
********
Tengah malam Biru terduduk di kursi kerjanya setelah terbangun karena panggilan telepon Albi tadi. Kembali teringat mimpinya . Mimpi itu lagi, di sebuah taman bermain, dia melihat seorang gadis melambaikan tangan dan tersenyum, kali ini memanggilnya. Namun tetap saja, seberapa keras pun dia berusaha untuk melihat wajah gadis itu, dia tidak bisa. Pancaran sinar terang menghalangi wajah gadis itu, hanya senyumannya yang dapat dia lihat.
Mengusap wajahnya kasar, Biru lantas meraih tablet miliknya dan mulai membaca file yang Albi kirim. Dia baca setiap deret tulisan yang memuat identitas Jingga. Tidak asing.
Hingga atensinya tertuju pada foto SMA Jingga. Seolah de ja vu, Biru merasa pernah bertemu gadis itu. Mungkin teman-temannya benar, gadis itu ada hubungannya dengan bagian ingatannya yang hilang.
“Not bad.” Gumam Biru tak sadar. Dia akui, Jingga memang terlihat cantik meski dalam foto formal sekolah.
Biru mengangguk-angguk. Memang tidak salah kalau dulu dia pernah menyukai gadis itu. Tapi dia juga heran kenapa bisa jatuh cinta padanya, sebab yang dia ingat selama ini, dirinya selalu skeptis pada gadis cantik, bahkan hingga saat ini.
“Jingga. . . .”
“Rendra . . . .”
“Mona . . . .”
Gumam Biru saat membaca ulang identitas Jingga. Tidak banyak informasi yang didapat. Hanya identitas siswa seperti pada umumnya.
Biru tercenung, sekali lagi membaca ulang identitas Jingga untuk memastikan. Dia tersadar jika gadis yang sedang dia cari tahu identitasnya sama dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya.
********
“Ma, Pa, buka pintunya.” Biru menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya tak sabaran. Cukup lama dia lakukan itu hingga lima menit kemudian pintu terbuka.
“Ada apa, sih, Bi, malem-malem gini?” Gerutu Mama dengan wajah mengantuk, matanya bahkan belum terbuka sempurna. Wanita itu mempersilahkan Biru masuk dan duduk di sofa. Terlihat Papa yang terlelap pulas, sepertinya tidak terganggu sama sekali dengan kedatangan Biru.
“Ma, cewek yang mau kalian jodohin sama aku namanya Jingga, kan?” Tanya Biru memastikan.
“Hmm.” Mama mengangguk malas. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa smbil bersedekap dengan mata terpejam.
“Anaknya Om Rendra sama Tante Mona?” Tanya Biru lagi.
“Iya, Bi. Kan beberapa hari yang lalu kita makan malam keluarga, masa udah lupa lagi.” Gumam Mama, beliau benar-benar tidak bisa menahan kantuknya, beberapa kali dia menguap lebar-lebar.
“Mama punya fotonya, nggak?” Biru mengguncang bahu Mama agar tetap terjaga.
Berdecak sebal, Mama lantas membuka mata. “Mama nggak punya. Mama juga belum pernah ketemu sama dia. Tapi Mama bisa pastiin dia cantik.”
“Ihh, kok bisa gitu? Gimana kalau aslinya dia nggak cantik di mata aku?” Prrotes Biru.
Mama memutar bola matanya malas sembari membuang napas kasar. Sejenak menggaruk-garuk lehernya yang tak gatal. Kesal karena sang anak mengganggu tidurnya tengah malam begini.
“Tante Mona sama Om Rendra, kan, cantik dan ganteng. Ya anaknya juga pasti good looking, lah, Bi. Contoh aja kamu, kamu ganteng karena turunan dari Mama sama Papa yang good looking.” Ujar wanita itu penuh percaya diri meski sangat mengantuk.
“Tapi Ma – “
“Udah, besok malem juga kamu ketemu. Sekarang kamu keluar sana, Mama mau lanjut tidur.” Usir Mama sembari mendorong bahu Biru agar cepat keluar dari kamarnya.
“Kalau gitu alamatnya, Ma. Mama pasti tahu, kan?” Biru yang ada di balik pintu kembali mengetuk, berharap Mama membari tahunya. Dia hanya ingin memastika jika gadis itu benar-benar orang yang sama.
Biru mendengus sambil menendang kecil pintu kamar orang tuanya.
********
“Gue cari tahu, katanya Jingga dulu kuliah di Inggris. Terus info terakhir dari Satpam rumahnya, dia kerja di John Hopkins dan sekarang lagi balik. Berarti bener yang si Bian Lihat.” Ujar Albi sambil menggarpu sepotong red velvet cakenya.
Biru terdiam berpikir, mencoba mencocokkan data Jingga yang sedikit didapat dari orang tuanya. Dan itu benar. Kalau seperti ini dia tidak perlu repot-repot untuk mencarinya karena sebentar lagi dia akan bertemu di pertemuan keluarga dan gadis itu juga akan bekerja di rumah sakit yang sama dengannya. Tapi tentang ini, Biru belum berniat untuk menceritakan sekarang pada teman-temannya. Tentang Jingga yang akan menjadi calom istinya.
Biru masih harus memastikan. Memastikan jika Jingga yang dimaksud teman-temannya adalah Jingga yang sama dengan calon istrinya.
“Kalau lo mau, gue bisa anter lo ke rumahnya.” Tambah Albi seraya menggerakkan kedua alisnya penuh arti.
“Nggak usah. Gue bisa cari tahu sendiri.” Tolak Biru. Albi hanya mengangguk dan kembali menikmati kuenya. Makanan manis memang sangat cocok untuk mengganti energinya yang hilang setelah bekerja.
“Tapi. . . .” Biru menggantung kalimatnya, ragu untuk melanjutkan. “Gue harus gimana kalau udah ketemu dia?”
Albi tersenyum geli, temannya yang satu ini memang kaku soal cewek. Benar-benar tidak berpengalaman. “Ya apa aja gitu, kenalan kek, asal jangan ujug-ujug bilang mau nyari masa lalu lo yang hilang aja. Bingung dia nanti.”
Biru mendengus, Albi benar-benar tidak bisa memberinya saran yang bagus.
“Kalau ternyata dia bukan cewek itu dan gue tetap nggak sembuh gimana?” Tanya Biru lagi.
“Yaaa, nggak gimana-gimana. Lo, kan, cuma lagi usaha buat sembuh. Kalau emang bukan dia ceweknya, gue bakal tetap bantu buat cari cewek misterius yang ada di kepala lo itu.” Sahut Albi santai.
__ADS_1
“Siapa cewek misterius?” Tanya gadis berparas manis mengejutkan mereka karena datang tiba-tiba.
“Ehh, Luna. Kalian janjian?” Albi menatap Biru dan Luna bergantian. Biru hanya menggeleng.
Luna tersenyum manis. “Enggak, kok. Cuma kebetulan aku lihat kalian di sini. Aku boleh gabung nggak?”
Biru menatap Albi meminta persetujuan. Albi hanya mengedik, terserah. Tapi jika boleh jujur, Albi kurang suka karena pembicaraan mereka terganggu.
“Duduk aja, Lun.” Ucap Biru santai. Luna berseru senang, lalu meletakkan kopi dan kue miliknya di meja.
“Tapi aku nggak ganggu kalian, kan? Aku lihat kalian kayak lagi serius banget soalnya.” Tanya Luna mengambil duduk di samping Biru.
“Santai aja.” Sahut Albi sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Ngomong-ngomong, tumben cuma berdua? Biasanya berempat.” Tanya Luna lagi. Matanya mencari-cari Bian dan Bisma.
“Masih sibuk mereka.” Jawab Albi lagi. Sementara Biru hanya diam menikmati es kopi blended miliknya yang penuh whipped cream hingga membuat krim kocok tersebut sedikit belepotan di sekitar mulutnya.
“Ya ampun, Bi. Kebiasaan, deh, belepotan kayak gini.” Biru terkejut saat tiba-tiba Luna menjulurkan tangan dan membersihkan krim yang belepotan. Begitupun Albi yang mendadak risih melihat pemandangan tersebut.
“Aku Bisa sendiri, Lun.” Biru menahan tangan Luna, tatapannya nampak tak suka.
“Nggak apa-apa. Anggap aja aku lagi baik.”
“Jingga. . . .” Teriak cowok tampan berpenampilan kasual sambil melambaikan tangan pada gadis yang sedang berdiri di depan meja kasir. Langit.
Kedai kopi dalam keadaan sepi pengunjung, membuat teriakan Langit menggema hingga membuat atensi Biru dan Albi otomatis teralihkan padanya. Biru bahkan tak mengindahkan Luna yang masih melanjutkan membersihkan krim di mulutnya.
“Mission complete.” Seru riang Jingga yang berbalik sambil mengacungkan cup holder berisi dua buah ice blended pada Langit.
Gadis itu berjalan riang ke arah Langit yang menjulurkan sebelah tangan, siap untuk merangkulnya.
Biru memperhatikan Jingga yang berjalan menggemaskan seperti anak kelinci. Sejenak waktu seolah berjalan sangat lambat, seperti sengaja diatur slow motion saat tiba-tiba Jingga melirik hingga membuat pandangan mereka bertemu dalam datu garis lurus. Tatapan gadis itu tak terbaca.
Seperti magnet, mata Biru tertarik untuk menatap wajah gadis itu lama-lama, hingga sejurus kemudian Jingga memalingkan pandangannya lebih dulu.
Tatapan Biru berubah tak suka saat dari belakang melihat ada tangan cowok merangkul pundak gadis cantik itu. Mata Biru yang kelam mengikuti mereka hingga hilang di balik pintu kedai kopi.
“That’s her.” Gumam Albi yang speechless melihat gadis cantik itu lagi setelah sembilan tahun berlalu.
“Dia cantik, ya? Sampai leher kamu muter gini, Bi. Kamu juga nggak kedip-kedip.” Ledek Luna menyadari perhatian kedua rekannya teralihkan pada gadis cantik yang baru saja pergi. Dia tidak menampik jika gadis itu memang sangat cantik. Bahkan dia yang seorang cewek saja juga terpesona.
“Gue juga.” Ucap Albi kemudian berlari menyusul Biru yang sudah sampai di ambang pintu.
Luna mendengus sebal karena dua cowok itu meninggalkannya begitu saja.
********
Jinga benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat tadi di kedai kopi setelah dirinya dan Langit menyerahkan berkas ke rumah sakit.
Jingga melampiaskan kekesalannya dengan bermain tenis, tangannya dengan lihai menyervis bola tenis yang keluar dari mesin pelontar bola.
Jingga tidak pernah membayangkan akan bertemu Biru kembali dengan cara menyakitkan seperti ini. Tidak ada sapaan atau senyuman hangat, hanya ada tatapan dingin cowok itu.
Apakah penantiannya selama sembilan tahun ini akan sia-sia seperti ini? Biru seolah tidak mengenalinya. Apakah selama ini hanya Jingga sendirian yang terus berharap pada hubungannya?
Biru sudah mencampakkannya.
Jingga terus melampiaskan kekesalannya itu, entah sudah berapa bola yang dia pukul, hingga lama kelamaan lengan bagian atasnya sudah terasa nyeri. Jika itu lengan manekin, mungkin lengan itu sudah terlepas dari tempatnya.
Hari sudah menjelang malam, Jingga masih terus melampiaskan kekesalannya dengan bola tenis. Dia benar-benar terkejut dan sulit mencerna dengan apa yang dilihatnya.
Tatapan dingin itu.
Jingga terus memukul bola meski lengannya terasa sangat sakit.
Dan gadis yang duduk di samping Biru? Terlihat sangat dekat. Jingga tidak pernah sekalipun melihat gadis lain menyentuh Biru.
“Pembohong.”
TUK
“Brengsek.”
TUK
__ADS_1
“Jadi selama ini aku berharap sendirian?”
Langit yang melihatnya ikut frustrasi. Sejak tadi dia berdiri di pinggir lapangan memperhatikannya.
Langit mengepalkan tangannya geram. Dia juga menyaksikan Biru di kedai kopi tadi. Ingin rasanya memukul cowok brengsek itu. Tapi dia tidak mungkin membuat keributan di tempat umum.
Dan yang bisa Langit lakukan untuk menghibur Jingga hanya menemani gadis itu bermain tenis untuk menenangkan hatinya sembari memegang minuman dingin yang dia ambil dari vending machine.
Langit segera menghampiri Jingga saat gadis itu sudah tidak sanggup memukul bola dan terjatuh.
“Are you okay?” Tanya Langit khawatir seraya menuntun Jingga untuk duduk di bangku yang ada di lapangan tenis. Jingga menatap Langit untuk kemudian menyambar minuman dari tangannya, dia meneguk minuman itu hingga tandas.
“Naik. . . .” Langit berjongkok, membawa Jingga di punggungnya, lalu berjalan keluar dari lapangan tenis itu.
Jingga menyandarkan kepalanya di bahu lebar Langit dan mulai menangis.
“Nggak apa-apa, jangan ditahan.” Ucap Langit lirih, mengingat Jingga berusaha menahan tangisnya sejak keluar dari kedai kopi beberapa jam yang lalu.
“Tapi hari ini aja. Besok-besok jangan.” Tambah Langit merasa sedih dan marah sekaligus. Ini bukan hadiah yang pantas untuk Jingga dapatkan seetelah penantiannya selama sembilan tahun.
“Dia bukan Biru, kan, Lang?” Tanya Jingga ingin berkelit.
Langit menghela napas dan memejamkan mata sebentar guna menahan kesabarannya terhadap Biru.
“Semuanya udah jelas, Ji.” Sahut Langit pelan. Jingga semakin terisak.
“Terima perjodohannya dan mulai dari awal..” Tutur Langit kemudian.
“I can’t. I’m still in love with him.” Ucap Jingga dengan suara yang hampir serak.
“Bisa, kalau kamu mau mencobanya. Jangan bodoh.” Timpal Langit mendengus sebal.
“Dan cowok yang Ayah pilih, aku yakin dia orang baik.” Tambah Langit berusaha membujuk Jingga. Setidaknya, menerima perjodohan lebih baik, daripada Jingga terus berharap pada Biru yang sudah jelas tidak mengharapkannya lagi.
********
Wajah Biru merengut masam, hal ini karena Mama mendatangkan penata rias untuk menata rambutnya separipurna mungkin. Padahal, Biru tidak terlalu suka ada orang asing menyentuh rambutnya. Dia lebih suka menata rambutnya sendiri. Tapi Mama memaksa untuk menurutinya dengan alasan agar terlihat sempurna di depan calon istri dan mertua.
Dan disinilah dia sekarang, berdiri di halaman rumah megah yang didesain dengan gaya tropis modern yang akan membuat nyaman siapa saja yang tinggal di dalamnya. Mungkin karena pemilik rumah ini adalah seorang arsitek, rumah ini tampak penuh dengan sentuhan seni, sehingga rumah yang ada di hadapan Biru ini tampak sangat mengagumkan.
“Bi, ayo.” Seru Papa saat melihat Biru yang masih termenung mengagumi keindahan rumah di hadapannya.
Mendengar seruan papanya, Biru tersadar dan mulai melangkahkan kaki, mengekori orang tuanya yang berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
“Selamat datang . . . .” Om Rendra menyambut kedatangan keluarga Rendi Harsa dengan hangat sesampainya mereka di ruang tamu.
Papa dan Om Rendra saling berpelukan, begitu pula dengan Mama dan Tante Mona, kemudian mereka berbasa-basi untuk saling menayakan kabar.
“Biru apa kabar? Tambah ganteng aja kamu.” Sapa Om Rendra seraya memuji calon menantunya itu.
“Haha, kamu bisa aja, Ren. Tentu saja dia ganteng, kan turunan dari aku.” Baru saja Biru akan membuka mulutnya, Papa langsung menyambar begitu saja. Cowok itu hanya memutar bola matanya malas. Papanya benar-benar percaya diri.
“Haha, paling bisa emang kamu kalau membanggakan diri sendiri.” Timpal Om Rendra terkekeh.
Biru jadi malas memperhatikan percakapan para orang tua yang penuh basa-basi itu. Dia menyusuri ruang tamu yang luas itu, sorot matanya mencari-cari sosok yang akan menjadi calon istrinya, Jingga. Tapi hanya fotonya yang dia dapati pada foto keluarga yang terpajang dalam bingkai besar di dinding ruang tamu.
Ternyata benar, Jingga adalah gadis yang sama dengan Jingga yang sedang dia cari tahu.
“Ohh, iya. Mana Jingga?” Pertanyaan Mama sangat mewaliki apa yang ingin Biru tanyakan.
Om Rendra dan Tante Mona nampak terkejut mendengar pertanyaan Mama, namun berusaha menutupinya dengan memasang wajah setenang mungkin.
“Ahh, Jingga?” Ujar Tante Mona dengan bola mata bergerak-gerak gelisah.
“Dia masih di klub tenis. Tapi dia udah selesai, kok, bentar lagi pulang. Duhh, maaf, ya. Anak itu kalau udah main tenis suka kebablasan. Padahal udah dibilangin jangan lama-lama.” Jelas Tante Mona tak enak hati.
“Nggak apa-apa, anak muda emang gitu.” Jawab Mama memaklumi yang diiringi anggukkan setuju suaminya.
“Dasar nggak sopan.” Gerutu Biru dalam hati.
“Sekali lagi kami minta maaf. Jingga terlalu lama tinggal di luar negeri, dia jadi sedikit liar.” Ujar Om Rendra dengan sedikit menahan geram, sontak saja penuturannya itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari Tante Mona.
“Haha, kalau mainnya ke tempat olahraga ya nggak apa-apa, asal jangan ke klub malam aja.” Sahut Papa terkekeh kecil.
“Ahh, sudahlah. Lebih baik kita langsung makan saja. Biar Jingga menyusul nanti.” Lanjut Bunda mengakhiri percakapan penuh basa-basi itu agar tidak ngalor-ngidul.
__ADS_1
********
To be continued. . . .