
*********
Sore harinya, Biru dan Jingga sudah siap untuk memulai acara bulan madunya. Mereka kini sudah berada di international lounge untuk menunggu keberangkatan pesawatnya ke Swiss.
Keduanya memilih kota St. Moritz sebagai tempat bulan madu mereka. Biru dan Jingga ingin menikmati pemandangan kota St. Moritz yang dikelilingi banyak pegunungan bersalju.
Namun, bukan hanya itu alasan mereka memilih kota St. Moritz sebagai tempat bulan madunya. Biru memilihnya jelas hanya untuk menikmati dinginnya kota itu untuk dia gunakan bergelung di bawah selimut bersama Jingga. Dia menginginkan sensasi yang berbeda.
Lain halnya dengan Jingga, dia memilih kota tersebut karena di sana akan banyak ditemui toko dari produk mahal kelas dunia seperti Louis Vuitton, Hermes, Prada, Rolex, Valentino, dan lainnya. Lihatlah, gadis itu sekarang sudah senyum-senyum sendiri sambil menyusun rencana di otaknya untuk menghabiskan uang suaminya di sana nanti.
Padahal, tadi sepanjang perjalanannya ke Bandara, wajahnya ditekuk karena sebelumnya Biru kembali menyerangnya di kamar mandi. Meski tanpa penyatuan, tapi Biru menggerayangi tubuhnya tanpa merasa puas.
Jingga kesal, karena ulah laki-laki itu, mereka nyaris saja terlambat untuk penerbangannya.
“Udah nggak ngambek?” Tanya Biru mencolek dagu Jingga begitu dia melihat istrinya itu senyum-senyum sendiri dengan mata yang berbinar.
“Siapa juga yang ngambek?” Elaknya santai. Biru mendesis, gemas sekali melihat istrinya ini.
“Padahal tadi kita bisa main lebih lama.” Bisik Biru tepat di telinga Jingga sesaat setelah dia merangkul pundak dan merapatkan tubuhnya dengan gadis yang sudah tidak lagi gadis itu.
“Ishh.” Jingga refleks mencubit pinggang Biru hingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
“Kamu tuh, ya. Kita hampir aja telat, masih aja mikirin itu.” Dengus Jingga sedikit kesal.
“Kan hampir, nggak bener-bener telat. Ini juga masih banyak waktu.” Sanggah Biru kemudian. Memang Jingga saja yang heboh dan tak sabaran ingin segera berangkat.
“Tahu, ahh, males aku sama kamu.” Sahut Jingga kesal. Tapi Biru masih tak ingin berhenti menggodanya.
“Tadi tuh kita masih punya waktu buat . . . .”
“Kak . . . .” Jingga mendelikkan matanya tajam untuk menghentikan Biru agar tidak terus meracau.
“Becanda.” Biru terkekeh kecil. “Kalau lagi ngambek gini tambah gemesin.”
Jingga mendengus geli sekaligus sebal saat Biru berhasil mencuri satu kecupan di pipinya.
********
Beberapa saat kemudian, Biru dan Jingga sudah mendudukkan dirinya di kursi penumpang di dalam pesawat.
Jingga tersenyum saat melihat gumpalan awan dengan bentuk bermacam-macam dari jendela pesawat. Ini adalah bagian yang paling Jingga sukai saat bepergian dengan pesawat, karena selalu ada pemandangan menakjubkan di atas langit yang tidak bisa dia lihat setiap hari, apalagi di daratan.
“Ji. . . .”
Jingga terkejut karena begitu dia menoleh, Biru tiba-tiba memotretnya dengan kamera polaroid yang selalu dibawanya saat laki-laki itu bepergian.
“Melongo aja masih tetap cantik.” Biru tersenyum puas melihat hasil jepretannya.
Dia kemudian mengambil travel jurnal yang pada sampulnya terdapat tulisan “Our Love Journey”. Jurnal yang sengaja dia siapkan, yang akan dia isi dengan kisah perjalanan cintanya bersama Jingga, untuk kemudian suatu saat nanti dia bisa ceritakan kisahnya pada anak-anak mereka kelak.
“Ihh, itu jelek. Kenapa ditempel di sana? Ulang fotonya.” Protes Jingga saat melihat Biru menempel foto candidnya pada travel jurnal.
“Ini cantik, kok.” Sahut Biru tanpa menoleh ke arah Jingga, tangannya sibuk menuliskan sesuatu di samping foto itu.
“Langit pertama bersama Jingga.” Begitulah kira-kira yang ditulis Biru.
“Jingga, ayo isi jurnal ini dengan kisah cinta kita yang bahagia setiap harinya.” Biru menggenggam tangan Jingga sesaat setelah dia menutup jurnalnya.
“Kisah cinta yang bahagia setiap hari? Bukan kisah cinta yang berakhir bahagia?” Tanya Jingga ingin mengoreksi.
Biru menggeleng dengan senyum hangat menghiasi wajahnya. “Kisah cinta yang berakhir bahagia itu cuma bisa terjadi di dongeng.”
Ya, tidak ada yang seperti itu di dunia nyata, karena kita tidak akan tahu bagaimana akhirnya. Misalnya, mungkin suatu saat nanti salah satu dari pasangan kita meninggalkan kita lebih dulu, apakah itu bisa disebut dengan akhir bahagia? Tidak, kita akan bersedih karena melihat orang yang kita cintai telah tiada.
“Tolong hidup satu hari lebih lama dariku.” Ucap Jingga yang ikut mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Biru.
“Kamu mau nyiksa dan bikin aku sedih? Kamu ninggalinn aku ke luar negeri aja, aku rasanya hampir mati. Apalagi ditinggal selamanya.” Wajah Biru merengut lucu. Dia bergidik ngeri membayangkan harus ditinggal pergi Jingga selamanya.
“Justru karena itu, kamu bisa cepet nyusulin aku setelahnya. Kematian kamu akan lebih mudah setelah melihat aku pergi. Jadi, kamu nggak akan merasa sedih terlalu lama.” Ujar Jingga diiringi kekehan kecil setelahnya.
Menyeramkan sekali, mereka membahas kematian saat berada di dalam pesawat yang sedang mengudara.
__ADS_1
“Jangan ketawa. Itu nggak lucu, Ji.” Dengus Biru kesal sembari mengusap penuh wajah Jingga.
“Iya, deh, maaf.” Jingga memeluk lengan Biru manja dan menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu .
“Gantengnya hilang, tahu, kalau ngambek gini.” Rayu Jingga seraya mengelus dagu Biru layaknya seekor kucing. Namun, Biru tetap diam dengan wajah yang ditekuk masam.
Jingga menghembuskan napasnya pelan, pandangannya lalu mengedar ke seluruh ruangan pesawat kelas bisnis itu. Saat dirasa ada kesempatan, Jingga dengan cepat mengecup pipi Biru untuk membuat suasana hatinya membaik.
“Cium di sini.” Jingga memutar bola matanya malas saat melihat Biru menunjuk bibirnya. Seharusnya tadi dia membiarkannya saja, paling-paling kesalnya hanya sebentar.
“Jangan aneh-aneh kamu. Aku nggak mau kita nanti dianggap pasangan mesum di pesawat.” Dumel Jingga berbisik di telinga Biru.
Walaupun mereka sudah menjadi suami istri sekarang, tapi tetap saja harus menjaga sikap dan menghargai penumpang lain yang ada dalam satu pesawat dengan mereka.
“Harusnya kita naik first class biar ada ruang privasinya.” Biru kembali mendengus, menyesali keputusannya yang menyetujui Jingga memilih naik pesawat kelas bisnis.
“Sabar. Di kamar hotel aja, kamu bebas minta cium di bagian mana aja.” Tutur Jingga seraya mengusap lembut bibir Biru menggunakan ibu jarinya.
“Iya, nanti kamu cium di sini, ya.” Masih berbisik, Biru membawa satu tangan Jingga untuk menyentuh pusat tubuhnya.
“Ish.” Jingga menatap Biru berang, laki-laki itu terkekeh kecil. “Becanda, Sayang.”
“Udah, ahh, aku mau tidur dulu.” Jingga menarik tangannya dari genggaman tangan Biru, lalu menurunkan kursi, untuk kemudian berbaring tidur.
Biru tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap kurang dari lima menit setelah Jingga membaringkan tubuhnya.
“Tidur yang nyenyak.” Biru menyelimuti Jingga hingga sebatas leher sebelum kemudian dia ikut menyusulnya tidur.
********
Setelah melakukan perjalanan lebih dari dua belas jam lamanya, akhirnya Biru dan Jingga tiba di salah satu hotel bintang lima yang sudah direservasi sebelumnya.
Setelah melakukan check in ulang, Jingga didampingi oleh Guest Relation Officer (GRO) untuk mengantarnya ke kamar mereka. Jelas mereka didampingi GRO karena kamar yang mereka tempati adalah tipe presidential suite. Tampak dua orang Bell Boy mengikutinya dari belakang membantu mereka membawa tas dan barang bawaannya hingga ke kamar.
Jingga sebenarnya menyayangkan hal ini karena harus membuang-buang uang banyak hanya untuk menyewa kamar tersebut selama beberapa hari ke depan. Namun, Biru tak bisa dibantahnya. Laki-laki itu mengatakan kalau dia ingin yang terbaik untuk bulan madu mereka.
Terbukti, mereka disuguhi kemewahan dan fasilitas yang lengkap kamar ini. Pemandangan kota St. Moritz yang dikelilingi pegunungan bersalju bahkan terlihat jelas dari atas kamar. Tampak indah, romantis, dan menenangkan. Pantas saja St. Moritz masuk ke dalam salah satu tempat di Swiss yang direkomendasikan untuk pasangan yang akan berbulan madu.
“Lebih suka kamu.” Jingga tersenyum seraya mengelus lembut wajah Biru yang kini meletakkan kepala di pundaknya.
“Bisa aja kamu, tuh.” Biru mengecup leher Jingga dengan gemas, cukup lama membenamkan bibirnya di sana sebelum kemudian beralih menggigit daun telinganya, hingga membuat bulu kuduk Jingga meremang.
“Ayo kita jalan-jalan sekarang, habis itu main ice skating.” Ajak Jingga semangat. Matanya berbinar, bermain ice skating di atas danau St. Moritz yang membeku tak ingin Jingga lewatkan dan sudah dia nanti-nantikan selama ini.
“Ya-ya-ya?” Jingga membalikkan badannya hingga menghentikan kegiatan Biru yang sedang asyik bermain-main dengan telinganya.
“Sayang. . . .” Jingga merayunya dengan memasang puppy eyes. Biru mendengus, ada maunya baru bilang sayang.
“Jalan-jalannya nanti sore aja, deh, atau nanti malam.” Jawab Biru tegas. Jingga mengerucutkan bibir, jurus merayu puppy eyesnya tidak mempan sama sekali.
“Kenapa harus nunggu nanti? Sekarang aja, ayo. . . .” Jingga menarik-narik tangan Biru, tapi laki-laki itu tak bergerak sama sekali.
“Emang kamu nggak capek? Hmm?” Biru membelai lembut wajah istrinya yang tampak merengut itu. Heran saja karena Jingga masih terlihat penuh energi setelah perjalanan jauh mereka berjam-jam lamanya.
“Aku mau jalan-jalan.” Jingga masih keukeuh, wajahnya ditekuk masam.
“Tapi aku capek banget, Ji. Kita istirahat dulu sebentar, habis itu baru jalan-jalan, gimana?” Bujuk Biru sabar. Menghabiskan waktu selama lebih dari dua belas jam di pesawat membuat tubuhnya sangat lelah dan dia butuh tidur saat ini juga.
Mendengar penuturan Biru, Jingga jadi merasa bersalah. Dia tak memikirkan itu, perjalanan jauh dan ditambah Biru tadi membantu membawa barang-barang miliknya pasti membuat tubuh laki-laki itu lelah. Dan sekarang Jingga malah merengek minta jalan-jalan, sungguh istri yang tidak pengertian dan tak tahu terima kasih.
“Ya udah, gimana kalau seharian ini kita istirahat dan mulai jalan-jalan besok?” Balas Jingga, membuat Biru mengernyitkan keningya heran, karena gadis itu cepat sekali berubah pikiran.
“Kamu yakin?” Tanya Biru tak percaya.
Jingga mengangguk yakin. “Aku mau kita nyiapin energi yang banyak buat besok jalan-jalan, belanja, dan main ski atau ice skating, ohh, iya, kita juga harus naik kereta kuda.”
Biru tersenyum gemas melihat Jingga begitu bersemangat. Apa ini arti bulan madu yang ada dalam pikiran gadis itu?
“Boleh. Tapi, kayaknya ada satu hal yang kamu lupain.” Ujar Biru.
Jingga mengerutkan dahinya dalam, mencoba mengingat-ingat apa yang kiranya dia lupakan. Tapi, dia tidak menemukannya.
__ADS_1
“Apa?”
“Tiga anak cewek dan empat anak cowok. Kamu lebih harus nyiapin energi yang banyak untuk itu.” Bisik Biru, membuat wajah Jingga bersemu merah.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar lupa jika bulan madu bukan hanya tentang jalan-jalan dan berbelanja, ada hal paling utama yang harus mereka lakukan.
“Ihh, apaan sih?” Jingga memukul pelan dada Biru, menundukkan wajahnya yang tampak malu-malu.
“Kenapa? Kamu mau kita bikin sekarang?” Tanya Biru menggoda Jingga hingga wajahnya semakin memanas.
“Ish, katanya capek.” Jingga kembali memukul pelan dadanya.
“Kalau untuk itu, sih, aku nggak akan capek.” Biru menatap Jingga dengan seringai menggoda. Dia benar-benar senang menggoda gadisnya seperti ini, wajah malu-malu Jingga itu sangat menggemaskan, dan Biru menyukainya.
“Apaan, sih? Udah sana tidur kalau mau istirahat.” Dengus Jingga seraya mendoronng tubuh Biru agar menjauh darinya.
“Mau ke mana?” Biru menahan pergelangan tangan Jingga yang hendak berlalu pergi menuju kamar mandi.
“Aku mau mandi, terus berendam.” Jawab Jingga. Dia memang butuh berendam untuk merelaksasikan kembali tubuhnya yang terasa tagang dan pegal-pegal.
Kemarin sebelum penerbangannya ke Swiss, Jingga tidak memiliki kesempatan untuk itu karena Biru terus mengganggunya. Jangankan untuk berendam, bisa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang bersih saja dia sudah bersyukur.
“Nanti aja. Sekarang kamu temenin aku istirahat.” Ucap Biru.
Jingga terdiam menatap Biru penuh curiga, matanya memicing, menyelisik ke dalam sorot mata Biru untuk mencoba memastikan apa laki-laki itu benar hanya meminta untuk menemaninya istirahat tanpa ada maksud lain.
“Istirahat beneran, Ji. Aku cuma mau tidur sambil peluk kamu.” Ujar Biru kemudian seolah mengerti Jingga tengah mencurigainya.
“Kalau bohong, aku bakalan pesen kamar lain, yaa.” Ancam Jingga, membuat Biru meringis. Itu terdengar menyeramkan daripada ancaman tidak mendapat warisan dari Papa.
“Iya-iya, ayo.” Jawab Biru pasrah, lalu merangkul pundak Jingga dan menuntunnya untuk naik ke tempat tidur.
Jingga benar-benar menuruti permintaan Biru untuk menemaninya istirahat. Kini Biru sudah berbaring meringkuk di tempat tidur sambil memeluk Jingga, wajahnya dia tenggelamkan tepat di dada istrinya, persis seperti anak kecil memeluk ibunya saat tidur.
“Harus, ya, kayak gini?” Tanya Jingga yang merasa aneh dengan posisi tidur mereka. Tangannya terulur megusap-usap kepala Biru dengan sayang.
“Kayaknya aku bakalan tidur kayak gini terus mulai sekarang.” Biru mengeratkan pelukannya, lalu dia hirup dalam-dalam aroma tubuh Jingga yang terasa menenangkan seolah memiliki efek terapi untuknya.
“Kamu kayak bayi tahu, nggak?” Jingga tersenyum gemas. “Bayi gede.” Tangannya laku beralih menepuk-nepuk punggung Biru, persis seperti ibu yang hendak menidurkan anaknya.
“Terus, bayi gede ini boleh minum susu, nggak?” Biru tersenyum menyeringai di balik dada Jingga, tangannya lalu dengan nakal menyusup ke dalam sweater putih yang Jingga kenakan, berusaha membuka kait pakaian dalam di punggungnya.
“Bayi gedenya nakal nakal banget. Ish.” Dan tepukan yang tadinya pelan itu berubah menjadi tepukan keras.
“Haha, aku becanda.” Biru tergelak kecil seraya mengeluarkan tangannya dari balik sweater Jingga.
“Cepetan tidur, pokoknya aku mau jalan-jalan nanti malam.” Ujar Jingga kemudian sambil mengeratkan dekapannya pada tubuh Biru.
“Katanya mau besok?” Tanya Biru heran, dia sedikit menipiskan jarak, lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Jingga.
“Aku berubah pikiran.” Jawab Jingga disertai cengiran lebar, memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi.
“Tck, dasar.” Biru kembali menenggelamkan wajahnya di dada Jingga untuk kemudian matanya perlahan mulai merapat dan benar-benar tertidur.
Jingga menatap ke bawah, persis di mana kepala Biru berada di dadanya. Lantas dibelainya dengan lembut kepala laki-laki yang kini tengah tertidur lelap dalam dekapannya itu.
Ini seperti mimpi, Jingga tak menyangka sekarang Biru sudah menjadi suaminya. Terlintas dalam pikirannya, bagaimana jika dia dulu benar-benar meninggalkan Biru? Mungkin dia tidak akan bisa merasa sebahagia ini sekarang.
“Suaminya aku.” Jingga meninggalkan kecupan di puncak kepala Biru. Cukup lama, seolah mengalirkan rasa cintanya pelan-pelan melalui ciuman yang teramat dalam itu.
“Makasih karena nggak pernah mau nyerah sama aku.” Gumam Jingga dalam hati di sela ciumannya.
Walau bagaimanapun, Biru adalah orang yang cukup sabar, laki-laki itu cukup sabar menunggu Jingga kembali padanya, sabar menghadapi sikap dingin dan acuh Jingga yang tanpa sengaja itu juga menyakiti hatinya.
“Makasih karena udah mau berjuang untuk ngeyakinin aku.” Lanjutnya.
Keputusannya untuk menerima Biru kembali adalah hal yang tepat. Jingga bisa melihat cinta Biru yang begitu besar padanya. Dia percaya, Biru tidak akan mengecewakannya lagi, dan dia berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan Biru lagi.
********
To be continued . . . .
__ADS_1