
*********
Tangan Jingga dengan malas mengambil ponsel yang dia letakkan sembarang di dekat bantal begitu mendengar benda pipih itu berdering. Matanya langsung berbinar tatkala dia melihat nama “Penguntit” tertera di layar ponsel melakukan panggilan video.
“Kakak . . .” Seru Jingga begitu wajah Biru muncul memenuhi layar ponselnya sesaat setelah dia menggeser icon dari panggilan video tersebut. Senyumnya seketika mengembang, dia sangat senang meskipun hanya bertatap muka dengan Biru lewat layar ponsel.
“Kebiasaan langsung rebahan, bukannya mandi dulu.” Tegur Biru yang melihat Jingga tidur miring di atas tempat tidur masih mengenakan pakaian kerjanya.
“Males, nggak ada kamu ini.” Jingga lantas menumpuk satu bantal lagi untuk membuat posisinya lebih nyaman.
“Kalau ada aku, kamu juga kayak gitu. Emang udah kebiasaan, harus diancam dulu aku mandiin, baru kamu mau bangun.” Cibir Biru.
“Uhh, mau dong dimandiin sama kamu.” Sahut Jingga menggodanya. Jika saja Biru benar-benar ada di hadapannya, mana berani dia berbicara seperti itu.
“Ihh, nantangin. Awas aja kalau aku pulang nanti.” Sahut Biru dengan mata mengerling nakal.
“Mau kamu apain?” Sambar Jingga menantang.
“Mau aku rendam di bathub seharian.”
“Ihh, direndam, emang aku cucian? Dasar.” Dengus Jingga, membuat Biru terkekeh di seberang sana.
“Ohh, iya. Tadi Langit bilang kamu muntah-muntah lagi karena kebanyakan makan.”
Jingga memutar bola matanya malas, mulut Langit benar-benar ember.
“Kamu baik-baik aja, kan? Nggak sakit, kan, Ji?” Tanya Biru dengan raut wajah khawatir.
“Aku baik-baik aja, kok.” Jawab Jingga menenangkan. Padahal, jelas-jelas kepalanya pusing dan seluruh tubuhnya sakit.
“Lain kali jangan kayak gitu lagi, ya. Kalau makan secukupnya aja.”
Jingga menganggukkan kepalanya. Sebelumnya dia sudah mendengar teguran seperti ini dari Langit, hanya saja cara Biru menyampaikannya terdengar lebih halus.
“Ohh, iya. Kamu lagi ngapain di sana?” Jingga mengalihkan topik pembicaraan.
“Lagi rebahan aja di kamar.” Jawab Biru seraya mengubah posisinya dari rebahan menjadi duduk bersandar pada headbord ranjang, dia lalu menjauhkan ponselnya agar terlihat lebih jelas oleh Jingga.
“Kamar hotel?” Tanya Jingga memastikan.
“Bukan, kamar rumah yang ada di sini, Ji.”
Jingga ber-ohh ria sambil manggut-manggut, dia lupa kalau di sana keluarga Biru memiliki rumah yang dekat dengan rumah sakitnya.
“Sama siapa di sana?” Jingga mencurigai.
Sebelah alis Biru terangkat bingung, dia lantas menjawab pertanyaan Jingga singkat. “Sendiri.”
“Ngak bohong, kan?” Mata Jingga memicing seolah tak percaya.
Biru tersenyum geli mendengarnya, dia lantas mengganti kamera depan dengan kamera belakang, lalu memperlihatkan seluruh ruangan kamarnya.
“Udah percaya?” Kini layar ponsel Jingga kembali menampakkan wajah Biru.
“Hmm.” Sahut Jingga mengangguk pelan seraya mengamati wajah Biru yang terlihat lelah. Pasti urusannya di sana cukup berat.
“Di sana masih lama, ya?” Jingga kembali memasang raut wajah lesu. Dia melihat Biru mengangguk lemah. “Masih banyak urusan yang harus aku sama Papa selesaikan di sini.”
“Yaaah.” Balas Jingga menghembuskan napas lemah.
“Why? Do you miss me?” Biru tersenyum menggodanya.
“I miss you so much.” Nada suara Jingga sengaja dibuat manja.
“Sebanyak apa?” Tanya Biru.
“99.000 times.” Jawab Jingga dengan bangga.
“Kalau gitu, aku lebih kangen sama kamu. Cause I miss you 100.000 times.”
“Oke, aku kalah lagi.” Jingga tersenyum geli, begitupula dengan Biru di seberang sana.
Sejenak mereka terdiam, saling menatap wajah di ponsel masing-masing. Sesekali Biru dan Jingga menahan tawa karena tak ada percakapan di antara mereka.
“Kak . . . .” Panggil Jingga lagi.
“Hum?” Biru mengangkat sebelah alisnya.
“Cepetan pulang. . . .” Rengek Jingga manja. Biru hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Cepetan mandi sana. Bau, tahu.” Biru pura-pura menutup hidungnya.
“Ihh, masih wangi, kok.” Jingga mengendus tubuhnya sendiri yang memang masih wangi.
“Mandi, habis itu tidur.” Titah Biru lagi.
“Siap, Pak Prof. Ganteng.” Biru hanya mendengus geli mendengarnya. “Aku matiin sekarang, ya.”
“Jangan . . . .” Biru menahan Jingga yang hendak mengakhiri sambungan panggilan video mereka.
“Lho, kenapa? Aku mau mandi.” Kening Jingga berkerut bingung.
“Aku ikut. Ajak aku, ya?” Biru memasang senyum nakal.
“Enggak!” Seru Jingga tegas. Apa-apaan Biru ini?
“Aku serius, aku mau ikut. Orang lain juga ngelakuin itu, kok. Bisma juga kalau lagi dinas ke luar negeri.”
“Porno banget kamu. Enggak, ahh.”
“Ayo, dong, Ji. Aku kangen banget sama kamu. Aku mau lihatin kamu mandi.” Rengek Biru kemudian, membuat Jingga menghunuskan tatapan tajam padanya.
“Mesum banget kamu. Udah, ahh, aku matiin.” Jingga tersenyum Jengkel. Lantas, sebelum mendengar Biru berbicara aneh-aneh lagi, dia langsung mematikan panggilan video tersebut.
********
“Ji, Ji, yaa, dimatiin.” Seru Biru sesaat setelah istrinya mematikan sambungan panggilan video mereka.
“Padahal belum juga sehari, udah kangen aja gue sama Jingga.” Biru tersenyum geli, seolah meledek dirinya sendiri yang sudah tergila-gila pada istrinya.
“Apalagi yang nomor dua.” Lalu kepalanya menunduk dengan pandangan mencuat ke arah pusat tubuhnya yang mengeras.
Biru menggeleng untuk mengusir pikiran kotornya, kemudian merebahkan diri setelah sebelumnya menyambar boneka panda pemberian Jingga yang sengaja dibawanya untuk dia peluk.
Namun, baru saja dia hendak menutup matanya, Papa tiba-tiba masuk hingga membuat Biru kembali terbangun untuk duduk.
“Ada apa, Pa?” Tanya Biru setelah Papa duduk di tepi tempat tidur miliknya.
“Udah mau tidur kamu?” Biru mendengus, sudah jelas Papa tadi melihatnya terbaring di tempat tidur, itu memangnya mau apa? Nyangkul?
“Iya.” Jawab Biru, lalu menguap sambil menutup mulutnya. “Ada apa, Pa?” Tanyanya kemudian. Tolong jangan katakan ada hal penting, tidak untuk saat ini. Dia lelah dan ingin tidur.
__ADS_1
“Papa cuma mau nanya.” Sejenak Papa mengambil napas untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. “Kalian udah ada kabar baik belum?”
“Kabar baik?” Alis Biru terangkat bingung, gagal mencerna pertanyaan Papa.
“Maksudnya, Jingga, istri kamu. Apa udah ada tanda-tanda kemungkinan dia hamil?” Terang Papa.
“Eung, kayaknya belum, deh, Pa.” Sesal Biru, karena dia memang belum melihat tanda-tanda Jingga hamil.
Biru melihat raut wajah sang ayah sedikit kecewa. Lelaki paruh baya itu sepertinya sangat berharap bisa segera mendapatkan cucu darinya.
“Aku sama Jingga baru juga sebulan nikah, Pa. Terlalu cepat juga untuk kami punya anak.” Tutur Biru.
Biru menghembuskan napas berat saat melihat Papa yang terdiam tak menyahuti. “Kalau kayak gini aku nyesel banget dulu nggak khilaf hamilin Jingga sebelum nikah. Mungkin sekarang Papa udah dapet cucu.”
“Nggak gitu juga konsepnya, berandal.” Papa dengan gemas memukul Biru dengan guling hingga membuat anaknya itu terkekeh.
“Yaa makannya Papa sabar, dong. Kalau udah waktunya, pasti aku sama Jingga punya anak, kok. Apalagi kami nggak pake kontrasepsi.” Seru Biru sedikit kesal. Papanya ini tidak sabaran sekali, apa dia mengira mendapatkan anak itu semudah memetik bunga?
“Kalau itu Papa juga tahu, Bi.” Ujar Papa.
Biru memutar bola matanya malas. Kalau sudah tahu, kenapa masih tidak sabaran?
“Tapi, tadi malam Papa mimpi, Bi, makannya nanyain ini sama kamu.” Lanjut Papa, mengingat mimpinya tadi malam sebelum berangkat ke Surabaya. Dia belum sempat menceritakannya pada Biru karena seharian ini mereka sibuk.
“Apa hubungannya mimpi sama kehamilan Jingga?” Tanya Biru tak mengerti.
“Tadi malam Papa mimpi makan buah apel merah, dan rasanya maniiis banget–”
“Terus?” Sambar Biru memotong kalimat yang hendak diucapkan Papa.
“Makannya dengerin dulu, kamu nggak sopan banget motong-motong ucapan orang tua.” Omel Papa kesal.
“Iya-iya, maaf.”
“Kata orang tua zaman dulu, ya, kalau mimpi makan buah apel merah, terus rasanya manis, bisa jadi itu tanda seseorang sedang hamil, dan kehamilannya akan berjalan lancar sampai proses persalinan nanti.” Papa menjelaskan dengan semangat. Walaupun ini takhayul, tapi dia berharap menantunya itu benar-benar akan atau sedang mengandung.
“Haha. Pikiran papa kolot banget, yang kayak gituan dipercaya.” Cibir Biru sembari tergelak kencang, mentertawakan Papa yang menurutnya berpikiran primitif.
“Malah ngetawain. Terserah kamu mau ngomong apa. Tapi Papa saranin kalian cepat periksa ke dokter kandungan. Kalian bisa periksa sama teman kamu, tuh, siapa namanya?”
“Albi, Pa.” Jawab Biru disela-sela gelak tawanya.
“Nah, itu. Kalian coba periksa sama dia. Dia terkenal banget di kalangan ibu hamil.” Saran Papa.
“Haha. Iya, deh. Nanti pulang dari sini aku ajak Jingga ke dokter kandungan.” Sahut Biru masih dengan sisa-sisa tawanya.
“Udah seharusnya.” Ucap Papa. Dia benar-benar tidak sabar untuk menggendong cucu.
“Tapi, Papa jangan kecewa kalau sampai hasilnya di luar harapan.” Pinta Biru dengan raut wajah serius. “Aku nggak mau Jingga sampai merasa terbebani dengan ini, Pa.” Biru menatap Papa sendu.
Biru harap, ayahnya itu bisa mengerti. Dia tidak ingin nantinya melihat Jingga sedih dan banyak pikiran karena tuntutan untuk segera memberi orang tuanya cucu.
“Iya, Papa ngerti, kamu tenang aja. Papa cuma mau kalian mastiin aja.” Seru Papa. Biru hanya membalasnya dengan anggukkan kepala tanda mengerti.
********
Keesokan harinya sekitar jam sembilan pagi, Jingga membuka matanya secara perlahan saat cahaya matahari masuk melalui celah ventilasi kamar hingga menganggu tidur lelapnya.
Jingga menoleh ke tempat kosong di sebelahnya, wajah tampan yang selalu dia lihat di pagi hari begitu membuka mata, kini tidak dia lihat, dan tidak akan dia lihat selama beberapa hari ke depan.
Menghela napasnya yang terasa berat, terbersit pikiran ingin menyusul laki-laki itu ke Surabaya. Tapi, mengingat tanggung jawabnya terhadap pasien membuat Jingga membuang jauh-jauh keinginannya.
“Eungh. . .” Jingga melenguh sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing, dia juga merasakan napasnya yang panas dan berat, begitupula dengan seluruh tubuhnya yang terasa nyeri, terutama di bagian punggung.
“Ji, kamu udah bangun?” Tiba-tiba Bunda masuk ke kamar dan menghampirinya.
Namun, hal itu tak membuat Jingga ingin beranjak dari posisinya saat ini. Dia sangat malas. Rasanya dia hanya ingin berleha-leha di atas tempat tidur saja seharian tanpa harus melakukan apapun, bahkan makan.
“Bunda udah dua kali ke sini buat bangunin kamu, tapi kamu susah banget dibangunin.” Ujar Bunda sesaat setelah beliau duduk di tepi tempat tidur.
Memang sudah dua kali wanita itu masuk ke kamar Jingga untuk membangunkannya, namun tidak berhasil. Bunda mungkin akan menganggapnya orang mati kalau saja tadi Jingga tidak menggeram.
“Aku ngantuk banget. Lagian ini hari libur.” Jingga kemudian menggeliat seperti bayi.
“Libur bukan berarti harus males-malesan, Ji.” Tegur Bunda. Beliau mendesah pelan, heran melihat sikap putrinya yang tidak banyak berubah meskipun sudah menikah.
“Aku nggak males-malesan. Aku cuma mau tidur lebih lama.” Dalih Jingga nyeleneh.
“Ish, bisa aja jawabnya. Ayo cepetan bangun!” Titah Bunda seraya menarik selimut yang masih menutupi tubuh Jingga.
“Enggak, ahh. Aku mau tiduran aja seharian. Lagian nggak ada Kak Biru, aku free.” Jingga kembali menarik selimut yang sempat ditarik Bunda.
Jelas saja dia merasa bebas, karena tidak harus bangun pagi dan menyiapkan sarapan, serta segala keperluan Biru seperti biasa, dan tidak ada pula yang menempelinya selama hari libur.
Sepertinya kepergian Biru bisa dia manfaatkan untuk me time. Meluangkan waktu dan menyenangkan diri sendiri, bersama diri sendiri, tanpa diganggu siapapun. Meski tak bisa dipungkiri jika Jingga sangat merindukan laki-laki itu, tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak mungkin menyusulnya ke sana.
“Ehh, malah selimutan lagi. Cepet bangun! Nggak baik males-malasen.” Kali ini Bunda menarik lengan Jingga paksa hingga anaknya itu terduduk.
“Ya ampun, Jingga.” Bunda geram sendiri melihat anaknya yang masih tak ingin beranjak dari tempat tidur.
“Bangun, mandi, habis itu makan, apa susahnya?” Bunda mulai mengomel.
Jingga berdecak kecil untuk kemudian dia menyahuti dengan malas. “Iya. . . .”
Lantas dengan ogah-ogahan Jingga turun dari tempat tidur. Dia terdiam sebentar sebelum benar-benar beranjak ke kamar mandi, memejamkan mata sejenak saat rasa pening di kepalanya kembali dia rasakan.
“Ohh, iya. Bunda masakin aku sup ayam, kan?” Jingga teringat permintaannya tadi malam yang ingin memakan sup ayam untuk mengganti elektrolit di tubuhnya yang hilang setelah memuntahkan semua makanannya.
“Iya, Tuan Putri. Sup ayamnya dari tadi sudah siap di meja makan.” Jawab Bunda gemas. Jingga tersenyum senang mendengar itu dan kembali bersemangat. Ahh, dia jadi tak sabar untuk memakan sup ayam.
“Makasih.” Jingga dengan cepat mengecup pipi Bunda sebelum kemudian bergerak ke kamar mandi.
“Anak itu . . . .” Bunda mendengus geli melihat kelakuan putrinya yang seperti lupa usia.
********
Jingga menghampiri Senja di gazebo yang sedang sibuk merangkai bunga. Dia duduk di hadapan kakak iparnya sambil memakan buah apel yang tadi sudah Bi Tini potong-potong untuknya.
Mereka kini hanya berdua di rumah, semua orang pergi keluar mengajak Biel jalan-jalan. Senja tidak ikut dengan alasan tubuhnya sudah sulit bergerak karena perutnya yang kian membesar. Sementara Jingga, gadis itu terlalu malas untuk pergi kemanapun saat ini.
“Kak . . . .” Panggilnya.
“Hmm.” Sahut Senja tanpa mengalihkan perhatiannya dari bunga mawar yang sedang dia rangkai.
“Hamil enak, nggak sih?” Pertanyaan konyol Jingga berhasil mengalihkan perhatian Senja padanya.
“Emm, enak nggak enak, sih, Ji.” Jawab Senja, dia bingung untuk menjelaskannya.
“Lho, kok, gitu?”
“Yaaa, enaknya kita jadi lebih disayang sama suami, plus semua perhatian keluarga tertuju pada kita.” Ujar Senja diiringi kekehan kecil setelahnya.
__ADS_1
“Nggak enaknya?” Jingga benar-benar tertarik untuk mengetahui apa yang dirasakan ibu hamil.
“Nggak enaknya ya kayak gini, makin lama perut makin gede sampai-sampai nggak bisa bebas gerak, mana nggak bisa tengkurap lagi.” Senja mendengus meratapi kenyataan tubuhnya ini.
“Haha, kayak kura-kura kebalik, ya?” Ledek Jingga tergelak, Senja hanya mendengus. “Terus-terus, selain itu apa lagi?”
“Terus, di awal-awal kehamilan cukup banyak gangguan, kayak morning sickness, perut mulas, mudah lelah, beser, dan masih banyak lagi. Terus juga ngidam yang kadang nyusahin orang.” Jelas Senja kemudian, seadanya sesuai dengan apa yang dia rasakan dan alami.
Jingga sendiri hanya manggut-manggut, serius mendengarkan pengalaman kehamilan kakak iparnya.
“Tapi itu nggak sebanding dengan kebahagiaan yang akan kita dapatkan nantinya, Ji.”
Ya, karena kebahagiaan yang luar biasa dengan hadirnya anggota keluarga baru akan datang setelah itu.
“Karena setelah bayi lahir, kebahagiaan akan datang sampai kita lupa pernah mengalami kesulitan.” Pada dasarnya, bisa melahirkan buah hati ke muka bumi adalah hadiah luar biasa bagi semua perempuan di dunia ini.
“Kurang lebih kayak gitu, lah. Pokoknya nikmatin aja prosesnya. Hamil itu istimewa, kamu juga bakal ngerasain sendiri nanti.” Pungkas Senja sambil tersenyum ke arah Jingga.
“By the way, udah ada tanda-tanda kamu hamil belum?” Tanya Senja kemudian. Jingga hanya menjawabnya dengan gelengan lemah.
“Sabar, baru juga sebulan nikah. Sekarang nikmatin dulu aja waktu berdua, karena kalau udah punya anak bakalan susah dapat waktu buat quality time berdua sama pasangan.” Senja megatakan sesuai pengalamannya bersama Bintang. “Tapi, kalian udah konsultasi program hamil, kan?”
“Belum, sih.” Jawab Jingga seraya nyengir lebar. Biru dan Jingga memang sudah berniat untuk itu, tapi belum juga terlaksana karena kesibukan masing-masing. “Aku sama Kak Biru baru ngerencanain itu, tapi belum sempat, Kak.”
“Ya disempetin, lah, Ji. Kalian ini gimana, sih? Katanya mau cepet-cepet punya anak.”
“Yang penting usaha bikinnya aja dulu. Tiap hari aku sama Kak Biru kerja keras, kok.” Sahut Jingga nyeleneh, membuat Senja mendengus geli.
“Terus sekarang nggak bisa usaha, dong? Kan kalian lagi LDR. Tck, kasihan banget.” Timpal Senja meledek.
“Ihh, ngeledek.” Dengus Jingga dengan bibir yang mengerucut lucu. Senja hanya terkekeh melihatnya.
“Ohh, iya. Kamu ikut Kakak yuk, ke restoran Perancis.” Ajak Senja saat teringat bahwa hari ini dia akan pergi ke restoran Perancis bersama Langit. “Keponakan kamu lagi pengin makanan Perancis, nih.” Lantas mengelus lembut perutnya yang buncit.
“Keponakannya aku mana bisa makan.” Jingga mencebik, apa-apa bayinya yang dijadikan alasan.
Senja terkekeh mendengarnya. “Ikut, nggak?”
“Kapan? Males, ahh.” Sahut Jingga seraya memasukkan potongan apel terakhirnya ke dalam mulut.
“Jam satu, nunggu Langit jemput. Ikut aja, yuk, Ji. Emang kamu nggak bakalan bosen nanti di rumah sendirian?” Pancing Senja.
Sejenak Jingga terdiam memikirkan, untuk kemudian menyahuti dengan ragu. “Ya udah, deh.”
Sebenarnya Jingga kurang suka dengan makanan Perancis. Tapi, daripada dia bosan di rumah sendirian, lebih baik ikut bersama Senja. Toh, di restoran hanya duduk, tidak jalan-jalan.
********
Setibanya di trestoran Perancis, kini Jingga dan Senja, serta Langit sudah duduk manis di salah satu meja paling sudut agar tidak terlalu terjangkau orang banyak.
Tak lama, pesanan makanan mereka datang. Senja memesan banyak menu hingga memenuhi meja mereka.
Sementara Jingga hanya memesan soupe a l’oignon. Sup ayam buatan Bunda tadi pagi membuat perutnya kembali nyaman. Jadi, dia juga memilih makan sup untuk makan siangnya, takut-takut dia masih mengalami gangguan pencernaan.
“Kak, makanan sebanyak emang bakalan habis?” Tanya Jingga yang tiba-tiba merasa kenyang melihat banyak makanan di hadapannya.
“Habis, lah. Kan kakak makannya berdua.” Jawab Senja mulai memakan escargot yang terlihat menjijikan bagi Jingga. Perutnya kembali bergejolak melihat bekicot itu, rasa mual itu datang lagi.
“Tapi ini banyak banget, aku nggak yakin Kakak bisa ngabisin semuanya.”
Langit mencibir lewat tatapan matanya saat mendengar penuturan Jingga. Seharusnya itu dikatakan untuk dirinya sendiri.
“Kamu nggak inget tadi malam sama kemarin lusa?” Sindir Langit, membuat Jingga mendelik. Tapi juga tak menyangkalnya.
“Pasti habis. Kalau nggak habis, kan ada kamu sama Langit.” Seru Senja sambil memasukkan escargot yang telah berhasil dicungkilnya ke dalam mulut.
“Big NO. Pokoknya tanggung jawab sama makanan masing-masing.” Sudah cukup Langit menjadi tempat pembuangan selama ini. Dia tak mau merusak tubuh maskulinnya yang susah payah dia bentuk.
“Ehem. Aku ke kamar mandi dulu.” Jingga yang tidak tahan melihat Senja memakan escargot memilih untuk pergi ke kamar mandi sebelum dia benar-benar muntah.
Selain itu, Jingga juga merasa ingin buang air kecil, sehingga ini dapat dijadikan alasan untuk dia pergi ke kamar mandi.
Setidaknya, Jingga akan berdiam diri di kamar mandi sebentar sampai Senja selesai dengan escargotnya yang masih tersisa enam ekor.
********
Selesai dengan urusannya di toilet, Jingga lantas berdiri di depan wash basin untuk bercermin dan memperbaiki penampilannya.
Tampak di sebelahnya seorang gadis cantik tengah mencoba mengenakan anting di telinganya.
Jingga membantu mengambilkan anting gadis tersebut ketika tak sengaja gadis itu menjatuhkan sebelah antingnya.
“Terima kasih.” Ucap gadis itu sambil tersenyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. Jingga lantas membalasnya dengan anggukkan serta senyum ramahnya.
Jingga hendak pergi, namun diurungkan saat melihat gadis itu tampak kesulitan memakai antingnya, hingga akhirnya dia menawarkan diri untuk membantu gadis itu.
“Nggak apa-apa, sini anting kamu.” Ujar Jingga yang melihat gadis itu tampak ragu menerima tawarannya.
Gadis itupun dengan ragu menyerahkan sebelah antingnya pada Jingga. Sebuah long pearl earrings yang cantik, Jingga dengan hati-hati memasangkan anting tersebut ke telinga gadis itu.
“Cantik. . . .” Jingga tersenyum memuji gadis itu setelah berhasil memasangkan antingnya. Anting-anting itu sangat cocok dengannya.
“Terima kasih.” Ucap gadis itu lagi. “Aku permisi lebih dulu.” Gadis itu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk kemudian berlalu pergi dari hadapan Jingga.
“Dia kenapa?” Jingga sedikit mendengus karena gadis itu terlihat begitu dingin, tidak ada ramah-ramahnya, padahal dia sudah membantunya.
Tak ingin memikirkannya lagi, Jingga lantas beranjak dari kamar mandi. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya, dia melihat sebuah buku cerita anak-anak berjudul "The Little Mermaid" di tepian wash basin tempat gadis itu berdiri tadi.
“Ini punya dia?” Jingga bertanya-tanya dengan ragu karena itu buku cerita anak-anak. Mungkin saja bukan milik gadis itu.
“Elsa?” Jingga membaca tulisan yang tertera di sudut kanan atas cover buku itu.
Pada akhirnya, Jingga memutuskan untuk mengejar gadis itu yang mungkin belum jauh untuk menanyakan siapa tahu saja buku ini miliknya.
Benar saja, saat Jingga keluar dari kamar mandi, dia masih bisa melihat punggung gadis itu tak jauh darinya. Lantas dia mengambil langkah cepat untuk menghampiri dan memanggilnya.
“El–”
“Shienna. . . .”
Dan bersamaan dengan itu, seorang wanita paruh baya memanggil dan menghampiri gadis tersebut.
“Jadi namanya Shien?” Gumam Jingga dalam hati.
“Wawancaranya sebentar lagi, ayo . . . .”
“Tunggu–” Jingga hendak memanggilnya kembali, namun si wanita paruh baya lebih dulu menarik lengan gadis itu.
“Ish, ya udah, deh, mungkin ini juga bukan punya dia.” Gumam Jingga kemudian. Tak ingin ambil pusing, Jingga lalu memilih untuk kembali ke tempat duduknya.
********
__ADS_1
To be continued . . . .