Still In Love

Still In Love
EP. 56. It's Been a Month


__ADS_3

********


Biru kembali ke ruangan dengan perasaan kalut, dia terduduk lemas di kursi kerjanya sembari menatap surat dari Jingga dengan tatapan kosong.


“Cuti tanpa batas waktu?” Gumamnya masih tak percaya akan penjelasan Hana.


Sekali lagi, Biru kembali mencoba menghubungi Jingga melalui ponselnya. Tapi nomornya tetap berada di luar jangkauan.


Tak bisa terus berdiam diri seperti itu, Biru dengan cepat berlari keluar dari ruangannya, tidak peduli dengan Luna yang kebetulan ada di depan ruangan memanggil-manggilnya, bahkan Biru tanpa sadar menubruk pundak Luna hingga gadis itu sedikit terhuyung.


Biru berhenti di depan lift dengan napas memburu seraya menekan tombol lift tak sabaran. Karena pintu lift tak kunjung terbuka, akhirnya Biru memilih untuk menggunakan tangga darurat.


Hati dan pikirannya mendadak cemas saat mendengar Jingga mengambil cuti tanpa batas waktu, ditambah surat yang ditinggalkan untuknya, dan Jingga tidak bisa dihubungi.


“Jangan berpikir aku akan terus nunggu kamu, Kak. Kalau aku mau pergi, aku akan pergi, aku bisa melepaskan kamu kapanpun aku mau.”


Biru menggelengkan kepala saat ucapan Jingga beberapa waktu lalu terlintas dalam ingatannya.


“Nggak, itu nggak akan terjadi.” Biru menepis pikiran buruknya. Dia tidak boleh berpikir seperti itu sebelum memastikannya.


Siapa tahu saja, Jingga masih ada di apartemen untuk menghindarinya. Bisa saja, Jingga masih ada di taman bermain untuk menenangkan diri. Atau dia sedang berada di tempat olahraga untuk melampiaskan kemarahannya, dan mungkin juga berlibur ke gunung atau pantai, seperti yang pernah Jingga katakan jika dia akan berolahraga sampai lelah atau pergi ke tempat menenangkan jika sedang marah.


Tanpa mengetuk, Biru mendorong pintu ruangan Langit dengan kasar hingga membuat si pemilik ruangan terperanjat dan otomatis mengalihkan perhatian sejenak, lalu kembali sibuk dengan rekam medis yang sedang dibacanya.


Setelah pintu tertutup, cowok itu langsung berjalan menghampiri Langit dan berhenti tepat di depan meja kerjanya.


“Lo tahu, kan, di mana Jingga?” Tanya Biru langsung.


Langit mendengus pelan seraya tersenyum miring tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen di tangannya.


“Gue tanya sekali lagi Jingga di mana?” Biru dengan geram merampas dokumen dari tangan Langit.


“Sekalipun gue tahu, gue nggak akan mau ngasih tahu lo.” Jawab Langit santai seraya merebut kembali dokumen miliknya dari tangan Biru, lalu pura-pura membacanya.


Biru mengepalkan tangan di kedua sisi pahanya, lalu mendekat dan berdiri di samping meja kerja Langit, kemudian mencengkram kerah baju cowok itu marah.


“Jangan main-main sama gue. Di mana Jingga sekarang?” Tanya Biru dengan rahang mengeras, tatapannya nyalang tajam. Sementara Langit hanya menanggapinya dengan santai.


Langit tersenyum sarkas, memandang Biru tak kalah tajam. “Kenapa? Nggak terima mainan lo hilang?”


“Bilang di mana Jingga sekarang?” Sentak Biru semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada kerah baju cowok itu.


“Lo pantes dapetin ini.” Ucap Langit sembari menyentak tangan Biru hingga terlepas dari kerah bajunya, lalu dia berdiri dan mendorong keras tubuh Biru hingga tubuh cowok itu sedikit limbung.


Selama beberapa detik keduanya saling menatap dengan marah.


“Ingat, lo sendiri yang buat Jingga pergi.” Geram Langit sebelum kemudian beranjak dari ruangannya sendiri, menubruk bahu Biru hingga kembali membuat cowok itu limbung.


*********


Biru mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan sore yang mulai padat. Pikirannya yang kalang kabut membuatnya tak memikirkan nyawanya sendiri, dia tak peduli dengan bunyi klakson dan umpatan dari pengendara lain akibat ulahnya yang seenaknya.


Jingga, yang ada dalam isi kepalanya saat ini adalah segera bertemu Jingga sekarang.


Taman bermain dan apartemen, dia kembali tak mendapati Jingga di sana. Maka, tujuannya sekarang adalah rumah orang tua gadis itu.


Sesampainya di depan rumah orang tua Jingga, Biru memarkirkan mobilnya sembarang di halaman rumah yang cukup besar itu. Dengan langkah tak sabar, Biru berjalan memasuki pekarangan rumah.


Namun baru saja dia melayangkan jari telunjuknya untuk menekan bel, deru mesin mobil membuatnya kembali menarik tangannya. Dia lantas berbalik, tampak mobil Mercedes-Benz berwarna hitam milik Om Rendra terparkir di samping mobilnya.


“Bi . . . .” Sapa Om Rendra dengan alis bertaut heran mendapati Biru yang berdiri di depan pintu rumahnya.


Biru kemudian menghampiri Om Rendra yang baru saja turun dari mobil, tampak laki-laki paruh baya itu masih rapi dengan setelan kerjanya. Setelah bertegur sapa, Om Rendra lantas meminta Biru untuk masuk ke dalam rumah.


“Biru . . . .” Sapaan lembut dari Tante Mona Biru dapatkan begitu dia masuk ke dalam rumah. Wanita paruh baya itu tampak senang dengan kedatangannya. Dengan antusias, Tante Mona langsung menggiring Biru untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Tante buatin minum dulu, ya, Bi.” Ucap Tante Mona seraya beranjak dari duduknya untuk pergi ke dapur.


“Makasih, Tan, nggak usah. Aku nggak lama, kok.” Ujar Biru menahan langkah Tante Mona untuk pergi ke dapur. Alhasil, wanita paruh baya itu kembali duduk di sebelah sang suami.


“Ada apa, Bi?” Tanya Om Rendra penasaran dengan kedatangan Biru yang tiba-tiba.


“Aku lagi nyariin Jingga, Om. Dia di mana, ya? Aku cariin dari tadi pagi nggak ada, nomornya juga nggak aktif. Terus aku juga baru dapat kabar kalau Jingga cuti, Om.” Tanya Biru seraya mengadukan kegelisahannya.


“Iya, Jingga emang ngambil cuti, Bi. Tadi pagi baru aja Jingga pergi untuk liburan, katanya mau keliling Eropa.” Jawab Tante Mona sembari memandangi wajah Biru yang tampak cemas. “Jingga nggak ngasih tahu kamu, ya?” Tebaknya kemudian.


“Keliling Eropa?” Tanya Biru memastikan sembari mendongakkan kepalanya, menatap mata Om Rendra dan Tante Mona secara bergantian untuk mencari kebenaran di sana.


“Kamu tenang aja, Jingga nggak akan lama, kok.” Ujar Tante Mona menanangkan. Biru terdiam dengan sedikit kelegaan di hatinya. Benar, ternyata gadis itu hanya sedang berlibur.


“Aku mau susul dia Om, Tan.” Biru menatap Om Rendra dan Tante Lisa bergantian. “Kalau boleh tahu dia pergi ke mana dulu?”


Om Rendra mengambil napas sejenak sambil mengulas senyum tipis. “Om nggak tahu sebenarnya kalian ada masalah apa sampai harus seperti ini. Tapi Bi, sepertinya Jingga hanya ingin mengambil waktu untuk menenangkan diri. Jadi ada baiknya kamu membiarkannya dulu.”


“Tapi aku nggak bisa jauh-jauh dari Jingga, Om.”


“Iya, Om mengerti. Tapi sekali lagi, Jingga butuh waktu. Om bukannya nggak mau ngasih tahu kamu.” Ujar Om Rendra yang sebenarnya dia juga tidak tahu ke mana destinasi Negara pertama tujuan Jingga.


“Om benar, Bi. Dan Tante pikir, kamu juga butuh waktu, kalian butuh waktu untuk nggak bertemu dulu. Jangan khawatir, paling dua atau tiga minggu Jingga udah pulang lagi.” Timpal Tante Mona kembali berusaha menenangkan.


“Tapi Jingga ngambil cuti sampai waktu yang nggak detentukan, Om, Tan.” Sambar Biru tak menghilangkan kecemasan di wajahnya. Om Rendra dan Tante Mona mengerutkan keningnya dalam, berusaha mencerna ucapan Biru.


“Kamu jangan ngaco, deh, Bi. Cuti melahirkan aja nggak selama itu. Paling lama Jingga ngambil cuti sebulan.” Tante Mona terkekeh tak percaya dengan apa yang Biru katakan, begitupula dengan Om Rendra.


“Kalian nggak tahu ini?” Tanya Biru terdengar serius.

__ADS_1


“Apa maksud kamu, Bi?” Om Rendra balik bertanya


“Katanya Jingga emang ngambil cuti sampai waktu yang nggak ditentukan.” Jawab Biru semakin cemas mendapati orang tua Jingga tidak mengetahui hal itu.


“Enggak. Jingga nggak bilang kayak gitu. Kemarin Jingga ke sini cuma bilang mau liburan keliling Eropa, yaa Tante kira pasti cutinya cuma sampai sebulanan.” Sahut Tante Mona tetap tenang.


“Om dan Tante yakin Jingga cuma mau keliling Eropa? Aku boleh minta tolong, nggak, kalian telepon Jingga buat mastiin?” Tanya Biru tergesa-gesa dengan raut wajah panik.


“Bi, kamu tenang dulu. Jingga bener, kok, cuma mau liburan ke sana. Dia juga udah janji akan sering-sering telepon kami.” Tante Mona masih menanggapinya dengan tenang.


“Gini aja, deh. Lebih baik sekarang pulang dan tanyakan sama Papa kamu, apa benar Jingga mengambil cuti selama itu?” Tutur Om Rendra memberi saran dengan nada tenang, meski dalam hati beliau juga terkejut. Perasaan khawatirpun mulai menghampirinya.


Biru membelalak. Dia lupa bagian ini. Seharusnya Papa menjadi orang yang paling tahu tentang itu.


“Baik, Om. Ya udah kalau gitu aku pulang dulu.” Sahut Biru segera beranjak dari duduknya dan melangkah pergi dari rumah orang tua Jingga.


********


“Papa yang ngasih izin Jingga untuk ngambil cuti tanpa batas waktu?” Tanya Biru mendesak Papa untuk segera menjawabnya.


“Duduk dulu, Bi.” Perintah Papa seraya menutup buku yang tengah dibacanya, lalu meletakkannya di atas meja kerja. Dia dibuat terkejut dengan kedatangan Biru yang tiba-tiba menerobos ruang kerja probadinya begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu.


“Pa. . . .” Biru kembali mendesak sang ayah untuk segera menjawab pertanyaannya setelah dia berhasil mendudukan diri di hadapan lelaki itu.


“Emangnya Jingga nggak ngasih tahu kamu?” Papa balik bertanya. Nada bicaranya terdengar santai, pun dengan raut wajahnya.


“Om Rendra sama Tante Mona aja nggak dikasih tahu, apalagi aku.” Sahut Biru dengan nada cemas. Tentu saja hal tersebut juga membuat Papa terkesiap mendengarnya.


“Mereka nggak tahu?” Papa sedikit meninggikan suaranya tak percaya.


“Papa tahu, kan, Jingga pergi keliling Eropa?” Biru melemparkan pertanyaan lagi.


“Ohh, jadi Jingga ke Eropa?”


Biru mendengus kesal karena sejak tadi pertanyaannya hanya dijawab dengan pertanyaan. Sementara Papa, beliau merasa heran karena Jingga pergi secepat itu. Dan anehnya, kenapa gadis itu tidak memberitahu orang tuanya kalau dia cuti tanpa batas waktu? Sekelebat bayangan Jingga kabur hinggap di pikirannya. Namun segera dia menepis pikiran buruk tersebut.


“Jingga nggak ngasih tahu Papa dia mau pergi liburan ke mana.” Ujar Papa seraya mengingat percakapan terakhirnya dengan Jingga.


“Kalau Jingga nggak pulang lagi gimana? Kalau itu sampai terjadi, itu semua gara-gara Papa. Papa harus tanggung jawab!” Ucap Biru frustrasi, merengek menyalahkan sang ayah seperti anak kecil. Lelaki tua itu hanya berdecak dan memasang raut wajah aneh antara kesal dan ingin tertawa melihat sikap Biru yang tidak seperti biasanya.


“Enak aja. Jingga, kan, pergi gara-gara kamu. Ini emang konsekuensi yang harus kamu terima karena kamu sudah membuat kesalahan. Walaupun Papa nggak tahu apa masalah kalian sebenarnya, tapi Papa bisa pastikan semua itu berasal dari kamu.” Tuding Papa kemudian, tak terima dirinya disalahkan.


Meskipun Biru adalah putra kesayangannya, tapi Papa bukan orang yang akan membelanya begitu saja. Beliau bukan orang tua yang akan mencari pembenaran dari kesalahan yang dilakukan sang anak.


“Pa . . . .” Biru memelas, penuturan Papa benar-benar membuatnya semakin kelabakan.


“Kamu tenang aja. Jingga cuma mau menenangkan diri, kok. Dia pasti kembali, karena Jingga udah janji sama Papa nggak akan ninggalin rumah sakit.” Ujar Papa menenangkan, namun itu sama sekali tak membuat Biru tenang.


“Tapi berapa lama? Gimana kalau sampai bertahun-tahun?” Sahut Biru seraya mengacak-acak rambutnya gusar. Papa hanya geleng-geleng kepala melihatnya sambil membuang napas. “Kayaknya aku mending susul dia aja.”


Sejenak Biru terdiam, tak ada perlawanan untuk penuturan yang dilontarkan Papa, sama halnya dengan yang dia dengar dari Om Rendra tadi. Mengambil waktu.


“Tapi aku nggak tahan kalau harus jauh-jauh dari Jingga, Pa.” Sahutnya setelah sejenak terdiam.


“Sabar dan tunggu dia kalau kamu benar-benar mau memperbaiki hubungan kalian.” Balas Papa tegas.


“Tapi, Pa–”


“Jingga butuh waktu, Bi. Kenapa kamu nggak bisa nunggu dia barang sebentar saja? Jingga saja bisa menunggu kamu lebih dari sembilan tahun.” Sela Papa berhasil membuat Biru mengatupkan mulutnya.


“Oke. Satu bulan. Kalau satu bulan dia nggak pulang, ada atau tanpa izin Papa, aku tetap akan nyusulin dia.” Pungkas Biru pasrah, mengakhiri percakapan antara dirinya dan Papa sebelum kemudian dia beranjak pergi dari ruangan laki-laki paruh baya itu dengan perasaan tak karuan.


********


Satu bulan berlalu, itu berarti selama itu juga Jingga pergi meninggalkan Biru.


Biru yang semula sedikit tenang dan akan menunggu Jingga pulang berlibur, kini semakin dibuat kalang kabut tatkala mendengar kabar dari Om Rendra bahwa Jingga masih ingin melanjutkan liburannya di sana. Lebih parah, Jingga tidak memberi tahu orang tuanya di Negara bagian Eropa mana dia berada saat ini.


Orang tuanya jelas khawatir dan meminta Jingga segera pulang, tapi gadis itu berhasil menenangkan dengan kalimat sebentar lagi.


Biru mengedarkan pandangannya ke seluruh area atap rumah sakit. Dia mengingat terakhir kali dia ke sana bersama Jingga. Lebih tepatnya, dia menyeret Jingga ke tempat itu dengan kasar, menuduhnya, bahkan melayangkan kata-kata rendahan untuk gadis itu. Seketika sudut hatinya terluka saat dia mengingat kata-kata dan sikap kasarnya terhadap Jingga.


Terakhir kali, Biru melihat gadis itu berdiri ketakutan dan menatapnya dengan sorot mata kecewa dan penuh amarah, di sana. Di tempatnya berdiri saat ini.


“Shi*t.” Biru mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mengumpat berulang kali, melepaskan segala amarah yang tertumpuk di dada. Entah untuk siapa, yang jelas dia sangat marah pada dirinya sendiri saat ini.


Benarkah? Benarkah Jingga meninggalkannya? Bagaimana dia harus mencarinya jika tidak tahu keberadaannya seperti ini? Dan sampai kapan dia harus menunggu Jingga kembali?


Biru tidak bisa menunggu Jingga lebih lama lagi. Dia merindukan semua tentang Jingga.


“Jangan kayak gini, Ji.” Biru merasakan matanya berkabut hingga tak terasa setetes air mata jatuh melalui sudut matanya.


“Tolong jangan berdiri di tempat yang nggak bisa aku lihat.” Gumamnya putus asa. Pandangannya menerawang kosong, begitupula dengan hatinya.


“Biru . . . .” Biru menoleh ke arah suara orang yang memanggilnya. Tampak Langit berdiri tak jauh darinya dengan rahang mengeras.


BUUGH. . . .


“Apa ini yang lo mau. HAH?” Tanya Langit menggebu-gebu setelah dia berhasil mendaratkan satu pukulan keras rahang Biru, hingga darah segar mengalir di salah satu sudut bibirnya.


Biru yang tak mempersiapkan apapun langsung terjerembab ke lantai setelah mendapatkan pukulan yang tiba-tiba itu. Masih megumpulkan kesadarannya, Biru melihat Langit kini berada di atasnya sambil mencengkram kerah kemejanya.


“Lo senang, kan, Jingga pergi kayak ini? PUAS LO?” Teriak Langit kemudian seraya menyentak bahu Biru hingga cowok itu tak ada kesempatan untuk bangkit.


Sama seperti Biru, Langit juga sama rindunya pada Jingga. Ditambah selama di Eropa Jingga juga sangat jarang menghubunginya. Langit marah mengetahui kabar Jingga akan mengambil libur lebih lama dan belum ingin pulang, serta tak memberitahu keberadaannya di mana.

__ADS_1


“Apa yang lo lakuin malam itu sampai Jingga pergi kayak gini?” Dan satu pukulan keras Langit kembali daratkan di rahang Biru.


Langit benar-benar seperti orang kesetanan, matanya tampak memerah dan berair, seolah mengekspresikan kemarahan dan kesedihannya sekaligus di sana.


“Kenapa lo harus menyiksa perasaan Jingga kayak gitu?” Langit kembali menahan tubuh Biru yang berusaha bangkit dengan mencengkram kerah kemejanya semakin kuat.


“Kenapa nggak lo aja yang pergi, BRENGSEK?”


“Kenapa harus Jingga?”


“SETAN.” Biru segera menahan tangan Langit yang hendak memukulnya lagi.


“Lo pikir gue baik-baik aja?” Kali ini posisi berbalik, Biru membalas pukulan yang sama dengan yang Langit berikan tadi.


“Lo pikir gue mau Jingga pergi?” Biru berteriak lantang sembari menghentakkan tubuh Langit.


“Apa lo pikir gue nggak merasa kehilangan? Gue yang paling kehilangan dari semuanya. Apa lo tahu, setiap hari gue dihantui rasa takut? Takut kalau Jingga nggak kembali lagi, takut Jingga bener-bener ninggalin dan ngelupain gue.” Tak mau kalah, Biru mengeluarkan apa yang dia pendam di hatinya.


“Itu hadiah yang pantas lo terima.” Langit tersenyum menyeringai. Jelas saja ucapannya itu menyulut emosi Biru. Cowok itu kembali mengambil ancang-ancang untuk melayangkan pukulan pada Langit.


“Ya ampun, kalian.” Pekik seseorang di seberang sana yang langsung menghampiri mereka untuk memisahkan.


“Lepasin gue, Bis.” Biru memberontak saat seseorang yang ternyata Bisma itu menahan tangannya yang hendak memukul Biru.


Bisma menarik kuat bahu Biru hingga tubuhnya menjauh dari Langit. Dia tak habis pikir, niatnya yang ingin menikmati angin sore di kala waktunya senggang, malah disuguhi pemandangan dua orang dewasa yang main pukul-pukulan seperti anak kecil.


“Lo apa-apaan sih, Bi?” Sentak Bisma masih dengan sekuat tenaga menahan tubuh Biru yang terus ingin melepaskan diri darinya.


“Elo yang apa-apaan? Lepasin gue, lo nggak usah ikut campur, Bis.” Teriak Biru kesal dengan Bisma yang menahannya seperti itu. Padahal dia belum membalas satu pukulan lagi pada Langit.


“Udah, Bi. Gue tahu pikiran lo lagi kalang kabut, tapi lo jangan mukulin orang juga.” Ucap Bisma.


Biru mendelik sebal karena Bisma seperti menyudutkannya. Jelas saja, karena yang Bisma lihat tadi adalah posisi Biru yang sedang memukul Langit.


“Dia yang mulai, kok.” Seru Biru tak terima seraya menunjuk Langit yang kini sudah bangkit dan terduduk di lantai sambil menyeka darah di bibirnya.


“Elo yang bikin gue ngelakuin ini, ANJ*NG.” Langit bangun dari duduknya, tangannya kini sudah melayang, siap untuk memukul Biru lagi. Namun dengan sigap Bisma menahannya. Kini ayah satu anak itu merentangkan tangannya lebar-lebar, berdiri di antara Biru dan Langit, menjadi dinding pembatas agar mereka tak saling mengenai.


“STOP. Gue nggak tahu ya masalah kalian apa. Tapi kalian nggak seharusnya berantem kayak anak kecil gini.” Bisma berteriak lantang. Sial sekali, kenapa dia yang tak tahu apa-apa harus terjebak dalam situasi seperti ini dan dibuat kerepotan?


“Ikut. Biar gue obatin luka kalian.” Titah Bisma seraya beranjak untuk pergi dari atap. Namun dia kembali berbalik saat menyadari Biru dan Langit tidak mengikutinya.


Bisma menghela napas dalam saat melihat Biru dan Langit masih diam berdiri saling melemparkan tatapan tajam, siap untuk saling menerkam layaknya kucing dan anjing.


“Aarrgh . . . .” Pekik Biru dan Langit setelah Bisma menghampiri dan membenturkan kepala mereka dengan keras.


“Itu biar kepala kalian nggak keras lagi. Gue suruh ikut malah diem aja. Ikut gue, malu-maluin tahu, nggak? Gimana kalau ada orang lain yang lihat?” Tegur Bisma galak seperti ayah yang sedang memarahi anaknya yang bertengkar karena berebut mainan.


Akhirnya, sambil mengelus kepalanya yang terasa berdenyut nyeri, Biru dan Langit mengekori Bisma dengan jarak yang sedikit berjauhan.


********


Bisma membawa mereka ke ruangan Biru. Kini Langit dan Biru tengah duduk di sofa dalam keadaan canggung sembari menunggu Bisma menyiapkan P3K untuk mengobati luka mereka.


Langit mengambil ponsel, lalu membuka aplikasi kamera untuk melihat keadaan wajahnya yang terasa sangat ngilu sekarang.


“Anjrit, muka gue.” Langit meringis histeris saat melihat keadaan wajahnya di depan layar kamera ponsel miliknya. Sedikit rasa penyesalan hinggap di hatinya, seandainya saja tadi dia memukul Biru di bagian perut atau daerah lain selain wajah, mungkin Biru juga tidak akan melukai wajahnya seperti ini.


“Udah deh, lo nggak usah berlebihan kayak gitu.” Ucap Bisma sembari menyerahkan cotton bud yang sudah di beri antiseptik pada Biru dan Langit.


Biru hanya mendelik sewot melihat reaksi Langit yang berlebihan. Cih, bukankah wajahnya sekarang lebih parah dari Langit?


“Berlebihan apanya? Dengan muka kayak gini, anak-anak bisa takut sama gue.” Protes Langit yang mulai menempelkan cotton bud ke sudut bibirnya yang berdarah.


“Ya udah, lo kan bisa pake masker seharian.” Sahut Bisma menenangkan. Dia ikut meringis saat mendengar Langit mendesis kesakitan, merasakan sakit pada sudut bibirnya yang robek.


“Mana bisa kayak gitu? Muka gue ini berpengaruh besar dalam penyembuhan anak-anak. Mereka akan lebih cepat sembuh kalau lihat muka ganteng gue ini.” Bisma memutar bola matanya malas, antara kesal dan ingin tertawa, ingin sekali dia melempar bantal sofa ke wajah Langit sekarang juga. Dalam keadaan seperti ini, bisa-bisanya Langit membanggakan dirinya seperti itu.


“Ya udah lo nggak usah masuk kerja, ribet banget. Selamanya kalau bisa.” Biru yang sejak tadi diam dan fokus mengobati lukanya kini menyahuti Langit dengan ketus.


“Ini gara-gara lo, yaa.” Langit mendelik kesal, tangannya kini terulur menarik rambut Biru yang ada di sebelahnya dengan keras hingga cowok itu itu mengaduh kesakitan.


“Rambut, gue.” Tak mau kalah, Biru ikut menjambak rambut Langit tak kalah kerasnya, Langit bahkan merasakan mungkin seluruh rambutnya akan terlepas dari kulit kepalanya.


“Aww, lepasin gue, anj*ng.” Pekik Langit sembari tetap menarik kuat rambut Biru dengan tangannya.


“Elo yang mulai setaan.”


“Elo yang setaan, gob*lok.” Langit tak mau kalah.


“Lo cuma pura-pura kayak gini, kan? Lo tahu, kan, Jinga di mana?” Biru semakin geram dan menarik kepala Langit lebih keras.


“Bangke, kalau tahu udah gue susulin dari dulu. Ini semua gara-gara lo. Tanggung jawab lo!”


Bisma kembali menghela napas dalam melihat kelakuan dua orang dewasa di depannya itu yang semakin menjadi-jadi?


Bisma sekarang paham kenapa mereka berakhir seperti itu. Lantas dia berjalan mengambil segelas air yang terletak di meja kerja Biru, kemudian dengan gemas dia mengguyurkan air tersebut hingga mengenai Biru dan Langit.


“Gak mau berhenti?” Bisma semakin dibuat gregetan karena guyuran air saja tak mampu menghentikan mereka. Dia berdecak kesal seraya menggelengkan kepalanya, kemudian dia mengambil ponsel dari saku dan pura-pura menghubungi seseorang.


“Halo, keamanan. . . . .”


“Bis, lo apa-apaan, sih?” Biru yang mendengar Bisma hendak menghubungi petugas keamamanan langsung melompat cepat dan merampas ponselnya. Bagaimanapun, Biru masih harus menjaga reputasinya sebagai Kepala Rumah Sakit di sana.


********

__ADS_1


To be continued . . . .


__ADS_2