Still In Love

Still In Love
EP. 50. Pick Me


__ADS_3

********


“Kamu lagi ada masalah?” Tanya Hana heran dengan sikap Jingga yang lebih banyak diam dengan wajah murung seharian ini.


Selepas memeriksa pasien, biasanya Jingga akan membahas makanan untuk makan siang atau berbagi cerita mengenai drama Korea yang telah dia tonton. Ini tak seperti biasanya.


“Ohh? Apa, Han?” Jingga sedikit terkesiap.


Hana memutar bola matanya malas, lalu mengulang pertanyaannya. “Kamu lagi ada masalah? Kok diem mulu dari tadi?”


“Enggak, kok. Aku cuma lagi datang bulan.” Elak Jingga seraya menyunggingkan senyum dipaksakan.


“Pantesan.” Hana manggut-manggut mengerti. “Gimana kalau nanti kita cari makanan yang manis atau pedes? Biasanya aku makan itu kalau lagi PMS. Aku jamin nanti mood kamu balik lagi, deh.”


“Boleh.” Sahut Jingga tak bersemangat, tapi senyuman tipis tetap tersungging dari bibirnya.


Tak ada lagi percakapan setelah itu, hanya terdengar derap kaki mereka yang melangkah menuju ruang ICU untuk memeriksa pasien pasca operasi.


Karena fokusnya kurang, Jingga tak memperhatikan keadaan sekitar, hingga akhirnya dia menabrak dan kepalanya membentur dada bidang seseorang, tubuhnyapun sedikit terhuyung ke belakang, untung saja orang yang dia tabrak menahan pinggangnya dan membuat Jingga kembali berdiri tegak.


“Dok, kamu nggak apa-apa?” Tanya Hana yang khawatir melihat Jingga menahan sakit.


“Aww, sssh . . . .” Jingga mendesis, menahan ngilu pada tulang hidungnya yang terbentur cukup keras.


“Kamu nggak apa-apa, Ji?” Tanya Langit tak kalah khawatir sembari menyentuh hidung Jingga untuk memeriksanya, hidung gadis itu tampak berdarah.


Jingga mendongakkan kepala, dia tertegun saat mengetahui ternyata Langit adalah orang yang ditabraknya. Sejenak, pandangan mereka saling bertemu, terkunci selama beberapa detik.


“Ung, aku nggak apa-apa.” Jingga buru-buru menepis tangan Langit yang sedang mencoba untuk menyeka darah dari hidungnya.


“Hidung kamu berdarah, Ji.” Langit kembali meraih wajah Jingga untuk memastikan keadannya.


“Nggak apa-apa, aku bisa ngobatin ini nanti.” Ucap Jingga dingin dan kembali menjauhkan tangan Langit dari wajahnya. “Aku permisi.”


“Ji . . . .” Langit menahan lengan Jingga yang hendak beranjak meninggalkannya. Dia heran dengan sikap Jingga yang tampak berbeda dari biasanya. Normalnya, gadis itu akan menggerutu dan mengaduh kesakitan dengan nada yang dibuat manja, tapi sekarang tidak. Gadis itu terlihat dingin.


“I’m okay. . . .” Jingga melepaskan tangan Langit yang memegang lengannya sambil tersenyum lemah, kemudian dia berlalu pergi, meninggalkan Langit yang menatapnya dengan sendu.


Langit merasa Jingga seolah sedang menghindarinya. Dia ingat, tadi pagi saat mereka berpapasan, saat Jingga hendak naik lift, gadis itu mengurungkan niatnya ketika mengetahui Langit ada di dalam sana. Langit akan menegurnya, tapi gadis itu buru-buru pergi tanpa bicara sepatah katapun.


Hana juga merasa heran dengan sikap Jingga pada Langit, namun dia tak terlalu memikirkannya. Hana teringat tadi Jingga mengatakan sedang datang bulan. Mungkin sikap dingin Jingga pada Langit hanya mood swing saja.


********


Malam harinya sekitar pukul setengah tujuh, Jingga dan Biru keluar dari butik selepas mereka melakukan fitting baju pengantin. Mereka dalam satu mobil yang sama, sementara Tante Lisa pulang mengendarai mobilnya sendiri.


Sebenarnya Jingga tadi akan membawa mobil sendiri. Tapi seperti biasa, Biru memaksanya untuk pergi bersama. Karena malas berdebat, Jingga akhirnya ikut dengan Biru dan meninggalkan mobilnya di parkiran rumah sakit.


“Seatbeltnya, Ji. . . .” Tegur Biru pelan saat melihat Jingga belum memasang sabuk pengamannya. Jingga lebih banyak diam dan tak banyak bicara hari ini. Biru tebak itu buntut dari pertengkaran kecil mereka tadi pagi.


Menghembuskan napas kasar, Biru frustrasi sendiri karena tak berhasil membujuk gadis itu. Jingga masih mendiamkannya.


“Ohh?” Jingga tidak sadar jika dia belum memakai sabuk pengamannya. Lantas dengan sigap Biru membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Jingga yang mendadak kesulitan.


“Kamu kenapa? Kok kayak nggak fokus gitu?” Tanya Biru heran, dia mulai melajukan mobilnya keluar dari area butik.


“Nggak apa-apa.” Jawab Jingga singkat dan datar seraya memalingkan wajahnya ke arah jalanan dari jendela kaca mobil.


Suasana hening kemudian mengambil alih, seolah mereka tak menemukan topik pembicaraan lagi. Untuk menghilangkan keheningan, Biru kemudian memutar musik dari ponselnya yang sengaja dia hubungkan ke tape mobil via bluetoooth.


Lagu Cry Pretty dari Carrie Underwood mengalun indah, memecah suasana beku di dalam mobil itu. Sejenak Jingga terhanyut dengan alunan lagu yang terus berputar. Lagu tersebut seolah memberikan kekuatan untuk dirinya saat ini. Dalam setiap liriknya, lagu itu mengajarkan perempuan untuk tetap tersenyum cantik walaupun menahan sakit, lagu itu mengajarkan perempuan untuk tidak menunjukkan kelemahannya dengan menangis.


“Ji . . . .” Panggil Biru, membuat Jingga mengalihkan pandangan ke arahnya. Pandangannya lalu mengitari sekitar, dan saat itu juga Jingga tersadar jika dia sudah sampai di depan gedung apartemennya.


“Ohh, udah sampai, ya. . . .” Gumamnya pelan, namun masih terdengar di telinga Biru.


“Iya, udah sampai.” Biru memperhatikan wajah Jingga yang tampak sayu dan linglung. Sejak dia bertemu dengannya tadi pagi, raut wajah itu tidak berubah.


“Makasih udah ngenterin aku.” Ucap Jingga setelah melepas sabuk pengaman yang menyilang dari bahu ke pinggangnya.


“Ji, tunggu . . .” Panggilan Biru menghentikan Jingga yang nyaris membuka pintu mobil.


“Ada ap–”


Pertanyaan Jingga menggantung, karena saat dia menoleh ke arah Biru, dia mendapati cowok itu menyerahkan sebuket bunga Chrysant dan kotak perhiasan dengan hiasan pita di atasnya.


“Aku tahu, ini agak terlambat. Selamat ulang tahun, Jingga.” Biru meraih telapak tangan Jingga untuk dia genggam. “I’m sorry for forgetting your birthday.”


Biru tidak tahu jika hari ini adalah hari ulang tahun Jingga. Dia melupakannya karena hilang ingatan, dan dia tidak mengingat-ingat tanggal lahir gadis itu saat membaca latar belakangnya dulu.


Biru baru mengetahuinya tadi saat makan siang bersama sang ayah. Lelaki yang sangat menyayangi calon menantunya itu menegur Biru karena dia tidak tahu soal itu, lalu memintanya untuk segera membeli hadiah.


“Nggak apa-apa.” Jawab Jingga sambil tersenyum lemah.


Biru mendesah kasar, pandangannya turun pada tangan Jingga yang sedang digenggamnya. “Oke. Sekali lagi aku minta maaf karena udah bikin kamu marah. Ngelupain makan malam, mlah pergi nemenin Luna, dan lupain ulang tahun kamu, aku minta maaf untuk itu semua.”


Jingga terdiam tak menanggapi. Bukan itu yang Jingga inginkan. Jingga ingin Biru benar-benar menyadari kesalahannya. Bukan hanya sekedar minta maaf, lalu masalah selesai.


“Iya.” Jingga kembali menyahut singkat.


“Ya udah, kalau gitu stop diemin aku kayak gini.” Biru menaikkan pandangannya untuk menatap Jingga.


“Aku cuma lagi capek, Kak.” Ucap Jingga sembari menepis tangan Biru yang nyaris menyentuh wajahnya.


“Jingga.” Biru menatap Jingga protes. Dia tahu Jingga masih merajuk.


“Aku turun dulu. Makasih hadiahnya.” Pamit Jingga tak mengindahkan, serta tak berminat untuk melihat dulu apa isi di dalam kotak perhiasan yang Biru berikan.


“Ada yang ketinggalan . . . .”


Suara Biru kembali mengurungkan Jingga yang hendak membuka pintu mobil. Gadis itu hanya menautkan kedua alisnya.


“Maaf, Kak, aku harus turun sekarang.” Jingga buru-buru memalingkan serta menjauhkan wajahnya saat mendapati Biru akan mendaratkan ciuman di pipinya.


“Ji . . .” Biru terkejut dengan reaksi Jingga. Namun gadis itu tak mengindahkannya dan buru-buru turun dari mobil.


Biru menatap kepergian Jingga dengan tatapan bingung. Jika biasanya Jingga akan berlalu ke dalam apartemennya setelah melihat mobil Biru pergi, maka kali ini tidak. Jingga bahkan tidak melihat ke arahnya lagi untuk sekedar melambaikan tangan seperti biasanya. Mendadak hatinya terasa kosong mendapati Jingga yang bersikap dingin padanya, Biru merasa diabaikan, dan dia tidak suka.


********


Jingga terlihat lebih segar setelah dia keluar dari kamar mandi, sudah dengan balutan piyama miliknya. Dia nyaris mendekati tempat tidur, namun langkahnya terhenti saat pandangannya menangkap kotak perhiasan warna hitam dengan hiasan pita merah dari Biru yang tadi dia letakkan di atas meja rias.


Jingga mendudukkan dirinya di kursi meja rias. Tangannya terulur mengambil, lalu membuka kotak perhiasan tersebut. Mata sayunya seketika berbinar saat melihat kalung emas putih dengan liontin bentuk stetoskop lucu disertai hiasan hati berwarna merah yang menghiasinya.

__ADS_1


“Walaupun sikapnya buruk, tapi seleranya nggak buruk juga.” Jingga mencibir sekaligus memuji Biru dalam hati. Sudut bibirnya sedikit tersungging menampilkan senyuman tipis, sangat tipis.


“Lucu dan cantik.” Gumam Jingga memuji dirinya sendiri saat dia berhasil memasangkan kalung di leher dan memperhatikannya dari pantulan cermin.


Sejurus kemudian, dia melepas dan menyimpan kembali kalung tersebut ke dalam kotak perhiasan. Jingga menyimpannya di dalam laci bersama dengan perhiasan miliknya yang lain.


Meski sangat ingin, tapi Jingga tidak berminat untuk memakai kalungnya sekarang. Mungkin suatu saat nanti, jika Biru sudah berubah kembali menjadi baik. Atau mungkin, Jingga tidak akan pernah memakainya.


********


Keesokan harinya, Jingga duduk terdiam di ruangannya. Matanya menyipit dengan kening berkerut, sesekali sebelah tangannya memijat keningnya yang terasa berdenyut nyeri.


“Hish, sialan.” Jingga mengumpat kasar dalam hati. Masih jelas dalam ingatanya saat beberapa menit yang lalu Bunda menelepon. Wanita paruh baya itu mengatakan kalau Jingga harus segera membereskan barang-barangnya dari apartemen yang dia tinggali saat ini.


Ternyata ucapan Biru yang memintanya pindah itu benar, Jingga kira waktu itu Biru sedang kesal saja, makannya cowok itu mengatakannya.


“Ayah sama Bunda udah lihat kondisi apartemennya. Biru bener-bener nyiapin itu buat kamu.”


Jingga teringat percakapannya dengan Bunda di telepon tadi. Ternyata Biru benar-benar licik karena melibatkan orang tuanya.


“Kamu cepat beresin barang-barang dan pindah ke sini, Ji. Lagian nggak ada salahnya tinggal di dekat Biru, biar kalian makin deket. Biru juga bilang biar dia gampang jagain sama ngawasin kamunya, gitu.” Tambah Bunda.


Jingga hanya bisa menahan geram seraya mengepalkan tangannya, Biru benar-benar telah memanfaatkan orang tuanya untuk keegoisannya.


“Kamu bilang aja kalau udah siap pindah, nanti bunda bantuin packing.”


Itulah percakapan terakhirnya dengan Bunda sebelum kemudian wanita paruh baya itu mematikan sambungan teleponnya.


Jingga hanya bisa menahan kekesalannya, karena setiap dia akan melayangkan protes, Bunda selalu menyelanya, seolah dia tidak boleh menolak.


Jingga menghembuskan napas berat, lalu memutar ke kanan dan ke kiri kursi yang didudukinya dengan gusar. Tangannya kemudian terulur untuk mengambil bola tenis miliknya yang dia letakkan di atas meja, lalu dia mulai memantulkan bola tenis tersebut dari atas ke bawah.


“BIRU DAMN . . . .” Dengan emosi, Jingga melempar bola tenis ke arah pintu. Tapi bertepatan dengan itu, seseroang masuk dan dengan sigap menangkap bola tenisnya.


“I got it.” Bola tenis mendarat tepat di telapak tangan orang itu.


“Dokter Albi?” Kening Jingga semakin berkerut dengan sorot mata penuh tanya mendapati cowok itu datang ke ruangannya.


Lantas tanpa dipersilahkan, Albi berjalan menghampiri dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Jingga.


Jingga memutar bola matanya jengah. Tidak Biru ataupun teman-temannya, mereka semua suka bersikap seenaknya seperti ini. Tidak ada yang normal memang.


“Wow, Bumblebee . . . .” Seketika mata Albi berbinar melihat action figure Bumblebee milik Jingga yang diletakkan di sebelah alat peraga jantungnya. Jingga hanya mendengus sebal.


“Ngapain bidan datang ke bagian bedah jantung?” Tanya Jingga, berhasil menghentikan tangan Albi yang hendak menyentuh action figurenya.


“OB-GYN. O-B-G-Y-N,” Protes Albi penuh penekanan. Jingga hanya mengedikkan bahunya tak peduli, membuat cowok itu mendengus sebal.


“Aku butuh bantuan kamu.” Ucap Albi kemudian, mengutarakan niatnya datang menemui Jingga. Gadis itu tak langsung menyahuti, membiarkan Albi untuk melanjutkan penuturannya.


“Ada ibu hamil dengan gangguan jantung bawaan. Kondisinya sangat parah, jadi aku butuh bantuan kamu untuk melakukan pemeriksaan intensif sama dia. Terus habis itu, aku dan kamu bisa merencanakan cara kelahiran terbaik. Ayo kita bekerja sama.” Jelas Albi dengan sorot mata penuh harap.


Jingga terdiam sebentar untuk berpikir, kedua alisnya saling bertautan. “Ibu itu harusnya udah punya dokter jantung sebelumnya, kan?”


“Nah itu. Katanya dia baru pindah dari Yogyakarta ke sini. Dia sengaja pindah dan milih rumah sakit ini karena optimis bisa nanganin bayi dan ibunya.” Jelas Albi. Jingga hanya mengangguk paham.


“Tapi kenapa harus aku? Dokter Nathan lebih senior.” Tanya Jingga kemudian, berusaha menyarankan dokter lain.


Albi mendengus, teringat bagaimana menyebalkannya Dokter Nathan. “Nggak, ahh, males, dia nggak santai orangnya. Lagian aku percaya sama kamu. Recommended dari John Hopkins, dong, ayolah, kemungkinannya 50:50. Aku harap kita bisa bekerja sama untuk menyelamatkan keduanya.” Rengeknya kemudian.


“Yes.” Albi berseru senang. “Oke, kalau gitu nanti aku akan minta pasien buat nemuin kamu setelah jam makan siang. Kamu nggak terlalu sibuk, kan?”


Jingga mendengus, bagaimana cowok itu memutuskannya tanpa berdiskusi dulu?


“Nggak terlalu kayaknya.” Jawab Jingga ragu.


“Oke, bagus. Terus nanti habis itu, kita ketemu di ruang rapat jam empat sore.” Albi kembali membuat keputusan sendiri, padahal beberapa menit yang lalu cowok itu baru saja mengatakan untuk bekerja sama.


“Jam lima.” Sambar Jingga cepat, mengingat dia harus melakukan kunjungan pasien.


“Ohh, oke.” Albi mengangguk tanda setuju diiringi cengiran lebar, hingga memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi.


“Ya udah, kalau gitu sana pergi.” Usir Jingga terang-terangan. Albi mendengus kesal mendengarnya.


“Oke, tapi aku boleh ambil ini, kan?” Albi menunjuk yoghurt strawberry yang ada di atas meja Jingga.


Gadis itu mengangguk, lalu berucap malas. “Ambil aja.”


“Ini juga . . . .” Tangan Albi menunjuk coklat m&m.


“Ambil semua dan pergi.” SahutJingga kesal. Sudah maksa meminta bantuan, malak pula ujung-ujungnya.


“Thank you.” Ucap Albi senang. “Ohh, iya. Kamu lebih manis dari ini.” Dia mengedipkan sebelah mata sambil mengacungkan coklat dan yogurt di tangannya, lalu cowok itu melenggang pergi dari ruangan Jingga. Gadis itu hanya bergidik geli melihatnya.


********


Jam makan siang tiba, kebetulan sekali pekerjaannya selesai bertepatan dengan itu. Dengan langkah gontai, Jingga keluar dari ruang UGD. Tapi dia dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba menarik tangan dan menyeret tubuhnya secara paksa, namun tak sampai menyakiti pergelangan tangannya.


“Langit . . . .” Jingga terkesiap menyadari bahwa orang tersebut adalah Langit.


“Kita harus bicara, Ji.” Ucap Langit kemudian.


“Ya udah, tapi lepasin aku dulu.” Jingga berhenti melangkah. Langit menghembuskan napasnya kasar.


“Okay . . . .” Langit mengalah dan melepaskan tangan Jingga.


“Ke taman samping.” Langit meminta gadis itu untuk mengikutinya. Jingga menurut dan mengekori Langit.


Sesampainya di sana, mereka mengambil tempat duduk yang sedikit jauh dari keramaian orang-orang.


“Ada apa?” Tanya Jingga lagsung setelah berhasil mendudukkan dirinya di kursi taman.


“Kenapa kamu menghindari aku?” Langit tak mengindahkan pertanyaan Jingga.


“Enggak.” Elak Jingga berusaha santai.


“Ji, aku udah bilang untuk jangan terbebani sama perasaan aku.” Ujar Langit mengingatkan kembali.


“Jangan pernah mengubah apapun yang kita miliki, tolong . . . .” Pinta Langit lirih. Dia tak ingin kehilangan sahabatnya.


“Biarkan perasaan aku itu jadi urusan aku, Ji. Kamu nggak usah mikirin itu.”


Jingga masih bungkam, kini dia menatap Langit dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


“Aku nggak tahu gimana harus menghadapi kamu, Lang. Aku bener-bener nggak enak sama kamu.” Tutur Jingga jujur.


“Kamu cukup untuk bersikap seperti biasa aja. Kalau bisa, lupain apa yang aku bilang waktu itu.” Langit tampak memelas.


“Nggak bisa kayak gitu, Lang.” Jingga berkelit.


“Tolong jangan menghindar lagi, itu membuat aku tambah sedih . . . .” Ucap Langit, sorot matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.


Jingga kembali terdiam, pandangannya terkunci dengan mata Langit yang sendu.


“Atau kamu mau kita nggak temenan lagi?” Tanya Langit kemudian dengan raut wajah kecewa.


“Enggak, Lang. Aku minta maaf.” Jingga dengan cepat berhambur memeluk Langit. Tidak, Langit adalah satu-satunya teman baik yang dia miliki, dia tidak mau dan tidak boleh kehilangannya.


“Aku cuma bingung gimana harus menghadapi kamu. Selama ini kamu udah baik banget sama aku, tapi tanpa sengaja aku udah jahat dan nyakitin perasaan kamu.” Jingga masih saja menyalahkan dirinya.


“Kalau gitu tetap jadi teman baik aku.” Langit membalas pelukan gadis itu.


“Apa masih bisa?” Tanya Jingga seraya mendongakkan kepala untuk mempertemukan pandangannya dengan Langit.


Langit menangguk. “Anggap nggak pernah terjadi apa-apa, jangan menghindari aku lagi, tetap cerewet dan nyebelin kayak biasa. Jangan jadi pendiam, itu nggak cocok buat kamu. Kamu jelek kalau diem.”


“Ish, ngeselin.” Dengus Jingga karena Langit malah meledeknya, dia lantas mendorong keras tubuh Langit agar menjauh darinya.


Langit tersenyum, Jingganya sudah kembali.


“Kalau gini, kan, normal.” Ucap Langit sembari mencubit gemas sebelah pipi Jingga, hingga membuat gadis itu merengek sakit.


“Jadi sebelumnya aku nggak normal, gitu?” Sahut Jingga mengusap-usap pipinya yang panas.


“Emang idiot.” Jawab Langit santai sambil tersenyum meledek.


“LANGIT.” Jingga tak tahan untuk tidak menjambak rambut Langit dengan gemas, hingga membuat rambut cowok itu berantakan.


“Haha, ampun, Ji.” Langit tertawa geli sembari berusaha melepaskan tangan Jingga dari kepalanya.


“Rasain.” Jingga mengacak-acak rambut Langit gemas, sebelum kemudian dia menarik tangannya.


“Tuhh, berantakan rambut aku.” Protes Langit saat dia berkaca pada kamera ponselnya.


“Sini, aku bantuin beresin.” Langit sedikit mencondongkan kepalanya.


“JINGGA.” Langit dibuat kesal karena Jingga malah membuatnya lebih berantakan.


“Haha, kamu jadi kayak orang kesetrum, Lang.” Jingga tergelak geli. Langit mendengus kesal. Tapi dalam hati dia merasa senang karena Jingga sudah kembali.


Sehari saja Jingga menghindari dan mendiamkannya, rasanya sangat sulit, apalagi harus sampai kehilangannya. Langit tidak sanggup.


********


Sore hari beringsut malam, Jingga baru keluar dari ruang rapat. Rapat tersebut berjalan lancar, ternyata Albi sangat berbeda saat dia sedang bekerja. Cowok itu benar-benar serius, tidak banyak tingkah seperti saat Jingga sedang bersamanya di luar pekerjaan.


Jingga berjalan menuju ruangannya, berjalan sedikit melompat-lompat lucu seperti kelinci. Kebetulan sekali koridor sedikit sepi.


Gadis itu mengulum senyum tipis, merasa beban di hatinya sedikit terangkat. Langit sudah berbaik hati karena tidak menuntut Jingga untuk membalas perasaannya, Jingga tidak akan membiarkan persahabatannya rusak karena perasaan tidak enak. Maka untuk membalas kebaikan hati Langit, Jingga hanya perlu tetap untuk menjadi sahabat terbaik baginya.


Baru saja Jingga akan menyentuh handle pintu, seseorang tiba-tiba mencengkram pergelangan tangannya erat dan menariknya dengan kasar. Dalam hati Jingga menggerutu, karena orang-orang sudah mengejutkannya hari ini.


“Kak–” Jingga berusaha melepaskan dirinya dari Biru yang kini sudah berhasil membawanya sampai ke atap rumah sakit.


“Kamu apa-apaan, sih? Lepas, Kak!” Jingga meronta. Sepertinya Biru menariknya dengan seluruh tenaga, hingga Jingga terus mengerang kesakitan.


Seketika itu juga, Biru menghempas kasar tangan Jingga dari genggaman tangannya. Gadis itu langsung mengelus pergelangan tangannya yang kini terdapat bekas jari-jari karena Biru terlalu kuat mencengkramnya, hingga aliran darah di sana tertahan.


“Kenapa, sih, Kak?” Jingga mendongakkan kepala, menatap Biru yang kini sedang menatapnya marah. Jingga bingung, sebenarnya apa yang sudah membuat cowok itu tiba-tiba bersikap kasar seperti ini?


“Bagus, ya, peluk-peluk cowok lain kayak gitu.” Ucap Biru dengan emosi tertahan. Raut wajahnya menahan amarah seolah siap untuk diledakkan. Jingga jadi sedikit ngeri melihatnya, tapi dia berusaha untuk tetap bersikap tenang.


“A-aku nggak ngerti.” Jingga memundurkan langkahnya hingga membentur tembok pembatas, karena Biiru terus bergerak mendekatkan tubuhnya.


“Kamu main peluk-peluk Langit di depan umum. Apa itu pantas untuk seseorang yang udah punya calon suami?” Terang Biru yang kini emosinya mulai meledak.


Jingga mengerjap. Sekarang dia mengerti, mungkin Biru melihatnya bersama Langit tadi.


“Kamu kayaknya salah paham.” Jingga mencoba membela diri, berusaha untuk menjelaskannya, tapi seperti biasa Biru selalu ingin menang sendiri.


“Aku nggak salah paham. Aku lihat dan denger sendiri kalau Langit suka sama kamu, dan kamu juga tahu itu.” Ujar Biru. “Dan kayaknya kamu seneng banget dengan kenyataan itu.” Lanjutnya terdengar menusuk. Jingga menggelengkan kepalanya, itu tidak benar.


“Kayaknya kamu nggak melihat dan mendengar itu dengan baik?” Tanya Jingga, menatap Biru tak kalah tajam.


Biru tersenyum sarkas. “Ohh, atau mungkin kamu selalu kayak gini, ya? Seneng banget jadi pusat perhatian banyak cowok?”


“Apa kamu manfaatin wajah cantik ini untuk menarik perhatian mereka?” Biru meraih dagu Jingga dengan satu telunjuknya. “Kalau gitu kamu berhasil. Kamu udah berhasil jadi pusat perhatian semua cowok di rumah sakit ini, Ji, termasuk Langit dan teman-teman aku.”


Demi apapun, ingin sekali Jingga menampar cowok ini sekarang juga. Biru membuatnya terdengar seperti perempuan rendahan.


“Aku nggak kayak git –”


“Dari dulu aku nggak pernah percaya sama cewek cantik kayak kamu, pick me.” Biru berdecak sinis, lalu menyentak dagu Jingga dengan telunjuknya.


DEG . . . .


Jingga merasa seolah jantungnya ditusuk belati secara perlahan. Kali ini Biru telah menyakiti hatinya melampaui batas.


Tubuh Jingga gemetar menahan emosi, tatapannya marah tanpa kata-kata.


Seharusnya dulu Jingga tidak mencoba memberi cowok itu kesempatan. Jingga seharusnya sadar kalau dari awal Biru hanya membutuhkannya untuk membantu mengembalikan ingatannya yang hilang dan menjadi piala kebanggaannya.


Bodoh saja Jingga yang malah mengharapkan dan berpikir, bahkan sangat percaya diri jika Biru akan kembali padanya.


Jingga tersenyum miris. Memang Tuuhan-lah sebaik-baiknya tempat berharap. Manusia satu ini benar-benar sudah menghancurkan hati Jingga sehancur-hancurnya.


“Kamu bakalan nyesel udah ngomong kayak gitu.” Jingga dengan dada bergemuruh hebat mendorong tubuh Biru dengan seluruh emosi dan rasa sakit yang menjalar di hatinya. Dia lalu mendekati Biru dan melayangkan tangannya.


PLAAAK . . . .


Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi Biru hingga cowok itu terhuyung ke belakang. Namun, Jingga dibuat terbengong-bengong dengan itu. Tangannya masih melayang di udara, belum sempat mengenai pipi Biru.


Jingga menoleh ke arah orang yang telah menggantikannya menampar Biru.


“Langit.” Mata Jingga mengerjap. Kenapa dia ada disini? Kenapa jadi begini? Jingga ingin menampar Biru dengan tangannya sendiri sampai babak belur. Langit mengacaukannya.


********

__ADS_1


To be continued . . . .


__ADS_2