aku juga nggak tahu.” Jawab Jingga salah tingkah.


“Kamu harusnya baca dulu.” Komentar Biru, masih berbisik.


“Kayaknya aku mau keluar.” Ucap Jingga, merasa mulai tak nyaman melihat film yang dipilihnya itu.


Namun ucapannya barusan membuat Biru salah mengartikan, itu terdengar ambigu, terlebih saat melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya. “Maksud kamu?”


“Ya keluar dari gedung, emang apa lagi?” Sahut Jingga kesal.


Biru manggut-manggut dengan mulut membentuk huruf O. Dia kira. . . .


“Udah terlanjur dosa, Ji. Kita tonton aja sampai habis.” Jawaban Biru membuat Jingga mendengus dan menatapnya galak.


“Lagian sebentar lagi filmya selesai, kok.” Tambah Biru sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Salah kamu sendiri juga pilih film kayak gini.” Cowok it uterus berbicara. Dia tersenyum menyebalkan, membuat Jingga melayangkan delikan sebal padanya.


“Hitung-hitung kita belajar juga.” Celetuk Biru kemudian seraya meminum colanya.


“Belajar apa?” Tanya Jingga dengan dahi yang berkerut. Biru tak menjawab, dia hanya menunjuk layar besar di depan yang masih menayangkan adegan erotis dengan dagunya.


“Aww . . ., sakit, Ji.” Jingga yang kesal langsung mencubit pinggang Biru sekeras mungkin hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan.


“Assshh . . ., udah dong. Aku cuma becanda.” Biru dengan susah payah akhirnya berhasil melepaskan tangan Jingga dari pinggangnya dan menggenggam tangan halus itu.


Biru menatap dalam mata Jingga yang kini tengah menatapnya dengan tatapan kesal.


Sambil tersenyum hangat, Biru kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Jingga. Entah mungkin karena terbawa suasana, Jingga memejamkan mata sambil meremas ujung mini dress yang dikenakannya.


Namun saat bibir mereka nyaris bersentuhan, tiba-tiba lampu bioskop menyala menandakan film sudah berakhir.


Jingga pun refleks membuka mata dan langsung mendorong tubuh Biru saat merasakan cahaya terang masuk ke matanya.

__ADS_1


“Shi*t.” Umpat Biru dalam hati sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia merasa kikuk sekarang.


Sejenak, mereka terdiam untuk mengatur napas dan detak jantungnya yang berdetak kian cepat.


“Ehem. Ayo.” Ajak Biru beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Jingga berdiri, namun gadis itu menolaknya. Jingga berjalan mendahului Biru dengan raut wajah malu dan kesal bercampur sekaligus, mengingat mereka tadi hampir berciuman.


“Gara-gara film aneh itu.” Umpat Jingga.


“Kita cari Langit dulu, ya.” Ucap Biru yang kini sudah mensejajarkan langkahnya dengan Jingga. Gadis itu hanya mengangguk.


Biru dan Jingga menunggu Langit di tempat mereka berpisah tadi. Tapi sudah lebih dari lima belas menit mereka menunggu, Langit tak kunjung datang. Padahal, kalau dilihat dari waktunya, film yang tadi hendak mereka tonton pasti sudah selesai.


“Langit udah pulang duluan.” Ucap Biru tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya yang terdapat pesan dari Langit. Dalam pesan yang dikirimnya, Langit mengatakan jika dia pulang lebih dulu karena kesal ditinggal sendirian.


Tak mau percaya begitu saja, Jingga merampas ponsel Biru dari tangannya, lalu mendengus kesal. Bagaimana bisa Langit meninggalkannya bersama Biru?


“Mau ke mana?” Biru menahan lengan Jingga yang bersiap mengambil langkah untuk pergi setelah tadi gadis itu menyerahkan kembali ponsel miliknya.


“Pulang.” Jawab Jingga yag sudah kembali ke mode dinginnya. Raut wajahnya terlihat sangat kesal. Jingga kesal karena Langit meninggalkannya.


“Pulang sama aku. Aku udah minta sopir untuk bawain mobil ke sini.” Pinta Biru masih tak melepaskan cekalan tangannya.


“Aku bisa naik taksi.” Tolak Jingga yang berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Biru.


“Jingga . . . .” Nada suara Biru terdengar penuh rayuan.


“Lepasin aku.” Dan itu tak mempengaruhi Jingga sama sekali.


“Aku cuma ngajak kamu pulang bareng. Apa sebegitu takutnya sama aku sampai pulang bareng aja nggak mau?” Tanya Biru, raut wajahnya tampak sedih mendengar penolakan Jingga. Cekalan tangannya perlahan merenggang, hingga kini terlepas dari tangan gadis itu.


“Kalau emang berdua sama aku terasa menyakitkan buat kamu. Ya udah–”


“Di mana aku harus nunggu sopir kamu?” Jingga menyambar ucapan Biru.


Lemah. Hatinya benar-benar lemah melihat wajah sedih Biru seperti itu. Ada ketidakrelaan saat Biru melepaskan tangannya. Padahal, jelas-jelas pikirannya ingin menolak. Sepertinya memang sistem koordinasi tubuh Jingga sudah tidak berjalan dengan baik.


“Jadi, pulang sama aku?” Tanya Biru memastikan, dia kembali meraih tangan Jingga dan menggenggamnya. Sorot matanya tampak berbinar senang.


Jingga tak menjawabnya, mulutnya terkatup rapat. Tapi ekspresi wajahnya tidak menampakkan penolakan.


“Ya udah, kalau gitu kita nunggu di Starbucks aja.” Biru tanpa meminta persetujuan Jingga langsung menggandeng tangan gadis itu menuju kedai kopi yang dituju.


“Aku belum bilang setuju.” Protes Jingga.


“Lagian kamu nggak jawab setiap kali aku nanya.” Ucapan Biru penuh dengan sindiran. Ingin sekali Biru mengatakan kalau seharian ini, kan, Jingga sudah seperti orang sariawan, malas untuk membuka mulutnya.


Jingga hanya mendengus tak bisa membalas ucapan Biru.


********


“Frappuccino Cotton Candy pake banyak whipped cream di atasnya.” Jingga memesan minumannya dengan mata berbinar. Dia selalu bersemangat dengan sesuatu yang manis seperti ini.


“Ohh satu lagi, gelas besar.” Jingga kembali berbalik saat dia baru saja melangkahkan kakinya untuk mencari tempat duduk. Biru tersenyum gemas melihatnya. Perubahan moodnya cepat sekali, jelas-jelas tadi wajahnya ditekuk.


“Asean Dolce Latte.” Ucap Biru pada barista perempuan tanpa melepaskan pandangannya dari Jingga yang kini berjalan mendahuluinya untuk mencari tempat duduk.


Beberapa saat kemudian, Biru membawa minuman pesanan mereka dan berjalan menghampiri Jingga yang sudah duduk sambil menopang dagu di sana.


“Makasih.” Ucap Jingga pelan saat Biru menyodorkan minuman ke depannya.


“Mobilnya mungkin datang setengah jam lagi. Kamu nggak masalah, kan, nunggu di sini dulu?” Tanya Biru setelah berhasil mendudukkan dirinya di kursi tepat di hadapan Jingga.


Jingga yang sedang fokus membuka penutup cup minumannya hanya menganggukkan kepala tanpa melihat ke arah Biru.


“Nggak mau pesen makanan?” Tanya Biru.


“Aku masih kenyang.” Jawab Jingga jujur. Perutnya memang belum lapar lagi karena beberapa saat yang lalu sebelum menonton film, dia beserta Langit dan Biru sudah makan.


“Okay.” Biru menghembuskan napas kasar karena Jingga terus menjawab semua pertanyaannya dengan singkat.


Tidak ada percakapan lagi setelah itu, mereka fokus menikmati minumannya masing-masing. Terutama Jingga, gadis itu tampak bersemangat meraup whipped cream dengan mulutnya.


“Ini baru enak.” Jingga bersorak senang dalam hati, senang karena selama berada di daerah krisis, dia tak menemukan minuman kesukaannya ini.


Biru tersenyum geli melihat Jingga yang tampak begitu menikmati minumannya, seolah gadis itu baru pertama kali mencoba minuman seperti ini.


Namun beberapa saat kemudian, Biru dibuat gelisah saat melihat Jingga menyapu perlahan whipped cream yang belepotan di sekitar bibirnya dengan menggunakan ujung lidah.


“Dia lagi godain gue atau apa?” Biru mendesah frustrasi. Sejak di bioskop tadi, gadis itu sudah begitu menyiksanya.


“Apa kamu sengaja nyisain itu dan pura-pura nggak sadar?” Biru mengomentari whipped cream yang masih tersisa di bibir atas Jingga.


Sejenak Jingga terdiam dengan wajah bingung. Tapi melihat pandangan Biru yang mengarah pada bibirnya, dia kemudian tersadar bahwa masih tersisa whipped cream di sana.


“Jangan jorok.” Biru tiba-tiba berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arah Jingga, lalu menahan tangannya yang hendak membersihkan bibir menggunakan lengan baju.


Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Biru langsung meraih dagu Jingga, membersihkan whipped cream di bibir gadis itu dengan bibirnya sendiri.


Jingga terkejut, dia melotot penuh tanda protes setelah Biru selesai membersihkan bibirnya.


“Jangan salahin aku. Ini salah kedai kopinya yang nggak nyediain tisu.” Sahut Biru santai dan kembali duduk ke tempatnya.


“Dasar nggak tahu malu.” Jingga menggerutu dalam hati. Bisa-bisanya cowok itu memanfaatkan keadaan. Mulut Jingga tampak komat-kamit tak bersuara mengeluarkan segala macam umpatan untuk Biru.


“Jangan menggerutu kayak gitu, kalau kamu nggak mau aku merespon seperti tadi.” Ancam Biru membuat Jingga mendelikkan matanya sebal.


********


Setelah beberapa saat yang lalu sopir yang mengantar mobil Biru datang, Biru segera mengajak Jingga untuk pulang dan meminta sopirnya naik taksi.


Dan di snilah mereka berada sekarang, di dalam mobil tanpa ada percakapan sepatah katapun. Berbeda sekali saat mereka pergi tadi pagi, suasana perjalanan tampak gaduh dan menyenangkan.


Biru merasa mobilnya ini adalah tempat seram di mana dia adalah peserta uji nyalinya. Suasana di dalam mobil benar-benar dingin.


“Ini, kan, bukan jalan ke rumah aku.” Dan itu adalah suara pertama yang memecah keheningan selama perjalanan pulang mereka.


“Emang bukan.” Jawab Biru santai. Jingga melayangkan tatapan protes ke arah Biru, namun cowok hanya mengedik acuh dan fokus ke jalanan.


“Kamu mau bawa aku kemana?” Tanya Jingga penuh waspada. Ingatan saat Biru membawanya ke villa di Lembang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Tentu saja dia sedikit takut saat ini.

__ADS_1


“Hotel.” Jawab Biru sekenanya. Rupanya, dia sengaja membuat Jingga kesal.


“Turunin aku.” Pinta Jingga. Namun Biru masih mengabaikannya dan malah menaikan kecepatan mobil.


“Atau aku lompat.” Ancam Jingga.


“Aku yakin kamu masih mau hidup.” Sahut Biru masih dengan nada santainya.


Jingga benar-benar dibuat kesal oleh Biru. Dengan menahan geram, Jingga mendekatkan kepalanya ke bahu Biru, lalu dia menggigit bahu kekar itu dengan keras hingga membuat Biru memekik kesakitan.


“Aww. Jingga ini bahaya.” Tegur Biru yang kini kesulitan membawa mobilnya. Beruntung jalanan sepi saat itu.


“Aku cuma becanda. Udah lepasin.” Biru berusha mendorong kepala Jingga menggunakan sebelah tangan tanpa memalingkan wajahnya dari arah jalan.


“Terus kamu mau bawa aku ke mana?” Tanya Jingga dengan wajah yang sudah memerah. Dia benar-benar kesal, marah, takut, dan ingin menangis bercampur jadi satu. Jingga tidak mau kejadian di villa terulang lagi.


“Ke rumah aku. Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu.” Jawab Biru akhirnya.


“Ngapain? Ini udah malam, aku mau pulang.” Seru Jingga kesal. Dia khawatir Ayah dan Bunda menegurnya nanti karena sudah kelayaban dari pagi.


“Aku udah izin sama Om dan Tante.” Biru seolah mengerti kekhawatiran Jingga. Gadis itu tak menyahutinya lagi. Dia malah memalingkan wajahnya dari Biru. Protes seperti apapun percuma, Biru selalu memaksanya seperti ini.


“Tck, memperbaiki apanya?” Gerutu Jingga dalam hati. Sepertinya memang sulit menghilangkan sifat buruk Biru yang sudah mendarah daging ini.


Beberapa saat kemudian . . . .


Mobil Biru sudah berhenti di halaman bersar rumah bergaya Eropa modern milik orang tuanya itu.


“Ayo.” Ajak Biru setelah membukakan pintu mobil untuk Jingga. Tanpa banyak bicara, Jingga turun dari mobil, lalu berjalan mengekori cowok itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


“Kok sepi?” Tanya Jingga kembali waspada saat mendapati keadaan rumah Biru sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Tante Lisa, Om Rendi atau asisten rumah tangga yang biasa menyambutnya.


“Mama sama Papa masih di Singapura. Mungkin baru pulang besok.” Jawab Biru.


“Mbaknya?” Jingga menghentikan langkahnya saat mereka sudah berada di tengah tangga menuju kamar Biru.


“Semua pelayan sibuk di belakang, Ji. Mereka ada, kok.” Jawab Biru seraya berbalik dan menatap Jingga yang kini berdiri mematung. Jingga sedikit lega mendengarnya, kalau terjadi apa-apa, kan, dia bisa berteriak minta tolong.


“Jangan mikir aneh-aneh. Aku nggak akan apa-apain kamu, kok.” Tutur Biru seolah mengerti kekhawatiran Jingga. Dia kembali merasa bersalah, ternyata kejadian di villa waktu itu benar-benar membekas di hati Jingga.


“Ayo.”


“Aku nggak mau.” Dengan cepat Jingga menyembunyikan tangannya di belakang saat Biru nyaris meraihnya.


“Percaya sama aku. Hum” Bujuk Biru. Lalu dengan hati-hati kembali tangan Jingga dan menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar.


“Tapi ngapain kamu ngajak aku ke kamar?” Tanya Jingga dengan tatapan penuh curiga.


“Udah ikut aja. Aku pastiin kamu aman.” Biru kemudian berdiri di belakang Jingga, lalu mendorong tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam ruangan rahasia miliknya.


Seketika Jingga terperangah melihat kamar rahasia milik Biru. Seperti dalam film Harry Potter saja.


“Apa ini semacam tempat persembunyian?” Tanya Jingga yang mulai tertarik, matanya menyusuri ruangan rahasia milik Biru yang lumayan luas itu. Terlihat rak dinding yang dipenuhi buku dan barang-barang lain milik Biru. Namun dia terkejut saat dia melihat foto-fotonya hampir mengisi sebagian dinding.


“Ini tempat persembunyian sekaligus tempat di mana aku menyimpan semua kisah cinta aku.” Jawaban Biru terdengar menggelikan di telinga Jingga.


“Penguntit.” Jingga mengambil salah satu foto yang menampakkan dirinya sedang membaca di perpustakaan sekolah.


“Bukan penguntit. Lebih tepatnya, mencintai dalam diam. Cuma itu yang bisa aku lakuin dulu.” Sanggah Biru mengoreksi.


“Selain penguntit, kamu juga pengecut.” Jingga terus mencibirnya. Biru tersenyum senang karena Jingga mulai banyak bicara padanya.


“Apa kamu cuma gambar aku?” Tanya Jingga yang kini tangannya sibuk membuka satu persatu halaman pada buku sketsa Biru.


“Hmm.” Biru mengangguk. “Tangan aku cuma bisa gambar kamu. Yang lain nggak bisa.”


“Tck. Gombal.” Cebik Jingga.


“Bukan gombal. Kamu emang satu-satunya.”


Jingga mencibir dengan menjulurkan bibir bawahnya ke depan.


“Aku serius. Kamu itu satu-satunya cewek yang aku suka dan yang aku cintai, satu-satunya cewek yang bisa aku gambar, satu-satunya cewek yang bisa aku cium – ”


“Tapi kamu juga peluk-peluk cewek lain.” Sambar Jingga seraya tersenyum getir.


“Nggak pernah.” Sanggah Biru tak terima.


“Terus Luna?” Tanya Jingga sambil menatapnya sinis. Seketika mulut Biru terkatup mendengarnya.


“Maaf itu–”


“Ish, udah, ahh, aku mau pulang.” Dan suasana hati Jingga selalu rusak jika mengingat nama Luna.


Jingga lalu berjalan cepat untuk keluar dari ruangan rahasia milik Biru. Tapi dia lupa mendorong rak lemari dan malah kepalanya menabrak rak tersebut.


“Arrrghh, sakit.” Jingga mengerang kesakitan. Ingin sekali dia mengumpat kata-kata kasar untuk rak lemarinya. Jingga benar-benar merasa sakit sekaligus kesal.


Biru ikut meringis melihatnya. Lantas dengan segera dia bergegas menghampiri Jingga untuk memastikan keadaannya.


“Kamu nggak apa-apa, Ji?” Tanya Biru khawatir seraya memeriksa dahi Jingga yang memang sedikit memar.


“Ini sakit, mana bisa nggak apa-apa.” Jawab Jingga kesal sambil memegang dahinya yang berdenyut nyeri.


“Memar dikit.” Cicit Biru.


Jingga mendongakkan kepala dan menatap Biru yang kini tengah mengusap-usap lembut dahinya yang memar. Hingga kemudian, pandangan mereka bertemu saat Biru menundukkan kepalanya.


Biru terganggu dengan cara Jingga menatapnya. Karena terbawa suasana, dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium Jingga.


“Bi. . . .” Teriakan melengking Mama membuat Biru menarik wajahnya dari Jingga. Padahal, bibir mereka baru saja saling menempel.


“Biruuuu, Nak?” Teriaknya lagi.


“Tante Lisa.” Jingga membelalakkan matanya terkejut.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2