Still In Love

Still In Love
EP. 57. Be a Good Friend


__ADS_3

********


Tiga bulan berlalu, Biru menjalani kehidupannya seperti biasa, hanya saja dia lebih banyak diam. Saat bekerja mungkin dia bisa melupakan sejenak perasaannya yang kacau. Tapi setelah pekerjaannya selesai, dia kembali merasakan kekosongan dalam hatinya. Ingatan tentang Jingga yang meninggalkannya membuat sudut hatinya berdenyut nyeri. Biru merindukannya, sangat banyak.


Biru membuka pintu kamar di apartemennya dengan malas, dia lalu mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar sesaat setelah dia melemparkan tas kerja dan jasnya ke sembarang tempat. Dia merebahkan dirinya dengan kepala yang bertumpu pada lengan sofa, diikuti dengan gerakan tangan yang memijat keningnya yang terasa berdenyut nyeri.


Kegiatannya terhenti saat kepalanya menoleh ke arah meja rias yang bertengger kotak barang warna merah muda milik Jingga. Dengan langkah gontai, Biru berjalan dan duduk di kursi meja rias. Tangannya lalu terulur untuk membuka penutup kotak tersebut. Biru menatap nanar satu per satu barang yang ada di sana.


“Dulu kamu sering ngasih ini setiap hari. Karena sekarang kamu lagi lupa, jadi aku yang bakal ngasih ini ke kamu.” Biru menyentuh botol yoghurt strawberry yang mungkin sudah kadaluarsa itu seraya mengingat ucapan Jingga yang akan memberinya yoghurt setiap hari.


“Kamu bohong, Ji.” Gumamnya lirih.


“Ini cantik, Tante. Nggak terlalu mencolok dan berkilauan.”


Biru tersenyum getir saat tangannya kini mengambil cincin tunangan milik Jingga. Masih jelas dalam ingatnnya, gadis itu tersenyum riang dan sangat bersemangat saat mencoba cincin itu.


“Kamu suka ini, kenapa dilepas gitu aja? Dasar bodoh.” Umpat Biru dengan nada lemah.


“Pulang, dong, Ji. Nanti aku beliin yang lebih baik dari ini.” Ucapnya penuh permohonan. Dia kemudian menyimpan cincin itu ke dalam dompet bersama dengan cincin miliknya. Kini tangannya beralih mengambil kotak berisi kalung yang sempat dia berikan sebagai hadiah ulang tahun untuk Jingga.


“Kamu nggak suka ini, ya? Kok dibalikin? Pulang, dong. Nanti aku beliin yang lain kalau kamu nggak suka yang ini.” Gumamnya lagi sembari menatap nanar kalung di tangannya.


“Cepatan pulang dan ayo kita ambil foto bersama sebanyak-banyaknya. Aku janji, kali ini nggak akan protes atau nolak.”


Biru menatap putus asa setiap foto kebersamaannya dengan Jingga saat masih SMA. Mereka memang tidak memiliki foto bersama saat ini, selain foto saat mereka bertunangan. Biru menyesal selalu menolak setiap kali Jingga meminta berfoto bersama waktu itu.


Foto-foto tersebut menyadarkan Biru, betapa sangat dekat dan hangatnya hubungan mereka di masa lalu, Jingga tampak bahagia di foto itu, gadis itu banyak tersenyum. Tidak seperti saat bersamanya belakangan ini, Jingga hanya selalu memasang wajah sendunya. Dan itu pasti karena Biru tidak membuatnya tersenyum.


“Ini pasti aku yang ambil buat kamu dulu, kan, Ji?” Biru terus berbicara sendiri seolah Jingga ada di hadapannya. Kali ini tangannya menyentuh boneka sayur yang pernah Biru dapatkan di claw machine sembilan tahun lalu.


“Please, pulang. Nanti aku ambilin boneka lebih banyak lagi buat kamu.” Kali ini Biru merasakan dadanya kian sesak.


Rasa sesal hinggap di hatinya. Menyesal tidak memberikan Jingga banyak waktu meskipun gadis itu merengek untuk sekedar mengajaknya makan siang, menyesal karena sudah mengatakan Jingga kekanak-kanakan saat Jingga mengajaknya bermain di Timezone padahal dalam hatinya dia juga senang, menyesal karena lebih banyak membuat Jingga memasang wajah sedih alih-alih tersenyum saat menghabiskan waktu bersamanya.


“Kamu itu cuma orang jahat yang selalu emosional dan hanya bisa nyakitin aku.”


Kali ini ucapan Jingga saat mereka berada di villa terngiang-ngiang di kepalanya begitu Biru melihat boneka panda di atas kasur. Hatinya kembali teriris pilu saat dia mengingat wajah Jingga yang ketakutan waktu itu.


“Aku bener-baner kayak panda, ya, Ji?” Tanyanya seraya meraih boneka panda itu.


“Aku kayak orang baik, padahal jahat banget, kan, Ji?” Biru menatap boneka panda seolah itu adalah Jingga.


“Aku jahat banget, kan? Makannya kamu cepetan pulang, aku mau minta maaf.” Suara Biru kian tercekat seiring dengan air mata yang mengalir melalui sudut matanya. “Aku nyesel.”


Biru menyesal, karena terlambat menyadari perasaannya sendiri.


Tak lama setelah itu, tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, Biru memilih untuk tidur sembari memeluk boneka pandanya. Berharap saat bangun nanti, dia melihat Jingga. Ya, Jingga akan datang besok. Begitulah setiap malam dia menyemangati dirinya sendiri.


********


Siang harinya di rumah sakit, Biru baru saja keluar dari ruang UGD. Wajahnya tampak pucat, jelas saja kerena cowok itu melewatkan makan malam dan sarapannya.


Sejak kepergian Jingga, Biru benar-benar kehilangan selera makannya. Sering sekali dia melewati waktu makan dan memilih untuk berdiam diri memikirkan Jingga sambil merenungi setiap kesalahan yang dia perbuat pada gadis itu.


“Bi . . . .”


Biru memejamkan matanya singkat saat dia mendengar suara yang dia kenal memanggil. Dengan malas, Biru menoleh ke arah Bisma yang tengah berjalan menghampirinya. Rasanya Biru malas sekali untuk berbicara dengan siapapun saat ini. Kalau saja dia bukan dokter yang dituntut harus bersikap ramah pada pasien, dia juga tidak mau berbicara ataupun tersenyum pada pasien hari ini.


“Lo mau ke mana? Masih ada pasien?” Tanya Bisma yang melihat Biru tengah berdiri di depan lift. Biru hanya menggelengkan kepala, lalu kembali memalingkan wajahnya dan menuunggu pintu lift terbuka.


“Ayo makan siang bareng. Kita makan di restoran seberang rumah sakit.” Ajak Bisma semangat.


“Gue nggak ikut.” Tolak Biru malas tanpa menoleh ke arah Bisma.


“Udah lama, lho, kita nggak makan siang bareng. Albi dan Bian juga udah nunggu di sana.” Lanjut Bisma. Dia meringis, ikut prihatin dengan keadaan sahabatnya yang murung dan lebih banyak diam selama tiga bulan terakhir ini.


“Ayolah, Bi.” Paksa Bisma lagi.


Biru menghembuskan napas berat, daripada terus mendengar Bisma yang tak akan berhenti memaksanya, Biru akhirnya menyetujui ajakan cowok itu untuk makan siang bersama di restoran yang ada di seberang rumah sakit.


“Luna? Lo di sini juga?” Tanya Bisma heran saat mendapati Luna kini tengah duduk bersama Albi dan Bian. Seingatnya, dia hanya akan makan berempat saja.


“Tadi aku kebetulan mau makan di sini. Eh, ketemu mereka. Aku ikut gabung aja, nggak apa-apa, kan?” Jawab dan tanya Luna kemudian. “Lagian aku kangen udah lama aku nggak makan bereng sama kalian.”


Akhirnya, dengan ragu Bisma mengatakan tidak apa-apa. Setelah mendengar cerita Biru, entah kenapa dia jadi sedikit risih dengan kehadiran Luna di antara mereka. Terlebih melihat sikap Luna sekarang yang terlihat gencar mendekati Biru.


Luna memang cukup senang dengan kepergian Jingga. Selama gadis itu pergi, Luna mulai terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Biru meski cowok itu mengabaikannya.


Setiap hari Luna akan membawakan sarapan untuk Biru dan mengajaknya sarapan bersama, mengajaknya makan siang baik secara langsung atau menghubunginya lewat telepon, bahkan mengajaknya makan malam, tak segan-segan dia juga terkadang memaksa Biru untuk bisa ikut di mobilnya saat pulang dari rumah sakit. Namun usahanya sia-sia, Biru lebih banyak menolak dan mengabaikannya.


“Kamu duduk di sini, Bi.” Ucap Luna seraya menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya. Namun dia dibuat jengkel saat Bisma malah menyerobot tempat duduknya. Alhasil, kini Biru duduk di sebelah Bian dan berhadapan dengan Luna.


“Ya udah, ayo makan. Pas banget makanannya datang.” Seru Bian senang karena pesanan makanan mereka bertepatan dengan kedatangan Biru dan Bisma, sehingga mereka tidak perlu menunggu lagi.


“Salad ayam.” Gumam Biru seraya menatap piring berisi salad ayam di piringnya dengan tatapan sedih. Dia teringat Jingga yang sangat menyukai makanan tersebut.


“Makan, Bi. Kok malah bengong?” Tegur Luna yang melihat Biru hanya menatap makanannya.


“Ohh? Iya.” Biru sedikit terhenyak untuk kemudian menggarpu salad ayam itu dan memasukannya ke dalam mulut. Biru mengunyah makanannya dengan malas-malasan. Dia sama sekali tak menikmati makanannya, seolah makanan tersebut tak ada rasa.


“Lo boleh galau, tapi jangan sampai lupa makan sampai lo kurusan kayak gini, Bi.” Ujar Bian melihat cara makan Biru yang terlihat tak niat. Dia juga prihatin dengan tubuh Biru yang sepertinya sudah kehilangan beberapa bobot tubuhnya.


Baik Bian maupun Albi, mereka mengerti jika temannya itu sedang memiliki masalah dengan hubungan cintanya. Tapi keduanya juga tidak bertanya lebih selama Biru tidak menceritakannya sendiri. Meski penasaran kenapa Jingga pergi, tapi Bian dan Albi memilih memendamnya untuk menghargai privasi temannya itu.


“Iya, kalau lo mati karena kurang gizi, kan sia-sia lo nunggu Jingga. Mana mau Jingga nikah sama yang udah jadi mayat.” Celetuk Albi tak berperasaan. Namun Biru tak peduli, dia malas sekali menyahutinya dan memilih menyesap lemon tea untuk mendorong masuk makanan yang telah dikunyahnya itu.

__ADS_1


“Apa Jingga nggak terlalu keterlaluan ninggalin kamu kayak gini? Udah tiga bulan, lho.” Penuturan Luna yang tiba-tiba ini membuat semua orang menghentikan kegiatan makan dan mengalihkan pandangannya ke arah Luna dengan tatapan kurang suka.


“Apa maksud kamu, Luna?” Tanya Biru dengan kening berkerut.


“Maksud aku, kalau aku bener-bener mencintai seseorang. Aku nggak akan pernah mau ninggalin dia.” Jawab Luna yakin. Bahkan setelah Jingga tidak adapun, Luna masih selalu menyudutkannya, secara tidak langsung dia seolah mengatakan jika Jingga tidak mencintai Biru hingga gadis itu meninggalkannya.


“Jingga bukan ninggalin aku, Luna.” Sahut Biru dingin seraya menatap Luna dengan tatapan tak suka. Dia kemudian beranjak dari duduknya dan pamit untuk pergi lebih dulu. Ucapan Luna membuat moodnya semakin kacau.


“Bi, aku nggak bermaksud untuk–” Luna meraih lengan Biru, berusaha untuk menahannya. Namun tanpa kata-kata cowok itu menepis tangannya dan berlalu begitu saja.


“Lo seharusnya nggak ngomong kayak gitu. Sebagai teman, seharusnya lo nyemangatin dia, bukan malah buat dia semakin down.” Tegur Bisma dengan nada kesal sesaat setelah kepergian Biru.


“Aku nggak bermaksud buat ngomong kayak gitu. Aku cuma prihatin aja lihat Biru yang makin murung akhir-akhir ini.” Elak Luna dengan wajah polosnya.


“Tck, kayaknya lo lebih seneng Jingga nggak ada.” Sindir Bisma membuat Luna terkejut. Begitupula dengan Albi dan Bian yang terheran-heran karena ucapannya.


Melihat sikap yang ditunjukan Luna selama ini, Bisma tidak perlu menerka-nerka lagi. Dia tahu orang seperti apa Luna sekarang, pantas saja Jingga cenderung tidak menyukainya.


“Kok lo ngomong kayak gitu sama Luna?” Komentar Bian.


Bisma berdecak kesal, lalu beranjak dari duduknya. “Gue kenyang. Gue duluan.”


“Pada sensitif banget hari ini. Udah, ahh. Gue juga pergi.” Albi menggerutu kesal karena Biru dan Bisma meninggalkannya. Padahal, mereka sudah lama tidak kumpul bersama seperti ini.


“Ya elah, Al. Tunggu gue.” Bian yang tak mau ditinggalkan sendiri bersama Luna akhirnya ikut beranjak dan berlari meyusul Albi, meninggalkan Luna yang kini sudah menggeram dengan kesal.


“Bahkan sikap mereka aja bener-bener berbeda sama aku. Mereka bisa lebih dekat sama Jingga walaupun baru kenal, kenapa nggak sama aku?”


Luna menggenggam garpu di tangannya dengan kuat, rasa iri dan cemburu sudah menjalar di hatinya.


Kenapa mudah sekali untuk Jingga mendapatkan apa yang dia inginkan. Luna juga ingin seperti Jingga, mendapatkan hati Biru, hati orang tuanya, dan dekat dengan teman-teman Biru tanpa rasa canggung dan ada jarak. Dia juga ingin berteman dengan mereka seperti Jingga.


Luna membenci Jingga. Gadis itu sudah mendapatkan semuanya, tapi malah dengan mudahnya meninggalkan hal itu.


“Dasar sombong.” Umpat Luna kemudian seraya menyunggingkan senyuman kecut.


********


Sore harinya, Langit keluar dari ruang PICU dan hendak kembali ke ruangannya. Sama halnya dengan Biru, cowok itu juga kehilangan semangat tanpa Jingga yang menemani hari-harinya. Walau bagaimanapun, ini adalah kali pertama dia jauh dari Jingga dalam jangka panjang. Langit tidak terbiasa dengan situasi ini.


Menekan tombol lift yang akan membawanya ke lantai di mana ruangannya berada, Langit menunggu pintu lift terbuka. Dia kemudian masuk setelah pintu itu terbuka.


Jari telunjuknya yang lentik hendak menekan tombol kembali agar pintu lift tertutup. Namun terurungkan saat melihat Biru yang sepertinya juga akan masuk ke dalam lift. Langit mendengus sebal dan dengan segera dia memalingkan wajahnya dari Biru. Begitupula dengan Biru, dia berdecak kesal seolah pertemuannya dengan Langit adalah kesialan.


Memang sejak kejadian pukul-pukulan beberapa dua bulan yang lalu, Langit dan Biru menjadi semakin tidak akur, mereka sudah seperti Tom dan Spike saja. Mereka akan saling melayangkan tatapan penuh kekesalan dan siap menerkam satu sama lain jika bertemu baik sengaja atau tak sengaja seperti saat ini.


Minggu lalu, bahkan mereka kembali nyaris bertengkar karena memperebutkan meja kantin yang tinggal tersisa satu karena mereka tidak ingin duduk dalam satu meja. Untung saja di sana ada Bisma, cowok itu menuangkan air ke dalam nasi milik Biru dan Langit. Alhasil, keduanya berhenti adu mulut dan tidak jadi makan. Pikir Bisma, memang lebih baik seperti itu daripada mereka mempermalukan diri di depan banyak orang.


Kini Biru dan Langit berdiri berjauhan, masing-masing berdiri di sudut lift sehingga tercipta jarak di antara mereka. Suasana di dalam lift sangat hening, tak ada satupun di antara mereka yang berniat membuka suara.


“Mau pamer sama semua orang kalau lo lagi patah hati?” Langit mencibir seraya ekor matanya mencuri pandang untuk melihat Biru yang kini bersandar pada dinding lift sambil memejamkan mata.


Dari apa yang dilihatnya, rupanya Biru lebih terpuruk daripada dirinya. Untuk sesaat Langit merasa prihatin dengan keadaan cowok itu. Namun buru-buru Langit menepis perasaan tersebut.


“Walaupun lagi patah hati, penampilan tetap dijaga kali. Euwh, amit-amit Jingga suka sama modelan kek gini.” Langit bergidik sambil memasukkan kedua tangan pada saku celananya.


Langit juga sama sedihnya kehilangan Jingga, tapi dia tidak bisa mengabaikan wajahnya. Dia harus tetap tampan setiap saat. Bagi Langit, wajah pucat Biru dengan jenggot sangat jelek, itu tidak cocok untuknya.


“See, tubuh lo kurus banget. Kurang makan lo? Atau nggak punya duit buat beli makanan?” Langit terus berkomentar dalam hati. Langit lantas menoleh dan memperhatikan tubuh Biru yang sedikit berubah menurutnya. Beruntung cowok itu memejamkan matanya, kalau tahu sedang diperhatikan, sudah pasti adu mulut akan terjadi.


“Ehh, lo kenapa?” Pekik Langit terkejut dan refleks menahan tubuh Biru yang tiba-tiba limbung ke depan. Kalau saja Langit tak menahannya, mungkin cowok itu sudah tersungkur.


“Bi, lo jangan ngerjain gue. Berat tahu, bangun lo, Nyet.” Langit mengguncang tubuh Biru. Tapi seketika dia merasakan hawa panas dari tubuh yang sedang dia bantu berdiri itu. Jelas sekali Biru sedang sakit.


“Gue–” Suara Biru tercekat sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran.


“Nyet, lo nggak mati, kan? Jangan becanda lo.” Tanya Langit mulai panik saat menyadari Biru kehilangan kesadaran. Dia menepuk-nepuk pipi Biru, namun cowok itu tetap tidak bangun.


Bertepatan dengan hal tersebut, kebetulan sekali pintu lift terbuka. Lantas dengan segera Langit meminta bantuan dokter dan perawat yang hendak masuk lift untuk membawa Biru ke UGD.


********


Menjelang malam, Biru terbangun dan merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Dia mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya di sekitarnya.


Setelah matanya terbuka sempurna, Biru mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan yang serba putih itu.


Keningnya berkerut bingung saat mendapati selang infus yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. Dia kemudian menggerakkan kepalanya ke kanan. Biru terkejut mendapati Langit yang berdiri menatapnya dengan tatapan tajam sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Lo?” Biru beranjak untuk duduk dengan susah payah.


“Apa karena terlalu banyak mikirin Jingga, lo jadi kayak gini?” Suara Langit menggema di ruangan itu setelah beberapa saat hening mengambil alih.


“Asal lo tahu, ya. Jingga itu nggak suka sama cowok yang kurus krempeng kayak gini.” Seru Langit kemudian seraya menunjuk tubuh Biru. Tatapannya penuh cemooh.


“Lagian gue heran, lo kalau sakit yang agak kerenan dikit, kek. Ini pingsan gara-gara kekurangan nutrisi, udah nggak punya uang buat beli makanan lo?”


Biru tak menyahuti. Dia hanya bergeming memperhatikan Langit yang seolah tengah mengomelinya. Cerewet, mirip seperti Jingga.


“Emang sakit yang keren apaan?” Tanya Biru dengan suara serak, tertarik untuk menyahuti.


“Ya sakit jantung kek, atau apalah yang setara dengan itu.” Celetuk Langit membuat Biru mendengus kesal. Benar-benar sembarangan.


“Kalau lo emang mau nunggu Jingga, lo jangan nunggu sambil nyiksa diri lo kayak gini. Muka lo tembah jelek, udah pucat, kucel lagi. Jingga nggak bakalan cocok bersanding sama orang jelek kayak elo.” Oceh Langit lagi seraya menghadapkan kamera ponselnya ke wajah Biru untuk berkaca.


“Lo khawatir sama gue?” Sudut bibir Biru yang pucat sedikit terangkat. Dia merasa hatinya tiba-tiba menghangat. Matanya terbuka, ternyata Langit bukanlah orang licik seperti yang selama ini dia kira.

__ADS_1


“Nggak usah ge-er. Gue cuma khawatir sama Jingga. Gue khawatir pas Jingga balik, dia terkejut begitu lihat wajah jelek lo.” Elak Langit dengan nada ketusnya.


“Kalau gue jadi jelek, bukannya itu kesempatan buat lo karena Jingga mungkin lebih milih orang ganteng?” Sahut Biru dengan sedikit senyuman geli.


“Jadi lo udah nyerah, nih?” Tanya Langit tersenyum menyeringai. Biru menggeleng pelan.


“I will never give up.” Sahut Biru tak terima.


“Kalau gitu, ayo bersaing dengan sportif.” Ujar Langit seraya mengulurkan tangannya.


Tentu saja Langit tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Bagi Langit, memiliki Jingga di sisinya sebagai sahabat itu sudah lebih dari cukup.


Langit memang tidak menyerah. Tapi ada kata lain yang lebih baik dari itu, mengikhlaskan. Secara perlahan, namun pasti. Langit akan mengikhlaskan Jingga dengan hati yang lapang.


“Okay.” Biru menerima uluran tangan Langit sambil tersenyum lemah. Kekesalannya terhadap Langit kini perlahan menguap dari hatinya.


“Tapi gue nggak mau bersaing sama orang jelek. Nggak seimbang.” Ejek Langit lagi. “Lo harus cepat sembuh dan makan yang banyak.” Ucapnya kemudian, itu terdengar menyebalkan di telinga Biru.


“Jangan ge-er. Gue bukan perhatian sama lo, gue ngomong kayak gini sebagai dokter.” Sambar Langit cepat yang melihat Biru tersenyum meledek.


“Kalau gitu, lo harus temenin gue makan setiap hari.” Sahut Biru.


“Ihh, ogaaah.” Balas Langit ketus sambil mengedikkan bahunya.


“Ayo berteman, teman baik.” Ajak Biru terdengar tulus, tak mengindahkan ucapan Langit.


Langit tergelak kesal dan geli sekaligus mendengar permintaan Biru. Dia tak menyangka kata-kata itu akan terlontar dari mulut cowok itu. Bukankah selama ini Biru tidak menyukainya?


“Apa lo orang baik?” Tanya Langit tak langsung menerima ajakannya.


“Apa kamu orang baik?”


Pertanyaan Langit seketika memunculkan ingatannya tentang Jingga di masa lalu.


“Karena aku nggak bisa berteman sama orang jahat.”


“Karena gue nggak bisa berteman sama orang jahat.”


Biru memejamkan matanya saat mendengar penuturan Langit yang sama persis dengan Jingga.


Biru berdecak kecil seraya tersenyum geli. “Apa kalian selalu pilih-pilih teman kayak ini?”


“Kalian?” Langit mengernyitkan alisnya tak mengerti.


“Jingga juga pernah bilang kayak gini sembilan tahun lalu.” Jawab Biru.


“Lo ingat?” Tanya Langit sedikit antusias. Biru hanya menganggukkan kepalanya.


“Wahh, berarti kehadiran gue di sisi lo itu berkah.” Ujar Langit kembali membanggakan dirinya, dia seolah mengatakan jika dia ada di sisi Biru, pasti akan membantu Biru mengingat masa lalunya, sama seperti kehadiran Jingga di sisinya.


“Jadi, kita bisa berteman baik?” Tanya Biru seolah sedang memastikan. Langit tak langsung menjawab, sejenak dia terdiam pura-pura berpikir.


Namun belum sempat dia menyahuti pertanyaan Biru, tiba-tiba terdengar ketukan dari luar ruang rawat.


Raut wajah Langit tiba-tiba berubah masam mendapati Bian yang masuk diikuti Luna di belakangnya.


Berita Biru yang pingsan tiba-tiba ternyata sudah sampai di telinga teman-temannya. Luna yang hendak pulangpun mengurungkan niatnya dan memilih untuk melihat keadaan Biru terlebih dahulu. Begitupula dengan Bian yang saat ini pekerjaannya sudah selesai.


“Bi, gue denger lo kurang gizi? Wahh, malu-maluin. Nanti orang lain ngiranya Pak Rendi nggak ngasih makan lagi.” Celetuk Bian membuat Langit otomatis menahan tawa.


“Sialan.” Biru dengan tangannya yang masih lemas melemparkan bantal ke wajah Bian yang langsung sigap ditangkapnya.


“Bi, kamu baik-baik aja, kan? Aku khawatir banget denger kabar kamu pingsan di lift.” Tanya Luna khawatir seraya menggeser tubuh Bian untuk memberinya ruang agar dia bisa lebih dekat dengan Biru.


“Aku nggak apa-apa, kok, Lun.” Jawab Biru tersenyum tipis. “Kalian nggak usah khawatir. Gue cuma butuh makan yang banyak dan istirahat. Lebih baik kalian pulang.”


“Lo ngusir kita?” Tanya Bian sembari mendengus.


“Iya. Gue mau istirahat.” Jawab Biru seraya merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang rumah sakit.


“Aku temenin kamu di sini, ya, Bi. Siapa tahu kamu butuh bantuan nanti.” Tawar Luna yang langsung mendapat delikan sebal dari Langit.


“Dia bukan lumpuh, ke toilet aja masih bisa jalan. Ngapain ditemenin pake segala?” Sambar Langit sewot.


“Tapi–”


“Langit bener. Mending kamu pulang sekarang.” Sela Biru membungkam kembali mulut Luna yang nyaris akan menyahut.


“Ya udah gue pulang kalau gitu. Gue kira lo sakitnya parah banget. Tinggal makan banyak doang, besok-besok juga sembuh.” Cibir Albi membuat Biru kembali mendengus sebal. “Ayo, Lun.”


“Ya udah. Kalau gitu aku juga pulang. Semoga cepat sembuh, Bi.” Ujar Luna pasrah.


Luna kemudian berbalik dan hendak beranjak pergi dari ruangan Biru bersama dengan Bian dan Langit.


Namun entah kenapa, mungkin ada masalah dengan heels stilettonya, tiba-tiba saja Luna limbung dan hampir terjatuh. Untung saja Langit menahan lengannnya hingga hanya tas Luna yang terjatuh.


“Lain kali, lo nggak udah pake heels yang tinggi-tinggi. Udah gitu runcing banget lagi kayak paku.” Langit menggerutu sembari berjongkok untuk membantu membereskan barang Luna yang berhamburan keluar dari tasnya.


Langit tertegun sejenak saat matanya menangkap sebuah jurnal dengan sampul biru langit berada diantara barang-barang Luna.


“My Boo.” Langit membaca tulisan yang tertera pada sampul jurnal tersebut. Luna yang menyadari itu seketika tubuhnya menegang.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2