Still In Love

Still In Love
EP. 98. Omelette


__ADS_3

********


Tengah malam, tiba-tiba Jingga terbangun dari tidurnya. Sekuat apapun dia mencoba memejamkan matanya kembali, tapi kantuknya sama sekali tidak datang. Perutnya tidak lapar, tapi dia ingin memakan sesuatu.


Air liur di dalam mulutnya seketika terkumpul saat dia membayangkan omelette nasi dengan potongan ayam, daging asap, dan beberapa sayuran di dalamnya.


Jingga sangat menginginkan omelette itu sekarang juga. Seumur hidupnya, dia tidak pernah sangat menginginkan makan sesuatu tengah di malam seperti ini. Apa ini yang dinamakan ngidam? Entahlah, dia dulu selalu meledek kakak iparnya yang mencari makanan tengah malam saat mengandung.


Jingga menolehkan kepalanya ke samping, didapatinya Biru tengah tertidur lelap. Jingga tidak tega membangunkannya tengah malam seperti ini karena besok suaminya itu harus bangun pagi untuk bekerja.


Memindahkan tangan Biru yang melingkar memeluk perutnya, Jingga lantas bergerak untuk mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai.


Jingga mendengus pelan, niatnya untuk meledek Biru menggunakan foto itu malah berakhir terjebak dalam permainannya sendiri. Alhasil, Jingga harus pasrah saat Biru melepas dan melemparkan pakaiannya begitu saja, hingga ujung-ujungnya berakhir melayani laki-laki itu di atas ranjang.


Setelah mengenakan pakaiannya, Jingga beranjak dari tempat tidur untuk pergi ke dapur. Dengan mengenakan masker untuk menutupi hidung dan mulutnya, dia membuka pintu lemari es dan mencari bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat omelette nasi.


Telur dan sayuran sudah ada di tangannya. Namun, dia butuh perjuangan untuk mengambil daging. Baunya sangat menyengat di indra penciumannya, bahkan masker pun tak bisa menghalau baunya dan Jingga mulai mual sekarang.


Kemudian yang Jingga lakukan adalah menutup kembali pintu lemari es, dia lantas menyandarkan tubuhnya di sana sembari membuka masker untuk menghirup udara segar.


“Kamu lagi ngapain, Ji?”


Jingga tersentak kaget saat mendapati ayah mertuanya berdiri di ambang pintu dapur.


Lelaki paruh baya itu sebelumnya hendak kembali ke kamarnya setelah memeriksa beberapa berkas rumah sakit di ruang kerjanya. Namun, tanpa sengaja dia melihat Jingga turun dari lantai atas dan berjalan menuju dapur, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti ke mana menantunya itu pergi.


“Ehh, Papa.” Jingga bahkan hampir menjatuhkan telur yang sedang dia genggam saking terkejutnya.


“Kenapa, Ji? Mau sesuatu?” Tanya Papa begitu dia menghampiri menantunya.


Nampak lelaki paruh baya itu mengernyitkan keningnya saat melihat telur dan sayuran di tangan Jingga, begitupula dengan masker yang masih tersangkut di telinganya. Aneh sekali.


“Eung. . . .” Jingga tersenyum malu. Dia kemudian mengatakan jika dirinya ingin sekali makan omelette nasi dengan potongan ayam, daging asap, dan beberapa sayuran di dalamnya. Jingga juga mengeluh bahwa dia tidak bisa mengambil daging karena tidak tahan dengan baunya.


“Kenapa nggak minta Bibi atau Biru aja, sih, Ji?” Tanya Papa sedikit mengomel.


“Aku nggak enak banguninnya, Pa.” Jawab Jingga jujur. Dia memang tidak enak hati jika harus membangunkan orang rumah hanya karena ingin makan omelette.


“Kan ada Biru.” Papa masih keukeuh.


Tersenyum kaku, Jingga lantas menjawab. “Kasihan dia besok harus bangun pagi, Pa.”


“Nggak bisa gitu, dong. Biru harus bangun. Masa istrinya ngidam tengah malam gini dia enak-enakan tidur.” Protes Papa tak peduli.


“Nggak gitu, Pa. . . .” Jingga terdiam beberapa detik, bingung harus berkata apa. “Aku beneran nggak apa-apa, deh, Pa. Aku bisa bikin sendiri, kok.”


“Bisa gimana? Kamu ke dapur sampai pake masker kayak gitu.” Seru Papa masih tak setuju.


“T–tapi, Pa–”


“Tunggu di sini. Biar Papa yang bangunin dia kalau kamu nggak tega.” Sela Papa dan berlalu begitu saja dari hadapan Jingga.


“Tapi, Pa, Pa. . . .” Jingga hendak memanggil Papa untuk melarangnya, tapi percuma saja karena lelaki paruh baya itu bahkan kini sudah hilang dari pandangannya. Jingga hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


********


“Bi, bangun.” Papa mengguncang tubuh Biru yang masih terbungkus selimut begitu dia sampai di kamarnya. Namun, anak laki-lakinya itu hanya melenguh.


Menghela napas dalam-dalam, Papa lantas menurunkan selimut Biru hingga sebatas dada. “Bangun, Bi.”


“Sayang, udah pagi, ya?” Tanya Biru meracau. Laki-laki itu kemudian dengan perlahan mulai membuka seraya mengucek-ucek matanya.


“Ini Papa. Ayo bangun!” Papa menarik lengan Biru paksa hingga dia terduduk.


“Papa? Papa ngapain masuk ke kamar aku?” Tanya Biru dengan mata memicing begitu mendapati Papa ada di hadapannya.


“Menantu Papa mau makan omelette nasi. Ayo kita bikin bareng-bareng.”


Biru yang masih belum mendapatkan kesadaran penuh mengernyitkan alisnya. “Menantu Papa? Siapa?”


Pertanyaannya tersebut sontak membuat Papa otomatis memukul kepala Biru sedikit keras hingga laki-laki itu benar-benar tersadar.


“Ya Jingga, lah, emangnya istri kamu ada berapa?” Biru meringis seraya mengusap-usap kepalanya yang terasa tidak terlalu sakit itu.


“Satu, lah. Nih, di samping a–” Wajah Biru berubah bingung karena tak mendapati Jingga di sebelahnya. “Jingga mana?”


“Papa bilang dia mau makan omelette nasi. Jingga di dapur sekarang. Kayaknya dia ngidam.” Sambar Papa gemas melihat wajah bingung anaknya.


Biru mengerjap lugu, lalu menggaruk lehernya yang tak gatal, kondisi ini terlalu asing untuknya. Jadi seperti ini rasanya bangun di tengah malam untuk memenuhi keinginan istri yang ngidam. Selama ini Biru hanya mendengar cerita dari Bisma dan Kak Bintang saja.


“Cepetan bangun, malah bengong.” Tegur Papa seraya memukul lengan bahu Biru agar anaknya itu cepat beranjak.


“Ish, iya-iya sebentar. Papa keluar dulu, deh. Aku mau pake baju.” Ujar Biru sedikit kesal.


“Jangan lama-lama.”

__ADS_1


“Kenapa Jingga nggak bangunin gue, coba?” Biru menggerutu sembari memakai celananya untuk kemudian menyusul Papa yang sudah berjalan lebih dulu menuju dapur.


*********


“Sayang. . . .” Biru menghampiri Jingga yang tengah duduk sambil bertopang dagu di meja makan. Laki-laki itu lalu mendaratkan satu kecupan di puncak kepala Jingga.


“Hai.” Balas Jingga tersenyum kaku, merasa kasihan karena harus mengganggu tidur suaminya.


“Kamu ngidam?” Tanya Biru antusias karena bagaimanapun dia sangat menunggu momen ini.


“Aku nggak tahu. Tapi tiba-tiba mau makan omelette nasi aja.” Jelas Jingga sambil mengangkat bahunya.


“Kenapa nggak bangunin aku?” Biru mengelus kepala Jingga lembut.


“Aku nggak tega bangunin kamu.” Jawab Jingga dengan tatapan menyesal karena tak bisa mencegah Papa membangunkan Biru.


“Tapi kamu lebih tega Papa yang bangunin aku. Papa, tuh, bangunin aku nggak ada lembut-lembutnya tahu, Ji.” Raut wajah Biru pura-pura merengut.


Jingga meringis, mengusap-usap sisi wajah Biru dengan sayang. “Maaf. Tadi aku mau ngelarang Papa, tapi dia keburu pergi.”


“Lain kali, kalau mau sesuatu malem-malem kayak gini, kamu nggak usah ragu buat bangunin aku.” Tutur Biru seraya mencium telapak tangan Jingga yang menempel di pipinya. “Hum?”


Jingga menganggukkan kepalanya pelan. Biru tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Jingga, tapi urung saat suara Papa terdengar nyaring di telinganya.


“Malah diem di sana. Ayo cepetan, cucu Papa mau makan.”


Biru mendengus saat mendengar teriakkan Papa dari dapur. Lelaki paruh baya itu benar-benar mengganggu kegiatannya saja.


“Kamu suruh Papa tidur aja, deh. Biar kamu sendiri aja yang masak buat aku.” Pinta Jingga yang merasa tidak enak hati pada ayah mertuanya yang keukeuh ingin membuatkan Jingga omelette nasi itu.


“Nggak akan bisa dibilangin dia, Ji. Papa, kan, keras kepala. Udah, lah, biarin aja, orang dia yang mau, kok.” Sahut Biru yang kemudian pamit untuk pergi ke dapur.


Dan berakhirlah dua laki-laki beda generasi mengenakan celemek di dapur dengan membawa misi penting, yaitu membuatkan omelette nasi yang Jingga inginkan.


Mereka berbagi tugas, Papa bagian memotong bawang dan sayuran, sementara Biru mengurus daging, telur, dan memasak omelette nasinya. Biru mendengus, sebenarnya kehadiran ayahnya itu tak terlalu berguna di dapur ini karena yang hampir melakukan semuanya adalah dia.


Sesekali mereka terlibat cekcok kecil saat Biru protes karena Papa memotong bawang dan sayurnya tidak beraturan. Namun, Papa selalu membela diri dengan mengatakan penampilan tidak penting, yang penting adalah rasa makanannya enak.


Sementara Jingga yang menunggu di ruang makan, gadis itu tak bisa menyurutkan senyum di wajahnya.


Jingga merasa bahagia karena diberikan ayah mertua yang begitu perhatian padanya. Yaa, walaupun itu demi cucunya, tapi tetap saja membuat Jingga merasa sangat disayang, dan dia sangat senang.


“Makasih. Kakek baik banget.” Ucap Jingga menirukan suara anak kecil begitu Papa menyodorkan piring berisi omelette nasi ke hadapannya. Jingga sangat senang dan puas melihat omelette nasi itu.


“Cobain dulu, Ji.” Ucap Papa semangat.


“Dihabisin makanannya.” Balas Papa.


Jingga menganggukinya dengan semangat, lalu berucap gemas. “Siap, Kakek.”


“Kalau Starla mau makan sesuatu apapun itu, kamu tinggal bilang aja sama Papa, jangan ragu.” Tutur Papa kemudian. Dia merasa senang karena bisa melakukan sesuatu untuk cucunya.


“Iya, Pa. Makasih.” Sahut Jingga sebelum kemudian Papa berlalu pergi dari dapur.


“Kayaknya aku bakalan jadi anak yang lebih terabaikan setelah Dedek lahir.” Biru mendengus mengingat Papa yang sangat perhatian pada cucunya yang bahkan belum lahir itu. Semnetara Jingga yang mendengar itu hanya tergelak pelan.


“Kamu tahu, ngak? Seumur hidup, aku belum pernah lihat Papa megang pisau dapur, dan malam ini aku lihat itu. Papa rela ngelakuin itu demi dia.” Biru mengelus lembut perut Jingga sebentar.


“Kamu cemburu sama Dedek karena dia udah rebut perhatian Papa dari kamu?” Tanya Jingga tersenyum geli.


Gadis itu kemudian mulai menyendok omelette nasinya, lalu terdiam sejenak seolah sedang menilai rasanya, dan kembali mengunyah saat merasakan omelette nasi itu sangat pas di lidahnya.


“Ya enggak, lah. Kalau sama Mamanya, itu mungkin.” Sahut Biru, membuat Jingga menghentikan kunyahan pada makanannya sejenak.


“Lho, kok gitu?” Tanya Jingga setelah berhasil menelan omelettenya.


“Karena kalau Dedek udah lahir, aku jadi harus berbagi kamu sama dia. Dan dia pasti lebih banyak dapetin perhatian sama waktu kamu.” Biru memassang raut wajah pura-pura merengut.


“Bukan cuma sama dia.” Jingga menunjuk perutnya. “Tapi kamu akan berbagi sama keenam anak kamu yang lain.” Lanjutnya sembari menahan tawa. “Tiga anak cewek dan empat anak cowok. Kamu lupa?”


Mendengar itu, Biru mendesah, lantas dia menyandarkan keningnya di sisi pundak Jingga lesu.


“Kayaknya aku harus memikirkan ulang, deh.” Ucap Biru lemah hingga sejurus kemudian tawa kecilnya dan Jingga terdengar memenuhi ruang makan.


“Udah, ahh. Awas kepala kamu, aku mau lanjut makan, nih.” Ujar Jingga setelah tawanya mereda.


“Ya udah sih, kamu makan aja.” Kali ini Biru malah menyandarkan dagunya manja di bahu Jingga.


“Beraat.” Rengek Jingga, membuat Biru mengangkat kepalanya dan membiarkan istrinya itu makan dengan tenang.


Biru lantas memperhatikan Jingga yang memakan omelette nasinya dengan lahap. Sesekali tangannya terulur untuk mengusap sudut bibir Jingga yang terkena saus.


“Pelan-pelan makannya. Nggak akan ada yang minta, kok.” Tegur Biru saat Jingga terbatuk-batuk karena tersedak seraya menggeser gelas berisi air putih yang langsung disambar Jingga, lalu diminumnya untuk mendorong makanan yang tersangkut di kerongkongannya.


“Enak, ya?” Tanya Biru yang melihat Jingga kembali melanjutkan makannya setelah minum. Gadis itu bahkan mengabaikannya.

__ADS_1


“Enak. Kamu mau?” Tawar Jingga menyodorkan sendok berisi omelette nasi tepat di depan mulut Biru dan langsung dilahapnya. “Enak, kan?”


“Enak. Mungkin karena aku masaknya pake cinta kali ya, Ji?” Tutur Biru, membuat Jingga mendengus geli, dia kemudian melanjutkan makannya agar cepat selesai dan memilih untuk tidak meladeni Biru.


“Selesai. . . .” Seru Jingga, lalu membersihkan daerah di sekitar mulutnya menggunakan tisu.


“Habis makan, tinggal bayar kokinya, doong.” Biru tersenyum penuh arti sambil menaik-turunkan alisnya, dan Jingga mengerti itu.


“Tadi, kan, aku udah bayar dimuka.” Sahut Jingga sembari menarik salah satu pipi Briu dengan gemas.


“Ya udah, kalau gitu kasih aku bayaran tambahan.” Biru tak menyerah. Jingga memutar bola matanya jengah, lantas dia menarik tengkuk laki-laki itu dan mencium bibirnya sekilas.


“Bayaran tambahan.” Seru Jingga setelah mendaratkan satu kecupan di bibir Biru.


“Segitu mana cukup.” Protes Biru dengan raut wajah merengut.


“Dedeknya mau tidur. Kalau kamu ganggu, nanti dia bangun.” Sahut Jingga asal, membuat Biru mendengus geli.


“Bisa aja jawabnya. Mana ada dia kebangun.” Biru lalu dengan gemas menggigit hidung Jingga hingga membuat gadis itu terkekeh.


“Udah, yuk, ke kamar.” Ajak Jingga seraya mengusap ujung hidungnya yang sedikit basah menggunakan baju Biru.


“Jorok, ihh.” Protes laki-laki itu.


“Ihh, orang air liur kamu juga.” Dengus Jingga tak peduli.


“Ya udah, yuk, balik kamar.” Biru beranjak seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Jingga berdiri.


“Gendong boleh, nggak?” Jingga menjulurkan kedua tangannya seperti anak kecil minta digendong.


“Ya?” Biru mengerjap sembari memperhatikan tubuh Jingga. Istrinya itu memang tidak kelebihan berat badan, hanya saja pasti tetap berat, mengingat tubuh tinggi Jingga yang proporsional.


“Kamu belum pernah, lho, gendong aku. Dedek juga.” Jingga mengelus perutnya, lalu mengerucutkan bibirnya lucu, membuat Biru yang melihatnya merasa gemas.


“Ayo! Apa sih yang nggak enggak buat kamu? Minta gendong tiap hari juga boleh.” Biru lantas berjongkok untuk membiarkan Jingga naik ke punggungnya. Hal itu tentu saja disambut Jingga dengan girang.


“Aku berat, nggak?” Tanya Jingga saat Biru berhenti sejenak di tengah-tengah tangga.


Napasnya terengah-engah. Jelas saja, karena jarak dari ruang makan ke kamarnya cukup jauh dan harus melalui tangga yang cukup panjang ini, ditambah Biru membawa beban di punggungnya yang setara dengan dua karung beras, itu membuatnya sedikit lelah dan juga pegal tentunya.


“Berat lah, Ji.” Jawab Biru tak ada niatan untuk bohong. Dia kemudian mulai melangkahkan kakinya kembali menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju kamar.


“Ishh.” Jingga memukul bahu Biru dengan kesal. Sementara laki-laki itu hanya terkekeh geli sambil terus melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar.


********


Beberapa hari berlalu, Jingga sudah terbiasa tinggal di rumah orang tua Biru. Dia bahkan tidak merasa bosan karena Mama selalu menemaninya dan melakukan hal-hal menyenangkan bersamanya. Terlebih Papa yang sangat perhatian padanya, membuat Jingga semakin betah dan nyaman tinggal di sana.


Jingga memasangkan dasi di kerah kemeja yang Biru kenakan dengan telaten, dia lantas menepuk-nepuk lembut bahu sang suami setelah selesai memasangkannya.


“Selesai . . . .” Seru Jingga yang dihadiahi Biru kecupan cukup lama di keningnya seolah menumpahkan seluruh cinta dan kasih sayang pada gadis yang sudah menjadi miliknya itu.


“Kamu nanti mau dibawain apa?” Pertanyaan yang selalu Biru tanyakan setiap pagi sebelum dia berangkat bekerja akhir-akhir ini. Lebih tepatnya, setelah Jingga hamil.


“Aku mau fire chickennya Richeese, boleh, nggak?” Sahut Jingga penuh harap. Pasalnya selama dia hamil, Biru terlalu protektif pada makanan yang dikonsumsinya.


“Jangan fast food, deh. Yang lain aja.”


Raut wajah Jingga berubah masam mendengar jawaban Biru. “Ya udah, kalau gitu ngapain nanya?”


Biru mendesah, karena tak ingin berdebat dan melihat Jingga kesal, pada akhirnya dia memilih untuk menuruti permintaan istrinya. Toh, dia yang menawarkannya sendiri tadi dengan bertanya Jingga ingin dibawakannya apa.


“Tapi kali ini aja, ya?” Ujar Biru membuat Jingga yang hendak berlalu pergi keluar dari kamar kembali berbalik ke arahnya dengan senyum semringah.


“Jadi boleh?” Tanya Jingga dengan sorot mata berbinar, dan Biru menjawabnya dengan anggukkan kepala.


“Yeee, makasih, Papa.” Jingga menghampiri Biru dengan girang kemudian berjinjit dan mendaratkan ciuman di bibir laki-laki itu sekilas. “Level lima, yaa.” Pintanya kemudian seraya mengangkat lima jarinya.


“Level satu atau nggak sama sekali?” Biru memberikan pilihan yang membuat Jingga terpaksa mengiyakannya.


“Sama es krim tiga rasa juga, boleh, kan?” Jingga menambahkan pesanannya.


“Siap, Ibu Ratu.” Biru mengacak-acak rambut Jingga dengan gemas hingga membuat gadis itu mendengus kesal karena rambutnya yang sudah rapi malah kembali diacak-acak.


“Makasih lagi. Jangan lupa cup besar.” Ucap Jingga senang.


“Bayaran dimuka, doong.” Biru menunjuk bibirnya untuk kemudian Jingga memberi satu lagi kecupan sekilas di sana.


“Udah bayar. Awas kalau pesanannya lupa.” Jingga memperingati.


“Kalau lupa, bayarannya tinggal dikembaliin. Beres.” Sahut Biru santai karena dirinya yang akan diuntungkan.


“Curang kamu.”


Biru terkekeh geli seraya mengikuti Jingga yang sudah berjalan mendahuluinya untuk turun ke ruang makan di mana orang tuanya sudah menunggu mereka di sana.

__ADS_1


********


To be continued . . . .


__ADS_2