Still In Love

Still In Love
EP. 85. Winter


__ADS_3

*********


Keesokan harinya, Jingga bersiap-siap di depan cermin, memoles wajahnya dengan sedikit make up agar tidak pucat diterpa udara dingin.


Rencana untuk jalan-jalan tadi malam hanyalah rencana. Biru, laki-laki itu dengan curangnya tak membiarkan Jingga beranjak sedikitpun dari tempat tidur.


“Harus banget, ya, kita jalan-jalan hari ini?”


“Apa? Kamu mau ngapain lagi?” Jingga mendelik tajam ke arah Biru yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih setengah basah.


“Aku masih ngantuk. Capek, nih.” Ujar Biru sambil menguap, kemudian mendudukkan dirinya di atas meja rias untuk memperhatikan Jingga yang tengah memoleskan sesuatu di wajahnya.


“Siapa suruh kamu main sampai pagi?” Jingga kembali beralih ke cermin, memoleskan lipstick pada bibirnya sebagai sentuhan terakhir. Tak peduli dengan keluhan Biru, dia yakin itu hanya akal-akalannya saja untuk kembali menahan Jingga di kamar dan mengajaknya bergelung di bawah selimut seperti tadi malam.


“Emang kamu nggak capek?” Biru merampas lipstick dari tangan Jingga yang hendak menambahkan satu polesan lagi di bibirnya. “Jangan terlalu tebel.”


Jingga mendengus dan mencoba merebut kembali lipstick itu dari tangan Biru, tapi Biru malah semakin menjauhkannya.


“Aku capek, sih. Tapi semangat pengin jalan-jalan lebih besar.” Jawab Jingga, lalu menggerakkan tangannya. “Sini kembaliin.” Pintanya kemudian dengan raut wajah yang mulai kesal.


“Jangan ditambahin lagi, Ji. Itu bibir kamu udah merah banget.”


Jingga memutar bola matanya malas sebelum akhirnya hanya bisa menurut, meski mulutnya menggerutu. “Iya. Lagian ini warnanya ngggak merah, mana ada bibir aku merah banget?”


Biru tersenyum seraya mengedik tak peduli, lalu menyerahkan lipstick itu kembali pada Jingga.


“Pokoknya aku nggak suka kamu dandan terlalu cantik kalau lagi di luar.” Ucap Biru sambil mengusap bibir Jingga menggunakan ibu jarinya. Jingga hanya memutar bola matanya malas tanpa ingin mendebatnya.


“Ya udah, cepetan pake jaket kamu.” Titah Jingga mengalihkan pembicaraan, gemas sendiri melihat Biru masih santai sementara Jingga sudah siap dan tampil cantik dengan pakaian musim dinginnya.


“Pakein, dong.” Pinta Biru dengan senyum penuh arti.


Jingga mendengus, merasa setelah menikah Biru jadi terlampau manja padanya. Sejak kemarin laki-laki itu terus menempel seperti anak kecil. Tak tanggung-tanggung, tadi pagi dia juga meminta Jingga untuk menyuapinya makan.


“Oke, anak manja. Sini Mama pakein.” Kelakar Jingga dan berjalan ke tempat tidur untuk mengambil jaket Biru di sana.


Biru sendiri hanya tersenyum kesenangan dan menerima perlakuan Jingga memakaikan jaket padanya. Ternyata menyenangkan bermanja-manja pada istri sendiri.


“Kamu nunduk dikit, dong, aku nggak nyampe, nih.” Pinta Jingga saat dia akan memasangkan scarf di leher Biru. Meski Biru sudah merendahkan tubuhnya, tapi tetap saja Jingga harus sedikit berjinjit karena tubuh suaminya itu terlalu tinggi.


“Selesai.” Seru Jingga begitu selesai memasangkan scarf untuk melindungi leher Biru agar tetap hangat.


“Belum. . . .” Ucap Biru sambil mengulum senyum penuh makna.


“Apa lagi?” Tanya Jingga dengan sebelah alis yang terangkat.


“Ini baru selesai.” Ujar Biru sesaat setelah dia meninggalkan satu kecupan di bibir Jingga sekilas. Jingga memutar bola matanya jengah, Biru selalu saja menutup segala sesuatu dengan ini.


“Are you ready?” Biru mengulurkan tangannya.


“Go. . . .” Seru Jingga semangat sembari meraih uluran tangan Biru.


Biru dan Jingga lalu meninggalkan hotel untuk memulai tournya, berjalan-jalan menikmati keindahan kota St. Moritz. Tak lupa Biru membawa kamera dan travel jurnalnya untuk mengabadikan setiap moment yang akan dia habiskan bersama Jingga nanti.


Dan yang pertama kali mereka lakukan adalah menikmati wisata alam yang ditawarkan Negara yang termasuk dalam Visa Schengen ini.


Biru dan Jingga melakukan perjalanan kereta Glacier Express yang disebut sebagai perjalanan kereta terpelan di dunia. Kereta yang melintasi dua gunung St. Moritz dan Zermatt ini benar-benar menyuguhkan pemandangan pegunungan yang spektakuler sepanjang perjalanannya.


Mata Jingga berbinar tatkala melihat lembah yang mempesona, hutan yang sangat menarik, dan aliran sungai yang mengoceh. Benar-benar menyejukkan mata, sudah lama sekali matanya tidak dimanjakan dengan hal seperti ini.


Biru dan Jingga benar-benar menikmati pemandangan indah Swiss tanpa harus terburu-buru. Selain itu, kereta api ini juga menyediakan makanan dengan pelayanan yang sangat baik, membuat pengalaman perjalanan mereka kian berkesan.


Di sela-sela perjalanannya, tak lupa Biru selalu memotret Jingga yang dia ambil secara candid dengan berbagai ekspresi, lalu menempelkannya pada jurnal. Hatinya terasa teduh melihat Jingga yang tampak bahagia menikmati perjalanannya.


“Kamu seneng, nggak?” Tanya Biru sambil mengelus dagu Jingga lembut.


Gadis itu mengangguk cepat tanpa menyurutkan binar bahagia di matanya. “Seneng banget. Ini pertama kalinya aku ke sini.”


“Habis ini kamu mau ke mana?” Biru mulai menikmati walnut tart miliknya.


“Aku mau belan–”


“Belanjanya nanti aja di hari terakhir.” Sela Biru cepat, membuat Jingga mengerucutkan bibirnya lucu.


“Ish, kalau gitu ngapain nanya?” Dengus Jingga sebal.


“Ya maksud aku, ke mana aja gitu kecuali belanja.” Ralat Biru.


“Ya udah, kita jalan-jalan aja di sekitar danau. Habis itu foto-foto di sana.” Jawab Jingga akhirnya, mengingat perjalanan keretanya hari ini memakan waktu hampir sembilan jam, pasti mereka akan tiba di hotel sekitar sore hari atau menjelang malam.


“Nggak mau main ice skating?” Tanya Biru heran, padahal sejak awal kedatangannya kemarin, Jingga sangat bersemangat mengajaknya untuk bermain itu.


“Lihat nanti aja, deh.” Jawab Jingga seolah semangatnya menyurut. Air mukanya mulai terlihat tidak nyaman.


Jingga tidak tahan dengan udara dingin, sekarang saja hidungnya sudah memerah dan berair. Maka dari itu, mendadak dia tidak bersemangat untuk jalan-jalan di malam hari, meski sebenarnya sangat ingin mengajak Biru bermain ice skating.


“Oke kalau gitu.” Sahut Biru yang kembali sibuk mengunyah makanannya.


“Aku lihat di drakor, kayaknya enak banget bisa jalan-jalan di musim dingin kayak gini. Tapi tubuh aku kok nggak mendukung banget, ya?” Jingga mengeluh karena kondisi hidungnya semakin parah.


Biru yang melihat kondisi Jingga tampak khawatir, tangannya lantas terulur menyentuh dahi Jingga.


“Kamu sakit, ya?” Tanyanya khawatir.


Jingga melepaskan tangan Biru yang ada di dahinya, lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Kayaknya cuma alergi.”


“Kamu alergi dingin?” Biru meringis mendapati Jingga bersin-bersin.


“Iya, hidung aku suka meler kayak gini kalau cuaca dingin.” Sahut Jingga seraya mengambil tisu dari tasnya. “Tapi ini normal, kok.” Lanjutnya menenangkan agar Biru tidak khawatir.


“Ya udah, kamu minum ini biar tubuh kamu hangat.”


“Makasih.” Jingga meraih dan meminum coklat panas asli Swiss yang disodorkan Biru padanya.


“Padahal, aku udah nyaranin diem aja di kamar seharian.” Ucap Biru yang langsung dibalas delikkan tajam oleh Jingga. Nyaris saja dia tersedak minuman coklat itu.


“Diem apanya? Ish.” Cebik Jingga di sela-sela meminum coklat panasnya.


“Ya kamu diem, aku gerak di atas.” Sahut Biru nyeleneh, membuat Jingga langsung melayangkan cubitan keras di pinggangnya.


“Becanda, Yang, ihh.” Laki-laki itu terkekeh pelan. “Mau makan ini, nggak?” Tawarnya kemudian sembari mengangkat *walnut*tart miliknya.


Tanpa menjawab, Jingga lalu mengarahkan wajah mendekat pada Biru dan membuka mulutnya, meminta laki-laki itu menyuapinya.


“Enak?” Tanya Biru sembari membersihkan remahan pastry di sekitar mulut Jingga. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukkan kepala.


“Nanti di hotel aku mau makan ini lagi.” Ujar Jingga kemudian setelah menelan makanannya.


“Yang ini aja belum kamu habisin, Ji.” Komentar Biru gemas. Namun, Jingga tak mengindahkan dan malah sibuk memasukkan pastry itu ke dalam mulutnya dengan rakus.


Biru hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Ini adalah hal yang paling dia sukai dari Jingga sejak dulu. Gadis ini tidak pernah jaga image di depannya dan tak pernah pula menutupi apapun yang ada dalam dirinya, baik sifat atau sikapnya. Jingga selalu tampil apa adanya.


Seusai menghabiskan makanannya, kini Biru dan Jingga kembali fokus menikmati pemandangan dari balik jendela kaca kereta.


Jingga menyandarkan kepalanya di bahu Biru sambil menggenggam tangannya untuk saling memberi kehangatan. Sesekali Biru mengecupi punggung tangan istrinya itu, dia tak bisa berbuat lebih karena mereka sedang berada di tempat umum.


“Kak, mau berbuat nakal, nggak?” Bisik Jingga di telinga Biru setelah beberapa saat terdiam.


“Banyak orang, Ji.” Ujar Biru yang melihat sekitar, semua orang terjaga untuk melihat pemandangan. Masa iya mereka berbuat aneh-aneh di sana.


“Nggak bakalan ada yang lihat, kok.” Seru Jingga yang melihat semua orang tampak fokus melihat pemandangan.


“Emang kamu mau apa?” Bisik Biru seduktif.


“Coret-coret kereta.” Mata Biru membelalak ketika Jingga menunjukkan spidol permanent di depan wajahnya. “Aku mau nulis kalau aku sama kamu pernah naik ini.”

__ADS_1


“Jangan aneh-aneh. Kamu mau, kita ditangkap petugas keamanan karena merusak fasilitas?” Tegur Biru dengan cepat menyambar spidol permanent itu dari tangan Jingga.


Rupanya, ini berbuat nakal yang dimaksud Jingga. Memang benar apa yang dikatakan Ayah mertuanya jika Jingga pembuat onar.


“Ahh, nggak seru kamu, mah. Dulu aku coret-coret cable car di Taman Namsan aja nggak apa-apa.” Jingga mendengus dengan tangan bersedekap. Kesal karena Biru tidak bisa diajak kerja sama. Padahal, perbuatan nakal seperti ini sangat menantang.


“Aku patuh sama aturan.” Biru mengacak-acak rambut Jingga dengan gemas.


“Kamu sama aku emang nggak sefrekuensi. Beda banget sama Lang–”


“Kita sefrekuensi di ranjang.” Sambar Biru mengecup bibir Jingga cepat. “Awas aja berani muji-muji cowok lain atau ngebanding-bandingin aku sama mereka.”


Jingga mengerucut, tapi tak lama karena melihat wajah Biru mulai kesal. Sadar salah ucap, Jingga lalu memeluk laki-laki itu untuk merayunya.


“Nggak berani aku muji-muji cowok lain. Kamu yang terbaik, Prof.”


********


Selesai melakukan perjalanan kereta Glacier Express, Biru dan Jingga berjalan-jalan di tepian danau St. Moritz yang membeku itu. Mereka memperhatikan orang-orang yang sedang bermain ice skating di atas danau sana.


“Into the unknown, into the unknown, into the unknown. . . .”


Jingga mengumandangkan sepenggal lagu dari soundtrack film Frozen begitu melihat orang-orang dengan sepatu ice skatingnya bergerak lihat di atas es.


“Kalau mau main, ayo.” Ajak Biru yang melihat Jingga tampak ragu antara ingin bermain dan tidak.


“Tapi aku nggak bisa mainnya.” Jingga nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


Sebelumnya memang Jingga hanya bersemangat ingin bermain karena dia mengingat Elsa yang tampak keren saat berjalan di atas es, bukan karena benar-benar bisa.


“Kamu heboh banget kemarin, aku kira emang bisa.” Cibir Biru.


Gadis itu mendengus. “Ngeledekin, kayak sendirinya bisa aja.”


“Aku, mah, bisa. Emangnya kamu, bisanya cuma heboh doang?” Biru kembali meledek, membuat Jingga mengerucutkan bibirnya lucu.


“Ayo main.” Ajak Biru seraya menarik lengan Jingga untuk berjalan menuju stand penyewa sepatu ice skating.


“Nggak mau.” Tolak Jingga menghentikan langkah. Nyalinya benar-benar menciut sekarang. Sebenarnya bukan menciut, lebih tepatnya tidak percaya diri karena orang lain terlihat sangat lihai menggerakkan kakinya ketika meluncur di atas es sana.


“Lho, kenapa?” Biru mengernyitkan alisnya heran.


“Nanti kalau aku main, terus jatuh, kan malu. Nggak mau, ahh.” Jingga lebih memilih untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.


“Kamu, kan, mainnya sama aku, Sayang.” Ujar Biru gemas. “Kamu bisa pegangan sama aku.”


Jingga terdiam sejenak untuk berpikir, sejurus kemudian dengan ragu dia menyahuti. “Tapi awas jangan ngeledekin aku nanti.”


“Iya, kamu tenang aja.” Balas Biru.


Setelah menyewa sepatu ice skating dan memakainya, kini mereka sudah sudah siap untuk berseluncur di gelanggang es danau St. Moritz yang membeku itu.


Jingga tidak ingin bergerak sama sekali begitu kakinya turun menyentuh es, dia hanya berdiri kaku, berusaha mempertahankan bobot tubuhnya agar tidak jatuh. Namun, sejurus kemudian dia mulai bermain saat Biru membujuk dan menuntunnya sedikit ke tengah danau.


“Kak, aku takut jatoh.” Rengek Jingga takut. Tubuhnya menengang dengan pandangan mencuat ke bawah, pikirannya melayang membayangkan danau es yang sedang dipijaknya tiba-tiba mencair.


“Kan aku pegangin.” Biru berusaha menenangkan dan menuntunnya sedikit lebih jauh. Tapi gadis itu kembali tak ingin bergerak.


Menyebalkan sekali, dalam film yang Jingga lihat, hal ini tampak mudah. Tapi, saat mencoba melakukannya sendiri, es yang dipijaknya begitu licin dan berulang kali dia hampir terjatuh kalau saja Biru tidak menahannya.


“Kak, kamu balik badan, deh.” Jingga menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Biru untuk memutar tubuhnya menghadap ke belakang.


“Kenapa?” Tanya Biru heran, namun dia tetap menuruti permintaan Jingga.


“Gini.” Jingga memeluk erat tubuh Biru dari belakang hingga dia tidak khawatir atau takut jatuh lagi sekarang.


“Ayo jalan.” Perintahnya kemudian layaknya Biru adalah tukang ojek.


“Tck, curang.” Decak Biru. Namun, Jingga tak peduli dan malah semakin mempererat pelukannya pada perut Biru.


Pada akhirnya, keduanya sama-sama menikmati permainan itu. Walaupun Biru sedikit kesulitan karena dia bergerak sendiri dan Jingga hanya mengikuti ke manapun arah kakinya bergerak di arena seluncur itu.


Sesekali Jingga menjerit panik saat Biru hampir tak bisa menjaga keseimbangannya, namun sejurus kemudian mereka tertawa karena tak jadi terjatuh. Terus begitu berulang-ulang, hingga mereka cukup lelah dan memilih untuk beristirahat dengan duduk di bangku yang ada di sana.


“Mau minum gluhwein, nggak?” Tawar Biru sembari menangkup wajah Jingga yang tampak semakin pucat dan terasa dingin. Jingga menggelengkan kepalanya pelan.


“Kamu, kan, tahu aku nggak minum alkohol.” Ujar Jingga kemudian. Meski minuman rempah itu akan menghangatkan tubuhnya, tapi tetap saja dia tidak akan suka karena mengandung wine di dalamnya.


“Kan kita bisa pesen yang tanpa alkohol, Ji.” Seru Biru mengingatkan.


“Enggak, ahh. Aku nggak suka, nanti rasanya kayak jamu lagi.” Jingga bahkan sudah mual membayangkan minuman racikan rempah-rempah yang mengandung kayu manis dan bunga cengkeh itu. Minuman jahe saja dia tidak suka, apalagi yang terlalu banyak mengandung rempah-rempah.


“Ya udah, kalau kamu nggak mau, kita balik ke hotel sekarang.” Biru mengelus lembut kepala Jingga sekilas.


“Kok sekarang?” Dan Jingga sepertinya masih betah berada di luar.


“Kamu udah pucat banget, Ji. Aku nggak mau kamu kenapa-napa, nanti kita nggak bisa kerja keras lagi.” Tutur Biru dengan mata mengerling penuh arti.


Alis yang bertaut bingung. “Kerja keras?”


“Kerja keras bikin cucu buat orang tua kita, Sayang.” Jelas Biru enteng.


Dan tak butuh waktu lama bagi Jingga mendaratkan satu cubitan keras di perut Biru hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


“Nggak mau rugi banget, yaa. Jadi kamu khawatir sama aku cuma karena itu?” Dengus Jingga kesal sekaligus geli.


“Becanda, Ji.” Biru terkekeh di sela ringisannya sambil berusaha melepaskan tangan Jingga dari perutnya.


Gadis itu merengut lucu. “Ngeselin.”


“Aku emang beneran khawatir. Lihat, deh, hidung kamu makin meler kayak gini.” Biru mengusap ingus Jingga yang sedikit keluar menggunakan punggung jari telunjuknya.


“Sejam lagi, deh.” Pinta Jingga dengan puppy eyesnya. Biru menggeleng, tak terpengaruh dengan rayuan menggemaskan istrinya itu.


“Ayo. . . .” Biru beringsut, mengulurkan tangannya untuk membantu Jingga berdiri.


“Tapi aku mau makan malem di restoran deket sini dulu.” Pinta Jingga lagi sebelum meraih uluran tangan Biru.


“Nggak.” Sahut Biru tegas, menggerakkan uluran tangannya agar Jingga segera meraihnya.


“Aku mau nyobain makanan khas Swiss. Lagian udah dari lama aku search di internet rekomendasi makanan yang must try di sini.” Rengek Jingga menunjukkan ponselnya pada Biru.


“Yang kayak gitu di hotel juga banyak, Ji.” Balas Biru setelah membaca deretan jenis makanan yang menurut Jingga direkomendasikan itu.


Jingga mendengus, dasar pelit.


“Kamu nggak mau? Awas aja nanti anaknya ileran.”


Biru mengernyitkan keningnya rak mengerti. “Hah? Gimana-gimana?”


“Kak, kayaknya di sini udah ada anak kamu, deh. Aku ngidam sekarang.” Jingga mengelus perutnya, lalu mendongak menatap Biru sambil mengerjap-erjapkan matanya lucu.


Biru mendengus gemas sekaligus jengkel melihat tingkah Jingga yang sedang mencoba merayunya itu.


“Mana ada secepat ini.” Biru mengusap penuh wajah Jingga menggunakan telapak tanganya.


“Ish, pelit. Orang pelit kuburannya sempit, tahu.”


Biru terperangah antara sebal dan geli, Jingga mengatakan itu dengan wajah yang begitu menggemaskan. Ingin rasanya dia menguyel-uyel gadis itu.


“Ayo.” Biru kembali mengulurkan tangannya.


“Ke mana?” Tanya Jingga malas.


“Katanya mau kulineran di restoran deket sini.”

__ADS_1


Mata jernih Jingga membola dengan binar senang, lantas dengan semangat dia meraih uluran tangan Biru. “Yes! Let's go. . . .”


“Ambil barang kita dulu, Ji.” Biru menahan lengan Jingga yang hendak pergi begitu saja.


Gadis itu terkekeh, karena terlalu bersemangat membuatnya melupakan tas mereka yang dititipkan di tempat penitipan barang.


Setelah mengambil barangnya, Jingga lantas menarik lengan Biru untuk kemudian dia memimpin jalan, membiarkan Biru mengikutinya ke restoran yang dia tuju.


********


Selesai makan malam di restoran, Biru dan Jingga kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Jelas saja, karena letak restoran itu tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.


Jingga tampak tersenyum puas sepanjang perjalanannya kembali ke hotel, dia senang karena Biru membelikan semua makanan yang dia inginkan.


Namun, lain halnya dengan Biru. Laki-laki itu kembali dibuat takjub karena menemukan sisi lain dari Jingga. Dia baru tahu dan tidak menyangka jika Jingga bisa menghabiskan makanan sebanyak itu.


Ada sekitar delapan menu khas Swiss yang Jingga pesan memenuhi meja makan mereka tadi, dari mulai kentang rosti, pizza truffle, sosis, dan yang lainnya semua Jingga habiskan tanpa sisa.


“Kamu nggak takut gendut?” Biru menelan ludahnya saat melihat Jingga makan dalam porsi banyak tanpa khawatir bobot tubuhnya akan membengkak. Saat ini malah Biru yang terlihat khawatir.


“Tenang aja, walaupun aku makan semua menu yang ada di restoran ini, aku nggak bakalan gendut.” Ujarnya percaya diri.


Jingga memang memiliki tubuh dengan metabolisme cepat, sehingga berat badannya tidak akan mudah naik sebanyak apapun dia makan, dan itu adalah berkah bagi setiap perempuan.


“Kalau kayak gini dompet aku yang kurus, Ji.” Gurau Biru sambil menyeka saus yang belepotan di sudut bibir Jingga.


“Nyenengin istri itu wajib. Jadi kamu nggak boleh pelit, apalagi nraktir aku makan. Uang kamu malah makin banyak nanti.” Sahut Jingga dengan mulut penuh makanan, tapi ucapannya masih jelas terdengar di telinga Biru.


“Lagian aku nggak pernah pelit sama kamu.” Balas Biru tak terima, sejurus kemudian seringai nakal tersungging di bibirnya. “Dan aku emang harus ngasih kamu makan banyak, biar kamu punya tenaga ekstra buat olahraga malam kita.”


Jingga memutar bola matanya malas, lalu dengan kesal memasukkan paksa setengah sisa sosis yang baru saja dimakannya ke dalam mulut Biru. “Mending kamu makan, deh, biar otak kamu isinya nggak itu-itu terus.”


“Aku lihat kamu makan aja udah kenyang, Ji.” Ujar Biru sambil mengunyah sosis itu hingga terdengar kurang jelas di telinga Jingga.


********


Setibanya di hotel, Jingga melepaskan jaket dan scarf yang melekat di tubuhnya. Gadis itu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin berendam air hangat di bathub dengan aromatherapy untuk menghangatkan dan merelaksasikan tubuhnya yang terasa membeku karena terlalu lama berada di luar.


Namun, baru saja Jingga hendak menutup pintu kamar mandi, Biru menahannya dan menerobos masuk begitu saja.


“Kamu mau ngapain?” Tanya Jingga menatap Biru penuh waspada.


"Mandi, lah.” Jawab Biru santai sembari membuka sweaternya tepat di hadapan Jingga, sengaja menunjukan ABSnya di hadapan sang istri.


“Kan aku yang masuk duluan. Nggak bisa gitu dong, Kak.” Jingga protes karena Biru tak menerapkan budaya antre.


“Bisa. Kan kita mandinya bareng.” Jingga memalingkan wajahnya saat mendapati Biru hendak membuka celana.


“Nggak mau!” Tolak Jingga. “Ya udah kalau gitu, kamu yang mandi duluan. Aku nanti.”


Biru dengan cepat menahan pintu kamar mandi saat Jingga hendak keluar. “Kata Pak Penghulu, membantah suami itu dosa, lho, Ji.”


Jingga mendengus kesal karena tak bisa menjawab ucapan Biru yang terdengar seperti ancaman.


“Tapi mandi doang, yaa?” Ucap Jingga penuh peringatan. Biru mengangguk setuju. “Beneran, lho?” Dia masih menatap Biru dengan tatapan tak yakin.


“Iya, mandi doang. Paling nyentuh dikit” Sahut Biru yang mencicit di akhir kalimatnya.


“Kak . . . .” Jingga melayangkan tatapan tajam padanya.


“Iya-iya, mandi doang.” Sahut Biru meyakinkan. Hingga akhirnya, walau ragu, Jingga mau tak mau tetap menuruti ucapan Biru untuk mandi bersamanya.


Biru benar-benar menepati ucapannya untuk hanya mandi bersama, tanpa melakukan apa-apa.


Kini mereka berendam dalam bathub yang dipenuhi dengan busa sabun. Sesekali keduanya tertawa saat bermain membuat gelembung dengan busa sabun itu. Ahh, seharusnya Jingga membawa buku romantis dan membacanya bersama Biru jika tahu kalau berendam bersama akan semenyenangkan ini.


“Kak. . . .” Panggil Jingga tanpa melihat ke arah Biru yang tengah memeluknya dari belakang.


“Hmm.” Sahut Biru seraya mengeratkan pelukannya agar tubuh Jingga lebih merapat padanya.


“Sebelum ketemu sama aku, kamu pernah suka sama cewek lain nggak?” Jingga sedikit mendongakkan kepala untuk menjangkau pandangannya dengan Biru.


“Enggak, cuma kamu satu-satunya. Kan aku udah pernah bilang dulu.” Jawab Biru mantap seraya mengecupi bahu Jingga yang terbuka.


“Kok bisa?” Jingga menyentak tangan Biru yang diam-diam merayap menyentuh dadanya. “Kok bisa kamu suka sama aku?”


Sejenak Biru terdiam, mengambil napas sembari menyusun jawaban dari pertanyaan Jingga. “I think it’s because of you.”


Tapi Biru tidak memiliki alasan yang cukup bagus untuk itu karena hatinya jatuh begitu saja pada Jingga.


“Jangan gombal, yang bener, dong, jawabnya.” Jingga menahan napas saat tangan Biru malah meremas kedua buah dadanya dengan lembut.


“Nggak gombal. Emang kenyataannya kayak gitu, kok.” Seru Biru tak terima, bibirnya kini beralih mengecupi tengkuk Jingga hingga membuat gadis itu refleks menunduk.


“Eungh. . . .” Lenguh Jingga menahan tangan Biru yang terus memberi pijatan sensual di dadanya.


“Sekali lagi aku bilang, ya. Emang banyak cewek cantik di sekitar aku, tapi cuma kamu yang bisa membuat jantung aku berdebar.” Biru membalikkan tubuh Jingga dan membawa ke dalam pangkuannya, hingga kini pandangan mereka bertemu dalam posisi yang semakin intim.


“Karena itu kamu, aku bisa jatuh cinta.”


Jingga melipat bibirnya menahan tawa, antara percaya dan tidak percaya.


“Jangan ngeledek.” Biru mencolek hidung Jingga gemas saat melihat gadis itu menahan tawa atas ucapannya.


“Aku emang nggak punya jawaban yang cukup bagus. Tapi itu yang aku rasain.” Lanjut Biru diiringi dengusan kecil.


“You are the reason. Alasan kenapa aku bisa sayang dan cinta banget sama kamu, karena kamu adalah Jingga.” Imbuhnya seraya mengecup bibir Jingga sekilas.


Memang sulit mencari jawaban saat ditanya alasan kenapa kita mencintai seseorang. Yang jelas, Biru mencintai Jingga karena dia adalah Jingga.


Seandainya itu bukan Jingga, Biru tidak akan bisa mencintai gadis lain karena tidak ada yang bisa menggugah hatinya selain Jingga. Biru menyukai semua hal tentang Jingga. Hanya itu.


“Udah, ahh. Aku bingung jawabnya. Pokoknya gitu, deh. Kamu jangan nanya itu lagi, jelas aku udah jadi suami kamu sekarang.” Biru kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Jingga dan mulai bermain-main di sana.


“Ihh, Kakak.” Rengek Jingga seraya menjauhkan wajah Biru dari dadanya. “Awas, aku mau turun. Airnya juga udah mulai dingin.” Dia berusaha menyingkirkan tangan Biru yang melingkar erat di pinggangnya.


“Kita bikin Winter dulu, yuk, di sini.” Biru mengelus pinggang Jingga hingga membuat tubuh istrinya itu gelisah.


“Winter?” Jingga bertanya diiringi lenguhan kecil saat tangan Biru merayap turun ke pangkal pahanya, terus naik hingga menyentuh pusat tubuhnya.


Biru mengangguk. “Anak cewek kita.”


“Yakin banget anak pertamanya cewek.” Jingga tertawa kesal sambil memukul pelan bahu Biru.


“Ya diyakin-yakinkin aja.” Sahut Biru asal.


“Dan kamu ngasih dia nama Winter?” Jingga kembali menahan tawa.


“Kan kita bikinnya di musim dingin, makannya aku kasih dia nama Winter.” Ujar Biru sembari mengelus lembut perut Jingga seolah di dalam sana terdapat buah cinta mereka.


Jingga meringis dengan raut wajah sedikit menyesal. “Tapi maaf, kayaknya kita nggak bisa bawa Winter pulang, deh.”


“Lho, kenapa? Aku yakin dia bakalan jadi, kok.” Sahut Biru tak terima. Jingga terkekeh geli mendengarnya.


“Karena sekarang bukan masa subur aku, Kak.” Jawab Jingga, mengingat masa ovulasinya sudah habis, ditambah tanda-tanda menstruasinya sudah datang sejak tadi pagi.


“Yang bener?” Biru menatap Jingga tak percaya.


Jingga mengangguk lemah. “Dan kayaknya aku juga mau datang bulan.”


Biru terperangah tak percaya, bahunya merosot lemah. “Oke, nggak apa-apa, deh, kita nggak dapat Winter sekarang. Tapi kalau nanti kamu datang bulan, nasib aku gimana? Masih ada waktu lima hari di sini, Ji.”


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2