
********
“Eung, Ji.” Panggil Langit kemudian setelah meneguk minumannya.
“Hmm.” Jingga mendongakkan kepalan untuk mempertemukan pandangannya dengan Langit yang sejak tadi duduk berhadapan dengannya.
“Main jujur-jujuran, yuk.” Jingga hampir tersedak dengan pizza yang sedang dia kunyah di mulutnya saat mendengar ucapan Langit yang terdengar sangat konyol dan menggelikan ini.
Langit terkekeh melihat reaksi Jingga yang menurutnya sedikit berlebihan. Dengan kedua tangan, dia memegang erat botol air mineralnya, dia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Permainan apaan, tuh?” Jingga tak langsung menyetujui untuk ikut bermain.
“Ikutin aja. . . .” Ucap Langit tak mau berdebat.
Menghela napas panjang, Langit kemudian berpikir sebentar untuk mengingat-ingat semua moment yang sudah dia lalui bersama Jingga.
“Hmm. . ., jujur, sebenarnya aku sebel banget waktu kita masih TK, kamu suka manggil aku hey, atau lembek. Udah gitu tengil banget lagi manggilnya. Pas TK, kamu tuh, kayak preman tahu. Mana suka banget gangguin aku lagi.” Langit mendengus di akhir kalimatnya.
Jingga tersenyum, ingatannya melayang jauh pada saat dia dan Langit masih berada di taman kanak-kanak.
Langit dan Jingga kecil memiliki sifat yang berbanding terbalik. Jika Langit pendiam, sangat lemah, dan suka dirundung. Maka Jingga adalah anak perempuan yang aktif, sikapnya sedikit angkuh, kuat, dan akan membela siapa saja yang mendapat perlakuan tidak adil termasuk Langit.
Benar, saat masih berada di taman kanak-kanak, Langit adalah anak yang selalu dirundung teman-temannya karena sikapnya yang sangat pendiam, sulit bergaul, sehingga tidak memiliki teman, sebelum kemudian Jingga datang membela dan mengajaknya untuk berteman.
Bagi Jingga, Langit adalah teman pertama dan satu-satunya. Walaupun Jingga adalah anak yang aktif, Jingga tidak memiliki teman yang benar-benar dekat dengannya. Itu karena tubuhnya seolah mampu memproteksi dirinya mengenai siapa yang boleh mendekat atau dia dekati. Jingga memilih teman berdasarkan kata hatinya, dan Langit adalah orang yang boleh berteman dengannya, biarlah dia dikatakan sombong.
Langit yang suka menyendiri sebenarnya risih dengan kehadiran Jingga yang selalu mendekati dan mengganggunya setiap hari. Jingga selalu mengajaknya bicara dan bermain bersama, namun Langit selalu mengabaikannya. Sampai suatu saat, Jingga merasa gemas dan merebut buku gambar milik Langit dan memasukan ke dalam tas miliknya.
Hingga akhirnya Langit kesal dan meminta Jingga untuk mengembalikan buku gambarnya. Jingga tersenyum puas karena akhirnya Langit mau berbicara dengannya. Kemudian, Jingga dengan segala keusilannya mengatakan bahwa Langit harus mau berteman dan bermain dengannya kalau buku gambarnya ingin kembali. Sejak saat itulah mereka menjadi dekat.
“Haha, itu karena dulu kamu emang lembek. Mana ada anak cowok yang dibully, tapi diem aja. Udah gitu ya, kamu, tuh, pendiam banget kayak orang yang nggak bisa ngomong. Makannya aku suka gangguin kamu.” Jingga tergelak menimpali.
“Jujur, aku juga sebel sama kamu kalau kita jalan-jalan ke mall. Masa iya, aku yang ngikutin kamu dari satu toko ke toko lain, udah gitu bawa belanjaan kamu yang seabrek lagi. Di mana-mana tuh, biasanya cowok yang ngikutin cewek belanja, ini malah sebaliknya.” Tambah Jingga. Langit mendengus antara kesal dan geli.
“Itu, kan, hobi aku.” Langit membela diri. Jingga hanya memutar bola matanya malas. Heran saja sampai sekarang karena Langit memiliki hobi belanja berlebihan seperti itu.
“Yaa, yaa. Besok-besok aku nggak mau lagi diajak belanja ke mall sama kamu lagi.” Ujar Jingga.
“Ihh, kenapa?” Tanya Langit.
“Karena aku cuma jadi kuli yang tugasnya angkat-angkat barang kamu. Mending kalau dibayar.” Cibir Jingga. Langit hanya tertawa geli mendengarnya.
“Sekarang giliran kamu.” Ucap Jingga kemudian sambil melempar potongan toping sosis ke arah Langit.
“Aku, yaa. Jujur aku sebel banget, sampai sekarang kamu masih suka bilang aku kurus krempeng dan bocah ingusan.” Langit berpura-pura sebal.
“Iya deh, sekarang kamu udah bermetamorfosis jadi kupu-kupu cantik sampai semua perawat dan dokter cewek di rumah sakit berlomba-lomba buat nangkap kamu.” Balas Jingga dengan nada meledek.
Dengusan kembali keluar dari bibir kemerahan Langit. Tapi cowok itu tak mengatakan apa-apa, tak ada balasan untuk ucapan Jingga barusan.
“Tapi jujur, ya. Aku heran, kamu kok bisa ya jadi ganteng kayak oppa-oppa Korea gini? Kamu oplas, yaa?” Tambah kemudian.
“Ihh, enak aja.” Langit mendengus sebal sembari melempar saus pizza ke wajah Jingga. Gadis itu hanya terkekeh geli dan sigap menangkap saus pizza agar tak mengenai wajahnya.
“Sekarang giliran aku lagi, yaa. Soalnya kamu udah ngambil jatah.” Ujar Langit kemudian.
“Terserah kamu, deh.” Jingga terdengar mengalah tak rela.
“Ehem . . . .” Langit berdehem, dia menegakkan tubuhnya, tatapannya menatap lurus ke arah Jingga dengan wajah serius. “Jujur. Waktu aku pertama kali lihat kamu pake seragam SMA, kamu kelihatan cantik banget. Dan sejak saat itulah aku mulai melihat kamu sebagai seorang perempuan.”
Jingga tertegun. Ekspresi santai yang memenuhi wajahnya perlahan memudar, berganti dengan raut wajah datar, menatap lurus ke arah Langit.
“I think I’m in love with you. Aku suka sama kamu, Ji.” Ucap Langit menatap dalam mata jernih Jingga yang nampak kebingungan.
Jingga semakin membeku, kalimat yang tak pernah ingin dia dengar, akhirnya terlontar dari mulut Langit, menusuk ke dalam gendang telinganya, sangat jelas. Namun dia berharap ini adalah lelucon Langit.
“Lang, jangan becanda, deh. Nggak lucu, tahu.” Jingga berusaha mengembalikan suasana. Masih mengira Langit hanya sedang becanda, tapi tidak.
“Tapi, aku harap kamu nggak terbebani dengan apa yang aku katakan barusan. Aku ngungkapin ini biar aku bisa lega karena selama ini udah memendam perasaan aku sama kamu.” Langit menghela napas sejenak untuk menjeda kalimatnya. “Aku nggak akan nuntut kamu, kok, Ji. Aku cuma mau kamu tahu perasaan aku yang sebenarnya.”
Jingga kembali terdiam, seketika lidahnya menjadi kelu.
“Lang. . . .” Gadis itu menggeleng lemah, raut wajahnya antara bingung dan terkejut.
Langit mengulas senyum simpul, lalu kedua tangannya terulur meraih tangan Jingga dan menggenggamnya lembut.
“Aku nggak berharap apalagi minta kamu membalas perasaan aku. Aku cuma minta, kamu jangan benci sama aku setelah tahu semua ini, dan aku juga minta sama kamu jangan sampai ini mempengaruhi hubungan persahabatan kita. Ini nggak akan mengubah apapun.”
Cowok itu mengelus punggung tangan Jingga. Dia merasa kelegaan di dalam hatinya.
“Tetap jadi sahabat aku, hum?” Langit mengelus satu pipi Jingga. Gadis itu tampak terguncang, tubuhnya mematung dengan tatapan mata kosong.
“Kamu membuat aku terlihat seperti orang jahat.” Ucap Jingga lirih, membuat Langit mengernyit tak mengerti.
__ADS_1
Cowok itu lantas menarik tangannya dan berpindah untuk duduk di sebelah Jingga.
“Ji, kok, ngomong gitu?” Langit kembali meraih tangan Jingga untuk digenggamnya.
“Gimana bisa kamu memendam perasaan kamu selama ini? Gimana bisa kamu dengerin keluh kesah aku sama Biru? Selama ini aku terus berbagi perasaan bahagia dan sedih tentang dia tanpa memperhatikan perasaan kamu. Lang, kamu pasti terluka, kan?” Jingga menatap Langit dengan raut wajah sedih, sorot matanya penuh perasaan bersalah.
Dia tahu bagaimana rasanya, betapa sakitnya melihat orang yang kita cintai memberikan perhatian lebih pada orang lain.
“Tanpa aku sadari, aku pasti udah membuat kamu terluka. Gimana aku harus menghadapi kamu sekarang, Lang?” Suara Jingga tercekat seiring dengan air mata yang tumpah membasahi pipinya.
“Jingga–”
“Itu pasti nggak mudah. Melihat orang yang kamu sukai, tapi malah menyukai orang lain. Aku udah jahat banget, Lang, sama kamu.”
Langit dengan cepat merengkuh tubuh Jingga ke dalam dekapannya. Langit tidak tahu jika reaksi Jingga akan seperti ini. Dia pikir gadis itu akan marah, tapi malah berujung menyalahkan dirinya seperti ini. Seketika hal itu membuat Langit sedikit menyesal sudah mengungkapkan perasaannya.
“Enggak gitu, Ji. Nggak gitu. Tolong jangan nyalahin diri kamu sendiri.” Langit berucap lirih.
Gadis itu kembali terdiam, terisak pelan dalam pelukan Langit.
Langit mengusap-usap lembut rambut Jingga. “Banyak cara untuk mencintai seseorang, Ji. Kamu bener, hati aku mungkin terluka waktuu denger kamu suka sama orang lain, tapi aku lebih terluka lagi kalau orang yang aku cintai nggak bahagia.”
Sejenak Langit menghela napas panjang untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. “Jadi, karena aku mau kamu bahagia, makannya aku lebih memilih untuk selalu mendukung kamu, membiarkan kamu bahagia dengan cara dan pilihan kamu sendiri.”
Langit kembali meraup udara untuk mengisi rongga paru-parunya yang kosong. Tidak bisa memiliki Jingga bukan berarti harus berhenti menyayangi dan mencintainya. Mungkin itulah cara dia mencintai gadis itu.
Menurut Langit, biarlah cintanya untuk Jingga menjadi urusannya. Bagaimana perasaan Jingga padanya, itu urusan Jingga, Langit tak pernah berharap mendapatkan balasan atas perasaannya, karena kita tidak bisa memaksakan diri untuk bisa memiliki cinta yang kita inginkan.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang, Lang?” Jingga mendongakkan kepala untuk mempertemukan pandangannya dengan Langit.
Jingga tidak tahu ini terlalu terlambat atau tidak. Tapi seandainya Langit mengatakannya sebelum Biru datang, mungkin Jingga akan mempertimbangkan perasaannya dan dia tidak akan membuat Langit terluka seperti ini.
Langit orang baik. Dan jika Jingga tahu ini dari dulu, mungkin saja dia tidak akan terjebak dalam hubungan yang menyakitkan dengan Biru sekarang.
“Karena aku nggak mau kehilangan kamu.” Langit mencium puncak kepala Jingga dalam-dalam, seolah menyalurkan rasa cintanya selama ini di sana.
Jingga adalah seseorang yang sangat berarti dalam hidup Langit. Jingga yang selalu ada dalam suka dan dukanya. Jingga adalah orang yang membuatnya kuat. Jika bukan karena Jingga, mungkin Langit akan akan menjadi anak berkebutuhan khusus sekarang.
Langit ingat, enam belas tahun lalu saat usianya masih sepuluh tahun, dia melihat ibunya tertabrak truk dan meninggal di tempat saat menyebrang ketika akan menjemputnya pulang sekolah.
Segala tawanya hilang dalam sekejap, Langit kehilangan dunianya. Langit mengalami trauma, hingga dia kesulitan berbicara dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Ayah dan kakaknya Senja sangat bersedih melihat keadaan Langit, bahkan dokter pun tak mampu membuatnya sembuh.
Sejak hari itu, Jingga dengan pikiran optimisnya selalu datang ke rumah Langit dan mengajaknya berbicara setiap hari, terus mengganggunya hingga Langit terganggu marah padanya, dan akhirnya Langit kembali berbicara serta bisa menjalankan hidupnya dengan normal, mengikhlaskan ibunya pergi tanpa terus menyalahkan dirinya.
Tidak apa-apa, Langit siap menerima segala konsekuensi setelah dia mengungkapkan perasaannya.
“Terus sekarang? Pada akhirnya kamu ugkapin itu juga, kan?” Lirih Jingga dengan tatapan protes dan kecewa campur aduk. Kenapa Langit harus membiarkannya mendengar hal ini sekarang?
“Aku minta maaf. Maaf udah suka sama kamu.”
“Enggak.” Jingga menggeleng pelan. “Perasaan kamu nggak salah, karena kita nggak bisa milih buat jatuh cinta sama siapa.”
Jingga menatap dalam mata Langit. Pandangan mereka saling terkunci untuk beberapa saat.
“Tapi aku yang minta maaf, maaf karena nggak bisa membalas perasaan kamu.” Imbuh Jingga.
Langit tersenyum seraya menyeka air mata yang mengalir di pipi Jingga. “Aku, kan, udah bilang jangan terbebani. Kamu cukup tahu dan jangan dipikirin.”
“Kamu keterlaluan. Mana bisa kayak gitu?” Protes Jingga berkelit.
Langit kembali menenggelamkan kepala gadis itu ke dalam pelukannya. “Aku harap, hubungan kita nggak berubah setelah ini.”
********
Keesokan harinya, Jingga datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit. Hal itu semata-mata dia lakukan untuk menghindari Langit. Meski cowok itu mengatakan untuk jangan terbebani, tapi tetap saja Jingga butuh waktu untuk bisa menerima semua ini.
Dan di sinilah dia sekarang, duduk santai menikmati udara pagi di bawah pohon yang ada di taman samping rumah sakit, pandangannya menerawang kosong. Wajahnya tampak sayu dan lelah karena kurang tidur.
Permainan jujur-jujuran itu membuatnya terguncang. Kepalanya pusing dengan segala hal yang belum terselesaikan. Jingga ingin lepas dari Biru dan Jingga tidak tahu bagaimana harus menghadapi Langit sekarang.
Dalam pandangan yang menerawang kosong itu, nampak lingkaran hitam di bawah mata menyatukan gambaran antara rasa lelah dan kesedihan. Berulang kali dia menghembuskan napas berat, berharap semua beban di hatinya terbuang bersamaan dengan itu.
Jingga menoleh saat merasakan seseorang menempelkan sebotol yoghurt di pipinya. Jingga mengulurkan tangan untuk menerima sebotol yoghurt tersebut. Tapi sejurus kemudian, dia kembali memalingkan pandangannya ke arah lain, tak ingin berlama-lama bertatapan dengan Biru.
“Ternyata kamu di sini. Aku tadi jemput kamu, tapi kamu nggak ada.” Ujar Biru setelah berhasil mengambil tempat duduk di sebelah Jingga. “Aku juga telepon kamu dari kemarin malam, tapi kamu nggak angkat, malah nggak aktif.”
Jingga melirik sekilas ke arah Biru. Dia memang sengaja memasang mode diam untuk panggilan dari Biru setelah apa yang terjadi tadi malam.
Menghela napas dalam, Biru lantas meraih satu tangan Jingga untuk digenggamnya. “Aku minta maaf tadi malam nggak dat–”
“Udah nggak apa-apa. Aku nggak mau bahas itu.” Sela Jingga sedikit menyentak tangan Biru agar terlepas dari genggamannya.
Ucapan gadis itu terdengar dingin. Biru tak pernah melihat Jingga seperti ini, meski Jingga acuh saat pertama kali mereka bertemu di makan malam keluarga.
__ADS_1
“Kamu marah?” Biru meraih bahu Jingga agar gadis itu menghadapnya.
Jingga terdiam sembari menarik sedikit salah satu sudut bibirnya. Lagi, Biru selalu saja tak menyadari kesalahannya.
“Ji, aku bener-bener lupa. Maaf aku datang terlam–” Biru mencoba menjelaskan, tapi gadis itu kembali menyelanya.
“Aku bilang nggak apa-apa. Lagian Luna lebih penting.”
Biru tertegun, mendadak hatinya mencelos dan merasa bersalah sekaligus.
“Ji –”
“Harusnya kamu bilang kalau emang nggak bisa datang sebelumnya. Aku tahu, itu cuma makan malam. Tapi kamu tahu, nggak, aku tuh seneng banget waktu kamu ngajakin itu?”
“Oke aku salah. Kita bisa ganti waktunya malam ini, gimana?” Bujuk Biru enteng.
Jingga mendesis sambil tersenyum miris, dia menggeleng pelan, lalu berucap. “Udah, Kak, cukup. Tadi malam adalah kesempatan terakhir yang bisa aku kasih ke kamu. Udah cukup aku jadi orang ketiga di antara kamu sama Luna.”
“Ji, kamu ngomong apaan, sih?”
Jingga mendengus kasar. Cowok bergelar Professor di sebelahnya ini bodoh atau apa?
“Aku lihat kamu sama Luna di taman tadi malam.” Jelas Jingga.
Cowok itu mengerjap, mulai mengerti kenapa Jingga semarah ini. “Aku cuma nemenin dia. Kamu jangan salah paham.”
“Dan kamu pelukan sama dia.” Sambar Jingga.
Cowok itu bungkam, tak ada perlawanan untuk sementara.
“Udah lah, Kak. Aku capek sama kamu.” Jingga lantas beranjak dari duduknya, tapi dengan gerakan cepat Biru menahan lengannya.
“Jangan marah cuma gara-gara hal kecil kayak gini. Kamu jelas tahu siapa yang akan aku nikahin. Dan untuk makan malam, aku bisa ganti itu nanti malam, atau setiap hari kita makan malam bareng kalau kamu mau.” Tutur cowok itu dingin. Pun dengan tatapannya.
“Seenteng itu, ya, kamu ngomong?” Sahut Jingga menatap Biru kecewa. Dia lantas kembali menyentak tangan Biru, kemudian melenggang pergi meninggalkan cowok itu dengan perasaan yang jauh lebih terluka dari sebelumnya.
Biru benar-benar telah memberikan kado ulang tahun paling buruk untuknya. Seharusnya Jingga berbahagia hari ini, tapi sepertinya itu belum berpihak padanya.
Rasanya dia mendadak mual membayangkan akan segera menikah dengan orang seperti Biru yang tidak memiliki ketegasan, sangat egois, dan juga tak berperasaan. Walaupun dia masih mencintai Biru, tapi dia benar-benar muak dengan sikapnya.
Biru menyugar rambutnya frustrasi. Dia benar-benar tidak terbiasa dengan perdebatan seperti ini. Biru tidak biasa membujuk seorang gadis.
********
Sepertinya memang hari ini adalah hari yang buruk bagi Jingga. Lepas dari Biru, sekarang malah berduaan di dalam lift bersama Luna. Jingga heran, kenapa serigala berbulu domba ini sudah masuk kerja? Bukannya kemarin Biru menyarankan untuk beristirahat dulu?
“Apa makan malam kalian menyenangkan, Dokter Jingga?”
Jelas saja, kesempatan berdua seperti ini digunakan Luna untuk langsung menyerang Jingga.
“Ups, aku lupa. Maaf, ya, kayaknya tadi malam Biru lebih milih buat nemenin aku daripada makan malam sama kamu. Terus kayaknya dia juga lupa, deh, punya janji sama kamu.” Tambah Luna.
Jingga menggeram dengan kedua tangan terkepal di balik saku jasnya. Benar-benar ular licik.
“Oh, ya? Terus?” Jingga berusaha menanggapinya dengan santai.
“Jingga, seharusnya kamu, tuh, bisa membuka mata kalau Biru emang udah nggak cinta sama kamu.” Ujar Luna dengan seringai licik.
“Emang kenapa kalau Biru udah nggak cinta sama aku?” Balas Jingga menantang, kali ini Luna yang mulai dibuat kesal.
“Ya karena Biru udah nggak cinta, jadi aku mau kamu lepasin dia.” Jawab Luna.
Jingga berdecak geli, salah satu sudut bibirnya terangkat hingga membentuk senyum meledek. “Siapa kamu nyuruh-nyuruh aku ngelakuin itu?”
“Kamu membebani dia, jangan membiarkan dia terperangkap dengan obsesi kamu.” Ujar Luna geram.
“Kalau kamu yakin Biru terbebani, coba aja bilangin sama dia buat lepasin aku.” Tantang Jingga lagi seraya menyunggingkan seringai tipis.
Sial. Niat awal Luna untuk membuat Jingga cemburu dan tersulut emosi, malah jadi dirinya sendiri yang kebakaran jenggot.
“Dan bukannya itu kamu, ya, yang terobsesi sama Biru? See, bahkan kamu terus minta aku buat lepasin dia. Padahal jelas kamu bilang kalau Biru udah nggak cinta sama aku.” Tambah Jingga menatap gadis itu puas.
Luna menggeram, dia mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. Ingin sekali dia mencakar wajah cantik Jingga saat ini juga.
“Luna, denger ini. Aku ngasih tahu kamu sebagai manusia yang baik, jangan biarkan obsesi kamu menghancurkan apa yang sudah kamu miliki saat ini. Nggak menutup kemungkinan, kalau kamu akan kehilangan orang yang disayangi hanya karena obsesi kamu.” Ucap Jingga tulus, pun tatapannya.
Sejenak Jingga mengambil napas untuk kemudian melanjutkan ucapannya.
“Emang nggak salah mencintai seseorang. Tapi, nggak selamanya kita harus memaksakan diri untuk bisa memiliki cinta yang kita inginkan.” Lanjut Jingga mengakhiri percakapan mereka. Dia lantas memilih untuk keluar dari lift, meski belum sampai di lantai tujuannya.
Jingga Meninggalkan Luna yang menatap kepergiannya dengan tajam dan wajah yang sudah memerah padam.
********
__ADS_1
To be continued. . . . .