
********
Biru merutuki dirinya sendiri, teringat dengan apa yang dia lakukan pada Jingga di hari terakhir mereka bertemu. Seandainya saja dia tidak membawa Jingga ke villa dan membuatnya takut hingga akhirnya gadis itu marah dan perasaannya terluka, mungkin Biru masih bisa bertemu dengannya.
Seandainya saja saat itu Biru lebih mampu mengendalikan emosi dan bisa membujuk Jingga baik-baik untuk kembali padanya, pasti gadis itu tidak akan pergi dan masih baik-baik saja sekarang.
Biru sudah hampir gila, tangisnya pecah, tak menghiraukan keadaan sekitar. Entah seperti apa wujud Biru yang menangis nyaris tanpa jeda sejak empat jam yang lalu dia mendengar kabar tersebut.
Berulang kali Biru menguatkan hatinya, Jingga pasti baik-baik saja, korban tewas itu bukan Jingga. Jingga akan pulang karena dia masih mencitainya, Jingga akan pulang karena harus menerima maaf dari Biru dan melihatnya berjuang untuk memperbaiki hubungan mereka.
Tidak. Biru tidak bisa kehilangan Jingga, karena jingga adalah miliknya. Hanya Biru yang bisa menentukan Jingga boleh pergi darinya atau tidak.
“Bi, tenangin diri kamu. Semuanya belum jelas. Kita berdoa saja semoga korban itu bukan Jingga. Jingga pasti nggak apa-apa, dia akan baik-baik saja.” Om Rendra berusaha menguatkan Biru, padahal beliau sendiri membutuhkan kekuatan lain untuk dirinya.
Setelah mendengar kabar itu, Om Rendra, Papa, Langit, Biru, dan Amber kini berkumpul di ruangan Papa dan berusaha mendapatkan informasi dari tim MSF yang ada di Yaman dengan bantuan Amber. Namun, sampai saat ini mereka belum bisa dihubungi.
Berita yang tiba-tiba itu benar-benar mengejutkan banyak orang dan keluarga. Tidak hanya Biru dan Langit, orang tua Jingga adalah yang paling terguncang dalam situasi tersebut, ketakutan akan kehilangan putri mereka satu-satunya tak bisa dielakan lagi. Begitupula dengan orang tua Biru dan orang tua Langit yang merasakan kekhawatiran yang sama.
“Bagaimana, Amber?” Tanya Papa mendesak. Amber menghembuskan napas berat sambil menggeleng lemah.
“Tim MSF belum bisa dihubungi. Mereka masih sibuk karena banyaknya MSF yang terluka.” Terang Amber dengan raut wajah yang sama khawatirnya dengan mereka. Bagaimanapun, Jingga sudah dia anggap sebagai adik sendiri. Mereka begitu dekat saat di Amerika dulu.
“Tapi aku tadi dapat kabar dari teman kalau tiga korban tewas dari Indonesia sudah dipulangkan. Kita bisa menghubungi Direktur MSF Indonesia di bawa ke rumah sakit mana mereka sekarang, lebih baik kita datang ke sana untuk memastikan sambil menunggu kabar selanjutnya.” Jelas Amber kemudian.
Untuk selanjutnya, Papa melalui relasinya bisa dengan mudah menghubungi Direktur MSF Indonesia dan meminta informasi terkait kondisi Jingga secepatnya, beliau juga meminta untuk bisa melihat data korban tewas tersebut, serta menanyakan keberadaan terbaru mereka saat ini.
********
Om Rendra, Papa, Langit, Biru, dan Amber kini dalam perjalanan menuju rumah sakit yang ada di Jakarta setelah mendapatkan informasi bahwa ketiga jenazah akan tiba di rumah sakit tujuan sekitar tiga jam lagi. Dengan demikian, kemungkinan mereka akan tiba bersamaan, mengingat waktu tempuh Bandung-Jakarta akan memakan waktu dua sampai tiga jam.
Sama halnya dengan Biru, Langit yang kini duduk di jok belakang bersamanya merasakan matanya teramat perih, namun dia berusaha untuk menahan air matanya agar tak terjatuh.
“Tapi Langit, kayaknya ini udah terlalu lama. Kayaknya udah saatnya aku pulang. See, aku akan ngasih kamu kejutan nanti. Kamu tahu apa kejutannya? Kepulangan aku.” Ingatan Langit melayang saat ia menyaksikan video Jingga.
“Bukan pulang kayak gini maksud kamu, kan, Ji?” Sekelebat pikiran itu terlintas di kepalanya.
Langit lantas menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran buruk tersebut, dia kembali menguatkan hatinya bahwa itu tidak akan mungkin terjadi. Jingga tidak akan pulang seperti ini, gadis itu sudah berjanji padanya akan melakukan hal-hal yang menyenangkan dan menemaninya berkeliling ke sepuluh mall sekaligus setelah dia pulang. Langit tidak rela kalau sampai Jingga mengingkarinya.
“Jangan memasang wajah seperti itu. Apa kalian berharap Jingga pulang dengan cara seperti ini?” Tegur Papa yang melihat wajah kedua pemuda di belakangnya nampak awut-awutan.
Baik Biru ataupun Langit, tak ada yang menyahuti ucapan lelaki itu, mereka hanya memandang lurus ke depan, berharap segera sampai ke rumah sakit dan memastikan jenazah itu bukan Jingga.
Sesampainya di rumah sakit . . . .
Biru berjalan tergesa-gesa begitu turun dari mobil sang ayah yang berhenti tepat di depan pintu masuk utama rumah sakit itu. Tentu saja dengan yang lain mengekor di belakangnya.
Terlihat salah satu petugas yang membawa jenazah korban ledakan sudah menunggu kedatangan mereka di lobby rumah sakit, untuk kemudian membawa mereka ke salah satu lorong rumah sakit yang cukup sepi.
“Ji . . . .” Gumam Biru panik saat kakinya masih terus melangkah melewati lorong yang sepi itu.
“Anda akan menjemput dokter perempuan itu?” Tiba-tiba saja petugas yang mengantar mereka menanyakan hal tersebut.
“Jingga?” Tanya Biru memastikan.
“Dia ada di barisan ketiga.” Petugas itu mengangguk, lalu membuka ruangan yang sepi dan cukup dingin itu.
Baik Biru ataupun yang lainnya sama-sama merasakan jantungnya seolah berhenti. Benarkah? Benarkah Jingga pulang dalam keadaan seperti ini?
Dengan tubuh lemah, Biru berusaha menyeret kakinya untuk mendekati jenazah yang ada di barisan ketiga.
Dunia Biru semakin terasa dijungkir balikan tatkala dia melihat tangan jenazah itu yang sedikit terjuntai. Tapi fokusnya adalah pada sebuah sapu tangan berwarna biru tua yang terlilit di tangan jenazah itu.
Dengan tangan gemetar, Biru meraih sapu tangan tersebut dan memeriksanya. Matanya terbelalak saat terdapat sulaman nama Biru pada sapu tangan itu. Jelas, dia kenal betul jika sapu tangan itu miliknya. Sapu tangan tersebut adalah sapu tangan yang dia gunakan dulu untuk menutupi leher Jingga karena hickey yang dibuatnya.
__ADS_1
“Jingga. Kenapa? Kenapa kamu harus pulang kayak gini . . . .” Tanya Biru tersenggal karena kesulitan bernapas.
“Om, ini sapu tangan yang pernah aku kasih sama Jingga.” Ucap Biru seraya menunjukkan sapu tangannya, membuat gerakan tangan Om Rendra yang akan membuka kain penutup terhenti.
Seketika itu juga Om Rendra merasakan dunianya hancur. Namun beliau tetap menguatkan hati dan menguasai dirinya.
“Tidak mungkin, kita belum melihat jenazahnya.” Om Rendra menggelengkan kepala tak percaya.
“Rendra . . . .” Papa merangkul tubuh Om Rendra yang sudah bergetar dan lemas.
“Saya nggak akan percaya sebelum melihat dengan Jelas.” Ujar Om Rendra kemudian. Dia tak akan percaya sedikitpun sebelum melihat wajah anak gadisnya.
Lantas dengan gemetar, tangan Om Rendra menggenggam ujung kain, dalam hati beliau berdoa, semoga saja yang terbaring di balik kain putih itu bukan putrinya. Biarlah dia bersikap jahat kali ini dan berharap tubuh kaku yang ada di hadapannya saat ini adalah anak orang lain.
Namun sebelum Om Rendra menyingkap kain putih itu, terdengar suara histeris seorang wanita yang membuat Om Rendra menghentikan pergerakan tangannya.
“Jingga, anak Mama . . . .” Semua orang menoleh dan mengarahkan pandangannya ke arah wanita paruh baya yang tengah melangkah dengan lemah mendekati mereka. Keadaannya tak jauh dari mereka yang diselimuti duka.
Semua orang masih bergeming. Mereka mengamati pergerakan wanita paruh baya itu yang kini sudah berdiri di sisi sebelah Om Rendra. Tatapannya begitu sedih saat tangannya terulur membuka kain penutup itu.
“Jingga, Sayang?” Wanita itu memeluk tubuh kaku itu diiringi dengan tangisan pedih yang menggema memenuhi ruangan dingin itu.
Berbeda dengan wanita itu, Om Rendra merasa terkejut sekaligus bersyukur bahwa tubuh yang terbaring kaku itu bukan Jingga putrinya.
“Dia . . ., bukan Jingga? Sapu tangan ini? Gimana bisa? Terus di mana Jingga sekarang?” Batin Biru bertanya-tanya. Dia kemudian bergerak mendekati jenazah di barisan kedua dan buru-buru menyingkap kain penutupnya. Hatinya sesaat merasa lega karena itu juga bukan Jingga.
Bersamaan dengan itu, Amber yang entah sejak kapan gadis itu keluar, gadis itu kembali masuk ke kamar jenazah dan menarik mereka untuk keluar dari dalam sana.
“Jingga udah pergi . . . .”
“Apa maksud kamu? Jelas-jelas di dalam sana bukan Jingga kita.” Sambar Langit memotong ucapan Amber. Gadis itu hanya memutar bola matanya jengah.
“Tenang dan dengain aku dulu, okay?” Ucap Amber meminta mereka untuk duduk di kursi yang berderet memanjang pada salah satu dinding rumah sakit.
Tapi sekarang, Biru merasa beryukur yang teramat banyak pada Tuhan. Dengan demikian, dia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya pada Jingga.
*******
“Dasar anak nakal.” Gumam Ayah dengan suara parau, namun ada kelegaan di sana. Dia menghembuskan napas lega seraya memejamkan matanya, mengucap syukur banyak-banyak seiring dengan air mata yang ikut menetes membasahi pipinya.
“Tapi kalau Jingga udah pulang dari Yaman sejak kemarin, harusnya dia sekarang udah ada di Indonesia.” Ujar Langit yang kembali dihinggapi kebingungan, begitupula dengan yang lain. Sementara Amber hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu.
“Sudah, yang penting kita sudah tahu kalau Jingga selamat.” Tutur Ayah yang mengesampingkan dulu kebingungannya. Dia lantas mengambil ponsel dari saku jasnya untuk menghubungi sang istri dan anaknya Bintang yang menunggu kabar di rumah.
Namun belum sempat dia menekan nomor istrinya, sebuah panggilan video grup masuk. Terlihat Sagara yang menghubunginya. Beliau menatap tampilan layar itu heran.
“Kenaapa, Yah?” Tanya Langit yang melihat Ayah nampak bingung.
“Sagara VC grup.” Jawab Ayah seraya menunjukkan layar ponselnya ke arah Langit. Tak lama, Ayah kemudian mengusap ikon berwarna biru itu ke atas untuk menerima panggilan video tersebut.
Ayah mengarahkan layar ponsel ke wajahnya, tampak di seberang sana ada sang istri dan Bintang, serta Sagara.
“Gara, Jingga . . . .” Suara Bunda tercekat tak kuat untuk melanjutkan kalimatnya.
“She’s here with me.” Sambar Sagara membuat semua orang terkejut. Begitupula dengan orang yang saat ini bersama Ayah yang tak sengaja mendengarnya.
“Jackson, tolong bicara yang jelas.” Sahut Ayah yang tak bisa mencerna apa yang dimaksud Sagara.
“Tadi pagi, Jingga datang ke tempat aku. Aku bener-bener kaget ternyata dia selamat. Aku udah berusaha menghubungi kalian, tapi nggak ada satupun yang menerima panggilan aku.” Jelas Sagara sedikit kesal.
Sama halnya dengan yang lain, Sagara yang saat itu tengah tertidur lelap begitu terkejut saat mendapat kabar dari kakaknya Bintang mengenai berita buruk tentang Jingga.
Hampir saja Sagara pulang ke Indonesia, namun sekitar jam tujuh pagi waktu Spanyol, dia dikejutkan dengan Jingga yang sudah ada di depan pintu apartemennya. Untuk sesaat Sagara mengira adiknya itu hantu yang sedang menggentayanginya, namun Jingga yang langsung berhambur memeluknya, saat itu juga membuatnya sadar dan yakin bahwa yang ada di hadapannya itu adalah nyata sang adik.
__ADS_1
“Lo nggak lagi becanda, kan, Ga?” Bintang menyahuti di seberang sana. Sagara hanya memutar bola matanya malas. Apa mungkin dia bergurau dalam situasi seperti ini?
“Tck. Lo nggak percayaan banget, sih, Kak. Ini gue sama Jingga lagi dugem. Tuh lihat, kan?” Sagara mengarahkan kamera ponsel ke arah Jingga yang sedang menari dengan riang.
Semua orang melongo takjub di tengah rasa syukurnya. Semua orang hampir gila mencemaskan gadis itu, tapi yang dicemaskan malah sedang. . . . .
Ahh, sudahlah.
“Jackson, pulang kalian sekarang juga!” Titah Ayah galak mendapati anak-anaknya ada di club malam. Memang sejauh ini hanya satu anaknya yang benar-benar bisa dibilang waras yaitu Bintang.
“Ayah tenang aja, kami nggak minum, kok.” Sahut Sagara santai.
Ayah menggeram tertahan, lalu kembali berucap. “Jackson, kasih hapenya sama Jingga!”
“Iya Gara. Tolong kasih hapenya sama Jingga. bunda mau ngomong.” Timpal Bunda.
Berdecak kecil, sagara lantas memanggil dan memberi kode pada Jingga untuk berhenti dulu. Tapi sang adik menolaknya mentah-mentah. Jingga belum siap mendapat omelan kedua orang tuanya.
“Jingganya nggak mau, Yah.”
“Ya udah kalau gitu cepat pulang kalian dari tempat itu.” Titah Ayah lagi. “Kamu ini, malah ngajakin adik kamu ke tempat nggak bener.” Omelnya kemudian.
“Ya . . .ya, terserah Ayah.” Sahut Sagara sembari memutar bola matanya malas. Lelaki tua itu selalu saja overprotektif jika menyangkut Jingga.
“Kalau gitu bilangin besok Ayah jemput dia pulang.”
“Hmm. Lagian di sini Jingga cuma buang-buang uang aku aja.”
“Awas jangan coba-coba ngajakin Jingga minum. Kamu juga, jangan coba-coba! Ayah ngebebasin kamu bukan untuk itu.” Ayah memperingati. Memang selama ini Ayah tak pernah melarang anak-anaknya pergi ke klub malam, hanya saja beliau sangat melarang mereka menyentuh minuman keras.
“Iya, yang mulia.” Sahut Sagara malas.
Tak lama setelah itu, panggilan video berakhir. Semua orang benar-benar bisa bernapas lega sekarang.
“Jingga gimana, Om?” Tanya Biru mendesak, meski dia mendengarnya tadi, tapi Biru ingin memastikannya kembali.
Ayah mengalihkan pandangannya ke arah Biru yang tengah menunggu jawabannya sambil tersenyum.
“Jingga ada di Spanyol sama kakaknya Sagara, dia baik-baik saja. Kamu jangan khawatir lagi.” Jawab Ayah menenangkan.
“Aku mau susul dia Om.” Ucap Biru.
Ayah menatap ragu Biru, sebelum kemudian berucap. “Bukannya Om nggak ngizinin kamu, Bi. Tapi kalau boleh Om kasih saran, kamu biarkan Jingga menikmati liburannya sebentar lagi. Kamu nggak keberatan, kan? Tunggu dia sebentar lagi.”
“Tapi Om–”
“Satu minggu. Om pastikan kamu hanya menunggunya satu minggu lagi.” Lanjut Ayah. Beliau tak serius akan menjemput Jingga besok. Ayah menginginkan Jingga menikmati liburan sebentar setelah sekian lama ada di daerah perang. Pasti putrinya itu butuh menenangkan diri sejenak.
Mau tidak mau, Biru akhirnya mengangguk pasrah. Dia akan menunggu Jingga dengan sabar, seperti dulu Jingga menunggunya.
********
Setelah perbincangannya dengan Ameera dan memutuskan untuk pulang malam itu, Jingga langsung memesan tiket untuk kepulangannya. Tapi bukan ke Indonesia, melainkan Madrid, Spanyol, tempat kakak keduanya berada sekarang.
Jingga tiba di Madrid malam hari, dia memutuskan untuk menginap di hotel daripada langsung ke apartemen kakaknya, karena jarak dari bandara ke apartemen sang kakak lumayan jauh.
Tubuhnya yang begitu lelah membuatnya memutuskan untuk beristirahat di hotel terlebih dahulu sebelum besok dia menemui Sagara dan melakukan liburan yang sesungguhnya.
“Okay. Liburan yang sesungguhnya dimulai.” Seru Jingga sambil menghirup udara Madrid dengan senyum mengembang di wajahnya, tanpa mengetahui bahwa saat itu semua orang tengah panik dan mengkhawatirkannya.
********
To be continued . . . .
__ADS_1