
********
Jingga terkejut dengan Biru yang tiba-tiba memeluknya. Ingin sekali dia mendorong tubuh cowok itu, namun seolah impulsnya tidak diterima oleh reseptor dengan baik, tangannya tetap tak bergerak sekeras apapun otaknya meminta untuk mendorong Biru agar segera menjauh dari tubuhnya.
“Kasih tahu, Ji, apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau maafin aku?” Lanjut Biru dengan air mata yang mulai mengalir dari sudut matanya.
“Dia nangis?” Gumam Jingga dalam hati saat merasakan baju di bagian pundaknya basah.
“Aku mungkin nggak bisa menghapus setiap kesalahan yang pernah aku lakukan. Tapi aku bisa memperbaikinya, Ji. So, tell me what to do?”
“Jangan minta maaf lagi.” Ucap Jingga kemudian sambil mendorong pelan tubuh Biru.
Merasakan itu Biru melonggarkan pelukannya, lalu sedikit menarik diri untuk mempertemukan pandangannya dengan Jingga.
“Aku akan maafin kamu. Jadi tolong berhenti untuk meminta maaf.” Meski Jingga mengucapkan itu dengan nada dingin, tapi sedikit rasa lega Biru rasakan di hatinya mendengar itu.
“Kalau gitu. . . .” Kedua tangan Biru merayap untuk meraih tangan Jingga dan menggenggamnya. “Apa kamu bisa ngasih aku kesempatan lagi?” Tanyanya penuh harap.
“Aku udah kehilangan kepercayaan sama kamu. Untuk itu aku nggak bisa, aku nggak mau sakit lagi.” Jawab Jingga dengan tatapan terluka.
Hati Biru berdenyut nyeri mendengar ucapan Jingga barusan. Bukan semata-mata karena ucapannya, tapi sadar begitu banyak luka yang sudah dia torehkan di hati Jingga, hingga gadis itu takut untuk mempercayainya lagi.
“Walaupun aku bilang akan maafin kamu, tapi bukan berarti hati aku baik-baik aja.” Tambah Jingga, terdengar nada kekecewaan dalam ucapannya.
Memaafkan dan melupakan kesalahan itu bisa jadi dua hal yang berbeda. Memberi maaf bisa dilakukan dalam detik yang sama. Tapi, Jingga butuh waktu untuk melupakan kesalahan Biru padanya.
Sejatinya memaafkan itu mudah, tapi juga meninggalkan sebuah luka. Ada luka yang ditorehkan, ada lubang dalam hati yang kemudian meninggalkan keresahan. Banyak hal yang terasa berbeda. Biru yang Jingga kenal bukan lagi orang yang sama. Biru telah melukainya, sulit untuk bersikap seperti dulu lagi padanya.
Karena setiap kali Jingga berusaha untuk melupakan kesalahan itu, maka semakin kuat pula ingatan akan luka yang pernah Biru torehkan pada hatinya. Keberadaan Biru di sekitarnya menjadi hal yang terasa begitu menyiksa.
“Aku mohon. Kasih aku kesempatan sekali lagi, aku janji akan memperbaiki semuanya.” Ratap Biru, air matanya berhamburan hingga wajahnya memerah.
“Jingga, aku mohon sama kamu, hum?”
Jingga membelalakkan matanya mendapati Biru yang tibia-tiba berlutut tanpa melepaskan genggaman tangannya.
“Kamu jangan kayak gini.” Jingga yang kelabakan menarik tangan Biru untuk membawanya berdiri, tapi cowok itu diam di tempat.
“Aku nggak bisa tanpa kamu di sisi aku. Tolong kembali sama aku, Jingga.” Biru memelas dengan mata berlinang-linang.
Sejenak Jingga terdiam dengan helaan napas berat, lalu ikut berjongkok dan meninju pelan pundak cowok itu.
“Kamu egois.” Ucap Jingga lemah. “Kamu selalu mikirin diri sendiri tanpa mau tahu perasaan aku. Jahat.”
Biru meraih tangan Jingga yang terus memukili pundaknya untuk kemudian kembali dia genggam.
“Aku akan bersikap egois selamanya untuk membuat kamu tetap ada di sisi aku.”
“Kamu orang paling jahat yang datang ke hidup aku.” Maki Jingga menatap Biru berang. “Aku harus apa? Aku emang masih cinta sama kamu, tapi hati aku sakit.”
Jinggang lantas melepaskan tangannya dari genggaman tangan Biru, lalu mulai menangis sambil menutupi wajahnya. Pertahan dirinya runtuh begitu saja.
Melihat Jingga menangis seperti itu membuat Biru semakin merasa bersalah dan terluka. Biru menggeleng pelan, lalu meraih kedua bahu gadis itu yang bergetar. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak membuat Jingga menangis lagi.
“Jangan nangis.” Direngkuhnya tubuh Jingga dengan erat, lantas diusap-usapnya lembut punggung gadis itu. “Aku tahu hati kamu sakit. Maka dari itu tolong izinin aku untuk bertanggung jawab atas apa yang udah aku lakuin, aku akan berusaha ngasih pengobatan terbaik untuk luka yang udah aku buat di hati kamu.”
“Tapi itu nggak akan mudah buat aku bisa percaya lagi sama kamu.”
Biru melepaskan pelukan itu, sedikit memangkas jarak, lalu menunduk mencari wajah Jingga. “Aku janji untuk melakukan yang terbaik, sebisa mungkin aku akan berusaha untuk membuat kamu percaya lagi sama aku.”
Jingga terdiam menatap bimbang Biru. “Aku nggak tahu.”
“Please, sekali lagi aja.”
“Ini yang terakhir.” Ucap Jingga ragu.
“Beneran?” Tanya Biru memastikan, matanya berbinar senang meski masih nampak basah.
“Aku nggak mau bilang itu untuk yang kedua kali.” Senyum Biru merekah di bibir keringnya mendengar penuturan Jingga.
“Aku nggak akan nyia-nyiainn kesempatan ini. I promise.” Sahut Biru senang dan kembali berhambur memeluk Jingga dengan erat. Hatinya terasa lebih lega, seolah duri yang menancap di sana lenyap seketika.
“I’m going to see it.” Jingga harap tidak mengecewakan, dia akan menantikan Biru membuktikan ucapannya.
“Makasih, Ji.” Ucap Biru penuh haru, semakin mengeratkan pelukan tanpa balasan itu, lalu wajahnya dia tenggelamkan di pundak Jingga, menghirup dalam-dalam aroma manis stroberi dari tubuh Jingga yang sangat dirindukannya.
“Kamu bikin aku sesak napas.” Protes Jingga yang lama kelamaan merasa Biru seperti sedang mencekiknya.
“Ehh, maaf.” Biru tersadar, lalu dengan segera melepaskan pelukannya.
Biru tersenyum menatap Jingga, lalu kedua tangannya terulur menghapus sisa air mata yang mulai mengering di wajah gadis itu.
“Udah selesai, kan?” Tanya Jingga kemudian sambil melepaskan tangan Biru dari wajhanya.
Kedua alis Biru bertaut bingung. “Hah?”
“Aku ada jadwal operasi.” Ucap Jingga yang mulai merasakan pegal di lututnya.
Biru terdiam bingung, sebenarnya dia ingin menghabiskan waktu bersama Jingga sebentar saja di sana. Tapi Biru sedikit canggung untuk memintanya.
“Aku duluan.” Pamit gadis itu tanpa menunggu persetujuan dan pergi begitu saja.
“Ohh. Oke.” Pada akhirnya, Biru hanya bisa melihat punggung Jingga yang perlahan hilang dari pandangannya.
********
Sore hari menjelang maghrib, Jingga terlihat masih masih anteng di bawah selimut masih dengan setelan kerjanya. Jingga merasakan tubuhnya sangat lelah setelah melakukan operasi hampir seharian.
Gadis itu baru terbangun saat Bunda membangunkannya secara paksa dengan mencipratkan air ke wajahnya.
“Ini anak gadis pulang kerja bukannya langsung mandi.” Omel Bunda saat melihat Jingga yang mulai menggeliat.
“Kasihan yang jadi suami kamu nanti, punya istri kok jorok gini.” Lanjut Bunda.
“Ya udah, aku tinggal nggak usah nikah aja.” Sahut Jingga sekenanya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Kini gadis itu sudah terduduk, namun matanya masih terpejam.
__ADS_1
“Jiwa kamu kayaknya masih ketinggalan di alam mimpi deh, Ji. Jangan ngawur kamu kalau ngomong. Kalau Tuhan dengar gimana?” Tegur Bunda tak suka dengan ucapan Jingga yang seenaknya.
“Paling dikabulin.” Jingga kembali berucap enteng.
“Amit-amit, ya. Udah deh, Ji, kamu mandi sana biar otak sama mulut kamu normal lagi.” Titah Bunda sambil menunjuk kepala dan mulut Jingga bergantian.
“Bunda udah mandi?” Jingga malah bertanya.
“Bunda baru selesai siapin baju, ini baru mau mandi.” Jawab Bunda.
“Ya udah aku nitip mandinya, ya.” Kelakar Jingga.
Bunda mendengus, merasa gemas sendiri dengan anak bungsunya ini. “Kayaknya kepala kamu harus diperbaiki sama Biru, deh, Ji. Biru spesialis bedah saraf, kan?”
Jingga memutar bola matanya malas begitu mendengar nama Biru disebut. “Apaan, sih, bawa-bawa dia segala?” Gerutunya pelan.
“Bunda rasa, kepala kamu bermasalah setelah pulang dari Yaman. Mungkin terlalu sering dengar ledakan kali, ya?” Lanjut Bunda tak mengindahkan gerutuan Jingga.
“Atau, di kepala kamu ada pakunya? Coba Bunda lihat.” Bunda kemudian meraih kepala Jingga dan memeriksanya, gadis itu hanya pasrah.
“Kalau ada pakunya, aku jadi kuntilanak, dong. Ihh, serem, Bun.”Sahut Jingga jenaka.
“Iih, Jingga. Kamu itu kalau ngomong, yaa.” Bunda memukul pelan bahu Jingga gemas. Gadis itu tergelak geli melihat Bunda yang nampak gregetan.
“Haha, lagian Bunda aneh banget. Masa kepala aku ada pakunya.”
“Udah sana kamu mandi.” Titah Bunda lagi. Kali ini, wanita paruh baya itu menarik selimut yang masih membalut setengah tubuh Jingga agar dia benar-benar beranjak dari kasurnya.
“Iya-iya. Aku mandi, nih.” Tak mau berdebat lagi, Jingga akhirnya turun dari tempat tidur. “Lagian mandi atau enggak, itu nggak ada bedanya, kok.”
“Kenapa?” Tanya Bunda yang melihat anaknya menghentikan langkah.
“Aku tetap cantik.” Jawab Jingga percaya diri.
“Mandi atau Bunda mandiin.” Ancam Bunda gregetan
“Wahh, kalau dimandiin, aku kayak mayat, dong.”
“JINGGA.” Teriak Bunda geram sekaligus gemas. Jingga hanya tergelak seraya berlalu pergi ke kamar mandi.
“Jii, mandinya jangan lama-lama, kita mau makan malam di rumah Om Rendi.” Teriak Bunda dari luar pintu kamar mandi.
“Aku nggak mau ikut!” Jingga balik berteriak.
Gadis itu mendengus di balik guyuran air shower yang membasahi tubuhnya. Ayah dan Bunda memaksa untuk ikut menghadiri undangan makan malam di rumah Om Rendra dan Tante Lisa. Jingga sebenarnya dia ingin menghindari itu karena sangat malas bertemu Biru di sana, tapi sayangnya dia tidak mendapat cara untuk melarikan diri.
********
Biru menatap sedih foto Jingga di ponselnya yang dia ambil diam-diam di rumah sakit. Apa yang terjadi di atap rumah sakit satu minggu yang lalu tidak membuat Jingga berhenti mengabaikannya.
Tidak ada yang berubah. Gadis itu masih selalu menolak ajakannya, mengabaikan panggilan telepon atau pesan darinya, dan juga masih menghindarinya. Jingga pasti pergi jika melihat Biru di manapun itu, kecuali untuk urusan pekerjaan, dia sangat professional.
“Aku duluan.” Katanya saat itu sambil beranjak begitu Biru menghampiri mejanya untuk bergabung saat makan siang di kantin. Gadis itu meninggalkan makanannya yang baru tersentuh sedikit.
Hal tersebut kembali membuat hati Biru mencelos sakit. Padahal, Jingga mengatakan memberinya kesempatan, tapi kenyataannya dia tidak membuka hati untuk Biru membuktikannya.
Biru bisa apa selain ujung-ujungnya pasrah dengan sikap Jingga padanya?
“Bii. . . .”
“Ma. . . .” Biru menoleh, nampak Mama melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar.
“Mama boleh masuk?” Tanya wanita itu yang dijawab anggukkan pelan oleh Biru.
Mama tersenyum simpul, lalu bergerak menghampiri Biru yang duduk di sofa bench.
“Kok belum siap-siap? Sebentar lagi keluarga Om Rendra datang, lho.” Tanya Mama sambil mendudukkan dirinya di samping Biru.
Biru menggeleng dengan senyuman lemah. “Percuma. Jingga nggak bakalan datang.”
Menghembuskan napas berat. Mama terdiam. Dia tahu persis bagaimana gadis ceria itu berubah menjadi begitu dingin pada Biru.
Pernah sekali Mama mengajak Jingga makan siang beberapa hari yang lalu, menyertakan Biru juga. Dan Mama melihat bagaimana Jingga mengabaikan sang anak, dia berbicara seperlunya dan sebisa mungkin menghindari percakapan.
Tidak ada lagi perhatian kecil yang Jingga berikan pada Biru seperti dulu. Mama ikut sedih, tapi juga tidak bisa berbuat banyak.
“Ma, aku harus apa untuk membuat Jingga kembali?”
Kembali menghembuskan napas berat. Tidak tahan lagi, Mama lantas memeluk Biru penuh sayang. Hatinya sakit melihat anak semata wayangnya menderita.
“Ma, Jingga takut sama aku.”
Mama masih memilih diam, dia mengusap-usap lembut punggung Biru yang bergetar.
“Ma, tolongin aku.”
“Maaf, Mama nggak bisa berbuat banyak. Kita nggak bisa maksa Jingga, Bi.”
Biru menarik wajahnya untuk menatap Mama. “Tapi aku nggak bisa tanpa Jingga di hidup aku.”
“Anggap ini hukuman buat kamu.” Mama menghela untuk menjeda kalimatnya. “Bi, kamu udah nyakitin anak orang yang dirawat dengan penuh kasih sayang di keluarganya. Mama dan Papa nggak pernah ngajarin kamu untuk berbuat kayak gitu.”
Biru terdiam. Dia memang sudah menceritakan semua yang dilakukannya pada Jingga termasuk kejadian di villa waktu itu. Kedua orang tuanya jelas kecewa dan sempat mendiamkannya selama beberapa waktu.
“Dan kamu tahu? Jingga masih baik nggak ceritain apa yang kamu lakukan sama orang tuanya sampai mereka masih bisa ngasih kesempatan dan ngebelain kamu. Sebenarnya Mama malu menghadapi Jingga.”
Sekali lagi, Mama bukan orang tua yang akan membela kesalahan anaknya, seberapa besar pun cinta dan sayangnya pada Biru.
“Aku tahu, tapi tolong bantu aku bujuk Jingga lagi.” Biru kembali memohon.
Mama menggeleng. “Cukup serahkan semuanya sama Jingga.”
********
Berulang kali dengusan kasar terdengar dari bibir Jingga. Tidak ada yang lebih memusingkan untuknya kecuali menghadiri acara makan malam itu. Pasalnya, dia akan kembali berhadapan dengan Biru.
__ADS_1
Jingga memang berkata memberi cowok itu kesempatan. Tapi jujur, dia belum siap membuka kembali hatinya untuk Biru.
“Kamu kenapa?” Tanya Bunda setengah berbisik saat mereka turun dari mobil.
“Bunda tahu sendiri aku males ketemu Biru.” Sahut Jingga, lalu dengan ogah-ogahan mengekori langkah Ayah untuk memasuki rumah mewah itu.
“Kita ke sini bukan utuk Biru. Tapi untuk Om Rendi dan–”
“Iya tahu, tapi tetap aja ada Biru di sana. Kan dia anak mereka.” Sela Jingga dengan menekuk wajahnya.
Bunda menatapnya penuh teguran. “Bunda nggak suka, ya, kamu bersikap kayak gini.”
“Hmm.” Ucap Jingga malas, tak ingin memperpanjang perdebatan.
Jingga merasakan jantungnya berdebar cepat, ujung-ujung jarinya terasa dingin. Semua kenangan saat terakhir kali dia memasuki rumah ini berputar tanpa izin di kepalanya.
Di rumah ini, Jingga belajar masak dan memilih desain undangan bersama Tante Lisa. Dan di rumah ini juga Jingga sempat melakukan hal romantis bersama Biru. Mereka sempat berciuman panas di sofa ruang tamu yang baru saja Jingga lewati.
Jingga menggeleng, menepis pikiran kotor yang tiba-tiba memenuhi isi kepalanya.
“Selamat ulang tahun pernikahan.” Bunda saling memberi pelukan hangat dengan Tante Lisa yang menyambut mereka di ruang makan. Begitu pula dengan Ayah dan Om Rendi.
“Udah tiga puluh lima tahun. Semoga makin romantis.” Goda Bunda setelah melepas pelukannya dan menyerahkan buket bunga lili putih.
Tante Lisa tertawa anggun. “Bisa aja kamu, tuh.”
“Happy wedding anniversary, Om, Tante.” Giliran Jingga menyalami dan memberi perlukan pada Om Rendi dan Tanter Lisa.
“Makasih, Sayang. Ihh, cantik banget.” Tante Lisa mencubit gemas dagu Jingga setelah mengurai pelukannya.
“Tante bisa aja.” Jingga tersipu dengan kekehan kecil. “Ohh, iya. Maaf aku nggak bawa hadiah.”
“Kamu datang aja itu udah hadiah paling spesial buat kami.” Balas Om Rendi, Jingga hanya tersenyum malu.
“Om, bener, tuh, Ji.” Timpal Tante Lisa mengelus lembut pipi Jingga, untuk kemudian mempersilahkan mereka duduk dan mulai menikmati sajian makan malam yang disediakan.
Jingga termangu ketika matanya menangkap mata kelam yang sedang menatapnya dalam diam. Biru duduk tepat di hadapannya hingga tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus.
Cowok itu tampil mempesona dengan outfit kasualnya. Sial. Cowok brengsek itu masih terlihat tampan di mata Jingga.
“Makan, Ji.” Ucap Biru menyadarkan Jingga.
Gadis itu hanya mengangguk tanpa mau bersuara, dan selebihnya dia juga tetap diam meski Biru terus mencoba membuka obrolan.
Biru kembali menahan denyut nyeri atas sikap Jingga padanya.
“Ohh, iya. Tante denger kamu terkena gangguan panik?”
Jingga menelan potongan daging di mulutnya susah payah saat terdengar suara Tante Lisa menyebut namanya.
“Iya, Tan. Tapi nggak parah, kok.” Lalu dia mengambil air minum dan menguknya untuk mendorong masuk daging yang terasa mengganjal di kerongkongannya.
“Mau Tante kenalin sama Dokter Johan? Beliau sempat nanganin Biru dulu.” Tawar Tante Lisa tulus, air mukanya nampak khawatir.
“Nggak usah, Tan, makasih. Aku cuma butuh pembiasaan dan adaptasi lagi. Aku yakin bisa sembuh sendiri, ini udah mendingan, kok.” Terang Jingga menenangkan.
Tante Lisa menatap Jingga ragu. “Ya udah. Tapi kalau kamu butuh pengobatan, langsung aja bilang sama Om atau Tante, biar kami langsung daftarin ke sesinya dia.”
“Iya, Tan, makasih.” Balas Jingga tersenyum canggung.
“Kami juga udah paksa dia. Tapi ya tahu sendiri, Jingga agak keras kepala orangnya.” Bunda menimpali.
Jingga mendengus, lalu memalingkan wajahnya. Tapi sial, matanya kembali bertemu dengan mata Biru yang sejak tadi menyorotinya dengan tatapan sedih.
“Ya biasalah, anak muda suka kayak gitu. Dibilangin bebal, kayak yang satu ini, nih.” Tambah Tante Lisa dengan ekor mata mengerling ke arah Biru yang duduk di sebelahnya.
Bunda hanya tersenyum, lalu menatap Biru yang balas tersenyum tipis padanya.
Perjalanan makan malam itu diisi dengan pembicaraan garing khas orang tua. Mereka membahas masa lalu dari mulai masa sekolah, pacaran, hingga sampai pernikahan dan mereka memiliki anak. Jingga hanya bisa menghembuskan napasnya bosan.
********
“Bii, ajak Jingga jalan-jalan.” Perintah Papa pada Biru. Kini mereka sudah beralih ke ruang tamu untuk melanjutkan obrolan.
“Aku di sini aja, Om.” Tolak Jingga cepat.
“Kamu bakalan bosan dengerin pembahasan orang tua.” Timpal Tante Lisa.
“Iya, Ji. Tante Lisa bener. Udah mending kamu ngobrol sama Biru di tempat lain, yang muda itu harus sama yang muda.” Tambah Ayah. Jingga mendengus dalam hati, sebisa mungkin menjaga sopan santunnya di depan Om Rendi dan Tante Lisa.
“Ayo!” Seru Biru seraya beranjak dan mengulurkan tangannya pada Jingga. “Ada yang mau aku bicarakan juga sama kamu.”
Jingga mengangguk, lalu ikut beranjak, membuat Biru menarik kembali uluran tangannya. Dia lantas memimpin jalan untuk membawa gadis itu ke taman belakang rumah dan duduk di ayunan.
“Dingin, Ji.”
Jingga tersentak saat merasakan benda hangat menutupi kedua bahunya yang terbuka. Dia menoleh, matanya mengikuti Biru yang bergerak duduk di sebelahnya.
“Thanks.” Balas Jingga sambil merapatkan jas milik Biru. Dia menyesal karena memakai dress tanpa lengan, tidak cocok dengan udara dingin malam ini.
Biru menjawabnya dengan anggukkan, lalu tersenyum hangat menatap Jingga yang kini memalingkan wajah darinya.
Untuk sesaat keduanya terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hanya suara binatang malam dan hembusan angin yang meramaikan suasana di antara mereka.
“Bukannya kamu bilang mau ngasih aku kesempatan?” Biru membuka pembicaraan.
Jingga yang sedang mengayunkan pelan tubuhnya sejenak menoleh, lalu berpaling lagi dan menahan ayunan tersebut dengan kedua kakinya agar berhenti bergerak.
“Tapi kenapa, Ji? Kenapa nggak mencoba buka hati kamu buat aku? Kenapa kamu masih diemin aku?”
“Aku udah bilang itu nggak akan mudah buat aku.” Sahut Jingga, lalu tersenyum miris dan memutar lehernya untuk menatap Biru. “Kalau kamu nggak sanggup, kamu boleh nyerah sekarang.”
“Nggak, Ji. Bahkan berpikir untuk itu pun aku nggak mau. Selamanya aku nggak akan pernah mau nyerah sama kamu.”
Hati Biru kembali mencelos sakit. Ternyata seperti ini rasanya berjuang sendirian.
__ADS_1
********
To be continued. . . .