Still In Love

Still In Love
EP. 29. The Wallet


__ADS_3

********


Jingga baru saja turun dari mobilnya, dia berjalan untuk masuk ke rumah sakit sembari menerima telepon dari ibunya yang mengeluh khawatir karena dia tinggal di apartemen sendirian.


Sudah lebih dari satu minggu Jingga mulai bekerja di RH Hospital. Jingga memilih untuk tinggal di apartemen yang dekat dengan rumah sakit. Jarak rumah sakit yang memakan waktu lebih dari satu jam dari rumah menjadi pertimbangan Jingga memutuskan untuk memilih tinggal di apartemen.


“Aku nggak ngelewatin sarapan atau waktu makan lainnya. Bunda tenang aja, aku udah gede.” Sambar Jingga sebelum sang Ibu membuka suara. Dia sudah hapal karena setiap pagi Bunda selalu mengingatkannya akan hal itu.


“Jangan pernah nyusahin Langit. Langsung pulang ke apartemen kalau udah selesai di rumah sakit. Dan satu lagi, jangan terlalu banyak main dan pulang terlalu malem. Inget, kamu nggak lagi di Amerika!” Pesan Bunda di seberang telepon.


Jingga memutar bola matanya malas seraya mendengus kesal. Rasanya bosan mendengar wanita it uterus mengingatkannya akan hal ini.


“Bun, emang aku masih anak SMA? Tenang aja, aku bisa ngurus dan jaga diri aku dengan baik.” Sahut Jingga ketus. “Udah, ahh. Aku harus memeriksa pasien. Love you, Bun.” Lantas dengan cepat mengakhiri percakapan dan menutup sambungan teleponnya.


“Lagian siapa juga yang nyusahin Langit?” Gerutu Jingga dalam hati, mengingat Orang tuanyalah yang menyusahkan Langit dengan meminta cowok itu untuk tinggal di apartemen yang bersebelahan dengan Jingga dan mengawasinya.


Baru saja kakinya bergerak beberapa langkah, Jingga dikejutkan oleh Biru dan Luna yang turun dari mobil bersama. Sejenak Jingga tertegun, pandangannya bertemu dengan Biru yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan dingin.


“Ayo, Bi.” Ajak Luna seraya menggamit lengan Biru.


Cowok itu tampak terkejut, namun dia tak menolak ataupun membalas perlakuan Luna. Hati Jingga berdenyut nyeri melihatnya.


Biru melepaskan pandangannya dari Jingga lebih dulu, kemudian berjalan beriringan dengan Luna, melewatinya begitu saja.


“Dia bener-bener udah berubah, ya?” Gumam Jingga dalam hati. Dia melihat pungung Biru yang kian menjauh dari pandangannya. Raut mukanya berubah sedih, matanya mulai memanas, namun sebisa mungkin dia tahan agar tidak menangis.


Jingga berjalan di koridor rumah sakit untuk masuk ke ruangannya, dia tersenyum dan membalas sapaan setiap orang yang menyapanya.


Kehadiran Jingga di rumah sakit tersebut rupanya disambut dengan baik, terutama di bagian bedah toraks dan kardiovaskuler. Baru saja seminggu, dia sudah terkenal di kalangan Dokter dan Perawat, tak jarang mereka datang ke bagian bedah toraks dan kardiovaskuler, karena penasaran ingin melihat Jingga. Si Dokter cantik dengan segala pesona dan keahliannya yang tak bisa di anggap remeh.


********


Jingga berlari ke ruang ICU dengan memakai jas dokternya. Dia lalu bertanya pada Dokter jaga di sana mengenai keadaan pasien. Dokter laki-laki berwajah manis dengan kacamata menjelaskan bahwa pasien tadi mengalami ventricular fibrilation dan peningkatan tekanan pada arteri pulmonaris. Tetapi keadaannya sudah membaik setelah diberi penanganan.


“Maaf, Dokter. Tadi kami terlalu panik dan langsung menghubungi kamu. Maafkan saya.” Ucap Dokter jaga memasang raut wajah bersalah.


“Nggak apa-apa. Hal ini bisa terjadi pasca operasi. Tapi ini bukan masalah umum.” Jelas Jingga, dia lebih suka bicara non formal.


“Kondisinya saat ini sudah stabil.” Ucap Jingga kemudian setelah selesai memeriksa kondisi pasien.


Jingga berjalan di koridor rumah sakit untuk memeriksa pasien lainnya, Perawat wanita bernama Hana mengikutinya dari belakang. Jingga dan Perawat itu tampak akrab, terlebih dia sengaja meminta semua orang yang bekerja satu tim dengannya untuk tidak bersikap terlalu formal. Hal tersebut semata-mata agar mereka bisa membentuk tim yang hebat dengan suasana pertemanan yang hangat.


Hana berceloteh sepanjang jalan, menceritakan jika Jingga sangat terkenal di rumah sakit. Bahkan semua orang menjulukinya peri cantik.


“Kenapa?” Tanya Jingga heran.


“Karena kamu bukan manusia.” Jawab Hana.


Jingga hanya terkekeh geli, tak peduli dengan julukannya dan lebih memilih mengalihkan pembicaraannya untuk membahas keadaan pasien.


Mereka masuk ke salah satu ruang VIP, tampak seorang wanita paruh baya tengah duduk bersandar di ranjang rumah sakit sambil memakan buah yang telah dipotong oleh suaminya. Melihat kedatangan Jingga dan Hana, wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum ke arahnya, begitupula dengan suaminya.


“Gimana keadaan Ibu?” Tanya Jingga sembari memeriksa keadaannya.


“Ini lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih sudah membuat jantung saya kembali berdetak, dan saya bisa hidup sedikit lebih lama.” Tutur wanita paruh baya itu penuh haru. Jingga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Tidak, jangan berterima kasih sama saya. Berterima kasihlah sama jantung Ibu yang masih setia pada pemiliknya. Dan satu lagi, jangan hidup sedikit lebih lama. Ibu masih muda, jadi hiduplah selama mungkin.” Ucap Jingga cerewet dengan tak menyurutkan senyum dari bibir indahnya.


“Haha, Dokter bisa saja.” Wanita paruh baya itu terkekeh.


“Apa Dokter sudah punya pacar? Atau suami?” Tanya wanita paruh baya itu kemudian. Alis Jingga terangkat heran.


“Kami memiliki anak laki-laki yang seumuran sama Dokter. Apa Dokter Jingga mau berkenalan sama dia?” Kali ini suami dari wanita paruh baya itu menimpali. Jingga terkesiap mendengarnya.


Jingga terkekeh, lalau mencawab bohong. “Sayang sekali, sebentar lagi saya akan menikah.”


Penuturannya itu membuat Hana memalingkan pandangan dari pasien untuk menahan tawa. Ini bukan yang pertama kali. Ada banyak pasien atau keluarga pasien menanyakan status Jingga.


“Sayang sekali.” Sesal wanita paruh baya itu seraya menghembuskan napasnya.


“Kondisi Ibu sudah membaik. Ibu bisa pulang besok pagi.” Ucap Jingga kemudian, setelah dia memastikan kondisi wanita paruh baya itu.


Tampak raut bahagia terpancar di wajah suami istri itu. Mereka kemudian berterima kasih pada Jingga sebelum akhirnya Jingga dan Hana keluar dari kamar tersebut.


********


“Dokter, siapa calon suami kamu? Dokter Langit?” Ledek Hana yang kini berjalan bersisian di koridor rumah sakit.


“Aku masih waras untuk bisa cari cowok lain.” Jawab Jingga sambil tersenyum geli.


“Jangan terus-terusan bohong. Nanti dosa kamu numpuk.” Ujar Hana sembari menyikut pelan lengan Jingga..


Jingga tergelak pelan, lalu mengangguk-angguk. “Well, kayaknya habis ini aku harus cari calon suami beneran biar nggak bohong lagi.”


“Kamu cantik. Tinggal tunjuk, bungkuus.” Sahut Hana jenaka diiringi gelak tawa ringan setelahnya.


“Kamu kira makanan take away?” Balas Jingga ikut tergelak.


“Ohh iya, gimana kalau kita makan siang bareng di kantin setelah ini.” Ajak Jingga kemudian yang langsung dibalas anggukkan oleh Hana.


Di tengah perjalanan, ponsel Jingga berdering. Dia kemudian bergegas pergi dan memisahkan diri dari Hana setelah menjawab panggilan telepon tersebut.


Selain itu, Jingga juga meminta maaf pada Hana karena dia tidak bisa makan siang bersamanya. Jingga juga berjanji pada Hana jika lain kali akan mentraktirnya makanan yang mahal sebagai ganti makan siang bersama yang gagal hari ini .


********


Jingga saat ini sedang berdiri dengan menenteng tas yang tadi dia bawa dari ruangannya setelah melepaskan jas dokternya, dengan wajah gelisah dia menunggu pintu lift terbuka.


Jingga menaiki lift begitu pintunya terbuka, dia tertegun saat melihat ada Luna di dalamnya. Lebih tepatnya, dia teringat kejadian tadi pagi saat gadis itu menggamit lengan Biru. Namun dia berusaha untuk tetap memasang ekspresi setenang mungkin. Saat pintu lift hendak tertutup, tiba-tiba Bian menahannya untuk kemudian ikut masuk ke dalam lift.


“Hampir saja . . . .” Gumam Bian seraya mengatur napasnya yang sedikit berantakan.


“Kamu harusnya nahan pintu buat aku, Lun.” Gerutu Bian karena melihat Luna diam saja, padahal gadis itu sudah melihat kedatangannya dari kejauhan.


“Aku nggak tahu kalau kamu akan masuk, Dokter Bian.” Balas Luna penuh meledek.


Biar berdecak sebal. Lantas menyandarkan punggungnya, tapi kembali menegakkan tubuhnya saat menyadari Jingga ternyata ada di sana sejak tadi.


“Jingga . . . .” Panggil Bian seraya mendekati Jingga. “Iya, kan? Kita ketemu minggu kemarin.”


Jingga menoleh, menatap Bian bingung sambil berusaha mengingat-ingat. Sekilas Jingga memang mengingat wajah Bian, tapi tidak dengan namanya.

__ADS_1


Jingga mengangguk ragu. “Maaf, Dokter kenal saya?” Tanyanya bingung.


“SMA Genius.” Bian berusaha mengingatkan. Jingga menggeleng denan wajah bingung.


“Kita satu SMA. Aku Bian, satu tingkat di atas kamu.” Jelas Bian kemudian.


Jingga mengangguk. Pantas saja wajah cowok itu sangat tidak asing.


“Kita juga cukup sering papasan di sekolah.” Tambah Bian, berharap gadis itu bisa mengingatnya.


“Maaf, tapi itu udah terlalu lama.” Ucap Jingga tersenyum kaku, terlebih mereka tidak pernah berinteraksi secara khusus.


Bian nyengir lebar, sadar jika dia sudah salah memaksa Jingga mengingatnya. “Maaf.”


“Santai aja.” Balas Jingga.


“Tapi kita satu SMA.” Bian mengingatkan sekali lagi.


Jingga tersenyum geli dan kembali mengangguk.


“Senang bisa ketemu lagi.” Ucap Bian mencoba akrab. “Kamu masih cantik kayak dulu. Malah makin cantik.”


“Itu berlebihan. Tapi, terima kasih.” Sahut Jingga berharap cowok di sebelahnya ini bisa berhenti bicara. Benar-benar sok akrab.


Sementara Luna yang melihatnya menahan tawa, mengira Bian sedang menggoda gadis cantik tapi tidak berhasil.


“Ohh, iya. Aku kerja di sini.” Ucap Bian lagi.


Jingga mengerling. “I know.” Ucapnya sambil menunjuk name tag Bian yang digantung di lehernya. “Dokter Bian.”


Cowok itu kembali nyengir, memperlihatkan giginya yang rapi. Lalu mengamati penampilan Jingga yang chic, membuatnya terlihat semakin cantik. Gadis itu memang memiliki pesona yang luar biasa dari dulu.


“Ngomong-ngomong, kamu kerja di mana?” Tanya Bian


Jingga terdiam berpikir, hingga lift berdenting dan tibalah mereka di lobby rumah sakit. Jingga buru-buru keluar dari lift.


“See you again, Doctor Bian.” Pamit Jingga tersenyum tipis, kemudian berlari kecil untuk keluar dari gedung rumah sakit dan menghentikan taksi.


Bian hanya bisa menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu kaca otomatis.


********


Jingga tiba di private room sebuah restoran. Di dalam ruangan tersebut, tampak Om Rendi, Tante Lisa, dan Biru sudah duduk menunggunya.


Sekitar 30 menit yang lalu saat dirinya masih di rumah sakit bersama Hana, Tante Lisa menelepon dan mengajaknya untuk makan siang bersama.


Jingga tidak bisa menolak ajakan tersebut meski sangat ingin karena ada Biru di sana. Tapi karena Tante Lisa merengek dan memohon membuat Jingga mengiyakannya.


“Maaf, aku terlambat.” Sesal Jingga tak enak hati.


“Nggak apa-apa. Tante yang salah karena mendadak ngasih tahu kamunya. Ayo sini duduk.” Jawab Tante Lisa sembari menuntun Jingga untuk duduk di sebelah Biru yang memberinya tatapan dingin sejak kedatangannya.


“Salah Biru juga, nih, nggak ngajak kamu berangkat bareng.” Imbuh Tante Lisa menyalahkan, tak peduli jika ada seorang pelayan datang membawakan makanan ke meja mereka.


Biru menatap wanita yang sudah melahirkannya itu penuh protes.


“Aku, kan, belum punya nomornya.” Sahut Biru tak terima sambil mengedik ke arah Jingga.


“Kan bisa susul Jingga ke ruangannya dulu. Kamu ini emang nggak niat aja ngajak bareng Jingga.” Omel Tante Lisa. Biru langsung mendelik sambil mengusap-usap kepalanya.


“Udah, Tan, aku nggak apa-apa, kok, berangkat sendiri.” Ucap Jingga agar wanita itu berhenti mengomeli Biru.


“Lagian dia, kan, cewek mandiri. Dia bisa ngelakuin semuanya sendiri.” Ujar Biru acuk.


Jingga tersenyum kecut. Ada perasaan tak mengenakan di hati begitu mendengar hal tersebut.


“Ya tetap nggak boleh kayak gitu. Jungga, tuh, calon istri kamu. Calon istri.” Tegur Tante Lisa penuh penekanan.


Biru mendesah dan berdecak malas. “Iya-iya. Nih –”


Jingga mengernyit tak mengerti begitu melihat Biru menyodorkan ponsel padanya.


“Simpen nomor kamu.” Ucap Biru dengan nada datar.


Jingga mengerti dan meraih ponsel dari tangan Biru dengan hati-hati, dia lantas memasukkan nomor ponselnya, dan menyerahkan benda tersebut kembali pada pemiliknya.


“Nah gitu, dong, suka nih Mama lihatnya. Kamu jangan cuek-cuek sama Jingga.” Seru Tante Lisa sekali lagi memukulkan kipasnya, kali ini mengenai lengan Biru.


“Bener kata Mama kamu, Bi.” Om Rendi menimpali. “Dan mulai sekarang, ada baiknya kalian mulai mendekatkan diri untuk saling mengenal. Kalian juga harus bersiap-siap karena dua minggu lagi akan bertunangan. Kami juga sudah membicarakannya dengan orang tua kamu, Ji.”


Baik Biru maupun Jingga, keduanya sama-sama terkejut mendengar penuturan lelaki tua itu.


Meski Biru tidak keberatan dengan perjodohan ini, tapi untuk langsung bertunangan itu terlalu cepat, mengingat mereka baru saja bertemu.


Lain halnya dengan Jingga. Bukan sekedar tidak siap, Jingga tidak senang sama sekali mendengar hal ini.


Jingga sudah memutuskan untuk melepaskan diri dari Biru. Kenapa Ayah dan Bunda tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya?


“Maaf, Om, Tante. Tapi aku belum setuju sama perjodohan ini.” Sanggah Jingga. Biru yang mendengar itu menatap Jingga tak suka.


“Om nggak akan minta persetujuan kamu ataupun Biru. Kalian tetap harus menikah. Kami para orang tua sudah merencanakan semuanya.” Tutur Om Rendi tegas.


“Tapi, Om. Aku nggak bisa nikah sama Kak Biru.” Jingga masih berusaha protes.


Wajah Tante Lisa berubah kecewa mendengarnya. Tapi beliau mencoba mengerti dari sudut pandang Jingga. Tiba-tiba dipaksa menikah seperti ini memang tidak mudah. Dia juga mungkin akan protes seperti itu jika berada di posisi Jingga.


“Kenapa? Kamu sudah punya pacar?” Tanya Om Rendi dingin, membuat Jingga sedikit menunduk takut. Lelaki itu lebih menyeramkan dari ayahnya.


“Kalau iya. Itu baru pacar, kan? Kalian bisa putus dari sekarang. Selesaikan masa lalu kamu, dan mulai menata masa depan bersama Biru. Masalah cinta itu bisa didapatkan seiring berjalannya waktu.” Lanjut Om Rendi tak ingin dibantah.


“Tapi, Om –”


“Om nggak mau dengar bantahan lagi, Jingga.” Sambar Om Rendi masih dengan suara dinginnya, nada suaranya yang sedikit meninggi benar-benar mampu membungkam Jingga.


Sekarang Jingga tahu dari mana Biru mendapatkan sifat buruk yang suka memaksa dan memerintah itu.


“Pa, jangan gitu, dong, sama Jingga. Papa udah bikin dia takut.” Tegur Tante Lisa mendapati suaminya terlalu serius dan keras pada Jingga.


“Kamu nggak apa-apa, kan, Sayang? Maaf, ya. Om emang kadang nggak kekontrol.” Ucap Tante Lisa tak enak hati sambil meraih tangan Jingga dan mengelusnya.


Gadis itu menggeleng pelan dan tersenyum kecil untuk menenangkan wanita itu jika dia baik-baik saja.

__ADS_1


Om Rendi menghela napas, memejamkan matanya sebentar, lalu menatap Jingga dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafin Om karena sudah bersikap keterlaluan sama kamu.”


Jingga menggeleng. “Nggak apa-apa, kok, Om.”


“Ya sudah, kalau gitu ayo kita makan.” Lanjut Om Rendi mencoba keluar dari susana yang tadi sedikit menegang.


Sejenak, suasana hening mengambil alih keadaan. Hanya dentingan alat makan saling bersentuhan yang terdengar.


Jingga tak begitu menikmati makan siangnya, mendadak selera makannya hilang meski sebenarnya dia merasa lapar. Dengan susah payah dia menelan makanannya, kerongkongannya seakan tersumbat sesuatu hingga rasanya makanan yag dia kunyah sulit sekali terdorong masuk.


Sama halnya dengan Biru, cowok itu sejak tadi bahkan hanya memainkan makanannya saja.


“Kenapa nggak makan, Bi?” Tegur Om Rendi.


“Aku udah kenyang.” Biru meletakkan sendok dan garpu yang sedari tadi dia mainkan. Sorot mata Om Rendi menatap Biru tak suka.


“Aku minum ini aja.” Ucap Biru kemudian, sedikit takut melihat tatapan sang Ayah. Dia kemudian mengambil jus yang ada di hadapannya.


“Itu jus tomat. Stroberi yang kanan.” Ucap Jingga tanpa sadar, menghentikan tangan Biru yang nyaris menyentuh jus tomat.


Sontak ucapannya barusan membuat perhatian semua orang teralihkan padanya. Biru termangu, menatap Jingga dengan sorot mata penuh tanda tanya.


“Kamu? Dari mana kamu tahu?” Tanya Biru heran karena Jingga mengetahui dirinya bermaksud mengambil jus stroberi alih-alih jus tomat yang sangat tidak disukainya.


“Yaa?”


Jingga mengerjap, menyadari jika dia sudah tidak sengaja melontarkan sesuatu yang salah.


“I-itu karena –” Jingga memutar otaknya berusaha mencari alasan yang bisa diterima. “Karena sebelumnya aku udah nyari tahu sedikit banyak tentang kamu, Kak.”


“Kamu nggak suka tomat, kan?” Jingga nyengir kaku. Sialan. Kenapa dia terlalu mengingat semua tentang Biru dengan baik?


“Siapapun selain Mama dan Papa. Nggak ada yang tahu itu.” Terang Biru menatap Jingga penuh selidik.


“Eng . .i . .itu. . .” Jingga gelagapan. Sial, dia benar-benar bingung harus menjawab apa.


Mendadak hatinya kembali sedih. Dulu, dia benar-benar spesial di hati Biru. Jingga benar-benar merindukan saat itu.


Beruntung dering ponsel Jingga mengalihkan perhatian semua orang. Dengan segera dia meminta izin untuk menjawab panggilan telepon tersebut dan keluar dari ruangan itu.


Jinga bernapas lega. Setelah menjawab panggilan telepon, dia kembali masuk dan berpamitan untuk pergi lebih dulu. Da menjelaskan bahwa ada pasien kritis yang membutuhkan penanganannya. Tentu saja, semua orang di sana tidak bisa menolaknya. Mereka dengan terpaksa mengizinkan Jingga untuk pergi lebih dulu.


BRUUK. . . . .


Karena tergesa-gesa, Jingga tak sengaja menjatuhkan tas hingga seluruh isinya berhamburan keluar dari tempatnya.


“Ji, tenang. Jangan buru-buru kayak gitu.” Tegur Tante Lisa saat melihat Jingga terburu-buru memunguti dan memasukkan kembali isi tasnya.


“Terima kasih.” Ucap Jingga pada Biru karena telah membantu memunguti beberapa barangnya.


“Om, Tante. Aku permisi dulu. Terima kasih untuk makan siangnya.” Tutur Jingga kemudian dan berlalu pergi meninggalkan mereka.


“Hati-hati, Ji.” Pesan mama Lisa setengah berteriak.


“Ehh, ini satu lagi ketinggalan. . . .” Tante Lisa mengambil benda persegi panjang berwarna kuning mustard di bawah kaki meja. Dompet cantik milik Jingga.


“Bi, susulin sana.” Titahnya kemudian sambill menyerahkan dompet tersebut pada Biru.


Biru berdecak malas. “Nyusahin banget, sih.” Ujarnya seraya merampas kasar dompet dari tangan Mama hingga tak sengaja membuat kunci magnet pada dompet terbuka.


Sekalian terbuka, Biru malah tertarik untuk membuka lebih lebar dompet itu sekalian.


“Bi, cepet susulin.” Tegur Om Rendi. Tapi Biru menghiraukannya


Ada satu foto terselip manis begitu Biu membuka dompet tersebut. Dia bergeming, matanya mengerjap berulang kali untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.


********


Di depan ruang IGD, Bisma tampak sedang bergurau dengan Luna dan Dokter jaga di depan meja pelayanan. Namun aktivitasnya terganggu tatkala seorang Dokter dengan penampilan bak Miss Universe menghampirinya.


“Dokter Bisma . . . .” Panggilnya. Bisma otomatis mengalihkan perhatian padanya.


“Can you help me, please?” Lanjut Dokter itu dengan wajah penuh harap.


“Aku pikir mulut kamu bisa gatal saat meminta bantuan, Nadine.” Ucapnya heran, pasalnya Dokter Nadine yang merupakan rekan seprofesinya itu sangat jarang sekali meminta bantuan.


“Aku serius.” Ujarnya dengan wajah merengut kesal.


“Sore ini kamu ada jadwal operasi, nggak?” Tanya Nadine kemudian. Sejenak Bisma tampak berpikir, hingga akhirnya menggelengkan kepalanya.


“Oke, bagus. Kalau gitu, tolong gantikan aku nanti sore untuk prosedur CABG (Coronary Artery Bypass Graft) yang di pimpin Dokter Jingga. Tolong sekali ini aja. Aku ada urusan mendesak.” Pintanya kemudian dengan wajah memelas.


“Kenapa harus aku? Masih banyak ahli anestesi lain.” Protes Bisma.


“Karena Dokter Jingga cuma mau Dokter terbaik di timnya, dan aku juga udah janji bakal cariin pengganti yang setara dengan aku.” Jelas Nadine. Bisma mengerti dan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Namun, sesaat dia tertegun saat mengingat Nadine menyebut nama Jingga.


“Tunggu, siapa kamu bilang tadi?” Tanya Bisma ingin memastikan. Alis Nadine terangkat tak paham.


“Dokternya. . . .” Lanjut Bisma kemudian.


“Ohh, Dokter Jingga. Kenapa?” Jawab Nadine seraya bertanya penasaran.


“Aku baru tahu ada yang namanya Dokter Jingga di sini.” Gumam Bisma, mengingat dia telah berkeliling ke semua bagian dan mengenal hampir semua Dokter.


“Dia Dokter baru. Kamu mungkin belum kenal, karena seminggu ini kamu sibuk seminar di Thailand.” Jelas Nadine kemudian.


“Dia cewek atau cowok?” Tanya Bisma lagi.


“Cewek dan cantik banget. Awas jangan digodain, inget istri di rumah..” Jawab Nadine memperingatkan.


Luna yang berada di antara mereka diam mendengarkan. Dia penasaran dengan Dokter baru itu yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat.


“Siapa yang cantik?” Albi tiba-tiba datang menimpali sambil menyampirkan sebelah tangannya di pundak Bisma.


“Dokter Jingga.” Jawab Bisma santai. Albi terkesiap. Apa mungkin dia adalah Jinggga yang sedang Biru cari?


“Jingga? Dia Dokter? Dokter di mana?” Bian yang sejak tadi akan menghampiri, dengan samar mendengar percakapan mereka yang membahas nama Jingga ikut bergabung. Apa mungkin itu Jingga yang tadi tak sengaja bertemu dengannya? Jingga si adik kelasnya yang mempesona


“Di sana . . . .” Sahut Nadine seraya menunjuk Jingga di pintu masuk yang tampak berjalan dengan tergesa-gesa. Mata mereka mengikuti arah telunjuk Nadine. Sontak, mata mereka membelalak sempurna.


********

__ADS_1


To be continued . . . .


__ADS_2