
********
Terhitung satu minggu resmi berpacaran. Tapi tidak ada perubahan yang spesial layaknya pacar pada umumnya dari Jingga. Gadis itu bersikap biasa-biasa saja sehingga membuat Biru gregetan sendiri. Apa gadis itu tidak tahu konsep berpacaran itu seperti apa?
“Huuft…..” Berulang kali Biru membuang napas kasar. Dia tatap layar ponselnya, berharap Jingga membalas pesan singkat yang dikirimkannya tiga puluh menit lalu. Hal ini membuat Biru tak konsentrasi pada penjelasan guru yang sedang berlangsung di depan kelasnya.
Selama satu minggu ini pula Jingga terus berusaha menghindari Biru. Gadis itu bahkan selalu saja mencari alasan saat dia mengajaknya bertemu di sekolah ataupun berangkat dan pulang bersama. Satu lagi, satu ini Biru juga merasa sulit untuk menemukan Jingga di sekolah. Jingga sangat pintar kabur-kaburan.
********
“Ikut aku.”
“A…..”
Jingga hampir memekik, dia kembali mengatupkan mulut begitu mengetahui seseorang yang menarik tangannya adalah Biru.
Hari ini jadwal belajar bersama Obi. Baru saja Jingga menginjakkan kakinya di ambang pintu perpustakaan sekolah, tiba-tiba Biru datang dan menariknya. Entah kapan cowok itu datang dan mengetahui dirinya ada di perpustakaan. Padahal Jingga sudah berusaha sembunyi-sembuyi dari Biru selama satu minggu ini.
“Kamu apa-apaan, sih? Lepasin aku.” Protes Jingga nyaris limbung karena harus mengikuti langkah besar Biru yang cepat. “Nanti orang lain lihat, Kak.” Imbuhnya seraya terus meronta kecil agar Biru melepaskan cengkraman di pergelangan tangannya.
“Nggak peduli. Kamu pacar aku sekarang.” Sahut Biru tanpa menoleh dan mempercepat langkahnya, beruntung koridor sekolah sepi karena memang jam sekolah sudah habis.
Sementara Jingga hanya merengut masam dan pasrah mengikuti langkah Biru yang menyeretnya menuju parkiran.
“Masuk! Aku anter kamu pulang.” Perintah Biru tanpa ekspresi sesaat setelah berhasil membukakan pintu mobil untuk Jingga.
Jingga menggeleng. “Enggak. Aku bisa pulang sendiri. Lagian aku harus ngajarin Obi dulu. Dia pasti lagi nunggu aku.”
Biru menarik napas frustrasi. Dia sudah cukup bersabar pada Jingga selama satu minggu ini, tapi gadis itu malah terus membuatnya geram.
“Aku nggak mau bilang hal ini untuk yang ketiga kalinya. Masuk!” Ulang Biru, nada bicaranya terdengar dingin, tatapannya menyorot tajam hingga membuat Jingga sedikit takut.
Jujur, Jingga tidak terbiasa dengan kehadiran seseorang yang suka memerintah dan seenaknya seperti Biru. Orang-orang di sekelilingnya tidak ada satu pun yang seperti ini. Oleh karena itu Jingga sendiri bingung dengan keputusannya dan memilih untuk menghindar selama satu minggu ini. Antara menyesal dan tidak.
“Ya udah lepasin dulu.” Ucap Jingga kesal seraya menyentak tangan Biru hingga cengkraman itu terlepas, lalu masuk ke dalam mobil. Batinnya menggerutu. Kenapa dia selalu tidak memiliki keberanian untuk benar-benar menolak setiap Biru memerintahnya?
Selama perjalanan, baik Biru maupun Jingga tidak ada yang berbicara. Keduanya sama-sama terdiam dalam pikiran yang berbeda. Jingga masih bingung bagaimana harus mengadapi situasi ini
Jingga tidak pernah menyangka akan berakhir pacaran dengan Biru yang baru dikenalnya belum lama, mungkin hanya hitungan minggu.
Biru, si cowok pemaksa, tapi selalu membuatnya merasa diperlakukan secara spesial, Jingga akui itu. Mungkin hal tersebut juga yang membuatnya jatuh cinta pada Biru meski saat ini dia masih bingung akan keputusan yang diambilnya.
“Tukang maksa.” Gumam Jingga pelan hingga Biru tak bisa mendengarnya.
“Ayo turun.”
Jingga mengerjap, saking tenggelam dalam pikirannya, dia sampai tidak menyadari jika mobil Biru berhenti dan cowok itu sudah membukakan pintu untuknya.
“Lho, kok, ke sini?” Tanya Jingga bingung. Matanya lantas menyoroti sekitar. Taman bermain yang masih berada satu kompleks dengan sekolahnya. Taman ini selalu sepi setiap sore. Jingga cukup sering ke sini setiap kali hatinya sedih atau sedang bosan.
Biru sendiri hanya mengedik tak peduli, lalu menggenggam tangan Jingga dan menuntunnya turun dari mobil.
“Katanya mau anter aku pulang.” Protes Jingga, menyamakan langkah Biru memasuki area taman bermain.
__ADS_1
“Tadi, kan, aku bilang mau bawa kamu ke sini dulu, tapi kamunya malah bengong.”
“Ish.” Gadis itu mendengus sebal.
“Ya udah sampai sini, mau gimana lagi?” Balas Biru acuh seraya mendudukkan dirinya di kursi taman, tepat di bawah naungan kanopi pohon akasia. “Kamu sering ke sini, kan?” Tanyanya kemudian, tak mempedulikan kekesalan Jingga.
“Dari mana kamu tahu?” Tanya Jingga masih memasang wajah masam, dia lantas ikut duduk di sebelah Biru.
Biru menyunggingkan senyum tipis sambil memperhatikan Jingga yang masih tetap cantik meski memasang wajah masam. “Kan aku udah bilang kalau banyak yang aku ketahui soal kamu.”
“Nguntit, ya?” Celetuk Jingga asal. Dia benar-benar tidak mencurigai apapun.
Biru mengerling beberapa detik, lalu tersenyum misterius. “Kalo iya emang kenapa?” Balasnya santai, membuat Jingga kembali mendengus, merasa Biru cukup menyebalkan.
Hening beberapa menit, Jingga melempar kasar punggungnya pada sandaran kursi. “Tahu gitu tadi aku pulang sendiri.” Lalu menghela napas panjang. “Atau sama Langit.” Imbuhnya kemudian.
Biru memejamkan mata sebentar, lalu menarik napas dalam-dalam guna menahan kesabarannya menghadapi gadis cantik di sebelahnya ini.
“Oke, bagus.” Cowok itu mengangguk-angguk. “Langit aja terus. Apa-apa sama Langit.” Tambahnya dengan nada sinis seiring dengan salah satu sudut bibirnya yang tertarik ke atas.
Jingga seketika bungkam sembari mengalihkan wajahnya ke depan. Dia sedikit menyesal sudah berkata seperti itu.
“Kita pacaran, kan, Ji?” Biru meraih satu lengan bahu Jingga hingga berhasil membuat dia menoleh dan menatapnya. Jingga sendiri masih bungkam dan menatap bingung Biru.
“Aku mau pulang.” Jingga berusaha mengelak. Rasanya dia tidak ingin membahas hal ini.
“Ji, kamu kenapa, sih?” Biru merasa kesabarannya sudah mulai menipis. “Kok kamu malah gini? Kan kamu juga udah setuju.”
“Kan kamu yang maksa.” Cicit Jingga pelan, tapi Biru masih bisa mendengarnya. Cowok itu kembali menghembuskan napas frustrasi. Namun tak bisa membalas karena ucapan Jingga tidak salah.
“Eung….” Jingga berpikir sejenak dengan mata mengerling, sedetik kemudian bibirnya tersenyum polos. “Gimana kalau dibatalin aja?”
“Hah?”
Biru melongo ingin memastikan pendengarannya. Heran saja dengan jalan pikiran gadis ini.
“Kita nggak jadi pacaran gitu.” Jelas Jingga kemudian
“Kamu udah setuju dan kamu nggak bisa narik keputusan kamu kembali.” Biru memperingatkan, tatapannya kembali menajam.
Jingga mendelik tak suka, lalu memalingkan wajahnya ke depan. “Kalau gitu ngapain kamu nanya aku maunya gimana?”
Cowok itu menghela napas berat. Seumur hidupnya, dia tidak pernah menghadapi seorang gadis sampai sefrustrasi ini. Hampir semua gadis di sekolah mengejarnya. Lalu kenapa Jingga tidak, bahkan di saat Biru yang lebih dulu datang padanya?
“Jingga….”
“Aku emang suka sama kamu. Tapi aku bingung.” Ucap Jingga memotong ucapan Biru, pandangannya mencuat ke bawah pada sepasang sneakers yang membalut kakinya.
“Ini pertama kalinya aku menerima seseorang buat jadi pacar aku. Aku nggak tahu harus gimana.” Menghela napas sejenak, Jingga kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Biru yang sabar mendengarkannya. “Kita baru kenal beberapa minggu, kita nggak terlalu dekat sebelumnya, dan aku nggak tahu banyak tentang kamu."
Biru mengangkat dan melipat sebelah kakinya di atas kursi, lalu meraih satu tangan Jingga untuk digenggamnya. “Makannya ayo mendekatkan diri dan kita bisa mengenal lebih jauh satu sama lain sambil berjalan. Nggak ada aturan pedekate itu harus dilakukan sebelum pacaran, kan?”
Jingga mendengus geli. “Iya, sih. Tapi itu nggak step by step, tahu. Harusnya, tuh, ya, kita kenalan, kamu minta nomor telepon aku, pendekatan, saling kenal, terus kalau cocok baru pacaran.” Ucapnya sambil melipat jarinya yang bebas satu per satu.
__ADS_1
“Nggak ada gunanya step by step sama kamu karena ujung-ujungnya pasti ditolak. Kan buang-buang waktu. Apalagi kamu kabur-kaburan mulu dari aku, gimana mau pendekatan?” Balas Biru.
Gadis itu merengut, bingung harus menjawab apa karena sekarang dia sudah terlanjur memutuskan menerima Biru sebagai pacarnya.
“Jingga….” Biru meraih satu lagi tangan Jingga yang bebas hingga kini dia menggenggam keduanya.
“Ayo mendekatkan diri. Jangan ngehindar lagi dari aku, hum?” Cowok itu lantas mencium punggung tangan Jingga hingga membuatnya tertegun. “Let’s try, hum?”
Jingga masih terdiam menatap mata Biru yang penuh permohonan sebelum kemudian dia mengangguk ragu.
Biru tersenyum tipis. “Janji?”
Selama beberapa detik Jingga menatap ragu jari kelingking Biru yang terangkat hingga sejurus kemudian dia ikut menutkan jari kelingkingnya.
“Awas kalau besok tiba-tiba kabur lagi dari aku atau nggak balas chat sama angkat telepon aku.” Ancam Biru.
“Emang kenapa?” Balas Jingga menantang.
“Aku cium sepuluh kali kayak gini.” Biru mendekatkan wajahnya dan dengan cepat mencium pipi Jingga.
“Ish.” Jingga memukul geram lengan Biru, matanya memicing tajam. Biru sendiri hanya tersenyum meledek.
“See. Aku nggak becanda.” Ucap Biru sambil mengacak-acak rambut Jingga, membuat gadis itu langsung merengut lucu. “Dan aku bisa ngelakuin lebih dari ini kalau kamu berani melanggar janji.” Ancamnya kemudian.
“Emang mau ngapain, kamu mau ngehamilin aku?” Tantang Jingga.
Sontak kalimat Jingga barusan membuat Biru tersedak ludahnya sendiri. Cowok itu langsung terbatuk-batuk sambil berusaha menahan tawa karena gemas dengan tingkah laku Jingga yang selalu tak terduga. Dari mana Jingga mendapatkan pikiran seperti itu coba?
Tak bisa menahan rasa gemasnya membuat Biru kembali mengacak-acak rambut Jingga pelan lalu mengangkup wajahnya dan berkata. “Kamu beneran minta aku cium sepuluh kali, ya?”
Jingga mengerjap salah tingkah dengan pipi yang tiba-tiba merona. Bibirnya merengut, dia mengalihkan pandangannya untuk menghindari mata Biru.
“Apaan, sih?” Cicit Jingga pelan dan malu-malu sambil berusaha melepas tangan Biru dari wajahnya.
Biru tersenyum geli, menarik tangannya dari wajah Jingga. “Kamu dapat pikiran gitu dari mana? Emang aku kelihatan kayak cowok brengsek? Hem?” Kali ini Biru menarik hidung Jingga hingga membuatnya merengek.
“Kelihatannya, sih, emang kayak gitu.” Ledek Jingga sambil mengusap-usap hidungnya yang memerah.
Biru berdecak, menggeleng pelan tidak tahu harus menanggapi gadis ini bagaimana. Detik berikutnya Biru tersenyum jahil, dan tangannya dengan cepat menggelitik perut Jingga hingga membuatnya tertawa lepas.
“I never planned it, but you’re the best thing that has ever happened to me.” Ucap Biru dalam hati sambil memandangi wajah Jingga yang sudah memerah karena kegelian dan banyak tertawa. Tatapannya memelas memiinta Biru menghentikan gelitikannya.
“Ish.” Jingga memukul pelan tangan Biru, napasnya tak beraturan, pun rambutnya yang sedikit berantakan, membuat tangan Biru otomatis terulur untuk merapikannya.
“Jingga…”
“Hum?”
Jantung Jingga berdebar lagi saat matanya bertemu dengan tatapan Biru yang teduh.
“You’re mine.” Ucap Biru lirih sambil megusap-usap pelan kepala Jingga.
“I’m yours.” Balas Jingga tak kalah lirih.
__ADS_1
********
To be continued. . . .