
*********
Biru kembali ke kamar setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam di ruangan Papa. Lelaki paruh baya itu memberi Biru beberapa nasihat mengenai pernikahan agar anaknya tahu bagaimana menjadi seorang suami yang baik.
“Ji, kamu di dalam?” Biru mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi tatkala dia tak menemukan Jingga di tempat tidur.
Karena tak ada sahutan, Biru lalu membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Namun, dia tetap tak menemukan istrinya di dalam sana.
“Ji, kamu di mana?” Teriak Biru kebingungan sekaligus panik. Dia lantas kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Kini matanya tertuju pada rak lemari, lalu dengan ragu dia masuk ke kamar rahasianya.
Biru bernapas lega saat melihat Jingga tengah tertidur di atas kasur lipat dengan sebuah buku yang dibiarkan menutupi wajahnya.
“Kenapa kamu tidur kayak gini?” Biru mengambil buku yang menutupi wajah Jingga dengan gerakkan hati-hati agar tak membangunkannya.
Diperhatikannya wajah tidur Jingga lekat-lekat, kening Biru mengkerut saat menyadari wajah istrinya yang tampak sembab dengan sisa-sisa air mata yang sudah mengering di sudut mata dan pipinya.
“Ji, kamu nangis?” Tangan Biru terulur mengelus lembut wajah sembab itu.
Jingga memang menangis. Perasaannya yang tiba-tiba kacau balau membuatnya menangis.
Saat dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah dia menyesal atau tidak karena sudah menikah dengan Biru, jawabannya adalah tidak.
Biru adalah laki-laki yang sangat dicintainya. Tapi entah kenapa, Jingga merasa sedih akan perubahan kondisinya yang mendadak berubah secara drastis.
Tiba-tiba harus jauh dari orang tua, kehilangan kebebasan bersama teman, serta tanggung jawab baru sebagai seorang istri yang tak bisa membuatnya bebas melakukan apapun yang dia inginkan sesuai kehendaknya, semua itu membuat perasaannya semakin tak karuan.
Jingga merasa terbebani, stress, frustrasi, terkekang, kehilangan, gelisah, dan sedih sekaligus.
Jingga bingung kenapa perasaannya tiba-tiba jadi melankolis seperti ini, padahal sebelumnya dia tahu dan sadar betul ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi dan dijalankannya setelelah menikah. Hingga akhirnya, yang bisa dia lakukan hanya menangis. Setidaknya itu bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
Perlahan, Biru merebahkan dirinya di samping Jingga, lalu dengan hati-hati dia menyelipkan tangannya di bawah tengkuk istrinya itu, merengkuhnya, lalu membawanya ke dalam dekapannya.
Selang beberapa lama, Biru merasakan Jingga mulai menggeliat dalam dekapannya, gadis itu perlahan membuka matanya untuk kemudian mendongakkan wajahnya hingga tatapannya bertemu dengan Biru.
“Kak. . . .” Lirihnya dengan suara berat dan serak khas orang bangun tidur.
Sementara Biru tak langsung menyahutinya, sejenak dia terdiam menatap dalam mata Jingga dengan senyum tipis tersungging dari kedua sudut bibirnya.
“Kenapa tidur di sini?” Tanya Biru lembut seraya menyingkirkan helaian anak rambut yang sedikit mengganggu wajah Jingga.
“Tadi aku baca buku, terus ketiduran.” Sahut Jingga.
“Baca buku atau nangis?” Biru membelai lembut wajah Jingga. “Hem?” Tanyanya lagi karena Jingga masih terdiam.
“Baca.” Jawab Jingga lirih, lalu menelusupkan wajahnya di dada bidang Biru guna menghindari kontak mata dengan laki-laki itu.
“Kamu bilang kita harus saling berbagi.” Biru meraih wajah Jingga agar kembali menatapnya. “Kamu kenapa?”
“Aku nggak apa-apa.” Elak Jingga.
“Apa kamu nangis karena aku maksa kamu pulang hari ini?” Jingga menggelengkan kepalanya pelan.
“Aku nggak tahu.” Ucap Jingga akhirnya dengan suara yang memberat seiring dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Hei, kok malah nangis?” Biru mengusap air mata yang mulai membasahi pipi Jingga.
“Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba jadi sedih kayak gini.” Lanjut Jingga dengan air mata yang semakin berhamburan membasahi wajahnya.
Melihat Jingga yang kini menangis terisak, lantas Biru merengkuh tubuh Jingga dan kembali membawanya ke dalam pelukannya. “Atau kamu sedih karena udah nikah sama aku?”
Jingga mendongak untuk mempertemukan pandangannya dengan Biru “Aku nggak tahu.”
“Aku minta maaf kalau aku ada salah.” Ucap Biru seraya mengusap lembut wajah Jingga.
Jingga menggeleng, lalu sejurus kemudian mengutarakan apa yang dirasakannya pada Biru.
Daripada terus murung memendam perasaannya dan berujung membuat Biru tidak nyaman, Jingga rasa dia harus jujur mengenai apa yang dirasakannya, karena siapa tahu saja, Biru bisa membantunya menemukan cara yang tepat untuk membuatnya kembali merasa bahagia dan antusias menjalani pernikahan mereka.
Biru menghela napas pelan setelah mendengar penuturan Jingga. Sebisa mungkin dia mencoba mengerti dan memahami perasaannya, sepertinya istrinya ini mengalamai sindrom pasca menikah. Lantas yang harus dia lakukan adalah mencoba menguatkannya serta segera mengatasinya agar kondisi post wedding blues istrinya tidak berlarut-larut.
“Sebelumnya kita udah punya rencana dan tujuan yang akan kita capai bersama, kan?” Biru mencoba mengalihkan pikiran Jingga. Gadis itu hanya mengangguk di sela-sela isakan tangisnya yang belum berhenti.
“Kita akan membangun rumah, punya banyak anak, belajar jadi orang tua yang baik, hidup bahagia bersama dengan cara kita sendiri, dan masih banyak lagi. Kamu inget, kan, kita pernah merencanakan itu?” Lanjut Biru seraya membelai lembut kepala istrinya.
“Aku minta maaf.” Ucap Jingga kembali meneggelamkan wajahnya dalam dekapan Biru.
“Enggak, jangan minta maaf. Aku yang minta maaf karena membuat kamu harus mengalami ini. Dan aku juga berterima kasih sama kamu karena udah mau mengorbankan kehidupan nyaman kamu untuk hidup sama aku.” Biru mengusap-usap punggung Jingga, membiarkan gadis itu menyelesaikan tangisnya.
“Aku sayang sama kamu, Kak.”
Biru tersenyum, lalu mengangkat kepala Jingga dan menyeka air mata di pipinya yang sudah mulai menyurut. Sepertinya gadis itu sudah lebih tenang setelah mengutarakan perasaannya.
“Dan harus kamu tahu, aku selalu lebih sayang sama kamu. Jadi, sekarang ayo kita fokus pada rencana dan tujuan kita.”
“Maaf, aku ngelupain itu.” Sesal Jingga lirih.
Jingga memang harus ingat dan sadar bahwa pernikahan bukan awal dari pengekangan, tapi awal perjalanan baru hidupnya bersama Biru untuk bersedia bersama dalam susah ataupun senang. Bukan hanya sekedar pesta, ****, atau tinggal satu atap saja.
__ADS_1
Dia dan Biru sudah memiliki rencana dan tujuan, dia tidak boleh melupakannya begitu saja. Jingga harus membuang jauh-jauh semua perasaan yang membuatnya sedih tak karuan itu.
“Aku bilang jangan minta maaf.” Dengus Biru sambil mengelus lembut pipi Jingga dan terus menatapnya tanpa kedip, hingga sejurus kemudian laki-laki itu mendekatkan wajahnya, lalu membenamkan bibirnya pada bibir Jingga.
Seperti biasa, Biru selalu melakukannya dengan penuh kelembutan. Mata Jingga terpejam, membiarkan Biru menjelajahi rongga mulutnya. Tangannya yang semula diam di depan dada, perlahan mulai mencengkram kuat kaos yang dikenakan suaminya.
“Eungh, Kak. . . .” Jingga melenguh saat satu tangan Biru menyusup masuk ke dalam dressnya dan mulai membelai lembut kulit punggungnya, dia tak menyadari laki-laki itu sudah berhasil menurunkan ritsleting dress yang dikenakannya.
Biru melepaskan tautan bibir mereka saat dirasa pasokan oksigen di sekitarnya mulai menipis. Untuk sesaat mereka saling menatap dengan deru napas yang memburu.
Tangan Biru yang masih mengelus punggung Jingga, kini bergerak turun memberikan sapuan lembut di pinggangnya hingga membuat tubuh gadis itu mendadak gelisah.
Jingga kembali melenguh saat tangan Biru kembali menyusup ke dalam dressnya, mengelus paha, dan terus merayap naik guna mencari sesuatu di balik kain tipis di sana.
“Kak–” Jingga menahan tangan Biru yang berada di pangkal pahanya. “Belum boleh.”
Seketika hal tersebut membuat raut wajah Biru berubah lesu. Namun, itu tak berlangsung lama saat laki-laki itu teringat akan hal yang masih bisa dia lakukan.
“Ish, aku bilang belum boleh.” Jingga protes saat Biru malah menurunkan lengan dressnya hingga sebatas dada.
“Kalau cium masih boleh, kan?” Biru mengecup lembut bahu Jingga yang terbuka, lalu naik ke leher, hingga rahang gadis itu.
“Tap–”
“Boleh, kan?” Sambar Biru sembari menarik diri untuk menjangkau pandangannya dengan Jingga.
Menggigit bibir bawahnya, Jingga lantas mengangguk lemah. Napasnya sedikit memburu karena menahan hawa panas yang mulai menjalar di dalam dirinya karena sentuhan yang Biru berikan.
Biru tersenyum melihat respon Jingga, tangannya lalu kembali meraba bagian punggung, mencari pengait pakaian dalam di sana hingga berhasil terlepas. Laki-laki itu kemudian mengubah posisi tidur Jingga yang semula miring untuk telentang.
Seperti biasa, Jingga akan selalu menjadi submisif bagi si dominan Biru. Dia pasrah, namun menikmati.
Jingga mulai mengerang tertahan dengan tangan meremas kuat rambut Biru saat laki-laki itu mulai bermain-main di atas dadanya.
“K-kak. . .” Jingga mendesah seraya memejamkan matanya saat Biru mulai menyesap salah satu puncak buah dadanya, memainkan indra pengecapnya di sana dengan sensual.
Namun, saat Biru tengah sibuk menyesap dan memijat lembut dada Jingga, tiba-tiba terdengar suara melengking Mama memanggil-manggil nama keduanya di balik rak lemari.
“Biru, Jingga, kalian di dalam? Maaf mama masuk kamar kalian, tadi pintunya terbuka.” Teriak Mama.
Mendengar itu, Jingga refleks menjauhkan kepala Biru dari atas dadanya, membuat Biru mengerang frustrasi. “Mama.”
“Ji, besok kita pulang ke apartemen, ya?” Ujar Biru lesu. Dia bahkan hanya bisa mencium dan meraba istrinya sekarang, kenapa harus terganggu segala, sih?
“Kalian lagi ngapain, sih di dalam? Ayo makan siang.” Merasa tak ada sahutan, Mama kembali berteriak.
Biru mendengus, lalu beranjak dari atas tubuh Jingga dengan malas. Tapi sebelum benar-benar beranjak, Biru mencuri satu kecupan di bibir istrinya.
“Iya, Ma, sebentar. Ini kita lagi beresin buku.” Teriak Biru asal, membuat Jingga terkekeh pelan.
“Ya udah, kalau gitu Mama tunggu di bawah.” Seru Mama kemudian seraya beranjak dari kamar anaknya.
********
Tiga minggu berlalu, Biru dan Jingga sudah kembali bekerja di rumah sakit dan menjalankan aktivitas mereka seperti biasa.
Keduanya juga sudah pindah dan tinggal di apartemen milik Biru. Padahal, Mama dan Papa meminta mereka untuk tinggal di rumahnya sementara menunggu rumah mereka selesai dibangun. Namun, Biru menolak. Laki-laki itu mengatakan ingin belajar mandiri agar mereka semakin dewasa.
Selama tiga minggu tinggal bersama di apartemen, Biru dan Jingga mulai membiasakan diri menjalankan perannya masing-masing, sebagai seorang suami dan istri. Tidak hanya itu, mereka juga belajar mempelajari satu sama lain untuk menerima perbedaan yang ada dalam diri masing-masing.
Jingga sudah tidak sedih lagi, dia mulai menikmati perannya sebagai istri. Setiap pagi dia akan selalu berusaha bangun lebih awal untuk menyiapkan segala keperluan Biru, mulai dari membangunkan, menyiapkan pakaian, hingga sarapan untuk laki-laki itu.
Jingga memang tidak terlalu pandai memasak seperti halnya Bunda atau Mama mertuanya, tapi apapun yang dia masak sepertinya cukup memuaskan lidah Biru. Suaminya itu tidak pernah protes, entah karena menghargai atau benar-benar menikmati masakannya, Jingga tak mau ambil pusing, yang penting dia sudah menjalankan kewajibannya dan yang dia masak bukan makanan beracun.
“Sayang, kaos kaki aku di mana, ya?” Teriak Biru dari kamar saat Jingga tengah sibuk menata meja makan untuk mereka sarapan.
“Udah aku siapin di atas sofa.” Balas Jingga ikut berteriak.
“Nggak ada, Yang.” Sahut Biru.
“Ada. Kamu carinya pake mata, dong, jangan pake mulut.” Balas Jingga yang kini berjalan menghampiri wastafel untuk mencuci tangannya.
“Aku udah cari di atas sofa, tapi nggak ada. Kamu lupa, kali, tadi nyimpannya.”
Jingga menghela napas kesal. Selalu saja seperti ini. Bisa tidak, sekali saja Biru tak mengganggunya saat dia sedang menyiapkan sarapan?
Seraya menghentakkan kakinya kesal, Jingga lantas bergerak menuju kamar. Awas saja kalau dia menemukan kaos kaki itu, Jingga pastikan tidak akan memberi Biru jatah lembur malam ini.
“Makannya jangan suka lempar handuk sembarangan.” Omel Jingga sesaat setelah dia mengambil handuk yang tergeletak sembarangan di sofa hingga menutupi kaos kaki Biru yang dia simpan di sana tadi.
Salah satu kebiasaan buruk Biru, tidak bisa menyimpan handuk ke tempat semula setelah dipakai. Sepertinya itu sudah mendarah daging sampai Jingga sudah capek sendiri memberitahunya.
Tidak hanya itu, Biru juga tidak mengeringkan kakinya setelah keluar dari kamar mandi hingga membuat lantai kamar basah. Hal tersebut tentu menambah pekerjaan rumah Jingga.
“Aku bener, deh, tadi nggak lihat ada kaos kaki di sana.” Cicit Biru menatap istrinya takut-takut. Gadis itu memang tidak marah, tapi delikkan tajamnya seolah siap menusuk Biru.
“Ya udah kalau gitu cepetan pake kaos kakinya, habis itu kita sarapan.” Dan Jingga memilih untuk tak memperpanjang perdebatan kecil yang selalu terjadi di setiap pagi mereka.
__ADS_1
“Dasi aku belum kamu pasangin.” Jingga yang hendak beranjak dari kamar kembali berbalik dan menghampiri bayi besarnya itu.
Sebelumnya Biru terbiasa melakukan apa-apa sendiri, tapi entah kenapa setelah menikah dia menjadi ketergantungan pada Jingga seperti ini. Hari-hari sebelumnya bahkan dia selalu meminta Jingga mengancingi kemejanya.
Lantas dengan telaten, Jingga mengalungkan dasi di kerah baju suaminya, menarik kedua ujung kain panjang itu, lalu menyimpulkannya hingga membentuk ikatan rapi.
“Selesai.” Seru Jingga begitu selesai memasangkan dasi di kerah kemeja Biru.
“Belum.”
“Apa lagi?” Jingga mendongakkan kepalanya dengan kening mengernyit.
“Ini. . . .” Biru menangkup kedua sisi wajah Jingga, lalu mengecup bibir istrinya, hanya sebuah kecupan yang dia benamkan cukup lama.
“Udah, kan? Ayo buruan sarapan, aku ada operasi nih.” Ujar Jingga setelah Biru melepaskan ciumannya.
“Iya, Sayang. Kamu duluan, nanti aku nyusul.”
“Aku tunggu di meja makan, jangan lama-lama.” Jingga memperingati sebelum kemudian dia berlalu pergi dari hadapan Biru.
Setelah selesai dengan sarapannya, mereka lantas bergegas keluar dari apartemen menuju rumah sakit.
Di dalam mobil, Jingga terus bergerak-gerak gelisah sambil terus melihat jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jingga ada jadwal operasi transplantasi jantung pagi ini. Sekitar tiga puluh menit lagi operasi seharusnya dimulai, tapi Biru mengemudikan mobilnya sangat lambat karena terjebak macet.
“Duh, aku bakalan telat kalau kamu lelet kayak gini.” Keluh Jingga dengan raut wajah tak tenang.
Melihat istrinya yang terus bergerak-gerak tak tenang, Biru yang ada di sebelahnya jadi ikut tak tenang. Berulang kali dia berdecak kesal karena mobil yang ada di depannya hanya bergerak beberapa senti saja.
“Bukan aku yang lelet, Ji. Ini macet.” Biru mengoreksi, tapi Jingga tak peduli.
“Coba kalau tadi jam tiga kamu nggak bangunin aku. Aku pasti nggak bakalan kesiangan bangun dan kita bisa berangkat lebih pagi biar nggak kejebak macet kayak gini.” Gerutu Jingga seolah menyalahkan Biru atas insiden keterlambatannya.
“Lho, kok kamu nyalahin aku?” Protes Biru tak terima.
“Aku bukan nyalahin kamu, yaa. Aku cuma berandai-andai aja.” Elak Jingga tanpa mengalihkan pandangannya dari rentetan mobil yang berderet memanjang ke belakang. Sepertinya benar-benar akan terlambat.
“Apa bedanya?” Dengus Biru pelan hingga tak terdengar sama sekali di telinga Jingga. “Padahal tadi kamu yang banyak tingkah sampai-sampai kecapekan dan kesiangan bangun.” Biru masih tak terima dirinya disalahkan.
Mendengar penuturan Biru, seketika hal itu membuat wajah Jingga merona. Masih jelas dalam ingatannya, saat dini hari tadi dia mengambil kendali permainan panasnya bersama Biru, meski awalnya dia kesal karena laki-laki itu mengganggu tidur lelapnya. Namun pada akhirnya, justru Jingga sendiri yang jadi bersemangat dan menikmati permainannya.
“Malah kamu minta lagi sebelum kita mandi.”
Jingga juga heran sendiri, ini bukan gayanya sama sekali, dia adalah gadis kalem di atas ranjang yang akan selalu pasrah pada si dominan. Tapi kenapa tadi bisa jadi seliar itu? Ahh, benar-benar memalukan.
“Tapi tetap aja kamu yang bangunin aku.” Jingga tak mau kalah, lalu mengalihkan pembicaraan ketika melihat jalanan yang mulai lenggang. “Udah, deh, mendingan sekarang kamu jalan.”
“Dasar cewek, selalu aja mau menang sendiri.” Biru menggerutu dalam hati. Dan tanpa banyak bicara lagi, dia menjalankan mobilnya hingga berhasil keluar dari kemacetan.
********
Sesampainya di rumah sakit, Jingga berjalan tergesa-gesa begitu turun dari mobil suaminya yang berhenti tepat di depan pintu masuk utama rumah sakit itu.
Saking terburu-burunya, Jingga bahkan tidak berpamitan pada Biru dan melupakan ciuman selamat pagi yang biasa dia berikan sebelum turun dari mobil.
“Dia harus bayar sepuluh kali lipat.” Gumam Biru tersenyum tipis. Matanya masih megikuti punggung Jingga yang kini semakin jauh dari pandangannya.
Sambil sesekali melihat jam di pergelangan tangannya, Jingga berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang operasi.
Saat di jalan tadi, Dokter yang menjadi asisten utamanya menghubungi dan mengatakan kalau semuanya sudah siap. Itulah kenapa dia berjalan terburu-buru karena tak ingin membuat semua orang menunggunya terlalu lama.
Saking terburu-burunya, Jingga sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang berjalan di depannya hingga tak sengaja menabrak orang itu sampai tersungkur. Begitupula dengan dirinya yang hampir terjatuh menimpa orang itu, seandainya saja dia tidak buru-buru menyeimbangkan tubuhnya.
Terlihat sebuah koin perak berlambang koala ikut menggelinding bersamaan dengan tersungkurnya orang yang Jingga tabrak.
“Koin aku. . .” Pekik seseorang itu dengan pandangan yang terus mengikuti ke mana arah si koin menggelinding.
“Langit.” Jingga sedikit terperanjat saat menyadari Langit adalah orang yang ditabraknya. Dalam hati dia bersyukur, sebab tak akan mendapatkan banyak masalah karena bukan orang lain yang ditabraknya.
“Ji, kamu punya mata, tapi, kok, nggak dipake?” Omel Langit kesal begitu dia mendongakkan kepalanya.
“Duhh, Lang. Aku lagi buru-buru, nih. Kamu bisa bangun sendiri, kan?” Jingga kembali melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu tanpa berniat membantu Langit berdiri, Jingga lantas meninggalkan sahabatnya yang masih dalam posisi tengkurap itu.
“Ji, bantuin aku dulu.” Langit berteriak kesal karena Jingga meninggalkannya begitu saja.
“Aku minta maaf.” Sahut Jingga ikut berteriak tanpa menoleh ke arah Langit.
“Sialan.” Umpat Langit seraya berusaha untuk bangkit, namun dia urungkan tatkala melihat seorang gadis cantik dengan balutan dress warna biru langit bermotif vertical lines, serta ankle boots putih hingga terkesan sweet dan modis berjalan ke arahnya.
Saat gadis itu sudah berada di hadapanya, refleks Langit mengulurkan tangannya seolah meminta gadis itu untuk membantunya berdiri.
Namun, bukannya membantu Langit berdiri, gadis itu hanya menyerahkan koin milik Langit ke tangannya yang tengah terulur, untuk kemudian dia melenggang pergi begitu saja.
********
To be continued . . . .
__ADS_1