
*********
Biru dan Jingga ikut bergabung di meja makan untuk sarapan bersama orang tua dan kakaknya yang sudah lebih dulu duduk di sana.
“Maaf membuat kalian nunggu.” Ujar Biru tak enak hati seraya menarik kursi yang akan dia duduki.
“Nggak apa-apa, Bi, santai aja.” Sahut Ayah tersenyum tak mempermasalahkannya.
“Kamu nggak usah sungkan, Bi. Anggap ini rumah sendiri, kan kamu udah jadi bagian dari keluarga ini juga” Timpal Bunda yang merasakan sikap tak nyaman menantunya itu.
“Iya, Bun.” Jawab Biru mengangguk sopan.
Meski Bunda mengatakan seperti itu, tapi tetap saja Biru merasa canggung. Padahal, setiap hari dia berhadapan dengan pasien dan memimpin ratusan staff bawahannya di rumah sakit, dan dia selalu baik-baik saja. Tapi, berhadapan dengan mertua dan kakak iparnya rasanya benar-benar sangat berbeda.
“Ya udah sekarang kita mulai makan.” Ujar Ayah kemudian untuk memulai sarapan mereka.
Jingga mengambilkan makanan untuk Biru walaupun hatinya masih diliputi rasa kesal. Gadis itu cukup telaten karena dia sudah mulai terbiasa melayani Biru makan setelah menghabiskan beberapa hari bersama laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
“Kamu mau nasi goreng atau smoothies?” Tanya Jingga.
“Aku mau nasi goreng aja. Tapi aku juga mau smoothiesnya.” Jawab Biru yang ingin makan keduanya. Dia sangat lapar dan butuh makan nasi, tapi dia juga ingin memakan smoothies yang sepertinya terlihat enak itu.
“Oke, kamu bisa makan smoothiesnya buat penutup nanti.” Jingga kemudian meminta Bi Tini untuk menyimpan kembali smoothies itu ke dalam lemari es agar tetap segar.
“Cukup, nggak?” Tanya Jingga lagi setelah mengambil satu centong penuh nasi goreng untuk dia letakkan ke dalam piring Biru. Laki-laki itu menjawab dengan anggukkan kepala diiringi senyum tipis yang tersungging di bibirnya.
“Makasih, Sayang.” Ucap Biru tersenyum tulus. Jingga hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ayah dan Bunda yang melihat pemandangan itu tampak tersenyum bahagia.
Untuk sejenak, tidak ada percakapan di meja makan itu. Semua orang fokus dengan makanannya masing-masing, tampak si kecil Biel juga makan dengan tenang di samping ibunya. Hanya suara dentingan piring dan sendok serta garpu yang saling beradu menggema di ruang makan itu.
“Eung, Ayah, Bunda . . . .” Panggil Biru tiba-tiba memecah keheningan. Semua orang refleks mengalihkan perhatian padanya.
“Iya, kenapa, Bi?” Sahut Ayah menghentikan sejenak kegiatan makannya.
“Maaf, habis ini aku mau bawa Jingga pulang ke rumah Mama-Papa.” Jawab Biru memberitahukan niatnya untuk pulang setelah sarapan.
Ayah dan Bunda terdiam untuk beberapa saat, mereka tampak terkejut mendengar penuturan Biru.
“Kenapa terburu-buru, Bi?” Tanya Bunda terdengar protes. “Kalian bisa menginap dulu di sini setidaknya satu atau dua hari lagi.” Serunya kemudian.
Walau bagaimanapun, Bunda masih belum bisa melepas pergi putri satu-satunya begitu saja, Bunda masih merindukannya. Terlebih setelah hari pernikahannya beberapa waktu lalu, Bunda belum bertemu lagi dengan Jingga. Tidak boleh, dia masih ingin melihat putrinya di rumah ini dan bermanja-manja dengannya.
“Maaf, Bunda.” Sesal Biru yang melihat raut wajah Bunda tampak memelas.
“Tapi–”
“Bunda.” Sela Ayah menghentikan ucapan istrinya. Ayah harap Bunda mengerti jika sekarang mereka tidak memiliki hak sama sekali terhadap Jingga.
Walaupun mereka ingin menahan Jingga di rumahnya barang sebentar saja, tapi mereka tidak bisa melakukannya tanpa izin suaminya sekarang, karena hak atas putri mereka sudah diserahkan sepenuhnya pada Biru begitu proses ijab kabul dilakukan.
“Oke, nggak apa-apa. Tadi Bunda cuma sedikit terkejut aja karena ini terlalu cepat.” Ujar Bunda mencoba mengerti, sudut bibirnya lalu tertarik membentuk senyuman yang terlihat dipaksakan.
“Makasih sebelumnya.” Biru lantas tersenyum tipis. “Lain kali aku sama Jingga nginap di sini, aku janji.”
“Iya, Bi, santai aja.” Ayah menyahuti dengan bijak. Biru tersenyum mengangguk menanggapinya.
Sementara Jingga, dia melihat situasi ini dengan tatapan sendu, dia menundukkan pandangannya pada piring berisi nasi goreng miliknya untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Jingga tak menyangka, ternyata seorang perempuan setelah menikah, di rumah orang tuanya sendiri menjadi seperti tamu. Kenapa harus ada bagian ini? Dia tidak suka. Rasanya berat sekali harus meninggalkan orang tua yang sudah menyayanginya, serta rumah yang selama ini menjadi tempat ternyamannya sejak kecil begitu saja.
“Ohh, iya. Ke depannya kalian mau tinggal di mana? Rumah orang tua kamu?” Tanya Ayah mengalihkan pembicaraan. Ayah tahu jika Biru belum menyiapkan itu, mengingat pernikahan mereka yang dilangsungkan secara mendadak.
“Enggak, Yah. Untuk sementara mungkin kami tinggal di apartemen dulu, soalnya aku belum nyiapin rumah.” Jawab Biru yang memang sebelumnya sudah dia diskusikan bersama Jingga untuk tinggal terpisah dari orang tuanya agar bisa mandiri.
“Kalau masih berdua, sih, nggak masalah tinggal di apartemen. Tapi kalau sudah ada anak, Ayah rasa kalian butuh rumah yang lebih besar.” Tutur Ayah sesaat setelah dia meneguk air minumnya.
“Sebenarnya dulu aku udah beli rumah. Tapi Jingga kurang suka lokasinya, jadi sekarang kami rencananya mau bangun sendiri.”
“Lho, sayang, dong, udah beli nggak ditinggalin?” Sahut Bunda dengan kening berkerut heran.
“Aku udah jual lagi, Bun. Terus uangnya aku pake beli tanah di deket rumahnya Kak Bintang.” Jelas Biru. Ayah dan Bunda mengangguk paham, sekaligus senang karena Biru memilih tempat yang cukup strategis untuk membangun rumah.
“Padahal di sana juga ada rumah yang mau dijual, Bi. Kenapa malah beli lahan kosong?” Bintang menimpali yang diangguki setuju oleh Senja, sekaligus menyayangkan karena adik iparnya itu tidak meminta pendapatnya untuk membeli lahan di sana.
“Jingga maunya bangun rumah dari awal, Kak.” Jawab Biru melirik ke arah Jingga sekilas sambil tersenyum lembut. “Lagian renovasi juga butuh waktu yang nggak sedikit.”
Bintang mengangguk. “Iya juga, sih. Bangun sendiri atau renovasi nggak jauh beda.”
“Kalau gitu harus cepet-cepet dibangun sebelum kalian keburu punya anak.” Bunda kembali menimpali, mengingat Jingga dan Biru tidak akan menunda untuk memiliki anak.
“Iya, Bun. Dan rencananya aku mau minta bantuan Ayah sama Kak Bintang untuk itu.” Sebelumnya Biru memang hendak mendiskusikan ini dengan Ayah mertuanya, namun dia belum menemukan momen yang pas. Kebetulan sekali saat ini Ayah menanyakan perihal itu, jadi dia bisa menuturkan niatnya.
“Kami mau minta Ayah sama Kak Bintang buat desain dan bangunin rumah yang nyaman buat kami.” Jingga yang sudah merasa tenang kini ikut bergabung dalam pembicaraan.
“Bilang aja mau menghemat biaya desain sama kontraktor, ya, kan?” Ledek Bintang jahil yang sontak mendapatkan cubitan kecil di pahanya dari Senja.
“Iya, lah, punya Ayah sama Kakak arsitektur dan punya perusahaannya, sayang banget kalau nggak dimanfaatin.” Balas Jingga santai.
“Perusahaan arsitektur yang masuk top 10 terbaik di Asia mau dimanfaatin? Gratisan? Big NO.” Bintang bergurau dengan wajah menyebalkan.
Jingga mendengus sebal melihatnya. Ingin sekali rasanya dia melempari kakaknya itu dengan sendok yang ada di tangannya saat ini juga.
“Oke, Ayah siap bangun rumah untuk kalian. Tapi, benar apa yang dikatakan Bintang. Nggak ada yang gratis.” Ujar Ayah dengan senyum nyeleneh.
__ADS_1
“Aku nggak minta gratisan kok, Yah.” Sahut Biru dengan raut wajah serius, membuat Ayah menahan tawa melihatnya.
“Kamu apaan, sih, Bi? Lagi pamer kalau uang kamu banyak?” Ayah tergelak pelan. “Ayah tahu kamu mampu, tapi Ayah nggak minta bayaran uang.”
“Terus?” Tanya Biru ragu dengan sebelah alis terangkat bingung.
“Bayar Ayah dengan cucu yang lucu-lucu.” Jawab Ayah diiringi tawa renyah.
“Kalau bisa sepuluh.” Tambah Bunda mengangkat sepuluh jari tangannya, membuat semua orang tergelak kecuali Jingga yang hanya bisa mendengus sebal. Wanita itu meminta cucu seperti sedang membeli sepuluh porsi bakso saja, mudah sekali mengatakannya.
“Terus, rencananya mau kapan mulai bangun rumahnya, Bi?” Tanya Ayah setelah tawanya mereda.
“Maunya, sih secepatnya. Tapi aku nggak tahu harus mulai dari mana.” Bagaimanapun, ini adalah kali pertamanya Biru mengurus pembangunan rumah.
“Ya udah, kalau gitu serahkan semuanya sama Ayah. Biar Ayah yang urus semuanya. Besok lusa kamu antar Ayah ke lokasi tanahnya, bisa, kan?”
“Bisa, Yah. Bisa banget.” Biru mengangguk senang sebelum kemudian kembali berucap. “Sebelumnya makasih udah mau direpotin.”
“Kamu ini ngomong apa, sih, Bi? Ayah justru senang karena bisa membangun rumah untuk anak dan cucu Ayah tinggal nanti.” Dan pada dasarnya, yang namanya orang tua itu tidak pernah merasa direpotkan oleh anak-anaknya.
********
Setelah menyelesaikan kegiatan sarapan dengan perbincangan panjang di meja makan tadi, kini Biru dan Jingga sudah kembali ke kamar.
Jingga dengan suasana hatinya yang masih buruk, memilih menyibukkan diri untuk mengemasi barang-barangnya yang hendak dibawa pindah.
Sebenarnya Jingga hanya mengemasi semua peralatan make up, karena sebagian bajunya sudah dia masukkan ke dalam koper dari jauh-jauh hari sebelum menikah dengan Biru.
“Mana lagi barang kamu yang mau dibawa? Biar aku bantu kemasin.” Tanya Biru menawarkan bantuan.
“Udah semua.” Jawab Jingga seraya menutup ritsleting make up casenya tanpa menoleh ke arah Biru.
Biru menghembuskan napas kasar, kemudian menghampiri Jingga yang tengah duduk di depan meja rias.
“Kamu marah?” Tanya Biru yang merasa Jingga tak banyak bicara sejak beberapa jam yang lalu dia mengajaknya pulang. Raut wajah gadis itu juga tertekuk masam.
“Enggak, ayo kita pergi sekarang.” Jingga beranjak dari duduknya, lalu menarik koper yang dia letakkan di sudut meja rias.
Biru menahan tangan Jingga yang memegang koper. “Kalau kamu masih mau nginap di sini boleh, kok. Tapi aku tetap pulang sekarang, besoknya kamu aku jemput.”
Jingga yang hampir merasa senang malah dibuat semakin kesal, ingin sekali dia menangis saat ini juga. Apa-apaan Biru ini? Keluarganya mungkin akan mengira mereka tidak baik-baik saja jika seperti itu.
“Kamu apa-apaan sih, Kak? Jangan ngaco, kamu.” Seru Jingga kesal.
“Ya kamunya kayak bete gitu.” Sahut Biru berusaha menahan kesabarannya.
“Enggak.” Jingga melepaskan tangan Biru. “Udah, ahh, ayo turun. Kasihan Pak Rudi udah nunggu.” Lanjutnya seraya kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti.
“Ya udah tapi kamu jangan marah kayak gini, dong. Nggak ikhlas banget kelihatannya.” Biru lalu mengambil alih koper dari tangan Jingga.
“Enggak, aku nggak marah.” Sahut Jingga selembut mungkin, namun raut wajahnya masih datar. Lantas dia berjalan keluar dari kamar mendahului Biru.
Benar, Jingga memang tidak marah, tapi dia hanya sedikit kecewa karena Biru tidak memikirkan perasaannya.
********
Lambaian tangan Ayah dan Bunda, serta kakaknya masih bisa Jingga lihat dari pantulan kaca spion mobil yang kini perlahan mulai menjauh dari halaman rumahnya setelah beberapa saat lalu dia dan Biru berpamitan untuk pulang ke rumah Papa Rendi.
Bunda tampak menahan tangisnya saat tadi melepas putri kesayangannya yang akan terpisah jauh darinya.
Bunda merasa ini tidak adil karena dia yang sudah merawat Jingga dari kecil dengan penuh kasih sayang, tapi kini orang lain mengambilnya begitu saja. Bunda berharap bisa memutar waktu dan berdoa agar Jingga tidak tumbuh dewasa sama sekali agar dia bisa terus bersamanya, tapi kenyataannya tidak bisa seperti itu.
Sepanjang perjalanan, Jingga memalingkan wajahnya dan memilih untuk melihat lalu-lalang kendaraan dari kaca jendela mobil.
Tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka hingga tercipta suasana hening di dalam mobil itu, sesekali terdengar suara klakson yang dibunyikan Pak Rudi memecah keheningan.
“Katanya nggak marah, tapi diemin aku terus.” Tegur Biru sembari menarik pipi Jingga hingga gadis itu menoleh ke arahnya dengan tatapan sebal.
“Kak, malu. . . .” Protes Jingga setengah berbisik saat mendapati Biru malah memeluknya dari samping hingga kini tubuh mereka merapat.
Bukannya Jingga mau menolak Biru, hanya saja Jingga merasa tidak nyaman dengan Pak Rudi yang mungkin melihat mereka dari kaca spion.
“Malu apaan, sih? Orang aku cuma meluk kamu doang, nggak ngapa-ngapain.” Jingga memutar bola matanya jengah.
Tck. Cuma memeluk apanya? Sekarang bahkan Biru sedang menciumi ceruk lehernya dengan sebelah tangan yang sudah merayap nakal di belakang punggungnya.
“Kak, nanti di rumah. Malu, tahu, sama pak Rudi.” Tegur Jingga menjauhkan wajah Biru dari lehernya, lalu menatapnya dengan tatapan tak suka. Laki-laki ini sungguh tak tahu tempat.
Biru mendengus pelan, lalu menghembuskan napasnya kasar saat kegiatan yang sekarang menjadi hobi barunya harus dipaksa berhenti begitu saja.
“Ya udah, aku tidur aja kalau gitu.” Biru menyandarkan kepalanya di bahu Jingga.
“Kok tidur?” Tanya Jingga tanpa sadar.
“Habisnya bosen, istri aku nggak mau diajak ngomong dari tadi.” Jawab Biru menyindir, lalu mulai memejamkan matanya. Jingga hanya mendengus tak menyahuti. Lagipula, siapa yang sudah membuat suasana hatinya menjadi buruk seperti ini?
“Bangunin aku kalau udah sampai.” Pinta Biru tanpa membuka mata.
“Hmm.” Jawab Jingga malas seraya melemparkan kembali pandangannya ke arah luar jendela mobil.
“Ji. . . .” Suara Biru terdengar seperti teguran, laki-laki itu tampaknya tak suka dengan cara Jingga menjawabnya.
“Iya, aku bangunin kamu nanti.” Sahut Jingga yang mengerti akan ketidaksukaan suaminya itu.
__ADS_1
“Jingga.”
“Iya, apa lagi?”
“Usap-usap kepala aku.” Biru menarik tangan Jingga dan meletakan di kepalanya.
Jingga menghela napas panjang guna mencari kesabaran di sana. Tak tahukah Biru bahwa dirinya itu masih kesal?
Tck, Jingga jadi meratapi nasibnya sendiri yang seolah berubah drastis. Sudah harus nurut sama suami, bahunya dijadikan bantal, sekarang disuruh usap-usap kepalanya pula. Apa dia akan menjadi pelayan Biru mulai sekarang? Ahh, tidak! Rasanya dia ingin kembali menjadi gadis lajang lagi saja.
Entah kenapa, setelah pulang dari berbulan madu dan kembali ke dunia nyata, Jingga merasa hatinya hampa sekarang, dia merasa sedih dan juga depresi sekaligus.
Perubahan status dari seorang gadis menjadi seorang istri ini cukup mengagetkannya, Jingga benar-benar kaget akan tanggung jawab barunya yang selama ini belum pernah dia alami.
Jingga bahkan sekarang berpikir bahwa keputusannya menikah adalah kesalahan besar yang dia lakukan dalam hidupnya. Ahh, kenapa perasaannya jadi mellow seperti ini?
********
Setibanya di rumah, Biru dan Jingga disambut oleh Papa dan Mama begitu kakinya masuk ke dalam rumah. Orang tua Biru itu tampak antusias menyambut kedatangan anak dan menantunya.
“Welcome home. . . .” Mama dengan perasaan bahagia langsung memeluk dan mencium pipi Jingga begitu anak menantunya itu menapakkan kakinya di dalam rumah.
“Makasih, Ma.” Jawab Jingga tersenyum ramah.
“Selamat datang di rumah, Kakak cantik.” Papa mengayun-ayunkan kaki Reno yang tengah digendongnya seolah kucing itu ikut menyapa mereka.
Biru mendengus sebal melihat Reno yang terlihat sangat manja itu. Lagipula, Papa ini apa-apaan menyambut mereka sambil bawa-bawa kucing segala?
“Haha, ini Reno, Pa?” Tanya Jingga sambil mengelus dagu kucing yang tampak sangat jinak itu.
“Iya. Mirip Biru, kan, Ji?” Sahut Papa meminta persetujuan.
“Enak aja. Nggak ada yaa aku mirip sama dia, Pa.” Protes Biru tak terima. Sorot matanya menatap Reno dengan tatapan galak, Biru berpikir dia benar-benar harus menyingkirkan kucing itu dari rumah secepatnya.
“Udah, kalian jangan berantem terus. Sekarang mending kamu bawa Jingga ke kamar, Bi. Istirahat, mandi, terus habis itu kita makan siang.” Seru Mama menghentikan pertengkaran kecil suami dan anaknya itu.
“Iya, Ma.” Sahut Biru yang kemudian beranjak dan mengajak Jingga untuk masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Ini adalah kali keduanya Jingga memasuki kamar Biru. Saat itu kamar ini didekorasi dengan tema abu-abu terang dengan konsep maskulin khas anak laki-laki. Tapi, kali ini tampak berbeda. Mata Jingga tidak salah lihat, kan?
“Ya ampun Mama.” Biru menghembuskan napasnya lemah, terkejut melihat dekorasi kamarnya yang kini berubah drastis dari yang terakhir kali dia tinggalkan. Baik barang ataupun cat dinding, semuanya sudah diganti. Hanya rak lemari sebagai pintu menuju kamar rahasia yang masih bertahan di sana.
Kamarnya yang maskulin kini berubah menjadi lebih fresh dengan dekorasi perpaduan warna rose gold dan abu-abu. Memang masih cozy, tapi ini terlalu girly. Lebih cocok untuk Jingga.
“Surprise, kamu suka, kan, Ji?” Mama tiba-tiba datang mengejutkan mereka yang masih berdiri di ambang pintu.
“Mama apa-apaan rombak kamar aku jadi kayak gini?” Tanya Biru protes, tapi Mama tak peduli. Beliau bahkan kini malah merangkul lengan Jingga dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang.
“Mama, tuh, dari dulu pengiiiiin banget ngedekor kamar kayak gini buat anak perempuan Mama. Tapi, karena yang lahir malah Biru dan Mama nggak punya anak lagi, impian Mama jadi nggak kesampaian.” Jelas Mama begitu mereka duduk di tepi ranjang. Pandangan wanita paruh baya itu pun mengedar ke seluruh ruangan, dia tersenyum puas dengan hasil dekorasinya.
“Ma, ini kamar cewek, aku nggak suka.” Dumel Biru menghampiri istri dan ibunya sesaat setelah meletakkan koper Jingga di dekat lemari
Sementara Mama hanya mendelik sekilas pada Biru, lalu pandangannya kembali beralih pada Jingga.
“Dan berkat kamu, Mama bisa merealisasikan impian Mama, Ji.” Lanjut Mama dengan senyum mengembang di bibirnya, hatinya benar-benar senang karena sekarang dia memiliki anak perempuan di rumahnya.
“Ma–”
“Kamu suka, kan?” Mama menyelipkan anak rambut yang mengganggu wajah Jingga ke belakang telinganya.
Biru mendengus karena kembali diabaikan. Dia merasa sudah jadi invisible sekarang. Ini sungguh tidak adil. Baik Reno ataupun Jingga, keduanya sudah berhasil merebut perhatian Mama dan Papa darinya.
“Suka, Ma.” Sahut Jingga dengan mata berbinar haru. “Makasih udah mau nyiapin semua ini buat aku.”
Jingga merasa sangat beruntung karena memiliki mertua sebaik Mama yang menganggapnya seperti anak sendiri. Setidaknya, hal ini membuat hati Jingga yang tengah gundah menjadi sedikit lebih tenang.
“Mama harap, kamu bisa betah dan nyaman tinggal di sini.” Jingga tersenyum menganggukkan kepalanya. “Ya udah kamu istirahat dulu.”
Mama lantas beranjak dan berjalan pergi dari kamar mereka. Namun, sebelum benar-benar pergi, Mama memberitahu Biru untuk menemui Papa di ruang kerjanya.
“Aku ke bawah dulu.” Pamit Biru yang dijawab anggukkan kepala Jingga.
“Ketinggalan.” Jingga mendengus geli saat Biru berhasil mencuri satu kecupan di bibirnya.
********
Sepeninggal Biru dan ibu mertuanya, Jingga memilih untuk masuk ke dalam kamar rahasia milik Biru. Sepertinya dia harus menenangkan diri untuk menghilangkan semua rasa kesal dan kegundahan yang menyergap hati dan pikirannya.
“Ternyata dia juga punya ini.” Jingga tersenyum tipis, tangannya terulur mengambil novel Nicholas Sparks yang berjudul The Notebook. Novel yang menceritakan kisah cinta Allie dan Noah ini sudah sering sekali dia baca. Menurut Jingga, kisah cinta mereka ini hampir mirip dengan kisah cintanya dengan Biru.
“Kayaknya baca ini sambil berendam bareng oke juga.” Gumam Jingga dalam hati yang refleks membuat wajah dan tubuhnya memanas.
“Hiish, apaan, sih?” Jingga memukul kepalanya pelan dengan buku yang dia pegang saat ini. Bisa-bisanya dia membayangkan tubuh polosnya bersama Biru berendam di dalam bathub bersama.
Untuk membuang pikiran kotornya, buru-buru Jingga memposisikan dirinya duduk berselonjor di kasur lipat, tidak lupa dia juga menumpuk dua bantal agar punggungnya bisa bersandar dengan nyaman.
Sebelum membaca bukunya, sejenak dia terdiam untuk mendalami hati dan pikirannya yang tiba-tiba terasa gamang.
Jingga sudah menikah dengan Biru, tapi kenapa hatinya tiba-tiba menjadi sedih dan bingung?
“Apa aku nyesel?” Jingga bertanya pada dirinya sendiri.
********
__ADS_1
To be continued . . . .