Still In Love

Still In Love
EP. 76. Married by Accident


__ADS_3

********


Pukul tujuh malam, Jingga sudah sampai di rumah. Dia segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah menempuh perjalanan sekitar hampir dua jam di pesawat.


Setelah selesai membersihkan diri dan siap dengan piyama motif monyet berwarna kuning terangnya, Jingga keluar dari kamar, dan turun menuju ruang keluarga dengan membawa serta oleh-oleh yang dia beli tadi untuk orang rumah. Terutama untuk kakak iparnya yang sedang mengidam itu.


Menginjak tujuh bulan usia kehamilannya, kini kakak dan kakak iparnya tinggal di rumah Ayah agar Bunda bisa merawat dan mengawasi menantunya itu dengan baik. Terlebih agar Senja tidak kerepotan karena juga harus mengurus Biel.


Sesampainya di ruang keluarga, Jingga mendapati orang tua, kakak, dan keponakannya sudah berkumpul di sana sedang berbincang ringan sambil makan buah.


“Hey, boy. Lagi ngapain?” Jingga menghujani ciuman di pipi gembul keponakannya yang tengah bermain lego begitu sampai di ruang keluarga.


“Aunty. . . .” Rengek anak itu protes saat Jingga dengan gemas menggigit pipinya.


“Ji, kamu, tuh yaa, main gigit aja.” Tegur Bintang. Jingga hanya nyengir lebar untuk kemudian mendekati Senja, membungkukkan tubuh, lalu mencium perut buncit kakak iparnya.


“Girl, cepet keluar, ya, biar bisa Aunty dandanin.” Ucap Jingga sambil mengelus perut buncit Senja. Dia tersenyum, merasa gemas melihat perut buncit orang hamil karena terlihat seperti balon.


“Dia cowok, Ji.” Sahut Senja malas. Sudah berulang kali dia mengatakan pada Jingga kalau anak yang sedang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki. Tapi, gadis itu keukeuh berharap keponaknnya perempuan.


“Ya nggak apa-apa. Siapa tahu nanti yang keluar cewek, hasil USG, kan, kadang nggak sesuai prediksi.” Seru Jingga. Semua orang hanya geleng-geleng kepala mendengarnya.


“Terserah kamu, deh, Ji.” Senja kembali berujar malas.


“Aku masih ngarep dapat keponakan cewek.” Gumamnya kemudian dan beranjak untuk duduk di dekat Bunda.


“Bikin aja sendiri sana, maksa banget.” Jingga menangkis dengan cepat bantal sofa yang dilayangkan Bintang ke arahnya.


“Mau bikin gimana? Kemarin aja disuruh nikah malah kabur.” Sindir Ayah, membuat Jingga mendengus. Kenapa harus dibahas lagi, coba?


“Apaan, sih, Ayah, nih? Bukan kabur, kemarin-kemarin aku cuma belum siap.” Dan ucapannya ini sontak menuai cibiran semua orang. Mereka tak percaya dengan apa yang Jingga katakan.


“Emang sekarang udah siap kalo Bunda suruh kamu nikah lagi?” Cibir Bunda.


“Ohh siap, doong.” Sahut Jingga yakin. “Lihat.” Lalu bersemangat memamerkan cincin di jari manisnya yang tadi pagi Biru sematkan.


Namun sepertinya semua orang tak terlalu tertarik, apalagi paham. Padahal, Jingga sedang memberi mereka kode untuk memberitahu bahwa dia sudah dilamar Biru.


“Kamu beli cincin baru, Ji? Waaah, cantik-cantik.” Komentar Bunda seraya meraih tangan Jingga dan mengamati cincin emas putih dengan satu mata berlian kecil di tengahnya sebagai pemanis itu.


“Ihh, Bunda. Ini–, Kak Biru yang beliin.” Ucap Jingga dengan suara mencicit di akhir kalimat. Mendadak dia jadi malu-malu mengatakan itu hingga rona merah muncul di kedua pipinya.


Seketika apa yang diucapkannya barusan kembali menarik perhatian semua orang. Bahkan Ayah meletakkan kembali potongan buah yang hendak dia makan ke dalam piringnya.


“Biru ngelamar kamu atau cuma sekedar ngasih cincin?” Ayah ingin memastikan, tapi nada bicaranya sangat santai dengan tatapan tak percaya, mengingat anak gadisnya ini terkadang suka berkata usil.


“Ya ngelamar aku, lah, Yah. Dia bilang mau nikahin aku, kok.” Jingga menjawab tegas dengan senyum yang tertarik di kedua sudut bibirnya.


“Kamu nggak lagi becandain kami, kan, Ji?” Tanya Bunda tak percaya.


Jingga mendengus, lalu melemparkan punggungnya ke sandaran sofa. “Serius, Bun.”


“Ya udah, terus kamu gimana? Mau nikah sama dia sekarang?” Ayah kembali memastikan.


“Hmm.” Jingga mengangguk yakin, menatap Ayah dan Bunda bergantian “Sekarang aku mau nikah sama Kak Biru. Kalian izinin aku, kan?”


“Ini–” Bunda menggantungkan kalimatnya dengan tatapan masih tak percaya. “Kamu beneran, kan, Ji?”


Jingga memutar bola matanya malas, lalu kembali menegakkan tubuhnya. “Ya ampun, Bun, aku harus ulang berapa kali? Serius aku mau nikah sama dia. Dua rius malah.”


Meski masih ragu. Tapi ada perasaan haru yang membuncah di dada kedua orang tua Jingga. Tak disangka, putrinya mengambil keputusan sendiri untuk menikah, tanpa ada paksaan. Dan poin pentingnya adalah, wajah anak mereka yang terlihat bahagia saat mengatakan itu.


Berbeda sekali saat dulu mereka meminta Jingga untuk menikah dengan Biru. Anak gadis itu selalu tampak murung dan tidak yakin.


“Ini. . . , kamu beneran, kan, Ji?” Tanya Bintang ragu, sama seperti Bunda.


“Beneran-beneran-beneran. Ihh, kesel banget, kalian nggak percayaan.” Sahut Jingga bersungut-sungut.


Bintang mendengus, lalu mencibir penuh sindiran. “Terus, apa gunanya kemarin kabur dan batalin perjodohan, kalo ujung-ujungnya sama Biru juga? Minimal ganti, lah, calon suaminya.”


“Ya udah, sih. Emang kenapa? Terserah aku, dong, mau nikah sama siapa aja.” Jingga mendelik sewot.


“Ihh, sewot. Biasa aja, kali. Awas aja kabur lagi habis ini. Malu-maluin, tahu, nggak?” Balas Bintang tak mau kalah.


“Huush, udah deh, kalian jangan mulai.” Tegur Bunda agar adu mulut kakak beradik itu tidak memanjang. Kini Bintang dan Jingga hanya bisa saling melempar tatapan tajam.


“Apa?” Teriak Jingga kesal melihat cara Bintang yang menatapnya penuh ledekan.


“Ihh, emang Kakak ngapain?”


“Shuut. Bintang-Bintang, udah jangan ngeledekin adik kamu terus.” Tegur Bunda lagi. Ayah dan Senja yang melihat itu hanya tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala.


“Kak Bintang, nih, bikin aku bete aja.” Rengek Jingga mendelik sebal pada Bintang. Dia lalu bergelayut manja di lengan Bunda.


“Udah Jingga, malu sama Biel.” Kali ini Ayah yang menegur, membuat Jingga terdiam dengan bibir mengerucut lucu. Terlihat Bintang menjulurkan lidah padanya.


“Terus kapan Biru mau ke sini buat minta restu sama Ayah-Bunda?” Tanya Ayah mengalihkan pembicaraan.


“Lho, Bukannya kalian udah ngasih restu, ya, sebelumnya?”


“Ayah sama Bunda tetap mau lihat keseriusan dia. Dulu kami ngasih dia restu gitu aja karena kalian dijodohhin, sekarang udah beda cerita, Ji.” Timpal Bunda yang diangguki setuju oleh Ayah.


“Biru serius ngajak kamu nikah, kan, Ji?” Tanya Ayah untuk memastikan kembali.


“Serius, Yah. Tadi aja dia bilang mau ke rumah kita bawa Om Rendi sama Tante Lisa besok lusa.” Jawab Jingga kemudian, mengingat tadi saat di pesawat Biru mengatakan akan datang ke rumah membawa orang tuanya untuk melamarnya secara resmi.


“Tapi Lisa atau Mas Rendi belum ada ngehubungin kita, ya, Yah?” Tanya Bunda.


“Ya belum, kali, Bun. Besok-besok atau bentar lagi juga pasti telepon kalian.”


Ayah mengangguk-angguk percaya. “Tapi awas, ya, kalau kamu sampai berubah pikiran lagi. Ayah coret kamu dari kartu keluarga.”


“Iya, tuh. Awas aja sampe bikin malu Ayah sama Bunda untuk yang kedua kali.” Timpal Bintang, membuat Senja menyikutnya karena suaminya itu tak henti-hentinya membuka perdebatan dengan sang adik. Jingga sendiri hanya melotot galak.


“Kayaknya aku harus hamil dulu, deh, biar kalian percaya.” Sungut Jingga asal.


“Jingga apaan, sih? Nggak suka, ya, Bunda kamu ngomong kayak gitu.”


“Habisnya kalian nggak percayaan banget sama aku.”


“Iya-iya, Bunda percaya. Kami percaya.” Sahut Bunda seraya menyelipkan anak rambut Jingga ke belakang telinga.


********


Sementara itu Biru setelah kepulangannya dari Bali . . . .


Dia turun dari mobil dan segera mengambil langkah besar untuk masuk ke dalam rumah. Biru tak sabar untuk bertemu dengan orang tuanya dan mengatakan keinginannya untuk segera menikahi Jingga.

__ADS_1


“Reno, Papa lo di mana?” Biru yang tak biasanya ramah pada kucing itu, kini dengan senang hati langsung memangku Reno begitu si kucing menyambut kedatangannya saat dia membuka pintu rumah.


“Miaw . . .” Reno menyahuti, namun entah apa, Biru tak mengerti bahasa kucing.


“Yeee malah ngeong-ngeong, gue tanya Papa lo di mana?” Dengusnya sambil berjalan menuju kamar orang tuanya karena dia tak mendapati mereka di ruang keluarga ataupun ruang makan.


“Ren, lo tahu, nggak? Sebentar lagi gue mau nikah sama Jingga.” Dan kucing itu hanya menatap Biru seolah benar-benar sedang mendengarkan.


“Siapa yang mau nikah?” Biru tersentak dan menghentikan gerakkan tangannya yang hendak membuka pintu kamar orang tuanya, tatkala melihat mereka keluar dari ruang kerja.


“Aku lah, Pa. Masa si Reno.” Sahut Biru mantap.


“Dihh, emang udah punya calon istri?” Ledek Mama mengerlingkan mata penuh cibiran.


“Punya, lah.” Jawab Biru sembari menyerahkan Reno pada Papa.


Papa dan Mama yang mendengar itu hanya mencebikkan bibirnya. “Nggak percaya Mama.”


“Ish, apaan, sih, Ma? Serius aku.” Dengus Biru merengut. “Ohh, iya. Aku udah bilang sama Jingga, kalau besok lusa aku mau ke rumahnya sama kalian.”


“Aku minta tolong sama Mama-Papa buat minta Jingga jadi istri aku ke orang tuanya.” Ujar Biru tanpa memberi kesempatan untuk mereka berbicara.


“Dan tolong juga restuin aku sama Jingga. Atau kalian nggak akan pernah lihat aku nikah sama sekali.”


Mama dan Papa terbengong-bengong mendengar Biru yang terus nyerocos. Anak mereka ini sudah kerasukan hanoman di Bali atau apa?


Bagaimana tidak berpikir seperti itu? Biru datang-datang langsung meminta mereka untuk melamar anak orang dan mengancam.


“Karena aku nggak mau nikah kalau nggak sama Jingga.” Imbuhnya kemudian dan berlalu pergi meninggalkan orang tuanya yang masih diliputi kebingungan.


“Ohh, iya. Jangan sampai lupa. Besok lusa, jam tujuh malam kita ke rumah Om Rendra.” Biru sejenak berbalik untuk mengingatkan kembali orang tuanya.


“Tuh anak ngomong apa, sih, Ma?” Tanya Papa dengan tatapan mata lurus ke arah kepergian Biru tadi.


“Mama juga nggak tahu. Apa katanya tadi? Dia minta kita buat ngelamar Jingga?” Mama balik bertanya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.


Keduanya kembali terbengong-bengong. Baik Mama maupun Papa, mereka tidak tahu harus mengekspresikannya seperti apa. Biru menyampaikannya dengan tergesa-gesa, membuat mereka harus berpikir ekstra untuk mencerna apa yang dikatakannya tadi.


“Mama seneng, nggak, denger ini?” Tanya Papa, masih dalam posisi di mana mereka berdiri tadi.


“Ya Mama nggak tahu. Mama masih bingung. Hiish, anak itu kenapa nggak jelas banget.” Sahut Mama menggerutu.


“Anak Mama, tuh, aneh banget. Kesurupan hanoman, kali.” Timpal Papa sambil menimang pelan Reno di pangkuannya.


“Ihh, anak Papa juga, kali. Udah, ahh, Mama nggak mau seneng dulu. Mama mau tanya lagi buat mastiin.” Ujar Mama dan beranjak untuk menyusul Biru ke kamarnya.


********


“Bi, kamu nggak hamilin Jingga, kan?”


Biru yang baru saja merebahkan dirinya sebentar di tempat tidur untuk melepas penat, seketika bangkit kembali begitu dicecar pertanyaan seperti itu.


“Maksud Mama apa?” Tanya Biru tak terima dengan kening yang berkerut dalam.


“Ya kali aja gitu. Habisnya kamu mendadak banget minta kami buat ngelamar Jingga. Biasanya, kan, kalau dadakan kayak gini yaa ada kemungkinan kalian kecelakaan.” Terang Mama seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang, bersisian dengan anaknya.


“Ya ampuun. Mama kira aku cowok apaan?” Biru mendelik sebal.


Mama menatap Biru penuh cibiran. “Bisma teman kamu aja yang kelihatan kayak anak baik, tahunya nabung duluan. Yakin kamu nggak ikutan MBA juga?”


Biru mendengus, kemudian berujar. “Aku, tuh, emang mau cepet-cepet nikah aja sama Jingga. Mumpung Jingganya mau juga. Lagian umur aku sama dia udah cukup buat nikah.”


Biru mengambil napasnya dalam-dalam, guna mencari kesabaran dalam menghadapi ibunya yang terus mencecarnya ini.


“Apa wajah aku kayak tukang ngancam?”


“Dih, kan, emang kenyataannya kayak gitu.”


“Terserah Mama aja, deh, mau mikir gimana. Yang jelas, aku udah diskuiin ini sama Jingga. Aku serius mau nikahin dia.” Tegas Biru, lalu kembali merebahkan diri, malas meladeni Mama yang terus meledeknya.


Mama mendengus saat melihat Biru kembali merebahkan diri dan memunggungunginya di saat dia belum selesai berbicara. Dasar anak tidak sopan.


“Bi, Mama belum selesai ngomo–” Mama mengguncang bahu Biru agar anaknya itu bangun. Namun, gerakannya terhenti saat matanya menangkap memar berwarna kemerahan di leher Biru.


Lantas diturunkannya sedikit jacket yang masih melekat di tubuh anak itu agar dia bisa melihat dengan jelas.


“Bi, kamu di Bali ngapain aja sama Jingga?” Tanya Mama penuh selidik. Namun, Biru masih enggan untuk bangun atau sekedar berbalik menghadapnya.


“Kondangan sama main, udah itu aja.” Jawab Biru malas tanpa membuka matanya yang pura-pura tidur itu.


“Di ranjang?”


“Mama apaan sih? Ya di pantai, lah.” Biru langsung bangkit dari tidurnya karena kesal.


“Terus ini apa?” Cibir Mama seraya menyentuh memar kemerahan leher Biru.


“Apa, Ma?” Tanya Biru tak mengerti.


“Ini hickey, kan?” Tanya Mama memperjelas. Seketika mata Biru membulat, dengan tangan refleks memegangi lehernya untuk menutupi tanda itu.


“Apaan, sih, Ma?” Briu mengusap-usap lehernya dan berucap gugup. “Ini–, aku juga nggak tahu kenapa.”


Mama memicingkan mata dengan bibir mencebik. “Kamu kira Mama bodoh?”


“Ish, udah, ahh, aku mau mandi.” Dengus Biru menghindari pembicaraan seraya beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


“Bi, itu gede banget, lho.” Teriak Mama belum puas meledek Biru. “Kalau kamu butuh bantuan Mama buat nutupin itu bilang aja.”


Biru sendiri tak mengindahkan dan mempercepat langkahnya untuk masuk ke kamar mandi.


“Haah, kayaknya mereka emang harus cepet-cepet nikah. Dasar anak muda zaman sekarang.” Mama bergumam sambil geleng-geleng kepala.


Beliau tahu, anaknya itu spertinya sudah tidak bisa menahan diri.


********


Akhirnya, Ayah dan Bunda bisa bernapas lega dan tersenyum penuh suka cita. Beberapa saat yang lalu orang tua Biru menghubungi dan benar mengatakan niat baik kepada mereka.


Ayah dan Bunda berharap kali ini rencana pernikahan anak bungsunya itu segera terlaksana dan secepatnya.


“Terus gimana?” Bunda bertanya dengan antusias saat dia dan sang suami masuk ke kamar Jingga untuk mengatakan bahwa orang tua Biru sudah menelepon mereka. “Biru ngelamar kamu gimana? Cerita, dong, sama Bunda. Romantis, nggak?”


“Harus banget, ya, aku ceritain? Yaa, gitu deh.” Jingga merasa kikuk, dia bingung harus menceritakannya bagaimana. Lagipula hal itu tidak mungkin diceritakan, mengingat Biru melamarnya dengan cara yang panas.


“Gitu gimana?” Bunda terus mendesak, menatap Jingga yang duduk bersila di atas tempat tidurnya. Pun dengan Ayah yang ikut penasaran menunggu jawaban Jingga.


“Yaa, gitu aja, lah, cara ngelamar anak muda template.” Jawab Jingga malas. Bunda mendengus karena tak puas dengan jawabannya.

__ADS_1


“Tck, ya udah kalau kamu nggak mau cerita.” Decak Bunda tak ingin memaksa. Tangannya lantas terulur menyelipkan anak rambut Jingga ke belakang telinga, menatap dalam-dalam mata Jingga. “Pokoknya Bunda seneng akhirnya kamu siap untuk menikah. Bunda selalu mendukung apa yang menjadi keputusan kamu.”


“Hmm, makasih, Bun.” Jingga mengangguk sambil tersenyum tipis.


“Dan kamu harus bahagia, oke?” Tambah Bunda mengelus lembut sebelah pipi Jingga.


“Bunda apaan, sih? Kok jadi mellow gini.” Lalu dengan manja Jingga memeluk Bunda.


“Duh-duh, nih anak manjanya nggak ilang-ilaang.” Ledek Bunda sembari menepuk-nepuk punggung Jingga gemas.


“Makasih, ya, selalu dukung aku.” Ujar Jingga di sela-sela pelukannya.


“Ehem. Sama Ayah nggak makasih, nih?” Sindir Ayah yang sejak tadi diam melihat keintiman akan bungsu dan istrinya itu.


“Makasih juga sama Ayah. Maaf udah nyusahin dan bikin malu Ayah sebelumnya.” Jingga beralih memeluk Ayah.


“Anggap yang sudah terjadi sebagai pendewasaan.” Jingga menganguk di balik pelukan Ayah. “Kamu seneng, kan, mau nikah sama Biru?” Ayah memastikan, gadis itu kembali mengangguk.


Ayah tersenyum dengan hati bungah, karena putri bungsunya itu akhirnya menemukan kebahagiaan dari orang yang dicintainya.


********


Pagi harinya, Biru dan Jingga sudah sampai di rumah sakit. Kini mereka masih berada di dalam mobil Biru yang baru saja terparkir di parkiran basement rumah sakit.


“Ji. . . .” Panggil Biru.


“Hum?” Sahut Jingga seraya menoleh ke arahnya.


“Aku mau kamu pake ini” Biru mengeluarkan kotak perhiasan berisi kalung hadiah ulang tahun yang sempat Jingga kembalikan waktu itu.


“Ini, kan–”


“Iya. Ini hadiah ulang tahun dari aku yang kamu balikin.” Sambar Biru memotong ucapan Jingga.


Sementara gadis itu terdiam dengan senyum dipaksakan, menatap kosong kalung di tangan Biru, teringat hari ulang tahunnya yang begitu menyakitkan di tahun ini.


“Kamu tahu, nggak? Walaupun dulu aku belum sadar sama perasaan aku, tapi aku beliinnya tulus, aku pilih ini sendiri.” Terang Biru kemudian. “Tapi kamu malah ngembaliin dan nggak ngasih aku kesempatan lihat kamu pake ini.”


“Kamu simpan lagi aja. Aku nggak suka.” Jingga mendorong pelan tangan Biru yang menyodorkan kalung padanya, lalu memalingkan pandangan dengan air muka berubah murung.


Tidak. Bukannya Jingga tidak menyukai kalung itu. Hanya saja kenangan buruk yang membersamai kalung itu membuatnya memilih untuk tak mengenakannya.


Biru tersenyum miris. Hatinya kembali diremas kuat, sedih dengan alasan Jingga tidak mau menerima hadiah pemberiannya itu. “Ya udah, kalo kamu nggak suka yang ini, nanti aku beiin yang lai–”


Jingga menoleh panik dan dengan segera menyela. “Bukan gitu maksud aku. Tapi–”


“Aku ngerti.” Sambar Biru, lalu meraih satu tangan Jingga dan menyerahkan kalung itu ke telapak tangannya. “Tapi Jingga, kalungnya nggak bersalah.”


Jingga terdiam menatap ragu kalung cantik di telapak tangannya.


“Please. . . .” Biru mengedik pada kalung tersebut, tatapannya penuh harap. “Ya udah aku minta maaf.” Ucapnya kemudian karena Jingga masih terdiam.


“Ish, apaan, sih, minta maaf mulu? Oke aku pake.” Dengus Jingga menarik tangannya dan mulai memakaikan kalung itu di lehernya. Biru tersenyum senang. “Kebetulan aku nggak ada jadwal operasi hari ini, jadi aku bisa pake kalungnya seharian, puas?”


“Kayak nggak ikhlas gitu ngelakuinnya.”


“Ikhlas ini. Masa pake kalung mahal nggak ikhlas? Eh, kok susah?” Jingga menunduk, terus berusaha mengaitkan kalungnya, tapi tak berhasil.


“Makannya pelan-pelan. Sini. . . .” Komentar Biru seraya meraih kalung itu kembali dan memposisikan tubuh Jingga duduk memunggunginya untuk membantu dia memasang kalungnya.


“Aku sekarang malah nyesel ngembaliin ini. Harusnya dulu aku jual.” Kelakar Jingga, membuat cowok itu mendengus.


“Awas aja kalo berani. Aku cium kamu sepuluh kali.” Balas Biru seraya mengelus lembut tengkuk Jingga setelah kalung berhasil terpasang.


“Ya udah cium aja, aku nggak takut.” Sahut Jingga menantang seraya memutar kepala untuk mempertemukan pandangannya dengan Biru.


“Ihh, nantangin. Aku cium beneran tahu rasa kamu.”


“Ya udah cium aja, nih-nih. . . .” Jingga memajukan wajahnya pada Biru, cowok itu langsung menangkupnya.


“Aku nggak mau cium ini.” Ucap Biru. Keduanya berpandangan untuk beberapa saat hingga tercipta keheningan yang canggung.


“Ehem, udah, ahh, ayo turun.” Jingga berusaha melepaskan tangan Biru dari wajahnya.


“Jingga kamu udah mancing aku duluan.” Biru dengan cepat memutar bahu Jingga hingga gadis itu kembali memunggunginya.


“Kak. . .eungh.”


Tanpa persetujuan, Biru menempelkan bibirnya di tengkuk Jingga, hingga membuat tubuh gadis itu meremang.


Jingga mengigit bibir bawahnya saat Biru terus menyusuri tengkuknya, memberi gigitan dan hisapan kecil di sana. Hawa panas langsung menjalar di sekujur tubuh tatkala tangan kanan Biru merambat masuk ke dalam kemeja dan meremas dada kirinya.


“Udah.” Jingga sekuat tenaga membalikkan tubuhnya sebelum kegiatan mereka terus berlanjut dan menuntut lebih. Karena jujur, Jingga juga menyukai itu.


Biru dengan napas berat menatap sayu gadis di hadapannya.


“Kita akan melakukan lebih dari ini kalau nggak berhenti sekarang” Tutur Jingga seraya membelai lembut wajah Biru.


Membuang napas kasar, Biru lantas berhambur memeluk Jingga, menyerukkan wajahnya di perpotogan leher gadis itu, lalu berucap lirih. “Aku nggak bisa nahan ini lebih lama. Aku mau cepet-cepet nikah sama kamu.”


Jingga tersenyum sambil mengusap-usap punggung Biru. “Iya. Tapi sekarang kamu harus kerja dulu buat nyari modal nikah. Ayo turun.” Lalu mendorong tubuh cowok itu pelan hingga pelukan mereka terlepas.


Sejenak keduanya saling bertatapan dan menahan senyum, lalu terkekeh akan keheningan aneh yang terjadi.


“Cantik.” Ucap Biru setelah berhasil menjernihkan pikirannya. Matanya kini tertuju pada leher jenjang Jingga dengan kalung yang bertengger indah di sana.


“Aku atau kalungnya?” Tanya Jingga seraya membenahi kalung yang melingkar di lehernya.


“Kamunya, lah. Kalungnya beruntung karena yang punya cantik.” Sahut Biru tanpa melepaskan pandangannya dari Jingga.


“Mulut kamu tuh, manis banget, ya.” Cebik Jingga dengan senyum geli yang tersungging di salah satu sudut bibirnya.


“Emang manis. Kamu aja suka aku cium-cium.”


Jingga meringis dengan mata memicing. “Udah, deh, kamu jangan mulai lagi.”


Biru memejamkan mata sebentar, ikut meringis, sadar sudah salah ucap.


“Ayo turun.” Ajak Jingga dan hendak beranjak untuk turun. Namun, buru-buru Biru menarik lengannya yang nyaris membuka pintu mobil, hingga terpaksa membuatnya berbalik.


“Ada yang ketinggalan.” Dan satu kecupan singkat mendarat di bibir Jingga. Biru tersenyum penuh kemenangan.


“Curang, colongan.” Protes Jingga dengan wajah merengut lucu.


“Mulai sekarang biasain.” Dan satu kecupan lagi Biru daratkan, kali ini di ujung hidung gadis itu.


“Maunya.” Cebik Jingga sambil memukul pelan bibir Biru. Lantas dengan cepat dia membuka pintu mobil dan bergegas turun, meninggalkan Biru yang tersenyum geli menatapnya.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2