Still In Love

Still In Love
EP. 60. Me, You, and Jingga


__ADS_3

********


“Sebelumnya kamu bukan orang yang seperti ini. Kenapa kamu berbohong?” Wajah Luna semakin menegang, dia tidak mengira kebohongannya akan diketahui.


“Aku nggak tahu bagaimana buku itu bisa ada di tangan kamu. Tapi kamu jelas tahu kalau Jingga yang nyimpen itu di meja kerja aku waktu itu, kan?” Tukas Biru membuat Luna menundukkan kepala seraya memilin jari-jari tangannya karena gugup.


“Di apartemen, apa kamu juga sengaja ngelakuin hal murahan kayak gitu untuk membuat Jingga salah paham?” Melihat reaksi Luna yang seperti itu, seketika memicu pertanyaan-pertanyaan yang selama ini Biru sangkal dalam sel kelabu otaknya.


“Apa bener, kamu juga yang bilang sama Jingga kalau-”


“Apa yang Jingga bilang?” Luna mengangkat dagunya menatap Biru.


“Dia bilang kalau aku suka sama kamu? Apa dia juga ngadu sama kamu kalau aku meminta dia untuk jauhin dan lepasin kamu?” Luna tersenyum menyeringai. Jelas saja penuturan Luna itu membuat Biru terkejut, dan semakin bertambahlah perasaan bersalahnya pada Jingga.


Jadi selama ini Jingga tidak pernah berbohong? Bahkan Jingga diam saja kalau Luna mengatakan hal yang lebih dari itu.


“Kamu? Berani-beraninya. . . .” Biru menggeram tertahan dengan rahang yang sudah mengeras disertai telapak tangan yang mengepal hingga buku-buku jarinya tampak menonjol dengan jelas.


“Kenapa kamu ngelakuin itu?” Bentak Biru membuat Luna berjengit kaget. “Kamu jelas tahu kalau Jingga adalah orang yang sangat berarti buat aku. Kenapa. . . .”


“Karena aku iri sama Jingga.” Sambar Luna sambil beranjak dari duduknya.


“Aku iri karena Jingga bisa dengan mudahnya mengambil hati kamu. Sementara aku? Aku yang lebih dulu ada di dalam kehidupan kamu, tapi nggak pernah sekalipun kamu melihat aku sebagai seorang perempuan.” Luna berteriak, meluapkan perasaannya yang selama ini dia pendam.


Biru benar-benar terkejut dengan pengakuan Luna. Dia sama sekali tidak pernah menyadari itu, selama ini Biru hanya menganggap kedekatannya dengan Luna tidak lebih dari sekedar teman dan saudara karena mereka sudah tumbuh bersama sejak kecil.


“Aku benci sama Jingga, jauh sebelum aku ketemu sama dia. Kamu tahu? Waktu kamu mulai ceritain dia sama aku dan bilang kalau kamu jatuh cinta sama dia, sejak saat itulah aku mulai benci sama dia.” Lanjut Luna dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


“Dan aku semakin benci sama Jingga karena dia nggak pernah hilang dari hati kamu, bahkan setelah kamu hilang ingatan dan ngelupain dia.” Luna menarik napasnya yang kian memberat. Kini air matanya mulai berhamburan membasahi pipinya. Sementara Biru masih terdiam menunggu gadis itu menyelesaikan apa yang ingin diucapkannya.


“Bukan cuma suka, tapi aku cinta sama kamu, Bi. Aku cinta sama kamu lebih dari Jingga, karena itulah aku bisa ngelakuin hal-hal licik kayak gini. Jadi melihat kehadiran Jingga di sisi kamu, itu bukan hal yang mudah buat aku.” Seru Luna kemudian.


“Kenapa? Kamu terkejut? Kamu mau ngetawain aku, kan? Kamu mau bilang kalau seharusnya aku tahu diri karena menaruh perasaan sama kamu yang jelas memiliki latar belakang sangat berbeda?” Luna menghapus air mata dengan punggung tangannya seraya tersenyum miris.


“Aku nggak pernah memandang orang dari latar belakangnya, Luna. Kalau aku seperti itu, aku nggak akan pernah mau berteman sama kamu selama ini.” Sambar Biru tak terima.


“Seharusnya kamu bisa jujur sama aku sebelumnya. Luna aku nggak akan marah dengan itu, karena aku tahu kalau kita nggak bisa memilih untuk jatuh cinta sama siapa.” Ucap Biru menatap Luna dalam.


“Tapi sekarang terlambat. Aku kecewa sama kamu, karena cara yang kamu lakukan itu salah. Kamu nggak seharusnya melakukan hal-hal murahan kayak gini, padahal kamu tahu sebelumnya kalau aku banar-benar cinta sama Jingga.” Lanjut Biru dengan perasaan yang tampak terpukul.


Memang, bukankah dari awal semuanya sudah jelas bahwa Biru hanya mencintai Jingga, dan Luna tahu jelas itu. Tapi, kenapa Luna tidak berhenti dan malah melakukan hal seperti ini yang membuatnya menjadi seperti orang jahat?


Kenapa Luna berusaha keras untuk mengubah warna senja? Sejak awal, senja memang berwarna jingga, tidak akan berubah warna menjadi kuning, hijau, merah muda, ataupun warna lainnya. Senja tetap berwarna jingga yang akan melukis langit saat waktunya tiba. Luna tahu hal itu, kenapa dia tidak berhenti dan malah mengusik keindahan senja?


“Selama ini aku selalu menganggap kamu sebagai teman yang baik, Luna. Seharusnya kamu bisa mengerti perasaan aku. Sekarang kamu benar-benar sudah merusak apa yang kita punya selama ini.” Imbuh Biru dengan nada kecewa.


Ternyata orang yang selama ini dia anggap teman baik, justru menjadi orang yang paling menginginkan hubungannya dengan Jingga hancur.


“Sepertinya kita harus menjaga jarak. Mulai sekarang, aku hanya bisa menganggap hubungan kita nggak lebih dari sekedar atasan dan bawahan.” Ujar Biru kemudian seraya beranjak dari duduknya untuk berlalu meninggalkan luna. Namun dengan cepat gadis itu menahan pergelangan tangannya.


“Enggak, Bi. Aku nggak bisa, tolong jangan kayak gini.” Ucap Luna lirih seraya menggelengkan kepalanya. Luna tidak mau kehilangan Biru, dia tidak terima Biru mengatakan hal seperti itu.


“Apa kamu nggak bisa sedikit aja ngasih hati kamu buat aku? Lupain Jingga, dia nggak cinta sama kamu, dia nggak akan ninggalin kamu kalau masih sayang.” Pintanya seraya memegang erat lengan Biru.


“Cukup, Luna. Selama ini aku selalu menahan diri saat kamu menjelek-jelekkan Jingga karena aku masih menghargai kamu sebagai teman baik.” Biru menatap Luna dengan tatapan dingin yang menyeramkan.


“Sekali lagi kamu menjelek-jelekkan Jingga atau melakukan hal-hal murahan kayak gini, aku pastikan kamu nggak akan melihat aku dan menginjakan kaki di rumah sakit ini lagi.” Biru menghentakkan tangan Luna dengan kasar hingga terlepas dari lengannya, kemudian melenggang pergi, meninggalkan Luna yang menatapnya dengan perasaan kacau.


Luna mengejar Biru dan hendak meraih lengannya kembali. Tapi dengan cepat cowok itu menghindar dan menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi, seolah mengatakan diam dan jangan menyentuhku.


Luna begitu terpukul, dia hanya bisa menatap punggung Biru yang kian menjauh dari pandangannya. Selama ini, baru pertama kali Biru memperlakukannya seperti ini. Cowok yang selalu bersikap baik dan selalu ada untuknya, kini bahkan tidak ingin melihatnya, bahkan hanya sebagai teman.


“Semua ini gara-gara Jingga.” Luna menggeram penuh dendam sembari mengepalkan tangannya dengan keras hingga telapak tangannya terluka karena kuku-kuku jarinya tak sengaja melukainya.


********


“Maaf, aku datang terlambat, Jingga.” Lirih Biru pelan saat dia berhasil mendudukkan dirinya di kursi taman bermain.


Biru teringat dengan janjinya saat dia mengatakan pada gadis itu bahwa dia akan segera kembali untuk melihat langit sore bersama-sama di tempat itu, taman bermain yang biasa mereka datangi dulu.


“Cepat pulang dan kamu bisa marah-marah sama aku, Jingga.” Pintanya pilu, selalu seperti itu. Cepat pulang, Jingga.


Biru terdiam, menatap langit sore yang birunya sudah bercampur dengan cahaya matahari terbenam, hingga rona-rona jingga mulai nampak. Terlihat sangat cantik, langit sore adalah keajaiban dan film yang tak terbatas. Tapi tetap saja hal tersebut tidak membuat kehampaan dalam hati Biru menyurut.


“Aku nggak asal ngomong. Luna sendiri yang bilang sama aku kalau dia suka sama kamu.”


Ingatan Biru kembali melayang pada waktu dia dan Jingga berdebat tentang Luna saat makan malam di apartemen.


“Aku ngerti, kamu mungkin nggak suka sama keberadaan Luna di antara kita. Tapi kamu juga nggak usah bohong kayak gini. Kamu sengaja, ya, mau coba buat jauhin aku sama Luna? Kamu sengaja mau bikin hubungan aku sama dia rusak?”


Biru menghela napas sambil memejamkan matanya sebentar. Biru tidak tahu bagaimana kecewanya Jingga saat dia menuduhnya waktu itu. “Maafin aku. . . .”


“Jelas aku nggak akan percaya. Aku kenal Luna lebih lama daripada kamu.” Bahkan dengan sombongnya Biru berkata seperti itu saat Jingga menanyakan apakah Biru tidak mempercayainya. Dan Tuhan maha baik, Dia telah menunjukkan kebenarannya.


“Aku nggak nyangka, ya, ternyata kamu bisa selicik ini. Sengaja, kan, kamu bohong kayak gini biar bisa dapetin perhatian aku sepenuhnya?”


“Seharusnya kamu nggak perlu melakukan ini. Tanpa kamu berusaha pun, kita akan menikah nantinya, dan bukan cuma perhatian, tapi kamu akan mendapatkan aku seutuhnya. Seharusnya kamu cukup puas dengan itu.”


Tudingan-tudingan yang pernah Biru layangkan terus berdengung di telinga hingga membuat kepalanya pening. Ucapannya saat itu seolah anak panah yang dia lemparkan ke hati Jingga memantul kembali dan manancap di hatinya, sakit. Biru merasakan hatinya sakit karena ucapannya sendiri.


Hati Biru mencelos sakit, bagaimana bisa Jingga menahannya seperti itu? Gadis itu bahkan hanya diam saat Biru menudingnya dengan berbagai tuduhan yang menyakitkan. Jika saja Jingga marah padanya waktu itu, mungkin sekarang Biru tidak akan merasa teramat bersalah seperti ini.


“Bodoh. Kenapa kamu diem aja? Seharusnya kamu marah atau pukul aku waktu itu.” Biru merasakan dadanya sesak seiring dengan tangisnya yang keluar tanpa suara.

__ADS_1


Biru bisa apa selain meratapi penyesalannya sekarang? Sekalipun dia menangis meraung-raung, dia tetap tidak bisa memutar waktu. Biru tidak bisa kembali ke hari di mana dia menyakiti Jingga.


Langit sore hari ini bahkan seolah sedang mencibirnya. Dalam kedamaiannya langit sore, lewat keheningannya seolah mengatakan *“*Hei, Biru! Nikmatilah penyesalan kamu. Teruslah bercermin dan tanyakan pada bayangan yang nampak seberapa kejam kamu selama ini? Berapa banyak rasa sakit yang sudah kamu tanamkan pada Jingga selama ini?”


********


Hari ini tepat lebih dari lima bulan kepergian Jingga.


Keadaan Biru? Tentu saja kerinduan dalam hatinya kian bertambah setiap saat. Rindunya tak pernah menyerah hingga membuat matanya memerah karena air mata yang kerap kali jatuh setiap kali dia meratapi rindu yang menunggu temu.


Setiap hari, hatinya menjerit-jerit memanggil nama Jingga. Namun seolah kata pertemuan itu tuli, seberapa keraspun Biru memanggilnya, pertemuan tak kunjung menghampiri. Biru merindukan Jingga, sangat banyak.


Kerinduan yang begitu menyakitkan itu seolah menjadi hadiah yang pantas atas semua perlakuannya terhadap Jingga.


“Yang ini oke, nggak?” Biru mendengus kesal sambil memutar bola matanya malas saat Langit menunjukkan sepatu yang sedang dicobanya. Ini sudah toko ke sepuluh yang mereka kunjungi, dan Langit masih belum berhenti.


Dalam hidupnya, Biru paling malas diajak berkeliling mall dan berbelanja seperti ini. Seumur hidupnya pula, hanya dua orang yang bisa memaksanya untuk itu.


Yang pertama ibunya, jelas dia tidak bisa menolak permintaan nyonya besar. Dan yang kedua, kenapa harus Langit? Kenapa mau-maunya dia dipaksa cowok itu untuk mengikutinya berbelanja seperti orang gila dan menjadi kuli seperti ini? Biru jadi menyesal sudah menawarkan pertemanan padanya. Seandainya bisa, Biru ingin menarik kata-katanya sekarang juga. Langit benar-benar melunjak padanya setelah mereka lebih akrab.


Tapi meski demikian, Biru bersyukur dengan kehadiran Langit sebagai temannya. Kehadiran Langit secara tidak langsung sudah menghibur hatinya yang lara.


Selama Jingga pergi, ternyata Langit mendapat pengganti Jingga yang bisa menemaninya berbelanja. Mungkin terhitung sudah enam kali Biru menemaninya seperti ini.


Sama seperti Jingga. Biru akan mengekor, membawa barang Langit, dan dimintai pendapat mengenai barang yang dibeli. Sepertinya Biru harus membawa Langit bertemu Dokter Johan setelah ini, shopaholic benar-benar gangguan mental.


“Woy, kambing, lo tuli?” Sentak Langit yang melihat Biru hanya diam dengan wajah merengut masam.


“Oke, oke, oke. Apapun yang lo pake oke.” Sahut Biru bersungut-sungut, lalu mendengus kesal. Dulu saja saat dia berkencan dengan Jingga, tak pernah sekalipun Biru menemaninya berbelanja seperti ini.


“Ya udah lo nggak usah ngegas juga, kali. Muka lo kusut banget lagi kayak baju belum disetrika.” Sahut Langit ketus.


Dari hubungan layaknya Tom dan Spike, kini mereka naik tingkat seperti si larva Red dan Yellow. Mereka sering sekali berdebat seperti anak kecil, tapi ujung-ujungnya kembali akur.


“Ya udah, cepetan sana bayar belanjaan lo ke kasir. Capek gue.” Sembur Biru tak kalah ketusnya.


Tanpa disadari, pertengkaran kecil mereka menarik perhatian para pegawai toko. Tampak pegawai toko itu menahan tawa melihatnya, mungkin si pegawai toko mengira Biru adalah kakak yang sedang mengantar adiknya berbelanja. Gemas sekali.


“Iya, gue bayar sekarang. Lo ini rewel mulu dari tadi, Jingga aja nggak pernah pernah serewel ini.” Langit menggerutu seraya menyerahkan sepatu yang dipilihnya pada pegawai toko untuk dibungkus.


“Gue, kan, bukan Jingga.” Sahut Biru kesal.


“Lo emang nggak sabaran, ya? Kayaknya gue harus lebih sering ngajak lo belanja kayak gini buat ngelatih kesabaran.” Sungut Langit kemudian.


“Dih, najis, nggak mau lagi gue.” Biru menolak dengan tegas. “Gue tunggu di mobil. Lo punya waktu 10 menit buat nyusul.” Imbuhnya sebelum kemudian dia keluar dari toko dengan membawa serta beberapa kantong belanjaan milik Langit.


“Tapi H&M lagi ngeluarin produk baru . . . .”


“Gue nggak peduli.” Sambar Biru dengan tatapan yang tak bisa dibantah, dia kemudian mengambil langkah besar menuju parkiran di mana mobilnya berada.


********


Mereka memilih tempat duduk di sudut paling tenang, tempat paling ujung dekat dengan dinding kaca, sehingga mereka bisa melihat keadaan di luar yang sedang hujan dari balik dinding kaca itu.


“Kalau kayak gini, gue jadi keinget kenangan manis gue sama Jingga.” Langit menghembuskan napasnya, melempar pandangannya ke luar sambil menopang dagu dengan sebelah tangan.


Dulu, biasanya Jingga dan Langit selalu menikmati hujan sambil makan kudapan seperti ini, lalu bercerita tentang hal-hal yang lucu dan menyenangkan. Langit merindukan moment itu.


“Yang gue inget cuma hal-hal yang belum sempat gue lakukan sama dia.” Ucap Biru lirih, raut wajahnya berubah sedih. Dia tersenyum miris, ingin rasanya dia menangis.


Langit menoleh sejenak sambil tersenyum tipis, lalu kembali melempar pandangannya ke luar.


“Ohh, iya. Ngomong-ngomong, sejak kapan lo sama Jingga mulai ketemu dan sampai sedekat itu?” Biru tergelitik untuk mengetahui kisah persahabatan antara Jingga dan Langit.


Langit kembali menoleh, lalu menyesap kopinya perlahan, kemudian menceritakan awal pertemuannya dengan Jingga hingga menjadi sangat dekat tanpa terlewat satupun. Langit juga mengatakan bahwa persahabatannya dengan Jingga itu membawa berkah bagi kakaknya.


Ingatkan saja saat Jingga sering berkunjung ke rumah Langit saat cowok itu mengalami kesulitan bicara. Sejak saat itulah Bintang dan Senja menjadi dekat dan akhirnya menikah, karena saat itu Bintanglah yang selalu menemani Jingga ke rumah Langit.


“Gue gak nyangka lo pernah kena Aphasia. Sekarang aja mulut lo nggak bisa diem, udah gitu kadang kalau ngomong pedes banget kek cabe busuk.” Ucap Biru mencibir. Langit hanya mendengus sebal sembari melemparkan sepotong stroofwafle ke wajah Biru, namun dengan sigap cowok itu menghindarinya.


“Tapi, gue iri sama lo.” Ujar Biru kemudian.


“Iri?” Langit mengernyitkan alisnya tak mengerti.


BIru mengangguk pelan, lalu memasang senyumna getir. “Karena waktu yang lo habiskan sama Jingga lebih banyak daripada gue.”


“Justru gue yang iri sama lo.”


Kali ini giliran Biru yang mengernyitkan alisnya. “Sama gue?”


“Karena lo yang berhasil mendapatkan hati dan cinta Jingga.” Hati Langit meringis saat mengatakan itu. Sementara Biru hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


“Tuhan itu bener-bener adil, ya.” Tutur Langit kemudian seraya menghembuskan napas panjang. Biru tetap diam, dia menunggu Langit melanjutkan penuturannya.


“Kita itu dua orang yang sama-sama mencintai Jingga. Gue mendapatkan waktu dia, dan lo dapat cintanya, tapi kemudian Tuhan membuat kita sama-sama patah hati dengan membuat Jingga pergi jauh dari kita.” Lanjut Langit seraya tersenyum geli, mengingat bagaimana takdir mempermainkan mereka.


“Gue harap, kisah kita mendapatkan akhir yang bahagia. Gue, lo, dan Jingga.” Ujar Biru dengan suara yang nyaris bergetar, matanya mulai menggenang lagi.


“Kalau gitu, ayo kita bekerjasama untuk membuat akhir yang bahagia.” Ujar Langit seraya mengangkat cangkir kopinya, untuk kemudian terdengar suara dentingan dari cangkir kopi yang saling beradu.


Mereka melakukan cheers drinks dengan kopi sebagai tanda kesepakatan untuk bekerjasama membuat akhir yang bahagia bersama. Hingga akhirnya, kekehan geli dari mulut mereka menggema bersama dengan suara hujan di luar sana.


“Ohh iya, ada yang kelewat.” Seru Langit saat teringat akan sesuatu yang belum dia ceritakan pada Biru.

__ADS_1


“Apa?” Tanya Biru dengan kening merengut


“Jingga’s first love.” Lanjut Langit.


“Itu gue.” Sahut Biru percaya diri. Dia jelas ingat Jingga sendiri yang mengatakan bahwa dia adalah cinta pertamanya.


“Jelas itu bukan elo.” Sanggah Langit.


“Terus, kalau bukan gue siapa? Elo?” Tanya Biru mulai kesal.


“Bukan. Tapi, dia itu dokter bedah saraf–”


“Ya itu, kan, gue, bego.” Sambar Biru memotong ucapan Langit.


“Gue belum selesai.” Langit memutar bola matanya jengah seraya mendengus kesal karena Biru memotong ucapannya.


“Sebenarnya impian awal Jingga itu jadi atlet Gymnastics Rhythmic.” Langit mulai bercerita kembali dan Biru tertarik untuk mendengarkannya, hingga dia merubah posisinya dengan duduk tegap.


Biru mendengus, siapa orang yang sudah berani menjadi cinta pertama Jingga?


“Sejak kecil dia udah aktif di dunia Gymnastics Rhythmic dan meraih beberapa medali. Tapi pas usianya sembilan tahun, Jingga mengalami kecelakaan saat berlatih sampai kakinya cedera, terus dokter bilang kalau kakinya mengalami trauma.” Sejenak Langit mengambil napas untuk kemudian melanjutkan ceritanya.


“Sampai akhirnya Jingga dinyatakan nggak bisa lagi melakukan olahraga itu. Jingga dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan untuk pemulihannya, dia bener-bener terpukul, setiap hari wajahnya murung, dan akhirnya ada seorang dokter residen ganteng yang ikut merawat dia dan berhasil menghibur dia sampai Jingga bisa tersenyum lagi dan menemukan impiannya yang lain.”


“Dokter, kalau aku nggak bisa jadi atlet lagi, aku mau jadi Dokter yang bisa bikin orang tersenyum kayak Om Dokter.”


Langit tersenyum mengingat Jingga kecil mengatakan itu seraya mengedipkan sebelah matanya centil pada dokter tersebut.


“Dan apa lo tahu apa yang terjadi setelah itu?” Biru hanya fokus mendengarkan Langit.


Flashback on


“Dokter, apa kamu punya pacar?” Tanya Jingga kecil dengan wajah menggemaskannya.


“Kenapa anak kecil nanayanya kayak gini?” Tanya dokter itu seraya berjongkok agar bisa mensejajarkan dirinya dengan Jingga yang tengah duduk di kursi roda.


“Karena aku mau jadi pacar kamu.” Jawab Jingga tak mengindahkan pertanyaan dokter itu.


“Nggak boleh, karena kamu masih kecil.” Dokter itu tersenyum seraya mengusap puncak kepala Jingga dengan gemas.


“Kalau gitu, tunggu aku besar. Aku akan tumbuh besar dengan cantik dan jadi pacar kamu.” Sahut Jingga kecil tak mau kalah. “Ahh, bukan. Om Dokter harus nikah sama aku nanti.” Ralat gadis kecil itu mengganti kalimatnya.


“Om Dokter, tolong ambil ini.” Dokter itu mengernyitkan alisnya bingung saat tiba-tiba Jingga menyerahkan medali emas yang dia dapatkan dari olimpiade.


“Kenapa dikasih sama Om?” Tanya dokter itu.


“Ambil. Aku melamar kamu pake ini..” Jawab Jingga polos, membuat dokter itu tertawa geli.


“Haha, oke. Kalau gitu Om akan menerima ini sebagai kenang-kenangan dari kamu.” Dokter itu menerima medali emas dari tangan Jingga.


“Bukan kenang-kenangan. Aku bilang, aku melamar kamu, Om.” Jingga kembali menegaskan diikuti dengan bibirnya yang mengerucut lucu.


"Kenapa kamu mau nikah sama Om?" Tanya dokter itu gemas.


"Karena Om ganteng kayak di film kartun yang aku tonton."


“Tumbuhlah dengan cantik dan Om akan melihat kamu menikah sama pangeran yang lebih ganteng dari Om.” Ujar dokter itu sembari mengacak-acak rambut Jingga untuk kemudian beranjak dan berlalu pergi.


“Dia pasti nolak karena kamu jelek.” Langit yang sejak tadi hanya menonton kini mengeluarkan suaranya.


“Ish, ngeselin.” Jingga mendelik sebal karena Langit mengatainya jelek.


Flashback off


Biru melongo takjub mendengar cerita Langit. Dia tak menyangka Jingga seberani itu. Usianya masih sembilan tahun dan Jingga berani melamar orang?


“Tuh dokter umurnya berapa?” Tanya Biru penasaran.


“Eung. . . .” Bola mata Langit mengerling ke atas mengingat-ingat. “Kalau nggak salah, mungkin waktu itu sekitar 24 tahunan, lah.”


“Kalau gitu, berarti sekarang. . . .” Biru terdiam sebentar sembari melipat jarinya untuk menghitung.


“Mungkin sekarang udah 41 tahun dan udah punya anak.” Sambar Langit membuat Biru bernapas lega.


“Tck, tua.” Cibir Biru.


“Tapi gue yakin dia masih ganteng.” Sahut Langit. Masih jelas dalam ingatannya betapa nyaris sempurna wajah dokter yang dia lupa namanya itu, Jingga bahkan masih mengingatnya dan mengatakan dokter itu mirip Lee Min Ho, aktor dari drama Korea yang sering ditontonnya.


“Tck, nggak mungkin. Dia udah tua sekarang, pasti udah beruban .” Ucap Biru tak terima.


“Kampret. Lo, kan, nggak tahu gimana gantengnya dia. Gue yakin Jingga masih tergoda kalau lihat dia sekarang. Apalagi usia 40 tahunan bagi cowok itu lagi hot-hotnya. Biasanya itu lebih menggoda kaum hawa.”


Biru mendengus saat mendengar penuturan Langit barusan. Dia berharap semoga dokter itu sudah keriput sekarang.


“Gue nggak nyangka Jingga suka sama cowok dewasa kayak gitu.” Gumam Biru, dalam hatinya dia khawatir. Biru tak menyangkal kalau di luar sana memang banyak pria dewasa yang lebih matang dan tampan, bahkan menyaingi anak muda seperti dirinya.


“Haha, nggak nyangka, kan, lo? Mana sekarang lagi musimnya, tuh, cewek-cewek yang pada kecantol sama om-om ganteng.” Langit tertawa renyah saat melihat wajah Biru yang menekuk kesal.


Detik selanjutnya, dering ponsel menghentikan tawa Langit. Terlihat sebuah pesan masuk berupa video, tapi dia heran karena pesan tersebut dikirim melalui surat elektronik.


“Jingga.” Matanya terbelalak sempurna saat membaca siapa nama pengirimnya.


********

__ADS_1


To be continued . . . .


__ADS_2