
********
Sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu, setelah Jingga menemui Biru untuk mengakhiri hubungannya di taman bermain waktu itu, dia berniat untuk mengambil cuti selama beberapa hari untuk menenangkan diri.
Namun kejadian tak terduga di acara resepsi Tia mengubah rencananya. Jingga butuh waktu lebih banyak dari itu. Dengan demikian, dia teringat akan ucapan Om Rendi yang mengatakan akan mengizinkannya mengambil cuti dalam batas waktu yang tidak ditentukan.
Maka dari itu, setelah Biru mengantarnya pulang dari villa. Buru-buru dia menghubungi lelaki paruh baya itu dan menanyakan apa tawarannya masih berlaku atau tidak. Jika sudah tidak berlaku, maka Jingga akan mengundurkan diri dan kembali ke Amerika. Tapi Om Rendi yang pengertian memberikan izin. dengan syarat Jingga jangan sampai mengundurkan diri dari rumah sakit, karena rumah sakit membutuhkannya.
Memang sebelumnya Om Rendi menarik Jingga ke rumah sakit miliknya bukan karena gadis itu akan menjadi calon menantunya, tapi itu murni karena kemampuan yang dimiliki Jingga. Jadi sangat disayangkan jika rumah sakitnya kehilangan dokter berkualitas seperti Jingga.
“Sebenarnya kamu mau ke mana sampai mengambil cuti selama itu?” Tanya Om Rendi penasaran setelah mereka duduk di privat room sebuah restoran.
“Aku emang butuh waktu lama untuk nenangin diri, Om. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah menghubungkan masalah pribadi sama pekerjaan.” Jawab Jingga merasa tak enak hati.
“Nggak apa-apa, Om ngerti, kok. Anggap saja ini perlakuan khusus yang diberikan orang tua untuk anaknya.” Sahut Om Rendi, membuat Jingga semakin sungkan.
“Makasih, Om.” Balas Jingga.
“Ji, walaupun kamu sudah berakhir sama Biru. Tapi Om harap, kamu jangan memutuskan hubungan dengan kami. Itu karena Om dan Tante sudah menganggap kamu seperti anak sendiri.” Ujar Om Rendi terdengar tulus.
“I-iya, Om.” Sahut Jingga canggung, tapi terselip keharuan di dalam hatinya.
“Sebenarnya Om nggak berhak untuk meminta ini. Tapi Om juga berharap kamu merenungkan dan mempertimbangkan lagi hubungan kamu sama Biru. Jujur, Om masih sangat berharap kalian bisa bersama lagi.” Tutur Om Rendi terdengar penuh harap, namun tidak memaksa.
Jingga terdiam sebentar untuk menyusun kalimat. Seharusnya lelaki itu tahu jika dia mengambil cuti bukan untuk merenung, Jingga ingin menghibur dan menyembuhkan hatinya yang terluka, serta membuang Biru jauh-jauh dari hatinya.
“Maaf kalau untuk itu kayaknya aku nggak bisa, Om.” Jawab Jingga yakin.
“Oke, Om nggak akan maksa kamu.” Ucap Om Rendi pasrah. Beliau sangat menyayangkan jika rencana perjodohan yang sudah dia susun selama ini tidak berjalan dengan baik.
Beliau juga sadar, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya lagi. Dalam hatinya dia hanya bisa berdoa, semoga Tuhan menakdirkan Biru dan Jingga untuk bersama pada akhirnya. Karena apa yang dipersatukan Tuhan, maka tidak akan bisa dipisahkan oleh manusia, sekalipun Jingga mengatakan tidak pernah ingin kembali bersama Biru. Begitupula sebaliknya.
“Terima kasih atas pengertiannya, Om.” Ujar Jingga seraya mengulas senyumnya. Lelaki itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Ohh, iya. Aku mau titip ini untuk Tante.” Lantas Jingga menyerahkan kotak perhiasan berwarna hitam dengan pita merah di atasnya, kotak tersebut berisi sebuah gelang emas putih model sweet heart cuff untuk dia berikan pada Tante Lisa, benda sama dengan hadiah yang akan dia berikan kepada Bunda.
Sebenarnya Jingga sudah menyiapkan hadiah itu dari dulu dan akan memberikannya pada Bunda serta Tante Lisa saat hari pernikahannya nanti. Tapi dia tak menyangka jika itu malah menjadi hadiah perpisahan untuk Tante Lisa darinya.
“Wah, apa, nih?” Tanya Om Rendi penasaran seraya mengambil kotak perhiasan itu.
“Cuma hadiah kecil, Om. Selama ini Tante udah baik benget dan ngasih banyak hal sama aku. Jadi nggak ada salahnya aku membalas itu.” Jawab Jingga.
“Kenapa kamu langsung ngasih sendiri aja? Kamu nggak mau nemuin Tante dulu emangnya?” Tanya Om Rendi sedikit protes.
“Aku pasti temuin Tante dulu, kok. Tapi untuk ini aku titip sama Om aja, soalnya nanti takut kelupaan.” Elak Jingga.
Om Rendi mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Ya udah nanti Om sampaikan, Tante pasti seneng banget. Tapi hadiah buat Om mana?” Guraunya kemudian seraya menadahkan tangan.
“Maaf, Om. Kalau buat Om aku nggak punya. Aku nggak keingetan.” Sahut Jingga polos, membuat Om Rendi mendengus geli.
“Kamu nggak adil.”
“Nanti habis liburan aku beliin, deh.” Ucap Jingga diiringi cengiran kaku.
“Oke, Om tunggu ya. Awas, lho, kalau lupa.”
“Siap, Om.” Jingga mengacungkan ibu jarinya. Om Rendi hanya tersenyum gemas. Dia mengerti kenapa istrinya sangat menyukai gadis ini.
“Segera kembali ke rumah sakit. Itu hadiah yang Om minta.” Ucap Om Rendi kemudian. Untuk beberapa detik Jingga tertegun, lalu mengangguk samar.
********
Tujuan selanjutnya yang Jingga datangi adalah kediaman orang tuanya. Ayah dan Bunda cukup terkejut dengan kedatangan sang anak yang tiba-tiba berpamitan dan meminta izin untuk liburan untuk waktu yang cukup lama.
“Kamu mau liburan ke mana, Ji? Kok nggak jelas waktunya berapa lama. Enggak, ahh.” Wanita itu langsung menolak mentah-mentah..
“Rencananya, sih, mau keliling Eropa, Bun. Boleh, ya?” Sahut Jingga enteng sambil memasang puppy eyes andalannya.
“Sendirian?” Tanya Ayah nampak khawatir, pasalnya selama ini Jingga tidak pernah berpergian jauh tanpa ada Langit di sisinya.
“Yaa sama rombongan yang mau liburan ke sana juga.” Jawab Jingga terdengar ragu-ragu. “Rombogan relawan maksudnya.” Tambahnya dalam hati.
Bukan keliling Eropa, tapi Jingga akan melakukan liburan yang luar biasa. Jingga akan bergabung dengan organisasi kemanusiaan medis untuk memberikan bantuan kesehatan bagi masyarakat di daerah krisis. Jingga menganggapnya sebagai voluntourism, berlibur sembari melakukan kegiatan sosial. Dan besok pagi dia harus siap-siap untuk pergi ke Pakistan bersama dokter relawan lainnya.
Jingga tidak takut, karena itu bukan yang pertama kali untuknya. Jauh sebelum ini dia pernah melakukannya di Sudan Selatan hingga pedalaman Afrika bersama Langit. Tapi kali ini dia tidak berniat memberitahukan hal itu pada orang tuanya, karena pasti mereka tidak akan mengizinkan jika dia pergi tanpa Langit.
Oleh karena itu, Jingga memilih untuk berbohong, meski mungkin dia akan kena damprat saat pulang nanti, tapi itu tidak apa-apa. Jingga hanya cukup meminta maaf. Karena pada dasarnya, meminta maaf lebih mudah daripada meminta izin.
“Boleh, ya, Yah, Bun?” Tanya Jingga seraya menatap Ayah dan Bunda bergantian.
“Enggak, ahh. Bunda nggak izinin kalau kamu nggak ditemenin Langit atau kakak-kakak kamu.”
“Ya ampun, Bun. Aku, kan, udah gede. Ayah sama Bunda nggak usah khawatir, aku bisa jaga diri, kok.” Ujar Jingga meyakinkan.
Bunda mendengus, raut tak rela melingkupi wajah cantiknya. Pun dengan Ayah.
“Ayolah, Bun, Yah. Boleh, ya?” Mohon Jingga sekali lagi. “Aku butuh healing buat nenangin diri.”
Ayah terdiam, tampak menimang-nimang, lalu dengan berat hati dia berucap. “Kalau Bunda nggak izinin, Ayah juga nggak bisa kasih kamu izin, Ji.”
“Bun?” Rengek Jingga manja sambil memelas.
Bunda menghembuskan napas berat, lalu berucap. “Ya udah. Tapi kamu hati-hati di sana, terus harus telepon kami setiap hari.”
__ADS_1
“Siap, Bu Ratu.” Seru Jingga senang dan mengambil sikap hormat. Wanita itu hanya mendengus.
“Hati-hati, ya, Ji.” Ucap Bunda saat melepas kepergian Jingga di halaman rumah. Jingga hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian melajukan mobilnya.
Gadis itu menatap sendu lambaian tangan Ayah dan Bunda yang masih terpantul dari kaca spion, seiring dengan mobil yang dikemudikannya berjalan semakin menjauh.
*******
Malam harinya, Jingga mengajak Langit jalan-jalan di mall. Seperti biasa, Jingga selalu mengekori Langit dari satu toko ke toko lain sembari membantu menenteng tas belanja milik cowok itu di tangannya.
“Tumben kamu nggak ngeluh? Biasanya udah ngoceh aja.” Ledek Langit yang merasa heran dengan tingkah Jingga hari ini karena tak banyak protes. Biasanya gadis itu selalu mengeluh kakinya pegal atau menggerutu tak jelas karena Langit terlalu banyak berbelanja.
Jingga meringis. “Soalnya aku nggak tahu berapa lama buat bisa nemenin kamu kayak gini lagi.”
“Ngapain, sih, pake keliling Eropa segala?” Dengus Langit sambil menududukkan dirinya di salah satu kursi foodcourt.
“Biar cepat lupa.” Sahut Jingga malas dan ikut mengambil duduk di hadapan Langit.
“Kamu yakin nggak mau aku temenin?” Tanya Langit seolah tak rela sahabat kesayangannya itu pergi sendiri.
Jingga terdiam sebentar untuk menunggu pelayan yang mengantarkan pesanan makanan mereka beranjak.
“Lagian kalau aku mau, Om Rendi pasti nggak bakal ngasih kamu cuti seenaknya kayak aku. Kamu, kan, nggak punya golden ticket.” Jawab Jingga dengan ledekan, lalu mulai melahap ramennya dengan tenang.
“Ihh, sombong banget. Walaupun Om Rendi nggak ngasih izin, tapi aku bisa resign.”
“Terus kamu nggak punya kerjaan?” Cibir Jingga.
“Nggak masalah. Aku bisa alih profesi dan kerja di perusahaan Papa.” Sahut Langit santai.
Jingga mendengus. Tidak bisa dipungkiri jika ayah dari cowok yang duduk di hadapannya ini termasuk jajaran orang terkaya di Asia.
“Tapi beneran, aku nggak mau kamu temenin, Lang, makasih. Aku butuh waktu sendiri.” Ujar Jingga kemudian.
Langit hanya mengangguk, mencoba mengerti, meski sebenarnya dia khawatir melepas gadis itu sendirian.
“Ohh, iya. Aku mungkin nggak bisa hubungin kamu setiap saat di sana.” Jingga memberi tahu.
“Oke.” Jawab Langit tak mempermasalahkan, tangannya lantas terulur meraih es krim miliknya sebagai makanan penutup.
“Kamu bisa minta Hana buat nemenin makan siang sama belanja.” Ucap Jingga lagi.
“Hmm.”
“Terus pulang seminggu sekali, kasihan tahu Om Wijaya suka kangen sama kamu.”
“Hmm.”
“Ish.” Jingga mendengus. “Kamu ham hem ham hem mulu.”
“Kamu, tuh, aku mau pergi nggak ada sedih-sedihnya banget. Nggak romantis, tahu.” Jingga merengutkan wajahnya gemas.
Langit berdecak geli, lantas dia meraih satu tangan Jingga untuk digenggamnya. “Pokoknya, kamu harus manfaatin waktu liburnya dengan baik. Enjoy.”
Jingga mengangguk pelan seraya memasang senyum dipaksakan.
Lantas sisa waktu kebersamaan mereka saat itu dihabiskan dengan obrolan ringan, saling melempar candaan hingga menimbulkan suasana heboh.
Tampak Jingga yang tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar cerita lucu tentang pasien anak-anak yang diceritakan Langit padanya.
Langit sampai heran, karena menurutnya ceritanya tidak selucu itu. Jingga seolah memaksakan dirinya untuk tertawa.
“Ohh, iya. Aku punya sesuatu buat kamu.” Ucap Jingga kemudian setelah tawanya terhenti. Langit mengernyitkan alisnya, menunggu Jingga mengambil sesuatu dari dalam tas.
“Birthday gift. Maaf terlambat.” Ujar Jingga seraya menyerahkan kotak berwarna hitam berisi jam tangan pada Langit.
“Wah, ini, kan, yang aku cari. Kok kamu bisa dapat?” Mata Langit berbinar saat mendapatkan jam tangan limited edition yang belakangan ini menjadi incarannya.
“Nyolong.” Celetuk Jingga asal seraya memasukkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya. Langit yang mendengarnya hanya mendengus sebal.
“But, thanks, Ji.” Ucapnya senang. Memang barang branded adalah salah satu kebahagiaan Langit.
“Lang, ayo kita foto.” Ajak Jingga kemudian yang langsung disetujui oleh cowok itu. “Sini pake hape kamu. Siapa tahu nanti kamu kangen sama aku.” Gadis itu merampas ponsel Langit yang tergeletak di atas meja, mencari aplikasi kamera, lalu menarik paksa tubuh cowok itu agar lebih dekat dengannya.
“Cantik.” Jingga puas dengan hasil jepretannya. Dia tersenyum dan mengirimkan foto itu ke ponselnya.
“Tapi akunya jelek, Ji.” Protes Langit karena memang hanya ekspresi Jingga yang terlihat bagus di foto itu.
“Emang kamu ganteng?” Ledek Jingga.
“Ngeselin.” Langit mendengus kesal seraya menarik pipi Jingga dengan keras, hingga membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
*******
Setelah dia pulang dari mall bersama Langit, di kamar apartemennya Jingga lantas mengumpulkan semua barang kenangan bersama Biru ke dalam kotak barang. Tampak benda-benda lucu seperti boneka, gantungan tas, beberapa foto polaroid, kalung pemberian Biru, hingga cincin tunangannya ada di sana. Tak lupa, dia juga meletakkan sebotol yoghurt strawberry sebagai hadiah terakhir untuk Biru. Rencananya, Jingga akan mengembalikan semua itu pada Biru karena dia tidak ingin menyimpan kenangan apapun lagi tentang cowok itu.
Jingga menatap pilu kotak barang tersebut seiring dengan kenangan kebersamaannya dengan Biru yang berputar di dalam otaknya sejak pertemuan pertama sampai hari ini, hingga tanpa sadar air matanya menetes dan mengalir melalui pipinya. Dia tak pernah menyangka jika dirinya dan Biru akan berakhir seperti ini.
“Hiks, kenapa malah nagis, sih? Bodoh.” Jingga merutuki dirinya sendiri sembari menghapus air mata dengan punggung tangannya. Lantas dia beranjak menuju meja kerja, mengambil selembar kertas origami, lalu dengan lihai tangannya menulis kata demi kata hingga terangkai menjadi kalimat perpisahan untuk Biru.
Untuk kamu yang pernah menjadi Birunya aku . . . .
Ini mungkin yoghurt strawberry terakhir yang bisa aku kasih buat kamu, minum ini dan lupakan aku dalam setiap sesapannya.
__ADS_1
Kamu nggak perlu berusaha untuk mengingat aku lagi mulai sekarang. Karena pada akhirnya, kamu tetap harus ngelupain aku.
Ya, kamu harus ngelupain aku, karena aku nggak bisa untuk ada di sisi kamu lagi.
Selama ini kita tahu apa yang bisa membuat hubungan kita berjalan dengan baik. Tapi kamu selalu lebih memilih untuk mengabaikan hal itu, hingga akhirnya aku lelah dengan semuanya. Aku menyerah.
So, ayo kita lepaskan semuanya. Waktu yang pernah kita habiskan, kenangan kita, dan masa depan yang pernah kita rancang bersama, ayo lepaskan itu, hingga akhirnya kita bisa tersenyum untuk kebahagiaan kita masing-masing suatu hari nanti.
Aku harus mengucapkan selamat tinggal sekarang. Terima kasih sudah ngasih aku dua hal sekaligus, cinta kamu di masa lalu dan luka untuk saat ini. Aku nggak pernah menyesal pernah mengenal kamu, Bi.
Sekali lagi, selamat tinggal. Aku harap, kamu akan menemukan seseorang yang nggak akan pernah meninggalkan kamu.
Ohh, iya. Lain kali, kalau kamu nemuin orang itu, pintar-pintarlah untuk mempertahankan dia biar kamu nggak kehilangan lagi.
Keessokan paginya. Pagi-pagi sekali Jingga keluar dari ruangan Biru setelah dia menyimpan kotak barangnya di sana. Sejenak dia berbalik, tertegun memandangi pintu kaca ruangan Biru.
“Nggak apa-apa. Everything’s gonna be alright.” Jingga menyemangati dirinya sendiri agar hati dan pikirannya tidak goyah, hingga akhirnya dia melangkah pergi dari sana.
********
“Enggak, Ji. Aku akan menjadi Biru kamu sampai kapanpun.” Biru menggeleng pelan setelah dia selesai membaca surat yang Jingga tinggalkan untuknya. Kertas yang ada di tangannya nampak bergetar seiring dia merasakan matanya mulai memanas, dia harus menemui Jingga sekarang juga.
Tapi baru saja dia sampai di ambang pintu, seorang perawat menghampirinya dan mengatakan bahwa ruang operasi sudah siap, perawat tersebut juga mengatakan jika Biru harus segera melakukan prosedur kraniotomi untuk pasien aneurisma otak. Jelas Biru tidak bisa membatalkan jadwalnya secara mendadak.
“Baiklah, saya segera ke sana sekarang.” Biru meraup wajahnya, menghembuskan napas dengan gusar. Mau tidak mau, dia harus menjalankan tugasnya sebagai dokter terlebih dahulu.
Beberapa jam setelah keluar dari ruang operasi, Biru masih harus disibukkan dengan operasi lain dan kunjungan pasien. Hingga akhirnya dia benar-benar selesai menjelang sore, Biru bahkan melewati makan siang karena ada panggilan darurat.
“Prof, Anda mau ke mana?” Tanya asisten dokter setengah berteriak saat melihat Biru yang berlari panik setelah keluar dari ruangan pasien terakhir mereka. Tapi teriakan itu tak diindahkannya. Dokter bernama Hamish itu hanya bisa mengernyitkan alisnya bingung.
Sesampainya di lantai tempat ruangan Jingga berada, Biru mengambil langkah besar dan segera membuka pintu ruangan gadis itu tak sabaran.
Pandangannya menyusuri setiap sudut ruangan, tapi Jingga tak ada di sana. Ruangannya kosong, sama seperti tadi pagi dia datang ke sana.
Biru mondar-mandir di depan ruangan Jingga sembari berusaha menghubunginya, namun nomornya tetap di luar jangkauan, meski dia berulang kali menghubunginya.
“Ji, kamu di mana?” Gumam Biru terdengar putus asa, dia menyugar rambutnya frustrasi.
“Bi . . . .” Biru sedikit tersentak saat seseorang menyentuh bahunya. Dia lantas menjauhkan ponsel dari telinga, lalu melihat ke arah orang yang menegurnya.
“Lo ngapain di sini?” Tanya Bisma heran melihat Biru mondar-mandir seperti orang gelisah di depan ruangan Jingga.
“Lo ada lihat Jingga, nggak? Lo biasanya jadi ahli anestesi di operasinya, kan?” Tanya Biru, mengingat Bisma sekarang satu tim dengan gadis itu.
Bisma mengangguk. “Gue baru aja selesai operasi katup jantung. Seharusnya emang sama Jingga, tapi Dokter Nathan yang gantiin. Gue juga nggak sempat nanya kenapa tiba-tiba digantiin.”
“Kalau gitu Hana di mana?” Tanya Biru kemudian, mengingat Hana sangat dekat dengan Jingga.
“Hah? Hana?” Bisma mengernyitkan alisnya, heran karena Biru menayakan gadis itu.
“Iya, dia di mana?” Desak Biru. Bertepatan dengan itu, nampak Hana berjalan ke arah mereka.
“Hana . . . .”
Baru saja Bisma membuka mulutnya untuk memanggil Hana, namun suara orang lain mendahuluinya.
“Dokter Langit.” Sahut Hana menghentikan langkahnya saat mendapati Langit yang kini berdiri sejajar dengannya.
“Makan siang bareng.” Ajak Langit.
“Oke si –”
“Hana?” Panggil Biru berjalan menghampiri Hana, membuat gadis itu mengalihkan atensinya pada Biru.
“Prof. Biru?” Sahut Hana sedikit terkejut mendapati atasannya memanggil.
“Hana, aku tunggu di kedai kopi.” Ucap Langit sambil berbalik, tak peduli ada Biru dan Bisma di sana.
“Oke.” Sahut Hana sedikit bingung harus menanggapi yang mana dulu.
Sebelum benar-benar pergi, tatapan Langit terkunci dengan Biru. Langit menatap cowok itu tajam selama beberapa detik sebelum akhirnya membuang muka. Biru sendiri tidak peduli dengan itu.
“Kamu lihat Jingga di mana?” Sambar Biru langsung.
“Iya, Jingga ke mana? Kok malah Doter Nathan yang gantiin tadi?” Timpal Bisma ikut menghampiri.
“Atau Jingga nggak masuk?” Tambah Biru.
“Orang cantik memang berbeda.” Gumam Hana dalam hati saat mendapati orang-orang tampan di depannya ini menanyakan Jingga.
Hana yang tiba-tiba diberi pertanyaan secara beruntun memandangi Biru dan Bisma bergantian.
“Hana . . . .” Tegur Biru mendesak Hana untuk segera menjawabnya.
“Dokter Jingga, kan, mengambil cuti sampai waktu yang tidak ditentukan. Dia juga sudah menyerahkan semua pasiennya pada Dokter lain.” Jawab Hana yang terheran-heran karena Biru sebagai Kepala Rumah Sakit tidak mengetahuinya.
“Cuti?” Sahut Biru dan Bisma bersamaan.
“Sampai waktu yang tidak ditentukan?” Bisma seolah tak percaya. “Kamu kata siapa, Hana?”
“Maaf, Prof. Biru belum tahu?” Tanya Hana tak mengindahkan pertanyaan Bisma. Biru hanya terdiam bingung, belum bisa mencerna situasi ini.
“Dokter Jingga benar-benar cuti tanpa batas waktu. Semua orang terkejut karena terlalu mendadak, itu juga membuat Dokter lain keteteran karena Dokter Jingga mengalihkan semua pasiennya tadi malam.” Jelas Hana kemudian.
__ADS_1
********
To be continued . . . .