Still In Love

Still In Love
EP. 59. Lies


__ADS_3

********


Flashback on


Beberapa bulan yang lalu, saat Jingga baru mengetahui kenyataan bahwa Biru mengalami hilang ingatan dan memutuskan untuk berjuang membawa kembali ingatan dan hati Biru.


Sejak saat itu, Jingga selalu berusaha untuk mengingatkan Biru tentang kenangan masa lalunya. Mulai dai bercerita sampai membawa Biru ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, walaupun saat itu sangat sulit untuk mengajak Biru.


Terkadang Jingga kesal sendiri. Biru yang meminta bantuannya agar ingatannya cepat kembali, tapi yang dibantu malah ogah-ogahan seperti itu.


Suatu hari di kamarnya, Jingga menemukan jurnal yang pernah dia temukan di dalam tas Biru sembilan tahun yang lalu. Jingga meminta Biru memberikan itu sebelum kepergiannya ke Amerika.


Jurnal tersebut terselip di antara deretan buku kedokterannya di rak buku saat dia hendak mencari salah satu buku tentang instrumen bedah jantung miliknya.


Jingga membuka lembar demi lembar halaman jurnal tersebut. Dia tersenyum saat melihat isi dari jurnal yang kertasnya sudah mulai menguning, namun apa yang terisi di atasnya masih sangat jelas, tidak memudar. Jurnal tersebut berisi kumpulan foto Jingga dalam berbagai kegiatan yang Biru ambil diam-diam, mulai dari dia bertemu gadis itu hingga pertemuan terakhir sebelum hari kelulusannya.


“Kenapa aku lupa ini?” Gumam Jingga.


“Aku akan nunjukin ini sama dia besok.” Ujar Jingga kemudian seraya menyunggingkan senyumnya. Dia akan menunjukkan bukti lain bahwa dulu Biru memang selalu mengikutinya seperti seorang penguntit. Karena selama ini, Biru tidak percaya bahwa dirinya seperti itu saat Jingga menceritakannya.


“Awas aja, kamu akan malu sendiri setelah membaca tulisan tangan kamu sendiri.” Jingga tersenyum menyeringai sembari membayangkan bagaimana ekspresi Biru setelah melihat ini.


“Aku harap, ini bisa membantu.” Jingga menghembuskan napas berat, kemudian memasukan jurnal tersebut ke dalam tasnya.


********


Siang harinya di rumah sakit, Jingga keluar dari ruangan dengan membawa jurnal di tangannya. Dia hendak ke ruangan Biru unuk memberikan itu, sekalian mengajaknya makan siang.


Saat pintu lift terbuka, Jingga terkejut mendapati Langit ada di dalam sana. Seperti biasa, mereka saling menyapa dengan gaya menjengkelkan.


“Kamu mau ke mana, Lang?” Tanya Jingga setelah dia masuk dan berdiri di samping cowok itu.


“Pak Rendi manggil aku. Tahu, deh, mau ngapain.” Jawab Langit seraya mengedikkan bahunya.


“Mungkin mau dipecat kali.” Celetuk Jingga asal, membuat Langit tak tahan untuk tidak menyentil kening gadis itu dengan keras.


“Aww, sakit.” Jingga mengaduh sambil mengusap-usap kening dengan salah satu punggung tangannya yang memegang jurnal.


“Ini buku apa?” Langit tiba-tiba merebut jurnal dari tangan Jingga.


“My Boo. . . .” Belum selesai memastikan, Jingga sudah merebut jurnal itu kembali.


“Kepo kamu.” Cibir Jingga sembari mendekap jurnal itu di depan dadanya agar terhindar dari jangkauan mata Langit.


“Paling isinya kalimat bucin buat si kulkas.” Langit balik mencibir, membuat Jingga mendelik sebal.


“Aku duluan. Ohh, iya, telepon aku kalau kamu dipecat. Aku siap pinjemin bahu buat kamu nangis.” Kelakar Jingga sebelum dia keluar dari lift.


“Sialan.” Umpat Langit. Namun Jingga tak mengindahkannya dan berlalu pergi, mengambil langkah besar agar segera sampai di ruangan Biru.


Wajah Jingga sedikit merengut saat tidak mendapati Biru di ruangannya. Tapi dia sadar itu salahnya sendiri karena tidak menghubungi cowok itu sebelumnya.


Jingga mendengus, lalu memilih untuk menyimpan jurnalnya di meja kerja Biru. Dia kemudian keluar dari ruangan cowok itu sambil berusaha menghubunginya lewat telepon.


Benar saja, Biru tidak ada di ruangannya karena dia sedang makan siang di luar bersama Albi, Bian, dan Bisma. Jingga meminta maaf karena masuk ke ruangannya begitu saja.


“Kak, aku tadi nyimpan jurnal di meja kerja kamu. Lihat itu nanti, itu bukti kebucinan kamu sama aku.” Ucap Jingga pada Biru di seberang telepon.


“Hmm.” Sahut Biru terdengar malas, namun Jingga tak mempermasalahkannya.


“Ya udah. Aku tutup teleponnya. Maaf ganggu makan siang kamu.” Tutur Jingga seraya menutup sambungan teleponnya.


Namun tanpa Jingga sadari, Luna yang kebetulan akan ke ruangan Biru berpapasan dengannya dan mendengar semua percakapannya dengan Biru di telepon. Gadis itu melewati Luna begitu saja tak mempedulikan.


“Bukti?” Luna tersenyum menyeringai. Sekelebat ide licik muncul di kepalanya. Dia terus membawa langkahnya untuk masuk ke ruangan cowok itu.


“Jangan harap, aku nggak akan membiarkan hati Biru goyah dengan bukti kekanak-kanakkan kayak gini.” Luna tersenyum licik saat dia berhasil melihat isi dari jurnal yang Jingga simpan di meja kerja Biru.


Setelah itu, buru-buru dia keluar dari ruang kerja Biru dengan membawa serta jurnal milik Jingga.


Luna memasukan jurnal itu ke dalam tas tenteng miliknya dan tidak pernah mengeluarkannya selama ini, hingga akhirnya jurnal tersebut tanpa sengaja kembali ke tangan Biru.


Untuk selanjutnya, Jingga lupa menanyakan apa Biru sudah melihat jurnalnya atau tidak? Hal itu terhalang seiring dengan pertengkarannya dengan Biru yang lebih sering terjadi.


Flashback off


********


Mata Biru dengan fokus penuh membaca sederet tulisan yang tampak seperti sebuah surat yang ditulis anak remaja yang sedang dimabuk cinta pada halaman kedua jurnal setelah sebelumnya dia membaca biodata Jingga pada halaman pertama. Biru membaca tulisan yang berderet rapi itu dengan seksama agar tak ada yang terlewat satu katapun.


Untuk Jingga, kesayangan aku. . . .


I fell in love with you at first sight, kamu yang tercantik di samping Mama aku.


Jingga, kamu adalah satu-satunya cewek yang berhasil membuat aku melakukan hal konyol di luar prediksi aku. Nggak pernah sekalipun aku berpikir untuk menguntit seseorang. But it’s all unexpected, when I’m with you.


Kamu adalah magnet yang memiliki kutub berbeda dengan aku, hingga aku hanya bisa tertarik sama kamu, dan aku bener-bener nyesel nggak nyatain perasaan aku dari dulu.


Tapi Jingga, walaupun waktu kebersamaan kita singkat, tapi cinta aku jauh lebih panjang dari itu. Cinta aku sama kamu tanpa batas waktu. Selamanya, hanya kamu yang akan dan bisa aku cintai.


Jingga tunggu aku.


Aku janji akan jadi dokter yang sukses seperti yang kamu minta, dan setelah itu aku akan melamar kamu seperti seorang pangeran.


See ya.


You’ll always be my boo, Jingga.


“Tck.” Biru berdecak geli, merasa konyol dengan apa yang dibacanya, tapi dia tidak mengelak bahwa itu adalah benar tulisan tangannya sendiri.


“Kak, aku tadi nyimpan jurnal di meja kerja kamu. Lihat itu nanti, itu bukti kebucinan kamu sama aku.”


Tiba-tiba Biru teringat dulu Jingga pernah mengatakan perihal dia menyimpan jurnal di meja kerjanya.


Saat itu Biru mengabaikan dan lupa akan hal tersebut karena sibuk. Tapi benar, Biru memang tidak pernah melihat jurnal itu ada di ruangannya. Biru malah baru menemukannya dari tas milik Luna beberapa saat yang lalu.


“Kenapa ini bisa ada di tas Luna?” Biru bertanya-tanya. Tapi untuk sejenak dia mengabaikan itu. Biru memilih untuk melanjutkan membuka halaman selanjutnya.


Biru tertegun saat melihat kumpulan foto-foto candid Jingga dalam berbagai kegiatan. Lantas tanpa diduga, peristiwa saat dia mengisi jurnal tersebut bermunculan. Biru ingat, di perpustakaan yang ada di rumahnya, dia menulis surat pada halaman kedua jurnal itu sambil menangis karena memikirkan Jingga yang akan ditinggalkannya pergi.

__ADS_1


Biru merasakan jantungnya berdegup hebat. Ternyata ingatan itu memacu ingatan-ingatan lainnya terbuka, mulai dari pertemuan terakhirnya bersama Jingga di taman bermain.


Biru mulai mengingatnya, tangannya berkeringat dan bergetar hebat saat kepingan-kepingan kenangannya bersama Jingga bermunculan dengan sangat jelas hingga pada pertemuan pertamanya. Semua ingatannyapun kembali dan terpasang jelas di dalam hati dan pikirannya.


“Jingga . . . .” Dia menutup mulut dengan sebelah telapak tangan untuk menahan suara tangisnya.


Tidak langsung turun dari mobil, Biru malah menghidupkan dan melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil menangis. Dia buru-buru ingin menemui Jingga, gadis yang sangat dicintai dan dirindukannya.


Dulu, Biru tak percaya ucapan Jingga jika dia benar-benar mencintai gadis itu sangat besar.


“Maafin aku . . . .” Biru semakin berderai air mata tatkala dia sadar akan sikap buruknya pada Jingga yang begitu melukai hatinya hingga membuat gadis itu pergi.


“Iya, aku emang cinta sama kamu. Tapi kamu? Apa pernah sekali aja kamu peduli sama aku?”


“Aku capek berjuang sendirian. . . .”


Dan kata-kata pedih dari Jingga saat gadis itu berusaha mengakhiri hubungannya kembali terngiang-ngiang di kepalanya.


“Maaf. Maafin aku yang udah ngelupain kamu dan bersikap buruk.” Lirih Biru dengan penyesalan di hatinya yang teramat penuh.


Biru mendatangi rumah orang tua Jingga. Om Rendra dan Tante Mona sedikit terkejut karena Biru berkunjung malam-malam seperti ini.


“Bi, ada apa? Ayo masuk dulu.” Tanya Tante Mona yang melihat Biru berdiri di ambang pintu dengan mata memerah menahan tangis.


“Om dan Tante tolong kasih tahu aku Jingga di mana sekarang? Aku mohon . . . .” Om Rendra dan Tante Mona terkejut melihat Biru yang tiba-tiba berlutut di hadapan mereka.


“Tolong bilang sama Jingga kalau aku udah ingat semuanya.” Ucap Biru kemudian sambil mengatupkan kedua tangannya memohon.


Om Rendra dan Tante Mona kembali dibuat terkejut sekaligus senang saat mendengar ingatan Biru sudah kembali. Tapi mereka tak diberi kesempatan berbicara untuk menyahuti Biru.


“Aku minta maaf udah nyakitin hati Jingga. Aku ngaku kalau udah bersikap dingin dan egois sama dia. Tapi please, Om dan Tante suruh Jingga untuk pulang.” Biru menatap wajah Om Rendra dan Tante Mona bergantian dengan wajah memelas dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


“Kamu jangan seperti ini, Bi. Ayo, masuk dulu.” Tutur Om Rendra iba seraya menuntun Biru untuk bangun dan mengajaknya untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Aku minta maaf, Om, Tante. Jingga pergi kayak gini karena aku udah bersikap jahat.” Lirih Biru seraya menundukkan kepalanya dalam di hadapan orang tua Jingga.


“Tapi sekali lagi tolong minta Jingga untuk segera pulang.” Biru kembali menatap wajah Om Rendra dan Tante Mona dengan wajah memelas dan putus asa.


“Aku udah bersikap jahat, makannya aku mau minta maaf sama Jingga. Jadi tolong–” Biru tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi saat tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat karena tangis yang tertahan.


Biru menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangannya dengan meletakkan kedua sikut di atas paha sebagai penyangga. Dia kembali menyembuyikan tangisnya di sana.


“Bi . . . .” Tante Mona duduk di sebelah Biru, mengusap punggung anak laki-laki yang katanya sangat mencintai anaknya itu agar dia tenang.


“Nggak apa-apa, karena setiap orang pernah melakukan kesalahan. Kita ini manusia. Anggap saja ini sebagai pendewasaan. Jadi, kamu jangan terus menerus menyalahkan diri kamu sendiri.” Tutur lembut Tante Mona seraya membawa Biru ke dalam pelukannya.


Walaupun wanita paruh baya itu tahu pasti Jingga pergi karena Biru telah menyakiti hati putri satu-satunya. Tapi dia juga tidak bisa sepenuhnya marah pada Biru dan menyudutkannya, karena Jingga sudah melakukannya. Mereka sebagai orang tua tidak perlu ikut-ikutan.


Om Rendra dan Tante Mona justru ikut prihatin dengan keadaan Biru selepas kepergian Jingga yang mereka dengar dari orang tua anak itu.


Selain itu, melihat Biru yang menunjukkan penyesalannya seperti ini, membuat mereka yang baik hati tidak bisa marah pada Biru. Meskipun dalam hatinya masih terselip kekecewaan, kecewa karena Biru telah menyakiti hati putrinya yang selama ini mereka jaga dengan penuh cinta.


“Kami akan berusaha membawa Jingga pulang. Kamu bisa memperbaikinya nanti. Jadi tolong bersabar sedikit lagi, hum?” Ucap Tante Mona, tangannya masih setia mengusap-usap punggung Biru yang kini terlihat bergetar karena anak itu mulai menangis.


Memang selama ini Om Rendra dan Tante Mona, bahkan Bintang dan Sagara selalu berusaha meminta Jingga pulang saat dia menelepon. Gadis itu sangat keras kepala sekarang, bahkan ancaman dan drama yang sang ayah lakukan tidak bisa membuat hati gadis itu luluh untuk pulang.


“Hei, apa ini yang mau jadi calon suami anak Om? Nggak malu cengeng gini?” Ledek Om Rendra yang diikuti gelak tawa geli dari Tante Mona.


“Tuhan itu memang sangat adil, ya, Ayah. Biru terlihat sempurna dari segala aspek, tapi ternyata dia nggak tahu malu malah nangis di depan kita kayak gini. Kayaknya Mama kamu pas hamil berharap yang lahir anak cewek, deh, tapi malah keluar anak cowok. Ehh, jadinya begini. Anaknya cengeng.” Timpal Tante Mona sambil menghapus air mata Biru menggunakan ibu jarinya.


Dalam hati, Biru malu sendiri. Entah kenapa dia menjadi sangat sensitif setelah Jingga pergi. Biru juga tidak bisa mengendalikannya. Tapi dia tidak peduli lagi dengan rasa malu, sebab Om Rendra dan Tante Mona sudah melihatnya.


Biru mengangkat kepalanya agar bisa menjangkau wajah Om Rendra dan Tante Mona. “Kalian nggak marah? Kalian masih dukung aku untuk kembali sama Jingga setelah apa yang aku lakukan?”


“Kalau marah, ya jelas marah. Nggak ada orang tua yang mau hati anaknya disakitin. Tapi mau gimana lagi, itu udah terjadi.” Sahut Om Rendra santai.


“Aku minta maaf, Om.”


Lelaki itu mengulas senyum simpul, lalu dengan bijak berujar. “Tapi walau bagaimanapun, Om sama Tante masih berharap kamu jadi menantu kami. Tapi semua keputusan ada sama Jingga. Om dan Tante nggak akan mencampuri urusan itu. Kami hanya bisa berdo’a yang terbaik untuk kalian.”


Setelah kejadian ini, mereka tidak akan memaksa Jingga lagi untuk apapun, termasuk hal ini. Mereka tidak akan memaksa Jingga untuk menerima Biru kembali jika memang dia tidak mau. Mereka hanya ingin Jingga bahagia dengan caranya sendiri.


“Oke, kalau gitu aku akan berjuang untuk mempertahankan Jingga. Aku janji akan memperbaiki semuanya, nggak akan nyakitin Jingga lagi, dan mencitai dia sebesar Om dan Tante.” Ucap Biru dengan keyakinan penuh, membuat Om Rendra dan Tante Mona mendengus geli.


“Om dan Tante pegang ucapan kamu.” Tante Mona menepuk-nepuk lengan bahu Biru.


“Pasti.” Sahut Biru yakin.


“Satu lagi. Jangan cengeng kayak gini. Nggak keren banget, Bi. Tante nggak suka, masa nanti punya menantu cowok kayak gini.” Ledek Tante Mona sambil bergidik, membuat wajah Biru seketika memanas menahan malu.


“Sudah, Bunda. Jangan ngeledekin Biru kayak gitu. Lihat, wajah dia udah kayak tomat.” Sahut Om Rendra terkekeh geli.


“Ohh, iya. Kamu nginap saja di sini, ya, Bi. Ini udah malem, lho.” Ucap Tante Mona kemudian sesaat setelah dia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


“Enggak, Tan, makasih. Aku pulang aja.” Tolak Biru sopan.


Biru hendak beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba suara perutnya berbunyi sehingga membuat Om Rendra dan Tante Mona menatap heran ke arahnya.


“Kamu belum makan, Bi?” Tembak Tante Mona langsung.


“Udah, kok, Tan.” Jawab Biru berbohong. Padahal terakhir kali dia makan saat bersama Langit siang tadi. Pikiran dan hatinya memang tidak mau makan, tapi perutnya tidak bisa dikontrol dan berontak minta diisi.


“Tapi perut kamu bunyi. Kamu lapar, kan?” Tanya Tante Mona mendesak, membuat Biru kembali menahan malu.


“Enggak. Aku nggak lap–” Biru menunduk, melihat ke arah perutnya yang kembali berbunyi. Om Rendra dan Tante Mona tersenyum geli melihatnya.


“Okay, kamu nggak lapar. Tapi perut kamu yang lapar.” Tante Mona mengerling, membuat wajah Biru memerah.


“Kamu makan dulu di sini. Om dan Tante nggak bakalan ngizinin kamu pulang sebelum makan. Nanti kamu pingsan lagi kayak waktu itu.” Tutur Tante Mona tak ingin dibantah.


“Nggak usah, Tan, makasih. Nanti aku makan di rum–”


“Udah ayo, nggak usah malu.” Tante Mona dengan cepat menarik tangan Biru dan menuntunnya menuju ruang makan.


Alhasil, mau tidak mau Biru harus memakan makanan yang sudah terlanjur disiapkan Tante Mona untuknya. Ini benar-benar memalukan.


********


Biru pulang ke rumah orang tuanya sendiri setelah dia pulang dari rumah orang tua Jingga. Rasa malu masih menyelimutinya, wajahnya seketika memanas saat mengingat perutnya yang tiba-tiba berbunyi tadi.

__ADS_1


“Aiish, shit*.” Biru menggelengkan kepalanya untuk melupakan hal itu seraya berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Biru tiba di kamarnya, dengan jantung yang kembali berdegup kencang, Biru menatap rak lemari berisi action figure unik miliknya. Biru ingat sekarang, kenapa selama ini dia tidak pernah menemukan barang apapun yang berhubungan dengan Jingga.


Dengan tangan gemetar, Biru mendorong rak lemari yang ternyata itu adalah pintu yang terhubung dengan ruangan rahasia miliknya.


Benar saja, ruangan yang sudah sedikit lembab dan berdebu karena lama tak dibersihkan dan tak dikunjungi itu dipenuhi semua hal tentang Jingga. Mulai dari banyaknya foto polaroid yang Biru ambil tanpa izin menghiasi dinding ruangan tersebut dengan display foto menggantung.


“Wow, really a stalker.” Biru melongo takjub dengan kelakuannya sendiri.


Pandangan Biru kembali mengedar ke setiap sudut ruangan. Tampak kamera polaroid, buku sketsa, dan barang-barang pemberian Jingga tersimpan rapi dalam rak dinding.


“Ternyata di sini. Kenapa gue bisa lupa ada ruangan ini?” Biru merutuki dirinya sendiri. Terlalu jarang pulang dan lebih betah tinggal di apartemen membuatnya melupakan itu.


Tangannya kini terulur mengambil buku sketsa dan membukanya, dia melihat satu per satu gambar sketsa Jingga hasil goresan tangannya.


“Cepat kembali, Ji. Aku akan nunjukin ini semua. Nggak apa-apa kalau kamu mau ngeledek aku sepuasnya nanti.” Gumam Biru kemudian. Sudut hatinya kembali merasakan sakit, mengingat kerinduannya pada Jingga yang kian bertambah setiap waktunya.


Di tengah kesibukannya membuka buku sketsa, tiba-tiba Biru kembali teringat dengan Luna. Kenapa Luna bisa memiliki jurnal yang dia berikan pada Jingga?


********


Keesokan harinya, Biru sengaja menjemput Luna ke rumahnya. Tadi malam Luna menghubunginya melalui ponsel Bu Ratmi bahwa tasnya tertinggal di mobil Biru, lalu Biru mengatakan jika dia akan mengembalikannya sembari menjemput Luna besok. Tentu saja hal tersebut membuat Luna kegirangan bukan main.


“Tas kamu.” Biru menyerahkan tas tenteng milik Luna saat gadis itu sudah duduk di mobilnya.


“Ahh, iya. makasih. Aku nggak tahu kenapa semalam bisa lupa sama tas aku.” Ujar Luna.


“Kamu cek dulu, Lun. Siapa tahu ada barang yang hilang.” Ucap Biru yang perlahan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah Luna.


Luna merogoh tasnya, mengecek isinya satu per satu. Dia mengernyitkan alisnya saat dia tak mendapati jurnal di dalam tasnya. Luna kembali mengobrak-abrik isi tasnya untuk memastikan barang itu ada. Tapi hasilnya nihil.


“Kenapa, Lun?” Tanya Biru santai saat melihat Luna yang tampak panik.


“Kayaknya buku aku nggak ada di sini.” Jawab Luna.


“Apa jatuh, ya?” Gumam Luna, matanya dia edarkan ke bawah tempat duduknya, mencari-cari keberadaan jurnal itu. Siapa tahu barang tersebut semalam jatuh di sana.


“Buku kayak gimana?” Tanya Biru mengernyitkan alisnya.


“Jurnal, sampulnya warna biru langit. Kamu ada lihat?” Jawab dan tanya Luna kemudian.


“Enggak. Tadi malam aku lihat tas kamu tergeletak di kursi, kok, nggak jatuh.” Jelas Biru berbohong. “Mungkin jatuh di tempat lain.” Imbuhnya kemudian yang melihat Luna masih sibuk mencari-cari.


“Apa iya, ya?” Luna bergumam seraya mengingat-ingat kapan dia pernah menjatuhkan tas atau mengeluarkan jurnal itu?


Seingatnya, Luna tidak pernah mengeluarkannya. Sial sekali. Luna merutuki dirinya sendiri yang menyimpan itu di dalam tas. Seharusnya dulu dia membakarnya saja. Kalau sudah begini, kan, jadi meresahkan hatinya. Bagaimana kalau orang lain yang dia kenal menemukan dan melihatnya seperti Langit waktu itu?


“Emang itu buku apa, Lun?” Tanya Biru memancing, dia harap Luna berkata jujur.


“Eung, cuma jurnal biasa, isinya catatan kasus pasien.” Jawab Luna gugup.


Biru tersenyum kecut mendengarnya. Apa maksudnya Luna berbohong padanya seperti ini?


“Nanti aku coba cariin lagi di mobil. Siapa tahu aja jatuh di sini dan nggak kelihatan.” Sahut Biru masih dengan nada santainya.


“Nggak usah, Bi. Kayaknya emang nggak ada di sini. Mungkin kamu bener, itu jatuh di tempat lain.” Ujar Luna seraya merapikan rambut untuk menetralisir rasa gugup yang menghinggapinya.


“Ya udah. Nanti kalau aku nemuin, aku langsung balikin sama kamu.” Tutur Biru kemudian yang dijawab anggukkan ragu oleh Luna.


Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Biru memilih diam, pikiran dan hatinya penuh dengan pertanyaan kenapa Luna melakukan ini. Dia kecewa karena Luna membohonginya.


********


Siang harinya saat jam istirahat, Biru kembali mengajak Luna bertemu di atap dengan alasan ingin makan siang bersama. Luna tentu saja kembali dibuat senang karenanya. Sebab tidak biasanya Biru mengajaknya makan siang bersama seperti ini. Selama ini, Luna sendiri yang selalu mengajaknya.


“Maaf aku terlambat, Bi.” Biru tersenyum dan mengangguk, tanda tak mempermasalahkannya. Luna kemudian mengambil tempat duduk di samping Biru yang dihadapannya sudah ada kimbab dan minuman yang tadi Biru pesan dari restoran Korea.


“Kamu pesan kimbab?” Tanya Luna dengan mata berbinar.


"Iya. Jingga selalu mau makan ini sama aku, tapi sayang banget kami belum sempat makan ini bareng-bareng.” Jawab Biru dengan raut wajah berubah sedih.


“Seharusnya kamu menghindari sesuatu yang ngingetin kamu sama dia. Itu cuma membuat kamu sedih, Bi.” Sahut Luna dengan hati jengkel. Selalu saja Jingga.


“Enggak, aku malah seneng nginget kenangan aku sama dia.” Tutur Biru membuat Luna menggeram dalam hati.


“Ohh, iya. Tadi aku nemuin ini di bawah kursi mobil. Punya kamu, kan?” Tanya Biru seraya menyerahkan jurnal miliknya. Wajah Luna kembali menegang saat melihat jurnal itu ada di tangan Biru.


“I-iya. Ini punya aku.” Jawab Luna seraya merampas jurnal itu dari tanga Biru dengan gelagapan.


“Beneran itu punya kamu?” Tanya Biru sekali lagi dengan pandangan menyelidik.


“Iya. Ini emang punya aku. Makasih udah nemuin dan ngembaliin ini.” Jawab Luna sembari memalingkan pandangannya dari Biru.


“Waktu itu Langit ributin buku itu.” Ucap Biru sambil menunjuk jurnal di tangan Luna. Gadis itu menoleh ke arahnya dengan alis yang bertaut, menunggu Biru melanjutkan ucapannya.


“Katanya, buku kamu mirip sama buku yang mau Jingga kasih ke aku.” Lanjut Biru dengan tenang.


“Apa Langit udah nuduh aku ngambil buku punya Jingga?” Sambar Luna dengan raut wajah kesal. “Bi, buku kayak gini banyak.”


“Aku nggak bilang kalau dia nuduh kamu.” Biru menarik salah satu ujung bibirnya membentuk seringai tipis yang nyaris tak terlihat. Sementara Luna, dia kelimpungan sendiri dengan reaksi berlebihannya yang bisa saja menimbulkan kecurigaan.


“Ohh, iya. Aku juga baru ingat, kalau aku punya buku yang mirip kayak buku kamu.” Ujar Biru lagi. Luna jadi jengkel sendiri, kenapa Biru masih membahas buku itu? Bukankah mereka datang ke sana untuk makan siang?


“Kamu mau tahu apa isinya?”


Luna masih terdiam dengan wajah menegang, dia mulai bergerak-gerak gelisah.


Biru lalu menceritakan tentang jurnal yang pernah dia berikan pada Jingga yang berisi surat cinta dan kumpulan foto Jingga. “Apa buku punya kamu isinya sama?”


Luna terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Biru. Dia lantas menelan ludahnya dengan susah payah.


Luna tergelak dipaksakan. “Haha, apa maksud kamu, Bi? Aku, kan, udah bilang kalau jurnal ini punya aku.”


“Sebelumnya kamu bukan orang yang seperti ini. Kenapa kamu berbohong?” Wajah Luna semakin menegang, dia tidak mengira kebohongannya akan diketahui.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2