Still In Love

Still In Love
EP. 44. Bad Dinner


__ADS_3

NB : YANG NULIS BUKAN ORANG YANG BEDA!!! KALO ADA YANG MERASA BAHASANYA BERBEDA UNTUK BAB SELANJUTNYA, ITU BERARTI BAB TERSEBUT BELUM DIREVISI.


********


Sekitar pukul enam sore, Jingga keluar dari rumah sakit setelah pekerjaannya selesai. Buru-buru dia berjalan ke parkiran basement rumah sakit dan memasuki mobil. Namun gadis itu tidak langsung menjalankkan mobilnya setelah dia berada di balik kemudi, dia malah mengambil ponsel dari tasnya dan mencari nama kontak Biru di sana.


Jingga hendak menghubungi Biru untuk menanyakan apakah cowok itu sudah pulang atau belum. Jika belum, Jingga akan mengajak Biru untuk makan malam di luar.


“Iya, Ji . . . .” Suara bariton milik Biru langsung terdengar di telinganya tak lama setelah teleponnya tersambung.


“Kamu masih di rumah sakit, nggak?” Tanya Jingga langsung.


“Enggak. Aku udah pulang dari satu jam yang lalu. Kenapa? Kamu belum pulang? Mau aku jemput?”


Jingga tersenyum, hatinya menghangat mendapat perhatian kecil dari Biru seperti ini. Sudah lama sejak pertemuannya dengan Biru kembali, Jingga tidak pernah melihat Biru memperhatikannya seperti dulu. Yang lebih sering dia dapatkan selama ini hanya ancaman, peringatan, larangan, dan bahkan tudingan yang terkadang cukup menyakiti hatinya.


Jadi mendengar tawaran Biru menjemputnya dengan inisiatif sendiri, Jingga sangat senang meski itu hanya perhatian kecil. Biasanya Biru akan mengantar atau menjemput dirinya karena permintaan dari Tante Lisa.


“Nggak usah. Ini aku baru mau pulang.” Jawab Jingga dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.


“Terus ada apa kamu nelepon aku? Udah kangen?”


Jingga hanya mendengus geli saat mendengarnya, tapi dalam hatinya dia sangat senang. Jingga kembali menemukan diri Biru yang dulu. Dia harap hal ini berlangsung lama.


“Apaan sih? Enggak, yaa. Aku cuma mau nanya, kamu bisa makan malam bareng aku nggak nanti?”


“Boleh. . . .”


Senyum di bibir Jingga semakin mengembang mendengar jawaban Biru.


“Oke. Aku tentuin tempatnya, ya.” Ucap Jingga semangat.


“Jangan . . . .” Sambar Biru membuat alis Jingga terangkat bingung. “Aku aja yang nentuin tempatnya.”


Gadis itu senang Biru yang menentukan tempatnya. Karena biasanya cowok itu hanya mengatakan terserah Jingga.


“Di mana?” Tanya Jingga antusias.


“Apartemen aku.”


Sejenak Jingga terdiam. Berdua di apartemen dengan Biru, rasanya sedikit kurang aman.


“Kamu jangan mikir aneh-aneh. Kita nggak akan ngapa-ngapain.” Ujar Biru seolah mengerti akan diamnya Jingga.


“Okay, aku ke sana nanti.” Jawab Jingga dengan ragu.


“Hmm.”


Sahutan singkat itu mengakhiri percakapan keduanya di telepon. Setelah dipikir-pikir, tidak apa-apa jika Jingga ke apartemen Biru. Sekalian memberikan kue dari Bunda, dia juga akan membentengi dirinya agar tidak kecolongan lagi dengan yang mungkin akan Biru lakukan.


Bukannya berpikiran buruk, tapi melihat tingkah Biru akhir-akhir ini membuat Jingga harus waspada jika sedang berdua dengannya. Apalagi di tempat yang sepi, karena jika sudah terjadi sesuatu, Jingga juga akan kesulitan mengendalikan dirinya.


Mungkin benar apa yang dikatakan Langit, jika berduaan dengan lawan jenis, maka yang ketiganya adalah setan. Mungkin setanlah yang membuat mereka kehilangan kendali.


********


Sementara itu di apartemennya, Biru baru saja selesai menata meja makan. Tampak dua piring steak yang sudah dihiasi kentang grill dan beberapa sayuran rebus tersaji di atas meja makan. Tak lupa dua gelas jus cranberry sebagai pengganti wine juga ikut menghiasi meja makannya.


Biru sangat tahu Jingga sangat menghindari alkohol, untuk itu dia menggantinya dengan jus cranberry. Minuman tersebut sangat cocok untuk pairing dengan steak. Sari buah cranberry memiliki cita rasa yang kompleks saat dipadukan dengan steak. Rasanya yang asam ditambahkan dengan sedikit club soda akan selaras rasanya dengan daging steak yang juicy.


“Perfect.” Gumam Biru dalam hati. Dia menatap meja makan dengan puas, terlebih dia memasak sendiri dengan tangannya. Tanpa dia sadari, sudut bibirnya tertarik dengan sempurna.


“Tck, gue ngapain, sih?”


Biru merasa heran saat menyadari dirinya menyiapkan semua itu, terlebih dengan senang hati. Seumur hidupnya yang dia ingat, dia tidak pernah memasak untuk orang lain selain dirinya sendiri. Tapi kenapa sekarang dia begitu bersemangat melakukannya untuk Jingga? Biru juga heran kenapa tadi mengusulkan untuk makan malam di apartemennya pada Jingga, itu terlontar begitu saja dari mulutnya.


Suara bel apartemen membuyarkan lamunan Biru. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, merasa heran, padahal Jingga baru saja menghubunginya kalau gadis itu baru akan berangkat. Walaupun jarak apartemennya dengan apartemen Jingga dekat, tapi tidak mungkin gadis itu sampai secepat ini.


Tak ingin banyak berpikir, Biru kemudian melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


“Ji, kamu cepat ba . . . .” Kalimatnya menggantung saat mendapati Luna yang berada di depan pintu apartemennya sekarang.


“Luna. . . .” Ucapnya dengan alis terangkat bingung. Untuk apa Luna datang ke apartemennya malam-malam begini?


“Hai, Bi . . . .” Sapa Luna dengan senyum semringah.


“Kamu ngapain ke sini?” Tanya Biru tanpa basa basi.


“Aku nggak disuruh masuk dulu, nih?” Sindir Luna melihat Biru yang hanya berdiri di ambang pintu tanpa mempersilahkannya masuk.

__ADS_1


“Ohh–” Biru mengerjap, lantas dengan ragu mempersilahkan gadis itu. “Masuk, Lun.”


Luna tersenyum senang mendengarnya, dia kemudian melangkah masuk ke dalam apartemen milik Biru dan duduk di sofa setelah mendapat izin dari pemiliknya.


“By the way, kamu mau apa ke sini?” Tanya Biru lagi setelah berhasil mendudukkan dirinya di hadapan Luna.


“Aku mau ngasih undangan ini sama kamu.” Jawab Luna seraya memberikan sebuah undangan pernikahan. “Dokter Ryan dari rumah sakit cabang Surabaya nitipin ini sama aku. Albi, Bian, sama Bisma juga udah dapat.” Jelasnya kemudian.


“Kenapa Dokter Ryan nggak langsung ngasih langsung ke aku?” Biru heran, mengingat dia dan Dokter Ryan dulu cukup dekat sebelum dipindahkan ke rumah sakit cabang.


“Sebenarnya tadi siang Dokter Ryan datang, tapi kamu masih sibuk operasi. Tadinya dia mau nitipin itu di receptionist, tapi kebetulan aku papasan dan nawarin diri buat nganterin undangannya ke kamu sama yang lainnya.” Jelas Luna. Biru hanya membalasnya dengan anggukkan.


“Terus kenapa kamu nggak ngasih ini besok aja di rumah sakit?” Tanya Biru seolah Luna tidak punya waktu lain saja.


“Ohh, kebetulan aku juga mau ngasih ini sama kamu.” Jawab Luna seraya menggeser paper bag yang tadi sempat dia letakan di atas meja ke arah Biru. “Ini dari Ibu, Ibu buatin khusus buat kamu.”


“Puding?” Seru Biru saat membuka paper bag yang ternyata berisi puding strawberry.


“Iya, Ibu bilang dia kangen lihat kamu makan puding ini. Waktu kecil, kan, kamu suka banget makan puding buatan Ibu.” Sahut Luna sambil mengingat masa kecilnya.


Biru tersenyum simpul menatap puding tersebut. “Nggak cuma dulu, sampai sekarang aja aku masih suka makanan apapun yang Bu Ratmi buat.” Tuturnya tulus, dia memang sangat menyayangi wanita yang pernah menjadi pengasuhnya itu. “Sampaikan terima kasih dari aku sama dia. Lain kali, aku ke rumah kamu buat ngunjungin dia.”


“Ibu pasti bakal seneng banget dengernya.” Seru Luna antusias. “Ohh, iya. Kamu kalau mau sesuatu buatan Ibu tinggal bilang aja sama aku. Ibu pasti langsung bikinin. Tahu, kan, Ibu tuh sayang banget sama kamu, malah lebih daripada aku.” Imbuhnya sambil mendengus.


“Haha, aku minta maaf untuk itu.” Biru tergelak pelan. “Maaf karena aku udah merebut perhatian Ibu kamu. Waktu itu pasti moment yang cukup berat buat kamu, karena harus berbagi kasih sayang Ibu kamu sama aku.”


Biru merasa bersalah pada Luna karena dia berpikir sudah merebut perhatian ibunya. Saat Biru masih kecil, dia tak cukup mendapat perhatian dari Mama. Mama yang baru meniti karir untuk bisnis fashionnya saat itu, membuatnya tak memiliki waktu bahkan sekedar untuk menemani Biru sarapan sebelum berangkat sekolah. Begitu pun dengan Papa yang saat itu masih sibuk untuk mengembangkan rumah sakit.


Dengan demikian, Mama memutuskan untuk mencari pengasuh untuk anaknya. Di saat dia bingung mencari pengasuh yang dapat dipercaya untuk menjaga putra semata wayangnya, datanglah Bu Ratmi dengan membawa anak perempuan bernama Luna seusia Biru ke rumahnya meminta pekerjaan. Lantas tanpa pikir panjang, Mama memberikan Bu Ratmi pekerjaan sebagai kepala pelayan sekaligus pengasuh untuk anaknya.


Selain itu, Mama juga mengizinkan anak Bu Ratmi untuk tinggal berasama di rumahnya, Mama pikir anak itu akan sangat beguna karena Biru bisa memiliki teman dan tidak akan merasa kesepan lagi. Mama juga siap menanggung biaya pendidikan anak Bu Ratmi.


Kehadiran Bu Ratmi sangat berarti bagi Biru, dia mendapatkan perhatian yang jarang dia dapatkan dari Mama. Bu Ratmi sangat perhatian padanya seperti anak sendiri, Bu Ratmi selalu menemaninya makan, membuatkan makanan kesukaannya, mengantar sekolah, bahkan membacakan dongeng sebelum tidur.


Saking perhatiannya pada Biru, Bu Ratmi bahkan jadi sedikit mengabaikan Luna. Dia tidak sadar kalau kasih sayangnya terbagi dan lebih condong ke arah Biru.


Sejak bertemu Biru, Bu Ratmi hanya memperhatikan semua hal tentang Biru dan sangat menjaganya dengan ketat, dia bahkan memarahi Luna saat tak sengaja Biru terjatuh dan menangis ketika bermain dengannya.


Sering Biru melihat Luna menangis di pojokan dan protes pada Bu Ratmi karena jarang memperhatikannya. Biru merasa bersalah akan hal itu. Maka sebagai gantinya, Biru berjanji pada Luna akan menjadi teman yang baik demi membalas semua perhatian dan kasih yang telah dia ambil dari ibunya.


“Apaan sih, Bi? Udah, deh, stop merasa bersalah sama aku.” Ucap Luna mendengus sebal.


“Mana bisa kayak gitu. Bahkan jadi teman aja kayaknya nggak cukup buat gantiin kasih sayang Bu Ratmi yang udah aku rebut dari kamu.” Biru masih merasa tak enak hati.


Biru mengernyit Bingung, tak mengerti maksud ucapan Luna.


“Jangan jadi teman. Tapi jadi suami aku.” Lanjut gadis itu, membuat Biru terkesiap, raut wajahnya berubah datar sekaligus tegang seketika.


Luna melipat bibirnya sambil menahan tawa. “Ya ampun, aku cuma becanda. Nggak usah tegang gitu, kali, Bi.”


Biru berdecak dan bernapas lega, dia pikir Luna benar-benar mengatakannya. Jika itu terjadi, maka itu akan merusak hubungan pertemanan mereka yang sudah terjalin sejak lama.


“Ngeselin banget, tahu, nggak, sih?” Dengus Biru yang dibahas kekehan kecil oleh Luna, meski itu terlihat dipaksakan.


“Kenapa susah banget untuk menggapai hati kamu, Bi?” Luna bergumam dalam hati. Selama ini dia selalu berusaha menarik perhatian Biru, tapi entah kenapa cowok itu sama sekali tidak pernah melihatnya sebagai perempuan.


“Haha, udah-udah. Makan pudingnya sana.” Luna mengalihkan pembicaraan.


“Nanti aja, deh, aku makan bareng sama Jingga. Dia suka yang manis soalnya.” Sahut Biru teringat akan makan malamnya bersama Jingga.


Penututan Biru barusan jelas langsung membuat raut wajah Luna berubah masam. “Emang Jingga mau ke sini?”


“Hmm” Angguk Biru sambil beranjak untuk menyimpan pudingnya ke dalam lemari es. “Kayaknya sebentar lagi juga sampai.”


“Jingga pasti maksa untuk datang ke apartemen kamu, kan?” Tebak Luna tersenyum kecut.


“Enggak, aku yang ajak dia ke sini.”


Semakin bertambahlah rasa ketidaksukaannya terhadap Jingga. Karena yang Luna tahu, selama ini Biru tidak pernah mengajak siapapun untuk datang ke apartemennya, termasuk dirinya yang sudah mengenal Biru sejak lama. Lantas apa yang membuat Biru bisa bersikap seperti itu pada Jingga?


“Jelas Jingga pasti godain Biru pake tubuh sama wajah cantiknya.” Berbagai pikiran buruk terhadap Jinggapun hinggap di kepala Luna. Sepertinya rasa benci terhadap Jingga sudah menutup mata dan hati Luna.


Beberapa saat kemudian, bunyi bel apartemen terdengar nyaring di telinganya. Melihat Biru yang masih sibuk memasukkan puding ke dalam lemari es, Luna berinisiatif untuk membukakan pintu.


Luna sengaja ingin membukakan pintu, dia tahu yang datang adalah Jingga. Luna ingin membuat Jingga salah paham, dia benar-benar takut Biru semakin goyah dan kembali pada Jingga.


“Luna . . . .” Suara lirih Jingga. Gadis itu tampak terkejut mengetahui bukan Biru yang membukakan pintu untuknya. Jingga berharap dia salah unit.


“Kamu ngapain ke sini malam-malam begini?” Luna dengan santai bertanya.

__ADS_1


“Aku emang ada janji sama Kak Biru.” Jawab Jingga sedikit ketus. “Kamu sendiri ngapain di sini?” Tanyanya kemudian seraya menyoroti penampilan Luna dari atas sampai bawah. Gadis itu terlihat berlebihan mengenakan dress yang teramat pendek tanpa stocking membalut kakinya.


“Dia mau ngegodain Kak Biru atau apa?” Jingga menggerutu sebal dalam hati.


“Aku udah pernah bilang sama kamu, kalau aku dan Biru sudah hidup bersama sejak kecil. Jadi kamu jangan terkejut kalau ke depannya bakalan sering lihat aku ada di sini.” Jelas Luna sengaja memanas-manasi.


Jelas saja gadis itu berbohong, Biru tidak terlalu suka siapapun mengunjungi apartemennya. Tapi sepertinya Jingga tidak terpancing dengan apa yang diucapkan Luna. Jingga rasa Luna sengaja mengatakan itu hanya untuk membuatnya kesal.


Belum sempat Jingga menyahuti ucapannya, Biru muncul dan menerobos tubuh Luna yang menghalangi jalan Jingga untuk masuk.


“Kamu udah datang, Ji? Kenapa nggak langsung masuk aja?” Tanya Biru.


Jinggga memutar bola matanya malas. Bagaimana mau masuk kalau Luna sejak tadi berdiri di ambang pintu dan menghalanginya? Jika Biru tidak muncul, Jingga mungkin akan berdiri semalaman di depan pintu apartemen cowok itu.


********


Kini Biru dan Jingga duduk berhadapan di meja makan selepas kepergian Luna. Jingga sama sekali tidak marah atau berpikiran buruk saat Biru mengatakan padanya kalau Luna hanya hanya mengantarkan undangan dan puding dari Bu Ratmi.


Meski dalam hati Jingga tidak suka melihat Luna ada di apartemen Biru, tapi dia tidak mempermasalahkan dan memilih untuk memendamnya sendiri. Hanya berkunjung sebentar, itu tidak apa-apa.


Berkaca pada dirinya, terkadang dia juga datang ke apartemen Langit untuk bermain di sana. Mungkin yang membuat Jingga tidak suka adalah karena mengetahui Luna yang menyukai Biru, serta Luna yang sudah menuduh Jingga telah merebut cowok itu darinya.


“Kamu yang buat ini semua?” Tanya Jingga sambil menunjuk hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja menggunakan garpunya.


“Hmm.” Jawab Biru singkat, lalu mulai mengangkat pisau dan garpunya untuk siap-siap memotong daging.


“Spesial buat aku?” Tanya Jingga lagi, dia senang mendengar Biru memasaknya sendiri.


“Jangan ge-er. Aku bikin semua ini spesial buat diri aku sendiri.” Sahut Biru.


Jingga mendengus kesal. Cowok itu benar-benar anti romantis.


“Ngeselin. Seenggaknya kamu bisa pura-pura bilang ‘iya, apa susahnya, sih?” Protesnya dengan bibir mengerucut lucu. Tapi sesungguhnya dia tidak benar-benar protes, karena bisa makan malam berdua dengan Biru saja dia sudah senang. Terlebih tanpa gangguan Luna.


“Udah cepet makan, jangan bawel.” Titah Biru tak mengindahkan. Sudut bibirnya sedikit terangkat melihat Jingga yang mengerucutkan bibirnya, terlihat sangat menggemaskan.


Sejenak mereka menikmati makanannya dalam hening, hanya suara peralatan makan saling beradu yang terdengar. Jingga akui, steak yang dibuat Biru rasanya sangat enak, bahkan lebih baik dari buatannya.


“Luna sering ke sini, ya, Kak?” Tanya Jingga hati-hati. Dia teringat dengan ucapan Luna saat di ambang pintu tadi. Walaupun Jingga tahu Luna hanya ingin membuatnya kesal, tapi tetap saja Jingga penasaran untuk bertanya pada Biru.


“Kenapa? Kamu keberatan kalau dia sering ke sini?” Sahut Biru balik bertanya. “Langit juga sering datang ke unit kamu, kan?” Sindirnya kemudian.


Jingga tersenyum kaku, meminum jus miliknya, lalu berucap ragu. “Enggak, kok. Aku nggak akan keberatan selama kalian nggak ngelakuin yang aneh-aneh.”


“Kalau aku mau ngelakuin yang aneh-aneh, itu cuma sama kamu.” Gumam Biru pelan, namun masih terdengar samar di telinga Jingga.


“Apa?” Tanya Jingga memastikan pendengarannya tidak salah. Biru yang tak sadar telah mengucapkan itu mendadak jadi blingsatan.


“Ehh, ung – maksud aku, kamu nggak perlu khawatir sama Luna. Nggak akan terjadi apa-apa di antara kami. Aku, kan, udah bilang kalau aku sama Luna itu teman baik.” Biru mencoba mengalihkan pembicaan. “Yaa kayak kamu sama Langit.”


“Tapi itu beda. Luna suka sama kamu.” Sahut Jingga lirih sambil meletakkan pisau dan garpunya di piring. Rasanya, steak tersebut berubah menjadi tidak enak. Lantas dia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya malah membahas Luna di tengah makan malam romantisnya.


“Kamu jangan asal ngomong, Ji.” Nada bicara Biru berubah dingin seketika.


“Aku nggak asal ngomong. Luna sendiri yang bilang sama aku kalau dia suka sama kamu.” Sanggah Jingga, mengingat pertemuannya dengan Luna saat di lift beberapa waktu lalu. Jelas secara terang-terangan gadis itu mengatakan padanya bahwa dia menyukai Biru, bahkan Luna juga meminta Jingga untuk menyerah pada Biru secara tidak langsung.


“Aku ngerti, kamu mungkin nggak suka sama keberadaan Luna di antara kita. Tapi kamu juga nggak usah bohong kayak gini. Kamu sengaja, ya, mau coba buat jauhin aku sama Luna? Kamu sengaja mau bikin hubungan aku sama dia rusak?” Tuding Biru.


Jingga seketika merasakan sakit di hatinya. Gadis itu tersenyum getir mendengar apa yang dituduhkan Biru padanya.


“Kamu nggak percaya sama aku?” Tanya Jingga dengan tatapan nanar. Sebisa mungkin dia berusaha menahan sesak di dadanya.


“Jelas aku nggak akan percaya. Aku kenal Luna lebih lama daripada kamu.” Jawab Biru terdengar tajam di telinga Jingga.


Jingga terdiam dengan tubuh bergetar menahan emosi yang sudah dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya oleh Biru saat ini.


“Aku nggak nyangka, ya, ternyata kamu bisa selicik ini. Sengaja, kan, kamu bohong kayak gini biar bisa dapetin perhatian aku sepenuhnya?”


Lagi-lagi Jingga hanya bisa diam sambil mengepalkan tangannya di bawah meja tanpa melawan tudingan Biru.


“Seharusnya kamu nggak perlu melakukan ini. Tanpa kamu berusaha pun, kita akan menikah nantinya, dan bukan cuma perhatian, tapi kamu akan mendapatkan aku seutuhnya. Seharusnya kamu cukup puas dengan itu.” Seketika Biru terhasut dengan ucapan Luna yang mengatakan Jingga terobsesi dengannya.


“Cukup, Kak.” Sahut Jingga dengan suara tercekat. “Kalau kamu nggak mau percaya, ya udah. Nggak usah nuduh-nuduh aku kayak gini.”


Lantas dengan cepat Jingga beranjak dari duduknya, mengambil tas di sofa, lalu pergi keluar meninggalkan Biru yang menatapnya dengan tatapan yang sulit Jingga baca.


Tak langsung melajukan mobilnya, Jingga mengatur napas untuk menenangkan diri. Hatinya benar-benar terluka, dia tak menyangka jika cowok yang sangat dia cintai melayangkan tudingan tak berdasar seperti itu padanya.


Makan malam yang Jingga bayangkan romantis dan menyenangkan, berubah menjadi makan malam yang menyakitkan. Ini adalah makan malam terburuk yang pernah Jingga dapatkan.

__ADS_1


********


To be continued . . . .


__ADS_2