Still In Love

Still In Love
EP. 21. Who’s Jingga


__ADS_3

********


Bandung, 2022


“Aku selalu merasakan dan melihat hal yang sama. Samar-samar aku melihat cewek cantik di sebuah taman, aku menghampiri dan berhambur memeluknya. Senyumnya sangat cantik, itulah yang terlihat dengan jelas. Aku ingat, tapi aku nggak tahu dia siapa, kapan, dan di mana hal itu terjadi.” Jelas Biru di bawah pengaruh hipnoterapinya sesaat setelah dokter memintanya untuk menjelaskan kejadian yang terkadang muncul dalam ingatan dan mimpinya.


“Kamu melihat jelas wajahnya?” Tanya sang dokter.


“Enggak, aku cuma lihat senyumnya yang cantik.” Jawab Biru menggeleng.


“Bagaimana perasaan kamu?” Lanjut dokter Psikiater bernama Johan itu.


“Sedih. Rasanya menyedihkan lihat dia nangis.” Sahut Biru.


Dokter Johan membawakan minuman untuk Biru setelah sesi hipnoterapi selesai. Biru berterima kasih dan mengangkat cangkir berisi teh hijau itu untuk kemudian meminumnya.


“Sudah lebih dari delapan tahun, tapi nggak ada hasil dari hipnoterapi saya.” Keluh Biru.


“Saya nggak yakin kalo bayangan cewek itu bagian dari ingatan saya atau hanya halusinasi, Dok..” Lanjutnya lagi, tampak raut wajah lelah dan ingin menyerah terpampang di sana.


“Kamu akan tahu setelah ingatan kamu pulih. Siapa tahu gadis itu kekasih kamu di masa lalu.” Ujar dokter berusia 45 tahun itu sedikit menggoda Biru.


“Saya nggak pernah punya pacar, Dok. Saya ingat masa-masa sekolah saya, kok.” Tepis Biru.


“Haha, apa kamu tidak ingat sedang amnesia? Kamu lupa kalau sebenarnya kamu juga melupakan beberapa hal di masa lalu. Ingat Biru, ingatan kamu itu seperti kaset rusak.” Dokter Johan tertawa saat mendengar penyangkalan Biru.


“Kalau saya punya, mungkin dia udah nyariin saya dan ada di sini.” Timpal Biru kemudian.


“Entahlah, yang pasti saat ini kamu tidak boleh menyerah untuk pengobatannya.” Ucap dokter Johan dengan senyum menyemangati.


********


Sementara itu di sebuah Privat Dining Restaurant, dua keluarga berkumpul, berbincang-bincang santai hingga membuat ruangan kecil itu nampak hangat.


“Aku bener-bener kayak nggak punya anak sekarang. Huuh.” Keluh Mona. Wanita paruh baya yang terlihat masih muda itu menghembuskan napas lemah.


“Bintang si sulung, sejak menikah memilih untuk tinggal terpisah dari kami. Sagara yang tengah, dia bener-bener udah nggak tahu jalan pulang. Dan si bungsu yang paling cantik?” Bunda menghentikan kalimatnya sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam. “Dia malah kebablasan betah tinggal di Amerika, mungkin udah lupa, kali, ya, sama negaranya sendiri?” Lanjutnya menggerutu, saat ini dia merasa kesepian di hari tuanya.


“Seharusnya, dulu aku nggak izinin mereka keluar dari rumah atau nikah sekalipun.” Ucapnya kemudian yang langsung mengundang gelak tawa semua orang yang ada di ruangan itu.


“Haha, kamu punya anak tiga aja kesepian. Apalagi aku yang cuma satu, Na. Aku bahkan udah nggak inget pernah ngelahirin seorang anak.” Timpal wanita paruh baya seusia Mona yang bernama Lisa itu, merasa seperti memiliki nasib yang tidak jauh berbeda. Sama-sama kesepian di hari tua.


“Sudahlah, mungkin Tuhan ingin kita menghabiskan waktu berdua dengan romantis di masa tua.” Ucap Rendra, suami Mona, menenangkan. Tawa ringan lantas kembali menggema memenuhi seisi ruangan itu.


“Haha, Ayah ada-ada aja.” Bunda terkekeh geli sambil memukul lengan bahu suaminya.


“Oh, iya. Ngomong-ngomong, anak kita jadi datang, nggak, Ma? Makanan sudah datang, lho. Nggak sopan banget membuat orang tua nunggu.” Tanya Rendi yang merupakan suami dari Lisa. Seketika pertanyaannya itu menarik perhatian dua orang di depannya, Rendra dan Mona memandang Lisa, menunggu jawaban wanita itu.


“Tadi dia chat Mama, katanya sebentar lagi sampai. Mungkin masih di jalan ka–” Kalimat Lisa menggantung saat terdengar deritan pintu ruangan terbuka.


Semua orang di sana langsung mengalihkan perhatiannya ke arah pintu. Mereka tersenyum senang melihat kedatangan seorang anak laki-laki dengan wajah tampan dan bertubuh tinggi bak seorang model. Biru. Kedatangannya langsung saja disambut dengan hangat oleh mereka.


“Maaf, sudah membuat kalian menunggu.” Sesalnya berucap sopan seraya mendudukkan diri di sebelah Lisa sang Mama.


“Nggak apa-apa, Nak. Kami mengerti, kamu pasti sibuk.” Ujar Rendra berusaha memaklumi.


“Ahh, iya, Sayang, kenalin, mereka teman Papa sama Mama, Om Rendra dan Tante Mona.” Mama Lisa memperkenalkan kedua orang di depannya bergantian.


Biru tersenyum, lalu ikut memperkenalkan diri dengan menyalami Om Rendra dan Tante Mona. “Aku Biru Om, Tante.”

__ADS_1


Biru mengernyit heran saat melihat Tante Mona yang tidak melepaskan tangannya, wanita paruh baya itu menatapnya penuh selidik.


“Bunda, Ayah tahu dia ganteng. Tapi jangan ditatap terus gitu, dong, Ayah jadi merasa tersaingi, nih.” Tegur Rendra yang melihat istrinya terus bergeming.


“Ohh, iya, maaf. Habisnya Tante kayak pernah ketemu kamu, tapi di mana gitu, ya, lupa.” Mona terkekeh geli sambil menarik tangannya.


“Aku pikir ini pertemuan pertama kita, Tante.” Ucap Biru agar Mona tidak terbebani dengan berusaha mengingat sesuatu yang tidak jelas.


“Apa, iya, ya? Tapi rasanya Tante emang bener pernah lihat kamu, tapi lupa di mana.” Mona masih keukeuh seraya terus berusaha untuk mengingat-ingat.


“Mungkin emang kamu pernah ketemu sama Biru di rumah sakit atau di sekolah saat rapat orang tua. Biru ama Jingga, kan, dulu sekolah di sekolah yang sama.” Timpal Rendi. Bunda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba menerima alasan Rendi yang terdengar masuk akal.


“Jingga? Who’s that?” Biru bertanya-tanya dalam hati begitu nama itu disebut. Rasanya seperti tidak asing mendengarnya.


“Ya sudah, ayo kita makan.” Seru Rendra agar mereka segera memulai makan malamnya.


Dua keluarga itu kemudian menikmati makan malam dengan hening, hanya terdengar suara dentingan alat makan yang saling bersentuhan.


“Emm, ngomong-ngomong. Kapan Jingga akan kembali?” Tanya Rendi yang tiba-tiba membuka pembicaraan di tengah kegiatan makan malam.


Pertanyaan Rendi seketika membuat Rendra menghentikan kunyahan makanannya. Semua perhatian kini tertuju pada beliau untuk menunggu penjelasannya.


“Biasanya, sih, dia pulang pas tahun baru sama liburan musim panas. Beberapa hari lagi dia pasti pulang, kok, kan minggu depan tahun baru.” Jawab Rendra, namun bukan itu jawaban yang diharapkan Rendi.


“Kerja di John Hopkins pasti sangat sibuk. Tapi dia cukup rajin juga ngunjungin kalian. Kok kamu bilang dia jarang pulang?” Tanya Lisa menatap Mona dengan satu alis terangkat. “Beda, nih, sama dia yang udah lupa alamat rumah.” Lalu melirik Biru dengan ekor matanya, menyindir karena sang anak nyaris tidak pernah pulang baik saat masih di luar negeri ataupun sekarang saat sudah kembali ke tanah air.


“Siapa dia?” Gumam dalam hati kembali bertanya-tanya. Namun meski demikian dia tidak bertanya, memilih diam mendengarkan ambil sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Habisnya sekali dia pulang cuma sehari doang, udah gitu nggak diem di rumah, langsung pergi ke taman bermain, udah deh seharian di sana nggak ke mana-mala lagi.” Gerutu Mona, lalu berdecak dan kembali berucap. “Udah kayak ziarah ke kuburan aja tiap dia pulang berkunjung ke sana.”


“Habis itu pulang lagi?” Tanya Lisa dengan tatapan tak percaya.


Mona mengangguk. “Iya. Subuhnya langsung terbang lagi. Waktu bersama kaminya, tuh, ya cuma salaman doang.”


“Bener, kan? Dia emang gila. Mungkin buat dia, Amerika, tuh, dianalogikan kayak Bandung dan Jakarta.” Sahut Bunda heboh.


“Maaf, Tante.” Ucap Biru tersenyum canggung, merasa tidak enak hati karena tidak sengaja sudah mengumpat anak mereka.


“Nggak apa-apa, kok. Jingga emang ada gila-gilanya.” Sahut Mona santai, membuat suami dan kedua sahabatnya geleng-geleng kepala.


“Dasar kamu, Na. Nggak boleh gitu, lho, sama anak sendiri.” Lisa tertawa geli sekaligus kesal..


“Haha, sudah-sudah. Kok malah bahas ini, sih? Aku, tuh, sebenarnya mau tanya kapan Jingga pulang dari Amerika selamanya?” Rendi berusaha mengembalikan topik pembicaraannya. Dia menatap Rendra dan Mona bergantian dengan serius. “Ini sudah waktunya, Ren, Na.”


Biru mengerjap, lalu keningnya mengernyit, sejenak dia menghentikan kunyahan makanan di mulutnya. “Waktunya? Waktunya apa?”


Cowok itu meminum air putih untuk mendorong makanan di mulut yang tiba-tiba sulit dia telan.


“Aku bilang minggu depan. Kepulangannya nanti akan menjadi selamanya. Aku pastiin dia nggak akan kembali ke Amerika lagi.” Jawab Rendra mantap. Rendi mengangguk percaya.


“Aku jadi nggak sabar, deh, pengin ketemu Jingga.” Ucap Lisa dengan mata berbinar.


“Ma, Jingga siapa, sih?” Bisik Biru di telinga Lisa, tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi karena sejak tadi nama Jingga menjadi tokoh utama dalam pembicaraan para orang tua itu.


Lisa mengerling diiringi senyum penuh arti, lalu balas berbisik. “Calon istri kamu.”


“Haah?”


“Iya, calon istri. Perasaan Mama udah bilang, deh, tadi.” Sahut wanita itu dengan memasang wajah tak berdosa.

__ADS_1


Biru terperangah, matanya membeliak, cukup terkejut dengan apa yang didengarnya. Tadi sore sang ibu meneleponnya untuk ikut makan malam bersama kerabatnya. Hanya makan malam. Bukan untuk memberinya calon istri.


“Ma....” Biru menatapnya protes.


“Shuut, udah, nanti kita dahas di rumah.” Ucap Lisa. Biru memalingkan wajah sebal, seketika makanan di hadapannya berubah rasa menjadi tidak enak.


********


Di saat orang lain membutuhkan waktu sekitar sembilan sampai sepuluh tahun untuk menjadi seorang Dokter Spesialis. Tapi, tidak bagi Jingga dan Langit. Hanya diperlukan waktu delapan tahun untuk mereka mendapatkan gelar Dokter Spesialisnya.


Dengan kemampuan otak genius yang mereka miliki, tidak sulit bagi mereka untuk menyelesaikan pendidikannya lebih cepat.


Lima tahun mereka habiskan di Universitas Oxford, Inggris, untuk meraih gelar Sarjana Kedokteran dan Sarjana Bedah. Kemudian mereka memilih melanjutkan program spesialis di Universitas John Hopkins, AS. Jingga memilih Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular, sedangkan Langit memilih Spesialis Bedah Anak.


Dan di sinilah Jingga dan Langit sekarang, bekerja di John Hopkins Medicine Baltimore, Maryland, Amerika Serikat.


Setelah lulus dari SMA delapan tahun lalu, Jingga dan Langit memutuskan untuk melanjutkan pendidikan dengan mengambil sekolah kedokteran di luar negeri, di Universitas yang sama.


“Fotosintesis . . . .” Jingga yang sedang duduk di taman rumah sakit sambil termenung tiba-tiba dikejutkan Langit yang menyerahkan paper bag berisi dua buah American sub sandwich dan cup lemonade tepat di depan wajahnya.


Tangan Jingga terulur untuk meraih bungkusan makanan tersebut, lalu mengambil satu untuknya, dan sisanya dia serahkan makanan itu pada Langit yang kini ikut duduk di hadapan Jingga untuk kemudian mereka mulai memakan makannya dalam diam.


“Kamu kayak tentara aja, tahu, nggak, Ji? Buru-buru banget makannya, lagian nggak bakal ada perang di sini.” Tegur Langit yang melihat Jingga makan dengan terburu-buru. Lantas dengan tanggap tangannya terulur membersihkan remahan roti di sekitar pipi Jingga. Sementara gadis itu tetap anteng menerima perlakuan Langit, sama sekali tidak terganggu. Mereka terbiasa seperti itu sejak kecil.


“Ehem.” Jingga berdehem sambil berusaha mendorong makanannya agar masuk ke kerongkongan. “Aku emang ada perang di ruang operasi dua puluh menit lagi, Lang.” Lanjutnya, lalu menggigit besar roti isinya kembali, kemudian menyesap minumannya cepat-cepat, padahal masih ada makanan yang belum selesai dia kunyah di dalam mulutnya.


Langit hanya geleng-geleng kepala melihat cara makan sahabatnya itu. benar-benar terlihat sangat repot.


“Lusa jadi pulang, Ji?” Tanya Langit memastikan setelah beberapa lama terdiam.


Jingga menghentikan kunyahannya, lalu sekali lagi menyesap minuman agar roti isi yang tengah dikunyahnya itu terdorong masuk ke kerongkongannya.


“Iya, aku harus udah di sana pas malam tahun baru.” Jawab Jingga, wajah cerianya seketika menjadi muram, tatapannya tampak memancarkan kesedihan yang mendalam.


“Mau sampai kapan kamu nunggu dia? Percuma, ujung-ujungnya lo bakal nangis di pojokkan karena dia gak datang.” Ujar Langit ketus. Kesal sendiri karena Jingga mengatakan akan menyerah, tapi nyatanya dia terus menunggu cowok brengsek itu sampai saat ini.


Jingga terdiam, tidak bisa menjawab. Gadis itu hanya menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Langit seolah bosan melihat Jingga terus menunggu dan berharap pada Biru yang tidak pernah memberinya kabar sama sekali, bahkan setelah hampir sembilan tahun berlalu.


Jingga masih selalu datang ke taman bermain setiap malam tahun baru dan musim panas, menunggu Biru yang dia harapkan akan datang. Namun, pada akhirnya Langitlah yang selalu datang dan membawa pulang Jingga di balik punggungnya dalam keadaan menangis hebat.


“Selama ini kamu selalu menggunakan otak kamu dengan baik dalam segala hal, Ji. Biasanya kamu itu sangat realistis, nggak pernah sekalipun bergantung pada nasib kayak gini.” Lanjut Langit dengan emosional, berharap kata-kata ini bisa menyadarkan sahabat tersayangnya itu.


“Tapi, kenapa kamu nggak bisa pake otak kamu yang pinter ini buat si brengsek itu?” Langit menunjuk-nunjuk pelipis Jingga dengan gemas. Cewek itu hanya terdiam.


“Kamu nggak seharusnya ngelakuin ini, Ji. Udah cukup kamu nunggu dia selama hampir sembilan tahun ini. Ada saatnya kita menyerah dan berhenti. Lepasin dia, Ji.” Tambahnya gregetan karena Jingga begitu bebal, mungkin lebih tepatnya bodoh.


“Aku masih mau ngasih kesempatan dia, Lang. Aku yakin dia akan datang.” Tepis Jingga datar. Gadis itu lantas berdiri dan meninggalkan Langit yang menatapnya geram, kesal, sekaligus kasihan bercampur jadi satu.


Selalu seperti itu, Jingga selalu mencoba menyangkal hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada Biru, kemungkinan seperti Biru sudah meninggalkan dan atau melupakannya begitu saja.


Langit mendesah frustrasi, lalu berteriak. “Terserah kamu. Aku nggak mau lagi nemenin kamu nagis-nangis di taman gara-gara dia.”


Jingga sendiri tak mengindahkan teriakan Langit. Cewek itu mengambil langkah cepat keluar dari taman.


Langit mendelik kesal, lalu menggigit kasar roti isi miliknya, dan kembali berteriak. “Jingga bego. Bego banget, bego kuadrat.”


Samar Jingga mendengar ucapan Langit, tapi dia memilih kembali mengabaikannya.

__ADS_1


********


To be continued . . . .


__ADS_2