
********
Malam harinya di sebuah kedai kopi, terlihat Albi dan Bian duduk bersebrangan sambil menikmati secangkir coffe latte dan sepiring hidangan western yang tersedia di kedai kopi tersebut.
Tak ada percakapan di antara mereka, keduanya fokus sejenak untuk menikmati makanan dan minuman masing-masing, iringan live music seolah meluapkan rasa penat mereka setelah bergelut seharian di ruang operasi dan melakukan kunjungan pasien.
Bian tercenung sambil memainkan bibir cangkir menggunakan jari telunjuknya, teringat gadis cantik yang tadi sore tak sengaja naik di lift yang sama dengannya.
“Lo kenapa, sih? Aneh, tahu, nggak, diem kayak gitu. Jadi takut gue. Stress lo?” Heran Albi menyadarkan Bian dari lamunannya. Cowok itu langsung mendengus tak terima dikatai seperti itu.
“Gue cuma lagi kepikiran sesuatu.” Sahut Bian memandang coffe latte di dalam cangkir yang busanya mulai habis.
“Kepikiran apa? Hutang?” Celetuk Albi asal, tapi penasaran menunggu Bian bercerita.
Bian berdecak sebal. “Ya bukan, lah. Ngaco lo.”
“Ya terus apa? Lagian heran aja gue, tumben-tumbenan lo bisa mikir.” Tanya Albi mencibir, membuat Bian kembali mendengus sebal.
“Tadi sore gue . . . .” Jawaban Bian menggantung melihat kedatangan Biru dan Bisma. Keempatnya lantas saling melakukan first bump.
Seperti yang Biru katakana sebelumnya bahwa mereka akan tetap bersinar.
Empat cowok ganteng yang dulu menjadi bintang di SMAnya kini kembali bersinar dengan bekerja di rumah sakit yang sama, setelah mereka sama-sama menyelesaikan pendidikan di sekolah kedokteran yang menjadi pilihan mereka.
Karena bekerja di tempat yang sama, tidak sulit dan tak jarang mereka bisa kumpul-kumpul seperti ini di sela-sela kesibukkan mereka menangani pasien.
“Kenapa, lo, Bi? Kusut banget, tuh, wajah kayak gagal pelepasan.” Ejek Albi nyeleneh melihat wajah kusut Biru, membuat ledakan tawa Bian dan Bisma langsung terdengar.
Biru memutar bola matanya jengah. Dia memilih untuk mencomot makanan milik Albi, cukup malas untuk membalas ejekkan si Dokter Ob-Gyn itu.
“Yaa gimana nggak gagal, orang ada cewek ngedeketin aja langsung dia suruh mundur.” Timpal Bisma ikut meledek, mengingat Biru yang anti cewek. “Harusnya lo jangan gitu, lah, sama cewek. Minimal kasih kesempatan mereka biar bisa deket sama lo, kek. Awas nanti lo kena karma suka sama cewek, ceweknya nggak mau.”
Biru espresso miliknya yang beberapa saat lalu datag, lalu menyentak cangkirnya pada tatakan karena merasa jengkel melihat teman-temannya belum juga berhenti tertawa.
“Berisik lo semua.” Teriak Biru kesal.
Biru masih belum meredakan kekesalannya pada ucapan Papa tadi sore. Ternyata lelaki tua itu memang serius tentang perjodohan. Dia benar-benar tidak tertarik dengan ini, terlebih yang akan dijodohkan dengannya adalah gadis cantik dengan pendidikan dan karir yang bagus.
Biru mendengus sambil mencengkram lengan cangkir. Biru tidak pernah ingin tertarik pada gadis cantik.Dia selalu berpikir jika gadis cantik yang pintar itu pasti akan selalu ingin menjadi pusat perhatian atau mencari validasi laki-laki di atas segalanya.
Biru tidak suka, dia lebih baik tidak menikah.
“Gue rasa, lo kayaknya juga harus konsul tentang yang lain, deh, sama Dokter Johan. Gue takut lo kena gangguan orientasi seksual.” Ejek Bian yang langsung mendapat tos dari Albi.
“Kampret! Bacot lo bertiga minta gue mutasi?” Geram Biru mengancam pada ketiga temannya. Namun rupanya anncaman tersebut tidak mempan.
“Lagian heran aja banyak cewek cantik sama seksi antri ngedeketin, nggak ada satupun lo suka. Bego, lo.” Bian berdecak sambil geleng-geleng kepala, lalu menyeruput sisa kopinya.
“Ya bukan berarti gue disorientasi seksual, dong?” Sahut Biru ketus, tak terima diledek seperti tiu.
“Tapi kenyataannya lo berubah jadi kulkas sepuluh pintu kalo berhadapan sama cewek.” Bisma menimpali. “Kecuali sama Luna mungkin ya. Tapi lo juga bilang nggak suka sama dia dan udah nganggep saudara.” Tambahnya kemudian.
Biru mendengus, menatap tajam Bisma, lalu berucap dingin. “Gila kali, ya, gue suka sama Luna.”
“Tuh kan, tuh kan. Gimana semua orang nggak ngira lo orientasi seksual. Bahkan Tante Lisa sama Om Rendi aja khawatir banget gegara lo nggak suka sama cewek.” Tutur Albi memasukkan potongan pastry ke dalam mulutnya hingga penuh.
“Mungkin ini salah satu alasan mereka cariin jodoh buat lo.” Bian menyahuti dan langsung dibalas jentikan jari setuju oleh Albi.
Biru menghembuskan napas kasar. Tidak bisa melawan ucapan Bian. Mendadak dia juga merasa khawatir pada dirinya sendiri. Bukan hanya skeptis pada gadis cantik. Tapi dia akui memang tidak pernah merasa tertarik pada gadis manapun. Sekalipun itu Luna yang sudah bersamanya sejak kecil.
“By the way, dia cantik, nggak?” Tanya Bisma menyikut lengan Biru yang duduk di sebelahnya. Cowok dengan kawat gigi itu nampak menaik turunkan alisnya sambil tersenyum penuh arti.
Biru mengedik, lalu berucap malas. “Nggak peduli gue.”
Bisma menjuluran bibir bawahnya ke depan penuh cibiran. “Jangan gitu. Ntar suka, jilat ludah sendiri lo.”
Mendesah malas, Bian membersihkan mulutnya dengan tissue. “Kalo emang bener lo nggak orientasi seksual, ya. Terus lo maunya cewek yang kayak gimana, sih? Habisnya semua cewek yang gue kenalin, lo skip.” Ucapnya sambil mengibaskan tangan.
Biru terdiam berpikir. Sebenarnya, dia juga tidak tahu gadis seperti apa yang bisa menarik perhatiannya.
“Yang kayak Jingga, kali. Ckck, langka.” Celetuk Albi membuat atensi ketiga temannya beralih kepadanya.
“Jingga?” Tanya Bisma memastikan. Keningnya mengernyit berusaha mengingat-ingat sesuatu.
__ADS_1
Pupil mata Albi melebar saat teringat sesuatu, dia menepuk tangannya satu kali. “Bener Jingga. Lo nggak sepenuhnya orientasi sosial, Bi. Dulu lo pernah normal.” Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk Biru.
Biru mendengus, tapi tetap menunggu Albi melanjutkan kalimatnya dengan wajah bingung.
“Kalian inget, nggak?” Albi menatap Bian dan Bisma bergantian. Kedua cowok itu hanya mengedik. “Dulu Biru pernah suka sama cewek yang namanya Jingga. itu lho junior kita yang paing cantik. Biru jadi secret admirernya.’
Bian dan Bisma membulatkan matanya, lalu sama-sama membentuk huruf O dengan mulutnya. Sementara Biru hanya menatap ketiga temannya dengan wajah bingung.
“Ohh, iya, gue inget. Emang sampai sekarang cantik banget, sih, dia.” Sahut Bian yakin kalau gadis yang bersamanya di lift tadi sore adalah Jingga.
“Dihh, dari mana lo tahu?” Cibir Bisma.
Bian lantas menceritakan pertemuan singkatnya yang tidak sengaja dengan Jingga tadi sore. Menurutnya, tidak ada yang berubah dari Jingga, gadis itu malah semakin cantik.
“Wait, dia siapa?” Tanya Biru akhirnya.
“Lo bener-bener nggak inget sama dia, Bi? Kalau bukan karena amnesia, lo nggak akan lupa sama dia, sih, walaupun udah sembilan tahun berlalu. Dia satu-satunya cewek yang pernah lo suka. Bisa jadi bikin lo gila karena lo nguntit dia hampir tiap hari.” Jelas Bian, sedikit menyayangkan karena Biru melupakan beberapa part masa lalunya.
“Gue malah baru denger hal ini dari kalian. Gue baru tahu ternyata pernah suka sama seseorang.” Tutur Biru seraya berusaha mengingat hal tersebut, tapi tidak berhasil.
“Bi, gue rasa, cewek yang selalu muncul di ingatan lo itu dia, deh.” Ucap Albi menerka-nerka.
“Kayaknya nggak mungkin, deh.” Sahut Biru tak sangsi.
“Walapupun samar-samar, tapi itu bisa jadi.” Timpal Bian. “Lo itu amnesia dan lo lupa bagian Jingga.”
“Tapi kalau cuma jadi secret admirer, nggak mungkin di ingatan gue sama dia bisa sedeket itu. Gue sama dia nggak pernah ada interaksi khusus, kan?” Biru masih berusaha menyangkalnya meski dalam hatinya sedikit senang karena akhirnya mendapat sedikit kejelasan tentang sosok gadis yang selalu muncul di kepalanya.
Bian menggeleng. “Gue, Bisma, sama Albi emang nggak pernah lihat lo menjalin interaksi khusus sama dia. Lo pure secret admirer. Tapi gue pernah denger rumor lo sama dia pacaran. Bisa aja lo diem-diem pacaran sama dia dan nggak cerita sama kita.”
“Kalau dia pacaran sama gue. Dia mungkin udah cari gue dari dulu karena tiba-tiba hilang kabar.” Uajr Biru yang dibenarkan oleh teman-temannya.
“Tapi lo mau nyoba cari dia, nggak? Gue bisa bantu.” Tawar Albi, mengingat dia adalah anak pemilik yayasan di mana mereka sekolah menengah dulu. Jadi mudah baginya untuk mendapatkan identitas Jingga.
“Nggak udah, deh, thanks. Gue takut dia cuma halusinasi aja karena trauma di kepala pasca kecelakaan.” Tolak Biru.
“Tapi jelas lo didiagnosis amnesia, Bi. Lo nggak lagi ngobat atau mabok.” Sanggah Bian tak terima. Si Dokter Spesialis Ortopedi itu hanya khawatir pada temannya.
“Terlepas bener Jingga atau bukan. Lo tetep harus berusaha buat ngembaliin ingatan lo, Bi. Emang lo mau seumur hidup nahan sakit di kepala karena berusaha mengingat hal yang lo nggak tahu itu apa?” Timpal Albi gregetan sendiri. Hal tersebut langsung disetujui Bian dan Bisma
********
Pagi harinya, Jingga sudah tampil sporty dengan pakaian tenis lapangan dan tas raket di yang tentengnya.
“Mau ke mana kamu?” Suara bariton tegas mengejutkan Jingga yang baru saja menapakkan kakinya di lantai dasar tangga. Lelaki paruh baya itu menyoroti penampilan Jingga dari atas sampai bawah.
“Klub tenis, Yah.” Jawab Jingga malas seraya berjalan untuk duduk di sofa sebelah Ayah. Gadis itu masih kesal karena pembicaraan bersama Ayah dan Bunda tadi malam.
“Roknya apa nggak bisa sekalian lebih pendek lagi?” Sindir Ayah yang melihat rok yang Jingga kenakan terlalu terbuka.
Jingga mengamati penampilannya sendiri, dia merasa tidak ada yang salah. Dia cantik dengan pakaian itu.
“Gitu, ya? Ya udah, deh, nanti aku ganti yang lebih pendek.” Sahutnya santai.
Ayah menggeram tertahan sambil menggulung koran yang sang sedang dibacanya, lalu memukul kaki Jingga menggunakan Koran tersebut hingga membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
“Ayaaaaah.” Protes Jingga, gadis cantik itu menekuk wajahnya kesal.
“Kamu ini kayak di dunia ini kekurangan kain aja. Ganti, nggak, rokmya sekarang?” Titah Ayah dengan tatapan penuh teguran.
“NO.” Tolak Jingga sebal.
“Ganti sekarang Jingga! Atau Ayah kurung kamu di kamar sampai hari pernikahan tiba.” Ancam Ayah.
Jingga menatap Ayah kesal. “Ayah ngeselin banget, sih. Di Amerika ini udah biasa, malah yang lebih pendek sampai kelihatan underpants-nya juga ada, kok, yang peke.” Gerutunya kemudian.
Mendengar penuturan putrinya, nyaris saja Ayah tersedak. Terkejut karena kata-kata Jingga yang sembarangan. Dia menyesal sudah melepas Jingga ke Amerika dan jauh dari pengawasannya. Bukannya lebih baik, anak gadis satu-satunya ini malah menjadi liar.
“Dan kamu lupa, sekarang kamu ada di Indonesia? Di sini rawan Jingga. Ayah nggak mau, ya, gara-gara kamu pake rok kurang bahan ini nanti ada cowok jelalatan dan amit-amit sampai perkos –”
“STOP!” Sela Jingga cepat sambil menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. “Ayah, kok, jahat, sih, ngomong kayak gitu?”
Ayah menarik napas dalam-dalam guna mencari kesabaran dalam menghadapi anak gadisnya yang masih manja dan kekanak-kanakkan ini. “Bukannya jahat. Ayah cuma ngingetin kamu. Banyak, kok, kasus kayak gitu. Kamu itu udah 25 tahun, harusnya ngerti sendiri, dong, nggak usah Ayah atau Bunda bilangin lagi.”
__ADS_1
“Ada apa, sih, ribut-ribut?” Tegur suara lembut yang datang dari arah dapur membawa secangkir kopi dan camilan pagi. Wanita itu lantas duduk di samping Jingga.
“Ini, nih, Bun. Jingga pake –”
“Iya-iya aku ganti nanti.” Sambar Jingga menyela ucapan Ayah. Ayah hanya mencebikkan bibirnya seraya menghirup kopi yang dibawakan Bunda.
“Ayah bener, Sayang. Kami nggak mau terjadi hal buruk sama kamu. Ganti, ya? lagian rok selutut tetap cantik, kok.” Bujuk Bunda sambil mengusap-usap gemas dagu Jingga.
Jingga mendelik sewot, namun tetap menjaga nada suaranya agar tetap sopan. “Kan aku udah bilang iya. Tapi nanti. Aku mau minta tolong Langit beliin di distro dulu, soalnya nggak ada rok lain yang muat di rumah.”
Ayah dan Bunda mengangguk mengerti, tidak menyahuti penuturannya lagi.
“Kamu mau pergi sama Langit?” Tanya Bunda.
“Emang sama siapa lagi?” Jawab Jingga ketus, membuat Jingga mendengus geli. Sudah 25 tahun, tapi anak gadisnya masih terlihat menggemaskan di matanya.
“Judes banget jawabnya, nggak baik, lho, sama orang tua ngomongnya kayak gitu.” Tegur Bunda.
“Habisnya aku masih kesel sama kalian. Kenapa pake jodoh-jodohan segala, sih? Aku, kan, bisa nyari calon sendiri.” Ujar Jingga.
“Ya udah kalo bisa, mana sini bawa orangnya sekarang?” Tantang Ayah.
“Bisa.” Sahut Jingga berani. “Nanti Langit datang ke sini jemput aku. Aku mau minta dia nikahin aku. Dia pasti mau. Aku mending nikah sama dia daripada sama anak teman Ayah yang nggak tahu baik atau enggak.”
Ucapan Jingga sontak membuat mata Ayah dan Bunda membelalak lebar saat mendengarnya. Saking terkejutnya, Ayah bahkan memuntahkan kembali kopi yang telah dia seruput ke dalam gelasnya.
“Jangan becanda, Ji.” Ucap Bunda tak setuju meski tahu Jingga tidak serius dengan ucapannya. Jingga hanya mengedikan bahu tak peduli.
“Kamu jangan main-main, ya sama Ayah.” Timpal Ayah kesal
Tin . . .Tin . . . .
Suara klakson mobil di halaman rumah terdengar jelas di indra pendengaran mereka.
Senyum mengembang terbit dari kedua sudut bibir Jingga. “Ehh, calon suami aku datang.” Ucapnya jenaka sambil beranjak dari duduknya.
“JINGGA.” Teriak Ayah kesal.
“Apa?” Tantang Jingga sambil menahan tawanya.
“Kembali ke kamar. Ayah nggak izinin kamu keluar rumah hari ini.” Geram Ayah menunjuk ke arah tangga. Jingga hanya bergeming tak peduli.
“Kembali ke kamar atau raket tenis ini Ayah patahin jadi dua?” Ancam Ayah meraih tas raket milik Jingga.
“Ayah. . . .” Jingga melayangkan tatapan protes, namun Ayah tak mengindahkannya.
“Bunda . . .” Jingga beralih menatap bunda dengan wajah memelas, berharap Bunda bisa membantunya.
“Salah kamu becanda berlebihan dan bikin Ayah kesal.” Ujar bunda dengan tatapan meledek.
“Ya maaf aku becanda doang, Yah. Izinin aku pergi ke klub, ya?” Pinta Jingga memelas sambil memasang puppy eyesnya. Tapi sihir itu tidak mempan bagi Ayah.
“Enggak!”
“Tapi Langit udah jemput aku.” Jingga terus berusaha merayu Ayah.
“Ya nggak apa-apa. Langit biar nanti temenin Bunda ke super market buat belanja bulanan.” Ucap Ayah, lalu beranjak untuk kembali ke kamar, mengabaikan rengekkan manja Jingga di belakangnya.
********
“Kak….” Suara manja dan seulas senyuman seorang gadis menyambut Biru dalam mimpinya.
“Gue denger suaranya.” Biru tersenyum dalam tidurnya, menatap gadis yang tidak bisa dia lihat wajahnya itu di dalam mimpinya.
“Kak….” Sekali lagi gadis itu memanggilnya sambil melambaikan tangan, suaranya terdengar jelas di telinga Biru, meskipun Biru tahu ini hanya mimpi. Dia hendak berlari dan menghampiri gadis itu, namun langkahnya terhenti saat suara dering telepon membangunkannya.
Biru bangun dari tidurnya, dia duduk terdiam, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, berusaha untuk mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.
“Setelah sekian lama, ini pertama kali gue denger suaranya.” Gumamnya dalam hati.
“Iya, Al?” Sahut Biru begitu menempelkan ponsel di telinganya.
“Bi, gue udah share data tentang Jingga ke elo. Coba cek.” Ucap Albi.
__ADS_1
*******
To be continued. . . .