
********
Biru mengunyah makanannya dengan malas, napasnya berhembus bosan. Ingin sekali dia keluar dari situasi yang dirasa menjebaknya saat ini, percakapan para orang tua ini sungguh membosankan, mereka bahkan membicarakan tentang pernikahannya, bukankah itu terlalu jauh? Ck, bertemu saja belum.
Biru mendengus sebal saat Papa menceritakan dirinya yang antusias menanyakan Jingga pada malam itu hingga membuat semua orang meledeknya. Lelaki itu sudah melebih-lebihkan ceritanya padahal dia sendiri hanya mendengar dari Mama.
Dering ponsel Biru mengalihkan perhatian semua orang, Papa menatap Biru tak suka, seolah mengatakan seharusnya Biru mengaktifkan mode diam agar acara makan malam mereka tidak terganggu. Tapi Biru sama sekali tak peduli, dia malah bersyukur karena sekarang dia memiliki alasan untuk bisa keluar dari ruang makan tersebut.
“Maaf, Om, Tante. Aku permisi buat angkat telepon sebentar.” Izin Biru sopan yang tentu saja Om Rendra dan Tante Mona tidak keberatan.
Biru kemudian beranjak dan berjalan menuju ruang tamu untuk menjawab panggilan telepon yang ternyata dari sahabatnya Bian yang menayakan keberadaannya untuk diajak nongkrong.
Biru menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil memejamkan mata seraya memijat pangkal hidungnya, kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri.
Matanya terbuka saat deru mesin mobil di luar rumah berdengung di telinganya, dia lantas beranjak dan berjalan menuju jendela untuk melihat siapa yang datang dari balik gorden.
Cowok itu tersenyum kecut. Dia menatap Jingga dan Langit yang nampak sedang bergurau dengan tatapan tak suka.
********
Sementara itu di luar rumah, terlihat Jingga turun dari mobil Langit dengan raut wajah malas.
“Lang, kamu nggak ada niatan buat bantu aku ngancurin perjodohan ini, gitu? Kamu, kan, bisa pura-pura jadi calon suami aku.” Ucap Jingga sambil menarik turunkan alisnya diiringi senyum jenaka. Langit menghela napas panjang seraya memutar matanya jengah.
“Jangan ngaco, Ji. Udah sana masuk.” Jawab Langit seraya menutup kaca mobil setelah sebelumnya mengacak gemas rambut Jingga.
Jingga hanya mengerucutkan bibirnya kesal memandangi mobil Langit yang dengan cepat menghilang dari halman rumahnya.
Jingga berjalan gontai sembari memegang sebelah lengannya yang terasa sangat nyeri, lengan atas Jingga seperti mau lepas dari belikatnya.
“Ssh, sakit banget.”Rengek Jingga sambil memijat-mijat lengannya yang terasa nyeri.
Langkahnya terhenti saat dia melihat cowok dengan perawakan tinggi dan tampilan kasual berjalan meninggalkan ruang tamu dengan langkah terburu-buru. Biru.
Mengamati sebentar, Jingga yakin dia bukan Kak Bintang atau Sagara. Jingga hapal betul bagaiman perawakan a kedua kakaknya.
“STOP!” Seru Jingga sambil menodongkan raket tenisnya. Cowok itu berhenti.
“Don’t turn around. Aku belum siap lihat kamu.” Cegat Jingga cepat begitu melihat gerakan Biru nyaris berbalik. Cowok itu menuruti.
Jingga menghembuskan napas lega. Jujur, dia memang belum siap bertemu cowok yang akan dijodohkan dengannya. Takut tidak sesuai ekspektasi.
Gadis itu mengerjap. Sesuai ekspektasi atau tidak, dia tetap akan berusaha membatalkan perjodohan ini.
“Denger. Maaf sebelumnya karena harus mengatakan ini lebih awal. Aku yakin kamu juga nggak setuju dengan perjodohan ini kayak aku. So, ayo kita bekerja sama untuk membatalkannya.” Ujar Jingga tanpa tedeng aling-aling. Sementara Biru hanya diam bersabar mendengarkan gadis itu berbicara.
“Aku mau mandi dulu. Tunggu aku di meja makan.” Titah Jingga.
“Gimana kalau aku setuju?” Suara bariton yang terdengar dingin itu mengejutkan Jingga.
Gadis itu mendelik sebal sambil mengumpat di belakang punggung lebar Biru.
“Kalau gitu aku sendiri yang akan berjuang untuk membatalkannya. Jangan coba-coba. I have a lover.” Sahut Jingga sebal. Menghentakkan kakinya, dia lantas dengan cepat beranjak dan berlari kecil untuk masuk ke dalam kamarnya.
Biru membalikkan badan, menatap lekat-lekat punggung Jingga yang mulai menghilang di balik tangga panjang di sana.
Bibirnya tersungging membentuk senyuman tipis, untuk pertama kalinya ada seseorang yang menolaknya.
“But I won’t let you go.” Gumamnya tanpa melepaskan pandangannya dari Jingga.
********
Jingga turun dari kamarnya hendak menuju ruang makan, dia tampil anggun dengan Ruffled Neck Floral Dress warna hitam, rambut sepunggungnya dia biarkan tergerai begitu saja, sedikit polesan make up menambah kecantikan wajahnya.
“Selamat malam . . . .” Sapa Jingga dengan suara lembut seraya menundukkan wajahnya. Semua mata kini tertuju padanya. Raut wajah Ayah tampak merah padam, namun sepertinya beliau masih sabar untuk tidak mengeluarkan amarahnya.
“Maaf, aku terlambat.” Sesal Jingga kemudian.
__ADS_1
“Jingga . . . .” Seru Tante Lisa. Terjawablah sudah kejanggalan yang menganggu pikirannya. Jingga adalah nama dan orang yang sama dengan gadis yang mengantarnya kemarin.
“Lho, Mama sudah kenal Jingga?” Tanya Om Rendi. Kini semua mata tertuju pada Tante Lisa. Jingga yang semula menunduk, kini mengangkat kepala.
Betapa terkejutnya dia saat melihat tante Lisa dan Direktur Utama RH Hospital ada di hadapannya.
“Tante Lisa, Pak Direktur.” Ucap Jingga masih dengan keterkejutannya.
“Jii, duduk dulu.” Perintah Bunda berbisik, merasa tak nyaman melihat Jingga terus berdiri seperti itu. Jingga latas duduk di sebelah Bunda dengan raut wajah linglung.
“Jangan sungkan Jingga, panggil saja saya Om, atau Papa juga boleh. Sebentar lagi kamu, kan, jadi menantu saya.” Pinta Om Rendi dengan senyum mengembang.
Jingga yang mendengarnya hanya menampakkan wajah bingung. Dia masih terkejut dengan situasi ini. Jadi ayahnya tidak berbohong? Calon atasannya ini benar akan jadi mertuanya kelak? Matanya kemudian menyusuri sekitar, hanya ada dua orang asing yang telah dia kenal di hadapannya. Di mana cowok jangkung tadi?
“Tapi gimana kalian bisa saling kenal?” Tanya Ayah penasaran sambil menatap Jingga dan Tante Lisa bergantian.
Jingga tak lantas menjawab, dia masih mencari-cari sosok yang tadi dia lihat di ruang tamu.
Tante Lisa kemudian antusias menceritakan pertemuannya dengan Jingga beberapa hari yang lalu. Raut wajah Ayah seketika berubah menjadi senang mendengarnya. Beruntung anaknya tidak bersikap aneh saat pertemuan tak sengaja dengan calon mertuanya.
“Jadi itu sebabnya kemarin kamu datang terlambat, Nak?” Tanya Om Rendra seraya tersenyum lebar.
“Ahh, nggak gitu, kok, Om. Kemarin emang aku agak ceroboh, lupa kalau ada wawancara..” Tepis Jingga sambil nyengir kaku.
“Aku minta maaf, ya, Om.” Ucap Jingga kemudian dengan tatapan tidak enak hati.
“Itu, kan, udah lewat, Ji. Udah, jangan dipikirin lagi.” Sahut Om Rendi dengan seulas senyum santai.
“Tante seneng, deh, ternyata calon menantu tante itu kamu.” Seru Tante Lisa antusias seiring dengan pandangan Jingga yang berpaling ke arahnya.
“Tante bisa aja. Aku juga seneng bisa ketemu Tante lagi. Bisa kebetulan gini, ya, Tan?” Balas Jingga mencoba ikut menghangatkan suasana.
“Ya namanya juga jodoh.” Sahut Tante Lisa yang langsung membuat semua orang di sana terkekeh.
“Haha, Tante bisa aja.” Ucap Jingga, matanya kembali mencari-cari sosok tadi.
Tante Lisa mengerling penuh arti. “Dia lagi di kamar mandi, Ji. Kamu cari anak Tante, kan?”
********
Biru menatap pantulan dirinya di dalam cermin untuk merapikan penampilan setelah dia membersihkan bajunya yang sedikit kotor.
Beberapa saat yang lalu, Biru meminta izin untuk pergi ke kamar mandi saat tak sengaja potongan daging yang hendak dia makan tumpah mengenai bajunya.
Setelah selesai, Biru melangkahkan kakinya untuk kembali ke ruang makan. Dari kejauhan, samar dia dapat mendengar suara ibunya yang tengah mengobrol dengan antusias. Padahal, sejak awal kedatangan mereka ke rumah ini, wanita paruh baya itu tak terlalu banyak bicara, sama seperti dirinya.
“Nggak sabar pengin bawa kamu ke rumah.” Seru Mama antusias.
Kalimat tersebut jelas tertangkap oleh telinga Biru. Dia heran, padahal sebelumnya Mama tidak terlalu tertarik dengan gadis bakal calon menantunya itu. Karena sejak awal, Mama tidak pernah setuju dengan perjodohan ini.
Biru tertegun saat matanya menangkap gadis cantik yang baru bergabung di sana. Entah kenapa, rasanya dia enggan untuk berpaling. Gadis itu seperti magnet untuknya bahkan sejak pertama kali Biru melihatnya dalam foto.
Tak menyurutkan tatapannya dari gadis itu, Biru kemudian kembali bergabung dan duduk di tempatnya semula, tepatnya berhadapan dengan gadis itu, Jingga.
Merasa ada seseorang datang, Jingga mengalihkan perhatiannya untuk melihat siapa orang tersebut. Jingga begitu terkesiap, kedua bola matanya membulat sempurna saat mendapati Biru kini tengah duduk di hadapannya. Jingga mengerjapkan mata untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah karena mungkin saja dia sedang berhalusinasi.
Jingga berusaha menghiraukan Biru dengan meminum air putih yang ada di hadapannya. Namun ketika dia mengangkat kepala, Biru masih ada di hadapannya.
“Kak Biru. . . .” Cicit Jingga dengan susah payah mengeluarkan suaranya yang seakan tercekat di tenggorokan. Sontak hal tersebut membuat perhatian semua orang tertuju ke arahnya.
“Kenapa, Ji?” Tanya Om Rendra heran saat melihat Jingga menatap Biru dengan ekspresi tak terbaca.
“Kak Biru . . . .” Jingga mencoba memastikannya sekali lagi. Semua orang terkejut mendengarnya, termasuk Biru.
“Kamu kenal aku?” Tanya Biru penasaran.
Jingga tersenyum kecut. Setelah Sembilan tahun menghilang tanpa kabar. Sekarang cowok itu benar-benar melupakannya. Benarkah seperti itu? Atau Biru memang sedang berakting pura-pura tidak pernah mengenalnya?
__ADS_1
Apa maksud Biru bersikap seperti ini? Ingin rasanya Jingga memaki-maki Biru.
Kalau memang akan seperti ini pada akhirnya, kenapa dulu Biru memintanya untuk menunggu? Kenapa dulu Biru tidak langsung memperjelasnya saja untuk mengakhiri hubungan mereka?
“Jii . . . .” Tegur Ayah saat melihat putrinya terus bergeminng.
Jingga mengerjapkan mata, lalu kembali meneguk air minumnya sambil berusaha menenangkan diri. Keadaan macan apa ini?
“Kamu kenal Biru?” Tanya Tante Lisa kemudian.
“Enggak terlalu.” Jawab Jingga yang tadinya ceria berubah dingin. Dia mencoba mengikuti skenario Biru. “Kami cuma pernah beberapa kali bertemu untuk berbagi pengalaman soal pertukaran pelajar.”
“Ohh, gitu. Ya bagus kalau kalian udah kenal sama Biru.” Ucap Bunda cukup senang.
“Tapi kayaknya Kak Biru nggak inget. Mungkin karena udah terlalu lama juga, kali, ya.” Tutur Jingga penuh penekanan, menatap Biru penuh kekecewaan. Sementara Biru hanya balas menatapnya dengan wajah bingung.
“Kamu nggak inget, Bi?” Tanya Om Rendi.
Biru bergeming, berusaha mengingat-ingat. Berbagi pengalaman tentang pertukaran pelajar bukanlah pertemuan sekilas. Seharusnya dia ingat.
Biru menggeleng. “Aku rasa ini pertemuan pertama kami. Mungkin yang kedua kalau aku nggak salah lihat kamu tadi sore di kedai kopi.” Jelasnya kemudian seraya menatap orang tuanya dan Jingga bergantian.
Jingga menelan ludah, dunianya seakan dijungkir balikkan, tubuhnya seketika melemas. Inikah hasil dari penantiannya selama sembilan tahun? Tega sekali Biru datang dan mengatakan tidak mengenalnya.
Apa tujuannya dia bersikap seperti ini? Jingga butuh penjelasan.
“Ehem. Gini –” Tante Lisa berdehem dan meletakkan alat makannya pada piring, membuat semua orang mengalihkan pandangan padanya. “Karena perjodohan ini sudah berlangsung dan kita seharusnya terbuka satu sama lain.”
Tante Lisa menatap suami dan anaknya bergantian seolah meminta persetujuan. Papa mengangguk. Sementara Ayah, Bunda, dan Jingga menatap bingung wanita itu.
“Dan aku harap, semoga kalian bisa menerima ini. Terutama kamu, Ji.” Tante Lisa beralih menatap Ayah, Bunda, dan Biru.
“Sembilan tahun lalu, saat Biru akan berangkat ke Amerika untuk kuliah di sana, Biru mengalami kecelakaan parah sampai koma selama satu minggu karena cedera di kepalanya. Dan pasca kejadian itu, Biru kehilangan sebagian ingatannya dan sampai sekarang belum pulih. Kadang Biru masih suka sakit kepala.” Jelas Tante Lisa.
Wanita itu mengambil napas sejenak untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. “Anak ini. . . .” Tante Lisa mengusap-usap lengan bahu Biru. “Keadaannya tidak begitu baik.”
Kembali menghela napas. Mengingat kejadian itu membuat Tante Lisa kembali takut. Saat itu adalah waktu paling buruk untuknya dan suaminya. Saat dia nyaris saja kehilangan anak semata wayangnya. Mobil truk ugal-ugalan yang menghantam mobil yang dikendarai Biru nyaris membuat nyawa sang anak hilang.
“Tapi tenang saja. Itu hanya amnesia, seharusnya itu sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Di luar itu, Biru sangat sehat.” Tambah Om Rendi meyakinkan.
“Kalian tidak keberatan dengan ini, kan?” Tanya Tante Lisa khawatir.
“Kami sama sekali tidak keberatan. Lagipula itu bukan penyakit. Beruntung Biru bisa selamat waktu itu.” Sahut Bunda yang sejak tadi diam mendengarkan merasa lega, dia mengusap-usap punggung tangan Tante Lisa.
“Jadi, mungkin Biru tidak ingat kamu karena itu.” Tante Lisa beralih pada Jingga, gadis itu tampak terguncang. “Kamu bisa terima ini, kan, Ji? Kondisi Biru?”
Gadis itu bergeming, mencoba mencerna cerita Tante Lisa hingga membuat kepalanya terasa pusing.
Jadi, selama ini Biru tidak pernah datang bukan karena dia melupakannya? Tapi karena Jingga hilang dari ingatannya?
Tapi kenapa harus dia yang hilang dari ingatan Biru? Apa yang harus Jingga lakukan sekarang? Bagaimana Jingga harus menghadapi Biru?
Haruskah Jingga mengatakan yang sebenarnya? Tapi Biru terlihat sudah berubah sekarang. Terlihat dari tatapan dingin yang cowok itu hunuskan padanya.
Birunya yang dulu sudah hilang.
“Ji. . . .” Tegur Bunda seraya menyentuh lengannya hingga berhasil membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
“Ehh. . . .” Jingga memaksakan senyumnya. “Nggak apa-apa.” Lalu kembali meminum airnya.
Biru menatap gadis itu penuh selidik, tingkahnya sangat aneh seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
“Maaf, aku permisi ke kamar mandi dulu.” Ucap Jingga kemudian dengan cepat beranjak tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu.
Jingga tidak bisa tangisnya yang sejak tadi dia tahan. Gadis itu menangis tertahan sambil menutup mulutnya agar tak bersuara.
Dunia tidak adil padanya. Semua kenangan indah yang dilaluinya bersama Biru selama satu tahun hilang begitu saja.
__ADS_1
********
To be continued. . . .