
********
Biru tiba di Bandara sekitar pukul setengah delapan malam. Pesawat delay menyebabkan kedatangannya sangat terlambat dari yang telah direncanakan. Niat hati ingin memberi kejutan untuk Jingga dengan pura-pura mengatakan kalau dia tidak bisa memastikan untuk pulang sepertinya sedikit kacau, atau memang benar-benar kacau.
Saat mengetahui pesawatnya delay, Biru terus uring-uringan tak jelas karena rencananya berantakan.
Hingga saat dia tiba di Bali, buru-buru Biru pergi ke hotel yang sama di mana Jingga dan Langit akan menginap. Beruntung sebelumnya Langit memberitahunya kemarin, jadi dia tidak perlu repot-repot menanyakan lagi mereka menginap di mana.
Sesampainya di hotel, buru-buru Biru membersihkan dirinya agar bisa segera bergegas ke tempat di mana Amber mengadakan pesta pernikahan. Di depan cermin, dia senyum-senyum sendiri, tak sabar melihat wajah cantik Jingga dengan gaun pestanya.
Tapi setibanya di pesta pernikahan Amber, Biru justru tidak mendapati Jingga ataupun Langit. Dia lantas segera meninggalkan area pesta setelah Amber memberitahunya bahwa Jingga dan Langit sudah pergi tak lama sebelum dia datang.
Biru kemudian bergegas pergi ke pantai setelah dia mengetahuinya dari Langit setelah sebelumnya dia menelepon cowok itu untuk menanyakan keberadaan Jingga, karena nomornya tidak aktif.
Dengan langkah tak sabar, dia mencari-cari sosok gadisnya di tepi pantai. Tapi Biru tak kunjung menemukannya juga.
“Ji, kamu di mana?” Gumamnya bertanya-tanya, kakinya terus melangkah lebih jauh lagi menyusuri sisi pantai. Hingga akhirnya, dari kejauhan dia melihat seseorang berjalan sambil menenteng sandalnya. Tak perlu meyakinkan diri lagi, dia hapal betul gadis itu adalah Jingga meski dia melihatnya dari belakang.
Biru mengambil langkah besar untuk menghampiri Jingga, namun langkahnya ikut terhenti saat melihat Jingga menghentikan langkahnya. Dia terdiam sebentar untuk memperhatikan apa yang akan dilakukan gadis itu.
“Tck, dia emang kebiasaan datang terlambat.” Dan Biru masih bisa mendengarnya dengan jelas gerutuan yang keluar dari mulut gadis itu.
Biru tersenyum gemas melihat Jingga yang menendang-nendang pasir untuk menyalurkan kekesalannya.
“Aku cuma sedikit terlambat.” Teriak Biru kemudian dan berhasil menghentikan langkah Jingga yang nyaris berjalan kembali.
Biru menyunggingkan senyum termanisnya untuk menyapa Jingga yang baru saja berbalik dan menatap ke arahnya.
“Kakak . . . .” Panggilnya dengan suara lembut dan manis, membuat Biru yang mendengarnya ingin segera berlari mengampiri dan memeluknya.
Gadis itu selalu menggemaskan, memancarkan kelincahan yang manis, hingga menciptakan kontras yang memikat. Tidak heran Biru selalu dibuat jatuh cinta setiap saat olehnya.
Dengan rasa rindu yang membuncah di hatinya, Biru setengah berlari menghampiri Jingga, lalu berhambur memeluknya.
“Recharge . . . .” Ucapnya lirih setelah berhasil membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Biru membenamkan ciuman di puncak kepala Jingga cukup lama, seolah sedang menyalurkan rasa rindunya di sana.
“Ish, apaan, sih, masa aku charger?” Dengus Jingga seraya mendongakkan kepala untuk menatap Biru, wajahnya merengut lucu.
“Tapi kamu emang kayak charger buat aku. Jadi kamu nggak boleh jauh-jauh dari aku.” Jawab Biru seraya terkekeh geli.
“Aku kangen kamu.” Ucap Jingga kemudian dengan wajah malu-malu. Biru tersenyum gemas melihatnya.
“Aku juga. Aku kangen banget-banget sama kamu, malah tiap detik aku kangen sama kamu.”
Jingga menahan tawanya saat dirasa apa yang Biru ucapkan itu berlebihan. Sangat berlebihan, hingga terdengar seperti kata-kata gombal.
“Kenapa?” Tanya Biru dengan sebelah alis terangkat melihat ekspresi Jingga yang menahan tawa.
“Kamu belajar gombal dari mana?” Sahut Jingga masih menahan agar tawanya tidak lepas.
“Ihh, kok gombal?” Biru mencubit kecil pinggang Jingga hingga membuat gadis itu terkekeh.
“Aku serius . . . .” Lanjut Biru kemudian sembari menangkup pipi Jingga dengan kedua tangannya, lalu menempelkan ujung hidungnya di ujung hidung Jingga untuk kemudian menggesek-geseknya dengan gemas. Ciuman hidung, Biru menganggapnya seperti itu.
“Haha, udah, Kak.” Jingga tergelak karena merasa geli dengan apa yang Biru lakukan.
“Kamu gemesin, tahu, nggak?” Ucap Biru sesaat setelah dia berhenti menggesekkan hidung mereka.
Lalu tak butuh waktu lama dia kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium Jingga. Seolah mengerti, gadis itu langsung memejamkan matanya, siap menyambut ciuman dari Biru.
Namun, belum sempat bibir mereka bersentuhan, suara guntur yang menggelegar disertai hembusan angin kencang berhasil mengejutkan mereka.
Hingga tak lama setelah itu, tetesan air hujan turun dengan deras seolah tak ingin memberi kesempatan pada Biru dan Jingga untuk melindungi diri terlebih dahulu, dan membiarkan airnya mengguyur tubuh mereka.
“Ayo.” Biru meraih pergelangan tangan Jingga dan menariknya untuk berlari menghindari guyuran hujan yang kian deras.
“Kita mau ke mana?” Tanya Jingga dengan mata yang menyipit karena air hujan yang terus berjatuhan mengenai wajahnya.
“Aku nggak tahu, kita cari hotel yang deket aja.” Biru terus berlari dan berusaha untuk mencari hotel terdekat tanpa melepaskan genggaman tanganya di lengan Jingga.
__ADS_1
Terpaksa mereka harus mencari hotel lain karena jarak mereka dari hotel tempatnya menginap cukup jauh. Mereka tidak mungkin berjalan sambil hujan-hujanan sampai ke sana. Ditambah, malam sudah sangat larut hingga pasti sulit menemukan taksi yang bisa membawa mereka ke hotel tempatnya menginap.
********
Beberapa saat kemudian, mereka menemukan hotel terdekat. Dengan tubuh basah kuyup, Biru dan Jingga masuk ke lobby hotel, lalu menghampiri receptionist untuk memesan kamar.
“Maaf, Pak. Semua kamar di hotel ini sudah penuh. Hanya tersisa satu kamar Presidential Suite.” Ujar receptionist tersebut sesaat setelah memeriksa ketersediaan kamar.
Jingga menghela napas lelah, membayangkan mereka harus kembali hujan-hujanan mencari hotel. Lagipula, sayang sekali uangnya kalau digunakan hanya untuk menyewa kamar itu semalam.
“Ya udah, saya ambil itu.” Jawab Biru enteng seraya menyerahkan black card miliknya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu pada Jingga.
“Kak . . . .” Jingga melayangkan tatapan protes.
“Double bed.” Pinta Biru kemudian. Jingga bernapas lega mendengarnya, kenapa dia tak berpikir sampai sana? Dia jadi malu sendiri karena sudah berpikir akan tidur satu ranjang dengan Biru.
“Kamu mikir apa?” Biru tersenyum meledek sembari mengacak-acak rambut Jingga yang basah setelah sebelumnya dia mengisi informasi pribadi di kartu tamu.
“Gak ada.” Elak Jingga sambil mengedarkan pandangannya ke sembarang arah untuk menutupi rasa malunya.
Setelah menunggu beberapa saat dan kamar sudah siap. Biru dan Jingga diantar GRO (Guest Relation Officer) menuju lokasi kamarnya.
“Kamu mandi duluan aja.” Ucap Biru setelah GRO tersebut meninggalkan kamar mereka.
“Kamu?” Tanya Jingga yang melihat Biru sama menggigilnya.
“Aku nanti habis kamu. Masa iya, kita mau mandi bareng.” Sahut Biru dengan sedikit menggoda Jingga.
“Hiish, udah deh jangan ngomong sesuatu yang nyeremin gitu di kamar ini.” Dengus Jingga, kemudian berlalu dari hadapan Biru dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Biru hanya terkekeh melihatnya.
Setelah melihat kepergian Jingga ke kamar mandi, Biru memilih untuk duduk di sofa sembari menikmati kudapan dan teh hangat yang telah disediakan selama menunggu gilirannya untuk mandi.
Mendadak jantungnya berdegup cepat. Dia tidak naif, bagaimanapun berada satu ruangan dengan seorang gadis di sisinya membuatnya sedikit takut kalau sampai dia tidak bisa mengendalikan dirinya nanti. Ditambah lagi suasana yang sangat mendukung, di luar hujan sangat deras, membuat Biru harus pandai-pandai untuk mempertahankan akal sehatnya.
Dan saat dia sedang asyik menyeruput tehnya, tiba-tiba Jingga keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan ke arahnya dengan hanya mengenakan bathrobe untuk membalut tubuhnya serta rambut yang masih setengah basah, membuatnya terlihat seksi.
“Ish, sial.” Umpat Biru terperangah dengan pemandangan nyata yang ada di depannya.
Selama ini dia cukup sering melihat yang seperti ini di film-film, tapi rasanya biasa saja. Tak pernah sekalipun Biru merasakan tubuhnya menegang seperti ini, hanya karena melihat perempuan memakai jubah mandi.
“Mandi sana, kok malah bengong.” Perintah Jingga dengan polosnya saat melihat Biru yang bukannya segera bergegas ke kamar mandi agar tak masuk angin, malah menikmati kudapan sambil duduk santai, dan kini bengong menatap ke arahnya.
“Kak, ngelamunin apaan sih?” Tanya Jingga yang semakin menyiksa Biru dengan duduk di sebelahnya sambil menyilangkan kaki hingga memperlihatkan paha paha mulusnya karena bathrobe yang dia gunakan tak sengaja tersingkap cukup tinggi.
“Kak, mandi sana.” Bisik Jingga pelan tepat di telinga Biru, hingga membuat tubuh cowok itu semakin menegang. Sial, Jingga ini sengaja menggodanya atau apa?
Biru merutuki dirinya sendiri, seharusnya tadi dia mencari hotel lain atau kembali ke hotel tempat mereka menginap saja, dibandingkan harus berada satu kamar berdua dengan Jingga yang begitu menyiksanya.
“Kakak, ihh.” Jingga menepuk pelan dada Biru kesal karena dia tak kunjung bergerak.
“Eh. I-iya.” Biru tergagap. Susah payah dia memalingkan pandangannya dari paha Jingga. Lalu tanpa banyak bicara, dia segera beranjak untuk pergi ke kamar mandi.
Di depan pintu kamar mandi, Biru mengambil napas dalam-dalam sambil memejamkan mata untuk menenangkan pikiran serta melawan hawa panas yang sejak tadi sudah menyergap tubuhnya.
Menggeleng pelan sambil tersenyum kecut, Biru harap pikiran dan tubuhnya kembali normal setelah dia mengguyurnya di bawah kucuran air shower.
“Aneh banget.” Gumam Jingga setelah melihat kepergian Biru.
Tak ingin repot memikirkan sikap aneh Biru, gadis itu kemudian mengambil gelas teh dan meminumnya untuk menghangatkan tubuh.
Setelah menikmati teh, Jingga lalu memeriksa telapak kakinya yang terasa sedikit perih. Ternyata memang ada beberapa luka kecil di sana. Jelas saja, karena dari pantai sampai ke hotel, dia berlari sambil bertelanjang kaki tanpa sadar.
“Hiks. Kaki mulus aku.” Ringis Jingga dalam hati sambil menatap pilu kondisi telapak kakinya.
Beberapa saat kemudian, Jingga beranjak dari duduknya untuk membuka pintu sesaat setelah suara ketukan pintu terdengar.
“Permisi, saya petugas layanan guest laundry.” Terang seorang perempuan yang usianya tak jauh beda dengannya begitu pintu terbuka.
“Tunggu sebentar.” Sahut Jingga dan masuk kembali untuk mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
Mendengar pintu kamar mandi diketuk, Biru yang masih menikmati acara mandinya di bawah guyuran air shower langsung mengambil handuk dan memakainya asal.
“Ada apa, Ji?” Tanya Biru yang memunculkan sedikit kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
Jingga terperangah melihat rambut Biru yang masih basah. Dia menelan ludah, ada gelanyar aneh menyergap tubuhnya melihat itu.
“Ohh. Eung–itu, petugas laundry datang.” Jelas Jingga seraya menundukkan pandangannya. Dia harus seperti itu agar pikirannya tetap waras.
“Oke, tunggu sebentar.” Sahut Biru hendak kembali ke dalam dan menutup pintu kamar mandi. Namun, Jingga menahannya hingga membuat alis Biru terangkat dan menatapnya penuh tanya.
“Itu . . . , baju aku juga masih di dalam. Kalau nggak keberatan . . . .”
“Aku ambilin.” Sambar Biru memotong ucapan Jingga dan kembali menutup pintu kamar mandi.
“Ini . . . .”
Jingga meraih pakaian mereka dari tangan Biru, untuk kemudian dia menyerahkannya pada petugas laundry.
********
Setelah memberikan pakaiannya ke petugas laundry, kini Jingga memilih untuk duduk sambil bersandar di headboard ranjang, dia kemudian menarik selimutnya hingga sebatas pinggang.
“Huuft . . . .” Jingga menghembuskan napasnya, merasa bosan karena ponselnya mati. Dia jadi tidak mendapat hiburan.
Beberapa kali kepalanya melihat ke arah kamar mandi. Alis Jingga tertaut, heran sebenarnya apa yang menyebabkan Biru sangat lama di sana. Jingga saja yang notabenenya perempuan, tadi hanya menghabiskan waktu kurang dari setengah jam untuk membersihkan dirinya.
“Ji . . . .”
Jingga menoleh saat merasa namanya dipanggil. Tampak Biru muncul dengan memakai bathrobe sambil mengeringkan rambutnya yang sudah setengah basah menggunakan handuk kering.
Jingga terpesona melihatnya, wajah Biru jadi satu tingkat lebih tampan dan lebih maskulin dengan penampilan seperti itu. “Sial.”
“Baju kita kapan datang?” Tanya Biru kemudian seraya duduk di tepi ranjang miliknya.
“Aku minta mereka anterin besok pagi. Nggak apa-apa, kan? Aku nggak enak sama mereka, ini udah malam banget.” Jelas Jingga. Walaupun itu sudah tugas dari layanan guest laundry, dan mereka adalah tamu yang harus dilayani, tapi Jingga rasa dia tidak boleh bersikap seenaknya.
“Jadi kita tidur kayak gini?” Tanya Biru sambil melirik penampilannya sendiri. Jingga hanya menganggukan kepalanya lemah.
“Nggak apa-apa, kan?” Tanya Jingga lagi. Biru menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Untuk sejenak tidak ada percakapan di antara mereka setelah itu. Jingga mendengus melihat Biru yang malah asyik sendiri dengan ponselnya. Jingga belum mengantuk dan sangat bosan.
Hingga akhirnya, Jingga mengambil remot televisi di atas nakas yang ada di sebelah tempat tidur, lalu menyalakannya. Jingga berharap, dengan menonton televisi, bisa menghilangkan rasa bosan dan segera mendapatkan kantuknya.
Namun, hal tersebut hanya sekedar harapan. Bukannya menghilangkan rasa bosan atau mendatangkan kantuk, Jingga malah dibuat terkejut dengan tayangan televisi di depannya.
“Yaaaak.” Jingga setengah berteriak dan refleks melemparkan remot televisi tersebut ke ujung ranjang sesaat setelah dia melihat dua orang yang sedang berciuman penuh gairah.
Buru-buru dia menutup mata dan telinganya saat suara ******* dan erangan menggema memenuhi ruang kamar mereka. Menurutnya, itu lebih menyeramkan daripada suara ledakan bom yang dia dengar saat di Yaman.
Tak hanya Jingga, Biru yang sedang fokus dengan ponselnya sampai terperanjat kaget mendengar suara aneh itu. Lantas buru-buru dia melompat dari tempat tidurnya untuk mematikan televisi.
“Ji, kamu apa-apaan, sih? Bukannya dimatiin, malah remotnya dilempar.” Omel Biru seraya mengambil remot televisi yang ada di ujung ranjang untuk kemudian mematikannya.
Perlahan, Jingga membuka mata dan menurunkan kedua tangan dari telinganya. Dia lalu nyengir kaku saat mendapati Biru menatapnya dengan tatapan kesal.
“Jangan salahin aku. Salahin TVnya yang nayangin film porno.” Ucap Jingga dengan raut wajah merengut, tak terima dengan tatapan Biru padanya.
Biru menghela sambil memijat pangkal hidungnya. Susah payah dia mempertahankan akal sehat di tengah naluri dan logikanya bertentangan. Tapi Jingga malah tak sengaja memancingnya kembali.
“Tidur, Ji, udah malem.” Titah Biru sambil mengusap lembut puncak kepala Jingga.
“Aku nggak bisa tidur.” Rengek Jingga menghentikan langkah Biru yang akan kembali ke tempat tidurnya.
“Mau aku tidurin?” Tanya Biru yang sontak membuat Jingga langsung melemparnya dengan bantal.
********
To be continued . . . . .
__ADS_1