Still In Love

Still In Love
EP. 28. Give Up


__ADS_3

********


“Bisa kita jalan-jalan sebentar?”


Jingga terperanjat kaget mendapati Biru sudah berdiri di hadapannya begitu dia keluar dari kamar mandi. Gadis itu mengelus dada.


“Tapi makan malam –”


“Udah selesai. Mereka lagi ngobrol di ruang tamu sekarang.” Sambar Biru cepat.


Jingga mengerjap, lalu meliaht jam tangan pintar di pergelangan tangannya. Ternyata hampir 30 menit dia berada di dalam kamar mandi.


“Maaf lama. Perut aku kurang enak.” Jingga berdalih.


“So?” Tanya Biru sekali lagi.


Gadis itu hanya mengangguk, lalu berjalan di depan Biru melewati lorong dapur menuju pintu belakang dan berbelok hingga mereka sampai di taman belakang rumah yang cukup luas. Cowok itu dengan santai mengekorinya.


“Jadi, kamu kenal aku?” Tanya Biru seraya menyeimbangkan langkahnya dengan langkah kaki Jingga yang berjalan sangat lambat di depannya.


Jingga berhenti, membuat Biru yang berjalan di belakangnya nyaris saja menubruk punggung gadis itu.


Dari jarak sedekat itu Biru bisa mencium aroma parfum Jingga yang manis, strawberry. Entah memang banyak aroma seperti ini atau de ja vu, Biru benar-benar tidak asing dengan aroma ini. Rasanya menenangkan.


“Sedikit, cuma tahu.” Jawab Jingga tanpa menoleh, nada suara gadis itu terdengar datar. Lalu kembali melangkah menuju jembatan kecil dengan kolam ikan hias yang asri di bawahnya.


“Sejauh mana?” Tanya Biru memancing. Dia masih curiga jika Jingga tahu lebih banyak tentang dirinya.


“Aku udah jelasin itu di ruang makan tadi.” Jawab Jingga malas seraya mendudukkan dirinya di pinggir jembatan, Biru mengikutinya.


Jujur, saat ini Jingga butuh waktu sendiri untuk mencerna dan menerima semua kenyataan yang baru dia dapatkan. Ini terlalu mengejutkan untuknya.


“Bisa bantu aku buat ingat itu?” Pinta Biru mencoba bersabar akan sikap dingin Jingga.


“Itu nggak terlalu penting.” Ucap Jinggga malas.


Menghembuskan napas kasar, Biru tak menyahuti ucapan Jingga hingga menimbulkan keheningan. Hanya suara gemericik air kolam yang memecah keheningan di sana.


“Kak. . . .” Panggil Jingga lirih, nyaris seperti berbisik. “Kak Biru. . . .”


Gadis itu menatap Biru yang juga sedang menatapnya. Biru merasa tidak asing lagi dengan panggilan itu.


“Aku mau kita batalin perjodohannya dari sekarang sebelum semakin jauh.” Tutur Jingga.


Biru memalingkan pandangannya tak suka, beralih menatap ikan hias yang bergerombol berenang ke sana-ke mari.


“Kenapa? Karena kamu udah punya pacar?” Tanyanya.


“Hmm.” Angguk Jingga berbohong.


Mungkin keadannya akan berbeda jika itu dulu. Jingga akan senang mendapatkan Biru sebagai calon suaminya jika mereka masih bersama dan saling mencintai.


Meski Jingga masih mencintai Biru hingga saat ini. Tapi mungkin tidak dengan Biru. Jingga merasa jika saat ini dia sudah menghilang dari hati Biru.


Biru tidak lagi akan memberinya cinta yang besar seperti dulu.


“Kalau gitu kamu bisa putusin dia.” Ucap Biru enteng.


Jingga mendelik tak suka. Ternyata kebiasaan suka memerintah cowok itu tidak hilang.


“Mana bisa kayak gitu.” Protes Jingga dengan wajah merengut sebal.


Biru mengedikkan bahu tak peduli, lalu menatap Jingga penuh intimidasi. “Kamu emang harus ngelakuin itu karena perjodohan ini akan tetap berjalan.”


Jingga mendengus. Seharusnya dia senang mendengar ini alih-alih merasa geram. Perasaan Jingga benar-benar campur aduk saat ini.


“Aku nggak bisa terima ini.” Tegas Jingga sekali lagi.


“See if I care.” Sahut Biru acuh. “Kalau kamu mau batalin. Berusaha aja sendiri.” Tantangnya kemudian sambil beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan Jingga yang memandangnya dengan tatapan protes.


********

__ADS_1


Sudah tiga hari Jingga mengurung diri di dalam kamar. Jingga duduk di lantai sambil memeluk lututnya dan menangis. Dia ingin berhenti, namun air matanya lolos begitu saja tanpa seizinnya.


Jingga sedih mendapati kenyataan seperti ini. Biru memang kembali padanya, tapi tidak dengan hati dan cintanya.


Orang tua Jingga sangat khawatir melihat sikap putrinya yang tiba-tiba mengurung diri seperti itu, bahkan Jingga tidak turun untuk makan. Rasa bersalahpun hinggap di hati mereka, mengira jika Jingga seperti ini karena mereka memaksanya untuk menikah dengan Biru.


“Lang, tolong bujuk Jingga, ya.” Pinta Bunda penuh harap, begitu pun dengan tatapan Ayah. Mereka berharap Langit dapat membujuk Jingga untuk keluar dari kamarnya.


Langit pergi ke kamar Jingga, dia mengetuk-ngetuk pintu serta berteriak memanggil namanya agar Jingga lekas keluar. Tapi Jingga tak kunjung membukakan pintu.


“Ji, aku bakal terus teriak sampai kamu keganggu.” Ancam Langit berteriak, hingga akhirnya gadis itu membuka pintu.


Penampilan Jingga sedikit berantakan dengan masih memakai dress yang dikenakannya saat jamuan makan malam waktu itu, dia seperti Zombie. Tubuhnya tampak kering dan layu bak bunga yang tak tersiram air berhari-hari, wajahnya pucat, dan matanya sembab. Ini benar-benar bukan style Jingga.


“Aku kira kamu udah mati.” Celetuk Langit santai.


Jingga mendengus geli dan kesal seklaigus. Langit selalu memiliki cara tersendiri untuk menghiburnya. Senyumnya lantas tersungging sangat tipis.


Langit mengikuti langkah Jingga yang kembali masuk ke kamar dan merebahkan dirinya di tempat tidur untuk kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala.


“What’s wrong, Ji?” Tanya Langit seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


Jingga menggelengkan kepala dari balik selimutnya, sesekali menghela napas lelah, gadis itu meringkuk sambil menggigiti ujung kukunya.


“Terus kenapa? Kalau ada masalah tuh cerita, kan biasanya juga gitu.” Tutur Langit yang mulai kesal.


“Jiii. . . .” Langit menarik selimut Jingga hingga menampakkan kepalanya. Jingga berbalik menatap Langit, wajahnya sembab, hidungnya memerah.


Langit merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Gadis itu mendengus kecil, lalu beranjak duduk dan berhambur ke dalam pelukan Langit.


“Aku harus gimana, Lang?” Tanya Jingga seiring dengan tubuhnya yang bergetar disertai isakan kecil keluar dari bibirnya.


“What’s wrong?” Langit balik bertanya sambil mengusap belakang kepala dan punggung Jingga bergantian.


Jingga melingkarkan tangannya di perut Langit untuk mengeratkan pelukan itu. Dia menangis semakin keras dan membenamkan wajahnya di dada bidang Langit. Sementara Langit sendiri sabar menunggu gadis itu menyelesaikan tangisnya.


Setelah beberapa menit berlalu, Jingga menarik diri. Langit mengusap sisa air mata di pipi Jingga.


“Udah, ya.” Bujuk Langit.


“So, mau cerita?” Tanya Langit hati-hati. Gadis itu menggeleng.


Langit mendengus kecil


Menghembuskan napas berat, sejenak Langit terdiam untuk berpikir.


“Kalau gitu, gimana kalau kita naik gunung dan camping di sana?” Tawar Langit, mengingat mereka sering melakukan itu. Pergi ke gunung atau pantai saat suasana hati sedang tidak baik, dan mereka bisa bercerita tentang banyak hal di sana.


“Hitung-hitung kita liburan sebelum masuk kerja. Gimana, Ji.” Tambah Langit sambil menaik turunkan alisnya.


“Ke mana?” Tanya Jingga tertarik. Langit menarik sudut bibirnya senang.


“Hmm, Burangrang gimana?” Tanya Langit meminta persetujuan.


“Call.” Sahut Jingga tanpa berpikir lama. Gadis itu menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya yang kering dan pucat.


“Ya udah sana siap-siap.” Titah Langit sambil mengedikkan dagu ke arah kamar mandi.


“Kita berangkat sekarang?” Tanya Jingga sambil mengernyitkan keningnya.


“Ya kali, Ji. Aku masih waras untuk nggak naik gunung tanpa persiapan.” Balas Langit.


“Terus?” Tanya Jingga lagi dengan wajah polos, membuat Langit gemas sendiri.


“Maksudnya sana kamu mandi dulu, terus makan, habis itu kita nyiapin perbekalan buat camping bareng-bareng. Kita berangkat besok.” Jawab Langit gemas. Jingga mengangguk-angguk.


“Udah sana mandi.” Langit memukul pelan Jingga menggunakan bantal, membuat Jingga menatapnya protes, tapi tidak membalasnya.


********


Mobil Langit berhenti di parkiran basement rumah sakit, dia tersenyum saat mendapati Jingga juga baru turun dari mobilnya.

__ADS_1


Hari ini adalah hari pertama mereka bekerja di rumah sakit baru. Dan yang mereka tahu, rumah sakit tempatnya bekerja saat ini adalah milik ayahnya Biru.


Jingga dan Langit juga baru mengetahui bahwa Biru juga bekerja di sana sebagai Kepala Rumah Sakit, yang berarti cowok itu adalah atasan mereka sekarang.


Setelah pulang mendaki gunung, otak jingga sepertinya sudah sedikit normal. Dia memutuskan untuk menyerah pada Biru, dia juga semakin yakin dan berpikir keras mencari cara untuk membatalkan perjodohannya.


Jingga tidak mungkin mengharapkan Biru lagi. Karena di mata Jingga, Biru sudah berubah sekarang. Biru sekarang bukanlah orang yang sama dengan Biru yang dia kenal sembilan tahun lalu.


Dia akan tetap menyimpan Biru dalam hatinya. Tapi itu Biru di masa lalu, Biru yang selalu memberinya banyak cinta.


“Morning, Doctor Langit.” Sapa Jingga dengan senyum mengembang. Dia tampil cantik dengan balutan rok span warna kuning beraksen bunga di atas lutut, sangat kontras dengan atasan blouse putih yang dikenakannya.


“See, semua pasien akan melupakan rasa sakitnya hanya dengan melihat kamu.” Ucap Langit memuji, matanya mengamati Jingga dari atas hingga bawah.


“Hey, aku emang udah ditakdirkan untuk selalu mempesona dalam keadaan apapun.” Jingga membanggakan diri sambil mengibaskan ujung rambutnya yang dikuncir kuda.


Mereka pun berjalan beriringan untuk kemudian memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana ruangan Kepala Rumah Sakit berada.


Di dalam lift, mereka menghela napas panjang. Pasti akan banyak pekerjaan menanti untuk mereka. Selain itu, mereka juga harus mulai membentuk tim operasi yang baru, Jingga dan Langit tentu saja tidak ingin sembarangan memilih orang untuk masuk timnya.


Di lantai satu, lift terbuka dan seorang perawat yang ternyata Luna masuk bergabung bersama mereka. Mereka menundukkan kepalanya singkat, Luna tertegun saat melihat Jingga sebelum akhirnya dia menekan tombol untuk lantai yang akan dituju.


“Apa kita balik aja ke Amerika?” Tanya Langit ragu saat melihat wajah Jingga yang tampak sedikit gugup.


“Dasar gila . . . .” Jingga berdecak geli mendengar pertanyaan Langit yang tak masuk akal.


“Aku jadi kangen Dokter Daniel.” Ujar Langit mengingat teman sesama Dokter mereka saat di John Hopkins.


“Jangan harap ada yang seperti itu di sini.” Balas Jingga seraya menghembuskan napas berat, mengingat sepertinya mereka tidak akan menemukan teman seperti Dokter Daniel. Teman sejawat yang ramah dan menyenangkan, senior baik hati yang sudah seperti kakak bagi mereka.


Tak lama, lift tiba di lantai tujuan. Jingga, Langit, dan Luna keluar bersamaan. Langit dan Jingga berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit mencari ruangan Kepala Rumah Sakit. Hingga sampailah mereka di depan pintu kaca, mereka lantas diizinkan masuk setelah seorang asisten mengizinkannya.


Aroma maskulin menyeruak di indra penciuman saat mereka menginjakkan kaki di ruang kerja yang didominasi warna pastel itu. Tanpa mereka sadari, ternyata mereka tak hanya masuk berdua, tapi perawat yang satu lift dengan mereka tadi juga mengikuti mereka masuk sambil memandang meraka dengan tatapan heran.


“Silahkan duduk.” Ucap Biru, si Kepala Rumah Sakit yang kini berjalan menghampiri mereka.


Jantung Jingga sontak berdebar hebat melihat Biru yang terlihat menawan dengan balutan jas dokternya, namun sebisa mungkin Jingga mengendalikan dirinya dengan baik dan memasang ekspresi setenang mungkin.


“Kayaknya kamu ada tamu penting. Maaf aku main masuk gitu aja ke sini. Sebaiknya aku permisi.” Ujar Luna tiba-tiba. Sepertinya Luna datang ke ruangan ini bukan untuk membicarakan masalah pekerjaan.


“Luna . . . .” Biru memanggil Luna yang telah berjalan meninggalkan ruangan beberapa langkah.


“Kita sarapan bersama setelah ini.” Ucap Biru dengan senyum hangatnya, gadis bernama Luna itu hanya menganggukkan kepalanya seraya berlalu pergi.


Jingga dan Langit tertegun melihat apa yang terjadi di hadapannya. Raut wajah Jingga berubah kecewa, kepalanya menerka-nerka, sebab dari sudut pandangnya tidak sulit untuk membaca hubungan Biru dan Luna seperti apa.


“Oke. Dokter Jingga dan Dokter Langit.” Biru menatap Jingga dan Langit bergantian.


“Iya. Perkenalkan saya Langit..” Jawab Langit memperkenalkan diri dengan sopan seraya mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh baik Biru.


“Saya Biru, Kepala Rumah Sakit di sini.” Ucap Biru.


“Saya–”


“Saya tahu–” Sela Biru cepat, membuat Jingga menarik uluran tangannya kembali. Gadis itu mengerlingkan matanya sebal.


“Kalau begitu, selamat bergabung di rumah sakit ini. Suatu kehormatan bisa bekerja sama dengan Dokter berkualifikasi baik seperti kalian.” Tutur Biru berwibawa.


“Suatu kehormatan juga untuk kami karena bisa bergabung di sini.” Balas Langit. Biru hanya mengangguk.


“Saya harap kita bisa bekerja dengan profesional.” Tutur Biru yang dibalas anggukkan oleh Jingga dan Langit.


“Dan satu lagi, kalian dilarang berpacaran di rumah sakit ini.” Biru memperingatkan, pandangannya menatap tajam Jingga dan Langit secara bergantian.


Jingga mendelik? Aturan macam apa itu?


“Bukannya itu terlalu membatasi hak orang?” Sahut Jingga. Meski dia tidak punya pacar, tapi aturan tersebut cukup kejam menurutnya.


“Dan itu peraturan di rumah sakit ini yang harus kalian ikuti.” Balas Biru tak ingin dibantah. Jingga mendengus kesal dibuatnya.


“Baik, Prof. Biru. Anda tidak perlu khawatir tentang itu.” Ucap langit cepat sebelum Jingga buka suara untuk mendebat Biru. “Kalau begitu, kami permisi dulu.” Imbuh Langit beranjak setelah sebelumnya memberi kode cubitan kecil di lengan gadis itu agar iikut berdiri dan segera keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


********


To be continued . . . .


__ADS_2