
********
Ini adalah kali kedua Biru dan Jingga terpergok melakukan hal yang kurang pantas di rumah sakit. Tidak pernah terbersit dalam pikiran Jingga akan mengalami kejadian memalukan seperti ini. Pasalnya, bukan hanya Om Rendi yang melihat, tapi ada orang lain, Giselle.
Jika dulu Om Rendi membiarkannya, tapi sekarang tidak demikian. Saat ini mereka di bawa ke ruang kerja lelaki paruh baya itu untuk siap diberi teguran.
Biru dan Jingga duduk bersebrangan dengan Om Rendi di hadapan mereka. Lelaki paruh baya itu menyoroti mereka dengan tatapan tajam seolah siap menelan mereka bulat-bulat. Demi apapun, Biru dan Jingga akan lebih suka uji nyali di ruang jenazah yang ada di rumah sakit itu, dibandingkan duduk berhadapan di ruang kerja Om Rendi yang terasa lebih mencekam.
Kini Biru dan Jingga hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil sesekali melihat ke arah Om Rendi dengan takut. Jingga memilin-milin jemari tangannya yang mulai berkeringat karena terlalu takut dengan tatapan Om Rendi.
Di samping takut, Jingga juga merasa kesal. Ingin sekali dia memukul dan meneriaki Biru yang sudah membawanya ke dalam situasi memalukan ini. Sepertinya Jingga benar-benar harus mencuci otak Biru setelah keluar dari sini.
“Tidak punya etika.” Suara Om Rendi menggema di ruangannya, memecah keheningan yang terjadi beberapa saat lalu. Namun hal itu tidak mengurangi suasana mencekam di dalam sana.
Lelaki tua itu menghela napas dalam guna mencari kesabaran dalam menghadapi dua anak muda yang berbeda zaman dengannya itu. Baru saja satu minggu yang lalu dia memukuli Biru dengan tongkat golf. Tapi kali ini sang anak sudah mengulangi kesalahannya saja.
“Bagaimana bisa kalian seorang dokter melakukan hal yang kurang pantas di tempat umum?” Lanjutnya dengan sindiran keras. Jingga yang mendengarnya hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, dia bingung harus menjawab apa.
“Bi . . . .”
Biru mendongakkan kepalanya perlahan saat mendengar namanya dipanggil.
“Apa gelar Professor di depan nama kamu itu cuma embel-embel?” Lelaki paruh baya itu tampak menghela napas dalam, berusaha menahan kegeramannya. Masih tak habis pikir dengan anak dan calon menantunya yang dia anggap sangat lurus, tapi ternyata di luar dugaannya.
“Papa nggak nyangka kalian melupakan adat ketimuran kita. Apa ini yang kalian dapat selama bersekolah di luar negeri, iya?”
Kali ini Jingga ikut mendongakkan kepalanya, dia merasa tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan Om Rendi. Tapi tetap saja dia tak bisa protes, Om Rendi hanya akan percaya dengan apa yang dilihatnya. Lagipula, bagaimana cara Jingga menjelaskannya? Mengingat posisi mereka saat di lift tadi, Biru dan Jingga sudah benar-benar tersudutkan sekarang.
“Bagaimana kalau orang lain yang melihatnya? Reputasi kalian jelas akan menjadi jelek.”
Biru dan Jingga masih belum mampu mengeluarkan suaranya, seolah mulut mereka menjadi bisu seketika.
“Maaf, Pa. Kami nggak akan ngelakuin itu lagi.” Dengan takut-takut, Biru angkat bicara.
“Kami? Cuma kamu yang ngelakuin itu, bukan aku.” Jingga mendelik kesal ke arah Biru sembari menggerutu dalam hatinya.
“Jangan sampai perut Jingga sudah membuncit di hari pernikahan nanti.” Celetuk Om Rendi, mengingat hari pernikahan mereka hanya kurang dari tiga bulan lagi.
“Yaa?” Sahut Biru dan Jingga bersamaan dengan mata yang membelalak sempurna. Jingga refleks memegangi perutnya. “Amit-amit.”
“Pa, kami belum ngelakuin sampai sejauh itu.” Sontak ucapan Biru membuat semua mata mengalihkan pandangan ke arahnya. Termasuk Giselle yang dari tadi berdiri di samping sofa di dekat Om Rendi.
“Belum?” Jingga semakin dibuat geram dengan kalimat yang keluar dari mulut Biru. Ingin sekali dia memukul mulut Biru saat ini juga. Seharusnya cowok itu tidak berkata apapun sekarang.
“Belum? Jadi kamu emang udah niat mau ngelakuin itu? Dasar berandal, Papa nyekolahin kamu jauh-jauh ke luar negeri bukan untuk ini. Papa jadi curiga kamu beli gelar Professor di sana.” Om Rendi lantas dengan geram berdiri menghampiri Biru, lalu memukul lengannya dengan buku tebal yang ada di atas meja.
“Maksud aku, kami nggak mungkin ngelakuin itu sebelum kami nikah, Pa.” Biru yang tersadar salah ucap segera memperbaiki kalimatnya.
“Udah, Pa.” Biru berusaha menahan buku di tangan sang ayah agar berhenti memukulinya.
“Pukul aja dia. Pukul terus sampai mati.” Jingga menggeram dalam hati seraya menatap puas pemandangan yang terjadi di depannya.
“Giselle.” Panggil Om Rendi setelah puas memukuli anaknya dan kembali duduk.
“I– iya, Pak.” Sahut Giselle canggung dengan situasi yang dilihatnya saat ini.
“Katakan pada bagian keuangan untuk menyumbangkan seluruh gaji mereka selama satu bulan kepada pasien yang kurang mampu.” Perintah Om Rendi tegas yang membuat semua orang terperangah termasuk Giselle.
“Pa.”
“Om.”
Protes Biru dan Jinggga bersamaan. Tapi lelaki itu tak mengindahkannya.
“Papa nggak mau mendengar alasan apapun lagi.”
Pada akhirnya, Biru dan Jingga hanya bisa menghembuskan napas pasrah, Om Rendi bukanlah orang yang mudah dibantah.
“Ish.” Dengus Jingga dalam hati. Dia memang suka beramal, tapi tidak harus beramal dengan semua gajinya juga. Rasanya dia sedikit tidak ikhlas. Tapi mau bagaimana lagi?
“Aku bener-bener minta maaf, Om. Aku pastiin hal ini nggak akan terulang lagi.” Mau tak mau Jingga angkat bicara, dia benar-benar merasa malu.
Lelaki tua itu mengangguk dengan wajah datar. “Hmm. Kalau sampai Om melihat hal ini lagi, Om pastikan kamu dan Biru hanya akan menjadi sukarelawan di rumah sakit ini seumur hidup.” Ancamnya kemudian seraya menghembuskan napas panjang, seolah membuang kegeraman pada dua anak muda di hadapannya itu.
“Sudahlah, lanjutkan pekerjaan kalian.” Ucap Om Rendi berusaha mengakhiri pembicaraan.
Biru mendengus kesal dengan keputusan sang ayah yang tidak akan memberi gajinya dan Jingga satu bulan ini. Bukankah itu keterlaluan?
“Sekali lagi, aku minta maaf, Om.” Ucap Jingga sekali lagi sebelum dia beranjak dari duduknya.
“Jaga diri kamu baik-baik, Ji.”
Om Rendi percaya Jingga seperti itu karena ulah anaknya yang sudah menjadi berandalan. Ternyata dia salah selama ini sudah menganggap Biru anak yang baik. Ternyata sudah salah pergaulan.
__ADS_1
“Iya, Om.” Jawab Jingga mencicit, sebelum akhirnya dia dan Biru pergi dari ruangan tersebut.
********
“Ji, kamu bebas nggak sekarang?” Tanya Biru setelah beberapa saat mereka hanya diam sambil berjalan beriringan menuju lift.
“Hmm.” Jingga menyahuti dengan malas.
“Kamu marah?”
“Nggak, kesel doang.” Jawab Jingga tanpa melihat ke arah Biru dan mempercepat langkahnya, cowok itu dengan segera mengimbangi.
“Karena Papa gangguin kita ciuman?”
Mendengar pernyataan nyeleneh Biru, Jingga menghentikan langkahnya, dia menatap kesal Biru dengan wajah memerah menahan emosi.
“Kamu tuh, ya, iih.” Kesal Jingga menendang tulang kering Biru, menyalurkan kekesalannya di sana. Jingga benar-benar tak menegerti dengan isi kepala Biru saat ini.
“Aduh. Kok malah nendang, sih, Ji. . . .” Cowok itu meringis ngilu sambil membungkuk untuk mengusap kakinya.
“Aku malu tahu, nggak, sih, Kak.” Jerit Jingga kesal sembari menghentakan kakinya dan berlalu meninggalkan Biru yang masih meringis kesakitan. Dia yakin jika sekarang tulang keringnya pasti sudah membiru di balik celana panjangnya.
“Tunggu . . . .” Biru menahan pintu lift yang hendak tertutup, lalu masuk ke dalamnya.
“Iya-iya, aku minta maaf soal itu.” Biru meraih pergelangan tangan Jingga saat lift mulai berjalan.
“Aku malu banget, Kak.” Ucap Jingga, suaranya kian tercekat seiring dengan air mata yang mulai menggenang. Dia memalingkan wajahnya dari pandangan Biru.
“Iya, maaf. Aku janji nggak akan ngelakuin itu lagi–” Biru membalikan tubuh Jingga agar menghadapnya, lalu mengangkat dua jarinya membentuk tanda V. “Di sini.”
Kalimat Terakhir Biru membuat tangan Jingga tak tahan untuk memukul dada bidang cowok itu.
“Ngeselin.” Ucap kesal Jingga seraya mengusap air matanya yang sempat terjatuh dengan punggung tangannya. Bisa-bisanya Biru berkata seperti itu di saat dirinya sedang kesal seperti ini.
“Kita nggak akan ngelakuin itu lagi dimanapun.” Gadis cantik itu menekuk wajahnya.
Biru menarik kedua sudut bibirnya seolah mencibir. “Ujung-ujungnya kamu cuma bisa diem pas aku cium.”
Jingga mendelik selebar-lebarnya ke arah Biru. Tak ingin menyahuti ucapannya, Jingga memilih untuk diam sambil berusaha untuk meredakan kekesalan di hatinya dengan metode inhale dan exhale.
“Ohh, iya. Ayo jenguk bayinya Bisma. Tadi pagi dia kasih tahu aku kalau istrinya udah ngelahirin.” Ajak Biru setelah beberapa saat tak ada percakapan di antara mereka.
Sebenarnya tadi dia hendak menjenguk istri Bisma, tapi dia malah bertemu dengan Jingga di lift, hingga kejadian tak terduga itupun terjadi.
Jingga nampak berpikir. Menimang-nimang ajakan Biru, sebenarnya dia juga sudah tahu dari Dokter Nadine saat mengobrol dengannya tadi pagi. Jingga berniat akan menjenguk istri Bisma esok hari karena belum membeli hadiah, rasanya tidak enak datang dengan tangan kosong.
“Kenapa? Kamu bilang tadi nggak sibuk.” Tanya Biru lagi.
“Aku belum beli hampers. Atau seenggaknya beli buket bunga dulu, tapi kayaknya nggak bakal keburu kalau sekarang.” Jawab Jingga melirik jam tangan pintar di pergelangan tangannya, mengingat waktu senggangnya hanya sebentar.
“Itu, kan, bisa nyusul.” Sahut Biru. Jingga kembali terdiam berpikir. “Lagian kamu emang punya uang buat beli itu?” Imbuhnya, seolah mengingatkan Jingga bahwa mereka baru saja kehilangan gajinya bulan ini.
Jingga mendengus. “Ish, gara-gara kamu, sih.”
Mendengar itu biru hanya tersenyum geli. Pada akhirnya, Jingga memutuskan menerima ajakan Biru untuk menjenguk bayi dan istri Bisma yang kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan khusus ibu dan anak.
********
Sesampainya di sana, Biru dan Jingga mendapati teman-temannya sudah lebih dulu datang, termasuk Langit dan Luna.
Sejak pertunangan Biru dan Jingga berlangsung, baik Langit maupun Jingga menjadi lebih akrab dengan teman-teman Biru. Mereka bahkan tak jarang nongkrong bersama.
Terlihat bayi perempuan milik Bisma dan istrinya tengah digendong Langit. Cowok itu nampak berbinar senang melihat bayi merah dalam gendongannya.
“Clara . . .” Jingga menghampiri istri Bisma yang bernama Clara itu seraya memberi pelukan hangat untuk menyelamati kelahiran anaknya.
“Happy for you both. Bring on the dirty nappies and sleepless nights!” Ucap Jingga setelah mengurai pelukannya sambil menatap Clara dan Bisma bergantian. Gadis itu lalu meringis membayangkan harus mengganti popok bayi setiap saat dan tangisan bayi yang akan mengganggu tidur orang tuanya setiap malam.
Ucapannya tersebut sontak mengundang tawa geli semua orang yang ada di sana terutama Clara dan Bisma.
“Jangan ngeledek. Ntar kamu sama Biru juga bakalan nyusul.” Ucap Bisma mendengus geli. Jingga hanya mengedik.
“Selamat, Bis. Semoga anaknya nggak mirip sama elo.” Biru ikut memberi selamat.
Bisma mendengus kesal. Ini adalah ucapan yang sama dengan yang diberikan Albi dan Bian sebelumnya. Tampak ketiga temannya itu kompak menahan tawa sekarang.
“Anak gue ya mirip gue, lah. Masa mirip Langit.” Sungut Bisma kesal seraya melirik bayinya yang ada dalam gendongan Langit. Sementara Biru hanya terkekeh geli mendengarnya. Meledek teman memang hal yang menyenangkan.
“Ehh, aku boleh gendong, nggak, Ra?” Tanya Jingga meminta izin, merasa gemas melihat bayi di gendongan Langit yang nampak tenang itu. Clara hanya mengangguk diiringi senyuman lembut tanda mengizinkan.
Jingga berseru senang. Tapi belum sempat dia menyentuh bayi itu, tiba-tiba Langit malah memukul tangannya dan segera menjauhkan bayi dari jangkauan gadis itu.
“Aku nggak akan membiarkan tangan kotor kamu nyentuh dia.” Ujar Langit menatap galak Jingga seperti induk ayam yang sedang melindungi anaknya.
__ADS_1
“Padahal langsung aja kasih tahu aku buat cuci tangan dulu. Kenapa pake perumpamaan segala, sih?” Sahut Jingga bersungut-sungut, lalu dengan cepat bergerak ke kamar mandi.
Hanya beberapa menit, gadis itu sudah kembali.
“Aku udah steril.” Jingga berseru senang dan menengadahkan tangannya untuk menerima bayi dari gendongan Langit, setelah sebelumnya dia mencuci tangan di kamar mandi.
“Welcome to the world, little girl! So thrilled that you’re here.” Ucap Jingga dengan suara imut, satu tangannya terangkat mengelus lembut pipi bayi mungil itu. Sesekali dia menciuminya dengan begitu gemas.
“Hey, future Mom. Kamu nggak boleh ngelakuin ini.” Biru menahan kening Jingga untuk menghentikan aksinya yang menciumi bayi baru lahir itu. Bukan tanpa tujuan, Biru hanya ingin mengingatkan Jingga bahwa menciumi bayi lahir itu tidak boleh dilakukan.
Luna yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa menggeram tertahan. Interaksi Biru dan Jingga yang tampak terlalu dekat berhasil membuat hatinya memanas. Sementara yang lain melihat interaksi mereka gemas. Biru dan Jingga terlihat sangat cocok.
“Future Mom?” Geram Luna dalam hati seraya melirik Jingga dengan tatapan jengkel. Ternyata hilang ingatan tak membuat Biru memperlakukan Jingga berbeda. Cowok itu masih saja memperlakukan Jingga dengan spesial seperti dulu.
“Kenapa?” Tanya Jingga dengan tatapan protes. Biru hanya memutar bola matanya malas, Jingga seorang dokter, tapi kenapa dia tidak tahu larangan ini?
“Kamu Dokter lulusan nyogok, ya?” Sahut Biru gemas, gadis itu hanya mendelik tak terima.
“Bayi baru lahir itu masih rentan terserang penyakit, daya tahan tubuhnya belum matang. Jadi kamu nggak boleh main cium-cium dia gitu aja. Bibir orang dewasa bisa jadi ada virusnya, apalagi yang cium kamu, ihh kuman semua.” Langit menimpali, ikut merasa gemas karena Jingga melupakan alasan mendasar larangan mencium bayi baru lahir.
“Ya kalian kalau mau ingetin aku, ya ingetin aja. Nggak usah pake ngatain aku segala.” Jingga menatap Biru dan Langit bergantian dengan pandangan sebal.
“Langit bener, Ji.” Meskipun Biru tidak suka Langit, tapi tidak dengan penuturannya barusan. “Bisa aja di bibir kamu itu lagi banyak bakteri atau virusnya.” Tambah Biru ikut meledek.
Jingga mendelik sewot. “Itu berarti virusnya dari kamu.”
“Kok aku?” Tanya Biru tak terima.
“Kamu yang transfer.” Sahut Jingga kesal.
“Jadi maksud kamu bibir aku ada bakteri sama virusnya, gitu?” Biru mulai paham.
“Kamu yang ngomong, ya.”
Mereka sepertinya lupa posisinya ada di mana saat itu. Semua orang di sana menatap mereka dengan tatapan penuh arti.
“Woy, woy, woy. Kalian lagi pamer habis ciuman?” Bian berseru dengan mata memicing penuh curiga, begitu pun yang lainnya.
Biru dan Jingga sejenak terdiam, mereka sadar sekarang sedang berada di tengah-tengah banyak orang. Jingga merutuki dirinya, karena bisa-bisanya dia keceplosan.
“Nggak gitu, Yan.” Sanggah Biru sebisa mungkin berusaha tenang.
“Terus tadi Jingga bilang transfer, transfer apa? Transfer duit nggak pake bibir, bego.” Cibir Bian berhasil mengundang gelak tawa teman-temannya. Albi sudah terkikik di sebelahnya, berusaha menahan tawanya agar tidak menggelegar.
“Diem lo, Yan! Lo bacot banget, sih.” Biru menatap tajam ke arahnya, yang sontak membuat cowok itu langsung merapatkan bibirnya.
“Berisik! Mulut kalian, tuh, ya, kayak air comberan. Kotor banget. Telinga nih bayi bisa ikut tercemar.” Omel Lagit, membuat semua orang tersadar. Dia kemudian mengambil kembali bayi itu dari gendongan Jingga. Biru merasa tertolong karenanya.
“Aku belum puas gendongnya, Lang.” Protes Jingga saat bayinya diambil paksa.
“Kamu terlalu berisik kayak kaset rusak. Bayinya bisa bangun. Udah, ahh, kamu cukup lihatin aja.” Sahut Langit seraya menimang-nimang bayi itu. Jingga tak bisa membantah dan menuruti apa yang diucapkan Langit.
“Aku jadi pengin punya satu yang kayak gini.” Ucap Jingga gemas, ingin sekali menggigit pipi bayi mungil itu.
“Ya tinggal bikin aja, Ji.” Bian kembali menyahuti dengan ucapan nyelenehnya.
“Ya kali adonan kue.” Ucap Jingga tanpa melepaskan perhatiannya dari si bayi.
“Bikin bareng, lah, sama Biru nanti habis nikah. Terus habis itu lahirin delapan anak sekaligus, jadi kamu nggak cuma punya satu.” Albi ikut menimpali.
Jingga mendengus sambil menatap Albi kesal. “Emangnya aku kucing?”
Semua orang hanya terkekeh geli mendengarnya, seketika suasana ruangan itu kembali ramai. Beruntung si bayi mungil itu tidak terganggu dengan kehebohan orang dewasa yang mengelilinginya.
Satu orang yang tidak menikmati suasana tersebut, Luna. Sejak kedatangan Jingga yang masuk bersama Biru, gadis itu hanya menekuk wajahnya. Sesekali dia tersenyum dipaksakan.
********
Malam harinya setelah pulang dari rumah sakit, Jingga sudah tampil cantik dengan penampilan simple namun masih terlihat modis. Jingga tampil super simple dengan atasan kaus bermotif garis-garis biru dan bawahan mini skirt. Sneaker berwarna putih juga ikut menghiasi kaki jenjangnya.
Beruntung Jingga hari ini pulang sebelum jam makan malam. Rencananya, malam ini dia akan makan malam bersama di apartemen milik Biru, sesuai dengan permintaan cowok itu. Jingga tersenyum, membayangkan makan malam romantis yang akan dilakukannya bersama Biru nanti.
Jingga mengambil satu boks kue yang disimpan Bunda di lemari es. Dia ingat tadi siang Bunda mengatakan untuk memberikannya satu pada Biru.
Dengan semangat, Jingga melangkahkan kakinya ke parkiran basement apartemen untuk mengambil mobil dan membawanya ke apartemen Biru.
Sesampainya di sana, gadis itu melangkah perlahan memasuki gedung apartemen Biru. Dia menaiki lift yang bergerak membawanya ke lantai delapan. Senyum mengembang dia biarkan menghiasi wajah cantiknya. Tak lama, lift berdenting disertai pintunya yang terbuka.
Jingga kemudian berjalan menuju unit apartemen milik Biru dan saat ini dia sudah berdiri di depan pintu apartemen cowok itu. Tak ingin mengulur waktu, jari lentik Jingga segera menekan bel apartemen.
Senyum mengembangnya menyurut seketika saat mendapati orang yang membukakan pintu untuknya bukanlah Biru.
“Luna . . . .” Lirih Jingga.
__ADS_1
********
To be continued . . . . .