
********
“Kak, udah tidur, ya?” Jingga menghampiri Biru seraya melingkarkan tangannya di perut laki-laki itu setelah dia berpakaian lengkap.
Terlihat Jingga sedikit kesulitan memeluk suaminya itu dari belakang karena terhalang perut buncitnya.
“Hmm.” Sahut Biru malas tanpa berniat membuka matanya walaupun dia hanya pura-pura tidur. Jingga mendengus geli, mana ada orang tidur menyahut.
“Bohong. . . .” Ucap Jingga. Dia lalu mengubah posisinya, mengangkat kepalanya untuk dia letakkan di lengan bahu Biru.
“Kamu kenapa, sih? Kok kayak bete gitu?” Tanyanya kemudian seraya memainkan kancing piyama yang dikenakan Biru.
“Aku nggak bete. Cuma lagi capek aja, mau tidur.” Jawab Biru masih datar.
“Beneran?” Tanya Jingga memastikan.
“Iya. Udah deh, kamu bisa diem nggak, sih?” Biru sedikit meninggikan nada bicaranya sembari menepis tangan Jingga yang sedang bermain-main dengan kancing piyamanya. Hal ini sontak saja membuat Jingga berjengit kaget.
“Kan aku cuma nanya.” Cicit Jingga sembari menjauhkan tubuhnya dari Biru. Dia jadi ikut merasa kesal mendapati Biru yang uring-uringan padanya.
“Ya udah nggak usah nanya, aku mau tidur.” Sahut Biru masih dengan nada kesal. Jingga merengut dan terdiam selama beberapa saat.
“Kamu nggak mau makan malam dulu?” Tanya Jingga hati-hati seraya menyentuh bahu Biru, namun laki-laki itu tak menjawab dan hanya mengedikkan bahunya.
Menghela napas gusar, Jingga dibuat bingung dengan perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba mendiamkannya. Oke, mungkin dia capek. Tapi, tak biasanya Biru seperti ini. Apa Jingga melakukan kesalahan? Tapi apa?
“Tidurnya nggak mau madep sini?” Tanya Jingga lagi karena biasanya Biru paling anti tidur memungggunginya. Namun, lagi-lagi tak ada jawaban. Kini laki-laki itu malah menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
“Hiish, kenapa, sih?” Jingga menggerutu dalam hati. Tangannya mengepal, lalu dia layangkan tinju di udara seolah ingin memukul Biru.
Sejenak Jingga terdiam menatap punggung lebar Biru. Dia berpikir, mencari cara untuk membuat Biru berbalik dan menghadap ke arahnya. Hingga sejurus kemudian, salah satu sudut bibirnya tersungging licik saat sebuah ide konyol terlintas di dalam otaknya.
Jingga lantas beranjak untuk duduk bersandar pada headboard ranjang sebelum kemudian menjalankan rencana konyolnya yang mungkin akan membuat Biru semakin kesal.
“Aww, sakit-sakit.” Jingga memekik, berpura-pura meringis seraya mengusap-usap perutnya.
Biru yang mendengar Jingga memekik kesakitan seketika menjadi panik dan langsung berbalik untuk melihat keadaan istrinya.
“Kamu kenapa, Ji?” Tanyanya panik begitu melihat Jingga yang sedang meringis sambil mengusap-usap perutnya. Tangannya kemudian terulur, ikut mengusap-usap perut istrinya itu dengan khawatir.
Jingga menoleh, lalu menyunggingkan senyum lebar seraya mengaacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk tanda V.
“Nggak lucu, Ji.” Bentak Biru tanpa sadar. Sontak saja hal itu membuat Jingga merengut, merasa takut sekaligus bersalah. Memang tidak lucu becanda seperti ini, tapi dia senang karena bisa membuat Biru berbalik dan melihat ke arahnya.
Biru lantas ikut menyandarkan punggungnya di headboard ranjang, laki-laki itu mengusap wajahnya kasar seraya menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya untuk membuat dirinya kembali tenang.
Jingga benar-benar membuat dirinya kesal, apa gadis itu tidak tahu bahwa dia sangat panik tadi?
“Habisnya kamu aneh banget, tiba-tiba kesel, terus diemin aku. Kenapa, sih?” Jingga menggerutu kesal.
“Kan aku udah bilang, aku capek, mau tidur.” Jawabnya tak kalah kesal seraya kembali merebahkan dirinya memunggungi Jingga.
“Ya tapi kamu nggak biasanya kayak gini.” Jingga mengguncang punggung Biru, berharap laki-laki itu kembali menghadap ke arahnya.
“Udah sana ngobrol lagi sama Om dokter yang kamu bilang ganteng itu, jangan ganggu aku. Seneng banget kayaknya kalian bernostalgia.” Seru Biru dengan penuh sindiran sebelum kemudian dia kembali menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher. Jingga pun ikut merebahkan dirinya, lalu mendekap Biru.
“Kenapa malah ikut tidur?” Tegur Biru seraya menolehkan kepalanya sedikit dengan raut wajah yang masih menampakkan kekesalan.
“Yaa, aku juga mau tidur.” Sahut Jingga dengan polos.
“Ya udah, tapi nggak usah peluk-peluk gini, risih aku.” Biru menghempaskan tangan Jingga yang mendekap tubuhnya dengan kasar.
Jingga terperangah, dia rasa Biru sudah keterlaluan. Seharusnya laki-laki itu mengatakannya kalau Jingga melakukan kesalahan, bukan malah bersikap seperti ini.
“Kamu kenapa tiba-tiba marah kayak gini?” Sahut Jingga geram sendiri.
“Kalau nggak mau aku peluk, kan bisa bilang baik-baik. Nggak usah kasar kayak gini.” Lanjutnya yang sudah ingin menangis, katakankah perubahan hormon ibu hamil yang membuat perasaannya menjadi lebih sensitif, sehingga sikap Biru yang seperti ini membuatnya sedih.
Sementara Biru hanya terdiam, berusaha mengabaikan Jingga dan memejamkan matanya.
“Bilang aja kamu udah males deket-deket sama aku karena perut aku udah gede dan tubuh aku panas.” Gerutu Jingga yang ujung-ujungnya insecure dan berpikiran buruk.
Lantas dengan perasaan gondok yang bercokol di hatinya, Jingga memilih untuk berbalik dan tidur membelakangi Biru, tak lupa dia memeluk guling sebagai gantinya.
Biru kembali membuka mata seraya berdecak kecil, kenapa keadannya jadi berbalik seperti ini?
Bukankah dia yang seharusnya kesal pada Jingga, tapi kenapa gadis itu yang malah kesal padanya? Selain itu, kenapa Jingga sangat tidak peka kalau dia sedang cemburu?
Menghembuskan napasnya gusar, tak ada pilihan lain sekarang selain dia harus meruntuhkan pertahanannya yang sedang merajuk.
Sial sekali. Kalau boleh meminta, Biru ingin diciptakan sebagai perempuan saja di kehidupan mendatang, karena perempuan bisa mengatasi orang yang sedang kesal dengan cara berbalik kesal. Tck, benar-benar enak menjadi perempuan.
Biru kemudian berbalik, melingkarkan tangannya di perut Jingga, lalu memberi elusan lembut di perut buncit itu.
“Jangan berpikiran buruk.” Ucap Biru dengan nada suara dibuat selembut mungkin sembari mengecup tengkuk Jingga yang tertutup rambut.
“Nggak usah peluk-peluk, katanya risih.” Seru Jingga ketus, dia lantas menyentak tangan Biru hingga menjauh dari perutnya, sama seperti yang tadi laki-laki itu lakukan padanya.
“Sekarang aku mau peluk kamu.” Biru kembali memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Kalau aku ada salah, harusnya kamu ngomong. Bukan malah marah-marah nggak jelas, bentak-bentak, terus kasar sama aku kayak gini.” Ujar Jingga kemudian seolah melebih-lebihkan sikap Biru padanya.
Padahal, yang sebenarnya tadi Biru hanya meninggikan sedikit nada suaranya dan juga tidak terlalu kasar. Entahlah, kembali lagi pada hormon ibu hamil yang membuat emosinya naik turun. Jingga sendiri benar-benar terganggu dengan ini.
“Maaf, Sayang” Ujung-ujungnya Biru mengalah. Tapi Jingga yang terlanjur kesal sangat malas untuk menyahutinya dan memilih diam.
“Aku cuma nggak suka kamu ngobrol akrab sama Om Resky kayak gitu.” Ujar Biru kemudian setelah beberapa saat yang lalu keheningan mengambil alih.
Mendengar itu, Jingga menautkan alisnya heran. Kemudian dia berbalik untuk menghadap ke arah Biru hingga pandangan mereka saling bertemu.
Biru menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis, lalu menyentuh sudut mata Jingga yang masih teasa lembab. Dia tahu, Jingga pasti habis menangis. “Maaf, Sayang, aku nggak bermaksud marah sama kamu.”
__ADS_1
“Kamu nggak suka aku ngobrol sama Om Resky?” Tanya Jingga dengan raut wajah bingung. Biru menganggukkan kepalanya pelan. “Kenapa?”
“Karena aku cemburu, Ji.” Jawab Biru terang-terangan. Jingga mengerutkan alisnya dalam. Aneh sekali, Om Resky, kan, keluarganya sendiri.
“Kamu aneh banget. Om Resky itu keluarga kita, kamu kalau cemburu kira-kira, dong.” Jingga mendengus geli sekaligus kesal.
“Nggak bisa kira-kira kalau sama Om Resky, aku takut dia suka sama kamu.” Sambarnya dengan raut wajah yang mulai kembali kesal.
“Jangan ngaco.” Seru Jingga.
“Bisa aja, Ji. Dia, kan, duda, mana kamu cantik lagi.” Biru bersungut-sungut. “Udah gitu, dia juga cinta pertama kamu, terus kamu pernah ngelamar dia juga.”
“Ya ampun, Kak. Jadi kamu marah gara-gara itu?” Jingga berdecak geli. Biru hanya mendelik sebal.
“Pokoknya aku nggak suka.”
“Kak, aku emang pernah ngelamar Om Resky, tapi itu waktu aku masih kecil dan mungkin cuma iseng. Aku aja hampir lupa, kenapa kamu malah nganggap ini serius?”
“Tapi waktu itu kamu suka sama dia, kan?” Sambar Biru.
“Suka, lah. Semua anak kecil pasti suka sama orang baik, kalau Om kamu dokter galak pasti aku takut.” Jawab Jingga membuat Biru mendengus. Maksudnya bukan suka seperti itu. Huuh, istrinya ini sungguh kurang tanggap.
“Kamu juga bilang dia ganteng.” Biru masih merajuk.
“Yaa emang dia nggak jelek, kok. Om Resky mirip aktor Korea.” Sahut Jingga jujur. Tapi tentu saja jawaban jujurnya ini malah membuat Biru semakin cemburu.
“Berarti kamu bohong waktu bilang aku cinta pertama kamu?” Seru Biru merengut.
Jingga mendengus geli, kenapa suaminya merajuk seperti anak ABG? Apa mungkin jiwanya tertukar dengan Raka?
“Untuk itu aku nggak bohong.” Sanggah Jingga yang memang dia tidak merasa bohong tentang itu.
Biru adalah cinta pertama dan satu-satunya, Jingga tidak pernah menyukai laki-laki lain sebelumnya selain Biru.
“Bukannya Om Resky?” Tanya Biru ketus.
“Ngaco, kamu.” Jingga memukul pelan dada Biru dengan kesal.
“Nggak ngaco, Langit yang bilang, kok.” Sambar Biru dengan raut wajah ditekuk masam. “Langit pernah cerita semuanya sama aku.”
Jingga mendengus geli, ingin tertawa, tapi hatinya masih dongkol. Bisa-bisanya Biru berpikiran konyol seperti itu. Lagipula, kapan Langit menceritakan hal itu pada Biru? Apa mereka selalu bergosip tentang dirinya di belakang saat mereka sedang tidak bersamanya?
“Langit juga bilang, nggak, kalau first kiss aku itu Om Resky?” Entah kenapa, tiba-tiba Jingga tergelitik untuk mengerjai Biru hingga membuat laki-laki itu semakin kesal.
Benar saja, begitu Biru mendengar itu dia langsung melotot kaget. Tidak, Biru tidak bisa menerima ini. Bagaimana bisa Om Resky mendahuluinya?
“Hffft . . .haha. Wajahnya biasa aja, kali.” Tawa Jingga terlepas melihat raut wajah Biru yang melongo.
“Aku becanda.” Ucapnya kemudian, lalu dengan cepat Jingga mengecup bibir Biru sekilas.
“Nggak lucu, tahu.”
Jingga tergelak geli. “Udah, ahh, kamu jangan mikir aneh-aneh. Langit itu pasti ngelebih-lebihin ceritanya, itu nggak bener. Anak kecil mana ngerti cinta-cintaan.”
“Ya ampun, Kak. Itu nggak serius, namanya juga masih kecil.” Jingga gemas sendiri jadinya.
“Kamu nggak bohong, kan?” Tanya Biru ragu-ragu. Jingga mendengus pelan seraya memutar bola matanya malas.
“Aku nggak bohong.” Jawabnya sembari mencubit besar pipi Biru gemas. “Lagian ngapain cemburu segala, sih? Ngaco banget tahu, nggak. Masa cemburu sama Om sendiri.”
“Aku takut aja kamu berpaling sama dia.” Seketika Biru teringat ucapan Langit yang mengatakan bahwa banyak gadis muda yang lebih menyukai laki-laki matang yang lebih tua.
“Jangan ngada-ngada, kamu. Lagian aku nggak ada niatan buat ganti Papanya Winter.” Jingga terkekeh kesal. Biru ini ada-ada saja.
“Enak aja diganti. Kamu kira baju, bisa diganti?” Dengus Biru.
“Ya udah, makannya jangan mikir aneh-aneh lagi.” Jingga kembali mendaratkan kecupan singkat di bibir Biru gemas. “Trust me, hem?”
“Hmm.” Jawab Biru malas. “Tapi aku tetap nggak suka kamu terlalu akrab sama Om, kalau mau ngobrol seperlunya aja.”
Mendengar itu Jingga lantas mengiyakannya agar suaminya itu tenang dan masalah selesai.
“Terus, besok kita nginap di rumah Ayah aja selama Om Resky ada di sini.” Tambah Biru kemudian.
“Lho, kok gitu?” Tanya Jingga protes. Bukan tidak senang Jingga menginap di rumah orang tuanya, tapi rasanya kurang sopan pergi di saat sedang ada tamu.
“Aku nggak mau denger bantahan.” Sambar Biru tegas. Jingga menghembuskan napas kasar.
“Oke.” Karena sekuat apapun Jingga mendebatnya, pada akhirnya dia akan tetap dan harus menuruti apa kata suami tercintanya ini, suka tidak suka.
“Tapi sekarang aku lapar, apa kamu juga nggak bakal ngizinin aku buat ikut gabung makan malam di bawah?” Tanya Jingga dengan raut wajah memelas, dia harap Biru tidak berlebihan dengan melarangnya duduk satu meja bersama Om Resky.
“Kita makan di luar.” Jawab Biru mantap.
Sialan.
Jingga benar-benar ingin mengumpat kata-kata kasar pada suaminya sekarang. Cemburu sih cemburu, tapi harus kira-kira juga.
********
Pagi-pagi sekali, Ayah dan Bunda dibuat heran karena mendapati anak dan menantunya sudah berdiri di depan pintu.
“Kalian kabur atau diusir?” Tanya Bunda seraya menyoroti keadaan mereka.
Bagaimana Bunda tidak mengiranya seperti itu? Biru dan Jingga datang pagi-pagi sekali ke rumahnya dengan masih mengenakan baju tidur dan satu koper di tangan Biru.
“Kami ke sini karena ada O–”
“Jingga tadi pas bangun tidur tiba-tiba ngerengek minta nginep di rumah Ayah, Bun.” Biru dengan cepat menyambar ucapan Jingga.
Mendengar penuturan suaminya, sontak saja membuat Jingga terperangah. Apa katanya tadi? Dia merengek? Jelas-jelas Biru sendiri yang mengajaknya menginap di rumah orang tuanya untuk sementara gara-gara cemburunya yang tak tahu tempat itu.
__ADS_1
“Kami tadinya mau ke sini agak sorean, tapi Jingga ngambek kalau nggak dianterin sekarang.”
Jingga mendelik sebal, suaminya ini pandai sekali berakting. Besok-besok, dia akan menyuruhnya ikut casting untuk peran tukang bohong, dan dia yakin Biru akan mendapat perannya. Lumayan sekali hasilnya untuk uang belanja tambahan.
“Ya ampun, Ji. Kamu ini nggak sabaran banget, kasihan Biru harus nganterin kamu pagi-pagi buta kayak gini. Dia pasti capek, mana nanti harus pergi kerja.” Omel Bunda, membela si menantu kesayangan yang langsung disetujui Ayah. “Harusnya kamu telepon, biar Ayah atau Pak Asep yeng jemput.”
“Nggak apa-apa, kok, Bun. Kayaknya Jingga ngidam.” Ujar Biru berpura-pura membelanya.
“Iya, Bun. Aku kayaknya ngidam pengin banget tinggal di sini selamanya.” Seru Jingga penuh penekanan, lalu mendelik sebal ke arah Biru yang memasang wajah tanpa dosa sebelum kemudian menerobos tubuh Ayah dan Bunda yang berdiri di ambang pintu untuk masuk ke rumah.
Biru menelan ludahnya susah payah sembari masih tetap memasang senyum kaku. Pasti Jingga marah padanya. Ahh, tapi masa bodoh, yang penting dia sudah menjauhkannya dari Om Resky. Membujuk Jingga yang marah itu urusan nanti.
********
Jingga terus menggerutu sepanjang dia menaiki anak tangga menuju kamarnya.
“Biru itu bukan cuma ngeselin, tapi ngeselin banget. Semoga aja Winter nggak mirip dia.” Jingga sejenak berhenti di undakan anak tangga, napasnya terengah-engah.
“Awas aja nanti malam tidur di kamar sebelah.” Jingga kembali melangkahkan kakinya menuju kamar, lalu membuka pintu dengan kasar, kemudian berjalan cepat dan melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.
Sementara itu Biru, dia membuka pintu kamar dengan gerakan hati-hati. Didapatinya sang istri yang tengah duduk bersandar pada headboard ranjang sambil menatapnya dengan tatapan tajam, seolah siap untuk mencabik-cabiknya.
“Ji–”
BUUGH
Sebuah bantal yang dilayangkan Jingga tepat mengenai wajah Biru begitu laki-laki itu mendekatinya. Biru yang tidak memasang kuda-kuda, lambat untuk mengelak, sehingga lemparan Jingga tepat sasaran.
“Ngeselin.” Dengus Jingga dengan wajah ditekuk.
“Ya maaf. Masa iya aku jawab jujur, kan malu.” Ujar Biru tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Jingga mendelik kesal. Suaminya ini benar-benar licik, dia tidak mau malu, tapi malah membuat orang lain malu.
“Tapi aku yang malu sama Ayah Bunda, iiiihh.” Jingga dengan penuh kekesalan lantas memukuli Biru dengan bantal sesaat setelah laki-laki itu mengikutinya naik ke atas tempat tidur.
“Haha, ampun, Ji.” Biru terkekeh di sela-sela Jingga memukulinya.
“Malah ketawa. Seneng banget, ya, nuduh-nuduh aku kayak tadi?” Teriak Jingga sembari naik ke atas tubuh Biru yang sudah berbaring, lalu dia kembali memukuli suaminya tanpa ampun.
“Ya ampun, aku cuma bohong dikit doang.” Biru membela dirinya sendiri sambil menahan bantal yang hendak Jingga daratkan di wajahnya.
“Ya tapi nggak manfaatin aku juga, iih rasain, nih. . . .” Jingga dengan geram kemudian membekap wajah Biru dengan bantal, hingga membuat teriakan Biru teredam di baliknya.
Biru meronta, mencoba melawan, tapi dia kesulitan karena posisi Jingga menduduki perutnya. Gadis itu tampak tersenyum puas karena bisa melampiaskan kekesalannya dengan cara seperti ini.
Namun, sejurus kemudian Jingga dibuat panik saat tiba-tiba gerakan tangan Biru yang tadi berusaha menggapai udara tampak melemas. Perlahan Jingga melepas dan melempar bantal yang tadi digunakannya untuk membekap wajah Biru.
“K–kak.” Jingga dengan takut-takut menepuk pipi Biru perlahan begitu dia mendapati Biru menutup matanya dan tak bergerak sedikitpun.
“Jangan becanda, deh, Kak.” Kali ini Jingga menepuk kedua pipi Biru dengan keras.
“Kamu belum mati, kan, Kak?” Tanyanya dengan wajah mulai panik.
“Kak, jangan mati dulu!” Jingga merengek.
“Kalau kamu mati, aku sama Winter gimana? Masa dia lahir udah jadi anak yatim?” Jingga hampir menangis. Namun, sebelum semakin panik, Jingga lantas mendekatkan wajahnya untuk memastikan suaminya masih bernapas atau tidak.
Mendapati itu, Biru yang memang sengaja ingin mengerjai istrinya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di hadapannya. Lalu, dengan segera dia mengecup pipi Jingga dan menggulingkan tubuhnya hingga kini Jingga ada di bawahnya.
“Ihh, kamu ngerjain aku? Ngeselin.” Jingga dengan kesal memukul bahu Biru.
“Aku kira kamu mati.” Dengusnya kemudian dengan mata yang berkaca-kaca. Namun, laki-laki itu hanya terkekeh melihatnya.
“Belum mati, lah, Ji. Lagian aku mana mau ngebiarin istri aku yang cantik ini jadi janda, nanti banyak cowok yang kesenengan lagi.” Ujar Biru sembari mencium bibir Jingga yang mengerucut.
“Ngeselin. Kamu udah bikin aku kesel dua kali pagi ini, tahu, nggak?” Jingga kembali memukul-mukul bahu Biru.
“Iya, maaf.” Ucap Biru menahan tangan Jingga yang tengah memukul-mukul bahunya.
“Tahu, ahh, males.” Sahut ketus Jingga.
“Ya udah, deh, gimana kalau gantinya kamu boleh minta apa aja sama aku?” Bujuk Biru, membuat mata Jingga berbinar seketika.
“Beneran?” Tanya Jingga memastikan.
“Hmm.” Biru mengangguk yakin.
“Aku mau minta mobil baru, jam tangan, tas, perhiasan, sama sepatu branded dari berbagai merk, boleh?” Jingga melipat satu per satu jarinya.
“Itu namanya pemerasan.” Biru mencubit hidung Jingga gemas hingga membuatnya terkekeh.
“Ihh, katanya apa aja.” Cebik Jingga kemudian.
“Okay, you got it.” Sambar Biru seolah tak masalah.
“Uhh, enak banget punya suami kaya.” Jingga lalu mengelus dagu Biru layaknya seekor kucing. “Minta sesuatu lagi, boleh?”
“Boleh.” Jawab Biru menatap lekat-lekat wajah Jingga yang sedang berpikir.
“Mau main sama Om Resky, boleh, nggak?” Raut wajah Biru seketika berubah masam mendengarnya.
“Haha, aku becanda.” Jingga tergelak melihat perubahan ekspresi suaminya.
“Nggak lucu.” Sahut Biru ketus.
“Ya udah, kalau gitu aku minta kamu buat ngasih ucapan selamat pagi sama Winter.” Jingga mengerling nakal dan melirik sekilas perutnya.
“Dengan senang hati, Sayang.” Biru kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Jingga sebelum kemudian memulai kegiatan panasnya pagi itu.
********
__ADS_1
To be continued . . . .