Still In Love

Still In Love
Ep. 14. Be With Me


__ADS_3

********


Wajah cantik Jingga nampak merengut bingung menatap sebotol yogurt strawberry di lokernya.


“Cewek yang sehat kelihatan lebih cantik. Enjoy your drink. 😉”


_Kakak Kelas_


Jingga membaca tulisan pada post it yang tertempel di yogurt strawberry. Bola matanya mencuat ke atas, memikirkan siapa kakak kelas yang menyimpan yogurt di lokernya? Lagipula bagaimana bisa ada orang yang membuka lokernya begitu saja, padahal kuncinya selalu Jingga bawa?


Gadis itu mulai panik, dia langsung memeriksa apakah ada barang yang hilang di sana. Tapi barang-barangnya di loker tidak ada yang hilang satu pun.


“Guys…”


Semua orang yang sudah datang ke kelas pagi itu langsung menoleh begitu Jingga memanggil.


“Tadi siapa yang datang ke kelas duluan?” Tanya Jingga, sesekali melihat post it dalam genggamannya.


“Gue. Kenapa emang, Ji?” Sahut Laura dengan tatapan penuh tanya. Pun dengan anak lain.


“Ngomong-ngomong…..” Jingga menggantungkan kalimatnya ragu.. “Kamu tadi ada lihat nggak seseorang masuk ke sini dan buka loker aku? Atau kamu yang buka?” Tanyanya kemudian sedikit menuduh meski ragu.


“Ihh, kok, lo nuduh? Enggak, gue nggak ada buka loker lo. Lagian, kan, kuncinya cuma satu, jadi nggak mungkin ada orang yang bisa buka.” Bantah Laura sewot, tak terima Jingga menuduhnya. “Dan waktu gue masuk nggak ada siapa-siapa, tuh.”


“Aku cuma nanya, Lau, bukannya nuduh. Ya udah kalau kamu nggak tahu.” Ucap Jingga sedikit tak enak hati, lalu menutup loker dan kembali duduk di meja kursinya.


“Emang kenapa, Ji? Ada barang hilang?” Sambar Ken penasaran. Pandangannya mengikuti Jingga yang sedang bergerak untuk duduk.


“Ung…” Jingga terdiam bingung sebelum kemudian berkata. “Iya. Ada satu buku aku yang hilang.”


“Ahh, itumah lupa, kali, Ji. Mungkin ketinggalan di taman baca atau di rumah.” Sahut Langit yang diiringi anggukkan persetujuan dari Ken.


“Iya, elo, kan, agak pikunan, Ji, sama barang.” Sambar Laura ikut menyetujui. Jingga hanya mendengus, tak menyahuti perkataan teman-temannya.


Gadis itu kembali terdiam menerka-nerka siapa orang yang sudah membobol lokernya. Seperti halnya foto beberapa minggu lalu, tapi itu bisa masuk melalui sela-sela loker. Sementara yogurt tidak mungkin dimasukkan melalui itu.


*******


Jingga bersama Langit berjalan menyusuri koridor menuju taman belakang sekolah sambil menenteng kotak bekalnya masing-masing. Seperti biasa, mereka bercengkrama membahas beberapa hal kekanak-kanakkan.


“Ji, nanti malem kita nonton, yuk. Besok, kan, Minggu.” Ajak Langit.


“Call.” Jingga menyetujui tanpa berpikir. “Tapi aku yang pilih filmnya, ya.” Usul Jingga.


“Call.” Sahut Langit, sebelah tangannya lantas terulur merangkul bahu Jingga, membuat seseorang yang sedang bermain basket di lapangan menatap mereka tak suka.


BUGH….


“Aaakh.” Pekik Jingga merasa ngilu pada lengan bahunya begitu bola basket tiba-tiba mengenainya, beruntung kotak bekal yang ditentengnya tidak jatuh.


“Woy, hati-hati, doong.” Tegur Biru kesal.


“Iya, sorry nggak sengaja.” Ucap Biru bergerak menghampiri Langit dan Jingga tanpa penyesalan. Dia memang sengaja melakukan hal itu, cemburu melihat cowok lain menyentuh gadisnya. Tadinya dia mengarahkan bola itu pada Langit, tapi malah meleset mengenai Jingga.


“Kamu nggak apa-apa, kan?” Tanya Biru melihat Jingga mengusap-usap lengan bahunya. Tatapannya yang tajam sejenak terkunci dengan tatapan Jingga yang nampak kesal.


“I’m okay.” Jawab Jingga menahan geram. Sementara Biru menyunggingkan senyum sinis yang tipis.


“Aku mau ambil bolanya.” Ucap Biru mengedikkan dagu ke arah bola basket yang berada tepat di bawah kaki Jingga.


Pandangan Jingga mencuat ke bawah. Salah satu sudut bibirnya terangkat sinis dan detik berikutnya dia menendang jauh bola basket tersebut.


“Maaf, aku nggak sengaja.” Ucapnya memasang wajah pura-pura menyesal. Kali ini Biru yang dibuat geram, menatap bola basket yang menggelinding jauh.


“Kami permisi, Kak.” Jingga lantas menggandeng tangan Langit dan mengajaknya pergi, meninggalkan Biru yang menatapnya tajam.


“Udah nyerah aja. Susah saingannya nempel mulu.” Teriak Bian yang melihat temannya nampak kesal. Tapi biru tak mengindahkannya, dia memilih berlari mengambil bola basket yang masih menggelinding di sepanjang koridor.


“Woyy, lo punya masalah apa, sih?” Kesal Langit saat Biru tiba-tiba menubruknya dari belakang hingga gandengan tangannya dengan Jingga terlepas. Sementara Biru sendiri tak mempedulikan teriakan Langit dan terus berlari kecil untuk mengmbil bolanya.


“Jangan terlalu deket.” Bisik Biru memberi peringatan saat dia hendak berbalik setelah berhasil mengambil bola dan kembali berpapasan dengan Jingga.


Sementara Jingga sendiri hanya diam berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


********


Satu minggu berlalu semenjak kejadian di atap gedung sekolah itu, Biru tidak mendatanginya lagi. Tapi bukan berarti tidak mengganggunya. Jingga merasa cowok itu selalu mengawasinya setiap saat di sudut manapun dia berada saat di sekolah. Ahh, tidak, bahkan cowok itu mengikutinya saat dia dan Langit pergi ke bioskop dan dia pula yang selalu menyimpan yogurt strawberry di lokernya. Biru selalu saja menatapnya penuh intimidasi.


Selain itu, Biru juga sering sekali memberi pesan peringatan pada Jingga untuk jangan terlalu dekat dengan Langit dan juga melarangnya memakai rok terlalu pendek. Tapi Jingga hanya mengabaikannya.


Jika boleh jujur, Jingga cukup terganggu meski dia sendiri juga menyukai Biru. Tapi cara Biru mendekatinya membuat Jingga takut. Cowok itu terlalu mendikte.


********


“Boleh duduk di sini?” Tanya Biru dengan buku Biologi karya Campbell super tebal di tangannya.


“Boleh.”


“Meja lain masih penuh.”


Obi dan Jingga menjawab bersamaan dengan kalimat yang berbeda.


“Thanks.” Sahut Biru dan langsung duduk di sebelah Jingga, hingga posisi cewek itu berada di tengah-tengah.


Jingga mendesah pelan. Benar-benar menyebalkan. Kenapa Biru bisa ada di manapun dia berada? Bagaimana tidak, niatnya untuk menemani Obi di perpustakaan untuk belajar matematika karena tuntutan menjadi tutor sebaya malah berakhir dengan duduk di satu meja yang sama dengan Biru.


Jingga sendiri yang mengajak Obi belajar di perpustakaan setelah jam pelajaran selesai. Tapi mereka malah tidak sengaja bertemu Biru yang juga sedang berkunjung di sana.


“Kalian kenapa belum pulang?” Biru berbasa-basi, sengaja untuk menarik perhatian Jingga yang enggan melihat dirinya.


“Harusnya, sih, gitu. Tapi harus belajar dulu, dia tutor sebaya gue.” Jawab Obi menunjuk Jingga dengan pensilnya, tanpa mengalihkan perhatiannya dari kumpulan rumus di hadapannya.


“Ini bener, nggak, Ji?” Tanya Obi menggeser bukunya pada Jingga.


Biru menatap keduanya tak suka karena posisi mereka sangat dekat saat Jingga memberi penjelasan, nyaris menempel.


“Aku bilang jangan deket-deket.” Gumam Biru nyaris tak membuka mulutnya seraya menarik pinggang gadis itu agar bergeser hingga posisi duduknya sedikit menjauh dari Obi.


Jingga sendiri sangat terkejut dan langsung melayangkan tatapan protes pada Biru. Beruntung Obi tidak menyadari dan perpustakaan sedang tidak terlalu banyak pengunjung.


“Apa-apaan, sih?” Geram Jingga berbisik. Sementara Biru hanya mengedik tak peduli, semakin mengeratkan tangannya di pinggang Jingga.


“Lepas.” Pinta Jingga dengan isyarat gerakkan bibirnya.

__ADS_1


“Enggak.” Biru menggelengkan kepalanya tak peduli. Jingga memutar bola matanya jengah. Ingin rasanya membentak cowok itu, tapi dia ingat ini perpustakaan.


“Ji, coba lo periksa.”


“Ohh, iya.” Jingga tersentak begitu Obi kembali menyodorkan bukunya, dia lalu mencubit tangan Biru hingga akhirnya bisa lepas dari pinggangnya.


Tapi tidak sampai di situ…..


“Ehh, gimana kalau lo gue yang ngajarin lo?” Tawar Biru pada Obi.


“Eung, siapa nama lo?” Tanyaya kemudian.


“Obi. Tapi nggak usah deh, Kak. Gue udah biasa sama Jingga. Lagian Jingga harus bikin laporan perkembangan belajar gue.” Jawab dan tolak Obi.


“Oke, Obi. Gue lebih berpengalaman dari dia.” Tunjuk Biru pada Jingga. Lantas dia beranjak dan berpindah posisi duduk hingga saat ini dia yang berada di tengah.


“Tapi –”


“Hari ini biar gue yang ngajarin lo. Anggap gue lagi baik hati, mana sini bukunya.” Sambar Biru cepat, kemudian merampas buku milik Obi dari Jingga.


Jingga dan Obi sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Keduanya hanya pasrah membiarkan Biru yang mengambil alih mengajari Obi.


Sebenarnya Obi tidak masalah siapa saja yang mengajarinya. Hanya saja ini terlalu tiba-tiba. Dia tidak terbiasa dengan Biru. Sementara Jingga hanya menatap cowok itu kesal.


“Ya udah, kalau gitu aku pulang duluan a –”


Kalimat Jingga menggantung tatkala Biru meraih dan menggenggam tangannya begitu dia hendak beranjak.


“Ya tungguin teman kamu belajar sampai selesai dulu, lah. Kan katanya harus bikin laporan perkembangan.” Ucap Biru dengan sebelah tangannya lagi mengoreksi pekerjaan Obi.


“Iya, Ji. Lo temenein gue sampe beres, lah.” Tambah Obi tak setuju jika harus ditinggal berdua bersama Biru.


“Ish..” Jingga berusaha menyentak tangan Biru, tapi genggamannya cukup erat.


“Udah temenin dulu.” Biru menoleh dan memasang senyum penuh kemenangan, lalu menyembunyikan genggaman tangan mereka di bawah meja. Di bawah sana, kakinya juga tidak tinggal diam menendang-nendang jahil kaki Jingga.


Tidak banyak yang bisa Jingga lakukan untuk melepaskan diri dari Biru. Pada akhirnya dia hanya pasrah membiarkan cowok itu menggenggam tangannya. Rasanya cukup nyaman. Rasanya berbeda meski dari kecil sering bergandengan tangan dengan Langit.


Jingga memilih untuk membaca buku yang Biru bawa sembari menunggu cowok itu mengajari Obi.


“Oke selesai.” Seru Biru lega setelah sekitar satu jam berlalu. Begitu pun dengan Obi. Menurutnya, tidak buruk juga Biru yang mengajarinya karena cowok itu mengajarinya cara yang lebih mudah dalam menyelesaikan soal-soal matematika daripada Jingga.


“Thanks, Kak. Pinter juga lo ternyata.” Ucap Obi sembari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Biru mendengus geli mendengarnya.


“Ya udah, Ji, ayo pulang, gue yang anterin.” Ajak Obi kemudian, Jingga langsung mengangguk setuju dan siap beranjak, namun Biru semakin mengeratkan genggaman tangan dan menahan kaki Jingga di bawah meja sana.


“Nggak usah, dia biar pulang sama gue aja.” Sambar Biru cepat. Tatapan Obi berubah curiga, memandang keduanya secara bergantian.


“Jingga, kan, siswa pertukaran pelajar selanjutnya. Gurunya bilang harus banyak berbagi pengalaman sama gue.” Terang Biru berbohong. Jingga hanya mencibir di dalam hati. Pintar sekali cowok ini mencari alasan.


Sementara Obi hanya mengangguk mengerti, mengingat Biru adalah siswa pertukaran pelajar satu tahun lalu.


“Ya udah kalau gitu gue duluan, ya, Ji.” Pamit Obi kemudian.


“Oke. Take care.” Biru kembali menyahuti dengan cepat.


“Tapi –”


Jingga terdiam, menatap tak rela Obi yang sudah berdiri dan perlahan beranjak pergi dari perpustakaan.


“Ada yang mau aku omongin sama kamu. Ayo.” Biru berdiri tanpa melepaskan tangan Jingga dari genggamannya.


“Nggak bisa. Aku mau pulang, ini udah sore.” Tolak Jingga dengan suara pelan agar tidak mengganggu pengunjung perpustakaan.


Biru melihat jam dinding di perpustakaan sekilas. Memang sudah jam setengah lima sore. Tapi dia tidak peduli.


“Oke, tapi lepasin dulu. Nanti orang lain lihat, Kak.” Pinta Jingga dengan tatapan memelas.


“Nggak. Ntar kamu kabur, ayo.” Ucap Biru tak ingin dibantah, kemudian membantu gadis itu berdiri dan menyeretknya keluar dari perpustakaan.


********


“Ada apa, sih, Kak? Kamu, kan, bisa ngomong lagi besok atau lewat chat, telepon juga bisa.” Gerutu Jingga yang melihat hari semakin sore meski cuaca cerah hari ini.


Kini mereka duduk di kursi panjang di atap gedung sekolah. Tangan Biru masih menggenggam tangan Jingga erat.


“Nggak bisa. Kamu pasti ngehindar lagi dari aku. Dan apa tadi kamu bilang? Lewat chat? Telepon?” Biru menatap Jingga penuh cibiran. “Bukannya selama ini semua chat dan telepon dari aku kamu abaikan, ya?” Sindirnya kemudian.


Jingga terdiam, tidak bisa melawan ucapan Biru.


“Ya udah apa?” Tanya Jingga lemah. Tatapannya mencuat pada tangannya yang digenggam Biru.


“Dengar.” Kini Biru menggenggam kedua tangan Jingga dan membenarkan posisi duduk mereka agar berhadapan.


“Kamu bilang kita nggak bisa berteman. Iya, kan?” Tanya Biru memastikan.


“Yep.” Angguk Jingga.


“Ya udah kalau gitu aku juga nggak mau kita temenan.” Ucap Biru. Sedikit rasa sesal dan kecewa dirasakan Jingga. “Itu buang-buang waktu.” Sambung Biru.


Jingga yang mendengar itu mengernyitkan dahinya tak mengerti. Tapi dia sabar menunggu apa yang akan dikatakan Biru selanjutnya.


“Okay, I can’t wait any longer….” Biru mengambil napas sejenak sebelum kemudian berucap kembali. “Aku nggak mau bertele-tele. Aku mau kamu jadi pacar aku.”


Jingga langsung tersedak ludahnya sendiri saat itu juga. Cowok di hadapannya ini benar-benar mengejutkan.


“Kamu lagi becanda sama aku?” Tukas Jingga curiga. Biru mendengus kesal. Lebih dari satu tahun dirinya menunggu moment ini, reaksi Jingga malah seperti ini.


“Emang aku kelihatan kayak lagi becanda?” Tanya Biru kesal.


“Ya mana aku tahu. Ini terlalu mengejutkan buat aku. Kita belum lama kenal, lho.” Ujar Jingga dengan wajah polosnya, membuat Biru gemas sendiri.


“Habisnya kamu sendiri yang susah aku deketin dan ngehindar mulu. Coba nggak ngehindar, dari dulu kita udah deket dan saling kenal.” Sahut Biru santai.


Jingga bergeming, sekali lagi tak bisa melawan ucapan Biru.


“Jadi gimana, kamu mau, nggak?” Tanya Biru lagi membuat Jingga sedikit tersentak.


Gadis itu menatap Biru ragu. Bingung harus menjawab apa. Meski dia menyukai Biru, tapi pacaran adalah hal yang asing untuknya.


“Enggak, deh.” Jawab Jingga akhirnya, wajah cantiknya yang polos nampak bingung.


Biru sendiri langsung merengut mendengar jawaban Jingga. “Yakiin?” Tanyanya dengan mata memicing.

__ADS_1


“Yep.” Jingga mengangguk polos. Biru benar-benar gemas dibuatnya. Ingin sekali dia menguyel-nguyel pipi Jingga.


“Tapi aku nggak menerima penolakan.” Ucap Biru.


“Ihh, kok, gitu?” Protes Jingga diiringi wajah merengut tak terima.


“Karena aku tahu kalau kamu sebenarnya juga suka sama aku.” Jawab Biru santai.


“Percaya diri banget kamu.” Jingga melepaskan satu tangannya dari genggaman Biru, lalu mengusap penuh wajah cowok itu. tapi Biru buru-buru meraih dan menggenggam tangannya kembali, takut jika Jingga melarikan diri lagi.


“Udah, deh, nggak usah gengsi, ngaku aja. Ntar aku diambil orang baru tahu rasa.” Ujar Biru meledek. Jingga mengerucutkan bibirnya lucu.


“Ya udah sama orang lain aja sana. Fans cewek kamu, kan, banyak, tuh.” Ucap Jingga seraya melempar pandangannya ke sembarang arah untuk menghindari pandangan meledek Biru.


“Cieee, cemburu, ya?” Ledek Biru lagi sambil kembali menjangkau wajah Jingga untuk mempertemukan pandangan mereka.


“Terserah.” Sahut Jingga malas. Lelah sendriri karena Biru terus menggodanya.


“Ya udah, kalau gitu aku resmikan kamu jadi pacar aku mulai hari ini.” Ucap Biru santai, membuat Jingga membulatkan matanya lebar, pun mulutnya ikut menganga.


“Shuut. Aku nggak mau denger penolakan.” Biru dengan cepat membungkam mulut Jingga sebelum melontarkan kalimat protes dengan meletakkan satu jari telunjuknya di bibir kemerahan gadis itu.


“Sekarang kamu pacar aku.” Jelasnya sekali lagi.


“Mana bisa kayak gitu.” Sambar Jingga protes.


“Bisa.” Sahut Biru. “Nggak ada yang nggak bisa buat aku.” Imbuhnya, lalu mendekatkan wajahnya ke leher Jingga sampai bibirnya menyentuh leher gadis itu.


Apa yang dilakukan Biru itu sukses membuat tubuh Jingga menegang.


“K-kakak mau ngapain?”


Tubuhnya mendadak gelisah dan jantungnya berdebar kencang.


“Tandai.” Gumam Biru, lalu hisapan dan gigiitan kecil Jingga mulai Jingga rasakan. Tubuhnya melemas seolah berubah menjadi jelly, tidak bisa melakukan perlawanan.


Jingga bergeming, sebisa mungkin menahan napasnya. Tidak banyak yang bisa dia perbuat, Jingga hanya membiarkan Biru memberi hickey di lehernya.


Biru menarik diri. Dia lantas tersenyum begitu melihat love bite di leher Jingga. Mereka berpandangan, dan Biru dapat melihat gadisnya yang memasang wajah tegang dengan mata sayu.


“Be with me, Jingga…”


Biru mengulurkan kedua tangan, meraih wajah Jingga dan mengelusnya lembut. Jingga masih terdiam dengan keterkejutannya. Itu adalah kali pertama seorang cowok menciumnya.


“Jingga. Denger…” Biru terdiam sejenak sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. “Selama 17 tahun aku hidup dan sejak pertama kali aku bertemu kamu satu tahun yang lalu, hanya kamu yang berhasil menarik perhatian aku, hanya kamu yang bisa bisa bikin aku jatuh cinta.”


Jingga masih bergeming, berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar tak karuan sejak ciuman tadi.


“Walaupun kita belum terlalu dekat. Tapi aku tahu kamu cukup banyak.” Lanjut Biru. Suaranya lembut menenangkan. Sementara Jingga sendiri mengernyitkan keningnya penuh tanya.


“Kamu nggak usah heran aku tahu dari mana dan bagaimana bisa.” Biru seolah mampu menebak isi kepala Jingga. “Yang harus kamu tahu adalah aku cinta sama kamu. Aku minta maaf untuk sikap menyebalkan aku belakangan ini. Tapi itu karena aku mau kamu memperhatikan aku.” Jelasnya kemudian, tatapannya sangat serius seiring dengan ucapannya.


“I feel in love with you at first sight, Jingga…” Tambah Biru.


“T-tapi –” Jingga gelagapan, dia benar-benar terkejut dan bingung harus mengatakan apa.


“Aku tahu kamu terkejut dan bingung.” Sela Biru. “Tapi aku bisa ngeyakinin perasaan kamu. Karena aku tahu, kamu udah jatuh cinta sama aku.”


Jingga mendengus. Memang yang dikatakan Biru benar. Tapi Jingga juga tidak mengharapkan hal ini terjadi secepat ini.


“Give me a moment.” Pinta Jingga. Biru langsung menggeleng cepat.


“Nggak. Kamu bakalan melarikan diri lagi dari aku. Aku udah bilang bisa ngeyakinin perasaan kamu. Kita pacaran sekarang. Titik. Aku juga udah tandain kamu.” Biru menunjuk tanda merah di leher Jingga.


Gadis itu sendiri hanya memasang wajah bingung penuh tanya dan menyentuh lehernya tanpa tahu ada apa di sana, membuat Biru tersenyum geli dan gemas sekaligus. Gadisnya benar-benar polos.


“Emang di leher aku ada apa?” Tanya Jingga mengambil ponsel dari sakunya untuk berkaca. Tapi Biru dengan segera menahannya.


“Udah, nanti aja lihatnya di rumah.” Biru merampas ponsel Jingga dan meletakkannya kembali ke saku seragamnya. Jingga hanya merengut.


Biru lantas meraih satu tangan Jingga dan menggenggamnya.


“Jadi, kita pacaran sekarang?” Cowok itu mencium punggung tangan Jingga, lalu kembali mempertemukan pandangannya dengan gadis itu yang tertegun akan sikap tak terduganya. “Hem?”


Selama beberapa detik Jingga terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.


“Jingga…”


Biru tak sabar, terus menatap Jingga menungu jawaban.


“Terpaksa.” Jawab Jingga akhirnya.


“Ihh, kok gitu?” Biru memandang Jingga geli.


Jingga memutar bola matanya malas. “Kan kamu sendiri yang maksa dan bilang nggak mau denger penolakan.”


Senyum mengembang di wajah Biru begitu mendengar jawaban Jingga, pun dengan matanya yang ikut berbinar.


“Makasih.” Biru lantas berhambur memeluk Jingga erat.


“Tapi ini nggak romantis.” Jingga mendorong tubuh Biru sehingga jarak tercipta di antara mereka. Biru sendiri mengernyitkan keningnya tak mengerti.


“Aku rasa, ini cara ngajak pacaran yang paling nggak romantis. Kamu tahu, nggak, ini tuh pengalaman pertama aku?” Dengus Jingga.


Biru terkekeh geli dan kembali meraih tubuh gadis itu untuk dia peluk.


“Ini juga yang pertama buat aku.” Ujar Biru, lalu mencium lembut puncak kepala Jingga.


Gadis itu mengangkat kepalanya untuk menemukan pandangannya dengan Biru. “Kamu nggak lagi bohong, kan?”


Biru hanya menggeleng pelan tanpa melepaskan senyuman bahagia dari kedua sudut bibirnya.


“Atau kamu mau aku ngulang itu lagi?” Tanya Biru.


“Ngulang?” Tanya Jingga dengan satu alis terangkat.


Biru mengangguk. “Pengakuan cinta yang romantis, di hadapan banyak orang dengan sebuket bunga dan coklat di tangan aku?”


“Ish. Aku pastiin langsung pindah sekolah ke luar negeri kalau kamu ngelakuin itu.” Jingga memukul pelan dada Biru. Cowok itu sendiri hanya terkekeh kecil dan mengeratkan pelukannya.


********


To be continued. . . .

__ADS_1


__ADS_2