
*********
Siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, Jingga baru menyelesaikan operasi pertamanya. Operasi penggantian katup jantung yang menghabiskan waktu selama lima jam itu membuat otot lehernya terasa kaku.
“Semangat, masih ada dua operasi lagi.” Bisma yang kini berada dalam timnya sebagai ahli anestesi menepuk pundak Jingga yang terlihat lelah saat mereka berjalan menuju ruang ganti.
“Ohh, iya, aku lupa. Kayaknya aku harus cari dokter pengganti untuk operasi nanti malam.” Jingga menghentikan langkah sembari melepaskan surgical cap dari kepalanya saat teringat kalau nanti malam harus pergi ke butik bersama Biru untuk mencoba kembali baju pengantin mereka.
Tante Lisa sudah mengomelinya karena dia dan Biru terus mengundur waktu untuk fitting baju pengantin karena kesibukan.
Sebenarnya Jingga berniat untuk pergi di jam makan siang, tapi jadwal operasinya hari ini tidak memungkinkan untuk itu. Setelah ini saja dia hanya memiliki waktu luang sekitar dua jam sebelum operasi selanjutnya.
“Lho, emangnya kamu mau ke mana?” Tanya Bisma penasaran.
“Aku ada urusan.” Jawab Jingga tanpa berniat menjelaskan, lantas melangkah masuk ke dalam ruang ganti pakaian khusus dokter. Bisma hanya mengangguk kecil, tak ingin bertanya lebih.
Setelah mengganti baju OK dengan seragam scrub staf medisnya, Jingga keluar dari ruang ganti. Tak langsung pergi ke ruangannya, Jingga memilih pergi ke kantin untuk makan siang.
Selembar roti tawar yang dia makan di pagi hari, ditambah energinya yang memang sudah terkuras cukup banyak selama setengah hari ini membuat perutnya sudah sangat lapar. Dia merasa harus segera mengembalikan energinya yang hilang.
“Jingga. . . .” Gadis itu menghentikan langkah dan berbalik untuk melihat ke sumber suara yang memanggil namanya. Tampak Bisma tengah berjalan menghampirinya. “Kantin?”
Jingga menjawab dengan anggukkan kepalanya, diam sejenak menunggu ayah satu anak itu mensejajarkan langkah dengannya.
“Pergi bareng.” Ucap Bisma lagi. Jingga kembali menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.
Bisma dan Jingga berjalan bersisian menuju kantin dengan obrolan ringan mengiringi perjalanan mereka. Sesekali terdengar keluhan dari keduanya saat mengingat mereka harus kembali bergelut di ruang bedah setelah makan siang.
“Kira-kira, menu makan siangnya apa, ya, hari ini?” Tanya Bisma, penasaran siang ini rumah sakit menyediakan menu apa untuk tenaga medisnya.
“Aku denger salad ayam.” Jawab Jingga yang memang tadi pagi bertemu dengan koki rumah sakit di lobby, dan dengan iseng dia bertanya tentang menu makan siang untuk staf medis hari ini.
Beruntunglah staf medis yang bekerja di rumah sakit ini karena mereka difasilitasi kantin yang menyediakan makan siang dan makan malam khusus untuk mereka.
“Oke bagus, itu kesukaan kamu.” Ujar Bisma.
“Dihh, sok tahu.” Cebik Jingga.
“Biru pernah bilang.” Jingga hanya berdecak mendengarnya.
“Ngomong-ngomong, kalian beneran udah baikan?” Tanya Bisma kemudian saat teringat akan hal itu, ditambah akhir-akhir ini dia juga sering melihat Biru dan Jingga bersama.
“Ya gitu, deh.” Jingga mengedik, lalu mengambil langkah besar dan berjalan mendahului Bisma.
“Gitu gimana?” Bisma yang kepo langsung saja berusaha mensejajarkan langkahnya kembali dan memberi Jingga banyak pertanyaan seputar hubungannya dengan Biru. Namun, gadis itu mengabaikannya.
“Ish, Kak Bisma kepo banget.” Dengus Jingga mempercepat langkahnya untuk menghindari pertanyaan cowok itu.
“Bukan kepo, aku cuma mastiin.” Bisma mengejar gadis itu. “Ji. . . .”
“Udah, deh, kamu bisa nilai sendiri.” Jingga mendudukkan dirinya di di kursi, diikuti Bisma yang duduk di sebelahnya.
“Jadi beneran? Cieee, congrats, deh. Awet-awet kalian.” Namun, baru saja Bisma mendaratkan pantatnya di kursi, tiba-tiba seseorang berdehem dan memegang pundaknya.
Mendengar suara seseorang berdehem, kompak Bisma dan Jingga menoleh ke arah belakang yang ternyata sudah ada Biru di sana, sedang menatap mereka dengan raut wajah galak. Terlihat pula Albi, Bian, dan Langit sedang berjalan menghampiri mereka dengan nampan berisi makan siang di tangan masing-masing.
Tanpa mengeluarkan suara, Biru segera mengusir Bisma yang duduk di sebelah Jingga dengan cara mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir seekor kucing yang hendak mencuri makanan. Dengan takut bercampur kesal, Bisma pun berpindah dari sisi Jingga yang langsung digantikan oleh Biru.
“Jadi partner kerja yang akrab boleh, tapi duduk deket-deket kayak gini nggak boleh. Nanti aku cemburu.” Biru memberi peringatan dengan wajah serius sambil menarik pinggang Jingga untuk lebih mendekat padanya.
Jingga sedikit terkejut dibuatnya, masalahnya di kantin ini banyak orang, meski mungkin tidak ada yang memperhatikan karena semua orang fokus dengan makanan masing-masing.
Albi, Bian, dan Langit menahan tawanya melihat Biru yang merajuk seperti itu. Sungguh menggelikan, mereka tidak pernah melihat Biru seperti ini sebelumnya.
“Si anjir geli gue dengernya. Amit-amit.” Cibir Bian sambil bergidik, lalu bergerak duduk di meja yang sama dengan mereka diikuti Langit dan Albi.
“Pengin muntah gue, yuck.” Langit menimpali. Biru sendiri hanya melayangkan delikan sebal pada mereka.
“Jadi beneran kalian berdua udah baikan?” Tanya Albi diiringi dengusan setelahnya. “Padahal gue udah ngambil ancang-ancang buat deketin Jingga.”
“Sialan, jangan ngarep lo, Al.” Sungut Biru kesal, memelototi Albi galak.
“Pake acara kabur, yang nunggu di sini tremor, ehh ujung-ujungnya balikan juga. Drama banget emang hidup lo berdua.” Langit ikut meledek.Tentu saja hal itu membuat Biru mendelikkan matanya tajam.
“Bacot, diem lo, Lang.” Balas Biru sembari menoyor kepala Langit yang duduk di depannya.
Sementara Jingga, gadis itu sama sekali tak peduli dengan ocehan teman-teman Biru, dia memilih untuk fokus memasukkan makanan ke dalam mulut karena ingin segera merebahkan diri di sofa ruang kerjanya.
Bahkan saat ini pikiran dan hatinya sudah sampai di sana, pundak serta lehernya benar-benar kaku sehingga perlu diistirahatkan sebentar.
“Tapi gue ikut seneng, sih, kalian bisa akur lagi. Jagain Jingga, Bi. Awas kabur lagi.” Di sini Bisma memang terkadang yang paling bijak meski lebih banyak menyebalkannya.
Jingga memutar bola matanya jengah mendengar itu. Kenapa semua orang menyebutnya kabur, sih?
“Tanpa lo kasih tahu.” Shut Biru sebal. “Makannya gue mau nikahin dia minggu depan.”
Ucapannya tersebut tentu membuat teman-temannya terkejut. Tidak hanya mereka, Jingga bahkan hampir tersedak mendengar Biru yang mendadak memberitahu teman-temannya seperti ini. Buru-buru gadis itu meneguk air minum miliknya.
“Nikah?” Langit melongo.
“Minggu depan?” Bisma seolah tak percaya, salad ayam yang baru masuk ke dalam mulutnya bahkan menyembur kembali, membuat semua orang bergidik jijik.
“Kok bisa?” Tambah Bian dengan raut wajah tak yakin.
Sementara Albi, si dokter Ob-Gyn itu mencondongkan tubuhnya ke arah Biru dan Jingga yang duduk berhadapan dengannya, lalu dia berbisik “Kalian berdua kecelakaan?”
“Setaaan, lo hamilin Jingga?” Bian yang mendengar itu ikut menimpali, suaranya yang cukup keras membuat sebagian orang di sana menatap aneh ke arah mereka.
Dan satu pukulan dari tangan Biru melayang tepat di kepala Bian, lumayan keras sampai kepala cowok itu sedikit oleng ke samping. “Sembarangan lo.”
“Ya elah, siapa yang nggak mikir kayak gitu coba, kalau kalian bakal nikah dadakan kayak gini?” Sahut Albi membela diri dan langsung diangguki cepat oleh Bian.
“Ini– kalian berdua serius?” Langit menatap Biru dan Jingga bergantian meminta jawaban. Keduanya hanya mengangguk.
“Kami nggak bohong. Aku sama Kak Biru emang mau nikah minggu depan.” Terang Jingga kemudian.
“Kok kamu nggak ngasih tahu aku sebelumnya, sih, Ji?” Tanya Langit dengan tatapan protes yang juga dilayangkan pada Biru. Bagaimanapun, dia adalah orang terdekat mereka, bagaimana bisa dia tidak diberitahu sebelumnya?
Biru lantas menceritakan bagaimana dia dan Jingga bisa sampai akan melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat. Biru juga meminta pada teman-temannya untuk mengosongkan jadwal di hari pernikahan mereka nanti.
“Mama lo, Bi. Emang udah nggak sabar aja kali pengin punya cucu, makannya grasak-grusuk gitu.” Ujar Bisma diiringi gelak tawa ringan.
“Tapi lo seneng juga, kan? Ciee, yang bentar lagi punya guling baru. Hidup lagi.” Celetuk Bian dengan kerlingan mata menggoda pada Biru.
“Kak, aku duluan, ya.” Ucap Jingga, membuat Biru yang ingin membalas celetukan Bian kembali mengatupkan bibirnya.
__ADS_1
“Mau ke mana?” Tanya Biru menahan lengan Jingga, menatap tak rela gadis itu meninggalkannya.
“Ke ruangan aku, mau istirahat sebentar.” Lantas tanpa persetujuan Jingga beranjak dari kantin.
“Ji, hey. . . .”
“Bucin lo.” Ledek Bian yang melihat Biru beranjak dari duduknya untuk mengikuti Jingga.
“Berisik, lo.” Balas Biru seraya mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja, lalu mengambil langkah besar untuk mengejar Jingga.
“Belum sah jangan diajakin main dulu, Bi.” Teriak Bian.
Hanya itu yang Biru dengar sebelum tubuhnya benar-benar keluar dari kantin.
“Lho, ngapain ngikutin aku?” Tanya Jingga saat pintu lift yang baru saja tertutup, kembali terbuka dan menampakkan Biru.
“Males sama mereka, mending berduaan sama kamu.” Sahut Biru setelah dirinya masuk ke dalam lift.
“Enggak, ahh, jangan ngikutin. Aku mau istirahat.” Tolak Jingga dengan wajah merengut. Sudah pasti dia tidak bisa istirahat karena Biru akan mengganggunya.
“Aku nggak akan ganggu kamu, kok.” Ucap Biru. Jingga hanya menatapnya tak percaya. “Lagian emang kamu kenapa? Nggak sakit, kan? Kayak lemes gitu.”
“Nggak sakit. Cuma leher sama pundak aku kaku banget nggak tahu kenapa.” Keluh Jingga sambil memijat lehernya sendiri.
“Ohh.” Biru mengangguk-angguk, lalu bergerak memposisikan tubuhnya di belakang Jingga. Beruntung di dalam lift saat itu hanya ada mereka berdua. “Mungkin karena kamu nunduk terus selama operasi tadi, makannya otot-ototnya jadi tegang.”
Tangan Biru lalu bergerak memijat bagian belakang leher hingga pundak Jingga untuk membantu mengurangi ketegangan otot di sana.
“Tapi nggak biasanya kayak gini, lho.” Jingga mengingat ini baru operasi pertamanya.
“Atau posisi tidur kamu yang salah.” Ujar Biru tanpa menghentikan pijatan lembut di leher Jingga.
“Aku juga kurang tahu.” Jingga sedikit menunduk untuk memudahkan Biru memijatnya.
“Enak, nggak?” Tanya Biru seraya mendekatkan wajahnya dekat telinga Jingga. Gadis itu hanya mengangguk menikmati pijatan Biru yang terasa menenangkan.
“Tapi kamu harus bayar aku habis ini.” Biru berbisik seduktif, membuat Jingga meremang.
“Iya, tukang pijit.” Jingga menoleh ke arah Biru sekilas dengan senyum dan tatapan meledek.
“Malah ngeledek, awas aku cium kamu sepuluh kali.” Biru memberi cubitan pelan di pinggang Jingga.
“Udah, ahh, jangan aneh-aneh, nanti ada orang masuk.” Tegur Jingga sambil menyikut pelan perut Biru, menghentikan tangan cowok itu yang mulai berulah menggerayangi perutnya.
“Terus kenapa kalau ada yang masuk?” Biru dengan santai mendekap tubuh Jingga, menghirup dalam-dalam rambutnya yang menguarkan aroma manis shampo, sesekali menciumi kepalanya.
“Ya kita bakalan malu, Kak.”
“Aku nggak masalah, biar aja semua orang tahu hubungan kita.”
“Tapi nggak gini caranya.”
Meski senang Biru terang-terangan dengan hubungan mereka, tapi Jingga juga tidak ingin orang melihat mereka seperti ini.
“Sebodo.” Sahut Biru beralih mengecupi tengkuk Jingga yang terbuka, hingga membuatnya menggelinjang geli.
“Eungh. . . ." Lenguh Jingga tertahan, tapi sebisa mungkin segera menyadarkan dirinya. "Kalo Om Rendi yang tiba-tiba masuk kayak dulu giman – hai Han. . .”
Dengan cepat Jingga melepaskan diri dari dekapan Biru begitu pintu lift terbuka hingga tercipta jarak di antara mereka. Sial.
Hana melongo, cukup terkejut melihat dua atasannya sedang berpelukan mesra. Dia tidak pernah menyangka jika cowok kulkas sepuluh pintu itu ternyata sama saja seperti cowok normal pada umumnya.
Untuk sejenak waktu seolah berhenti. Ketiga orang di sana saling berpandangan dalam perasaan salah tingkah.
“Masuk, Han.” Ucap Jingga tersenyum kaku, berusaha mencoba seolah tidak terjadi apa-apa.
“A-aku–” Hana terdiam berpikir, lalu satu jari telunjuknya menunjuk arah lain. “Naik lift lain aja.”
Sial. Kenapa dia ikut gugup dan malu? Padahal, dua orang di depannyalah yang terkena gep. Dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu benar-benar sudah lupa daratan
“Lho, masuk aja, Han, nggak apa-apa.” Sahut Jingga cepat.
“Nggak, deh.” Hana menatap Biru yang bertampang dingin itu takut-takut, kemudian menelan ludah. “Kalian duluan aja.”
“Ya udah, sih, kalau dia nggak mau naik.” Sambar Biru acuh, membuat Jingga kembali menyikut pelan perutnya dan memelototi galak.
“Kamu nggak usah dengerin dia. Ayo.”
“Tap–” Hana merasakan tubuhnya tertarik ke dalam saat dengan cepat Jingga menarik lengannya paksa.
“Mending kamu aja, deh, yang keluar.” Jingga medorong tubuh cowok itu keluar dari lift. “Kamu nakutin Hana, tahu, nggak?”
“Jingga, kalian mau aku pecat?” Teriak Biru yang berusaha masuk kembali, tapi bersamaan dengan itu pintu lift tertutup.
Biru mendengus saat masih bisa melihat Jingga melambaikan tangan padanya dengan senyuman menjengkelkan dari celah pintu lift sebelum tertutup sempurna.
“Kenapa kamu ngelakuin itu?” Tanya Hana panik melihat Jingga mengusir Biru karenanya. Dia berusaha menekan-nekan tombol lift agar kembali terbuka, tapi sia-sia karena lift mulai bergerak.
“Emang kenapa?” Sahut Jingga santai seraya menyandarkan tubuhnya dengan tangan bersedekap.
“Prof. Biru itu atasan kita, lho. Kalau kita beneran dipecat gimana? Padahal tadi aku nggak apa-apa, kok, nggak naik. Lagian aku yang salah udah ganggu kalian.”
Jingga melipat bibirnya menahan tawa. “Dia nggak akan berani mecat kita. Kamu lupa aku siapa?”
“Iya, sih. Tapi itu kamu. Kalau aku sendiri yang dipecat gara-gara nggak sengaja ganggu kalian gimana?” Tanya Hana memasang raut khawatir, wajah ketus Biru tadi masih terbayang-bayang.
“Udah, deh, tenang aja.” Jingga memutar bola matanya malas.
“Kamu bisa. Lha aku?”
Jingga mendengus geli melihat Hana yang kelabakan. “Si Prof. Biru brengsek itu lebih takut sama aku. Kamu tenang aja. Udah, deh, nggak usah terlalu serius nanggepin dia.”
“Kamu yang tanggung jawab, ya, kalau aku dipecat?” Ucap Hana dengan wajah merengut.
“Hmm.” Sahut Jingga malas.
“Lagian kalian, sih, pake mesra-mesraan di lift segala.” Dumel Hana. Jingga sendiri hanya berdehem kikuk sembari mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.
********
Tok. . .Tok. . .Tok
Jingga yang tengah merebahkan dirinya di sofa dengan salah satu tangan terangkat menutupi matanya, tiba-tiba mendengar suara pintu ruangan diketuk dari luar. Padahal, baru saja dia terpejam lima menit.
Kepala Jingga sedikit terangkat dan menoleh ke arah daun pintu yang masih tertutup itu. Lantas dengan malas dia membuka suaranya “Masuk.”
__ADS_1
Tak lama setelah itu, tampak kepala Biru muncul dari balik pintu. Kening Jingga merengut mendapati cowok itu benar-benar menyusul, padahal tadi dia sudah mengatakan untuk jangan mengikutinya.
“Kamu ngapain ke sini?” Tanya Jingga dengan tatapan protes dan kembali menghempaskan kepalanya dengan kesal di bantal sofa.
“Lho, emang nggak boleh nyamperin calon istri aku sendiri? Lagian aku atasan kamu. Jadi bebas, dong, mau ngapain aja.” Sahut Biru tak peduli sambil berjalan mendekat ke arah Jingga.
Sebelum mendudukkan dirinya di atas sofa, Biru sedikit menggeser dan mengangkat kepala Jingga, kemudian meletakkan kepala gadis itu di pangkuannya, menggantikan bantal sofa yang sudah dia singkirkan sejak tadi.
“Kak, nanti kalau ada orang lain masuk gimana?” Jingga mengangkat kepala dan hendak mengubah posisinya menjadi duduk, namun Biru menahan kepala Jingga untuk tetap berada di pangkuannya.
“Nggak apa-apa. Udah aku bilang nggak peduli.” Jawabnya santai, sebelah tangannya meraih tangan Jingga untuk dia genggam.
“Ish, urat malu kamu, tuh, udah putus.” Dengus Jingga seraya menghembuskan napas kasar, tak terhitung sudah berapa kali mereka ketahuan orang lain saat bermesraan.
“Udah aku kunci, kok, ruangan kamu.” Ujar Biru menenangkan sembari mengecupi punggung tangan gadis itu. “Ohh, iya, Ji, operasi kamu jam berapa?”
Jingga menarik tangan Biru yang bebas untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sambil mengernyitkan kening dia kemudian menjawab. “Eung, sekitar satu jam lagi.”
“Oke bagus. Kita bisa berduaan dulu.” Sahut Biru senang. Jingga memutar bola matanya malas. Biru benar-benar menempelinya seperti cicak semenjak kepulangan mereka dari Bali.
“Emang kamu nggak ada kerjaan?” Tanya Jingga sambil mengubah posisinya menjadi miring, satu tangannya lalu terulur memainkan daun telinga Biru.
“Ada kunjungan pasien, sih. Tapi masih lama.” Biru meraih tangan Jingga yang ada di telinganya untuk kemudian dia letakkan pipi.
Jingga mengangguk kecil, menatap Biru yang yang kini juga sedang menatap ke arahnya. Beberapa saat mereka hanya terdiam dan saling pandang sampai cowok itu kembali bersuara.
“Eung, Ji. . . .”
“Ya?” Sahut gadis itu dengan alis bertaut penuh tanya.
“Aku mau nagih janji ciuman sepuluh kali kamu.”
Jingga menurunkan tangannya yang sedang membelai wajah Biru. Mata Biru memicing seolah mampu membaca gelagat aneh gadisnya itu.
“Janji yang mana, ya? Kok aku nggak inget?” Jingga berpura-pura lupa, kemudian dengan cepat membenamkan wajahnya di perut Biru dengan tangan yang melingkar di sepanjang pinggang cowok itu.
Biru mendengus, lalu mencubit gemas pinggang Jingga hingga membuatnya meringis geli. “Dosa, tahu, nggak nepatin janji. Aku udah usap-usap kepala sampai kamu tidur, lho.”
“Ya ampun gitu doang. Udah, sih, ikhlasin aja hitung-hitung amal sama calon istri sendiri.” Jingga kembali mendongak dengan wajah merengut lucu.
“Nggak, nggak ada amal-amalan, enak aja.”
“Aku nggak mau!” Jingga menggeleng sambil menekap mulutnya.
“Ihh, curang. Cepetan cium!” Desak Biru berusaha melepaskan tangan Jingga dari mulutnya.
Jingga kembali menggeleng, masih berusaha mempertahankan dirinya.
“Ya udah kalau gitu aku aja yang cium kamu.”
“Oke-oke, STOP!” Seru Jingga menahan kepala cowok itu yang sudah bersiap mencium lehernya. “Aku cium kamu sepuluh kali.”
“Oke. Di sini.” Biru mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.
Menyunggingkan senyum licik yang tipis, Jingga kemudian bangun dan memposisikan dirinya untuk duduk di pangkuan Biru.
“Oke, kamu tutup mata dulu.” Pinta Jingga seraya mengangkup kedua sisi wajah Biru.
“Enggak. Nanti kamu bohong. Mau kabur, kan?” Mata Biru memicing tajam, mencoba menebak ide licik yang akan digunakan Jingga untuk menghindarinya.
“Enggak, nggak bohong. Udah cepetan tutup mata.” Elak Jingga, sebelah tangannya mengusap mata Biru agar tertutup.
“Awas kalau bohong.” Biru menatap penuh peringatan.
“Iya-iya, bawel.”
Biru mendengus, lalu dengan ragu dia menutup mata, siap menerima ciuman dari bibir manis gadisnya.
Tapi yang terjadi sebenarnya adalah Jingga menggenggam tangan Biru, lalu mencium punggung tangannya sebanyak sepuluh kali. Biru yang tidak merasakan apapun menyentuh bibirnya langsung membuka mata.
“Lunas.” Jingga tersenyum lebar setelah dia selesai menepati janji ciuman sepuluh kalinya pada Biru.
“Ihh, mana ada lunas? Ngaco kamu.” Protes Biru sambil mengusap penuh wajah Jingga menggunakan telapak tangannya.
“Lunas, lah. Kan udah aku cium sepuluh kali. Lagian, emang aku ada bilang mau cium sepuluh kali di pipi atau bibir kamu? Enggak, kan?” Sahut Jingga penuh kemenangan.
“Nggak-nggak. Nggak gitu caranya. Kamu curang. Ulang!” Biru tak terima meski sadar jika penuturan Jingga benar.
“Nggak mau! Udah, ahh, aku mau ke kamar mandi. Kamu itu ganggu aku, tahu, nggak? Nggak jadi istirahat, kan, aku.” Dumel Jingga beranjak dari duduknya. Namun, dengan cepat Biru menarik lengannya hingga gadis itu kembali jatuh di pangkuannya.
“Kalau gitu, biar aku aja yang ngulang.” Biru menyeringai, kemudian mendekatkan wajahnya, tapi dengan segera Jingga memutar leher ke samping hingga bibir Biru hanya mengenai rahangnya.
“Nggak bisa, kan? Wleee.” Jingga menjulurkan lidahnya meledek.
Gemas melihat tingkah Jingga, tangan Biru lalu menggelitik perut gadis itu hingga membuatnya menggelinjang kegelian.
“Haha . . . ampun, Kak. . . . haha.” Jingga mengeratkan pegangannya pada bahu Biru agar tubuhnya tidak jatuh.
“Rasain.” Tangan Biru semakin gencar memberi gelitikan.
“Kak, aku bisa mati kegelian . . . .” Ujarnya dengan napas terengah, tatapannya memelas di tengah rasa geli yang melanda, tapi Biru tak mengindahkannya sama sekali.
Biru berhenti menggelitiki Jingga saat mendengar ponselnya berdering yang menandakan ada pesan masuk. Dia lantas mengambil ponsel untuk membaca pesan tersebut.
Keningnya mengernyit setelah membaca pesan yang masuk di ponselnya. “Luna? Dia mau ngapain?”
“Kenapa, Kak?” Tanya Jingga heran melihat Biru yang terdiam menatap layar ponselnya.
Sesaat cowok itu menatap Jingga ragu, lalu tersenyum sambil meggelengkan kepalanya pelan.
“Kayaknya aku harus pergi sekarang, deh, Ji.” Ujar Biru ragu seraya mengelus pinggang Jingga lembut dengan satu tangannya yang bebas.
“Kenapa? Katanya kunjungan pasien masih lama.” Jingga menatap Biru tak rela, tidak ingin cowok itu pergi.
Biru diam tak menjawabnya, kembali menatap Jingga ragu.
“Panggilan darurat, ya?” Tanya Jingga lagi, mencoba mengerti meski wajahnya sedikit merengut. Sementara Biru masih bergeming.
“Kak. . . .” Desak Jingga mulai kesal dan seketika menyadarkan Biru dari lamunannya.
“Ehh? Eung– iya.” Biru menganggukkan kepalanya ragu. “Panggilan darurat.” Lalu tersenyum tipis dipaksakan.
***********
To be continued . . . .
__ADS_1