Still In Love

Still In Love
75. Kiss Me


__ADS_3

********


Jingga melepaskan ciuman mereka dengan paksa saat kembali mendengar suara ketukan pintu dan seruan suara seseorang dari luar kamar.


“Baju kita, Kak.” Ucap Jingga lirih sesaat setelah dia melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Biru.


Biru hanya bisa mengerang saat bibir Jingga terlepas dari bibirnya, dia kemudian terkekeh dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jingga, menyembunyikan wajah malunya di sana. Niat hati hanya ingin menggoda Jingga, tapi malah kehilangan kendali.


“Maaf, tadi aku becanda soal nyicil anak.” Ucapnya dengan suara serak, napasnya yang berantakan bisa Jingga rasakan kulit di lehernya.


“Aku cuma mau cium kamu, tapi malah kelewat batas. Maaf.” Lanjutnya lagi, masih menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher gadis itu.


Jingga menghela napas dalam-dalam, lalu tersenyum sambil mengusap-usap lembut kepala Biru. “Kalau gitu, kamu harus ngasih tip yang banyak buat dia.”


“Dia?” Biru mengangkat kepalanya dan menatap Jingga dengan sebelah alis terangkat.


“Petugas laundry. Kalau nggak ada dia, kita pasti masih belum berhenti.” Jawab Jingga, tangannya beralih mengusap kedua pipi cowok yang masih mengungkungnya itu.


“Haha. Okay.” Biru tergelak, lalu kembali mencium bibir Jingga singkat, sebelum kemudian dia beranjak dari atas tubuh gadis itu dan berjalan untuk membukakan pintu yang sedari tadi tak berhenti diketuk.


Jingga ikut terbangun, dia lalu mengikat kembali tali bathrobenya yang sempat Biru buka. Mendadak tubuhnya kembali meremang mengingat apa yang terjadi barusan.


Mereka memang bermain terlalu jauh. Tapi jujur, Jingga sangat menikmati itu.


Sentuhan tangan Biru di tubuhnya. . . .


Ciumannya. . . .


“Ini gila.” Gumam Jingga dalam hati sambil memejamkan mata erat-erat guna membuang pikiran kotor yang terus terbayang-bayang di kepalanya.


“Permisi, saya mengantar baju yang sudah selesai dilaundry.” Suara seorang perempuan langsung terdengar begitu Biru membuka pintu. Petugas laundry itu nampak tertegun saat melihat Biru.


“Oke, terima kasih.” Balas Biru singkat sesaat setelah menerima baju miliknya dan Jingga yang sudah rapi terbungkus plastik laundry.


Dia lantas memberikan tip beberapa lembar uang seratus ribuan seperti apa yang dikatakan Jingga tadi, sebagai penghargaan karena petugas laundry itu secara tidak langsung sudah menyelamatkan mereka dari melakukan hal yang tidak seharusnya.


“I–ini sepertinya, Mas, eh, Bapak melakukan kesalahan. Ini terlalu banyak.” Petugas laundry itu terkejut karena Biru memberinya tip yang menurutnya terlalu banyak.


“Itu nggak salah.” Sahut Biru dengan menyunggingkan senyum tipis. Petugas laundry itu semakin termangu dibuatnya, senyuman Biru begitu mempesona meski sangat tipis.


“Maaf, saya harus kembali.” Tegur Biru yang risih karena petugas laundry itu terus memandanginya seolah dia sedang ditelanjangi.


“Ohh, I–iya, Mas, eh–, Pak. Kalau begitu, saya permisi.” Ujar petugas laundry itu. Biru hanya menganggukkan kepala sambil menutup pintu, tanpa menunggu petugas laundry itu pergi lebih dulu.


Setelah menutup pintu, Biru kemudian berbalik dan hendak kembali ke kamar. Namun dia dibuat terkejut saat mendapati Jingga berdiri tak jauh darinya, sedang melayangkan tatapan tajam dengan tangan bersedekap.


“Wajah kamu dikondisiin, dong, Kak. Lihat tuh, tadi dia terpesona sama kamu.” Jingga menggerutu dengan raut wajah merengut.


Jingga yang tadi hendak menyusul Biru karena lama sekali bahkan hanya untuk sekedar menerima pakaian, malah tak sengaja menangkap petugas laundry yang sedang memperhatikan Biru dengan sebegitunya. Dalam hati, Jingga yakin seyakin-yakinnya jika petugas laundry itu sudah terpesona pada calon suaminya.


Jingga menyesal karena sebelumnya bukan dia saja yan membuka pintu untuk mengambil pakaian mereka.


“Kondisiin gimana?” Tanya Biru seraya menyerahkan baju milik Jingga.


“Yaa, jelekin dikit, kek, atau apa lah terserah, nggak usah dibikin ganteng.” Jawab Jingga jutek sembari berjalan untuk kembali ke kamar. Biru berdecak geli melihatnya, gadis itu terlihat sangat menggemaskan saat cemburu.


“Emang nggak apa-apa kamu punya suami jelek nanti?” Tanya Biru menggoda.


“Eung, enggak, sih.” Jawab Jingga setelah beberapa saat terlihat berpikir. Mereka lalu terkekeh setelahnya.


“Kamu nggak usah khawatir. Walaupun banyak cewek yang deketin aku di luar sana, aku nggak akan pernah ngelirik mereka sedikit pun.” Tutur Biru, lalu merengkuh bahu Jingga untuk memeluknya dari belakang setelah mereka kembali ke kamar.


Jingga mengerling, lalu mendongak dan menatap Biru tak percaya. “Gombal, ahh.”


“Ish.” Mencubit gemas pipi Jingga hingga membuatnya terkekeh. “Bener. Mau tahu, nggak, kenapa?”


“Kenapa?”


“Karena aku nggak akan pernah tersadar dari sihir kamu.” Lanjut Biru, membuat Jingga yang mendengarnya tersenyum geli. Sejak dulu, Jingga bukanlah gadis yang akan melting dengan kata-kata romantis yang akan terdengar seperti gombalan baginya. “Jingga, kamu pake sihir apa, sih?”


Jingga mendengus geli. “Udah, ahh, lepasin.” Lalu melepaskan tangan Biru yang melingkar di sepanjang bahunya. “Aku mau pake baju.”


“Gak mau pake di sini aja?” Tanya Biru kembali menggoda Jingga yang hendak pergi ke kamar mandi. Sontak saja ucapannya tersebut langsung membuat Jingga melayangkan tatapan galak padanya.


Mengabaikan Biru, Jingga kembali melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat dia melewati cermin di meja rias, dia lalu memundurkan tubuh dan berdiri di depan cermin.


Meletakkan bajunya di atas meja rias, lalu menurunkan sedikit bathrobenya hingga sebatas atas dada.


“Ya ampun.” Jingga meringis saat melihat banyak tanda merah di daerah leher hingga mencapai tulang selangka dan bagian atas dada.


“Kenapa, Ji?” Tanya Biru heran melihat Jingga malah berdiri di depan cermin. Lantas dia berjalan menghampiri gadis itu untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Gadis itu tak menjawab, dia sibuk memeriksa tubuhnya, menghitung berapa banyak tanda merah yang Biru tinggalkan.


“Ji, kamu apa-apaan, sih?” Tegur Biru panik karena Jingga menurunkan jubah mandinya. Sial. Kalau begini dia tidak yakin bisa mengendalikan dirinya lagi.


“Ini banyak banget, Kak, nanti aku pulang dari sini gimana?” Rengek Jingga, tanpa sadar berbalik untuk menunjukkan semua love bite yang hampir memenuhi tubuh bagian atasnya. Itu benar-benar terlihat seperti bekas jamahan makhluk astral.


“Ji, ya ampuun.” Biru dengan cepat memutar tubuhnya berbalik untuk menghindari apa yang sedang Jingga perlihatkan.


Mati-matian dia mempertahankan logikanya di saat naluri kelelakiannya terus berusaha menjebol pertahanan itu, tapi Jingga malah seenaknya memperlihatkan bagian tubuhnya seperti ini.


Apa gadis itu tidak ingat apa yang baru saja terjadi beberapa menit lalu? Hampir saja Biru menelanjanginya jika tidak ada petugas laundry ke kamar mereka.


“Kamu–” Biru menghela napas sambil memejamkan mata dalam guna menahan pening di kepalanya. “Kamu bisa tutupin pake jas aku.”


“Bener, ya?” Tanya Jingga memastikan dan bergerak menghampiri Biru untuk menjangkau pandangannya dengan cowok itu.


“Sial. Jinggaaa.” Biru menggeram dalam hati mendapati Jingga yang sudah berdiri di hadapannya dengan jubah mandi yang terpasang asal hingga menampilkan belahan dadanya sangat jelas.


“Iya-iya. Udah cepetan kamu pake bajunya.” Titah Biru lemah, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak melihat pemandangan indah di depannya.


“Kamu kenapa, sih, aneh banget?” Gumam Jingga tak peka, lalu tanpa menunggu sahutan Biru dia kembali berjalan untuk masuk ke kamar mandi.


“Gila, gue nggak tahan.” Biru bernapas lega setelah melihat gadis itu pergi.


Sejenak dia duduk terdiam di depan meja rias sambil menyugar rambutnya frustrasi, berusaha menenangkan pusat tubuhnya yang menegang.


Benar-benar sangat tersiksa terjebak satu ruangan bersama gadisnya yang pintar-pintar bodoh itu.


“Shi*t.” Meraup wajahnya kasar, lalu menyambar baju yang masih terbungkus plastik dan buru-buru memakainya. Biru benar-benar ingin segera keluar dari kamar hotel ini.


********


Sekitar pukul tujuh pagi, Biru dan Jingga sudah kembali ke hotel yang seharusnya menjadi tempat mereka menginap sebelumnya. Mereka tidak boleh terlambat sebelum Langit bangun dan memergoki.


Jingga stampil feminim mengenakan baju pantai warna kuning dengan off shoulder two piece model rok slit yang memamerkan bahu cantik dan kaki jenjangnya.


“Perfect.” Jingga tersenyum memuji dirinya sendiri di depan cermin saat dia menambahkan topi pantai.


“Ish, Biru, sih.” Gumamnya sedikit khawatir kalau sampai make up yang dia gunakan untuk menutupi tanda merah di tubuhnya luntur terkena air atau keringat.


Raut wajahnya seketika merengut, karena sepertinya dia tidak bisa bermain air dan melakukan kegiatan yang akan menguras banyak keringat. Padahal, hari ini mereka berencana untuk bermain di watersport.


Tapi selain itu, dia sepertinya juga salah kostum, karena tidak mungkin bermain di watersport dengan baju modelan dress seperti ini. Lebih parahnya, Jingga tidak membawa baju kaus ataupun celana pendek. Semua baju yang dibawanya adalah model dress.


“Ish, mana pake salah bawa baju segala.” Jingga menggerutu frustrasi seraya duduk di depan meja rias.


Cukup lama gadis itu terdiam di depan cermin, hingga beberapa saat kemudian suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


“Ji, ayo turun, Langit udah nunggu di–” Kalimat Biru menggantung begitu melihat penampilan Jingga.


“Sial. Ini gue yang mesum atau dia yang kelewat seksi, sih?” Biru menggerutu dalam hati saat kembali diuji oleh gadis di hadapannya. Dia lalu dengan segera mendorong Jingga yang berdiri di ambang pintu untuk kembali masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Apaan, sih, Kak?” Protes Jingga yang terkejut Biru mendorongnya begitu saja.


“Kamu pake ini?” Tanya Biru menyoroti penampilan Jingga dari atas sampai bawah.


Gadis itu mengangguk santai. “Emang pake apa lagi?”


“Ganti.” Titahnya singkat, padat, dan tegas. Raut wajahnya sangat jelas memperlihatkan ketidaksukaannya dengan baju yang Jingga kenakan.


“Aku nggak ada baju lain.”


“Ya udah, kalau gitu kamu jangan pergi.” Mata Jingga membelalak mendengarnya. Dia sudah berdandan cantik seperti ini, dan Biru melarangnya untuk pergi?


“Nggak bisa gitu, dong.” Protes Jingga dengan ekspresi kesal.


“Ji, baju kamu terlalu kebuka. Aku nggak suka.” Sambar Biru jujur. Jelas saja, selain membuat dia berfantasi liar, dia juga tidak rela kalau sampai orang-orang di luar sana melihat penampilan Jingga yang seksi seperti ini.


Baju yang memperlihatkan bahu lebar Jingga hingga belahan dadanya terlihat, bukan hanya itu, perut dan pusarnya juga akan terlihat saat baju itu terangkat, ditambah baju tersebut tidak bisa menutupi pahanya yang mulus. Tidak, Biru tidak rela kalau sampai ada orang lain yang melihatnya.


“Lho, aku nggak minta kamu buat suka.” Sahut Jingga nyolot.


“JINGGA!” Bentak Biru tanpa sadar, membuat Jingga tersentak, wajahnya merengut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Maaf, Jingga. Aku nggak bermaksud ngebentak kamu.” Biru meraih tangan Jingga dan menggenggamnnya. “Aku cuma nggak mau orang di luar sana jelalatan ngelihatin penampilan kamu kayak gini.”


“Udah, lah. Kamu emang suka kayak gitu.” Ucap Jingga dengan bibir bergetar menahan tangis seraya menghempaskan tangan Biru, lalu melengos pergi menuju tempat tidur, duduk memunggungi cowok itu.


Biru mendengus kasar dan segera menghampiri Jingga. “Aku nggak sengaja, Ji.”


Sial. Hanya gara-gara baju ,mereka harus sampai ribut seperti ini. Tapi Biru juga tidak bisa mengalah, dia tidak ingin Jingga berpenampilan seksi selain di depannya.


Jingga menyentak bahu untuk menyingkirkan tangan Biru yang menyentuhnya.


“Aku minta maaf.”


“Aku nggak suka kamu bentak-bentak aku.”


“Iya, kan aku udah bilang nggak sengaja. Aku minta maaf.” Ujar Biru meraih bahu Jingga agar menghadapnya.


“Aku juga nggak suka kamu ngelarang aku pergi.” Jingga berbalik, terlihat jejak-jejak air mata di pipinya.


“Aku nggak ngelarang kamu pergi. Aku cuma minta kamu jangan pake baju ini.” Terang Biru hati-hati. Dia lalu menangkup wajah Jingga dan menghapus sisa air mata dengan ibu jarinya.


“Aku udah bilang nggak bawa baju lain.” Jingga menepis tangan Biru dari wajahnya. Sorot matanya masih menatap sebal cowok di hadapannya itu.


“Iya, makannya kamu tunggu sebentar, biar aku beliin dulu.” Tutur Biru mencubit gemas dagu Jingga.


Jingga mendengus diiringi delikkan sebal. “Kenapa nggak bilang dari tadi, sih?”


“Kamunya keburu ngambek.” Ledek Biru kembali mencubit dagu Jingga. “Jadi kamu maafin aku nggak?”


“Terpaksa.” Sahut Jingga tak ikhlas dengan wajah memberengut.


“Kamu bukannya jelek, tapi makin cantik tahu, nggak, ngambek kayak gini.” Biru dengan gemas menarik sebelah pipi Jingga.


“Kamu, tuh, ngeselin.” Jingga meninju dada Biru sekeras mungkin, melampiaskan rasa kesalnya.


Biru meringis bersamaan gelak tawanya yang menggema di kamar. Dia lalu menggenggam tangan Jingga dan mencium jemarinya yang lentik.


“Udah sana.” Jingga mendorong pelan bibir Biru dan menarik tangannya.


“Tunggu di sini.” Biru mengacak-acak rambut Jingga untuk kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar gadis itu.


“Ngeselin.” Umpat Jingga dengan hati yang masih merasa dongkol.


Sekitar satu jam kemudian, Biru kembali ke kamar Jingga dengan membawa baju baru yang cukup pantas menurutnya. Tanpa banyak protes, Jingga buru-buru mengganti bajunya.


“Gimana?” Tanya Jingga meminta pendapat Biru setelah mengenakan baju yang dibelikannya tadi.


Tapi Biru sebenarnya masih kurang puas karena celana yang dipakai Jingga masih menampakkan paha dan kaki jenjangnya. Tapi itu lebih baik daripada yang tadi, karena sebelumnya Jingga terlihat seperti tidak memakai celana.


Biru mengangguk lalu mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Jingga. “Ayo.”


“Langit pasti udah bete nunggu kita lama.” Ujar Jingga saat mereka memasuki lift untuk turun ke lobby hotel.


“Kamu siap-siap tutup kuping aja nanti.” Sahut Biru yang bisa menebak jika Langit pasti akan mengoceh pada mereka.


********


Sesampainya di pantai, Jingga tidak ikut bermain wahana watersport seperti Biru dan Langit. Dia hanya sedikit bermain air di tepi pantai dan menjaga barang milik dua cowok itu.


Jingga sudah cukup senang hanya dengan melihat mereka yang terlihat sedang berlomba dengan jet ski yang mereka kendarai saat ini. Dia lalu mengambil ponsel dan memotret mereka dari kejauhan.


Sedikit menyayangkan karena seharusnya dia membawa kamera, karena hasil fotonya akan terlihat jauh lebih baik daripada kamera ponsel.


Beberapa saat kemudian, terlihat Biru dan Langit menghampiri Jingga yang sedang duduk di kursi pantai sembari menikmati es kelapa muda.


“Ji, habis ini kamu mau ikut kami main parasailing, nggak?” Tanya Langit setelah mendudukkan diri di sebelah Jingga, lalu mengambil es kelapa yang sengaja gadis itu disiapkan untuk mereka.


“Kayaknya enggak, deh. Aku lagi males ngapa-ngapain, kalian aja deh.” Jawab Jingga.


“Bener kamu nggak mau main apa-apa? Nanti nyesel, lho, jauh-jauh ke sini malah nggak ngapa-ngapain.” Tanya Biru memastikan seraya melepaskan sedotan dari mulut Jingga. Lagi, dia tak tahan melihat Jingga memainkan sedotan seperti itu.


“Iya, aku nggak mau main apa-apa. Aku cuma mau beli oleh-oleh nanti.” Sahut Jingga yakin dan memposisikan duduknya untuk bersila.


“See, Kak Senja minta aku bawain oleh-oleh banyak banget.” Jingga lalu memperlihatkan pesan dari Senja yang berisi list oleh-oleh khas Bali.


“Banyak bener. Pasti alasannya ngidam.” Dengus Langit setelah melihat pesan dari kakaknya.


“Itu, tuh.” Jingga mengacung-acungkan jari telunjuknya. “Enak banget jadi orang hamil bisa minta ini-itu pake alasan ngidam. Mana ngidamnya aneh-aneh lagi, untung aja aku nggak disuruh bawa cowok bule sama dia.”


“Bukan enak lagi, tapi ngerepotin.” Timpal Langit menyetujui. “Malah sebelumnya Kak Senja ngidam dandanin aku. Ngeselin banget, nggak, sih?”


Masih jelas dalam ingatan Langit saat menjadi bulan-bulanan tertawaan Bintang dan Biel karena dia didandani seperti perempuan oleh kakaknya, Senja. Langit menggigit sedotannya kuat-kuat mengingat itu, masih merasa jengkel sampai sekarang.


“Kalian sebenernya nggak boleh gitu, tahu.” Tegur Biru yang membuat Jingga dan Langit mengalihkan atensi padanya.


“Apaan, sih, kamu nih?” Jingga mendengus geli.


“Inget, suatu saat lo bakalan punya istri, Lang. Bisa aja nanti istri lo lebih aneh kalau lagi ngidam.” Tegur Biru kemudian, lalu beralih menatap Jingga. “Dan kamu, Ji. Sebentar lagi kamu jadi istri aku. Gimana kalau nanti kamu hamil, terus ngidamnya lebih ribet dan aneh dari kak Senja?”


Jingga dan Langit sama-sama melipat bibirnya menahan tawa, merasa Biru terlalu serius menanggapinya. Biru sendiri mendengus melihat itu, lalu mengusap bibir Jingga menggunakan telapak tangannya sebal.


“Dih, gini, nih, kalau ngobrol sama orang yang udah tua. Apa-apa dianggap serius.” Cibir Langit yang diangguki setuju oleh Jingga. Sementara Biru langsung memberinya tatapan tajam.


“Lo bilang gue tua?” Biru tak terima, karena usia mereka bahkan hanya terpaut satu tahun.


“Syukur, deh, kalau lo sadar.” Sepertinya Langit memang sengaja ingin membuat cowok itu kesal.


“Kampret lo.” Biru yang kesal langsung melemparkan sendoknya ke wajah Langit. Namun, Langit bisa menangkisnya dengan baik.


“Uluuh, Kakak tua kesel.” Jingga ikut meledek sembari menggelitik gemas dagu Biru layaknya kucing.


“Haha, Kakak tua, doong.” Langit tergelak kencang mendengar ledekkan Jingga pada cowok itu. Sementara Jingga hanya menahan tawanya, tak cukup berani untuk tertawa lepas karena melihat raut wajah Biru yang masam.


Namun gelak tawa Langit terhenti seketika saat dering ponsel miliknya terdengar. Jingga lantas menyerahkan ponsel Langit yang dia simpan di sling bagnya.


“Ngapain Om Wijaya telepon?” Tanya Jingga yang tak sengaja membaca nama si penelepon saat menyerahkan ponsel milik Langit.


“Aku juga nggak tahu.” Sahut Langit beranjak mencari tempat yang sedikit sepi, guna menjawab panggilan telepon dari sang ayah.


Suasana di antara Biru dan Jingga sedikit membeku sepeninggal Langit. Jingga merutuki dirinya sendiri, karena bisa-bisanya tadi malah ikut-ikutan meledek Biru. Masalahnya, cowok itu terlihat sangat kesal sekarang.


“Kak–” Takut-takut Jingga memberanikan diri menyentuh lengan bahu Biru. Tapi cowok itu tak menggubrisnya sama sekali. Dia malah sibuk menikmati es kelapa mudanya tanpa mau menoleh ke arah Jingga sedikitpun.

__ADS_1


“Kak, kamu marah?” Tangan Jingga bergelayut manja di lengan Biru untuk menarik perhatiannya.


“Nggak!” Sahut cowok itu datar.


“Kak, aku sama Langit cuma becanda.” Kali ini tangan Jingga beralih merangkul pundak, setengah memeluk Biru. “Kamu nggak tua, kok. Yaa kalaupun kamu tua, tapi tetap ganteng, kok. Aku malah suka cowok yang kelihatan dewasa.”


Biru mendengus sebal, kekesalan masih menyelimuti dirinya. “Ngeselin tahu, nggak?”


“Ya udah, kamu jangan ngambek gini, dong.” Rayu Jingga sambil mengelus dagu Biru yang halus. “Aku mau main di pantai sama kamu.”


“Main aja sendiri. Nggak seru main sama yang udah tua.” Sahut Biru penuh penekanan di akhir kata.


Jingga mendengus, lalu terdiam berpikir, memutar otak guna mencari cara membujuk cowok kulkas sepuluh pintu ini.


“Maafin, ya.” Jingga mengedip-ngedipkan matanya gemas, nyaris merobohkan pertahanan Biru.


“Hum?” Jingga lalu mengecup leher Biru dari samping, memberikan hisapan, dan gigitan kecil di sana, sama seperti yang Biru lakukan padanya tadi pagi. Entah dari mana gadis itu mendapat keberanian, yang jelas apa yang dilakukannya itu sukses membuat tubuh Biru menegang.


“Ji, ehem, di sini–banyak orang.” Suara Biru terputus-putus, napasnya tercekat oleh gairah yang Jingga timbulkan.


Tangan Jinggaa yang semula diam mulai bergerak, dengan seduktif menelusuri dada Biru, bahu, dan berakhir mengusap leher, membuat Biru memejamkan matanya menikmati sentuhan itu.


“Jingga. . . .” Biru membuka mata, sebisa mungkin menahan napas saat Jingga menghisap kulit lehernya kuat-kuat, hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Biru ingin berontak, tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan seolah membeku.


Jingga tersenyum di balik leher Biru. Entah kenapa, rasanya senang sekali menggoda Biru seperti ini. Terlebih ketika melihat wajah cowok itu nampak sangat tersiksa sekarang.


“Udah nggak marah lagi, kan?” Tanya Jingga setelah menarik diri dan memberikan satu kecupan singkat di rahang Biru.


“Kamu nyiksa aku, tahu, nggak?” Ucap Biru yang masih sibuk mengatur napasnya agar kembali normal. Tapi gadis itu dengan polosnya malah terkekeh tanpa merasa bersalah.


“Makannya ayo main sebentar sama aku.” Rengek Jingga seraya menunjuk ke arah tempat yang sedikit sepi.


“Iya, tapi kita tunggu Langit dulu, biar dia nggak nyariin.” Tutur Biru setelah berhasil menenangkan kembali tubuhnya. Jingga hanya mengangguk dan meuruti apa yang cowok itu katakan.


********


“Ayo.” Ajak Biru dengan tangan terulur untuk menggandeng tangan Jingga setelah berpamitan pada Langit. Gadis itu dengan senang hati menyambut uluran tangan tersebut.


Mereka lantas berjalan bersama sambil bergandengan tangan, menyusuri garis pantai menuju tempat yang Jingga maksud.


“Ngomong-ngomong, kemampuan kamu ternyata nggak buruk, Ji.” Ucap Biru tiba-tiba sambil mengulum senyumnya.


Jingga menoleh ke arahnya dengan alis bertaut tak mengerti. “Kemampuan apa?”


“Ini.” Biru menunjuk lehernya yang terdapat love bite akibat ulah Jingga.


Gadis itu hanya nyengir kaku sembari mengusap-usap tengkuknya yang tak gatal, malu sendiri dengan apa yang dilakukannya tadi.


“Kamu kayak vampir tahu, nggak?” Ledek Biru kemudian.


“Udah, ihh. Aku malu.” Jingga melepaskan tangannya dari genggaman tangan Biru, untuk kemudian berjalan mendahuluinya.


Jingga tak ingin mendengar Biru membahas hal ini lagi. Dia benar-benar malu, meski tadi terasa menyenangan saat melakukannya.


“Malu, tapi suka.” Cibir Biru tersenyum geli. Dia lalu berlari kecil menyusul Jingga.


Gadis itu terlihat senang bermain dengan ombak yang datang menggerus tepi pantai, membiarkan airnya menyentuh kakinya. Sesekali Jingga bermain-main dengan pasir, membiarkan pasir halus itu meyelinap masuk di antara sela-sela jari kaki.


“Ji, mainnya agak jauhan, dong.” Biru dengan usil menarik tangan Jingga untuk melangkah lebih jauh dari tepi pantai.


“Aaaakh.” Jingga melompat ke punggung Biru dengan refleks saat ombak laut menyambar tubuh mereka hingga membasahi bajunya.


“Kakak, ihh.” Jingga memukul pelan pundak Biru tanda protes.


“Turun, Ji.” Titah Biru. Tapi Jingga malah semakin mengeratkan tubuhnya dengan melingkarkan kaki dan tangannya di pinggang serta leher Biru.


“Ohh, ya udah. Tapi jangan nyesel, ya?” Biru dengan senyum jahil membawa dirinya masuk ke tengah laut, tak mengindahkan Jingga yang melayangkan protes padanya.


Pada akhirnya, Jingga yang awalnya tak mau bermain air malah hanyut dalam keseruannya bermain air dan tertawa bersama Biru.


Sesekali Biru menjahilinya dengan melempar tubuh Jingga ke dalam air, hingga membuatnya terbatuk-batuk karena air laut masuk ke dalam hidung dan mulutnya. Namun Jingga tidak marah, justru gadis itu malah membalasnya dengan mendorong keras tubuh Biru hingga terjatuh ke dalam air. Mereka lalu saling mentertawakan satu sama lain setelahnya.


Biru dan Jingga memutuskan untuk berhenti bermain saat dirasa sudah lelah. Keduanya kembali ke tepi pantai dengan tubuh yang sudah basah kuyup, lalu duduk berdampingan di sana, membiarkan ombak yang menggerus tepian pantai kembali membasahi tubuh mereka yang memang sudah basah.


“Tadinya aku nggak mau main air kayak gini, tahu, nggak?” Ujar Jingga dengan mata menyipit saat angin nakal berhembus menerpa wajahnya.


“Kenapa?” Tanya Biru heran, padahal Jingga sangat menikmatinya tadi.


“Takut make up aku luntur.” Jawab Jingga tanpa melihat ke arah Biru.


“Buat aku, kamu itu cantik dengan atau tanpa make up.” Sahut Biru sambil merapatkan tubuhnya, lalu melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Jingga.


“Bukan wajah aku, tapi ini.” Jingga mengubah posisi duduk menghadap Biru dan menunjukkan lehernya.


“Luntur nggak, sih?” Tanpa sadar, Jingga membuka satu kancing kemeja bagian atas dan menundukkan kepalanya untuk melihat apa tanda merahnya masih tertutupi atau tidak. Biru kembali dibuat menelan ludahnya dengan susah payah melihat itu.


“Masih nggak kelihatan, kok, Ji.” Biru mengancingkan kembali kemeja Jingga. Bisa bahaya kalau dibiarkan terbuka terlalu lama.


“Syukur deh, kalau gitu.” Jingga sedikit lega mendengarnya.


Sejenak tak ada percakapan lagi di antara mereka setelah itu. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing, matanya fokus memperhatikan deburan ombak tipis yang berlarian ke tepi pantai.


“Kak . . .” Panggil Jingga tiba-tiba seraya mengalihkan pandangannya ke arah Biru. Suaranya gadis itu terdengar lirih.


“Hum?” Sahut Biru lembut diiringi senyum dan tatapan hangat.


Jingga terdiam tak langsung menjawabnya. Jika Dilihat dari cara dia menatap Biru, sepertinya gadis itu ragu-ragu untuk mengatakan apa yang hendak dia katakan.


“Kenapa?” Tanya Biru sembari menyelipkan rambut Jingga yang mengganggu wajahnya ke belakang telinga. Biru menatap matanya lama-lama, menunggu apa yang akan gadis itu sampaikan.


“Will you kiss me once?” Dan satu kalimat yang Jingga lontarkan berhasil membuat tubuh Biru mematung seketika.


Biru mengerjapkan mata, memastikan apa yang didengarnya barusan bukan mimpi. Jingga memintanya lebih dulu? Apa pendengarannya tidak salah?


“Forget it.” Ucap Jingga kemudian yang melihat reaksi terkejut Biru. Sebenarnya dia malu meminta hal seperti ini padanya, dan dia juga tidak tahu kenapa bisa meminta itu. Jingga merasa sudah kehilangan akal sehatnya hari ini.


Jingga memalingkan wajahnya, kemudian beranjak dan hendak pergi untuk menghindari Biru. Namun, dengan cepat tangan Biru menarik lengannya, hingga Jingga terjatuh tepat di pangkuan cowok itu.


“K–kak.” Jingga salah tingkah mendapati Biru yang terus menatapnya lekat-lekat sambil membelai wajahnya.


Hingga beberapa detik kemudian, dengan gerakkan perlahan dan lembut, Biru mendaratkan kecupan di kelopak mata Jingga.


“Ayo selesaikan latihan bulan madu kita dengan baik.” Dan tak butuh waktu lama, Biru mencari bibir Jingga untuk menciumnya. Ciuman yang lembut dan sangat dalam, sedalam rasa cintanya pada Jingga.


Jingga menutup matanya, membalas ciuman Biru. Kedua tangannya melingkar di sepanjang leher Biru.


Merasakan bibir Jingga membalas ciumannya, Biru semakin melancarkan aksinya mencium gadis itu. Menyesapnya dalam-dalam, menikmati setiap inci bibir Jingga yang terasa bagai candu untuknya.


Bibir mereka akhirnya bergerak seirama, saling memagut dan memuja penuh rasa cinta diiringi dengan suara deburan ombak saling bersahutan dan desiran angin pantai.


Jingga membalas ciuman Biru semakin intens, ditariknya tengkuk Biru agar cowok itu memperdalam ciumannya, kemudian dengan senang hati dia membuka mulut untuk membiarkan Biru membelit dan saling menyesap lidah mereka di dalam rongga mulutnya.


Biru melepaskan ciumannya saat dirasa pasokan oksigen di dalam rongga paru-paru mereka mulai berkurang. Mata Jingga yang sempat terpejam lantas terbuka saat Biru mengakhiri ciumannya.


Biru kemudian menempelkan keningnya dengan kening Jingga, hingga bulu mata mereka saling bersentuhan.


Deru napas mereka tak beraturan. Masih dengan napas terengah, lantas Biru mengatakan. “Ayo kasih tahu orang tua kita setelah pulang dari sini. Aku mau kita nikah secepat mungkin.”


********


To be continued . . . . .

__ADS_1


__ADS_2