
********
Langit biru menyambut pagi dengan cerah, menuntun manusia untuk memulai aktivitasnya, menjalankan apa yang telah direncanakan, dan mewujudkan apa yang diharapkan.
Suasana riuh di gedung SMA bergengsi itu menyapa Senin pagi. Seluruh siswa menyambut Senin pagi dengan semangat positifnya, memberantas kemalasan yang ada di dalam diri setelah melewati akhir pekan yang menyenangkan.
Terlihat Langit mengendap-endap di belakang Jingga yang tengah berjalan santai menuju ruang kelas, cowok itu berusaha sebisa mungkin agar langkah kakinya tidak terdengar.
Setelah mendapat moment yang pas, lantas dengan cepat Langit berhambur meletakkan kedua telapak tangannya di belakang mata Jingga. Dan tentu saja hal itu membuat Jingga menghentikan langkahnya seketika.
Gadis itu tidak perlu terkejut untuk mengetahui siapa orang yang pagi-pagi begini sudah jahil menutup matanya. Tentu saja Jingga bisa langsung menebak dia adalah Langit, satu-satunya orang yang tidak pernah bosan menjahilinya.
“Lepasin, nggak?” Pinta Jingga dengan nada malas.
“Bilang dulu kalau aku ganteng.” Jawab Langit diiringi senyum jahil.
“Langit yang paling ganteng di antara yang paling jelek.” Balas Jingga dengan seringai usil.
Langit yang mendengar itu otomatis mendengus kesal seraya melepaskan tangannya yang menutupi mata Jingga, kemudian beralih merangkul pundak gadis itu dan melangkah bersama menuju kelas. “Ngeselin banget, sih.”
“Dihh, emang nggak ganteng. Ngaca sana di cermin toilet.” Jingga lalu menjulurkan lidahnya meledek, Langit langsung memanyunkan bibirnya lucu.
BRUUUK. . . .
Dan di saat mereka tengah asyik saling meledek, seseorang tiba-tiba menabrak dari arah belakang hingga membuat keduanya jatuh tersungkur secara bersamaan. Benar-benar sambutan pagi yang menyebalkan.
“Duhh, maaf-maaf. Kalian nggak apa-apa?” Tanya si penabrak terdengar khawatir seraya berusaha membantu mereka untuk kembali berdiri.
“It’s okay. No problem. Cuma lecet doang, kok.” Langit mencoba maklum. Mungkin orang yang tersebut sedang terburu-buru sehingga tak sengaja menabrak mereka. “Ji, kamu baik-baik aja, kan?” Lanjutnya melirik ke arah Jingga.
Sambil meringis, Langit mengusap-usap lengannya yang sedikit lecet tanpa melihat siapa orang yang telah menabrak mereka. Pun dengan Jingga, dia sibuk membersihkan kotoran pada lututnya yang sedikit terluka.
“Nggak apa-apa, Lang. Cuma lutut aku perih banget.” Sahut Jingga yang masih setengah berjongkok karena kesulitan untuk berdiri. Terlihat lututnya memar akibat benturan dengan lantai. Ringisan kecil sesekali keluar dari bibir kemerahannya.
“Kalian terluka. Lebih baik diobatin di UKS.”
Mendengar suara yang tidak asing, Jingga menoleh. Dia sedikit terkejut kala mengetahui orang yang sudah menabraknya dan Langit adalah Biru.
Langit yang khawatir melihat lutut Jingga yang terluka, refleks berjongkok dan meminta dia untuk naik ke punggungnya.
“Aku bilang kaki aku perih, Lang. Bukan patah sampai nggak bisa jalan.” Jingga memukul punggung Langit gemas. Apa cowok itu pikir ini drama Korea yang jatuh tersandung saja harus dipapah atau digendong?
Langit nyengir lebar, lalu mengulurkan tangannya setelah dia kembali berdiri, bermaksud ingin membantu Jingga untuk bangkit. “Kali aja gitu mau aku gendong kayak di drakor. Ayo.”
__ADS_1
Namun sebelum Jingga meraih uluran tangan Langit, Biru dengan cepat meraih pundak Jingga dan membantunya berdiri. Tindakannya itu otomatis membuat Jingga terkesiap, tapi juga tidak bisa mengelak.
“Kayaknya kalian harus diobatin, deh.” Ujar Biru. Dia menatap luka Langit dan Jingga bergantian. “Ayo ke UKS.” Ajaknya kemudian. Wajah cowok itu terlihat penuh kekhawatiran.
“Nggak usah dianter, deh. Kami bisa sendiri. Lagian lo kayaknya lagi buru-buru.” Ujar Langit yang angguki setuju oleh Jingga. Mereka mencoba untuk mengerti.
“Udah, nggak apa-apa. Gue nggak enak sama kalian, gara-gara gue jadi kayak gini, kan. Ayo.” Sahut Biru terdengar tak ingin dibantah, lalu menggiring kedua adik kelasnya itu menuju ruang UKS.
“Are you okay?” Tanya Biru khawatir melihat Jingga yang berjalan sedikit terpincang. Dia bersiap memapah Jingga, tapi dengan segera gadis itu menepis tangan Biru.
“I’m okay.” Ucap Jingga pelan seraya menyematkan seulas senyum tipis untuk menangkan Biru.
Setibanya di ruang UKS, Jingga dan Langit kemudian duduk di kursi yang disediakan di sana, menunggu dokter mengambil P3K.
“Kalian kenapa? Habis main kejar-kejaran sampai jatuh? Atau habis berantem?” Tanya dokter muda berusia sekitar 26 tahunan yang bernama Jasmine itu penasaran. Beliau cukup mengenal Jingga dan Langit yang seperti kucing dengan anjing. Dokter Jasmine lantas mengeluarkan alcohol, betadine, kapas, kasa, dan plester dari dalam kotak P3K.
“Tadi saya jalan buru-buru dan nggak sengaja nabrak mereka, Dok.” Biru menyahuti, raut wajahnya masih terlihat bersalah.
Dokter Jasmine mengangguk-angguk mengerti. “Oke. Kalau gitu kamu bantu saya obtain mereka, Bi.” Pintanya kemudian yang langsung diiyakan Biru.
Biru berjongkok untuk mengobati lutut Jingga yang terluka. Kemudian dengan telaten dia mulai mengompres luka Jingga dengan air es yang dokter Jasmine sediakan. Setelah membersihkan lukanya, Biru lalu mengaplikasikan alkohol menggunakan kapas. Dengan spontan dia meniup-niup lutut Jingga saat mendengar gadis itu meringis kesakitan.
“Ganteng.” Gumam Jingga dalam hati dan tanpa sadar. Matanya seolah terhipnotis menatap Biru yang tengah fokus mengobati lukanya.
“Wajah ganteng aku bisa luntur kalau kamu lihatin terus kayak gitu.” Bisiknya kemudian, membuat Jingga sontak terkejut, dia bahkan baru sadar kalau saat ini wajah Biru sudah sangat dekat dengan wajahnya.
Biru tersenyum gemas melihat ekspresi Jingga yang terkejut. Dia lalu kembali berjongkok, kemudian meraih telapak tangan Jingga dan menggenggamnya. Hangat. Ada setruman kecil yang tiba-tiba dirasakan Jingga.
Jingga merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Dia sedikit kelimpungan sambil melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan dia dan Biru. Beruntung saja dokter Jasmine masih sibuk mengobati luka di lengan Langit.
“Ehh.” Jingga tersentak saat merasakan geli ketika ujung ballpoint yang Biru gunakan menari-nari di atas telapak tangannya. Tampaknya Biru sedang mencoba menulis sesuatu.
Alis Jingga terangkat sebelah saat melihat sederet angka yang tertulis di telapak tangannya. Biru lalu tersenyum menatap Jingga, kemudian meletakkan sebelah tangannya di telinga dengan ibu jari dan kelingking terangkat.
Biru kemudian menggerakkan bibirnya yang langsung bisa ditangkap maksudnya oleh Jingga. “Telepon aku nanti.”
Sementara Jingga tak menggubris, bibirnya terkatup dengan raut wajah yang tak terbaca, kemudian dia memilih untuk memalingkan wajahnya dari tatapan Biru.
Setelah pengobatan selesai, mereka bertiga lantas keluar dari UKS dan berjalan beriringan menuju ruang kelas masing-masing. Hingga akhirnya mereka berpisah di dekat tangga karena kelas Biru berada di lantai dua.
“Sekali lagi maaf banget, ya.” Sesal Biru.
“Santai aja, kali. Lagian nggak sampai ada yang patah, lo juga udah bantu obtain kami.” Jawab Langit menenangkan, dia lalu kembali menegaskan bahwa mereka baik-baik saja dan Biru tidak perlu khawatir.
__ADS_1
“Ya udah, kalau gitu gue duluan. Kalau ada apa-apa langsung hubungin gue aja.” Sahut Biru sedikit lega. Langit hanya menjawabnya dengan anggukkan. “Duluan, ya.” Tambahnya seraya menepuk lengan bahu Jingga, membuat gadis itu kembali mematung. Speechless.
Cowok itu kemudian mulai menaiki tangga setelah sebelumnya melempar senyuman hangat ke arah Jingga.
Jingga sendiri masih terpaku, memandang punggung lebar Biru yang semakin menjauh, sampai akhirnya suara bel tanda masuk membuyarkannnya.
“Ayo, Ji.” Seru Langit sambil menggamit tangan Jingga untuk sama-sama masuk ke kelas.
********
Di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung, tampak Jingga tidak fokus memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Padahal, teman-temannya sangat bersemangat karena yang sedang dibahas adalah sistem reproduksi, materi yang akan membuat siswa betah dan tidak bosan. Tapi gadis itu malah terpaku menatap telapak tangannya.
Jingga lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya, kemudian mulai memasukkan satu per satu nomor yang tadi Biru tulis di telapak tangannya.
“I don’t know if I was crazy, or what?” Jingga menjerit dalam hati menyadari apa yang dilakukannya. Apalagi sejak tadi bibirnya tak bisa berhenti kerena terus mengingat kejadian saat di UKS beberapa saat yang lalu.
Jingga lantas menggeleng-gelengkan kepala untuk menepis perasaan aneh yang tiba-tiba menggerayangi hatinya.
“Ngapain kamu geleng-geleng? Lagi dzikir?” Langit yang duduk di belakang Jingga memukul kepalanya menggunakan ballpoint, membuat gadis itu otomatis meringis.
“Apaan, sih? Sakit tahu.” Protes Jingga sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya. Wajahnya langsung merengut masam.
“Ya lagian kamu aneh banget.” Sahut Langit. “Lagian diketuk gini doang, kok, sakit. Sensi amat.” Sekali lagi langit mengetuk kepala Jingga dengan ballpoinnya.
“Emang sakit Langit. Ihh kamu, tuh. Ngeselin tahu, nggak?” Jingga setengah berteriak hingga menimbulkan suara ribut.
Mendengar keributan, Pak Wahyu yang sedang menjelaskan di depan sana sontak menegur mereka.
“Ada apa rebut-ribut?” Tegurnya dengan wajah dingin, membuat seisi kelas bergidik ngeri. Pasalnya, Pak Wahyu si guru biologi itu terkenal killer.
“Ma-maaf, Pak.” Cicit Jingga takut-takut. Pak Wahyu hanya memasang wajah dingin.
“Jingga, coba kamu jelaskan kembali apa yang sudah saya sampaikan tadi!” Perintah Pak Wahyu tegas, tidak suka ada anak didiknya yang mengobrol saat kelasnya berlangsung.
Jingga sekilas melirik Langit sebal, merasa dongkol karena dia yang mendapat hukuman, padahal cowok itu yang memulai keributan lebih dulu dengan memukul kepala Jingga.
Tanpa berlama-lama, Jingga lalu menjelaskan kembali apa yang sudah disampaikan Pak Wahyu tadi dengan detail. Semua siswa di sana langsung melongo takjub karena Jingga menjelaskannya sama persis, padahal tadi gadis itu tampak tidak fokus.
Namun kenyataannya bukan seperti itu. Jingga memang tidak memperhatikan, tapi telinganya mendengar semua penjelasan Pak Wahyu dengan seksama.
********
To be continued. . . .
__ADS_1