
*********
“Kamu dari kamar mandi atau toko buku, Ji?” Tanya Langit heran karena Jingga datang dengan sebuah buku di tangannya.
“Nggak tahu, nih, punya siapa.”
Langit lantas menyambar buku dari tangan Jingga begitu gadis itu duduk di sebelahnya. “Kok kamu bawa? Nanti orangnya nyariin, lho.”
“Tadinya aku kira punya cewek itu.” Jingga lantas menunjuk gadis tadi yang duduk jauh di tempat paling ujung, tepatnya di seberang tempat duduk mereka. Namun walaupun jauh, mata Jingga masih dapat menjangkaunya. Dia kemudian menceritakan pertemuannya dengan gadis itu hingga buku tersebut bisa ada di tangannya.
Langit menoleh mengikuti arah pandangan Jingga, matanya memicing agar bisa melihat gadis itu dengan jelas. Tapi, percuma saja, karena yang terlihat hanya punggungnya.
“Nggak mungkin, lah. Lagian, buat apa juga orang dewasa bawa buku cerita anak-anak?” Ujar Langit kemudian.
“Kamu, kan, juga punya koleksi buku anak-anak, Lang.” Senja mengingatkan.
Langit memang banyak membaca buku cerita anak-anak karena menyesuaikan dengan pekerjaannya yang berhubungan dengan anak-anak.
“Iya juga, sih.” Langit lantas terkekeh. Jingga mendengus melihatnya, bisa-bisanya mencibir orang, tapi dia sendiri lupa diri.
“Elsa?” Gumam Langit saat membaca tulisan yang tertera di sudut kanan atas cover buku cerita bergambar tersebut.
“Mungkin nama cewek itu Elsa. Cocok banget, sih, karena dia punya tatapaan dingin kayak es, mana agak jutek lagi.” Ujar Jingga tanpa mengalihkan perhatiannya dari sup yang sedang dia makan.
“Cewek itu?” Langit menoleh sekilas ke arah gadis yang dimaksud Jingga tadi.
“Hmm.” Jingga menyedok supnya kembali tanpa menoleh ke arah Langit.
“Ohh, iya. Di rumah sakit, aku juga pernah ketemu sama cewek cantik yang tatapan kayak gitu. Sebelas dua belas sama kulkas sepuluh pintu suami kamu, Ji.” Seketika Langit teringat gadis yang dia kira akan membantunya saat terjatuh karena Jingga menabraknya waktu itu.
“Ish, apaan, sih, enak aja Kak Biru dikatain kulkas.” Dengus Jingga tak terima. Tapi Langit tak mengindahkannya.
“Terus, kalian, tahu, nggak? Dia cewek pertama yang nggak mau nerima uluran tangan aku. Ngeselin, nggak, sih? Dia nggak normal atau apa?” Langit masih tak terima dengan sikap gadis itu kemarin. Sebab, yang Langit tahu, semua gadis di sekitarnya pasti akan senang saat dia menawarkan uluran tangannya.
“Itu berarti dia normal, matanya nggak buta kayak cewek kebanyakan yang mati-matian ngejar kamu.” Seru Jingga meledek setelah sebelumnya dia hampir tersedak saat mendengar Langit menceritakan hal ini. Jingga jadi penasaran, siapa gadis yang tidak tertarik sama sekali pada sahabatnya itu?
“Wahh, kayaknya si jomblo dari lahir udah mulai normal. Tumben, tertarik sama cewek?” Senja menyahuti sesaat setelah dia menghentikan kegiatannya memakan crepes.
“Normal? Tumben?” Langit menautkan alisnya tak mengerti. Senja mengangguk untuk kemudian kembali menyahuti.
“Kakak kira, kamu nggak suka sama cewek selama ini.” Karena yang Senja ingat, dia tak pernah mendengar Langit bercerita tentang seorang gadis dalam hidupnya.
“Enak aja. Aku pernah suka seseorang, kok.” Bela Langit tak terima Senja mengira dirinya tidak normal.
“Oh, ya?” Senja menatap Langit tak percaya.
“Terserah, kalau Kakak nggak percaya.” Langit memutar bola matanya malas, lalu menyesap minumannya.
“Siapa? Kakak nggak pernah denger kamu cerita, tuh.” Tanya Senja penasaran, namun tatapannya seolah masih tak percaya.
“Dia J–”
“Ehem.” Jingga buru-buru berdehem sebelum Langit keceplosan. Rasanya, akan sangat tidak nyaman jika saja Kak Senja atau orang lain tahu.
“Dia . . ., teman, teman. . . .” Langit tersadar. Sejenak dia memutar otak untuk mencari alasan, karena Senja masih menunggu jawaban darinya. “Teman sesama dokter di rumah sakit tempat aku kerja sekarang.”
“Terus, kenapa kamu berhenti? Dia nolak kamu?” Senja kembali bertanya.
“Hmm.” Langit mengangguk pelan.
Senja terperangah dengan delikan sebal. “Hiish, siapa cewek bodoh yang udah berani-beraninya nolak adik Kakak yang ganteng ini?”
Langit menelan ludah. Sementara Jingga yang mendengarnya hampir saja tersedak sup yang baru saja dia masukkan ke dalam mulut.
“Heii, nggak gitu, Kak–” Langit yang tiba-tiba merasa kikuk, lantas menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Kamu itu sukses, ganteng, baik hati, tapi cewek itu malah nolak kamu? Tck, kalau dia bukan bodoh, apa namanya? Idiot?” Senja mengumpat kesal. Jingga yang mendengar itu hanya menundukkan kepala, pura-pura fokus dengan supnya.
“Itu karena dia istri orang, Kak.” Sahut Langit sekenanya agar kakaknya itu berhenti berceloteh. Tapi, tidak salah juga. Sekarang Jingga memang istri orang, kan?
Jingga kali ini benar-benar tersedak, dia ingin tertawa mendengar pernyataan Langit yang konyol. Namun, lain halnya dengan Senja yang kembali dibuat terperangah tak percaya.
“Anak ini.” Senja menggeram, perempuan berperut buncit itu lantas menyambar dompet yang dia letakkan di sebelahnya, kemudian berdiri dan memukuli Langit dengan dompet tersebut.
“Dasar bodoh.”
“Berandalan.”
__ADS_1
“Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu, HAH?” Senja terus memukuli adiknya dengan gemas sekaligus kesal.
“Kayak nggak ada cewek lain aja.” Langit berusaha menahan lengan Senja, namun tenaga ibu hamil itu rupanya lebih kuat.
“Kak, udah, dong.” Langit meronta.
Jingga yang melihatnya hanya mendesis miris. Lagipula, kenapa Langit harus memberikan alasan yang konyol seperti itu?
“Kamu mau jadi perusak rumah tangga orang?” Lalu satu pukulan terakhir dengan keras mendarat di lengan bahu Langit, sebelum kemudian Senja kembali duduk karena napasnya mulai terengah-engah.
“Ya udah sih, kan itu cuma masa lalu.” Sahut Langit sebal. “Lagian, yaa. Kalau kita suka sama seseorang itu, hati nggak bisa milih.”
“Ya tapi bukan istri orang juga.” Senja masih tak terima, tangannya tak bisa diam kembali memukul lengan bahu Langit sekali lagi.
“Tetap nggak bisa pilih-pilih. Mau dia cantik atau enggak, gadis atau janda, cewek beristri, lebih tua atau muda, kalau udah suka, ya suka aja.” Balas Langit santai hingga membuat Senja hampir melayangkan dompetnya kembali.
Jingga yang menyaksikan itu hanya bisa menahan tawa sembari geleng-geleng kepala. Sudah tahu Senja kesal padanya, Langit masih saja mengatakan hal-hal yang konyol.
********
Jingga terus menggonta-ganti saluran televisi dengan kesal sembari menghembuskan napas kasar. Sesekali dia menghentakkan kakinya ke lantai saking kesalnya.
“Terus kapan pulang?” Jingga uring-uringan sendiri sesaat setelah dia membaca pesan masuk dari Biru yang mengatakan tidak bisa pulang hari ini karena urusannya belum selesai.
Tanpa berniat membalas pesan dari suaminya itu, Jingga lantas melempar keras ponselnya ke sofa di sebelahnya.
Jingga merengut, sebelum berangkat ke Surabaya Biru mengatakan hanya akan menghabiskan waktu selama empat hari saja di sana, paling lama satu minggu. Padahal, nyatanya malah sudah lebih dari sepuluh hari laki-laki itu tidak pulang.
Biru mengatakan dia dan Papa Rendi harus menyelesaikan urusannya dengan beberapa korban kecelakaan sebagai bentuk tanggung jawab dari pemilik rumah sakit.
Selain itu, mereka juga harus ikut menyelidiki penyebab terjadinya kecelakaan proyek, yang ternyata disebabkan karena korupsi oleh pengembang. Rupanya, pihak pengembang tidak membangun rumah sakit itu sebagaimana mestinya hingga menyebabkan bangunan roboh dan menelan banyak korban jiwa.
Jingga mengatur napas untuk menenangkan gemuruh di hatinya. Dia sangat merindukan laki-laki itu, tapi apa yang bisa dilakukannya? Dia tidak boleh bersikap kekanak-kanakkan, dia harus mengerti posisi dan tanggung jawab suaminya yang merupakan anak dari pemilik rumah sakit.
Tapi tetap saja, walaupun dia sudah mencoba mengerti, rasa rindu yang membuncah di hatinya tidak bisa ditutupi.
Jingga tidak bisa menahan tangisnya lagi, air matanya mengalir juga. Selalu seperti ini, setiap hari, dan sendirian. Dia tidak pernah menunjukannya pada Biru, karena tak ingin membuat suaminya menjadi tidak tenang.
Sebenarnya Jingga heran sendiri, empat hari belakangan dirinya menjadi cengeng seperti ini saat merindukan Biru. Padahal, sebelumnya baik-baik saja.
Sejurus kemudian, suara bel apartemen menghentikan tangisnya. Terhitung sudah dua hari ini Jingga tinggal di apartemen yang dia tempati bersama Biru. Dia memberikan alasan yang dibuat-buat hingga Ayah mengizinkannya untuk tinggal sendiri, meski lelaki paruh baya itu memberinya izin dengan berat hati.
Jingga yang malas memasak makan malam karena terlalu lelah bekerja, memutuskan untuk memesan makanan melalui aplikasi.
Kini sushi roll matang tersaji di atas meja makan. Jingga yang tiba-tiba menjadi sensitif dengan ikan mentah membuatnya harus memesan sushi jenis ini.
“Aww, sakit banget.” Jingga memegangi kepalanya yang terasa berat, lantas dia memeriksa suhu tubuhnya sendiri menggunakan telapak tangan.
“Kayaknya agak demam.” Gumamnya kemudian, sebelum akhirnya memilih untuk menyudahi makan malamnya. Padahal, dia baru memakan dua potong sushi saja.
Setelah membereskan meja makan dan menggosok giginya di kamar mandi, Jingga langsung merebahkan diri di atas tempat tidur tanpa meminum obat penurun panas terlebih dahulu. Karena dia berpikir bahwa hanya dengan tidur, maka demamnya akan sembuh. Toh, demamnya tidak parah.
********
Keesokan harinya sekitar pukul setengah lima subuh, Biru pulang dan berdiri di depan pintu apartemen. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum yang mengembang. Dia tidak sabar untuk memberi Jingga kejutan kedatangannya.
Tadi malam, Biru sengaja mengatakan pada istrinya bahwa dia tidak bisa pulang dengan alasan masih ada beberapa hal yang harus diurusnya karena dia ingin memberi kejutan pada Jingga.
Telunjuk Biru lantas menekan passcode pintu apartemennya tak sabaran, lalu dengan hati-hati dia melangkahkan kakinya ke dalam. Tampak ruang tengah masih gelap, sepertinya istrinya itu masih tidur.
Biru tak sabar ingin melihat Jingga yang sudah sangat dirindukannya selama dua belas hari ini.
Dengan perlahan, dia membuka pintu kamar, tapi Biru sedikit tersentak saat cahaya lampu menyeruak begitu dia membuka pintu. Rupanya, Jingga tidak menyalakan lampu tidur dan membiarkan dirinya tidur dalam keadaan terang seperti ini.
Biru melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, sudut bibirnya tertarik tatkala melihat Jingga yang masih tertidur lelap.
“Sayang, aku pulang.” Bisik Biru tepat di telinga Jingga sesaat setelah dia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Namun, gadis itu tak terganggu sama sekali. Jingga tetap tidur dalam posisi tenang.
Cukup lama Biru memandangi wajah tidur istrinya yang sangat damai. Wajah yang selalu memenuhi isi kepalanya, yang selalu ingin dia lihat setiap saat. Biru tersenyum, entah sihir apa yang digunakan Jingga hingga membuatnya tergila-gila padanya seperti ini.
“Aku kangen banget sama kamu.” Biru kembali berbisik setelah dia mendaratkan satu kecupan lembut di pelipis Jingga.
Melihat Jingga yang tak kunjung bangun, Biru lantas beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih.
Setelah selesai membersihkan dirinya di kamar mandi, Biru keluar dengan tubuh yang terasa lebih segar, meski guratan lelah masih terlihat di wajahnya.
Biru melihat Jingga masih tertidur. Dia mengerutkan keningnya heran, biasanya di jam ini Jingga sudah bangun. Dia berpikir, mungkin istrinya kelelahan bekerja hingga tidur selelap ini.
__ADS_1
Ada niatan untuk membangunkannya, tapi rasanya dia tak tega. Akhirnya Biru memilih untuk tetap duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi wajah cantik istrinya dengan jantung yang berdebar.
Selalu seperti ini. Jingga selalu bisa membuatnya jatuh cinta setiap saat.
Tak lama kemudian, terlihat Jingga mulai mengerjap dan menggeliat kecil. Matanya memicing saat menyadari sosok yang sangat dia rindukan ada di hadapannya, sedang memandanginya dengan senyum hangat yang mengembang di wajahnya.
Jingga kemudian memejamkan matanya, hanya untuk memastikan dia sedang bermimpi atau tidak. Namun, saat kembali membuka mata, Biru masih ada, dan dia sadar bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
“Kakak. . . .” Panggil Jingga lirih, dia merasakan tenggorokannya sangat kering hingga sedikit kesulitan mengeluarkan suaranya.
“Pagi, Sayang.” Biru mendekatkan wajahnya pada wajah Jingga, lalu mengecup bibirnya sekilas.
Jingga melongo sedikit terkejut, namun sedetik kemudian sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.
“Kamu ngerjain aku, ya?” Jingga meraih tangan Biru untuk digenggamnya. Wajahnya merengut lucu, membuat Biru yang melihatnya tersenyum gemas.
“Biar surprise.” Biru kemudian mengecup punggung tangan Jingga yang sedang menggenggam tangannya.
“Hiish, ngeselin.” Dengus Jingga sambil mengerucutkan bibirnya. Biru yang gemas melihatnya, lantas kembali mendaratkan satu kecupan singkat di bibir istrinya yang sedikit kering dan pucat itu.
“Are you okay?” Tanya Biru saat menyadari wajah pucat Jingga, begitupula dengan suaranya yang terdengar parau.
Jingga menggelengkan kepalanya lemah. “Cuma demam, tubuh aku greges-greges, sakit semua.”
Biru sontak merasa khawatir, dia lantas memeriksa suhu tubuh Jingga menggunakan telapak tangannya. Memang sedikit panas. “Dari kapan? Udah lama? Kok nggak bilang-bilang sama aku?”
Jingga menggeleng, lalu berucap lemah. “Cuma dari tadi malam, kok.”
“Harusnya kamu bilang sama aku kalau sakit. Aku bisa pulang dari kemarin.” Omel Biru khawatir.
“Ya ampun aku demam dikit doang, Kak, kamu tenang aja.” Sahut Jingga tersenyum lemah.
Biru mendengus, kemudian meminta Jingga untuk kembali tidur dan tidak perlu masuk kerja. Jinggapun menuruti karena merasa tubuhnya tidak cukup sanggup untuk dibawa bekerja, terlebih jika harus berdiri selama berjam-jam di ruang bedah.
“Ya udah, aku buatin bubur dulu buat kamu.” Biru beranjak dari duduknya untuk pergi ke dapur. Tak lupa dia mendaratkan satu kecupan di kening Jingga yang terasa panas sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
********
Sudah lebih dari satu jam Biru berkutat di dapur, sudah tiga kali pula dia gagal membuat buburnya.
Percobaan pertama terlalu encer, yang kedua malah gosong, dan yang terakhir terlalu asin hingga lebih cocok disebut bubur garam. Kalau seperti ini, bukannya membuat Jingga lebih baik, tapi malah membuatnya keracunan.
Biru memang pandai memasak hidangan western, terutama untuk menu sarapan dan makan malam. Tapi membuat bubur, ini adalah yang pertama baginya. Sebelumnya, dia berpikir membuat bubur itu mudah karena bahan dasarnya hanya air dan beras, tapi ternyata di luar dugaannya.
“Bego.” Biru menepuk jidat saat dia tersadar bahwa ada kedai bubur yang sangat dekat dengan apartemennya.
“Kenapa nggak kepikiran buat beli aja, sih?” Biru merutuki dirinya sendiri. Kalau saja dia sadar sejak tadi, mungkin tak akan mengotori dapur dan buang-buang beras seperti ini.
Membersihkan semua kekacauan di dapur, Biru kemudian berlari keluar dari apartemen untuk pergi ke kedai bubur. Tidak perlu menggunakan mobil, jaraknya hanya sekitar seratus meter dari apartemennya hingga bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Tak sampai tiga puluh menit, Biru kembali ke apartemen dengan dua bungkus bubur di tangannya.
“Lho, kok udah bangun?” Tanya Biru saat dia melihat Jingga tengah duduk begitu menghampiri meja makan.
“Aku haus.” Jawab Jingga seraya meneguk sisa air dalam gelasnya yang sempat terhenti dia minum.
“Harusnya tadi kamu panggil aku kalau haus, nggak usah bangun.” Ujar Biru khawatir. Laki-laki itu kemudian mengambil dua mangkuk untuk menyiapkan buburnya.
Jingga memperhatikan Biru yang bergerak lihai di dapur. “Aku udah panggil kamu, tapi nggak nyaut-nyaut. Pas aku ke dapur, ehh, kamunya nggak ada.”
“Ohh, iya. Aku lupa, tadi keluar buat beli bubur.” Biru terkekeh geli, lalu menyodorkan semangkuk bubur yang sudah dia siapkan pada Jingga.
“Katanya mau bikin sendiri?” Tanya Jingga heran, mengingat tadi Biru mengatakan akan memasak bubur untuknya.
“Berasnya udah ada kutunya.” Dan Biru terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa dia gagal membuat bubur untuk Jingga.
“Apa iya?” Jingga menautkan alisnya antara percaya dan tak percaya. “Masa, sih? Kan tempatnya aman?”
“Iya. Mungkin karena udah lama ditinggal, terus nggak dimasak juga. Selama sepuluh hari, kan, kamu tinggal di rumah Ayah.” Biru memberikan alasan yang cukup masuk akal, Jingga pun manggut-manggut mengerti dan tidak membahasnya lagi.
“Ya udah, kamu makan buburnya. Sini, aku pakein seledrinya dulu.” Biru hendak menaburkan seledri yang tadi lupa dia tambahkan saat meletakkan toping daging ayam suwir di atas bubur milik Jingga.
“Nggak usah, aku nggak tahan baunya.” Jingga refleks menjauhkan mangkuk buburnya dan meminta Biru untuk menyingkirkan seledri tersebut.
Laki-laki itu merengut heran, namun tak terlalu mempermasalahkannya, dan segera membuang toping seledri itu ke tempat sampah.
********
__ADS_1
To be continued . . . .