
********
“Aku minta maaf karena belum bisa jadi anak yang baik untuk kalian.” Ucap Jingga tulus setelah dia mengutarakan keinginannya untuk mengakhiri semuanya dengan Biru. Jingga bahkan kini berlutut di hadapan kedua orang tuanya.
“Bangun, Nak.” Bunda menuntun Jingga untuk duduk di sebelahnya.
“Sebenarnya ada apa, Ji?” Tanya Bunda lembut seraya merapikan anak rambut Jingga yang sedikit menghalangi wajahnya.
“Selama ini aku cuma cinta sendirian. Kak Biru enggak.” Pada akhirnya Jingga tidak bisa menahan kegundahan hatinya sendirian, meski tidak dia ceritakan secara keseluruhan.
“Nggak mungkin. Selama ini Ayah lihat dia baik-baik aja sama kamu.” Sela Ayah tak percaya, mengingat bagaimana Biru memperlakukan Jingga dengan baik saat di depannya, Ayah juga sangat suka sikap sopan Biru pada orang tua.
“Iya, tapi dia nggak cinta sama aku. Aku nggak akan sanggup hidup sama orang yang nggak cinta sama aku.” Sahut Jingga menegaskan.
“Jingga, cinta bisa datang seiring berjalannya waktu.” Ayah masih berusaha membujuk Jingga.
“Enggak, Yah. Maaf aku nggak bisa. Tolong ngertiin aku.” Jingga menatap Ayah penuh permemohonan. Air matanya mulai menggenang. “Aku mau pernikahan aku kayak kalian. Hidup bersama orang yang aku cintai dan juga mencintai aku. Ayah dan Bunda kayak gitu, kan?”
Gadis itu menatap kedua orang tuanya bergantian, ucapannya begitu menohok hingga mereka terdiam, tak mendapatkan kalimat balasan.
“Bukannya kalian mau aku bahagia? Tapi aku nggak akan bahagia kalau nikah sama Kak Biru.” Imbuh Jingga dengan suara yang mulai tercekat seiring dengan air mata yang menetes.
“Ayah . . . .” Bunda melirik suaminya, dia tak tega melihat wajah anak gadisnya yang tampak memelas dan sedih. Terlebih gadis itu sampai menangis.
“Ayah akan memikirkannya.” Ucap Ayah datar dan beranjak begitu saja meninggalkan ruang keluarga, beliau bahkan tidak melihat ke arah Jingga. Raut wajah lelaki paruh baya itu sungguh tak terbaca, ada perasaan kecewa sekaligus kebingungan di sana.
“Don’t worry, I will always support you no matter what.” Kalimat dukungan ini cukup membuat hati Jingga sedikit lega. Wanita itu lantas memeluk sang anak untuk menenangkannya.
“Bunda nggak marah?” Tanya Jingga ragu sembari menarik diri untuk menjangkau wajah Bunda.
“Nggak marah, sih. Cuma sayang aja, Bunda udah terlanjur suka sama Biru.” Jawab Bunda dengan sedikit dengusan kecil keluar dari mulutnya.
Jingga mengerucutkan bibirnya lucu, membuat Bunda tersenyum gemas.
“Tapi Bunda coba buat ngerti, dan harusnya Bunda juga sadar kalau yang akan ngejalanin semuanya itu kamu. Ayah sama Bunda nggak seharusnya maksa kamu. Maafkan kami, Sayang.” Sambung wanita itu sambil mengusap sisa air mata di pipi Jingga.
Jingga menggeleng pelan. “Ayah sama Bunda nggak salah. Aku ngerti, kalian mau yang terbaik buat aku.”
“Jingga kamu anak perempuan satu-satunya di rumah ini. Bunda sayang sama kamu, kamu Tuan Putri di sini. Jadi sesuka apapun Bunda sama Biru, Bunda tetap akan memilih kebahagiaan kamu.”
Jingga terharu, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Gadis itu lantas berhambur memeluk wanita yang telah melahirkannya 26 tahun yang lalu itu.
“Terima kasih, Bunda . . . .” Ucap Jingga lirih.
“I want you to be happy, in your on way, Jingga.” Tutur Bunda, membuat Jingga semakin terenyuh.
Meski di matanya Biru adalah anak yang baik dan terlihat cocok untuk menjadi pasangan Jingga. Tapi untuk apa jika anaknya tidak bahagia? Bukankah harapan setiap orang tua adalah melihat anak-anaknya bahagia?
“Tapi, Ayah gimana, Bun?” Jingga sedikit mendongak untuk kembali menjangkau wajah Bunda.
“Nanti Bunda yang bujuk Ayah. Ayah kamu, tuh, cuma lagi bingung.” Bunda mengulas senyum lembut seraya mengusap pipi Jingga yang basah akan sisa-sisa air matanya.
“Ya udah, sekarang kamu pergi tidur sana.” Titah Bunda masih dengan nada lembutnya.
“Sama Bunda.” Pinta Jingga manja, lagipula sudah lama sekali dia tidak tidur dengan ibunya itu.
“Kalau Bunda tidur sama kamu, nanti nggak bisa bujuk Ayah, dong.” Bunda menjawil ujung hidung Jingga dengan gemas.
********
Jingga benar-benar mengenai keputusannya. Jika ditanya apa dia sedih atau tidak? Jawabannya tentu saja sangat sedih, melepaskan orang yang telah lama mengisi hatinya itu berat dan sakit. Tapi, lebih sakit lagi jika dia tetap mempertahankannya.
Mungkin sekarang terasa sulit untuk Jingga, tapi tidak apa-apa. Waktu akan menyembuhkan segalanya, asalkan dia berusaha untuk merelakannya dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Keputusan sepihak yang dibuat Jingga dua hari yang lalu hingga orang tuanya datang ke rumah Biru untuk meminta maaf, benar-benar mengganggu pikiran Biru. Biru jelas saja tidak bisa menerima itu.
Perasaan Biru sangat kacau dan berkecamuk tak karuan tatkala Jingga tak bisa dia temui dan hubungi.
Jelas saja, karena selama dua hari ini Jingga berada di luar kota untuk menghadiri seminar kesehatan jantung dan paru-paru di salah satu Universitas sebagai pematerinya. Tentu itu membuatnya sedikit sibuk.
Saat jam makan siang, Biru tidak pergi ke kantin untuk makan, rasanya malas sekali untuk makan di saat hatinya gundah seperti ini.
Saat ini dia duduk di kursi yang ada di atap gedung rumah sakit, menikmati angin sepoi-sepoi di tengah hati dan pikirannya yang gamang. Tidak sendiri, Biru ditemani Bisma yang kebetulan datang ke atap juga.
“Kenapa lo?” Suara Bisma membuat perhatian Biru yang sedang memandang ke sembarang arah beralih menatapnya.
“Nggak apa-apa.” Jawabnya datar dan memalingkan kembali pandangannya menatap halaman rumah sakit yang tampak indah saat memandangnya dari kejauhan.
“Gue teman lo, kan, Bi?” Desak Bisma seolah tahu telah terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Kentara sekali dari raut wajah Biru.
Biru menghela napasnya berat, dia tidak bisa menyimpan kegundahan hatinya sendirian. Desakkan Bisma membuatnya mau tidak mau harus menceritakan apa yang sedang terjadi padanya, mulai dari kedekatannya dengan Luna yang membuat dia dan Jingga selalu bertengkar, awal dia setuju dengan perjodohan karena butuh gadis itu, kedekatan Jingga dan Langit yang selalu membuatnya marah, pertengkaran mereka terakhir kali, hingga keputusan Jingga untuk mengakhiri semuanya.
Bisma terperangah, dia begitu terkesiap setelah mendengar apa yang baru saja Biru ceritakan. Dia tak percaya ternyata sahabatnya itu memiliki pemikiran yang sangat dangkal. Aneh saja, kenapa dia sampai mendapat gelar Professor di depan namanya dengan otak seperti itu?
“Lo egois, Bi.” Ujar Bisma dengan nada yang terdengar kecewa.
“Egois? Nggak! Jingga yang egois. Dia yang udah buat keputusan sepihak.” Seru Biru tak terima.
Bisma menghela napas seraya memutar bola matanya jengah. Jika saja dia jadi Jingga, dia akan melemparkan Biru dari atap gedung ini sekarang juga.
“Pertama. Kedekatan lo sama Luna itu emang salah. Gue aja yang ngelihatnya heran, elo lebih sering menghabiskan waktu sama Luna dibanding Jingga. Lo selalu tanggap waktu Luna manggil. Siapa yang nggak bakal salah paham? Siapa yang nggak bakal marah kalau kita melihat orang yang kita sayangi lebih perhatian sama orang lain? Apa lo nggak mikirin perasaan Jingga? Harusnya lo bisa jaga jarak.” Tutur Bisma emosional.
“Lo aja marah waktu lihat Jingga deket sama Langit, terus kenapa lo nggak terima kalau dia juga marah sama lo? Padahal, yang gue lihat kedekatan mereka dalam batas wajar sebagai teman.” Tambah Bisma.
__ADS_1
Biru seolah tak memiliki kesempatan bahkan untuk sekedar membuka mulutnya. Saat dia hendak berbicara, Bisma kembali membungkam mulutnya.
“Dan satu lagi, pick me? Tega lo, Bi, ngomong kayak gitu. Mikir nggak, sih, lo? Gue nggak nyangka mulut lo bisa ngeluarin kata-kata rendahan kayak gitu. Lo punya otak, tapi kenapa lo malah berpikir pake mulut?” Cecar Bisma bersungut-sungut disertai emosi.
Meski Bisma belum lama akrab dengan Jingga, tapi sebagai cowok dia bisa menilai bagaimana baiknya gadis itu. Tak pernah sekalipun Bisma melihat Jingga mencoba menarik perhatian siapapun atau terlihat ingin menonjol.
“STOP, Bis! Lo, kok, marah-marah sama gue? Lo bikin gue tambah pusing tahu, nggak?” Seru Biru kesal, berbagi perasaan bukannya membuat tenang, tapi malah semakin membuat hati dan pikirannya semrawut.
“Ya terus gue harus gimana, ******?” Masih belum habis kekesalan Bisma pada temannya itu.
“Ya lo jangan ngomel-ngomel gitu, dong.” Protes Biru tak kalah kesal.
Dengusan kasar terdengar dari mulut kedua cowok itu. Untuk beberapa saat tak ada percakapan di antara mereka. Bisma kemudian meneguk sodanya hingga tandas. Kerongkongannya terasa kering setelah mengomeli sahabat pintar-pintar bodohnya ini.
“Kalau gitu tinggal terima aja keputusan Jingga. Ngapain lo harus bingung?” Bisma berucap ketus.
“Kok, gitu? Nggak bisa, lah.” Protes Biru seolah tak terima. Bisma mendengus, antara kesal dan ingin tertawa. Benar-benar bodoh. Ahh, bukan. Biru idiot.
“Lho, kenapa? Gue juga kalau jadi Jingga udah males sama lo. Lagian lo, kan, nggak cinta sama dia. Lo juga bilang sendiri nggak percaya sama cewek pick me kayak di–”
“Gue nggak bermaksud ngomong gitu, Bis.” Sela Biru cepat.
Bisma mendengus. “Udah, lah, lo nggak usah nahan-nahan dia lagi. Lagian buat apa? Masalah ingatan lo? Itu bisa kembali dengan sendirinya, lo masih punya Dokter Johan yang bisa bantu.”
“Nggak, gue butuh dia.”
“Buat jadi piala kebanggaan?” Bisma berdecak sinis. “Lo bisa cari cewek lain yang rela lo perlakuin seenaknya. Banyak, kok, yang mau sama lo, bahkan tanpa lo minta.”
“Gue tetap nggak bisa.” Gumam Biru pelan, tatapannya mencuat kosong pada pada sepatu yang dikenakannya. Biru tidak bisa mencerna perasaannya sekarang.
“Jangan egois, lo mau Jingga ada di sisi lo, tapi lo sendiri nggak melakukan apa-apa. Jangan membuat orang bingung karena sikap lo, Bi. Jingga itu juga butuh kepastian.” Balas Bisma greget.
“Maksud lo?” Tanya Biru gagal mencerna penuturan Bisma.
“Hati lo.” Bisma menunjuk jantung Biru. “Sebenarnya gimana perasaan lo sama Jingga?”
Biru mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Yang jelas, hatinya kacau sekarang. “Gue, nggak tahu, gue bingung, dan nggak yakin.”
“Let her go . . . .” Titah Bisma, membuat kening Biru bekerut dalam.
“Gue bilang nggak bisa . . . .”
Bisma gregetan sendiri dengan Biru. Jawabannya sudah jelas, kenapa Biru membuatnya sulit? Sejenak Bisma terdiam sambil menghela napas dalam, lalu dia mencoba mengambil kesimpulan.
“Lo cinta sama dia, Bi.” Tutur Bisma selanjutnya.
“Enggak!” Bantah Biru, tapi terdengar ada keraguan di sana.
Kembali mendengus, Bisma benar-benar gemas dengan temannya ini. “Lo marah kalau Jingga deket-deket sama cowok lain? Lo juga nggak mau ngelepasin dia, kan?”
“Lo pahami perasaan lo sendiri, deh. Jangan sampai terlambat dan lo menyesal nantinya.” Ujar Bisma kemudian.
Keheningan terjadi di antara mereka setelah itu. Biru hanya mematung, seolah ada sesuatu yang menyusup ke dalam hati, membuatnya berdenyut oleh sebuah rasa yang tertahan.
Perasaan dan pikiran Biru semakin kacau. Sepertinya dia butuh bertemu Jingga saat ini juga untuk memperbaiki semuanya. Tapi Biru tidak tahu Jingga ada di mana sekarang. Gadis itu bahkan terus menghindarinya sejak dua hari yang lalu.
********
Sore hari menjelang malam, Jingga yang sedang tertidur lelap di kamar apartemennya terganggu akan suara bel yang terus berbunyi.
“Duhh, siapa, sih? Nggak tahu apa aku capek baru pulang dari Jakarta?” Jingga menggerutu tanpa membuka matanya. Gadis itu memang baru pulang melakukan seminar dari Jakarta, dan dia baru saja tidur satu jam.
Bel terus berbunyi, meski Jingga sudah mengabaikannya. Hal itu tentu saja membuat Jingga menggeram kesal.
“Aaargh, siapaaaa?” Jingga berteriak kesal sembari menyentak selimut dengan kakinya. Mau tidak mau, dia harus bangun dan membuka pintu untuk tamu yang tak diharapkan itu. Awas saja kalau yang di depan itu Langit atau Bintang kakaknya, dia akan memukulnya.
“Tante?” Jingga terkejut melihat Tante Lisa sedang berdiri di depan pintu apartemennya. Mata Jingga yang awalnya sedikit terpejam kini terbuka sempurna.
“Ji . . . .” Tante Lisa mendekati dan mencium pipi kanan dan kirinya.
“Masuk dulu, Tan.” Ucap Jingga sedikit canggung. Untuk apa Tante Lisa ke apartemennya? Bukankah semuanya sudah jelas? Apa wanita itu akan memarahi Jingga?
“Tante mau minum apa?” Tanya Jingga setelah Tante Lisa duduk di sofa.
“Nggak usah, Ji. Tante ke sini cuma mau ngajak kamu makan malam bareng.” Ujar Tante Lisa.
“Makan malam?” Alis Jingga bertaut bingung.
“Iya, Tante mau makan malam sama kamu.” Jawab wanita paruh baya itu.
“Tapi, Tan. Aku sama Kak Biru udah–”
“Itu nggak ada hubungannya. Kamu boleh mengakhiri hubungan sama Biru. Tapi hubungan kamu sama Tante tetap berlanjut. Kita bisa berteman baik, kan, Ji?” Tutur Tante Lisa, membuat gadis itu tertegun.
“Ji . . . .” Panggil Tante Lisa karena Jingga tak kunjung menyahut.
“Ehh, iya, Tan.” Jingga mengangguk gelagapan. “Makasih untuk nggak marah sama aku.”
Jingga berhambur memeluk Tante Lisa. Beliau begitu baik padanya, tidak seperti anaknya. Jingga jadi ragu Biru itu benar-benar anak dari wanita ini.
“Tante mana bisa marah sama anak cantik.” Jingga tersipu meski dia tahu jika Tante Lisa hanya bergurau.
“Tante bisa aja.” Ucap Jingga tersenyum malu.
__ADS_1
“Ya udah, sekarang kamu siap-siap, gih.” Titah Tante Lisa setelah melepas pelukannya. Jingga mengiyakan dan berlalu ke kamarnya untuk mengganti pakaian, karena saat ini dia hanya memakai kaus dan celana rumahan.
********
Sekarang Jingga sudah berada di dalam mobil yang dikendarai Tante Lisa. Entah ke mana wanita paruh baya ini akan membawanya makan malam.
Sejurus kemudian, Jingga dibuat terkejut saat menyadari jalanan yang dilalui Tante Lisa adalah jalan menuju ke apartemen Biru. Benar saja, tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di depan gedung apartemen elit tersebut.
“Tan?” Jingga menatap Tante Lisa dengan sorot mata penuh tanya.
“Kita ke apartemen Biru sebentar, ya. Ada barang yang mau Tante ambil dari sana.” Terang Tante Lisa.
Sebenarnya wanita paruh baya itu tidak benar-benar mengajak makan malam berdua dengan Jingga. Mereka akan makan malam bertiga dengan Biru di apartemennya, sekaligus berusaha membujuk gadis itu untuk kembali memikirkan keputusannya. Selain karena alasannya kurang jelas, Tante Lisa juga tidak mau kehilangan bakal menantunya ini. Dia sudah terlanjur menyayangi Jingga seperti putrinya sendiri.
Selain itu, Biru juga tadi meneleponnya untuk meminta bantuan agar Jingga kembali padanya. Tante Lisa sebenarnya penasaran, kenapa bisa sampai Jingga semarah ini pada anaknya, sementara Biru sendiri tak mau berpisah? Dan baik Biru atau Jingga, keduanya tak ada yang menjelaskan apapun.
Tante Lisa yakin alasannya bukan karena cinta. Tck, kedua anak muda itu membuatnya pusing saja.
“Ohh, ya udah. Kalau gitu aku nunggu di sini aja.” Ucap Jingga.
“Tapi barang yang mau Tante bawa agak banyak. Kamu bisa bantu, nggak?” Tanya Tante Lisa dengan wajah memelas.
Sejenak Jingga terdiam menatap wanita itu ragu, untuk kemudian berucap tak ikhlas. “I-iya, Tan, boleh.”
Mau tidak mau, dia harus ikut turun dari mobil dan mengekori Tante Lisa untuk masuk ke dalam apartemen Biru.
Sesampainya di depan pintu apartemen, dengan cekatan jari-jari Tante Lisa menekan kode akses dan mendorong pintunya setelah bunyi bip terdengar.
“Bi, Mama dat–”
Tante Lisa membelalak terkejut saat mendapati ada seorang gadis yang sedang duduk di sofa dengan kaki menyilang dan hanya mengenakan kemeja Biru tanpa bawahan.
Begitupula dengan Jingga, dia tak kalah terkejut. Hatinya kembali menahan sakit, Jingga memandang Luna dengan tatapan jijik.
Lantas Luna buru-buru berdiri dan pura-pura terkejut akan kedatangan Tante Lisa dan Jingga.
“Ibu . . . .” Luna menundukkan kepalanya. Tapi tanpa Tante Lisa dan Jingga sadari, gadis itu menarik salah satu sudut bibirnya. Dia puas, karena rencana untuk membuat Jingga salah paham sepertinya berhasil.
Tadi sore, Luna tak sengaja mendengar percakapan Biru dan ibunya yang mengatakan akan membawa Jingga ke apartemennya jam tujuh malam saat dia hendak masuk ke ruangan Biru. Luna kesal dengan Biru yang sangat ingin mempertahankan Jingga, padahal Jingga sudah mengakhiri semuanya.
Maka dari itu, sekelebat ide licik muncul. Luna sengaja datang ke apartemen Biru dengan alasan mengantar makanan dari Bu Ratmi. Biru membuatkan es kopi untuknya, lalu dengan sengaja Luna menumpahkannya hingga mengotori baju.
Melihat itu, Biru menawarkan diri untuk keluar membeli baju untuk Luna dan memintanya untuk menunggu sebentar, karena Biru tidak mungkin membiarkan Luna pulang dengan baju kotor seperti itu.
Memanfaatkan situasi, Luna buru-buru masuk ke kamar Biru dan mengambil kemeja dari lemarinya secara acak, lalu mengganti pakaianya yang kotor dengan itu.
Keberuntunganpun berpihak padanya, waktu sudah hampir jam tujuh, dan itu berarti Jingga akan segera datang, sehingga rencananya bisa dia jalankan dengan baik.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Luna? Mana Biru?” Tanya Tante Lisa dengan nada dingin. Wajahnya tampak memerah karena menahan emosi.
“Mama. . .” Suara benda terjatuh yang berasal dari paper bag yang dibawa Biru mengalihkan perhatian semua orang padanya.
Sama dengan Tante Lisa dan Jingga, Biru yang baru datang membeli baju untuk Luna juga sangat terkejut melihat gadis itu memakai kemeja miliknya. Seingatnya, Biru tidak meminjamkan baju apapun pada Luna.
Jingga menatap Biru dengan pandangan yang tak kalah jijik dari dia melihat Luna. Tangannya kini mengepal keras, seolah menyalurkan emosinya di sana.
“Ji, kamu salah paham.” Biru mencoba meraih lengan Jingga. Namun gadis itu buru-buru menjauhkan tangannya.
“Aku nggak peduli kamu mau ngelakuin apapun itu sama dia.” Sahut Jingga dingin.
“Ji, aku bisa jelas–”
“Tan, kayaknya aku nggak bisa makan malam hari ini sama Tante. Aku mau pulang, aku traktir Tante lain kali.”
Lantas tanpa meminta persetujuan Jingga melenggang keluar, tak ingin berlama-lama satu ruangan dengan dua makhluk yang kini terlihat menjijikan di matanya.
“Bi, ikut Mama pulang.” Suara Tante Lisa yang terdengar sangat marah menghentikan langkah Biru yang hendak mengejar Jingga.
“Ganti baju kamu dan ke luar dari sini.” Wanita itu beralih pada Luna sambil melemparkan paper bag yang dia tahu berisi baju pada gadis itu.
“Ma–” Biru setengah berteriak, menatap protes karena sang ibu memperlakukan Luna dengan kasar.
Luna mengambil paper bag tersebut dan mencengkramnya dengan erat. Hatinya sakit melihat Tante Lisa memperlakukannya seperti ini. Luna merasa seolah dia sedang direndahkan. Meski dia tahu ini ulahnya sendiri, tapi dia tak terima diperlakukan seperti ini.
********
PLAAAK . . . .
Papa menampar Biru dengan keras, sangat keras melebihi tenaga Langit saat menamparnya beberapa hari yang lalu. Lelaki itu terlihat marah dan kecewa sekaligus saat mendengar penjelasan istrinya tentang apa yang tadi terjadi di apartemen sang anak.
“Pa, itu salah paham.” Biru yang sejak tadi ingin membela diri tidak diindahkan oleh orang tuanya. Mama hanya percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Pantesan Jingga nggak mau nikah sama kamu. Ternyata seperti ini kelakuan kamu.” Bentak Papa.
“Ma, ini salah paham.” Biru beralih menatap mama Lisa.
“Mama kecewa sama kamu, Bi.” Ucap mama lemah. “Kamu sudah mempermalukan kami secara tidak langsung di depan Jingga. Coba katakan, bagaimana Mama dan Papa harus menghadapi Jingga dan orang tuanya sekarang?”
“Papa mau ngasih yang terbaik buat kamu. Tapi apa yang kamu lakukan? Sekarang Papa nggak peduli, terserah kamu mau melakukan apapun itu.” Timpal Papa masih dengan nada dinginnya.
“Pa . . . .” Biru putus asa. Bagaimana bisa dia membela diri, sementara orang tuanya tak mau mendengarkan? Sepertinya ini karma untuk Biru, dulu dia tidak pernah mau mendengarkan Jingga untuk menjelaskan apapun.
“Mulai sekarang, jangan pernah mengganggu Jingga lagi. Seandainya Papa jadi Om Rendra, Papa juga nggak akan mau menyerahkan anak Papa untuk laki-laki seperti kamu.” Tambah Papa kemudian seraya berlalu meninggalkan Biru yang masih berusaha untuk membela dirinya.
__ADS_1
********
To be continued . . . .