
********
“Sayaaang . . . .” Ini adalah teriakan Biru yang kesekian kalinya.
Sejak tadi, laki-laki itu terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi, Biru begitu khawatir karena sudah lebih dari satu jam istrinya itu belum keluar dari dalam sana.
“Sayang, buka pintunya. Kamu ngapain di kamar mandi lama banget?” Biru kembali berteriak-teriak, nada bicaranya terdengar sangat khawatir.
“Hiish, berisik.” Jingga yang tengah berendam di kamar mandi menggerutu kesal, Padahal, dia sudah menjejali telinganya dengan earphone, tapi tetap saja suara Biru di luar kamar masih terdengar.
Sebenarnya Jingga hanya ingin mengambil waktu sejenak untuk dirinya sendiri dengan cara berendam air hangat di bathub untuk merelaksasikan tubuhnya, tapi Biru di luar sana sudah mengganggunya saja. Laki-laki itu tidak bisa dia tinggalkan barang sebentar saja.
Menjelang waktu persalinan yang kian dekat, Jingga memang lebih banyak meluangkan waktu untuk memanjakan dirinya sendiri. Contohnya, berendam seperti saat ini untuk membuat tubuhnya terasa nyaman, banyak memakan makanan enak, dan bermanja-manja dengan Biru.
Hal tersebut semata-mata Jingga lakukan untuk mengurangi kecemasan menjelang persalinan dan menikmati masa-masa kebebasannya sebelum kemudian dia harus menghadapi hari-hari baru usai persalinan yang mungkin akan jelas berbeda dari sebelumnya.
“Jingga William.” Dan kalau suaminya sudah memanggilnya seperti itu, Jingga pastikan dia bisa mendobrak pintu kamar mandi sekarang juga. Ingatkan saja Biru bisa melakukan apapun yang diinginkannya, bahkan hal di luar nalar sekali pun.
“Iya, ini aku udah selesai.” Sahut Jingga berteriak tak kalah keras. Ahh, mereka sudah seperti Tarzan dan Jane saja.
“Cepetan keluar.” Teriak Biru lagi.
Berdecak kecil, Jingga memutuskan untuk mengakhiri kegiatan berendamnya. Dia kemudian mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya, lalu mengenakan bathrobe yang sudah dia sediakan di sana. Setelah itu, Jingga lantas keluar dari kamar mandi dengan sedikit terburu-buru.
“Kalau aku panggil, tuh, nyahut.” Omel Biru begitu Jingga membuka pintu kamar mandi.
“Maaf, aku tadi berendam sambil dengerin musik.” Jingga menunjukkan ponsel dan earphone miliknya pada Biru. Lalu dengan santai dia menerobos tubuh Biru untuk berjalan menuju lemari.
“Ya ampun, Ji. Aku di sini panik, tapi kamu enak-enakan mandi sambil dengerin musik?” Biru mengekori Jingga seraya terus mengomelinya.
“Ya kamu kenapa panik segala? Udah tahu aku di dalam sana lagi mandi, bukan tidur.” Cebik Jingga, dia lantas memilih baju yang akan dikenakannya hari ini.
“Panik, lah, orang kamu di kamar mandi udah satu jam lebih, mana dipanggil nggak nyahut. Aku, tuh, takut kamu tiba-tiba kontraksi kayak kemarin lusa.” Jawab Biru dengan nada kesal, mengingat akhir-akhir ini Jingga cukup sering mengalami kontraksi palsu. Sebab, perkiraan dokter Jingga akan melahirkan satu minggu lagi, Biru takut jika tiba-tiba istrinya mengalami kontraksi asli, lalu melahirkan di kamar mandi.
Suami Jingga itu sangat posesif mengawasinya, bahkan sebelumnya Biru sudah mengatakan untuk jangan mengunci bahkan menutup pintu kamar mandi. Namun, Jingga begitu keras kepala tidak mendengarkannya dengan alasan takut Biru mengintipnya saat mandi. Konyol memang istrinya itu, selalu saja berpikiran buruk. Padahal, Biru tidak semesum itu.
“Iya, deh, iya, aku minta maaf. Nggak lagi-lagi kayak gitu.” Jingga berbalik dan memandang Biru setelah dia berhasil mengambil baju pilihannya.
“Lain kali, pintu kamar mandinya nggak usah ditutup apalagi dikunci kayak tadi.” Ujar Biru masih terdengar khawatir. “Aku kira tadi kamu pingsan tahu nggak, Ji?”
Jingga yang melihat Biru sangat mengkhawatirkannya jadi merasa bersalah. “Ya udah, aku minta maaf. Lain kali, aku biarin kebuka, deh, pintu kamar mandinya.”
Jingga lantas membelai lembut salah satu sisi wajah Biru dengan satu tangannya yang bebas seraya mengulas senyum tipis.
“Sekarang kamu mandi sana.” Titahnya kemudian sembari menjauhkan tangannya dari wajah Biru.
“Aku masih kesel lho, Ji.” Ujar Biru dengan wajah ditekuk masam.
Jingga memutar bola matanya jengah seraya menghela napas panjang. Suaminya ini terkadang merajuk mengalahkan anak kecil.
“Sini nunduk.” Jingga memberi isyarat tangan agar Biru menundukkan kepalanya. Dia lalu mengecup bibir suaminya itu dengan cepat. “Masih kesel?”
“Dikit. Coba kamu kasih tanda di sini, biar keselnya hilang semua.” Biru menunjuk lehernya.
Jingga mendengus, suaminya ini benar-benar licik. Tapi kalau tidak dituruti, laki-laki itu pasti akan terus merajuk.
Jingga kemudian meminta Biru untuk sedikit mencondongkan tubuh agar memudahkannya meraih leher Biru.
Sedikit berjinjit, Jingga lalu menempelkan bibirnya di leher Biru, mencium, lalu menghisapnya sampai meninggalkan bekas merah di sana.
Biru yang terlanjur menikmati sentuhan Jingga di lehernya tak ingin mengakhiri ini begitu saja, dia kemudian meraba tubuh bagian belakang Jingga untuk merangsang gairah istrinya itu. Namun, sepertinya tidak berhasil karena Jingga sekarang malah mengakhiri kegiatannya.
“Kalau terlalu jauh, aku harus mandi lagi.” Jingga menepis tangan Biru yang masih bertengger manis di bagian belakang tubuhnya.
“Sebentar aja, Ji.” Pinta Biru memelas. Jingga menggelengkan kepalanya tegas.
“Hurry, take a bath.” Jingga lalu menggiring tubuh Biru untuk masuk ke kamar mandi. Laki-laki itu dengan wajah merengut hanya bisa menurutinya.
__ADS_1
********
“Aww. . . .” Jingga yang sedang menyiapkan baju untuk Biru seketika meringis kecil saat merasakan perutnya mengencang.
Berbeda dari yang pernah Jingga rasakan sebelumnya, pengencangan di perutnya kali ini lebih kuat. Rasanya seperti kram menstruasi, tapi mulasnya sangat kuat.
Jingga lantas mencoba berjalan-jalan di sekitar kamar untuk meredakan kontraksinya yang dia kira kontraksi palsu. Namun tak seperti biasanya, bergerak justru malah membuat perutnya semakin nyeri. Jingga merasakan punggung bawahnya mengencang hingga menjalar ke seluruh bagian perut.
“Ji, kamu kenapa?” Tanya Biru begitu dia keluar dari kamar mandi yang mendapati Jingga tengah mengelus-elus punggungnya sendiri dengan wajah menegang.
Dengan raut wajah khawatir, Biru menghampiri Jingga, lalu disentuhnya perut buncit sang istri yang sudah sangat membesar itu.
“Kontraksi palsu atau asli?” Tanya Biru seraya ikut mengusap-usap punggung Jingga dengan satu tangannya lagi.
“Tapi kata dokter seminggu lagi.” Sahut Jingga yang merasa tidak yakin itu adalah kontraksi palsu atau asli, dia masih terlalu awam untuk bisa membedakannya karena ini adalah pengalaman pertama.
“Iya, tapi bisa aja dia mau keluar lebih cepat.” Seru Biru, karena dokter juga mengatakan bisa saja Jingga melahirkan lebih cepat atau lambat dari perkiraannya.
“Tapi kayaknya ini kontraksi palsu, deh. Ini nyerinya udah reda.” Ujar Jingga merasakan perutnya yang mengencang perlahan rileks kembali.
“Kamu yakin?” Tanya Biru ragu. Jingga mengangguk seraya mengulas senyum tipis untuk membuat Biru tenang.
“Apa kita nggak usah pergi aja ya, Ji? Aku khawatir nanti kamu tiba-tiba mau lahiran.” Ujar Biru yang merasakan gelisah di hatinya.
“Kata dokter seminggu lagi, kok. Kamu nggak usah khawatir.” Sahut Jingga cepat.
“Tap–”
“Lagian aku kangen sama lapangan tenis. Udah lama banget aku nggak main, seenggaknya biarin aku lihat kamu sama Raka main tenis di sana.” Sela Jingga sedikit merengek.
Ya, sebelumnya Jingga berencana ikut bersama Biru untuk menontonnya bermain tenis lapangan dengan Raka hari ini. Jadi mendengar Biru yang hendak membatalkannya, Jingga jelas tidak setuju karena dia benar-benar ingin pergi ke lapangan tenis untuk mengobati rasa rindunya bermain tenis.
“Tapi beneran kamu nggak apa-apa?” Tanya Biru memastikan sekali lagi, matanya menyoroti Jingga ragu.
“Iya, Sayaaaang. Aku baik-baik aja, kok.” Jingga menarik salah satu pipi Biru dengan gemas. “Udah sana pake baju! Aku udah siapin di sana.” Titahnya kemudian seraya menunjuk baju Biru yang sudah dia siapkan di atas tempat tidur.
“Bantu pakein.” Pinta Biru manja. Jingga hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam, Biru itu benar-benar seperti bayi besar kalau kolokannya sudah kumat.
********
Menjelang persalinan Jingga, para orang tua ikut siaga untuk bersiap-siap menyambut kelahiran cucu perempuan pertama mereka. Baik orang tua Jingga ataupun Biru, sudah tiga hari mereka tiba di Korea demi bisa menyambut sang cucu yang akan menjadi Putri Mahkota di dalam keluarga itu.
Papa dan Mama tinggal bersama mereka di apartemen, sementara Ayah dan Bunda tinggal di hotel yang dekat dengan tempat mereka. Semua orang sangat antusias menunggu bayi Winter lahir.
“Mau main tenis sama Raka, Ma.” Jawab Biru.
“Jingga ikut?” Tanya Mama lagi, kali ini pandangannya beralih melihat Jingga.
“Ikut, Ma. Aku mau nonton Kak Biru sama Raka main tenis.” Sahut Jingga kemudian, matanya berbinar penuh semangat.
“Kamu di rumah aja deh, Ji. Mama khawatir terjadi apa-apa sama kamu.” Ujar Mama, raut wajahnya tampak khawatir melihat perut Jingga yang sudah sangat membuncit seolah siap meledak.
“Tenang aja, Ma. Aku, kan, perginya sama Kak Biru.” Jingga mengulas senyum tipis untuk membuat ibu mertuanya itu tenang.
Melihat putri menantunya yang sangat keras kepala, Mama hanya bisa mendesah pasrah, untuk kemudian beliau berujar. “Ya udah, tapi nanti kalau ada apa-apa langsung telepon Mama, ya?”
“Iya, Ma, siaap.” Seru Jingga riang seraya memberi hormat. Mama yang melihatnya hanya mendengus geli.
Setelah mendapat izin dari Mama, Biru dan Jingga lantas keluar dari apartemen di mana Om Resky sudah menunggu mereka untuk pergi bersama ke lapangan tenis.
********
Setibanya di lapangan tenis, Jingga ditemani Raina duduk di pinggir lapangan menyaksikan Biru dan Raka bermain tenis, sesekali mereka bersorak untuk orang yang didukungnya.
Sementara itu Om Resky, beliau sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan momen-momen terpenting dalam hidupnya, yaitu melihat anak pertamanya Raka yang semakin mahir bermain tenis.
Melihat Biru dan Raka bermain tenis, Jingga hanya bisa menahan keinginannya untuk ikut bermain, mengingat keadaannya saat ini yang sangat tidak memungkinkan, padahal tenis lapangan adalah olahraga yang sangat Jingga sukai. Dulu sebelum menikah, Jingga sering sekali pergi ke klub tenis dan bermain bersama Langit.
__ADS_1
Di saat Jingga sedang menikmati pertandingan suami dan adik sepupunya, tiba-tiba Jingga kembali merasakan perutnya mengencang diiringi dengan nyeri yang luar biasa. Namun, Jingga kembali menahannya dan tidak berani memberitahukan apa yang dirasakannya itu pada Biru. Dia sangsi yang dirasakannya saat ini adalah kontraksi asli.
“Are you okay?” Tanya Raina tampak khawatir melihat Jingga yang meringis sambil mengelus-elus perutnya. Jingga hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipis agar adik sepupunya itu tidak khawatir.
Jingga yang merasakan sakit di perutnya tidak mereda, lantas mencoba untuk mengatur napasnya, berharap rasa sakitnya mereda seperti biasa. Namun, itu tak berhasil. Hingga sejurus kemudian, dia merasakan seperti ada yang meletup dari area intinya.
Wajah Jingga seketika menegang begitu dia merarasakan sesuatu yang hangat keluar menyembur dari intinya, lalu turun mengalir ke kaki hingga membasahi sebagian stocking yang dia kenakan.
“Kakaaak . . . .” Jingga yang panik lantas berteriak, membuat Biru dan yang lainnya sontak menoleh ke arahnya.
Mendenggar Jingga berteriak, Biru refleks melempar raket tenisnya begitu saja dan berlari menghampiri sang istri diikuti oleh Raka dan Om Resky.
Semua orang dibuat semakin terkejut saat melihat wajah Jingga memucat sambil mengerang kesakitan dan memegangi perutnya. Ada cairan bening yang mengalir di bawah kursi yang Jingga duduki.
“Ya ampuun, Kak Jingga ngompol?” Tanya Raka asal, membuat Jingga yang mendengarnya ingin sekali memukul mulutnya. Seandainya dia sedang tidak kesakitan seperti ini, Jingga pastikan akan mencabik-cabik mulut anak itu saat ini juga.
“Dasar bodoh.” Umpat Raina pada kakaknya itu, dia saja yang anak kecil tahu Jingga bukan sedang ngompol.
“Kayaknya ketuban kamu udah pecah, Ji.” Seru Om Resky tenang.
“Perut aku sakit banget, Kak. Kayaknya anak kamu udah mau keluar. Aww. . . .” Jingga merintih, dia lantas menggiggit bibir bawahnya untuk menahan sakit yang luar biasa itu.
“Bi, kita ke rumah sakit sekarang.” Teriak Om Resky mengejutkan Biru yang tampak linglung.
“Ohh, iya. . . .” Biru pun dengan sigap langsung menggendong tubuh sang istri yang menegang dan gemetar itu menuju mobil Om Resky.
“Raka sama Rai nanti pulangnya naik taksi, ya. Kalian telepon Om Rendy sama Tante Lisa.” Teriak Om Resky sebelum kemudian dia menyusul Biru dengan langkah terburu-buru.
Di dalam mobil, Biru memangku kepala Jingga sembari mengusap-usap punggungnya yang tidur dengan posisi meringkuk ke samping.
“Tenang ya, Ji. Rileks. . . .” Biru mencoba menenangkan.
Laki-laki itu juga meminta Jingga untuk melakukan pernapasan sesuai dengan teknik pernapasan persalinan yang pernah Jingga pelajari dalam kelas senam ibu hamil.
Jingga pun menuruti apa yang dikatakan suaminya, mengatur pernapasannya seperti yang telah dia pelajari saat senam hamil. Jingga mencoba melakukannya dengan santai sambil menenangkan pikirannya, namun saat rasa sakit itu semakin kuat, Jingga berteriak.
“Sakit, Kaaak.” Rengeknya sambil mencengkram lengan Biru kuat-kuat.
“Iya, sabar, Sayang. . . .” Hanya itu yang bisa Biru katakan, dia lantas mengusap peluh yang menetes di pelipis istrinya itu. Jingga terlihat sangat kesakitan, dan Biru sangat khawatir melihatnya.
“Aaargh, sakit banget, Kaaak.” Jingga terus merintih menahan sakit.
“Iya, iya, tenang, ya, Sayang, sabar. . . .”
“Hiks, sabar apanya ini sakit bangeeet.” Bentak Jingga yang mulai menangis.
“Iya, tahan, ya, sebentar lagi kita ketemu Winter. Sabar . . . aaaww.” Biru menjerit saat Jingga meraih kepala, lalu menjambak rambutnya.
“Ini semua salah kamu. . . .” Jingga menarik rambut Biru semakin kuat. Saking kuatnya, bahkan Biru kewalahan tak bisa melepaskan tangan Jingga dari kepalanya.
“Kamu yang bikin aku kesakitan kayak gini, hiks-hiks.” Kali ini sebelah tangan Jingga memukuli bahu Biru yang bisa dijangkaunya.
“Dasar brengsek. Kenapa kamu pake hamilin aku segala, sih? Hiks . . .hiks . . . .” Jingga terus menangis meraung-raung sembari menyalahkan Biru atas apa yang dialaminya.
“Iya, ini salah aku. Aku minta maaf . . . aaww.”
Om Resky yang melihat kejadian itu dari kaca spion hanya bisa meringis dan menahan tawanya.
“Kamu untung dapet enaknya doang, issh.” Jingga semakin kuat mencengkram rambut Biru.
“Om, nyetirnya bisa lebih cepet, nggak?” Teriak Biru yang masih berusaha menahan tangan Jingga agar berhenti menjambak rambut dan memukulinya.
“I–iya. Sabar, Bi.” Sahut Om Resky sedikit terkejut karena dia tiba-tiba diteriaki.
“Aku minta maaf, Ji. Maaf. . . .” Biru menciumi tangan Jingga yang sudah sedikit lebih tenang. Sementara itu, istrinya terus menangis sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
Biru tak menyangka Jingga akan lepas kendali seperti ini, biasanya gadis itu selalu bisa bersikap tenang dalam keadaan apapun.
__ADS_1
********
To be continued . . . .