Still In Love

Still In Love
EP. 40. I Won’t Let Go


__ADS_3

********


Jingga merenggangkan otot-ototnya yang kaku dengan beberapa gerakan peregangan setelah beberapa saat yang lalu dia keluar dari ruang operasi.


“Capek banget.” Keluh Jingga seraya memijat pelan leher dan bahunya, sesekali dia menguap. Padahal ini adalah operasi pertamanya hari itu, tapi dia sudah merasa sangat lelah. Terang saja karena mungkin tadi malam Jingga tidur terlalu larut dan pagi harinya harus bangun untuk kembali bekerja. Lingkaran hitam di bawah matanya membuktikan bahwa gadis itu memang kurang tidur.


“Ini masih siang dan kamu baru selesai satu operasi, kenapa kelihatannya udah kecapekan kayak gitu? Jompo banget.” Cibir Bisma yang sejak keluar dari ruang operasi berjalan beriringan dengan Jingga untuk kembali ke ruangan masing-masing.


Kali ini cowok itu kembali menjadi ahli anestesi untuk operasi jantung yang dipimpin Jingga menggantikan Dokter Nadine, membuat keduanya menjadi lebih akrab.


“Tadi malem aku kurang tidur, jadi gini, deh.” Tutur Jingga lemah sambil nyelonong masuk ke dalam lift yang Bisma buka, lalu menyandarkan tubuhnya di dinding lift dengan mata setengah terpejam. Demi apapun, dia ingin tidur saat ini juga.


“Emang tidur jam berapa?” Tanya Bisma lagi, ikut bersandar sambil bersedekap.


“Mungkin jam satu malem baru aku baru tidur.” Jawab Jingga mengingat-ingat jam berapa dia tidur tadi malam.


“Kamu ngapain dulu sampai tidur malem banget gitu? Bukannya kemarin kamu pulang cepet dari sini, ya?” Bismia ingat betul tadi malam dia berpapasan dengan Jingga di parkiran dan saling menyapa sebelum mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


“Aku cuma susah tidur aja, hoaaam.” Gadis itu kembali menguap hingga matanya sedikit berair.


“Mungkin kamu terkena gangguan tidur, kali.” Bisma mendiagnosis. Jingga tersenyum geli mendengar penuturan Bisma, mengingat dia kurang tidur karena tidurnya terganggu bukan terkena gangguan. Biru sudah mengganggu jadwal tidurnya tadi malam.


“Hmm, maybe. . . .” Jingga menanggapinya diiringi helaan napas lelah.


“Bisa jadi kamu insomnia. Kalau gitu kamu bisa konsultasi sama Biru, dia ahlinya nanganin soal itu.”


Lagi-lagi Jingga tersenyum geli mendengar tanggapan Bisma yang begitu serius. Seandainya Bisma tahu kalau yang menjadi penyebab Jingga sulit tidur itu adalah temannya sendiri. Ck, konsultasi apanya?


“Ish, nggak separah itu kali, Kak. Aku cuma kebetulan aja tadi malam susah tidur.” Jingga memperjelasnya untuk menenangkan Bisma.


“Ohh. Aku kira sering.” Sahut Bisma sambil manggut-manggut.


“Ngomong-ngomong, itu kamu kenapa?” Tanya Bisma sambil mengedik pada tengkuk Jingga yang di tempeli plester besar sebesar koyo.


“Oh ini . . . .” Jingga bergerak gugup sembari memegang tengkuknya


“Tuh kan bener, ini mencolok banget.” Jingga menggerutu dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya lucu.


“Jingga . . . .” Tegur Bisma menatap heran Jingga karena bukannya menjawab, malah terdiam sambil manyun.


“Eung . . , ini kebentur sesuatu.” Jawab Jingga sambil tersenyum kikuk.


“Pasti itu keras banget, ya, sampai luka kamu gede gitu.” Bisma meringis, mengira Jingga terluka cukup parah karena plester yang digunakannya bukan ukuran kecil.


“Emm . . . .” Jingga menganggukkan kepalanya ragu. Beruntunglah dia karena Bisma tidak curiga sama sekali. Sepertinya cowok di sebelahnya ini suka menanggapi segala sesuatu dengan serius. Mungkin akan berbeda jika Jingga bertemu Bian, sudah pasti cowok itu akan meledeknya habis-habisan.


“Emang kebentur apaan?” Tanya Bisma lagi, membuat Jingga kembali salah tingkah.


“I–tu, eung, kebentur –” Jingga mengerling, berusaha berpikir cepat mencari alasan. “Nggak sengaja kebentur sama orang yang lagi lari-lari.”


“Hah? Kebentur orang gimana?”


Jingga mendesis. Sial. Alasan konyol yang dilontarkannya malah menimbulkan pertanyaan lain.


“Pokoknya ceritanya panjang, deh, aku males nyeritainnya.” Elak Jingga cepat. Beruntunng Bisma tak bertanya lagi. Cowok itu hanya mengangguk-angguk.


“Oh, iya. Kamu mau ikut ke kedai kopi, nggak? Aku sama teman-teman mau makan siang di sana nanti, ada Biru juga.”


Beruntung lagi Jingga karena Bisma mengalihkan topik pembicaraan.


“Boleh, deh.” Jawab Jingga tanpa pikir panjang menerima ajakan Bisma. Walaupun mungkin di sana nanti ada Luna juga, tapi tidak apa-apa. Jingga hanya tinggal menganggap cewek ular itu seperti hantu yang tak kasat mata saja.


“Ya udah. Nanti kita ke sana bareng setelah operasi terakhir.” Ucap Bisma yang di balas anggukkan oleh Jingga.


********


Di kedai kopi, Bisma mendorong pintu kaca dan mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat di mana teman-temannya duduk menunggu. Senyumnya seketika mengembang tatkala dia menemukan teman-temannya duduk di meja paling sudut. Terlihat Albi, Bian, dan Biru, kini tengah duduk di sana menunggunya datang. Tidak ada Luna seperti dugaan Jingga. Hanya mereka berempat.


“Baru selesai lo?” Tanya Bian saat Bisma berhasil mendudukkan dirinya di dekat Albi.


“Hmm, operasinya agak lama.” Jawab Bisma sembari memakan Pastry yang telah dipesan teman-temannya tadi untuknya.


“Ohh, iya. Tadi gue mau ke sini sama Jingga . . . .”


“Terus Jingganya mana?” Sambar Bian antusias, memotong kalimat Bisma yang belum selesai. Pandangannya dia edarkan ke seluruh sudut kedai kopi, mencari-cari sosok Jingga. Hal tersebut tentu saja membuat Biru mendelik jengkel, sikap Bian terkadang memang berlebihan.


“Nah, itu. Pas di lobby, Tante Lisa tiba-tiba datang dan ngajak Jingga keluar. Tahu deh mau apa.” Jelas Bisma seraya mengedikan bahunya.


“Mama gue datang ke rumah sakit?” Tanya Biru memastikan. Dia heran karena sang ibu datang tapi tidak menghubunginya, itu tidak seperti biasanya.


“Kan tadi gue udah bilang.” Bisma memutar bola matanya malas.


“Ngapain Mama ngajak Jingga keluar?” Gumam Biru pelan seraya mengernyitkan alisnya bingung.

__ADS_1


“Mana gue tahu.” Sahut Bisma ketus. Biru mendengus kesal, dia, kan, bukan sedang mengajak cowok itu berbicara.


Sejenak hening mengambil alih, mereka fokus menikmati makanan masing-masing, seolah sedang mengisi daya pada tubuhnya yang sebelumnya sudah terkuras di ruang operasi dan melayani banyak pasien.


“Lo suka banget stroberi ya, Bi?” Tanya Albi tiba-tiba sambil memperhatikan Biru yang tengah menikmati stoberi yang menjadi toping dari Pastry miliknya.


“Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu? Mau?” Tanya Biru yang risih saat menyadari Albi tengah menatapnya sambil senyum-senyum tidak jelas.


“Tadi sarapan pake stroberi juga, ya?” Biru mengeryitkan alisnya, tak mengerti dengan pertanyaan Albi. Dia mengira Albi sedang meracau, makannya dia menghiraukan dan memilih untuk meminum latte miliknya.


“Yan, tahu nggak. Teman kita yang kata lo paling polos ini ternyata nggak sepolos itu.” Ucap Albi kemudian, membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya.


“Gimana-gimana?” Tanya Bian tak paham. Begitupula dengan Bisma dan Biru yang hanya mengerutkan keningnya.


Albi tersenyum menyeringai sambil sesekali melirik Biru usil.


“Tahu nggak? Tadi pagi gue lihat Biru sama Jingga di parkiran lagi gini.” Albi mengetuk-ngetukkan kedua jari tangannya yang mencomot isyarat ciuman.


Bola mata Biru melebar. Sepertinya laki-laki itu tersadar ke mana arah pembicaraan Albi. Biru yakin Albi melihat apa yang dilakukannya tadi pagi bersama Jingga. Lalu, sebelum temannya itu melanjutkan kalimatnya, buru-buru Biru memberikan tatapan penuh intimidasi, membuat Albi berpura-pura meringis takut.


“Udah gitu pake remes-remes segala, Meeeen.” Lanjut Albi diiringi gelak tawa menggelegar.


“Shiit.” Geram Biru dalam hati sembari menatap tajam Albi.


“Setaaaan. Udah sejauh itu? Depan atau belakang?” Bian menyahuti dengan kaget.


“Gue yakin yang depan juga udah kejamah, sih.” Jawab Albi tanpa menghentikan tawanya.


“Diem lo kampret.” Biru memukul kepala Albi kesal, tapi temannya itu tak mengindahkan.


“Si anjir lebih pro dari gue ternyata lo, mana di parkiran. Gila, kali, ya, lo.” Bian ikut meledek. Sementara Bisma ikut tertawa sambil geleng-geleng tak percaya.


Biru menggeram tertahan, wajahnya sudah memerah menahan malu dan kesal sekaligus. Mulut Albi benar-benar lemes.


“Haha. Pantesan tadi gue lihat Jingga nempelin plester yang gede banget di sini.” Timpal Bian di sela-sela tawanya sambil menunjuk tengkuknya sendiri. “Terus pas gue tanya, katanya kebentur.”


“Haha, kebentur mulut nih kambing, kali, yaa. Habis dihisap-hisap.” Sambar Albi sambil memegangi perutnya karena tak bisa berhenti tertawa.


“Wahh, maen lo bener-benet udah jauh ya, Nyet. Siapa yang ngajarin lo kayak gituan?” Sahut Bian. Sementara Biru hanya bisa mendengus kesal melihat teman-temannya terus meledeknya.


“Atau jangan-jangan lo udah. . . .” Bisma memicingkan matanya curiga, lalu membulatkan mata seraya menutup mulutnya tak percaya. Terlebih dia teringat tadi melihat Jingga yang tampak kelelahan dan mengatakan kurang tidur. “Wahh, brengsek lo nodain anak orang. Lo jangan ngikutin gue.”


Biru langsung melayangkan tatapan tajam pada Bisma, benar-benar sembarangan mulutnya itu.


“Stop ledekin gue atau kalian gue mutasi ke rumah sakit cabang.” Ancaman Biru seketika menyurutkan tawa dan menutup rapat mulut teman-temannya yang kini serempak nyengir takut dan mengangkat kedua tangannya ke atas.


“Gak asyik banget lo bawa-bawa kekuasaan.” Biru hanya mengedikan bahunya, tak peduli dengan ucapan Albi.


Biru menghela napas dalam untuk menetralisir kekesalannya. Dia kemudian berdiri, mengambil ponsel dan dompetnya dari atas meja.


“Eh, mau kemana lo, Nyet?” Tanya Bian saat melihat Biru beranjak dari duduknya.


“Mau ngurus proses mutasi kalian” Jawabnya dengan senyum menyeringai untuk kemudian bergegas keluar dari kedai kopi.


“Dihh, tuh anak sensi banget diledek gitu doang.” Cibir Albi setelah Biru hilang dari pandangan mereka.


********


Sore harinya, Jingga masih berada di rumah sakit karena masih ada jadwal operasi jam setengah tujuh malam nanti. Karena waktunya sekarang senggang, dia memilih duduk di kursi panjang di atap rumah sakit sembari menikmati langit sore. Sudah lama dia tidak melihat matahari tenggelam karena kesibukannya.


Saat Jingga tengah menikmati angin sore dan tenggelam dalam lamunannya. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan Biru yang langsung merebahkan dirinya di kursi dan meletakkan kepalanya di pangkuan Jingga.


Jingga menghela napas dalam, heran dengan sikap Biru yang selalu membuatnya terkejut. Lama-lama Jingga bisa terkena serangan jantung. Kan jadi lucu judulnya nanti, seorang dokter ahli jantung terkena serangan jantung.


“Kok tahu aku di sini?” Tanya Jingga penasaran.


“Jangan ge-er. Aku cuma datang ke sini dan kebetulan ada kamu juga.”


Jingga mendengus kesal. Menyebalkan sekali Biru ini.


“Aku tadi ingat sesuatu.” Ujar Biru setelah beberapa saat hening, lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi miring dan menenggelamkan wajahnya sambil memeluk erat perut Jingga.


Jelas saja Jingga kembali dibuat tidak nyaman dengan sikap Biru. Tapi pada akhirnya dia hanya membiarkannya saja. Rasanya dia tidak akan bisa melawan Biru saat ingin protes.


“Kita kayak gini, di taman bermain itu.” Lanjut Biru yang suaranya sedikit teredam.


“Kepala kamu nggak sakit, kan?” Tanya Jingga dengan tangan terulur untuk memberi elusan lembut pada kepala Biru. Cowok itu hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.


“Oke bagus. Jangan memaksakan kalau sakit.” Tutur Jingga. Karena dia merasa kasihan setiap kali melihat Biru kesakitan saat mencoba mengingat sesuatu. Terlebih, ingatan itu tentang dirinya.


Suasana kemudian menjadi begitu hening, hanya deru napas dan hembusan angin sore yang terdengar. Tangan Jingga yang sedang mengelus lembut kepala Biru teralihkan pada ponselnya yang tiba-tiba berdering.


Terlihat pesan yang isinya beberapa foto wisata alam, tangan Jingga terus menggulirkan layar ponselnya untuk melihat foto-foto tersebut. Sudut bibirnya terangkat, matanya berbinar melihat foto laut dan gunung dari beberapa negara yang masih jauh dari jamahan tangan manusia.

__ADS_1


Jingga mendapatkannya dari Sagara. Kakak keduanya yang memperlihatkan tempat-tempat indah dari berbagai negara yang telah dikunjunginya. Ingatkan saja jika kakak Jingga yang nomor dua itu sangat menyukai traveling.


“Chat-chatan sama siapa, sih?” Biru protes karena tangan Jingga beralih dari kepalanya dan malah sibuk dengan ponsel. Dia lantas kembali merubah posisinya seperti semula, tangannya lalu terulur untuk merebut ponsel Jingga.


“Kak Sagara?” Biru menautkan kedua alisnya dan menatap Jingga penuh selidik.


Jingga memutar bola matanya jengah. “Kakak aku yang nomor dua, kamu lupa?” Jawabnya malas.


Biru memang belum pernah bertemu dengan Sagara, karena pada saat acara tunangan pun dia tidak hadir. Biru hanya mendengar namanya saat pertemuan keluarga dulu, tapi sepertinya dia lupa.


“Ohh, iya.” Biru mengangguk tersadar. Dia juga ingat pernah melihat dia di foto keluarga Jingga yang terpajang di ruang tamu, tapi hanya sekilas.


“Kenapa dia ngirimin foto-foto kayak gini?” Tanya Biru penasaran.


“Dia lagi pamer kebebasan sama aku.” Jawab Jingga diiringi dengusan kecil. Jingga memang sangat iri pada kakak keduanya itu yang dengan bebas bisa keliling dunia.


“Kamu suka tempat kayak gini juga?” Tanya Biru kemudian.


“Hmm.” Angguk Jingga. “Aku suka alam. Ish, aku jadi kangen naik gunung.” Ucapnya kemudian, membayangkan sejuk dan dinginnya pegunungan.


“Kapan terakhir kali kamu naik gunung?” Biru bertanya tanpa melepaskan pandangannya dari ponsel Jingga.


“Eung, mugkin sekitar satu bulan yang lalu sama Langit.”


Mendengar nama Langit, Biru langsung mendongakkan kepalanya dan menatap tajam Jingga.


“Kenapa harus sama Langit, sih?” Serunya protes.


“Ya emang sama siapa lagi? Kamu? Kamu, kan, sukanya coffee shop.” Sahut Jingga sedikit menyindir, teringat ucapan Luna malam itu.


Mendadak Biru salah tingkah. “Ya – jangan sama Langit, kan, bisa.”


“Terserah kamu, deh.”


“Terus, kamu ngapain aja sama dia di sana?”


Jingga menghembuskan napasnya malas. “ Ya nggak ngapa-ngapain. Emang Langit kayak kamu?”


Biru mendengus, diam tak menanggapi. Tapi tetap saja hatinya merasa kesal mengingat Jingga dan Langit pergi mendaki gunung bersama.


“Sebulan yang aku aku naik gunung, tuh, karena aku mau buang cinta aku di sana.” Tutur Jingga kemudian, membuat Biru langsung mendelik sebal.


“Kamu mau buang aku?” Protes cowok itu tak terima.


“Kamu nggak ngerasain gimana terkejutnya aku pas tahu kenyataan kalau kamu hilang ingatan dan udah jadi orang yang berbeda. Aku butuh tempat kayak gitu buat nenagin diri.” Sahut Jingga sedikit kesal, tapi hatinya kembali sedih.


“Kamu sering ke sana buat nenangin diri?” Tangan Biru terulur untuk menyentuh dan mengelus pipi Jingga lembut.


“Nggak juga. Kalau lagi marah, sedih, atau mau ngelupain sesuatu, kadang milih buat main tenis sampai capek banget. Tapi kalau itu nggak berhasil, selain ke gunung atau laut, aku biasanya juga pergi luar negeri untuk membuang itu semua. Yaa nyari suasana baru gitu.” Jelas Jingga sembari meraih tangan Biru yang bertengger di pipinya.


“Makannya, kamu harus baik-baik sama aku. Jangan bikin aku marah atau sedih, karena aku bisa berusaha melepaskan kamu dengan cara apapun.” Imbuh Jingga.


“Kamu nggak akan pernah bisa, karena kamu cinta banget sama aku, dan selamanya akan cinta sama aku.”


Jingga hanya bisa mendengus setiap mendengar Biru berbicara seperti itu. Benar-benar percaya diri.


“Apa kamu nggak pernah berpikir kalau suatu saat nanti bisa aja aku capek untuk terus mencintai kamu?” Tanya Jingga dengan tatapan sendu.


“Kalau kamu capek, kamu mau apa?” Biru balik bertanya.


“Aku pasti akan pergi dan berdiri di tempat yang nggak bisa kamu lihat.” Jawab Jingga yakin.


“Aku pastiin kamu nggak akan pernah bisa pergi dari aku.” Ujar Biru sambil beranjak dari tidurnya dan menatap dalam kedua bola mata Jingga.


“Kalau gitu pinter-pinter aja, deh, buat nahan aku.” Tantang Jingga seraya menyunggingkan senyum tipis.


“Itu hal yang mudah buat aku.” Biru menarik sudut bibirnya smembentuk senyuman sombong. “I won’t let go.”


Hingga tak butuh waktu lama, dalam sekejap Jingga merasakan usapan lembut di tengkuknya untuk kemudian bibir Biru menyentuh bibirnya.


Seperti biasa, Jingga akan terdiam mematung, membiarkan Biru terus memagut bibirnya, menyelipkan lidahnya, dan membiarkan cowok itu mengeksplor rongga mulutnya dengan lembut. Jingga memejamkan matanya, menikmati setiap perlakuan yang Biru berikan.


Jingga menepuk-nepuk bahu Biru saat mendengar dering ponselnya berbunyi. Untuk sesaat Biru melepas ciuman mereka. Namun dirasa dering ponselnya berhenti berbunyi, Biru kembali menyatukan bibir mereka.


“Kak . . . .” Jingga mendorong dada Biru saat kembali mendengar dering ponsel cowok itu berbuunyi.


“Angkat dulu . . . .” Titah Jingga seraya mengusap bibirnya dengan punggung tangan.


Biru berdecak kesal. Dia lantas mengambil ponsel dari saku jas dokter yang dipakainya dengan malas. Alisnya mengeryit tatkala melihat nama Luna tertera di layar ponselnya.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2