
********
Hari Minggu sore, Biru dan Jingga berpiknik di taman bermain, mereka menggelar tikar dan keranjang piknik di bawah pohon akasia. Sengaja mereka memilih waktu sore hari agar taman sepi dan mereka bisa berduaan tanpa khawatir ada orang di sekitar.
Suasana sore hari yang tenang, angin sepoi-sepoi menggerakan dedaunan menambah suasana semakin nyaman. Tidak heran banyak orang menikmati waktu sore.
Biru merebahkan dirinya dengan paha Jingga dia gunakan sebagai bantalan kepalanya. Tangan gadis itu dia genggam dan tempelkan di pipinya, sesekali dia mengecupi punggung tangan dan jemarinya hingga Jingga protes merasa kegelian.
“Aww, sakit, Kak.” Pekik Jingga karena tiba-tiba Biru menggigit gemas jari tangannya. “Ish…” Lalu dengan sebal dia memukul pelan bahu Biru. Cowok itu malah cengengesan.
“Habis jari kamu gemes banget. Kan jadi pengin aku gigitin kayak gini.” Biru kembali menggigit kecil jari Jingga, tapi tak menimbuklan rasa sakit. Dia hanya gemas saja. Jingga mendengus geli melihat tingkah Biru.
“Ohh, iya, Ji. Aku mau ngembaliin sesuatu sama kamu.” Biru beringsut bangun saat dia teringat sesuatu.
Jingga memperbaiki posisi duduk, matanya memperhatikan Biru yang sibuk merogoh-rogoh tas untuk mengambil benda yang akan diberikan kepadanya.
“Ini.” Biru mengacungkan gantungan tas karakter babi berbulu warna biru.
“Lho, kok, bisa?” Tanya Jingga heran sambil meraih gantungan tas tersebut. Dia pikir itu terjatuh dan sudah hilang entah di mana.
“Bisa, dong. Namanya juga jodoh.” Sahut Biru tersenyum bangga. Jingga hanya mencebik tak membalas kata-katanya.
“Katanya kalau sesuatu itu benar-benar milik kita, maka itu akan kembali pada kita, sejauh apapun hal tersebut hilang atau pergi.” Tutur Biru kemudian yang dibalas cibiran oleh Jingga karena merasa Biru sok bijak dan mendapatkan kata-katanya dari quotes yang ada di media sosial.
“Aku serius. Itu Papa aku yang bilang.” Ucap Biru tak terima Jingga mencibirnya.
Gadis itu memutar bola matanya malas. “Iya, deh, iya.”
“Kayak aku.” Biru lantas kembali merebahkan dirinya di pangkuan Jingga, memejamkan mata, dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku akan selalu kembali sama kamu, sejauh apapun aku pergi. Kamu tahu kenapa?”
Jingga menggeleng. Kata-kata Biru juga terdengar menggelikan di telinganya.
Biru tersenyum, membuka mata, lalu meraih dagu Jingga untuk mencubitnya gemas. “Cause you’re my home.”
“Ya ampun, aku geli dengernya, Kak. Udah jangan ngomong kayak gini lagi.” Cibir Jingga sambil membekap mulut Biru.
“Ihh, serius aku. Kok geli?” Biru terkekeh setelah Jingga melepaskan bekapan tangan dari mulutnya.
Jingga kembali mencibir. “Gombalnya lancar banget. Pengalaman, ya?”
“Yaaa semua pengalaman aku sama kamu. Kamu cewek pertama yang aku gombalin.” Ujar Biru sambil meraih tangan Jingga untuk dia genggam.
“Dan akan menjadi yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Nggak akan ada cewek lain yang aku gombalin ataupun masuk ke hati aku. Hati aku udah terkunci buat kamu doang.” Lanjutnya mantap. Jingga hanya tertawa antara geli dan mungkin senang bercampur jadi satu.
“Kok malah ketawa? Seriusan aku.” Protes Biru merengut sebal.
“Dengerin, ya. Seandainya amit-amit, ya. Semisal otak aku menghianati aku, terus aku hilang ingatan dan kamu kamu ikut hilang dari ingatan aku. Aku janji pada tubuh aku, kamu nggak akan pernah hilang dari hati aku, kamu akan selalu ada di dalam hati aku, jantung aku hanya akan berdebar untuk kamu, dan perasaan aku nggak akan pernah berubah sama kamu seumur hidup aku.” Ujar Biru mendadak serius. Tapi meski bisa dibilang manis, Jingga tidak suka mendengarnya.
“Kamu ngomong apaan, sih, heeh?” Jingga memukul pelan bibir Biru. wajah gadis itu merengut tak suka.
“Kan aku udah bilang amit-amit.” Biru membela diri.
“Ya tetap aja nggak boleh asal ngomong. Aku nggak suka. Gimana kalau beneran kejadian coba?” Omel Jingga kesal.
“Eung…, kalau beneran kejadian, ya, kejadiannya pasti kayak yang aku bilang.” Balas Biru santai, membuat Jingga geram dan kembali memukul bibirnya.
“Ish, galak banget.” Protes Biru sambil memegang bibirnya. Jingga hanya mendelik kesal tak peduli.
“Kalau kamu sampai hilang ingatan. Aku mau cari cowok lain aja.” Ucap Jingga kesal.
Mata Biru membelalak, dia bahkan beringsut bangun untuk protes. “Mana bisa kayak gitu?”
“Bodo.” Jingga mengedik tak peduli. “Udah, ahh, males aku ngomong sama kamu. Makan aja, niih.” Lalu menjejalkan paksa sepotong waffle yang dia ambil dari keranjang piknik ke dalam mulut Biru.
Dan karena ulahnya, sore itu Biru harus membujuk Jingga yang ngambek. Sedikit menyesal, seharusnya dia tadi bisa menahan mulutnya untuk tidak sembarangan berbicara.
********
Now time is moving faster than before……
Waktu bergerak cukup cepat saat sedang bersama dengan orang yang kita cintai.
Hari in adalah hari kelulusan Biru. Seluruh siswa kelas kelas dua belas memakai kebaya dan jas terbaiknya.
Tidak ada yang berubah dari sekolah itu sejak awal mereka menjadi siswa baru tiga tahun yang lalu. Hanya saja sekarang mereka mau tidak mau harus pergi meninggalkan sekolah yang ikut mengiringi pertumbuhan mereka hingga menyisakan berbagai kenangan manis.
Biru mendapatkan penghargaan siswa terbia, semua orang bangga dan memberi selamat padanya.
Biru melangkahkan kakinya ke lapangan basket indoor. Di sana sudah ada Albi, Bian, dan Bisma menunggunya.
__ADS_1
“Selamat atas kelulusan kita, yeeeeey.” Seru Albi sambil menembakkan party pooper hingga kepala mereka berempat dipenuhi confetti.
“Sedih gue. Pasti kangen banget sama kalian, hiks, ma boys.” Bian mellow, mengingat mereka sudah bersama-sama sejak Sekolah Dasar, dan sekarang mereka akan melanjutkan pendidikan di kampus dan negara yang berbeda. Jelas mereka cukup sedih karena harus berpisah.
“It’s a good day, jangan ngerusak suasana dengan masang muka jelek kayak gini.” Bisma mengusap penuh wajah Bian.
“Yep. Dan beberapa tahun lagi kita bisa kembali bareng-bareng dan tetap bersinar.” Tambah Biru bangga. Mereka kemudian melakukan groofie dengan berbagai pose.
Tak lama kemudian, seorang siswa laki-laki yang mengenakan jas seperti mereka menyusul dan memberitahukan untuk segera kembali ke Auditorium untuk berfoto bersama satu angkatan.
“Selamat tinggal masa SMA yang rasanya nano-nano, terima kasih sudah menyertai masa pertumbuhan kami.” Bian.
********
Siang menjelang sore, Jingga duduk di bawah pohon akasia di taman bermain. Gadis itu menunggu kedatangan Biru yang masih sibuk merayakan kelulusan dengan teman-temannya.
Hari ini adalah sore terakhir yang akan Jingga habiskan bersama Biru sebelum pergi ke Amerika dini hari nanti.
Jingga terlihat anggun dengan dress putih berbahan lace dari The Flower Season. Sangat cantik. Dia memilih dress itu khusus untuk Biru dari seminggu yang lalu.
Raut sendu menyelimuti wajah Jingga, wajahnya memanas, napasnya mulai memberat, emosinya tak karuan. Sebisa mungkin dia membendung air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak boleh menangis, dia harus menikmati sore terakhir bersama Biru dengan wajah bahagia.
Jingga buru-buru menyembunyikan wajah sedihnya, kedua sudut bibirnya dia tarik selebar mungkin membentuk senyuman, menatap Biru yang kini sedang berjalan ke arahnya.
“Kak….” Panggil Jinggga sambil melambaikan tangannya, berusaha menyambut Biru dengan wajah ceria.
Biru mempercepat langkah dan berhambur memeluk gadisnya dengan erat, lalu dengan cepat pula Jingga membalasnya. Keduanya terdiam sejenak dalam posisi itu.
“Do you love me?” Tanya Jingga tiba-tiba, membuat Biru keheranan.
“Yes.” Jawab Biru mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jingga yang tertutupi rambut.
“Tapi aku enggak.” Ucap Jingga yang sontak membuat Biru menarik diri untuk mempertemukan pandangannya dengan Jingga.
“Cause I love you more.” Imbuh Jingga sambil berjinjit dan mengecup sekilas dagu Biru. Lalu kembali memeluk Biru erat.
Biru mendengus, namun senang dalam hati. Selama berpacaran, gadis itu tidak pernah sekali pun mengatakan seperti aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku butuh kamu, dan lain semacamnya. Menurut Jingga, menunjukkan rasa cinta dengan tindakan itu lebih romantis dari kata-kata.
“Makasih karena kamu udah menghadiahkan aku cinta pertama. I love you, Kak Biru.” Tutur Jingga kemudian.
“Enggak, aku yang harus berterima kasih sama kamu.” Balas Biru kembali menarik diri, lalu menangkup kedua sisi wajah Jingga dan menatap mata jernihnya lekat-lekat.
Jingga mengerling dengan senyum geli di sudut bibirnya. “I hope so.”
“Serius aku.” Ujar Biru mengusap penuh wajah Jingga.
Gadis itu terkekeh. “Iya, deh, iya.”
Biru hanya mendengus melihat Jingga yang masih mencibirnya.
“Ohh, iya. Mending kita ambil foto. Kamu agak gantengan pake jas itu.” Jingga menunjuk pakaian Biru yang tampak elegan.
Biru merengut mendengar ucapan Jingga. “Kok pake agak, sih? Aku, kan, ganteng banget."
“Eung gimana, ya? Kamu aslinya emang cuma agak ganteng, sih.” Ledek Jingga penuh penekanan.
“Ihh, ngeselin.” Wajah Biru kembali merengut, bibirnya ikut mengerucut, hingga membuat Jingga menahan tawa gelinya.
“Kalau kamu ngambek, aku bakal cium kamu sepuluh kali.” Jingga pura-pura mengancam seraya mengangkat sepuluh jari tangannya. “Aku hitung sampai tiga detik.” Sambungnya kemudian, Biru masih bergeming dengan ekspresi merengutnya.
“Satu….” Jingga mulai berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Biru.
Cowok itu masih bergeming, sengaja menantang Jingga.
“Dua….” Jingga semakin mendekatkan wajahnya, bahkan ujung hidungnya sudah menempel di pipi Biru.
“Duhh, kok, dia masih diem aja, sih? Kan aku gertak doang.” Gumam Jingga dalam hati. Dia mulai panik, dia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Tii…., udah, ahh, ayok kita foto bareng.” Jingga mengalihkan pembicaraan dan dengan cepat menarik pergelangan tangan Biru ke arah playhouse.
“Katanya mau cium.” Ledek Biru, tapi Jingga tak mengindahkannya dan merampas kamera polaroid milik Biru dari tasnya.
********
Jingga menatap hasil fotonya puas. Tidak banyak foto yang mereka ambil, hanya dua pose. Satu foto dengan pose Biru mencium pipi Jingga dan satu lagi foto dengan pose Jingga yang mencium pipi Biru.
“Kak, kamu simpan yang ini.” Ucap gadis itu sambil menyerahkan satu foto dengan pose dirinya yang mencium pipi Biru. Biru menurut dan menerima foto tersebut.
“Terus aku simpan yang ini.” Imbuhnya kemudian menunjukkan foto dengan pose Biru yang mencium pipinya, lalu dia menyimpan foto tersebut di dalam dompet miliknya.
__ADS_1
“Cantik.” Mata Jingga berbinar melihat foto tersebut kini menghiasi dompetnya. Sementara Biru hanya memperhatikan dengan tenang.
“Mana dompet kamu?” Jingga menengadahkan tangannya, meminta Biru untu menyerahkan dompet.
Cowok itu menurut, lalu merogoh saku celana bahannya dan menyerahkan dompet miliknya pada Jingga.
Jingga mengambil dompet dan foto dari tangan Biru, lalu mulai menyelipkan foto tersebut di tempat foto dengan hati-hati agar tersimpan rapi.
“Ngapain, sih, disimpan di dompet segala? Kan aku punya filenya di sini. Aku bisa share ke kamu.” Komentar Biru yang membuat Jingga langsung mendelik sebal.
“Ya biar kamu selalu ingat sama aku. Kan kita beberapa jam lagi mau LDRan. Awas aja kalau kamu sampai tergoda sama cewek bule di sana.” Sahut Jingga sedikit sengit.
“Jii….” Panggil Biru dengan suara lembut, lalu dia raih bahu Jingga agar mereka bisa berhadapan.
“Dengar.” Biru menggenggam tangan Jingga. “Ada atau nggak ada foto kamu di dompet aku, itu nggak terlalu penting. Aku akan selalu ingat kamu. Selamanya kamu akan selalu ada di sini dan di sini.” Cowok itu lalu menuntun tangan Jingga menyentuh kepala dan jantungnya.
Jingga menatap Biru ragu. “Promise me.” Pintanya seraya mengangkat jari kelingking.
“I promise…” Biru tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Jingga.
“Ohh, iya. Kamu juga harus inget ini. Jangan terlalu deket sama Langit, Ken, Obi, atau cowok mana pun. Jangan main sama mereka terlalu sering.” Biru lantas mengingatkan.
“Hmm.” Sahut Jinga malas. Rasanya bosan mendengar kalimat ini dari mulut Biru. Hampir setiap hari cowok itu mengatakannya.
“Ish, denger nggak aku ngomong?” Biru mendengus, lalu mencubit pinggang Jingga.
“Iya denger. Nggak boleh deket-deket sama cowok, puas?” Sahut Jingga sambil tersenyum kesal.
“Okay, good girl.” Ucap Biru sembari mengusap puncak kepala Jingga layaknya anak anjing, lalu turun menyentuh pipi dan berakhir untuk mengusap bibirnya.
“Boleh cium ini, nggak?” Tanya Biru menatap bibir kemerahan Jingga. Mendadak jantung Jingga bertalu-talu.
“Hari ini aku lulus.” Cowok itu seolah menagih janji Jingga. Dia lantas memiringkan kepalanya untuk menjangkau bibir Jingga. Tapi dengan cepat Jingga menahannya.
“T–tunggu.” Cegat Jingga.
Biru mengernyit, memperbaiki posisi kepalanya. “Kenapa?”
“Nanti aja.” Jingga nyengir kaku, lalu mendorong tubuh Biru dan segera beranjak dari playhouse dan mengambil langkah cepat untuk duduk di kursi taman. Jantungnya berdebar tak beraturan, Jingga belum siap, meski sebelumnya mereka pernah berciuman saat Jingga tertidur di taman belakang sekolah waktu itu.
Biru mendesah, memandang sejenak punggung Jingga yang perlahan menjauh, lalu beringsut menyusulnya.
********
Hari semakin sore, waktu Biru dan Jingga untuk bersama semakin menyempit. Keduanya duduk bersebelahan di kursi taman, menunggu matahari kembali ke peraduannya.
Mereka sama-sama terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing, dan membiarkan suara hembusan angin sore mengisi keheningan di antara mereka.
Rasa sedih yang membuncah menyelimuti hati keduanya, mengingat mereka akan berpisah jauh setelah satu tahun bersama. Demi apapun, Biru dan Jingga berharap agar waktu berjalan selambat-lambatnya saat ini.
Jingga meraih tangan Biru dan menggenggamnya erat, lalu kepalanya dia sandarkan di bahu Biru.
“Jii…” Panggil Biru lembut.
Jingga mendongakkan kepalanya untuk mempertemukan pandangan dengan Biru. Keduanya bertatapan cukup lama, hingga akhirnya Biru mendekatkan wajahnya dan tangannya terulur meraih wajah Jingga dan menciumnya.
Bibir mereka menyatu diiringi dengan Langit yang mulai berubah warna menjadi jingga, kemudian gelap.
Biru menciumnya denga segenap rasa cinta dan sayang, menyusup dan menyapu perlahan bibir Jingga yang lembab.
Gadis iti menyambutnya dengan senang hati dengan membuka mulutnya, itu aturan terakhir dalam list mereka.
Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, seolah mereka tidak ingin saling melepaskan, tidak siap untuk hal yang harus terjadi setelah ini. Perpisahan.
“Jangan nangis, Jingga.” Biru mengahapus air mata yang mengalir di pipi Jingga sesaat setelah ciuman mereka berakhir.
“Ini cuma sementara. Aku janji untuk kembali secepat mungkin..” Lanjutnya untuk kemudian merengkuh tubuh Jingga, memeluknya erat.
Hatinya sungguh terpukul mendengar isak tangis Jingga dalam pelukannya. Itu menyakitkan.
“Atau kamu mau aku tetap tinggal di sini? Aku udah pernah bilang kalau aku nggak akan keberatan.” Tawar Biru tidak tega mendengar Jingga yang semakin teriisak.
Gadis itu menggeleng, lalu menarik diri untuk mempertemukan pandangannya dengan Biru.
“I’ll be waiting.” Lirih Jingga pelan. Biru tersenyum, lalu membenamkan ciumannya di kening Jingga cukup lama.
********
To be continued. . . .
__ADS_1