Still In Love

Still In Love
EP. 72. I Miss You 3000


__ADS_3

********


Hana terdiam menatap Jingga dengan mata memicing serta senyuman penuh arti. Sementara Langit hanya menahan tawa melihat wajah Jingga yang panik sekaligus menahan ngilu di kakinya.


“Lang, kok kamu biarin Hana buka dompet aku, sih?” Jingga melayangkan tatapan protes pada cowok di depannya yang kini malah santai menyesap ice blended miliknya.


“Cuma buka dompet, emang apa salahnya?” Sahut Langit mengedik tak peduli.


“Ihh, Langit.” Jingga dengan kesal melemparkan dompetnya ke arah Langit, namun dengan sigap dia menangkapnya.


Langit lalu membuka dompet Jingga, dia tersenyum mencibir saat mendapati foto Biru dan Jingga yang terpajang manis di dompet itu.


“Masih SMA aja udah kayak gini. Nggak kebayang sekarang.” Ledek Langit, lalu memicingkan matanya pada Jingga, mengangkat jari telunjuk dan jari tengah di kedua tangan, untuk kemudian menggerakannya seolah membentuk tanda kutip. Kedua alisnya tampak naik turun diiringi dengan kedua sudut bibir yang tertarik membentuk senyuman penuh arti. “Apa kalian udah ehem-ehem?”


“Diem, deh, jangan mikir aneh-aneh.” Jingga mengambil bantal sofa, lalu melemparkannya dan tepat mengenai kepala Langit.


“Aneh apaan? Emang bener, kan, kalian suka out of the box?”


“Enggak!”


“Iya. Itu apa buktinya?” Langit mengedik ke arah leher Jingga. Secara otomatis gadis itu menyentuh lehernya yang tidak ada apa-apa.


Langit melipat bibirnya menahan tawa, puas karena berhasil menggoda sahabatnya itu.


“Langit kamu, tuh, yaa. Iiih.” Jingga yang geram beranjak mendekati Langit dan menjambak rambutnya dengan kesal hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan. Sementara Hana yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran kecil mereka hanya geleng-geleng kepala.


“Ji, udah dong, aaah.” Langit meringis, berusaha melepaskan tangan Jingga dari kepalanya.


“Kamu, yaa. Jangan ngomong aneh-aneh, dong. Untung cuma ada Hana di sini.” Jingga mendengus sebal sesaat setelah dia melepaskan tangannya dari kepala Langit.


“Tapi emang bener.” Gumam Langit sembari merapikan kembali rambutnya menggunakan jemari tangan. Ucapannya tersebut membuat Jingga melemparkan delikan tajam padanya.


“Omongan Langit nggak usah dianggap, Han.” Ucap Jingga sambil mendudukkan dirinya di sofa.


Hana manggut-manggut dan ikut duduk di samping Jingga. “Jadi kamu cewek itu?”


“Cewek itu?” Jingga mengernyit.


“Iya, rumor cewek satu-satunya yang Prof. Biru suka. Nggak heran, sih, kalau itu kamu.” Hana menyikut lengan Jingga, menatapnya penuh arti. “Kalian cocok.”


Jingga mendengus dengan wajah merona malu, lalu pura-pura merapikan anak ramnutnya. “Apaan, sih?”


“Kenapa nggak ngasih tahu aku, sih?” Protes Hana kemudian. Selama ini mereka dekat, tapi Jingga sangat tertutup untuk urusan asmaranya.


“Emang penting, ya?” Sahut Jingga malas.


“Ya penting, lah. Aku sering banget ngeledekin kamu jomblo soalnya, udah gitu promosiin kamu ke dokter cowok di sini lagi.” Jingga mendengus saat mendengar kata ‘promosi’ dari mulut Hana. “Kalau sampai Prof. Biru denger. Aku bisa dipecat, tahu.”


Jingga berdecak kecil. “Kamunya aja yang nggak peka. Emang selama ini dia sering cariin dan masuk ke ruangan aku buat apa kalau nggak ada apa-apa?”


“Pfft, ciee ada apa-apa.” Langit kembali meledek, namun seketika bibirnya terkatup rapat begitu Jingga melemparkan tatapan tajam padanya.


“Iya, ya. Harusnya aku curiga dari dulu. Pantesan sering banget lihat Prof. Biru nyamperin ke sini.” Gumam Hana merasa dirinya telat mikir.


“Han, jangan bilang siapa-siapa, ya, soal ini!” Pinta Jingga dengan sorot mata penuh peringatan.


“Lho, kenapa nggak di publish? Semua orang bakal seneng padahal kalau tahu.” Tanya Hana heran.


“Nggak usntuk sekarang.” Jingga tersenyum tipis. Raut wajahnya berubah sendu, teringat dulu Biru mengatakan untuk jangan pernah menunjukkan kedekatan mereka di rumah sakit. Sebenarnya Jingga sangat berharap Biru tidak keberatan lagi untuk menunjukkan hubungan mereka.


“Biar surprise, nanti tahu-tahu mereka udah mau nikah.” Langit menimpali seolah membaca apa yang Jinggga pikirkan.


“Waah, rencana kalian udah sejauh itu?” Tanya Hana bersemangat.


“Ya kali mau pacaran terus, mereka udah tua.” Sahut Langit, membuat Jingga mendengus sebal.


“Bukan tua, tapi dewasa.” Koreksi Jingga tak terima.


“Sama aja.” Langit tak mau kalah.


“Ishh.” Jingga kembali melempar bantal sofa ke wajah Langit.


Hana yang melihat itu memutar bola matanya malas. Tak pernah sekalipun Hana melihat keduanya akur barang sebentar saja setiap kali bertemu.


“Pokoknya, kamu tolong jangan biang siapa-siapa.” Jingga kembali memperingatkan Hana.


“Yes, Captain.” Hana memberi hormat. Jingga hanya berdecak geli melihatnya. “Tenang aja, aku bukan cepu, kok.”


“Oke, karena kamu bukan cepu, Langit traktir kamu makan siang besok.” Ujar Jingga sekenanya, membuat Langit terperagah, karena soal makanan, Hana selalu serius menanggapinya.


“Wahh, yang bener?” Mata Hana berbinar senang. Jingga dengan cepat memberi anggukkan.


“Kok aku?” Protes Langit.


“Karena kamu banyak uang. Orang kaya nggak boleh pelit.” Jawab Jingga santai, membuat Langit mendengus sebal.


“Oke, Han. Dia udah setuju. Ayo makan siang di tempat yang mahal besok.” Seru Jingga kemudian yang dibalas anggukkan oleh Hana.


“Aku belum bilang setuju.” Langit kembali protes.


“Shuut. Kamu harus banyak beramal biar cepet dapat jodoh, ya, nggak, Han?”


“Nah bener.” Sahut Hana setuju sambil mengacungkan telapak tangannya untuk adu tos dengan Jingga, dan gadis itu membalasnya.


“Pinter banget kalian berdua urusan morotin orang.” Gerutu Langit yang sadar jika dia tidak akan menang melawan dua gadis di hadapannya.


********


Sekitar pukul empat dini hari, Jingga sudah berada di depan cermin, memoleskan sedikit lipstick di bibirnya. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja rias.


“I think I’m crazy.” Gumam Jingga sambil memegang kedua pipinya yang terasa panas.


Seperti anak remaja yang baru merasakan apa yang namanya kasmaran, Jingga dengan semangat menunggu Biru menghubunginya dengan hati yang berdebar. Kemarin sore Biru menelepon dan mengatakan akan menghubungi Jingga kembali sekitar pukul empat waktu Amerika.


Jadi, sebelum tidur Jingga sengaja memasang alarm agar membangunkannya jam tiga dini hari. Jelas saja, karena dia tidak ingin Biru nanti melihat wajah bantalnya. Maka dari itu, Jingga sudah sibuk berdandan sekarang, meski hanya memakai lipstick.


Ketika ponselnya berdering, buru-buru Jingga merapikan rambut dan memastikan wajahnya terlihat cantik. Lantas dia berjalan menuju tempat tidur, kemudian duduk bersandar pada headboard ranjang. Setelah itu, barulah dia menerima panggilan video dari Biru.


“Wahh, cantik banget pacar aku. Kamu dandan, Ji?” Tanya Biru begitu wajah Jingga muncul memenuhi layar ponselnya. Jingga mendengus. Apa terlihat sangat jelas? Padahal, dia hanya memakai lipstick.


“Enggak, aku baru bangun tidur, kok.” Elak Jingga sambil memegangi wajahnya dengan sebelah tangan, lalu menguap dibuat-buat hingga wajahnya tetap terlihat cantik. Biru yang menyadarinya tersenyum geli.


“Akting kamu buruk. Lain kali, kamu harus belajar lebih giat lagi.” Komentar Biru meledek.

__ADS_1


“Hiish. Emang kelihatan banget, ya?” Tanya Jingga kembali memegang wajahnya.


Biru mengangguk, lalu berkomentar lagi. “Emm, bibir kamu kelihatan lebih merah.”


Jingga nyengir kaku, lalu menjilat bibirnya untuk membuat lipstick di sana terhapus. Biru meringis melihat pemandangan sensual yang membuat gairahnya terpancing, meski hanya lewat virtual.


“Jangan pake lipstick semerah itu kalo lagi di luar. Nanti cowok lain kegoda lagi.” Ujar Biru memperingatkan. Jingga hanya memutar bola matanya malas, lalu mengusap bibirnya menggunakan lengan baju hingga lipstiknya benar-benar terhapus.


“Iya, nanti aku pake yang lebih merah lagi, ya?” Kelakar Jingga.


“Awas kalau kamu berani. Aku bakalan pulang saat itu juga dan langsung hapus pake bibir aku.” Ancam Biru dengan tatapan penuh peringatan.


“Ya bagus. Kalau gitu aku bakalan pake besok biar kamu cepet pulang.” Sahut Jingga menantang.


“Cieee, kangen, ya?” Ledek Biru


Jingga mendengus. “Iya aku emang kangen sama kamu. Aku kangen kamu banyak-banyak, 3000 kali.”


“Kalo gitu aku lebih kangen kamu. Karena aku kangen kamu sebanyak 3001 kali.” Balas Biru tak mau kalah.


“Iya, deh. Kamu yang menang.” Jingga pura-pura mengalah.


“Lain kali, kamu harus berusaha lebih rajin.” Ledek Biru sambil tergelak pelan. Jingga hanya mendengus.


“Ohh, iya. Gimana kerjaan kamu di sana?”


“Lancar banget. Kan daya aku udah diisi penuh sama kamu.” Jawab Biru, membuat Jingga mencebik geli.


“Terus, kenapa sekarang VC aku? Harusnya kamu istirahat biar bisa menghemat daya. Kerjaan kamu masih banyak, kan?” Tegur Jingga.


“I want to hear your voice.” Sahut Biru cepat. Di sana, terlihat Biru merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


“Karena denger suara kamu setelah capek seharian, itu bisa ngembaliin semua daya yang udah aku pake.” Lanjut Biru, membuat Jingga menahan tawanya, antara geli sekaligus senang bercampur jadi satu.


“You’re a sweet liar.” Cibir Jingga. Biru hanya terkekeh mendengarnya.


“Ngomong-ngomong, kenapa boneka panda itu kamu ajak?” Tanya Jingga kemudian sesaat setelah dia melihat boneka panda terbaring di sebelah Biru.


Sejak mendapatkan boneka panda itu dari Jingga, entah apa yang membuat Biru begitu menyukainya. Sampai-sampai kemanapun dia pergi, Biru selalu membawanya.


“Kenapa? Kamu iri karena harusnya kamu yang ada di sini?” Tanya Biru menggoda Jingga seraya membawa boneka panda itu ke dalam dekapannya.


“Iya. Harusnya aku yang ada di sana sama kamu sekarang, dia udah ngambil tempat aku.” Jawab Jingga dengan raut wajah merengut.


“Haha. Kalau gitu kita harus cepet-cepet nikah biar kamu yang aku ajak ke mana-mana. Bukan dia lagi.” Biru menunjuk boneka pandanya.


“Yaa, kayaknya emang harus kayak gitu. Dasar boneka nggak tahu terima kasih, aku bakal kembaliin dia ke timezone nanti. Bisa-bisanya dia ngerebut pacar aku.” Ujar Jingga menggerutu pada boneka panda itu. Biru tergelak gemas mendengarnya.


********


Beberapa hari berlalu, komunikasi Biru dan Jingga mulai tidak berjalan dengan baik sejak terakhir kali mereka melakukan panggilan video karena kesibukan masing-masing.


Pernah sekali saat Biru mencoba menelepon Jingga, namun tak dijawab karena Jingga masih sibuk dengan operasinya. Di sana Biru mengeluh karena ingin mendengar suara gadis itu.


Begitupula dengan Jingga, dia tak mengelak kalau dia juga ingin mendengar suara Biru karena merindukannya. Alhasil, mereka hanya bisa menatap foto di ponsel masing-masing untuk mengobati rasa rindunya.


“Uluuh, ningkat. Sekarang ciumnya di bibir.” Jingga terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya saat tiba-tiba Langit sudah berada di belakang dan mengintip apa yang sedang dia lihat di ponselnya.


Langit yang baru saja mengambil pesanan makanan mereka, diam-diam berjalan mendekati Jingga yang sedang fokus dengan ponselnya. Saking fokusnya, Jingga bahkan tidak menyadari kalau Langit sudah berdiri di belakang dan mengintip apa yang sedang dilihatnya, yang ternyata dia sedang melihat fotonya yang diambil bersama Biru di dalam mobil saat mengantarnya ke Bandara waktu itu.


“Ngeselin. Mata kamu bintitan, lho, ngintip-ngintip kayak tadi.” Gerutu Jingga kesal.


“Amit-amit. Kok kamu doain aku kayak gitu, sih? Nanti teman kamu nggak ganteng lagi kalau sampai mata aku bintitan.” Sahut Langit tak terima sesaat setelah dia mengambil tempat duduk di hadapan Jingga.


“Bukan doain. Tapi itu kata orang tua zaman dulu.” Sanggah Jingga mulai meminum fruit tea miliknya, bersiap-siap untuk makan.


“Tapi aku tadi nggak ngintip, kok. Cuma nggak sengaja kelihatan.” Elak Langit, dia benar-benar takut kalau sampai benar matanya bintitan.


“Apa bedanya?” Tanya Jingga tertawa kesal sekaligus geli.


“Udah, ahh. Jangan bahas bintitan, serem, tahu, kalau beneran terjadi.” Ucap Langit bergidik ngeri. “Mendingan sekarang kita makan. Nanti ayamnya keburu kabur karena terlalu lama kita diemin.”


Jingga berdecak geli sembari geleng-geleng kepala mendengar ucapan nyeleneh Langit. Cowok itu memang selalu konyol.


Setelahnya, tak ada percakapan lagi di antara mereka. Jingga dan Langit fokus menikmati makanan masing-masing. Hanya terdengar bunyi fried chicken yang berhasil mereka gigit dan bunyi minuman yang mereka sesap melalui sedotan sepanjang mereka makan.


“Biru kapan pulang, Ji?” Tanya Langit setelah dia selesai dengan makanannya, lalu mulai menyendok es krim sebagai makanan penutup.


“Katanya pas nikahan Amber. Dia langsung ke Bali nanti.” Jawab Jingga setelah membersihkan mulutnya dengan tisu. Sama halnya dengan Langit, kini tangannya terulur mengambil es krim untuk kemudian menikmatinya.


“Kalau dia nggak pulang pas nikahan Amber gimana?” Tanya Langit lagi, lalu memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya.


“Ya gak apa-apa. Berarti dia masih sibuk di sana.” Jawab Jingga santai.


“Kita, kan, mau sekalian liburan bertiga di sana. Nggak seru, dong, kalau nggak ada dia.” Ujar Langit mengingatkan rencana mereka untuk bermain bersama seharian di Bali.


“Selama ini kita main berdua seru-seru aja.” Sahut Jingga dengan wajah merengut, merasa cemburu karena sepertinya Langit lebih menyukai teman barunya sekarang.


“Sekarang, kan, beda. Coba kamu telepon dia, tanyain pulang apa enggak nanti. Kalau enggak, kita nggak usah jadi liburan.”


Jingga mendengus mendengar penuturan Langit. Memang benar, terkadang kalau sudah dapat teman baru, teman lama dilupakan.


“Di sana masih subuh. Kayaknya dia masih tidur. Gak, ahh, kasihan.” Tolak Jingga sesaat setelah melihat jam yang memang masih menunjukkan pukul setengah lima sore.


“Kamu pernah bangunin aku tengah malam, tega-tega aja, tuh.” Sindir Langit.


Jingga berdecak kecil. Sesaat dia terdiam untuk kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Lalu, dengan ragu mencoba menghubungi Biru lewat panggilan video.


Jingga tidak yakin cowok itu akan mengangkatnya. Selama lima hari ini bahkan mereka lost contact.


“Ji . . . .” Sahut Biru di seberang sana dengan suara parau, khas orang bangun tidur. Jingga terkejut sekaligus senang saat melihat Biru dengan wajah bantalnya memenuhi layar ponsel.


“Aku bangunin kamu, ya?” Tanya Jingga tak enak hati.


Langit mencebik. Gadis itu bahkan sering membangunkannya seperti alarm kebakaran. Tapi tidak pernah sekalipun merasa tak enak hati.


“Enggak, kok. Aku malah seneng.” Jawab Biru menyunggingkan senyum hangatnya. Suara yang sangat dia rindukan, akhirnya bisa dia dengar juga.


“Halaah, bohong banget. Gue dulu telepon pagi-pagi, lo marah.” Sambar Langit yang kini duduk di sebelah Jingga dan langsung merebut ponselnya, hingga kini wajah Langitlah yang memenuhi layar ponsel Biru.


“Dihh, beda cerita kalo yang gue denger suara lo. Bikin kuping gue sakit, tahu, nggak?” Dan nada suara yang tadinya terdengar lembut dan sangat manis kini berubah ketus.


“By the way, kalian jalan berdua?” Tanya Biru dengan mata yang memicing, mencoba mencari-cari siapa tahu ada orang lain juga di sana.

__ADS_1


“Berdua, lah. Emang sama siapa lagi?” Sahut Langit.


“Jagain Jingga gue. Kalau ada cowok yang coba-coba ngelirik dia, langsung colok aja matanya.”


Jingga yang baru memasukkan es krim ke dalam mulutnya, tanpa aba-aba es krim tersebut meluncur begitu saja ke kerongkongan, hingga membuatnya tersedak dan langsung terbatuk-batuk.


Jingga pikir, mungkin karena Biru berteman dengan Langit, pacarnya itu jadi ikutan konyol seperti ini.


“Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?” Pertanyaan Biru membuat tenggorokan Jingga semakin gatal. Telinganya tak terbiasa dengan panggilan seperti itu. Tak menjawab, Jingga memilih untuk menyesap fruit teanya.


“Dihh, geli gue dengernya. Yuck.” Cibir Langit memasang ekspresi seolah ingin muntah.


“Kampret lo.” Biru mendengus kesal.


Langit memang selalu menguji kesabarannya. Kalau saja ada casting film untuk peran orang yang menyebalkan, Biru akan mendaftarkan Langit sekarang juga. Dan Biru yakin, Langit pasti akan mendapatkan peran tersebut.


“Ohh, iya. Lo jadi pulang, kan, pas nikahan Amber?” Tanya Langit kemudian


“Gue nggak tahu.” Biru menghela napas berat, tidak bisa menjanjikan karena pekerjaannya di sana belum benar-benar selesai.


“Yaah, kok gitu?” Kali ini Jingga ikut menimpali dan merapat pada Langit agar wajahnya masuk kamera.


“Aku nggak bisa mastiin, Yang.” Jawab Biru dengan raut wajah menyesal.


“Bakalan lebih lama, ya, di sananya?” Tanya Jingga sedikit kecewa.


“Aku nggak tahu.” Biru terdengar lesu.


“Tenang aja, Ji. Kalau kamu mulai kesepian, kamu bisa selingkuh sama aku.” Celetuk Langit tiba-tiba sambil merangkul bahunya, membuat Biru di seberang sana mengambil bantal seolah siap melemparkannya pada Langit.


“Haha, makannya cepetan pulang lo. Udah gue tutup, yaa. Kami masih mau jalan nih, berdua.” Tutur Langit menekankan kata terakhirnya, lalu mengakhiri sepihak panggilan video tersebut. Biru yang ada di seberang sana hanya bisa mengumpat kata-kata kasar untuk Langit.


“Kesel banget pasti dia. Haha” Langit tertawa puas karena telah berhasil membuat Biru kesal.


Jingga yang melihatnya hanya bisa berdecak geli. Rasanya melegakan. Jingga tak pernah menyangka mereka bertiga akhirnya bisa akrab seperti ini.


********


Hari ini adalah hari pernikahan Amber, Langit dan Jingga sudah duduk di kursi tamu dengan mengenakan pakaian pesta warna peach sesuai dresscode.


Jingga sedikit kecewa karena Biru tidak datang, tapi dia juga tidak boleh egois, karena apa yang sedang Biru kerjakan di Amerika sana berhubungan dengan pasien.


Tempat pernikahan yang diadakan di salah satu resort indah dan mewah di kawasan Nusa Dua itu cukup membuat mata Jingga berbinar.


Bagaimana tidak? Itu adalah tempat pernikahan yang romantis, dengan latar belakang matahari terbenam dan lautan yang membentang indah. Tak hanya itu, lampu-lampu yang menggantung di setiap pepohonan membuat tempat tersebut semakin romantis.


Jingga bahkan meneteskan air mata penuh haru saat Amber dan suaminya selesai mengucapkan janji suci ditemani matahari terbenam. Uuh, Jingga jadi ingin.


“Uhh, so sweet.” Gumam Jingga pelan seraya menghapus air mata yang sedikit keluar dari sudut matanya.


“Lebay banget, Ji. Udah deh, jangan malu-maluin.” Cibir Langit setengah berbisik. Sontak saja Jingga langsung memukul lengan atas cowok itu dengan keras, hingga membuatnya meringis tertahan.


“Kamu bener-bener ngerusak suasana, tahu, nggak?” Ujar Jingga kesal. Padahal, tadi dia sedang mengikuti acaranya dengan khidmat. Langit tak mengindahkannya, cowok itu mendelik kesal sambil mengusap-usap lengannya yang masih terasa panas.


“Aku juga pengin nikah pake konsep kayak gini.” Hati Jingga berbunga-bunga hanya dengan membayangkannya. “Bisa langsung sekalian honeymoon di laut.”


“Kamu mah ngebayanginnya itu mulu. Mesum.” Cibir Langit lagi.


“Ish.” Jingga melayangkan cubitan keras di pinggang Langit, membuatnya kembali meringis kesakitan.


Malam kian larut, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Namun, Biru tak kunjung datang.


Sejak tadi Jingga terus mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat, berharap Biru muncul. Tapi, sampai sekarang tetap saja cowok itu belum datang. Sepertinya Biru memang tidak bisa pulang hari ini.


Jingga tidak terlalu kecewa, karena sebelumnya Biru sudah mengatakan kalau dia tidak bisa memastikan. Tapi tetap saja hatinya berharap Biru akan datang hari ini. Jingga benar-benar merindukannya.


“Balik ke hotel, yuk.” Ajak Langit mengejutkan Jingga yang terdiam melamun.


“Ehh, ohh- ayo.” Jawab Jingga yang langsung mengekori Langit untuk berpamitan pada Amber, lalu keluar dari area pesta untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Sesampainya di lobby hotel, Jingga menghentikan langkah. Dia lihat jam di pergelangan tangannya, belum terlalu larut. Cukup untuknya jalan-jalan sebentar menikmati angin malam di tepi pantai.


“Kenapa, Ji?” Langit berbalik saat merasakan Jingga berhenti mengikutinya di belakang.


“Kayaknya aku mau jalan-jalan dulu, deh, sebentar.” Jawab Jingga. Langit menghembuskan napas berat. Sebenarnya, dia sudah mengantuk dan ingin tidur. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan sahabatnya itu pergi sendirian.


“Kamu nggak usah temenin aku. Aku bisa sendiri, kok. Lagian cuma sebentar.” Ucap Jingga kemudian seolah mampu membaca raut wajah Langit.


“Beneran nggak apa-apa?” Tanya Langit ragu sekaligus khawatir.


“Apaan, sih. Aku ke Pakistan sama Yaman sendirian aja bisa. Ini cuma jalan-jalan di sekitaran pantai masa harus ditemenin.”


“Ya udah, deh, sana. Tapi jangan malam-malam pulangnya, nanti kalau Biru tahu aku bisa kena semprot. Berisik dia kalau ngomel-ngomel.” Pesan Langit.


“Ya gak usah bilang-bilang sama dia, lah, kamu ini kurang kerjaan banget.” Sahut Jingga kesal.


“Ya udah sana.”


Jingga tersenyum semringah, lalu berbalik dan keluar dari hotel. Tak peduli jika dia masih mengenakan gaun pesta, Jingga tak ingin membuang-buang waktunya hanya untuk mengganti baju.


Beberapa saat kemudian. Mata Jingga berbinar terang begitu melihat hamparan laut yang menghitam dan hanya diterangi sinar bulan, tak kalah indah dari pemandangan pantai di waktu senja.


Semilir angin malam dia biarkan menerpa wajahnya dengan lembut, deru ombak yang terombang-ambing meriuhkan keheningan malam. Tenang sekali, sudah lama Jingga tidak pergi ke pantai.


Gadis itu perlahan melangkahkan kakinya menyusuri sisi pantai, dia kemudian melepaskan heels dari kakinya untuk mempermudah berjalan di atas pasir pantai yang halus itu.


Matanya terpejam, seandainya saja dia bisa menikmati ini bersama Biru.


Jingga membayangkan dia bergandengan tangan dengan Biru saat ini sembari terus berjalan menyusuri sisi pantai, lalu melemparkan candaan satu sama lain, hingga akhirnya mereka tertawa bersama. Ahh, itu akan sangat menyenangkan. Sayang sekali cowok itu tidak bisa ada di sini.


“Tck, dia emang kebiasaan datang terlambat.” Jingga menggerutu sembari kakinya menendang-nendang pasir. Sebenarnya Jingga tidak bermaksud mengucapkan kata-kata seperti itu, hanya saja saat ini dia sangat merindukan Biru.


“Aku cuma sedikit terlambat.”


Jingga menghentikan langkah saat pendengarannya menangkap suara yang sangat dia kenal dan rindukan.


Gadis itu lantas berbalik. Pupil matanya melebar ketika dari jarak sedikit jauh beberapa meter darinya, dia melihat Biru yang sedang tersenyum ke arahnya. Cowok itu kemudian melangkahkan kakinya dengan setengah berlari untuk menghampiri Jingga.


“Kakak . . . .”


********


To be continued . . . . .

__ADS_1


__ADS_2