
********
Langit tertegun saat matanya menangkap sebuah jurnal dengan sampul biru langit berada di antara barang-barang milik Luna. Matanya menyipit seraya mengingat-ingat di mana dia pernah melihat jurnal seperti itu?
“My Boo.” Langit membaca tulisan yang tertera pada sampul jurnal tersebut. Luna yang menyadari itu seketika wajahnya menegang.
“Ada apa, Lang?” Tanya Biru yang mendengar Langit membaca dengan jelas.
“Si anjrit, lo nggak sopan banget baca buku harian orang.” Tegur Bian yang ikut berjongkok untuk memunguti barang Luna.
“Ahh, seharusnya ini nggak aku bawa.” Luna dengan gelagapan buru-buru mengambil alih Bian dan Langit untuk segera memasukkan semua barangnya ke dalam tas.
“Sorry. Gue nggak sengaja, kebaca gitu aja tadi.” Ujar Langit tak peduli setelah mereka berdiri.
“Nggak apa-apa. Kalau gitu aku pulang duluan.” Ucap Luna masih dengan wajah tegangnya dan berlalu cepat meninggalkan Bian dan Langit yang memandangnya dengan heran karena tingkahnya yang sedikit aneh.
“Lang, lo malah bengong kayak orang linglung gitu. Sana pergi.” Langit mendengus sebal mendengar Biru mengusirnya. Baru beberapa menit yang lalu baru saja cowok itu mengajaknya berteman baik. Benar-benar menyebalkan.
“Ngeselin lo, lagi sakit juga.” Langit menggerutu kesal. Dia yang hendak pergi lantas mengurungkan niatnya sejenak saat masih ada perasaan yang mengganjal tentang jurnal yang baru dilihatnya.
“Ohh, iya. Gue kayak pernah lihat buku Luna, tapi gue lupa di mana.” Ucap Langit kemudian masih mengingat-ingat.
“Ya elah, buku kayak gitu banyak, kali, di pasaran. Lo lihat di toko mungkin.” Sahut Bian cukup masuk akal.
“Buku apaan, sih?” Tanya Biru penasaran.
“My Boo" Langit bergumam pelan, tapi masih jelas terdengar. "Ngomong-ngomong dia punya pacar, ya? Atau isinya tentang elo?” Dia menyindir di akhir kalimatnya hingga langsung mendapatkan delikan sebal dari Biru.
“Sembarangan lo.” Sahut Biru tak terima.
“Si kampret malah kepo sama privasi orang.” Dumel Bian sambil menoyor kepala Langit. Tapi Langit tak mengindahkannya.
“Jingga.” Langit merasakan pikirannya sedikit lega saat dia berhasil mengingatnya.
Langit ingat, beberapa bulan yang lalu Jingga pernah menunjukan jurnal yang mirip dengan milik Luna padanya. Jingga mengatakan akan memberikannya pada Biru untuk membantunya mengingat. Langit memang tidak tahu apa isinya, tapi dia dengan jelas mengingat bentuk luarnya.
“Jingga?” Alis Biru bertaut bingung.
“Jurnal lo, Bi. Itu mirip banget sama jurnal punya Jingga yang pernah lo kasih ke dia.” Sahut Langit seraya menunjuk Biru. Biru yang memang tidak tahu hanya bisa mengernyitkan alisnya.
“Udah gue bilang buku kayak gitu banyak. Lo ini aneh banget, Cil.” Bian kembali menyahuti. Tapi Langit masih keukeuh notebook itu milik Jingga.
“Emang banyak, tapi sampulnya jelas tulisan tangan.” Sahut Langit, lalu pandangannya beralih pada Biru. “Kecuali lo pernah ngasih Luna jurnal yang sama dengan yang pernah lo kasih sama Jingga.”
Biru mengerutkan keningnya sebelum kemudian berucap. “Gue nggak pernah ngasih buku apapun sama Luna, dan gue juga nggak inget pernah ngasih buku sama Jingga.”
“Waktu itu Jingga mau ngembaliin itu sama elo. Katanya untuk membantu lo biar cepat inget.” Ujar Langit.
“Jingga nggak ada ngasih buku apa-apa sama gue.” Jawab Biru yakin. Bahkan dalam kotak barang juga tidak ada buku apapun seperti yang dikatakan Langit.
“Udah deh, Lang. Lo mau nuduh Luna ngambil buku Jingga, kan? Itu kebetulan mirip aja.” Tegur Bian.
Langit mendengus sebal. “Gue bukannya mau nuduh. Tapi–”
“Bian bener. Itu cuma perasaan lo aja kali.” Timpal Biru memotong ucapan Langit.
“Yaa, mungkin itu emang kebetulan aja.” Ucap Langit akhirnya, tak mau banyak berpikir.
Benar kata Bian, buku seperti itu banyak. Walaupun perasaannya masih mengganjal, namun dia lebih memilih untuk mengabaikannya. Lagipula tidak baik juga berpikiran buruk terhadap orang lain.
“Ya udah, kalau gitu kita pulang, ya, Bi.” Ucap Bian yang dijawab anggukkan oleh Biru.
Langit dan Bian kemudian berlalu untuk meninggalkan ruang rawat Biru. Namun baru saja Langit menyentuh handle pintu, Biru kembali memanggil sehingga mengharuskan Langit untuk berbalik.
“Apa? Lo nggak mau gue tinggalin?” Cibir Langit. Biru hanya mendengus saat mendengarnya.
“Thanks udah nolongin gue.” Ucap Biru tulus.
“Gak gratis. Gue akan nagih imbalannya setelah lo sembuh.” Sahut Langit tersenyum menyeringai seraya berlalu keluar dari ruang rawat Biru diikuti Bian di belakangnya.
“Ck, dasar.” Biru berdecak pelan sambil tersenyum geli.
********
Selepas kepergian Biru dan Bian, Biru memposisikan tubuhnya agar bisa tidur dengan baik. Dia merasakan tubuhnya sangat lemas, tapi matanya tidak mengantuk sama sekali.
Biru terbaring dengan posisi telentang sempurna, matanya menerawang lurus menatap langit-langit kamar. Kembali dia dihinggapi kehampaan di hatinya. Pikiran dan hatinya seolah menjerit-jerit meminta Jingga untuk kembali.
“Kamu di mana, Jingga?” Biru kembali bertanya-tanya dalam hatinya.
“Apa kamu nggak pernah berpikir kalau suatu saat nanti bisa aja aku capek untuk terus mencintai kamu?”
Ingatannya kembali melayang saat dia dan Jingga berada di atap. Saat itu Biru mengatakan Jingga tak akan pernah bisa melupakannya, karena Jingga sangat mencintai Biru dan selamanya akan mencintainya.
“Tolong jangan menyerah untuk mencintai aku, aku mohon.” Biru memejamkan matanya seriring dengan air mata yang ikut menetes. Dia merasakan dadanya sakit, sakit karena menahan rindu yang tak berujung temu.
“Aku pasti akan pergi dan berdiri di tempat yang nggak bisa kamu lihat.”
Biru menyesal karena mengabaikan peringatan Jingga waktu itu, malah dengan sombongnya dia berkata bahwa Jingga tidak akan bisa melakukan hal itu.
Seandainya saja saat itu Biru lebih pintar untuk menahan Jingga agar tetap berada di sisinya, gadis itu mungkin tidak akan pergi.
Seandainya saja saat itu Biru tidak mengabaikan Jingga dan membiarkannya berjuang sendirian, seandainya saja dia dulu lebih mendekat ke arahnya, seandainya saja dia memperlakukan Jingga dengan baik, seandainya saja dia lebih cepat menyadari perasaaannya, dan seandainya dia tidak egois dengan menginginkan Jingga untuk ada di sisinya, tapi dia tidak melakukan apapun. Mungkin Jingga saat ini masih ada di sisinya, sedang menghabiskan waktu romantis berdua seperti yang selalu Jingga inginkan.
Sekarang Biru bisa apa? Dia tidak akan pernah bisa memutar kembali jarum jam ke arah kiri, sekuat apapun penyesalannya. Biru hanya bisa meratapi penyesalannya dengan dua kata menyedihkan, seandainya saja.
__ADS_1
“Jangan hukum aku kayak gini.” Biru menutupi matanya dengan satu tangan yang bebas untuk menyembunyikan tangisannya. Seumur hidup, dia tidak pernah menangis terisak seperti ini karena orang lain.
“Ya ampun . . . .” Suara Mama terdengar melengking di telinga Biru, entah kapan datangnya wanita paruh baya itu. Biru tidak menyadarinya.
“Ini anaknya siapa, sih? Kok jadi jelek banget kayak gini?” Mama meringis saat mengangkat dan menjauhkan tangan Biru yang menutupi matanya. Tampak wajah Biru yang sembab dengan sisa-sisa air mata masih menggenang di mata dan pipinya.
“Bi . . . .” Mama meraih wajah Biru agar menghadapnya. Namun Biru tetap memalingkan wajahnya, dia terlalu malu jika Mama melihatnya menangis seperti ini.
“Sakit banget, ya?” Mama duduk di tepi ranjang seraya mengelus lembut rambut Biru, dia merasa prihatin dengan keadaan anaknya. Ini kali pertama dia melihat Biru sekacau ini.
“What should I do?” Biru merubah posisi tidurnya menjadi miring, meletakkan kepalanya di pangkuan Mama, lalu menenggelamkan wajahnya di perut wanita yang telah melahirkannya 27 tahun yang lalu itu.
“I miss her so much.” Lirih Biru mengadukan betapa dia sangat merindukan Jingga. Mama hanya terdiam menatap Biru dengan tatapan sendu. Mama juga tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu anaknya.
“Sabar, ya.” Ucap lembut Mama dengan tangan tak berhenti mengelus kepala Biru, membujuknya untuk tetap tenang.
“Tapi ini udah tiga bulan dan Jingga belum kembali, Ma.” Keluh Biru. “Dan aku nggak tahu sekarang Jingga ada di mana. Biru harus nyusulin Jingga ke mana, Ma, sementara Om Rendra sama Tante Mona aja nggak tahu?” Lanjutnya terdengar putus asa.
“Tunggu kabar terbaru lagi dari mereka, ya. Katanya Om Rendra sama Tante Mona lagi bujuk Jingga untuk mengatakan keberadaannya sekarang.” Tutur Mama.
“Jadi, sekarang kamu sabar dulu. Jaga kesehatan kamu. Gimana kamu mau nyusul Jingga kalau kamu sakit kayak gini?” Lanjut Mama menyemangati Biru.
“Aku takut, Ma. Takut kalau sampai aku nggak ketemu lagi sama Jingga.” Cicit Biru.
Mama menghela napas berat untuk kemudian berucap. “Bi, apa kamu percaya kalau cinta itu ada chemistrynya?”
Biru mendongakkan kepala agar bisa menjangkau wajah Mama. Dia mengernyitkan alisnya seolah meminta penjelasan.
“Jadi, sekeras apapun kita berusaha menjauhkan diri dan hati kita, pada akhirnya akan bertemu lagi.” Tutur Mama. “Kamu cinta sama Jingga, kan?” Tanyanya kemudian. Biru hanya mengangguk yakin.
“Kamu percaya kalau Jingga juga cinta sama kamu?” Tanya Mama lagi.
“I think so.” Kali ini Biru menjawab dengan ragu. Dia mengingat Jingga mengatakan lelah mencintainya. “Enggak. Jingga cuma bisa cinta sama aku.” Dia lantas menepis keraguannya.
“Oke.” Mama mengangguk dengan seulas senyum tipis, lalu kembali berujar. “Karena kalian saling mencintai satu sama lain, maka kalian akan bertemu kembali. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan. Cinta memang seperti itu. Trust me.”
Biru mengerjap, mencerna kalimat penenang sang ibu.
“Jadi, tetap semangat dan jangan nangis kayak gini.” Ucap Mama kemudian sembari mengusap air mata yang masih membasahi pipi Biru. “Masa anak cowok nangis. Siap-siap aja kamu nahan malu, soalnya Mama pasti bakal ceritain ini sama Jingga kalau nanti udah pulang.”
“Mama. . . .” Rengek Biru manja dan kembali memeluk erat perut wanita itu untuk menyembunyikan wajahnya di sana.
“Duhh, Mama jadi kasihan nanti sama Jingga kalau dapat suami kayak kamu. Udah cengeng, manja lagi, habis itu nggak cukuran. Euwh, dekil banget anak Mama.” Ledek Mama pura-pura bergidik.
“Ma . . . .” Protes Biru melepas pelukannya untuk kemudian menatap wanita itu dengan wajah merengut.
“Aku beneran jelek, ya?” Tanya Biru.
Mama tersenyum, tangannya lantas terulur mengelus dagu Biru yang sedikit kasar. “Mama pikir Jingga nggak akan suka ini.”
********
“Lo kira tanaman?” Biru mendengus, dia heran karena Langit selalu mengatakan fotosintesis setiap kali mereka makan siang.
Ini adalah tepat satu minggu Biru keluar dari ruang perawatan. Dan selama satu minggu Biru dirawat, Langit selalu menemaninya saat waktu luang. Rupanya, mereka menjadi lebih dekat sekarang.
“Nggak ada bedanya. Kita sama-sama bisa memproduksi makanan, kok.” Ujar Langit seraya mendudukan dirinya di sebelah Biru. Mereka saat ini sedang berada di atap rumah sakit untuk menikmati makan siangnya.
“Ngaco lo, gimana caranya?” Tanya Biru seraya membuka kantong yang dibawa Langit untuk mengeluarkan makanannya.
“Masak.” Celetuk Langit asal.
“Bego.” Biru mendengus sebal sembari melemparkan kantong makanan yang sudah dia keluarkan isinya.
“Dihh, nggue gak salah, kok.” Sahut Langit berusaha membenarkan. Biru hanya memutar bola matanya malas, dia memilih untuk mulai memakan club sandwich miliknya.
“Bayar dua kali lipat.” Ucap Langit kemudian membuat Biru nyaris tersedak.
“Kok gitu?” Protesnya seolah tak terima.
“Uang lo, kan, lebih banyak dari gue.” Jawab Langit santai.
“Dasar perhitungan.” Biru mendengus sebal seraya menyesap minumannya.
Sejenak mereka terdiam dan fokus dengan makan siangnya sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa menenangkan. Ini pertama kalinya Biru makan siang di atap rumah sakit. Ternyata tidak buruk. Lebih tenang daripada saat dia makan siang di kantin atau restoran bersama teman-temannya. Pantas saja Jingga sering mengajaknya makan siang di sini.
Tenggorokannya kian tercekat saat dia mengingat Jingga. Biru bahkan jadi kesulitan untuk menelan makanan yang telah dikunyahnya itu, seolah ada sebuah batu besar yang menghalangi jalan masuk makanan di kerongkongannya hingga membutuhkan usaha yang lebih besar agar makanan tersebut dapat terdorong masuk.
“Minum.” Langit menyodorkan cup minumannya saat melihat Biru tampak kesulitan menelan makanan. Biru menerima cup minuman tersebut tanpa memperlihatkan wajahnya ke arah Langit. Dia tidak mau cowok itu melihat matanya yang mulai berair dan meledeknya. Namun sepertinya Langit terlalu jeli.
“Lo nangis?” Tanya Langit seraya berusaha menjangkau wajah Biru untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.
“Apaan, sih? Tenggorokan gue seret, makanan jadi susah ditelan, makannya mata gue jadi berair.” Elak Biru sembari mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Bilang aja lo inget Jingga yang sering ngajak lo ke sini, tapi lo malah selalu nolak. Iya, kan?” Tebak Langit tepat sasaran. Biru memang selalu menolak ajakan Jingga untuk makan siang di atap dengan berbagai alasan, dan dia menyesal sekarang.
“Tapi bagus lo selalu nolak. Jadi gue yang selalu gantiin lo dan nemenin dia makan siang di sini.” Imbuh Langit kemudian.
“Iya, dan gue nyesel.” Sahut Biru pelan seraya menundukan kepalanya, menatap nanar lantai atap gedung rumah sakit itu. Perlahan pandangannya mulai mengabur seiring dengan air mata yang kian menggenang di pelupuk matanya.
“Tck. Gue nggak nyangka lo ternyata secengeng ini.” Langit berdecak, nada suaranya penuh dengan ledekan. Dia jadi bingung harus prihatin atau tertawa. Jingga saja kalau mau menangis harus sembunyi dulu di belakang punggungnya. Tapi berbeda dengan Biru yang malah terang-terangan mengekspresikan kesedihan di depannya.
“Gue nggak cengeng. Mata gue aja yang sensitif.” Elak Biru seraya menghapus kasar air matanya dengan menggunakan baju.
“Mau gue peluk?” Kelakar Langit sembari merentangkan tangan. Wajahnya seketika memanas, dia ingin tertawa melihat sisi lain dari Biru yang baru diketahuinya ini. Sebab, kesan pertama saat Langit bertemu Biru adalah cowok yang keren. Tapi ternyata Biru lebih emosional daripada perempuan yang sedang PMS.
__ADS_1
“Sialan.” Biru mendengus sambil meninju pelan bahu Langit.
“Sini, lo bebas bersandar kapanpun juga. Gratis.” Langit menepuk bahunya, kembali menggoda Biru sambil menggeser posisi duduknya hingga lebih dekat dengan Biru.
“Kampret lo.” Biru mendengus kesal seraya menyumpal mulut Langit dengan sandwich miliknya hingga cowok itu kembali menjauh darinya.
“Setaan, sialan.” Umpat Langit dengan mulut penuh hingga suaranya tak terdengar jelas.
“By the way, Jingga sekarang ada di mana, ya?” Tanya Biru setelah beberapa saat hening.
Menghela napas berat, lalu mengedikkan bahu. “Gue juga nggak tahu. Mungkin tuh anak lagi hunting gunung atau laut. Sesuai stylenya, lah.”
“Lo kangen sama dia, nggak?” Tanya Biru.
“Banget. Lo sendiri?” Langit memutar lehernya kepalanya ke arah Biru.
“Hampir gila.” Jawab Biru. Memang seperti itu, dia sangat merindukan Jingga sampai dia merasa gila.
“Lo, kan, emang udah gila, Nyet.”
Biru medengus sebal. Langit benar-benar merusak suasana.
“Lo idiot.” Balasnya sambil menoyor kepala Langit, lalu beranjak untuk kemudian berlalu pergi meninggalkan Langit yang mendelik kesal kepadanya.
********
Tepat jam tujuh malam, Biru selesai dengan pekerjaannya. Dia berjalan dengan gontai menuju mobilnya. Biru ingin cepat sampai ke apartemen untuk tidur dan berharap memimpikan Jingga.
Memang, seolah Tuhan sedang menghukumnya bertubi-tubi, bahkan selama ini Jingga tak diizinkan untuk sekedar datang ke dalam mimpinya.
“Bi . . . .” Panggilan seseorang seketika menghentikan tangan Biru yang hendak membuka pintu mobil.
“Ada apa, Lun?” Tanya Biru malas. Entah kenapa, sejak kejadian di apartemen waktu itu, Biru jadi malas bahkan untuk sekedar berbicara dengan Luna.
“Aku boleh ikut pulang bareng, nggak?” Tanya Luna penuh harap.
“Aku nggak bawa mobil dan aku harus buru-buru pulang. Kamu mau, ya, anterin aku?” Pinta Luna lagi dengan wajah memelas, hingga akhirnya Biru terpaksa mengiyakan.
Suasana di dalam mobil hening, sesekali Luna melirik ke arah Biru yang hanya fokus pada jalanan.
“Eung, Bi.” Panggil Luna mulai membuka pembicaraan.
“Hmm.” Sahut Biru tanpa menoleh ke arah Luna.
“Kamu jadi banyak diam, ya, sejak kepergian Jingga. Kita juga jarang banget menghabiskan waktu bersama lagi.” Tutur Luna mengeluhkan sikap Biru.
“Aku harap kamu bisa ngerti sama kondisi aku.” Ucap Biru dengan nada dingin.
“Iya. Tapi jangan karena gara-gara Jingga pergi, kamu jadi melupakan teman-teman kamu.” Seru Luna terdengar seperti protes. Biru diam, memilih tak menyahuti ucapan Luna.
“Apa kamu nggak bisa move on aja?” Tanya Luna kemudian.
“Move on?” Kali ini Biru mengalihkan pandangannya untuk sejenak melihat Luna dengan tatapan tak terima.
“Bi, Jingga udah mutusin hubungan kalian secara sepihak, dia juga udah ninggain kamu. Apa itu berarti dia masih sama sayang kamu? Dia udah jahat, Bi, sama kamu.” Luna berusaha memprovokasi Biru, berharap matanya terbuka.
“Kamu nggak tahu apa-apa, Lun. Aku harap nggak pernah denger ini lagi.” Sambar Biru tajam dan berhasil membungkam mulut Luna hingga tak berani lagi berbicara lagi sepanjang perjalanan.
“Aku harap Jingga jangan pernah kembali lagi.” Luna menggeram kesal seraya meremas kuat jemari tangannya.
Bahkan setelah Jingga pergi, gadis itu tetap membayangi hidup Biru. Ini tidak adil. Luna yang selalu berada di sisi Biru selama ini, tak pernah sekalipun cowok yang ada di sebelahnya ini meliriknya. Tidak bisakah sedikit saja nama Luna menyusup ke dalam hati Biru?
“Luna.” Panggil Biru tiba-tiba membuat Luna tersentak.
“Ohh. Iya, Bi?” Tanya Luna.
“Sudah sampai.” Jawab Biru. Luna mengedarkan pandangannya ke depan, dia tersadar bahwa mobil Biru sudah sampai di depan rumahnya.
“Ohh, gitu, ya?” Gumam Luna. Sayang sekali, padahal dia masih ingin berlama-lama dekat dengan Biru. Tapi rasanya waktu cepat sekali berlalu saat bersamanya.
“Ya udah, kalau gitu aku turun. Kamu mau mampir dulu?” Tawar Luna sebelum dia benar-benar turun dari mobil.
“Enggak, makasih.” Tolak Biru dingin, tapi masih dengan nada sopan.
“Ohh, ya udah kalau gitu. Sebelumnya, makasih udah mau nganterin aku pulang.” Ujar Luna seraya menunjukan senyum terbaiknya. Namun Biru hanya menanggapinya dengan anggukkan.
********
Biru sampai di parkiran basement apartemen setelah dia mengantar Luna pulang ke rumahnya. Tak langsung turun dari mobil, sejenak dia menyandarkan punggungnya yang kaku setelah menyetir di sandaran kursi.
Biru memejamkan kedua mata, diikuti dengan sebelah tangan yang memijat pelan keningnya. Dia merasakan kepalanya sedikit berat, mungkin karena dia baru sembuh dari sakitnya dan masih perlu banyak istirahat.
Setelah dirasa tubuhnya sedikit tenang, Biru meraih tas kerjanya yang dia simpan di kursi belakang. Namun sesaat setelah dia mengambil tas kerjanya, tanpa sengaja dia melihat tas tenteng berwarna putih jatuh di bawah kursi yang tadi Luna tempati. Terlihat beberapa barang dari dalam tas tersebut berhamburan keluar, termasuk ponsel milik Luna.
“Tas Luna ketinggalan?” Gumam Biru dalam hati.
Biru hendak mengambil ponsel milik Luna, namun dia urungkan tatkala sebuah jurnal dengan sampul berwarna biru langit lebih menarik perhatiannya. Jurnal tersebut persis yang diributkan Langit waktu itu. Alhasil, tangan Biru kini lebih memilih untuk mengambil jurnal itu.
“My Boo?” Biru mengernyitkan keningnya saat membaca tulisan pada sampul jurnal itu.
“Ini kayak tulisan tangan gue.” Gumam Biru kemudian. Lantas karena penasaran, dengan gerakan perlahan Biru mulai membuka dan melihat apa isi dari jurnal tersebut.
Biru termangu. Raut wajahnya mendadak penuh keseriusan saat dia mulai membaca tulisan yang ada pada halaman pertama. Biru membaca tulisan yang berderet rapi itu dengan seksama agar tak ada yang terlewat satu katapun.
“Ini . . . .”
__ADS_1
********
To be continued . . . .