
********
Malam itu, Jingga dan Langit sedang berdiri menatap ke arah luar di balik dinding kaca rumah sakit.
"Kamu nggak perlu ninggalin rumah sakit ini dan ikut aku pindah ke Indonesia, Lang." Ucap Jingga seraya mengulas senyum di bibirnya.
"Jangan karena aku, kamu rela ngelepasin impian kamu untuk bekerja di rumah sakit ini." Lanjut gadis itu lirih diiringi dengan raut wajah bersalah.
Langit terkekeh, kemudian mengubah posisinya untuk menatap Jingga seraya memasukkan tangan ke dalam saku jas putihnya.
"Percaya diri banget kamu. Lagian kerja di rumah sakit ini bukan impian aku. Aku resign dari sini karena emang udah saatnya aku kembali ke Indonesia." Ujar Langit sambil menyentil pelan dahi Jingga. Jingga mendengus kecil sambil mengusap-usap dahinya.
"Dan juga . . . ." Langit menghirup napas dalam-dalam untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. "Aku tertarik dengan tawaran RH Hospital yang mereka tawarkan dua bulan lalu sama kita, Ji." Lanjutnya kemudian.
"Kamu tertarik?" Tanya Jingga, matanya membulat senang, namun tetap berusaha tenang.
"Emangnya kamu enggak?" Sudut bibir atas Langit terangkat dan terkesan mencibir.
"Emang kamu kira aku bakal kerja di mana setelah keluar dari sini?" Jingga mencebik, gemas dengan pertanyaan yang dilontarkan Langit.
"Jadi kamu jangan terlalu percaya diri kalau aku berhenti dari sini itu karena kamu." Cibir Langit seraya memalingkan kembali pandangannya ke arah luar.
"Ih, siapa yang terlalu percaya diri, coba? Enak aja, kamu kali yang kegeeran." Jingga balik mencibir sambil menyikut pelan perut Langit. Langit sendiri hanya mendengus.
Kemarin Jingga mendapat panggilan telepon dari orang tuanya. Entah kenapa, tiba-tiba mereka memintanya untuk berhenti bekerja dari tempatnya saat ini. Ayah dan Bunda mengatakan bahwa selama ini mereka tidak pernah meminta atau menuntut apapun darinya, membuat Jingga tidak bisa melawan mereka.
Ayah dan Bunda hanya meminta Jingga sebagai anak perempuan satu-satunya untuk berada di dekat mereka di masa tuanya. Mereka mengatakan bahwa ini saatnya untuk Jingga mengabulkan permintaan mereka yang tidak seberapa itu. Mereka terus merengek, bahkan menyebut Jingga akan menjadi anak durhaka jika tidak mengabulkan permintaan mereka.
Oleh karena itu, meskipun berat hati, Jingga mengiyakan permintaan orang tuanya. Lagipula, selama ini orang tuanya selalu memberi apapun yang dia inginkan, bahkan sebelum dia memintanya sekalipun.
Lagipula tidak buruk juga bekerja di rumah sakit yang ada di Indonesia, sudah cukup pengalaman yang dia peroleh selama beberapa tahun di negeri orang. Selain itu, Jingga juga tidak perlu capek bolak-balik Amerika-Indonesia untuk menunggu Biru.
Jingga juga berpikir untuk mencari tahu keberadaan Biru saat sudah kembali ke Indonesia nanti. Bukankah dulu Biru mengatakan kuliah di Harvard untuk menjadi seorang Dokter? Dia mungkin sudah menjadi Dokter di salah satu rumah sakit yang ada di Indonesia saat ini. Semoga saja.
"Tapi, Ji. Kayaknya kita nggak bisa pulang besok, deh. Soalnya butuh waktu sekitar satu minggu buat ngurusin berkas kepindahan kita dari sini." Ujar Langit mengingatkan, lalu mengalihkan kembali pandangannya pada Jingga.
Mereka baru saja mengurus pengunduran dirinya tadi, namun masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan, seperti administrasi dan tanggung jawab pada pasien yang masih mereka harus tangani.
"Hmm, aku tahu." Balas Jingga santai sembari menganggukkan kepalanya pelan.
Langit mengernyitkan alisnya heran, lusa adalah malam tahun baru, bahkan Jingga sudah berniat akan pulang. Biasanya gadis itu akan mengosongkan jadwalnya apapun yang terjadi.
“Kamu udah nyerah, Ji? Kamu udah ragu kalau emang dia nggak bakalan datang lagi?” Langit menyungginggkan senyum dengan tatapan meledek. Pasalnya, ini kali pertama Jingga tidak pulang untuk menunggu Biru, meski sebenarnya hatinya cukup senang.
“Enggak. Aku cuma . . . .” Jingga menggantungkan kalimatnya, pandangannya lurus ke luar, keningnya berkerut, tampak sedang memikirkan sesuatu.
Jingga memang membenarkan ucapan Langit. Jingga memang ragu jika Biru akan datang. Bukan hanya ragu, dia juga yakin Biru tidak akan datang. Tapi aneh saja hatinya selalu menyangkal hal itu. Hatinya benar-benar telah mengkhianati akal sehatnya. Pada akhirnya, dia akan selalu menunggu kedatangan Biru.
“Cuma apa?” Sambar Langit.
“Aku agak capek aja. Mau absen dulu nunggu dia sekali.” Jawab Jingga tanpa memandang Langit, lalu tersenyum miris. Langit bisa melihatnya dari pantulan kaca.
Langit berdecak sinis. “Kamu sendiri udah tahu dia nggak bakal datang. Masih aja mau nunggu.”
“Bodoh . . . .” Gumam Langit. Jingga hanya tersenyum pelik mendengarnya. “Bodoh kuadrat.”
“Udah, deh, nyerah aja. Masih banyak, kok, cowok yang mau gantiin posisi dia di hati kamu, Ji.” Ujar Langit kemudian yang sontak menarik perhatian Jingga untuk menoleh ke arahnya, namun tidak juga membuka suaranya.
“Aku bakal cariin yang lebih baik dari dia, Ji. Aku sedih Ji, lihat kamu kayak gini. Kamu, tahu, kan, kalau kamu itu udah kayak saudara buat aku? Aku nggak mau ada orang yang nyakitin saudara aku.” Jingga terdiam, matanya berkaca-kaca, merasa tersentuh dengan penuturan Langit.
Jingga kemudian mendekat, membawa tubuhnya untuk memeluk Langit dari belakang, lalu menyandarkan kepalanya di punggung lebar itu. Jingga merasa bersalah karena hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Sebentar lagi, Lang. Aku akan nunggu dia sebentar lagi.” Lirih Jingga.
“Sampai kapan? Sampai kamu gila?” Tanya Langit sarkas seraya tersenyum kecut. Jingga hanya diam sambil mengeratkan pelukannya, seolah menyalurkan semua kegundahan hatinya di sana. Entahlah, dia juga tidak tahu sebentar itu sampai kapan, yang jelas dia belum ingin menyerah saat ini.
__ADS_1
********
“Jingga nggak akan setuju, Yah.” Ujar Bintang dengan suara sedikit meninggi saat Ayah tiba-tiba membahas perjodohan yang akan dia lakukan pada Jingga dengan anak dari sahabatnya.
“Nggak susah, kok, buat bujuk adik kamu.” Tutur Ayah santai seraya menyesap kopi miliknya.
Semua orang yang sedang duduk di sofa ruang keluarga itu sontak mengarahkan pandangannya pada Ayah dengan raut wajah penasaran, seolah menanyakan bagaimana cara Ayah akan membujuk Jingga.
Saat ini Bintang dan istrinya Senja sedang bermalam di rumah orang tuanya. Ayah sengaja meminta Bintang datang dan menginap di rumahnya untuk membahas tentang perjodohan ini.
“Hati adik kamu itu sangat lemah, Ayah tinggal bikin drama aja. Drama pura-pura sakit misalnya.” Sahut Ayah, mengatakan itu dengan sangat santai. “Atau Ayah pura-pura ngambek aja dia pasti langsung luluh.” Lanjutnya, membuat semua orang melongo mendengarnya.
Bintang berpikir mungkin karena ayahnya sudah mulai menua, makannya pikiran beliau jadi kekanak-kanakkan seperti ini.
“Err, aku gak yakin.” Ucap Bintang ragu.
“Dia cowok baik-baik, kan, Yah? Aku nggak akan ikhlas kalau Jingga dapat cowok brengsek. Dan itu semua gara-gara Ayah.” Tanya Bintang beruntun, takut jika sosok laki-laki yang akan menjadi calon suami Jingga bukan orang baik.
Ayah memukul gemas kepala Bintang menggunakan remote TV . “Apa maksud kamu? Ayah nggak mungkin ngasih Jingga calon suami yang bukan orang baik. Ayah yakin dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.”
Bintang meringis sambil mengusap-usap kepalanya. “Aku cuma takut dia nggak bisa mencintai Jingga sebanyak Ayah dan aku mencintainya.”
Meski sering bertengkar kecil dengan sang adik, nyatanya rasa sayang di hati Bintang jauh lebih besar. Terlihat raut khawatir di wajah cowok yang wajahnya sangat mirip dengan Jingga itu.
Bintang sangat menyayangi adiknya, dia tidak mau jika sudah menikah nanti, adiknya tidak mendapatkan cinta sebanyak yang dia dan Ayahnya berikan. Mengingat ini adalah sebuah perjodohan.
“Bunda juga sebenarnya takut, Yah. Bunda juga takut kalau Biru nggak bisa mencintai putri kita, sebanyak kita mencintai dia.” Kali ini, Bunda yang sedari sibuk menggendong cucunya angkat bicara, meski menilai Biru adalah anak yang baik.
Sebenarnya Bunda tidak pernah setuju dengan perjodohan ini, Bunda ingin Jingga menemukan pasangannya sendiri. Tapi apa daya, suaminya tidak bisa dibantah.
“Tenang saja. Ayah percaya sama Biru.” Jawab ayah meyakinkan.
********
Berulang kali Biru menghembuskan napas gusar, keningnya berkerut, tampak sedikit kekesalan tergurat di raut wajahnya.
“Dia cantik, nggak, Bi?” Tanya seorang gadis cantik yang ada di hadapannya, Luna.
“Aku nggak tahu.” Jawab Biru mengedik tak peduli seraya menyeruput cappucino miliknya.
“Aku cuma tahu kalau dia itu Dokter dan sekarang kerja di John Hopkins.” Lanjut Biru setelah meletakkan gelasnya.
Biru tersenyum kecut sambil menatap minuman berkafein itu di gelasnya. “Mereka pinter banget nyariin calon istri buat aku. Seorang cewek dengan background keluarga, pendidikan, dan karir yang bagus. Aku yakin dia sangat cocok dipamerin di depan keluarga besar sebagai piala kebanggan.”
Setelah makan malam keluarga malam itu, kedua orang tuanya mengatakan bahwa dirinya akan dijodohkan dengan seorang gadis bernama Jingga. Anak dari sahabat mereka.
Biru tentu saja tidak terima dengan perjodohan ini, dia bukan cowok menyedihkan yang tidak laku, sampai-sampai harus dicarikan jodoh segala. Tentu saja Biru ingin memilih pasangannya sendiri, meski sampai saat ini belum ada satupun yang menarik hatinya.
Karena kesal, Biru memutuskan untuk pergi ke cafe dan mengeluarkan keluh kesahnya pada teman yang sedang ada di hadapannya saat ini, Luna.
“Bagus, dong.” Ucap Luna santai, namun ekspresinya terkesan dipaksakan, tampak guratan tak suka di raut wajah cantiknya itu.
“Kok bagus?” Tanya Biru dengan sebelah alis terangkat, raut wajahnya tampak kurang setuju dengan ucapan Luna.
“I think, she’s perfect. Aku yakin dia juga cantik.” Puji Luna. “Terus, apa alasan kamu mau nolak perjodohannya?”.
“No, aku gak mau. Cause I don’t love her.” Sahut Biru dengan penuh penekanan, lalu mendengus sebal.
“Kamu, kan, belum kenal sama dia, Bi. Ada baiknya kamu kenal lebih deket dulu sama dia.” Balas Luna menasihati. “Bukannya ada istilah tak kenal maka tak sayang?”
“Enggak!” Sambar Biru penuh penolakan. Dia lantas memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
Luna mengubah posisi duduk yang tadinya tegap dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari bersedekap.
“Terus, gimana caranya kamu nolak permintaan Papa kamu?” Tanya Luna dengan senyum meledek, dia tahu jika Biru tidak akan bisa menolak orang tuanya.
__ADS_1
“Aku nggak tahu. Aku pikirin caranya nanti.” Jawab Biru seraya mengusap wajahnya gusar.
Cowok itu melihat jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Ternyata cukup lama dia berada di sana, hampir dua jam setelah kedatangannya.
“Udah malem. Aku mau balik ke rumah sakit, ada barang aku yang ketinggalan di sana. Maaf aku nggak bisa nganter kamu pulang, Lun.” Ujar Biru merasa bersalah. Sementara Luna hanya menganggukkan kepala sebelum kemudian laki-laki itu pergi dari hadapannya.
Luna menatap punggung Biru yang kini semakin menjauh dari tempatnya duduk.
“Apa itu artinya aku punya kesempatan?” Gumamanya dalam hati denga senyum jahat tersungging di kedua sudut bibirnya.
********
Biru terbangun dari tidurnya, napasnya sedikit tersenggal, wajahnya tampak memerah. Dia menegakkan tubuhnya untuk duduk bersandar di kepala ranjang.
“Gue mimpi apa, sih?” Biru bertanya-tanya dalam hati sembari memegang bibirnya.
“Apa ini masih bagian dari ingatan gue yang hilang?” Gumamnya lagi, lantas tangannya terulur untuk mengambil ponsel yang tergeletak begitu saja di atas bantalnya. Dia kemudian mencari nama kontak telepon dan menghubungi seseorang.
“Hallo. Dini hari begini kenapa kamu menghubungi saya, Bi? Kepala kamu sakit lagi? Atau kamu mengingat sesuatu?” Tanya orang di seberang telepon dengan suara serak khas bangun tidurnya, terdengar juga di telinga Biru orang itu menguap lebar-lebar. Terang saja karena masih jam setengah tiga dini hari.
“Saya mimpiin sesuatu yang aneh, Dok. Cewek itu itu muncul lagi di mimpi saya.” Jawab Biru yang ternyata orang di seberang telepon itu adalah dokter Johan.
“Apa kita tidak bisa membahas ini besok saja?” Tanya Dokter Johan sambil menguap, merasa Biru meneleponnya bukan karena kondisi darurat.
“Dok, saya bisa aduin Dokter sama Papa untuk mutasi–”
“Oke-oke, ceritakan semuanya, Bi.” Sambar Dokter Johan cepat sebelum Biru menyelesaikan kalimat ancamannya.
Biru mendengus sebal, laly mulai menceritakan mimpinya yang terasa nyata. “Di mimpi, saya lagi ada di taman belakang sekolah SMA saya dulu. Saya lihat cewek itu lagi tidur –”
“Apa kamu melihat wajahnya?” Tanya dokter Johan menyela. Biru mendengus sebal karena Dokter Johan memotong kalimatnya begitu saja.
“Saya belum selesai, tolong dengerin dulu.” Biru menghela napas sejenak untuk kemudian melanjutkan ceritanya.
“Saya memperhatikannya dari balik pohon. Terus saya samperin dan duduk duduk disampingnya,. Saya terus memperhatikan dia walaupun wajahnya nggak terlihat jelas.”
“Terus?” Tanya Dokter Johan mendapati Biru tiba-tiba bergeming cukup lama.
“Terus saya cium dia. Rasanya kayak nyata, bibirnya lumayan manis.” Jawab Biru membuat Dokter Johan nyaris tersedak ludahnya sendiri. Dia tahu jika Biru belum pernah berpacaran dan terlihat anti perempuan. Tapi heran karena Biru bisa sepolos ini.
“Ohh, iya. Kejadian di taman belakang sekolah yang lain juga pernah terlintas di ingatan saya. Saya pernah lihat cewek itu lagi makan sama cowok, dan saya ada di balik pohon.” Tambah Biru.
“Saya rasa, yang terlintas di dalam ingatan kamu itu pasti ada hubungannya sama peristiwa yang kamu lupakan.” Ujar dokter Johan. Biru terdiam, menunggu dokter itu melanjutkan ucapannya.
“Tapi….” Dokter Johan terdiam sejenak untuk menahan tawanya agar tidak lepas. “Saya rasa, kalau yang ada di dalam mimpi kamu barusan itu tidak ada hubungannya.” Ujarnya kemudian, Biru mengernyit bingung.
“Maksud Dokter?” Tanya Biru tidak mengerti.
“Kamu bilang, kamu cium dia? Daan kamu bilang bibirnya manis, kan?” Tanya Dokter Johan memastikan.
“Hmm.” Jawab Biru.
“Apa kamu masih di tempat tidur?” Tanya dokter Johan lagi yang membuat Biru kesal karena sangat bertele-tele.
“Iya.” Jawab Biru malas.
“Singkap selimut kamu dan coba lihat celana kamu. Selamat malam, Bi.” Titah Dokter Johan, lalu menutup teleponnya dengan cepat. Biru mendengus sebal karena Dokter Johan menutup teleponnya begitu saja.
Biru kemudian menuruti ucapan dokter Johan sebelum teleponnya ditutup tadi. Dia menyingkap selimut yang masih menutupi setengah tubuhnya itu, lalu melihat celananya yang sudah terlihat sedikit . . .basah.
“Aiish, sialan.” Umpat Biru dengan wajah memanas hingga menampilkan rona merah di pipinya. Kenapa dia baru sadar akan hal ini dan malah menceritakannya pada Dokter Johan?
********
To be continued . . . . . . . .
__ADS_1