
********
“Besok?” Albi, Bian, dan Bisma serempak berseru tak percaya diiringi pupil mata melebar. Sementara Luna, dia sedang berusaha mengendalikan keterkejutannya setelah Biru mengatakan bahwa dia dan Jingga akan bertunangan hari Sabtu sore, esok hari.
“Kenapa mendadak gini, Bi? Kalian kecelakaan?”
Biru mendengus sebal saat mendengar celetukan yang keluar dari mulut Bisma tanpa bisa disaring.
Teman-teman Biru memang sudah mengetahui jika dia dijodohkan dengan Jingga. Tapi, mereka belum tahu perihal tunangan yang akan dilaksanakan secepat ini. Jelas saja mereka terkejut, terlebih Biru memberitahu mereka satu hari sebelum acara tunangan akan dilaksanakan.
“Ya elah, Bis. Nggak mungkin kecelakaan. Biru mana berani, nyium cewek aja dia nggak pernah kayaknya. Dia boleh paling ganteng, tapi dia yang paling polos di antara kita soal gituan.” Sahut Bian dengan tawa meledek. Biru berdecak kesal melihatnya. Benar-benar menyebalkan sekali teman-temannya ini.
“Biru nggak kayak lo, Bis, yang berani-beraninya uji coba sebelum nikah. Eh, tahu-tahunya malah berhasil.” Timpal Albi yang kini ditujukan pada Bisma, mengingat dia terburu-buru menikah karena kecelakaan. Sontak, hal tersebut langsung mengundang gelak tawa Bian. Begitupun dengan Biru, dia yang tadinya merengut kini ikut tergelak puas, keadaan berbalik begitu saja.
Hanya satu orang yang tak menikmati candaan mereka, Luna. Sejak tadi gadis itu hanya bergeming dengan sorot mata sendu. Dunianya seakan berhenti saat mendengar kabar itu.
Luna teringat dulu Biru pernah mengatakan akan berusaha membatalkan perjodohannya. Tapi kenapa cowok itu sekarang terlihat tidak mempermasalahkanya setelah mengetahui gadis yang dijodohkan dengannya adalah Jingga? Dengan sekuat mungkin, Luna menahan air matanya yang sudah menggenang agar tak terjatuh.
“Kampret emang kalian.” Kesal Bisma seraya melemparkan kentang goreng ke wajah Albi yang dengan sigap ditangkap, lalu dimakannya.
“Lagian gue heran, kita itu sibuk banget di rumah sakit, makan aja kadang nggak sempet. Tapi kok elo bisa, sih, sempet-sempetnya ngelakuin uji coba?” Ujar Albi masih dengan tawa menyebalkannya. Bahkan sekarang sudut matanya terlihat berair.
“Ya di sempet-sempetin, lah.” Jawab Bisma nyeleneh, namun masih tak menghilangkan nada kesal pada suaranya.
“Haha, udah, deh. Kalian lihat tuh, kepalanya sebentar lagi keluar tanduk.” Timpal Bian seraya menunjuk Bisma yang wajahnya sudah memerah menahan kesal karena terus ditertawakan.
“Penasaran gue lo ehem-ehemnya di mana.” Albi tak bisa berhenti meledek temannya.
“Di semak-semak. Diem lo kampret.” Kesal Bisma seraya menoyor kepala Albi.
“Anjrit, kayak nggak ada modal aja lo.” Sahut Albi sambil memegangi perutnya, geli karena terus tertawa.
Gelak tawakembali meledak meski wajah Bisma sudah mengeras memperingati ketiga temannya untuk berhenti.
“Gue pulang duluan, ya.” Biru yang pertama mengakhiri, dia beranjak dengan sisa-sisa tawa masih terdengar dari mulutnya. “Gue harap kalian besok bisa datang kalau ada waktu. Ajak juga istri lo juga, Bis.” Tambahnya sembari menepuk pelan pundak Bisma.
“Ya kita pasti datang, lah. Tapi, lo datang juga kan, Bi?” Bian memang teman Biru yang paling konyol. Bagaimana mungkin Biru tidak datang ke acara tunangannya sendiri?
Bian mengerlingkan mata. “Yaa siapa tahu aja lo berubah pikiran gitu. Gue siap, kok, gantiin lo di acara penyematan cincin nanti.”
“Sialan! Perlu gue benerin saraf-saraf di kepala lo biar agak waras dikit?” Biru mendelik sebal. Bian mengatupkan mulut begitu Biru menatapnya galak.
Selang beberapa saat, Biru akhirnya beranjak pergi meninggalkan teman-temannya di cafe itu.
Setibanya di parkiran, Biru yang hendak membuka pintu mobilnya terurungkan tatkala mendengar Luna berteriak memanggil namanya. Biru kemudian menoleh ke arahnya dengan kening yang berkerut.
“Aku boleh pulang bareng, nggak?” Tanya Luna ragu, sorot matanya nampak penuh harap. Tak banyak berpikir, Biru mengiyakan dengan anggukan kepalanya. Sontak hal ini membuat senyum Luna mengembang seketika. Dia langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil Biru.
“Eumm. Kamu yakin, Bi, mau tunangan sama Jingga?” Tanya Luna tiba-tiba memecahkan keheningan yang sejak tadi menemani perjalanan mereka. Perhatian Biru yang semula fokus ke arah jalanan kini teralihkan untuk sekilas melihat Luna.
“Maksudnya?” Alis Biru terangkat tak mengerti.
“Maksud aku, bukannya dulu kamu menentang perjodohan ini? Kamu bilang bakal cari cara buat batalin perjodohannya.” Tutur Luna.
“Aku nggak bisa nentang permintaan Mama sama Papa pada akhirnya. Lagian yang dijodohin sama aku, kan, Jingga. Jadi aku pikir nggak apa-apa.”
Raut wajah Luna berubah masam saat mendengar jawaban yang tak dia harapkan.
“Kenapa?” Pertanyaan tersebut refleks terlontar begitu saja dari mulut Luna. Biru sekali lagi menoleh ke arahnya dengan kening berkerut bingung.
“Eung . . , maksud aku, kemarin-kemarin kamu pernah bilang nggak ada perasaan apa-apa sama Jingga.” Luna sedikit gelagapan. Biru tak langsung menyahutinya, dia masih menunggu Luna untuk menyelesaikan penuturannya.
“Atau sekarang udah beda? Kamu cinta sama dia, Bi? Mungkin dulu iya sebelum kamu hilang ingatan, tapi sekarang? Kamu yakin sama perasaan kamu, Bi? Kamu yakin sama keputusan kamu buat nerima perjodohan ini?”
Biru menghembuskan napasnya malas, matanya kembali fokus ke jalanan. Tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Luna, menurutnya itu terlalu pribadi.
Luna meremas jari tangannya yang basah, dia menggigit bibirnya sambil sesekali melirik ke arah Biru yang tak kunjung memberinya jawaban. Luna merasa gugup. Takut-takut Biru marah karena pertanyaannya terlalu jauh. Melihat diamnya Biru, Luna menyadari kalau laki-laki itu tidak ingin menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
“Emm . ., apa kamu yakin kalau Jingga nggak lagi bohong? Aku udah pernah bilang, kan, mungkin aja dia ngarang cerita pernah pacaran sama kamu?” Dengan ragu, Luna melemparkan pertanyaan yang langsung mendapatkan tatapan tak suka dari Biru.
“Bisa aja dia cuma salah satu cewek yang ngejar kamu. Dia bisa aja manfaatin keadaan ini karena suka sama kamu, kan? Mungkin bisa juga kalau dulu kalian cuma teman biasa.” Nada bicaranya terdengar memprovokasi.
Biru mendengus, untuk yang kedua kalinya dia mendengar Luna mengatakan hal yang sama.
“Jingga nggak kayak gitu. Tudingan kamu nggak manusiawi banget, Lun. Aku lebih tahu Jingga daripada kamu.” Sahut Biru dengan nada dingin, raut wajahnya berubah masam.
“Maaf.” Cicit Luna dengan raut wajah bersalah. Dia merasa kecewa dengan jawaban yang didengarnya. Dia lantas menundukkan kepala untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Biru memilih fokus mengendarai mobilnya, menembus kegelapan malam di jalanan yang mulai melenggang.
********
Ruang bagian tengah rumah orang tua Jingga sudah didekorasi sedemikian rupa dengan nuansa Eropa klasik. Perpaduan warna putih dan gold sebagai backdrop, serta rangkaian bunga di sisi-sisinya menambah kesan elegan dan mewah dekorasi tersebut.
Acara tunangan Biru dan Jingga terkesan tertutup, hanya dihadiri keluarga dan kerabat terdekat. Tentu saja ini atas permintaan Biru dan Jingga yang tidak ingin hubungan mereka terekspose begitu saja, Jingga akan mendapatkan perlakuan berbeda dari rekan satu timnya di rumah sakit jika saja mereka mengetahui bahwa Jingga adalah calon menantu pemilik RH Hospital. Itu akan sangat tidak nyaman.
Semua tamu undangan sudah datang dan duduk di kursi yang telah disediakan. Teman-teman Biru juga sudah hadir dan duduk manis di sana bersama Langit yang tangannya masih dibalut gips.
Luna juga menghadiri pesta itu ditemani ibunya atas permintaan orang tua Biru, mengingat ibunya Luna adalah pengasuh Biru yang sudah mereka anggap keluarga. Luna tampak patah hati, namun sebisa mungkin dia memperlihatkan dirinya bahwa dia baik-baik saja.
Senyum kebahagiaan tak menyurut dari bibir kedua orang tua Biru dan Jingga yang kini tengah duduk di kursi khusus. Terlebih mereka telah mengetahui bahwa anak-anaknya sudah memiliki hubungan spesial sejak dulu.
Biru juga tampak tenang duduk di dekat orang tuanya. Cowok itu terlihat mempesona dengan kemeja batik berwarna nude yang senada dengan kebaya yang akan dikenakan Jingga nanti.
Ngomong-ngomong tentang Jingga, ke mana anak itu sekarang? Orang tuanya kini celingukkan menunggu Jingga yang tak kunjung datang. Bahkan MC sudah memberitahu mereka jika acara akan segera dimulai.
“Senja, adik kamu di mana?” Bunda berbisik panik pada Senja yang duduk di belakangnya. Karena seingatnya, Senjalah yang terakhir memasukki kamar Jingga dan menyuruhnya untuk bersiap-siap.
Sejurus kemudian, seorang petugas Make Up Artist menghampiri dan memberitahu Senja bahwa Jingga tak kunjung menyahut dan keluar dari kamarnya saat dia mengetuk pintu untuk membantu mendandani Jingga.
Mata Senja membelalak sempurna. Tampak raut khawatir menghiasi wajahnya. Ada apa ini? Seingatnya tadi dia sudah membangunkan Jingga dan gadis itu sudah terbangun. Apa gadis itu kabur? Atau pingsan di kamar mandi?
“Jingga mana?” Tanya Tante Lisa dengan wajah yang mulai cemas. Bunda yang ditanya hanya menggeleng pelan. Senja kemudian meminta Langit untuk menyusul Jingga ke kamarnya. Mendengar itu, Biru mengusulkan dirinya untuk ikut dengan Langit menyusul Jingga ke kamarnya.
********
“Ji, kamu nggak mati, kan?” Tanya Langit seraya menggedor-gedor pintu. Biru yang mendengarnya langsung menghunuskan tatapan tajam.
“Siapa tahu aja dia tiba-tiba bunuh diri gegara nggak mau tunangan sama lo.” Langit berucap sewot.
“Jangan sembarangan lo.” Ucap Biru kesal, namun dengan nada dingin. Langit hanya mengedik.
Tak kunjung mendapat sahutan, akhirnya mereka langsung membuka pintu kamar Jingga yang sebenarnya tak terkunci. Rahang mereka menganga saat mendapati Jingga tidur tengkurap dengan handuk tersampir di pundaknya.
Semua orang menunggunya cemas, tapi gadis itu malah tertidur?
Beberapa saat yang lalu setelah Senja membangunkan dan memintanya untuk bersiap-siap, Jingga memang sudah bangun dan langsung menyambar handuk. Tapi, dia memilih untuk tidur kembali saat dirasa masih ada waktu. Tubuhhnya benar-benar lelah karena hari itu dia tidak mengambil libur dan memilih untuk mengoperasi pasiennya.
“Ya ampun, nih anak. ” Langit berdecak sambil geleng-geleng tak percaya. Bagaimana bisa Jingga tertidur, sementara ada acara penting menunggunya?
Biru dengan raut wajah kesal hendak membangunannya. Namun, dengan cepat Langit menahan lengannya.
“Jangan kasar-kasar lo.” Ucap Langit menatap Biru penuh peringatan.
Biru mendelik sebal. “Gue tahu apa yang harus gue lakuin.”
“Lo mending keluar aja sana. Biar gue sendiri yang bangunin dia. Dia calon istri gue.” Tambah Biru penuh penekanan, tak suka melihat keberadaan Langit di kamar Jingga.
“Nggak ada yang nyangkal itu. Lo nggak usah pamer juga, kali.” Sahut Langit mendengus sebal, lalu beranjak dari kamar Jingga. “Awas lo jangan apa-apain Jingga.” Imbuhnya kembali memberi peringatan sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kamar Jingga.
“Jii, bangun.” Biru menggoyangkan tubuh Jingga hati-hati. Tapi gadis itu hanya melenguh.
“Jingga.”
Biru mengusap-usap lembut kepala Jingga, tapi gadis itu malah merengek dan menepis tangannya.
__ADS_1
“Apa, sih, Kak Bintang? Udah, deh, jangan ganggu aku.” Jingga meracau tanpa membuka matanya.
“Bangun sekarang atau aku cium kamu sepuluh kali.” Ancam Biru gregetan.
Gadis itu tergelak pelan. “Haha, kamu kayak Biru aja tahu, nggak?” Lalu menutup kepalanya menggunakan handuk.
“Aku emang Biru, cepetan bangun.”
Mendengar itu, Jingga mendongakkan kepala sambil mengerjap-erjapkan mata, detik berikutnya terbuka sempurna.
“Kamu? Ngapain di sini?” Tanya Jingga dan dengan segera beranjak duduk di atas kasur.
Biru berdecak tak percaya dengan reaksi santai gadis itu, sementara semua orang di ruang bawah sedang menunggunya dengan panik.
“Acaranya udah mau dimulai. Cepetan siap-siap.”
Jingga terdiam sebentar sambil mengerjap, mengingat-ingat acara apa yang Biru maksud, lalu tak lama bibirnya ber-ohh ria.
“Emang beneran jadi?” Tanya Jingga dengan wajah polos, membuat Biru geram dan gemas sendiri.
“Menurut kamu, ngapain aku ada di sini sekarang?” Biru menatap tajam Jingga hingga membuatnya sempat menunduk takut.
“Aku nggak mau. Bilangin aja sana tunangannya nggak jadi.” Ucap Jingga dengan santai kembali tidur, lalu menarik selimut hingga seluruh tubuhnya tertutupi.
Biru mendesah frustrasi, lalu menyentak selimut Jingga kasar, merasa kesabarannya sudah mulai menipis. “Bangun atau aku gendong ke kamar mandi sekarang juga!”
“Kamu nggak akan ngelakuin it – ”
Jingga membelalak tidak menyangka jika Biru akan benar-benar menggendongnya.“T-tunggu, kamu beneran mau gendong aku ke sana?”
“As you wish.”
“Oke-oke, aku mau siap-siap sekarang. Kamu nggak usah gen – ya ampun, Kak.”
Tak mempedulikan ocehan Jingga, Biru lantas mengangkat tubuh gadis itu, menyimpannya di pundak, dan membawanya ke kamar mandi. Dia memperlakukannya seperti karung beras, tak mengindahkan teriakan Jingga yang meronta meminta untuk diturunkan.
Sesampainya di kamar mandi, Biru mendudukkan Jingga di lantai kamar mandi, tepat di bawah shower.
Sambil menahan tubuh Jingga yang berusaha melarikan diri, Biru kemudian menyalakan shower, membiarkan air yang keluar dari sana mengguyur tubuh gadis itu. Ada kepuasan tersendiri saat Biru melihatnya berteriak terkejut karena air dingin menyentuh kulitnya tanpa aba-aba.
“Aaakhhh, dingin.” Gadis itu berdiri sambil bersedekap memeluk tubuhnya sendiri.
“BIRU .” Pekiknya dengan raut wajah yang penuh protes.
Sementara Biru yang sudah mundur beberapa langkah hanya mengedik tak peduli.
“Lima menit nggak keluar, aku sendiri yang bakal mandiin kamu.” Ancam Biru tegas.
“Mana bisa . . . .” Protes Jingga, memangnya dia kadal yang mandinya cuma nyelup doang?
Biru memejamkan matanya erat guna menahan kesabaran menghadapi Jingga yang selalu mendebatnya. “Kamu bener-bener mau aku mandiin, ya?”
“Oke-oke, lima menit, call.” Jingga menjulurkan tangannya ke depan sebagai tameng, blingsatan melihat Biru yang siap melangkah maju.
“Ya udah cepetan!” Titah Biru, lalu beranjak untuk keluar dari kamar mandi. Tapi baru beberapa langkah, dia kembali berbalik.
Untuk beberapa detik Biru menatap Jingga dengan tatapan yang tak bisa diartikan, Jingga sendiri hanya balas menatap cowok itu dengan wajah bingung.
“Ngomong-ngomong, itu lumayan juga.” Ucap Biru tersenyum menyeringai sambil menunjuk bagian tubuh Jingga.
Jingga yang menyadari langsung menyilangkan tangan di depan dadanya. Tampak kain berenda warna hitam tercetak jelas di balik kaos putih miliknya yang menjadi transparan karena terkena air.
“BIRU. . . .” Teriaknya kesal.
Sementara Biru yang sudah kembali bergerak untuk keluar hanya mengedik santai seraya melambaikan tangannya.
*********
__ADS_1
To be continued . . . .